彼女は女性です!? ことはできません!

Kanojo wa josidesu!? Koto wa dekimasen!

He is a girl!? Impossible!

Author : Usagi Yumi

Pairing : Shindou Takuto x Kirino Ranmaru

Tsurugi Kyousuke x Matsukaze Tenma

Kurama Norihito x Minamisawa Atsushi

Hayami Tsurumasa x Hamano Kaiji

DISCLAIMER

Inazuma Eleven GO!, Kuroko no Basuke, dan 5 cm bukan milik Yumi, Tapi cerita dan OC ini asli milik Yumi

Inazuma Eleven GO! © Level-5

Kuroko no Basuke © Fujimaki Tadatoshi

5 cm ©Donny Dhirgantoro / Sunil Soraya / Rizal Mantovani

Date A Live © Koshi Tachibana

WARNING

Gaje, Abal, OOT, OOC (maybe?), aneh, typo, dll.

CAUTION

Jika ada sesuatu hal yang menimpa diri anda seperti terkena sakit kepala, sakit perut, sakit jiwa (?), tumor otak (?) dll, tolong hentikan membaca cerita ini dan hubungi dokter (readers : Emangnya apaan?)

HAPPY READING


Chapter 6. Usaha pelarian

Tenma POV

"BERPENCAR SEMUA!"

Setelah aba-aba dari Kirino, kami semua pun berlari ke arah yang berbeda dan dikejar orang yang berbeda. Kirino dikejar Shindou, Kurama dikejar Minamisawa, Hayami dikejar Hamano, dan aku dikejar... N-nani!? Tsurugi?

Tapi... Kok jadi pada dikejar yah? Bukannya kita niatnya mau sembunyi? Kalau dikejar mana bisa sembunyi!

Haduh... Si Tsurugi kenapa pake ngejar aku segala lagi... Kenapa yang ngejar aku bukan Aomine Daiki dari Kuroko no Basuke coba? Kalau dikejar cowok jelek, mesum, dan hentai macam dia, aku kan tinggal hajar pake senjata-senjata punya OC nya Yumi. Aku bisa ngehajar dia pake gergaji mesin milik Suzu atau Suzuo, atau stun gun milik Sutzu atau Sutzumi, atau minjem Death Reaper milik Yumi atau Yuu, atau... Aku bisa nyuruh Kuro sama Shiro untuk ngelakuin jurus 'Doll Trap' biar para boneka yang kesannya udah mirip Chuky itu ngebunuh Aomine!

Tapi... Sayangnya yang ngejar aku itu cowok yang ganteng... Aku jadi gak tega buat ngehajarnya.

Mau tau kenapa aku sebut ganteng? Soalnya... Tsurugi itu matanya mirip kucing peliharaan tetangga yang baru ajah dibunuh ama si Sasuke kemarin. Terus... Rambutnya itu mirip buntut kuda yang kemarin BAB sembarangan di depan apartemen Aki-nee. Dan yang terakhir, matanya itu yang ada garis-garis item kayak yang pake maskara dan hal itu bikin dia tampak kiyuuuuuuuuuuutttt banget!

Kalau aku cowok, aku udah jadiin dia uke aku! Tapi sayangnya, di (fic) ini, aku itu PEREMPUAN!

Ok! Soal yang tadi, lupain ajah karena itu gak ada di naskah! Mumpung authornya a.k.a Usagi Yumi nya molor dan naratornya gak peduli, aku nge-GaJe dulu bentar...

Sekarang aku serius!

Aku mulai lelah berlari dan Tsurugi terus mengejarku. Ukh... Aku benar-benar lelah...

"Hosh... Hosh..." Napasku mulai tidak beraturan. Kecepatan lariku mulai berkurang. Hal itu segera dimanfaatkan oleh Tsurugi. Dia segera menyusulku dan mencengkram tangan kananku. Dasar licik -_-

"Tenma... Matte..." Ucap Tsurugi.

"N-nan desu ka, Tsurugi?" Tanyaku yang pura-pura tenang.

"Ummm... Mau makan aisu sama aku?" Tawar Tsurugi. Yaelah... Dikirain apaan... Ternyata dia cuman mau ngajak makan es krim... -_-"

"Boleh..." Aku pun lebih memilih menyetujui tawarannya. Lumayan... Di traktir...

Kami pun berjalan menuju toko es krim yang kebetulan berada di lantai ini (baca: Lantai dua) sambil berpegangan tangan. Ukh... Kok jadi kayak orang yang pacaran sih?

Kirino POV

"BERPENCAR SEMUA!"

Aku pun memberi aba-aba kepada yang lain untuk berpencar dan semuanya langsung kabur dari tempat masing-masing termasuk aku dan... Oh God! Para lelaki itu malah mengejar kami!

Aku menolehkan kepalaku kebelakang. Lah? Kok yang ngejar aku si Shindou sih? Shindou! Kau jahat sekali! Sahabat sendiri lo kejar!

"Kirino! Matte!" Teriak Shindou.

"Iie!" Aku membalas perkataan Shindou. Saat ini, kami sedang kejar-kejaran dengan slow motion. Aku berlari dengan air mata berderai sedangkan Shindou berlari dengan tangan kanan mengarah ke depan seolah mencoba menggapaiku.

"STOP!" Shindou tiba-tiba berteriak dan berhenti berlari. Otomatis aku juga nge-rem ngedadak dan sukses jatuh dengan posisi kagak elit alias NONGGENG!

Huh... Untuk aku pake celana... Coba kalau pake rok, yang pasti aku harus nahan malu karena kolor kemana-mana.

"Eh! Kamu gak apa-apa kan, Kirino?" Tanya Shindou sembari membantuku berdiri. Ajib dah! Bener-bener ini udah mirip drama-drama atau sinetron-sinetron layar tancep (?) yang ada di tipi-tipi. Di mana si cowok ngebantuin cewek dan bertanya, " Kamu gak apa-apa kan?". Nah... Kalau cewek-cewek di sinetron kan pasti bilang, "Aku gak apa-apa" tapi kalau aku...

"Gak apa-apa keriting lo! Lo pake teriak tiba-tiba lagi! Liat nih! Gue tadi jadi jatoh!"

Nah... Kalau aku malahan ngomelin dia... Entah kenapa, aku punya sahabat bego dan cengeng amat. Tapi... Dia sebenarnya rada ganteng sih...

"Ya sorry Kirino... Aku kan cuman mau traktir kamu makan shortcake..." Ucap Shindou.

"Yang bener lo?" Tanyaku. Tumben amat si Shindou mau traktir aku. Biasanya, dia itu pelitnya selangit ketujuh!

"Bener... Mau kagak? Daripada nanti aku berubah pikiran nih!" Ucap Shindou. Atau lebih tepatnya ngancem? Au ah! Peduli amat! Yang penting aku ditraktir...

"Ya udah deh... Aku mau..." Ucapku yang menyetujui ajakan Shindou. Kok kesannya aku kayak lagi nge-date yah? Udahlah... Emang gua pikirin!

Kurama POV

"BERPENCAR SEMUA!"

Lari lari lari (lari lari lari) Terbang dan berlari~~~

Lagu itu yang sekarang sedang terngiang-ngiang di kepalaku. Kalian pasti pada tau ini lagu kan? Kalau yang gak tau, mungkin entah masa kecilnya bahagia entah nggak atau malah nggak dua-duanya atau malah iya dua-duanya(?). Pokoknya! Intinya itu lagu lagi sesuai dengan keadaan aku sekarang. Ya... Walaupun saat ini aku gak terbang sih...

Saat ini, aku lagi kabur dari para lelaki itu.

Mau tau kenapa aku harus kabur? Karena... Nggak tau! (readers: GUBRAK!) Ok ok... Aku kabur gara-gara takut indetitasku ketahuan sama Minamisawa. Kalau ketahuan sama si Shindou, Tsurugi, atau Hamano sih gak apa-apa... Asal mereka gak ngasih tau ke yang lain kalau aku itu perempuan.

Tapi... Kalau Minamisawa... Mati kutu! Kalau dia tau aku itu perempuan, bisa-bisa aku dibenci olehnya! NGGAKKKKKK! AKU NGGAK MAU! Aku itu masuk Raimon Junior High School untuk coba PDKT ama Minamisawa! Aku udah rela pura-pura jadi laki-laki dan bermain sepak bola demi ketemu Minamisawa. Kalau perjuanganku hanya sampai disini... AKU TAK RELA!

Aku terus berlari... Berlari dan berlari... Entah kenapa, aku jadi puitis kayak gini. Kayaknya aku ketularan Juple a.k.a Zafran gara-gara nonton 5 cm sama Usagi-san pas hari lebaran deh... Ah... Tapi peduli amat!

Aku pun menoleh kebelakang sebentar... Dan... Anjrit! Kagak ada yang ngejar aku! Terus buat apa daritadi aku lari-lari? Ngehambur stamina dan ion tubuh ajah! Aku jadinya harus beli Ponarisweat untuk mengisi ion tubuh yang hilang. Ok... 5.000 rupiah melayang~~~ (readers: Hah? Kok rupiah? Bukannya yen ya? | Kurama: Kan kami para chara lagi liburan di Indonesia. Untuk lebih jelasnya, baca fic 'Berkunjung ke Rumah Author | Kurumi: Jangan promosi, cepet lanjutin... Atau aku bangunin Yumi nih | Kurama: GULP! Iya deh...)

TAPI! (SFX: JBUUUUMMMM!(?)) Tiba-tiba... (SFX: DEG! DEG! DEG!) Ada yang megang tanganku! (readers: Dikirain apaan... ==")

"Doumo," Sapa orang yang memegang tanganku dan ternyata dia sudah ada didepanku.

"ANJIRRRRRRRRRR! SETAAAAAAAAAAAAAAAAANNNNNNNNN!" Teriakku histeris. Gak peduli sama tatapan horor para pengunjung yang seolah bilang 'berisik-banget-sich-lo-bisa-diem-kagak-?'.

"Kurama... Gak usah sampai segitunya juga kali..." Ucap orang yang mengagetkanku. Aku pun mendongakkan kepalaku – karena dia lebih tinggi dariku – dan mengamati wajahnya. Perasaan aku kenal deh sama ni muka kiyut...

"Minamisawa-san? Ukh... Bisa gak sih gak ngagetin aku melulu?" Omelku. Yap! Saudara-saudara. Orang yang mengagetkanku ternyata adalah Minamisawa Atsushi! Ingat! . .WA .SHI

"Gomenne... Aku mengagetkanmu terus..." Ucap Minamisawa meminta maaf kepadaku. Ni anak reinkarnasinya Kuroko Tetsuya ya? Bisa ngelakuin Misdirection. Tapi... Kenapa dia gak jadi reinkarnasi Murasakibara Atsushi? Udah mah sama-sama nama kecilnya Atsushi. Sama-sama berambut ungu. Tapi jangan deh... Kalau Minamisawa jadi reinkarnasi Murasakibara, nanti dia hobinya makan melulu sama badannya besar banget! Ih... Ogah aku punya gebetan yang badannya gede dan lebar selebar sempak si Kurumada (?).

"Jadi... Sebenarnya kamu perempuan?" Tanya Minamisawa. Buset! Ni orang bego atau apa? Segitu dia udah ngeliat aku pake baju perempuan dan dada gue adaan masih nanya lagi? Ya... Walaupun kalau dilihat dada aku kecil sih... Kira-kira... Cup B.

Aku pun hanya mengangguk sebagai jawaban dengan wajah memerah. Para readers janga geer dulu... Aku mukanya merah bukan gara-gara ngaku kalau aku itu perempuan... Tapi aku malu gara-gara tadi teriak-teriak! Siapa sih yang gak malu kalau teriak di tempat umum? Ada sih yang gak malu... Orang sarap atau gila sama bayi dan anak kecil yang masih polos.

Aku udah pasrah deh kalau misalnya Minamisawa membenciku... Statusku yang asalnya menjadi penyamar sebentar lagi berubah jadi paparazzi.

GREP!

"Baguslah kalau kau itu perempuan!" Ucap Minamisawa dengan nada bahagia sembari memelukku. Kalau diginiin sih... Ya iyalah wajahku jadi merah...

"Kalau begitu, sebagai tanda permintaan maaf, aku traktir kamu crepes!" Ucap Minamisawa sembari melepaskan pelukannya dan langsung menyeretku. Kagak sopan -_-

Hayami POV

"BERPENCAR SEMUA!"

Aku pun segera kabur. Ya... Walaupun aku larinya gak terlalu cepat, yang penting indetitasku gak ketahuan sama Hamano.

"Naminori Piero!"

Jiaaaahhhh! Aku lupa kalau Hamano bawa bola! Pantesan ajah dia bisa ngelakuin hissatsu.

Dia pun segera mendekat kearahku dan aku terus berlari. Tapi... Ujung-ujungnya aku malah ketangkep dengan cara dipeluk dari belakang. Aku emang payah.

Tunggu... Dipeluk dari belakang?

BLUSH!

"Hayami... Tunggu dulu dong... Aku mau ngomong dulu sebentar..." Ucap Hamano.

"M-mau ngomong apa?" Tanyaku dengan tubuh gemetaran karena gugup. Ya... Siapa tau si Hamano mau nanyain genderku sebenernya.

"Kan kamu itu sebenarnya perempuan..." Jawab Hamano.

"Ya? Terus?" Tanyaku. Ni orang sebenarnya mau ngomong apa sih?

"Kan aku tau dari cara berpakaianmu..." Jawab Hamano lagi.

"Terus apa?" Tanyaku yang udah mulai gregetan.

"Aku juga tau dari bentuk tubuhmu..." Jawab Hamano.

"BURUAN NGOMONG!" Ucapku yang mulai ngebentak dia. Huh! Habisnya dia ngomongnya pake basa-basi dulu sih...

"Iya! Jadi aku mau minta bantuan kamu untuk beli vanilla shake di toko Milkshake! Soalnya disana belinya harus pasangan a.k.a cewek x cowok!" Ucap Hamano sembari melepaskan pelukannya dan menunjuk toko milkshake yang ada diseberang tempatku dan Hamano berdiri. Aku cuman bisa cengo ngedengernya.

"Tapi kamu yang bayarin ya?" Ucapku. Kalau aku disuruh bayar sendiri, idih... Ogah!

"Iya..." Ucap dia singkat. Aku dan Hamano pun lalu segera angkat kaki (baca: berjalan) menuju ke arah toko milkshake.

Normal POV

Tanpa para perempuan sadari, Tsurugi, Shindou, Minamisawa, dan Hamano tengah menyeringai. Setelah menggiring para korban ke toko yang dituju, mereka menyuruh para korban di tempat makan yang telah disediakan sedangkan para lelaki membeli barang yang akan dibeli.

Setelah para lelaki kembali, para perempuan kelihatan bingung dan bertanya, "Kok belinya cuman satu?" dan para laki-laki hanya bisa menyeringai serta menjawab, "Satu untuk berdua" yang membuat para perempuan blushing di tempat. Hebat ya... Padahal mereka berada di lokasi yang berbeda tetapi pertanyaan sama jawabannya kompak. Keren...

Kalau begitu, mari kita sorot Tenma dulu...

"K-kau gila, Tsurugi?" Tanya Tenma dengan wajah yang udah semerah rok SD punya Yumi. Inget! Yang jadi narator di sini itu saya! Bukan authornya a.k.a Yumi.

"Kagak kok... Aku normal..." Jawab Tsurugi dengan tampang watados. Ia pun duduk di kursi seberang Tenma.

"Kita jilat aisu ini dari arah berlawanan... Ok? Kalau kamu gak mau, aku bocorin indetitasmu..." Ancam Tsurugi dengan wajah datar sedatar dada Tokisaki Kurumi dari Date A Live (readers: Itu gak datar!).

"I-iya deh..." Ucap Tenma yang sedang dilanda ke-pasrah-an (?) sedangkan Tsurugi tersenyum pep*sodent(?).

Tsurugi memegang es krim ditengah. Kepalanya dengan kepala Tenma dimajukan kedepan agar bisa menjilat es krim tersebut.

Sedikit lagi... Sedikit lagi...

Dan mereka berdua pun menjilat es krim tersebut bersamaan. Tsurugi tampak menikmati sedangkan Tenma harus menahan malu.

Mereka terus menjilat hingga...

"STOPPPPPPPP!" Dan ada sebuah suara genderless(?) yang mengganggu jalannya.

"Woi! Mentang-mentang gue tidur! Jadi lo pada seenaknya mau ngeloncatin adegan! Ulang dari bagian jilat aisu!" Oh... Ternyata authornya udah bangun...

"Eh!? Tapi kan kita semua udah capek-capek sampai bagian sini! Masa mau diulangi lagi?" Protes Tenma.

"Buruan lakuin! Atau mau diulang dari awal ni chapter?" Ucap Yumi sembari tersenyum psikopat.

"I-iya... K-kita ulangi lagi," Ucap Tenma dengan terbata-bata.

"Ini yang terakhir kalinya kalian main-main! Di chap lain, kalian harus serius! Kagak serius? Gue bunuh lo pada!" Ancam Yumi sembari melangkah kembali menuju backstage.

"Ok! RE-TAKE!"

.

.

.

"K-kau gila, Tsurugi?" Tanya Tenma dengan wajah memerah. Tsurugi hanya menatap Tenma dengan tenang dan mengabaikan pertanyaan Tenma.

"Kita jilat aisu ini dari arah berlawanan, Ok? Kalau kamu gak mau, aku akan membocorkan tentang indetitasmu," Ucap Tsurugi yang terdengar seperti mengancam. Tenma hanya bisa pasrah dan melakukan apa yang disuruh oleh Tsurugi.

Mereka mulai menjilat es krim tersembut dari arah berlawanan. Terus seperti itu sampai es krim tersebut habis dan tinggal tersisa cone ice cream-nya.

"A-ano... Tsurugi?"

"Hm?"

"Cone-nya boleh buat aku?"

"Boleh saja sih..."

"Be-"

"Tapi ada syaratnya,"

"Eh? Apa syaratnya?"

"Aku suapin ya?"

"Eh!?"

BLUSH!

Muka Tenma yang memerah semakin memerah. Tsurugi yang menatapnya juga samar-samar ada rona merah tipis di kedua pipinya.

'Imut...' Batin Tsurugi. Hampir saja wajahnya memerah karena melihat wajah imut Tenma, tetapi ia segera mengontrol dirinya sendiri dan kembali bersikap seperti biasa.

"Kau mau tidak?" Tenma hanya mengangguk sebagai jawaban ketika Tsurugi bertanya.

'Demi cone!' Aduh... Sebegitu sukanya kau dengan cone ice cream, Tenma?

Tsurugi mulai menyodorkan cone ice cream tersebut sampai di depan mulut Tenma dan Tenma mulai membuka mulutnya. Ketika Tenma hendak menggigit cone tersebut, tiba-tiba Tsurugi menarik tangannya kembali sehingga Tenma menggigit giginya sendiri(?).

"Tsurugi! Kenapa cone ice cream-nya ditarik lagi?" Tanya Tenma yang kesal karena ia sangat menginginkan cone ice cream tersebut.

"Coba dapatkan kalau kau bisa," Tantang Tsurugi. Ia memainkan cone ice cream tersebut sebentar, lalu kembali menyodorkannya ke mulut Tenma. Tenma buru-buru menggigit cone ice cream tersebut, tetapi sayangnya ia kalah cepat.

Hal tersebut terus berulang berkali-kali sehingga membuat Tenma kesal. Karena kesal, ia bangkit dari kursi lalu berjalan menghampiri Tsurugi. Tetapi, sayangnya kaki kanannya tersandung kaki kirinya sendiri. Akibatnya, ia yang kebetulan sudah dekat dengan Tsurugi, terjatuh dalam pangkuan Tsurugi. Entah kenapa, tangan Tsurugi refleks memeluk Tenma.

BLUSH! KRAUK!

Wajah Tsurugi otomatis memerah, sedangkan Tenma yang melihat cone ice cream yang dipegang oleh Tsurugi langsung memakannya hingga habis. Bahkan, Tenma sampai menjilat jari-jari Tsurugi dengan gerakan sensual.

"T-t-tenma! H-hentikan! I-i-ini di depan umum!" Ucap Tsurugi. Ia mengingatkan Tenma dengan muka yang amat merah.

"Eh? Memangnya ke-" Ucapan Tenma terhenti ketika ia mendongak dan akhirnya menyadari apa yang terjadi. Wajahnya langsung memerah seperti Tsurugi karena jarak wajah mereka yang begitu dekat. Kedua pasang mata yang kontras tersebut saling bertatapan. Napas mereka saling bertukar, dan yang terpenting...

DADA TENMA TAK SENGAJA MENGENAI DADA TSURUGI!

"T-t-tenma... T-tolong menjauh dari tubuhku!" Ucap Tsurugi yang sudah panik tingkat colossal. Tenma yang sudah mulai sadar dari posisi (yang terlihat) ambigu itu, buru-buru bangkit dan duduk di tempat duduknya kembali. Wajahnya yang memerah ia tundukkan.

"M-maafkan aku, Tsurugi! A-aku memang ceroboh," Ucap Tenma dengan perasaan bersalah.

"A-aku juga salah, kok! J-jadi aku juga minta maaf," Ucap Tsurugi yang tak kalah merasa bersalah. Mendadak, suasana menjadi hening.

Tak ada dari mereka berdua yang membuka percakapan. Keduanya hanya diam. Tenggelam dalam pikiran masing-masing, hingga Tsurugi bangkit dari duduknya lalu menarik Tenma untuk pergi dari sana.

"T-tsurugi!? Kita mau ke mana?" Tanya Tenma. Tempo melangkah mereka semakin lama semakin cepat.

"Kita harus pergi dari sini!" Jawab Tsurugi dengan keringat dingin mengalir dari pelipisnya.

"Eh? Emang kenapa?" Tanya Tenma lagi dengan wajah polos.

"Soalnya... AKU LUPA BAWA UANG UNTUK BAYAR ES KRIM-NYA!"

"UAAAAPAAA!?"

"WOI! KALIAN BERDUA! JANGAN KABUR! KALIAN BELUM BAYAR!"

"KABURRRRRRR!"

"TSURUGI! BAKA YAROU!"

Dan adegan romantis mereka tadi diakhiri dengan kejar-kejaran nista bersama pemilik toko es krim.

Nah... Sekarang kita lihat keadaan Kirino...

"Shindou... Kita 'kan berdua... Kenapa kamu cuman beli shortcake-nya satu? Memangnya cukup?" Protes Kirino ketika melihat Shindou menghampirinya.

"Maafkan aku, Kirino... Aku lupa bahwa aku tidak membawa uang banyak," Ucap Shindou dengan ekspresi bersalah. Melihat ekspresi Shindou, akhirnya Kirino mengerti.

"Kalau kau mau, shortcake ini untukmu saja," Shindou menyodorkan shortcake tersebut. Sekarang, giliran Kirino yang merasa bersalah.

"Tidak. Biar adil, satu untuk berdua," Saran Kirino.

"Tapi kalau satu untuk berdua, makannya suap-suapan, ya?" Shindou memohon dengan nada manja, namun karena Kirino sedang kurang peka saat ini, ia tidak menyadari bahwa Shindou menggunakan nada manja. Kirino pun hanya mengangguk menyutujui permohonan Shindou.

'Ya... daripada aku hanya makan sendiri, lebih baik aku mengabulkan permohonannya,' Batin Kirino sembari mengambil sendok yang tengah dipegang Shindou. Ia pun memotong sedikit shortcake tersebut, lalu menyuapkannya ke mulut Shindou. Shindou pun dengan senang hati membuka mulutnya.

Setelah Kirino menyuapi Shindou, kini giliran Shindou yang menyuapi Kirino. Ia mengambil sendok yang berada di genggaman Kirino, lalu memotong sedikit shortcake-nya. Kirino membuka mulutnya dan Shindou pun menyuapkan potongan shortcake tersebut. Begitu seterusnya hingga shortcake tersebut habis tak tersisa.

'Eh? Tunggu dulu! Tadi 'kan kami memakai sendok yang sama! Itu berarti...' Kirino membatin. Beberapa detik kemudian, tiba-tiba wajahnya memerah.

"Eh? Kirino? Kenapa wajahmu memerah?" Shindou bertanya dengan ekspresi bingung bercampur khawatir. Ya... Takut kalau misalnya coretgebetannyacoret sahabatnya itu sakit.

'... CIUMAN TIDAK LANGSUNG!?' Dan sekarang, sukses Kirino berteriak di dalam hati dengan ekspresi shock bercampur malu. Shindou yang melihat hal ini, hanya bisa memiringkan kepalanya karena ia semakin bingung.

"Kirino... Sebenarnya kau kenapa? Sakit?" Shindou sekarang sudah benar-benar khawatir dengan keadaan Kirino. Ia pun reflek memegang dahi Kirino dan Kirino sempat kaget lalu menepis pelas tangan Shindou.

"A-aku tidak apa-apa, Shindou... Kau tak perlu panik," Kirino mencoba mengurangi kekhawatiran Shindou dan hal tersebut berhasil. Terlihat dari hembusan napas lega dari mulut sang Maestro tersebut.

"Syukurlah kalau begitu... Jadi? Habis ini kita mau kemana?" Shindou mengajak Kirino untuk jalan-jalan.

"Ummm... Langsung pulang ke sekolah saja. Aku lelah," Jawab Kirino. Ia pun langsung menarik lengan Shindou dan pergi dari toko shortcake tersebut.

Sekarang, kita beralih ke pasangan Minamisawa Atsushi dan Kurama Norihito.

"Jadi? Kau cuman membawa satu crepes?"

"Ya... Begitulah,"

Saat ini, Minamisawa sedang berkeringat dingin menghadapi tatapan tajam seorang Kurama Norihito. Ayolah... Siapa sih yang mau ditatap sama gadis yang setiap hari kayak orang PMS? Pada gak mau, kan? Nah... Itu yang dialami oleh Minamisawa saat ini.

"Maafkan aku hanya membawa satu... Itu satu-satunya crepes yang tersisa," Minamisawa meminta maaf. Memang wajar jika itu satu-satunya crepes yang tersisa karena kebetulan toko crepes tersebut sangat terkenal. Terlihat dari antrian yang begitu panjang dan syukur-syukur kalau Minamisawa berhasil mendapat satu crepes dari toko tersebut.

"Hah..." Kurama menghela napas. Ia pun melangkah menghapiri Minamisawa, lalu mengambil crepes tersebut dari tangan Minamisawa. Kurama lalu menatap crepes tersebut.

'Hmmm... Sebelah kiri toppingnya blueberry sedangkan sebelah kanan strawberry...'

Kurama pun lalu membelah crepes tersebut menjadi dua. Crepes yang berada di tangan kirinya ia berikan kepada Minamisawa, sedangkan crepes yang berada di tangan kanannya untuk dirinya sendiri.

"Ini!" Ucap Kurama dengan tsunderenya. Ia menyodorkan crepes yang berada di tangan kirinya kepada Minamisawa. Awalnya, Minamisawa kaget, namun ia segera tersenyum lembut lalu mengelus kepala Kurama.

"Terimakasih, Kurama-chan," Ucap Minamisawa dengan tulus. Kurama yang melihat hal tersebut otomatis mengeluarkan semburat merah dan buru-buru memalingkan wajahnya kearah lain.

"Tak berlu berterimakasih. Harusnya aku yang berterimakasih kepadamu," Kurama berkata lagi-lagi dengan tsunderenya. Minamisawa hanya bisa tertawa kecil melihatnya.

"Ayo cari tempat duduk! Tak baik makan sambil berdiri," Ajak Minamisawa. Ia pun menggenggam tangan Kurama, lalu berjalan mencari tempat duduk. Kurama hanya mengekori Minamisawa dari belakang dengan wajah yang memerah.

Setelah dapat tempat duduk, meraka pun makan dalam keheningan. Minamisawa tidak melepaskan genggaman tangannya. Hal tersebut membuat wajah Kurama terus memanas. Namun, ia tetap memakan crepesnya dengan tenang.

"Kurama-chan..." Minamisawa mencoba memecah keheningan dengan memanggil Kurama yang berada di sebelahnya. Kurama hanya meresponnya dengan menoleh dan menatap Minamisawa.

"Boleh aku coba crepesmu?" Minamisawa bertanya dengan innocent. Mendengar hal tersebut, Kurama langsung membeku di tempat.

"Boleh gak?" Minamisawa kembali bertanya. Dengan tak sabaran, ia langsung menarik tangan Kurama yang sedang memegang crepes, lalu menggigit crepes miliknya.

"Minamisawa-san! Jangan langsung main gigit dong! Aku 'kan belum ngizinin!" Protes Kurama dengan wajah memerah. Ia tidak terima kalau crepesnya diminta oleh Minamisawa.

"Habisnya kamu lama ngasih izinnya..." Minamisawa berkata sembari tersenyum mengejek. Ia terus menggigit dan memakan crepes milik Kurama. Merasa tak terima, Kurama pun membalasnya dengan menarik tangan Minamisawa yang memegang crepes lalu memakan crepesnya.

Sekarang, mereka pun saling memakan crepes yang jika dilihat oleh orang lain maka terlihat seperti sedang suap-suapan. Di dalam hati, Minamisawa tersenyum karena rencananya berhasil.

Sesudah crepes keduanya habis, Kurama baru menyadari posisinya. Ia segera melepaskan tangan Minamisawa dari genggamannya lalu membuang muka. Minamisawa yang melihat hal tersebut tersenyum kecil lalu melepaskan tangan Kurama dari genggamannya.

"Mau pulang sekarang? Tampaknya kau lelah hari ini," Minamisawa berkata dengan lembut sembari mengelus rambut Kurama.

"T-terserah kau saja!" Ucap Kurama dengan tsunderenya. Ia segera menepis tangan Minamisawa dari atas rambutnya sembari menunjukkan ekspresi tidak suka. Namun di dalam hati, ia sangat menyukai ketika rambutnya dielus oleh Minamisawa.

"Kalau begitu, ayo kita pulang!" Ucap Minamisawa sembari tersenyum lembut. Ia menarik pelan tangan Kurama, lalu menggenggamnya dengan erat. Kurama hanya bisa terdiam sembari kembali membuang muka.

Ups! Ternyata wajahnya kembali memerah.

Sekarang kita sorot pasangan terakhir~

SLUUUUUURP!

"Ah! Enaknya!" Ade Kebe alias Hamano Kaiji berkata dengan senang. Orang yang duduk di seberang Hamano, Eugene Peabody alias Hayami Tsurumasa hanya bisa terdiam dengan wajah memerah.

"Hayami... Kenapa wajahmu memerah seperti itu?" Hamano bertanya dengan tampang polos.

'Itu karena kita minum dengan sedotan yang ujungnya terbelah dua dan hidung kita bersentuhan!' Ingin sekali Hayami menjawab seperti itu, namun ia terlalu gugup untuk mengatakannya. Jadi, Hayami hanya menjawabnya dengan gelengan kecil.

"Etto... Hayami?" Hamano memanggil Hayami. Pandangan matanya sulit diartikan. Hal tersebut cukup membuat Hayami penasaran.

"Apa?" Hayami merespon singkat. Tiba-tiba, tubuhnya menegang karena jemari lengan kanan Hamano mengusap bibirnya dengan perlahan.

"Maaf, tadi ada bekas vanilla shake," Ucap Hamano sembari tersenyum. Ia menarik kembali jemarinya, lalu menjilati vanilla shake yang telah berpindah tempat ke jemarinya. Hayami yang melihat hal tersebut hanya bisa tersentak kaget dan terdiam seribu bahasa.

"Hamano-kun..." Hayami memanggil sembari menundukkan kepala, terlalu malu untuk menatap wajah Hamano. Hamano hanya memberi respon dengan memiringkan kepalanya.

"K-kita... pulang sekarang saja, ya?" Pinta Hayami. Ia tampak memainkan jemarinya karena gugup. Ia takut jika meminta Hamano pulang sekarang, Hamano akan marah.

"Tentu saja," Hamano menjawab sembari tersenyum kecil. Mendengar jawaban Hamano, Hayami segera mendongakkan kepala lalu membalas senyumannya. Ia dan Hamano segera bangkit dari kursi yang mereka tempati, lalu pulang ke Raimon dalam diam.

Bagaimanakah kisah mereka selanjutnya? Penasaran? Silahkan tunggu chap selanjutnya!

~TBC~


Yumi: Hahaha... Saya udah lama gak update fic ini ya? Maaf ya kalau updatenya lama... Semenjak masuk SMP, saya sibuk... Juga, saya minta maaf kalau penulisannya masih kacau balau karena sebagian besar chap ini ditulis ketika saya masih newbie dan sebagian baru dilanjutin sekarang... Lalu, saya malas nge-remake ulang chap ini XD #digemplang# Tapi, saya janji di chap selanjutnya saya akan memberi hasil yang lebih baik dari ini... Dan... kali ini, saya akan balas review

HUAHAHAHAHA! Saya 'kan sedang berdelusi tentang Kidou yang sedang jadi cewek(?) #mulai sarap#

Maaf lama updatenya... Ini udah ada chap selanjutnya X'D

Malconette Tara

Maaf lama, ini fic-nya udah update...

Klu anda tanya ada apa dengan Gouenji, itu masih dirahasiakan #digamplang

Nadya

Ya, akan saya kembangkan lagi

Tenang Nadya-san, nanti juga ada HamaHaya-nya kok!

Miyucchi

Hahaha... Gak nyangka ada yang senasib...

Terima kasih atas pujiannya, saya sangat menghargainya

Ini sudah update!

Yumi: Minna-san, arigatou gozaimasu telah me-review fic abal, gaje, dan jelek ini. Saya akan berusaha di chap selanjutnya!

Kritik dan Saran? Flame juga boleh