WE ARE US!
Disclaimer : Masashi Kishimoto
Rat : M (untuk kedepannya)
Pairing : SasuNaru, ItaKyuu, dsb.
Warn : YAOI, OOC, Typo, alur kecepetan, dll.
Tidak suka Yaoi? Tekan tombol back!
Chapter 1 : Awal dari semuanya
"BANGUN TUAN DAN NYONYA UZUMAKI!" teriak sang Uzumaki sulung bemata biru itu. "Aku sudah siap kak! Ayo berangkat!"semangat adik pertamanya. "Ya! Kyuubi, lihatlah adik-adikmu masih tidur!" cetus Naruto yang kini sedang meredam amarahnya melihat tingkah adik-adiknya. Naruto melipat tangannya dan memandang adik pertamanya dengan tatapan tajam dan menaikkan sedikit dagunya—supaya terkesan ganas gitu "Kyuubi Uzumaki! Bisa-bisanya kau bersiap-siap sementara adik-adikmu bangun saja belum!"
"Ah eto..-" katanya sembari mengelus lehernya, "BANGUN ADIK-ADIKKU SAYAAAANG!~" teriak sang rubah memekakkan telinga, gendang telinga Naruto tak sanggup untuk menerima frekuensi gelombang suara Kyuubi yang amat sangat buruk itu hingga ia menutup kedua telinganya rapat-rapat. Naruto menghela napasnya dalam-dalam berusaha mereda amarahnya untuk kesekian kalinya, lalu ia berkata dengan pelan "Kyuubi, bisakah kau hentikan itu?~" katanya pelan seakan sedang merayu para gadis ditambah lagi posisinya yang sedang duduk sambil meneguk segelas air putih yang entah kenapa bisa ada setting seperti itu *author melebihkan*.
'Kyaaaa~ gagah sekali!' batin Kyuubi. "N-ne Kak Naru," matanya lurus menatap Naruto—mempesona!
"Hei, kalian berdua sedang apa? Kami sudah siap daritadi" sela Deidara—anak ketiga di keluarga Uzumaki—ia memijit-mijit keningnya melihat kelakuan kakak-kakaknya yang semakin hari semakin aneh saja. Drama NaruKyuu ini ternyata sukses membuat Konan dan Nagato jawdrop selebar-lebarnya.
Dengan memasang wajah yang sangat terkejut—karena kedatangan adiknya yang tadi sedang tidur pulas kini sudah siap di depan mereka, "APA? Sejak kapan kalian?!" kata Naruto dan Kyuubi bersamaan hingga membuat keduanya jawdrop melebihi lebar jawdrop Konan dan Nagato. Kyuubi berusaha mengatur napasnya, "Hah baiklah, jika sudah siap seperti ini ayo kita sarapan" kata Naruto mengakhiri kegilaan para Uzumaki di pagi hari—meskipun Konan dan Nagato masih saja PeWe dengan jawdropnya.
.
.
Di ruang makan..
"Waaaaaah!" teriak Nagato OOC melihat surga dunia di depannya—makanan. Sarapan pagi ini dibuat oleh sang Uzumaki sulung, memang Naruto setiap harinya bangun lebih awal untuk memasakkan sarapan pagi untuk para adiknya. Meskipun di kediaman mereka telah dipekerjakan para pelayan yang masing-masing mempunyai tugas khusus, tapi sang Uzumaki sulung sangat sayang kepada adik-adiknya sehingga sarapan pun harus ia yang buat. Hingga pelayan yang diberikan tugas khusus untuk memasak hanya memasak untuk para tamu di kediaman Uzumaki. Kau benar-benar kakak penyayang Naruto!
.
.
Rumah mewah nan megah ini—bukan, lebih tepatnya mansion ini merupakan tempat bersemanyam kakak beradik ini. Segalanya nampak mewah, dekorasinya yang megah bak istana, kebun yang luas dan rindang, dan masih banyak hal lain yang menakjubkan. Rumah ini mereka dapatkan dari warisan ayah dan ibunya—Kusina dan Minato. Namun segala hal yang nampak kini kian tak berarti dimata kakak beradik ini. Ada hal lain yang seakan hilang dan semua kemegahan yang mereka peroleh tak dapat mengisinya—orang tua. Mengingat mereka—Kushina dan Minato—hati Naruto menjadi sangat sakit, sesak, semuanya bercampur aduk.
'Kalau bukan karena mereka hal ini tak akan terjadi!' Naruto mengepalkan tangannya.
"Nasi goreng.. kesukaanku!" seru Konan membuyarkan lamunan Naruto. Kyuubi yang mendengar perkataan yang sangat percaya diri dari mulut adik perempuan satu-satunya itupun angkat bicara, "Uh, kau terlalu percaya diri Konan, Kak Naru pasti membuatkannya untukku karena aku adalah adik kesayangannya! Kau dengar? Adik Ke-sa-ya-ngan!" katanya mantap. Naruto kini hanya dapat tersenyum ringan melihat tingkah para adiknya.
Hiks. Hiks. Hiks.
Terdengar suara isakan tangis dari anak terakhir keluarga Uzumaki tersebut, "Apakah itu benar, Kak Naru?" kata Nagato seraya terisak dengan ingus yang melumer kemana-mana. "Iya kak, apakah itu benar?" tambah Deidara yang sedari tadi menundukkan kepalanya seakan tak ada lagi cahaya hidup di sorot matanya.
"Aduh tenang dong, tentu aku menyayangi kalian semua, kalian semua 'kan adik-adikku yang terbaik dan aku sangat bersyukur memiliki kalian dan melihat kalian di tiap hariku," jawab sang Uzumaki sulung dengan sorot mata penuh kasih. "Sudahlah ayo makan, nanti kalian terlambat," tambahnya.
"Kyaaaa~ Kak Naru!" sahut bersamaan semua anggota keluarga Uzumaki (minus Naruto) sambil memandang kagum kakak pertamanya itu. "Kak Naru kami menyayangimu!" kata Konan, Deidara, dan Nagato serempak. "Iya iya kakak juga sama seperti kalian." Jawab Kyuubi dengan meniru gaya cool Naruto namun terkesan lebay. Adik-adiknya merasa Kyuubi telah menduplikasi kakak idolanya tersebut kini meng-death glare secara telak sang Uzumaki kedua. "Kenapa? Aku ha-"
BRUK. PRANG. BRUK. PRANG
'Ada-ada saja mereka ini' batin Naruto.
Mind Controller
Kakashi yang sejak tadi hanya memandang punggung sang Uchiha sulung kini melangkahkan kakinya mendekati sosok pemuda berkucir satu tersebut. "Itachi.." pria bermasker itu memanggil pemuda di depannya dengan sebutan akrab. "Hn" balasnya singkat. "Tuan Fugaku, dia-" belum sempat Kakashi melanjutkan perkataannya, Itachi menyela penjelasan pria tersebut "Aku tahu," Katanya tanpa cela. 'Aku sudah memikirkan hal tersebut dari awal' lanjutnya membatin.
Mata Itachi kini memicik tajam kepada pria yang berada disebelahnya, "Kakashi," panggilnya, setelah memastikan Kakashi mendengarnya dengan seksama ia pun melanjutkan, "Sebenarnya ada sebuah permintaan dariku, dan aku mempercayakan hal ini kepadamu." Itachi melanjutkannya dengan membatin, 'Setidaknya orang yang bisa aku percayai sekarang adalah dirimu'
Kakashi memasang telinganya baik-baik—tak ingin setitik informasi luput dari pendengarannya.
Mind Controller
"Kak Naru.. aku tak sanggup berpisah denganmu," rengek bocah merah ingusan di depannya. Naruto hanya bisa menghela napas melihat tingkah melow adik paling bungsunya itu—walau hanya harus bersekolah di pagi hari. "Hey Nagato, hentikan dramamu itu, kita bisa terlambat nantinya!" gadis berambut biru itupun menarik sadis adik kecilnya. Sang gadis berambut biru itupun sekarang tengah menyeret Nagato memasuki area sekolah dasar "Kak Naruuuuuuu" kata Nagato mewek—terkesan dibuat-buat. "Hah dasar cengeng!" cetus Kyuubi dengan memanyunkan mulutnya—agar terlihat kawaii di depan kakak idolanya itu. "Sudah.. sudah dia kan adikmu juga, ayo sana masuk nanti kau terlambat lagi" balas Naruto bijak. "Yosh! Di pagi hari ini, aku Kyuubi Uzumaki akan memasuki gerbang ini dan me-"
BRUK.
"Aw! Sakit tahu! Eh siapa yang memukulku?"
"Kau jangan diam saja Kak Kyuu! Ayo masuk! Sebelum mereka memangsamu~" sahut Deidara centil yang kini telah berada jauh dari posisi mereka tadi dengan berlari sangat cepat. 'Lari? Kenapa Deidara berlari?' batin Kyuubi, mencurigai gelagak adiknya yang pendiam ini.
Naruto mengacak rambut sang rubah pelan, "Sudah, ayo cepat sana,"
"Siap bos!" Kyuubi mengangkat tangannya memberi hormat.
"Kyaaaaaa! Itu Kyuubi!" teriak salah seorang gadis yang berada di depannya. "mana? Mana?" teriak yang lain. "Kyaaaa! Kyuubi-sama!" teriakan para gadis-gadis itupun semakin menjadi-menjadi. "Sebaiknya kau cepat sebelum mereka, memangsamu." Naruto menakut-nakuti adiknya itu dan memacu mobil sport yang ia gunakan dana berlalu meninggalkan Kyuubi dan para fans sejatinya.
"Huaaaaah! Inikah yang dimaksud Deidara? Awas kau Dei! Aku tak akan memaafkanmu!" kata Kyuubi tersenggal-senggal karena berlari dengan kekuatan super—berusaha menghindari para maniak rubah.
Mind Controller
Ah sekolah Kaicho, merupakan salah satu sekolah elit yang berada di Konoha. Tak heran jika para kakak beradik ini berada disini. Sekolah ini memiliki gedung sekolah dasar, sekolah menengah pertama, dan juga sekolah menengah atas. Fasilitas yang disuguhkan pun sangat mewah, mulai dari lapangan yang bertaraf internasional hingga laboratorium yang lengkap. Jangan tanya perpustakaannya, sekolah Kaicho adalah sekolah dengan perpustakaan terlengkap di Konoha!
Tak terasa waktu istirahat tiba untuk sekolah Kaicho. Nagato yang berada pada gedung sekolah dasar biasanya menghabiskan waktunya bersama bersama para fansnya selama istirahat, "Kyaaaaa Nagato-sama mengapa kau begitu kawaaaaiiiii! Ayo makan ini bersamaku!" salah seorang Nagato lovers menyuguhkan kotak bekal makan siangnya. Merasa tak ingin disaingi oleh pesaingnya seorang bocah perempuan juga berteriak histeris sambil menyuguhkan kotak bekal makan siangnya, "Ah sama aku aja Nagato, aku punya sushi yang terlezat sepanjang zaman!" "aku juga Nagato!", "Aku juga punya bekal yang enak!". Terdengar para Nagato lovers bersaing untuk memperebutkan idola dari semua idola itu.
"Iya, iya tenang, kita makan sama-sama semua saja yah," katanya ringan—dengan tetap memperlihatkan senyuman ramahnya. "Kyaaaaaaaaaaaa~ Nagato-sama!" teriak para Nagato lovers lebih histeris lagi, sehingga membuat para wanita *cielah* klepek-klepek dan para pria berdecak kagum. "Baiklah teman-teman, sepulang skolah nanti kita akan belajar menjadi Nagato yang dieluh-eluhkan para gadis!, MERDEKA!" teriak seorang bocah laki-laki tengil memprovokasi para bocah yang telah kehilangan semangat hidupnya untuk bangkit kembali. "Hooooooooooo!" dengan semangat '45 para bocah laki-laki itupun berseru seakan tentara Indonesia yang ingin berperang melawan Belanda. "Dasar tukang pamer! Terus saja mencari muka! Huh" gumam Gaara kesal dengan tingkah Nagato yang ia anggap—lebay.
Uh Nagato! Kau memang bisa mendapatkan perhatian semua orang!
"Eh author ralat perkataanmu! Aku tidak memperhatikannya!" celetuk Gaara menggembungkan mulutnya—terkesan sok manis.
Ngng.. iya.. iya ekhm ralat yah reader!
Uh Nagato! Kau memang bisa mendapatkan perhatian semua orang! (minus Gaara)
.
.
Ambil napas.
Pukul!
"Hyaaaa!" seru satu-satunya gadis di antara saudaranya itu hingga mematahkan 20 susun beton di hadapannya. Teman-temannya yang menyaksikan hal tersebut berdecak kagum dengan sang gadis Uzumaki ini, "Wah Sugoi! Itu sangat luar biasa untuk ukuran seorang anak SMP! Apalagi untuk perempuan," kata salah seorang yang menonton hal yang dilakukan Konan seraya bertepuk tangan.
Konan yang berada pada gedung SMP di Kaicho pun mengisi waktu senggangnya di sekolah dengan terus mengasah jurus bela diri yang ia geluti—sampai salah seorang pemuda bertindik menyatakan cinta padanya. "Konan, aku suka sama kamu, mau ya jadi pacarku?" tersirat wajah penuh harap di wajah pemuda bertindik itu disela-sela jeda istirahat Konan. Konan yang sudah sangat bosan mendengar kata-kata itupun mencoba menjelaskan dengan tenang seperti biasa—meskipun dengan napas tersenggal karena tenaganya terkuras untuk latihan bela diri tadi, "Pein.. aku tahu, aku juga suka sama kamu tapi suka dalam hal berteman, sudah yah aku ngga bisa," Konan menghela napas kemudian melanjutkan, "Kita berteman saja yah, aku lebih menyukainya."
Dengan mata berbinar-binar Pein sangat terpukau dengan kata-kata yang dikeluarkan Konan untuknya—gerakannya juga sih, meskipun telah diberitahu beberapa kali Pein tak juga menyerah untuk mendapatkan hati gadis cantik berambut biru ini. "Hm baiklah tapi, aku akan mengatakannya setiap hari dan berharap suatu hari nanti kamu akan menjawabnya sesuai dengan apa yang ingin kudengar selama ini, ya Konan?"
"Hn terserah" cuek Konan. Sabar ya Konan!
.
.
Berbeda dengan kedua saudaranya, Deidara yang juga berada pada gedung SMP sekolah Kaicho itupun melakukan hal yang tak biasa dari teman sebayanya. Hal yang sangat menarik untuk seusianya, bahkan beberapa anak seusianya tidak mengerti sama sekali kegiatan Uzumaki ketiga itu. Setiap jam istirahat—bahkan jika guru menjelaskan, pemuda pirang itu senang berkutat dengan segala hal mengenai teknologi. Dengan berbekal laptop putih yang selalu ia bawa kemana-mana Deidara sudah banyak meng-hack beberapa situs web, tetapi setelah itu ia akan mengembalikan keadaan seperti semula sebelum pihak web menyadarinya. Ya, bisa dibilang Deidara hanya menjadikan para situs web sebagai latihan hacking-nya. Selain itu, Deidara juga senang mengubrak-abrik sistem keamanan suatu instansi hingga membuat para bidang teknologi di instansi itu pusing tujuh keliling. Uzumaki yang satu ini sungguh jenius! Meskipun sedikit evil sih kekeke, ada-ada saja kau Dei!.
"Suka-suka aku dong thor!" terdengar sebercik suara #apa-_-
Iya.. iya Dei, aku lanjut ke kakak kamu dulu ya~.
.
Sedangkan si rubah Uzumaki yang berada pada gedung SMA sekolah Kaicho itu biasanya menghabiskan waktunya di atas atap dan memandangi awan yang berarak.
Tak seperti biasanya, Kyuubi yang selalu sendirian di atas atap kini kedatangan tamu. Seorang pemuda dengan mata yang sangat indah—onyx. Pemuda dengan gaya ala emo itu sedang menatap awan yang disuguhkan secara cuma-cuma di atasnya.
"Hey, kau siapa?" tanya Kyuubi membuyarkan kesantaian sang pemuda onyx. "Hn.." pemuda itu kembali melihat awan-awan yang berada di atasnya. "Hey! Aku bertanya baik-baik padamu!"
"Sasuke.. Uchiha Sasuke" katanya cool tanpa melepaskan pandangannya dari awan yang indah itu. "Hm, kalau tidak salah kau murid baru itu, ya?"
"Hn.."
Flashback.
"Ekhm, anak-anak hari ini adalah hari yang sangat spesial untuk kita. Hari ini kita kedatangan sebuah, eh seorang murid baru. Ayo silahkan masuk" wali kelas Kyuubi mempersilahkan.
Tap. Tap. Tap.
"KYAAAAA! Ia tampan sekali!" Sakura sang gadis berambut merah muda dengan mata hijau teriak histeris, diikuti oleh Ino yang beramut pirang menambahkan kesan lebay kelasnya, "WAH! Ini adalah anugrah tuhan yang paling sempurna" katanya mewek hingga menitihkan air mata bahagia.
"Perkenalkan, namaku Uchiha Sasuke, salam kenal." Terdengar suara pemuda yang bergaya emo di depan kelas itu dingin.
"KYAAAAAAAA" teriak para gadis bersamaan hingga memunculkan kesan iri tersendiri kepada para pejantan yang berada di kelasnya. "Ya~ tenang-tenang semuanya, saya berharap kalian bisa berteman baik dengan Uchiha Sasuke, baiklah Uchiha silahkan duduk di tempat yang masih kosong." Kata wali kelas menenangkan keadaan.
"Ayo duduk di sini saja Sasuke~" kata Sakura sambil mendorong Shikamaru yang ternyata adalah teman sebangkunya. "HEY BODOH! Apakah kau tidak melihat jika bangku ini sudah aku duduki sejak tahun nenek moyang! Baka!" protes Shikamaru. 'Berani-beraninya ia menggeser tempatku hanya untuk anak baru itu' batin Shikamaru hingga memunculkan urat-urat kemarahan disekitar dahinya.
Tap. Tap.
Dengan gaya cool nya sang Uchiha pun memilih tempat duduk yang kosong—disamping Kyuubi. Yah bangku kosong yang tersedia di kelas tersebut cuma ada satu yaitu berada di samping sang Uzumaki. Semua orang memang sangat takut pada sang rubah sehingga tak ada yang mau duduk bersebelahan dengannya. Kau benar-benar mengerikan Kyuu!
Onyx bertemu biru.
Tatap. Kedip. Tatap. Kedip.
Lalu sang Uzumaki dan Uchiha saling membuang muka.
Flashback end.
Entah mengapa sang rubah ini sangat cepat lupa akan teman sebangkunya sendiri. "Oh iya, kenapa kau berada disini?" Kyuubi mulai membuka percakapan. "Hn.."
"HEI BISAKAH KAU MENJAWAB PERTANYAANKU DAN BERHENTI BERKATA SEPERTI ITU!" Kyuubi mendikte. "Alasan yang sama dengan keberadaanmu di sini." Jawab sang Uchiha santai. Kyuubi hanya memandang pemuda itu dengan wajah yang aneh seakan tak mengerti hal yang disampaikan oleh lawan bicaranya. "Sudahlah, lakukan apa yang kau mau, anggap saja aku tak ada, dengan satu syarat jangan pernah mengganggu ketenanganku" lanjutnya dengan nada bossy. Kyuubi yang tak mau mencari perkara hanya mangut-mangut meng-iya-kan.
.
.
Canggung.
Terjadi kecanggungan diantara mereka bung! "Hey, Uchiha bisakah aku bertanya sesuatu padamu?"
"Hn" terdengar suara sang Uchiha. Kyuubi berusaha membiasakan dengan sikap dingin pemuda di sampingnya itu—meskipun menahan amarah yang bergebu-gebu, "Alasan kau pindah, boleh aku mengetahuinya?"
"Masih ingat dengan perjanjian untuk tidak menggangguku?" kata Sasuke dingin tanpa mengalihkan pandangannya ke Kyuubi barang sedetikpun. "Hei! Bisakah kau menghilangkan sikap kesombonganmu itu, Uchiha!" Kyuubi naik pitam menghadapi kesombongan Uchiha bungsu di sampingnya.
Pemuda itu lalu bangkit dari posisi bersantainya lalu membelakangi sang rubah—hendak berlalu, "Ya sudahlah, aku ke kelas dulu."
"WOY UCHIHA!" kata Kyuubi mangap-mangap nahan b*ker #eh emosi maksudnya.
Mind Controller
CKIITTT.
Seorang pemuda memarkirkan mobil sport yang ia kemudikan. Universitas Konoha.. tempat para orang-orang cerdas melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi. Uzumaki Naruto merupakan salah seorang mahasiswa manajemen bisnis di universitas megah di konoha ini.
"Hey Naruto" sapa salah seorang pemua yang berambut coklat panjang. "hei Neji!" Naruto mengangkat tangannya sebelah—membalas sapaan Hyuuga Neji. Meskipun mereka berbeda jurusan, tetapi mereka bisa dibilang cukup dekat. "Jadi, bagaimana tugas rancanganmu? Aku dengar kau berhasil mendapat nilai A" tanyanya akrab. "Hah itu bukan apa-apa, kau juga 'kan mendapat nilai A" balas Neji. "hehe iya juga sih, jadi siang ini kita makan di mana? Tapi tentunya kamu yang bayar hehehe" tanya Naruto antusias jika menyangkut perkara traktir meneraktir—meskipun ia mempunyai banyak harta. Kekekeke~ dasar Naruto!
"Kali ini di restaurant ku saja!" terdengar suara yang sangat akrab ditelinga mereka. Pemuda berambut merah bermarga Sabaku ini sedang berlari kecil menghampiri kedua sahabatnya. "Mm.. itupun kalau kalian mau, sekalian aku juga merayakan nilai B+ ku hehe," lanjut pemuda berambut merah itu sembari mengusap gaje lehernya. Sabaku Sasori, seorang mahasiswa di Universitas Konoha jurusan teknik informatika. Diantara ketiga sahabat ini, memang Sabaku Sasori lah yang mempunyai tingkat kepandaian yang bisa dibilang dibawah dari sahabatnya. Eits, tapi kalau soal masak memasak, dia jagonya! Ini dibuktikan dengan adanya restaurant milik keluarga Sabaku dengan Sasori lah yang dipercayakan menjadi chef utama di restaurant tersebut.
"Hm, kalau dipikir-pikir kita sudah jarang mengunjungi restaurant Sasori, aku yes," kata Neji cool. "Iya benar juga sih, baiklah kini diputuskan makan siang hari ini di restaurant Sasori! Eh tapi Saso, bisakah aku membawa adik-adikku? Yah mengingat kita tak pernah lagi berkumpul seperti ini semenjak kita SMA dulu, aku ingin mereka juga turut merayakan hal ini hehe," pinta Naruto yang sedikitpun tak pernah melupakan adik-adiknya. Sasori hanya melemparkan senyuman hangatnya kepada sahabat penyayangnya ini, "Haha boleh-boleh saja, benar juga kita tak pernah melihat adik-adik Naruto lagi semenjak kita SMA, iya 'kan Neji?" tanyanya sembari melemparkan pandangannya kepada pemuda cool disebelahnya. "Aku yes, tapi aku juga akan membawa Hime kasihan dia sendirian di rumah, bisa 'kan Saso?"
"Hah boleh boleh, kau boleh mengajak Hinata juga."
Deg.
Kedip.
Kedip lagi.
Deg lagi.
'Hi-Hina.. Hinata?' batin sang Uzumaki. Pipinya mulai memerah—panas.
"—to?" terdengar suara samar-samar.
"NARUTOOO!" teriak Neji dan Sasori bersamaan hingga membuat sang Uzumaki menutup telinganya rapat-rapat.
"I-Iya? Eh sepertinya aku harus ke ruangan dulu ya, jaa!" Kata Naruto terburu-buru dan berlalu meninggalkan kedua sahabatnya membatu dan hanya bisa melihat punggung sang Uzumaki yang lambat laun semakin hilang dari pandangan. "D-dia kenapa?" Sasori menatap Hyuuga heran. Neji menghela napas, kemudian menjawab pertanyaan Sabaku dengan tenang, "Sepertinya ia belum bisa melupakan Hime."
"Ooooooooo~!" teriak Sasori panjang nan OOC, "Aku baru ingat jika ia menyukai sepupumu itu semenjak kita SMP, 'kan?" ceplos Sasori. "Ya, sepertinya ia masih menyukainya."
.
.
Naruto melangkahkan kakinya dengan sangat terburu-buru. Ingatan masa lalunya pun memaksanya untuk mengingat kejadian beberapa tahun silam.
Flashback.
Di Taman Bermain..
"Yo Naruto! Maaf aku terlambat, soalnya sepupuku berkunjung hari ini, orang tuanya meminta tolong kepadaku untuk mengajaknya bermain—biasa.. mereka ada urusan mendadak, jadi aku membawanya sekalian ke sini, tak apa 'kan?" jelas pemuda bermarga Hyuuga itu sambil mengatur napasnya. "Ah tidak apa-apa, aku baru saja sampai di sini." Kata Naruto ramah, "Oh iya, orang yang kau ceritakan tadi, mana dia?"
"Itu dia," Neji menunjuk Hinata yang sedari tadi hanya duduk manis di ayunan taman bermain—tak memfungsikan ayunan itu sebagaimana mestinya.
Deg.
'Manisnya..' batin Naruto, 'Ah kenapa aku berpikiran seperti ini, dia 'kan sepupu Neji!' gerutu Naruto. Naruto dan Neji melangkahkan kakinya menghampiri sang bocah perempuan yang duduk di ayunan tersebut.
"Mm.. Hai, aku Naruto!" kata salah seorang bocah SMP dengan gugup ketika berhadapan dengan gadis berambut panjang ini—hendak berkenalan. "H-hai, a-aku Hi-Hinata" sapanya lembut. Mendengar balasan ramah Hinata, Naruto menjadi salah tingkah "Oh iya, aku temannya Neji, loh!" kata Naruto semangat. Hinata agak menghindar dari tatapan sang Uzumaki, "Dia memang seperti itu, selalu bersemangat apalagi mendapatkan teman baru, dia nggak gigit kok, Hime!" ceplos Neji yang sedari tadi memahami gestur Hinata yang agak takut dengan sahabatnya yang satu ini.
.
"Hey apa yang kau katakan Neji!" urat kekesalan kini mulai mencuat pada kening Naruto, "Ah gomen.. gomen aku tidak bermaksud Nar!" tepis Neji. Naruto yang naik pitam—merasa harga dirinya diturunkan di depan mata gadis cantik ini kini menggelitiki badan Neji—memberi hukuman atas perkataannya tadi. "pfffff.. hahahaha, k-kalian be-benar-benar l-lucu, y-ya" terdengar suara lembut dari bocah pemuda beraroma lavender ini.
Neji dan Naruto sadar akan tingkah mereka yang konyol membuat Hinata menertawakannya. Bukan perasaan kesal yang mereka rasakan tetapi rasa senang jika gadis di hadapan mereka ini tertawa karena tingkah mereka—setidaknya ia tidak murung sepeti tadi. "Hosh.. hosh.. m-maaf aku terlambat" terdengar suara yang kehabisan napas dari bocah seumuran mereka dengan rambut yang berwarna merah. Naruto memandang sahabatnya itu, "Hm kau ini kebiasaan!"
"Maaf, maaf ng-eh siapa dia?," kata Sasori memandang heran bocah perempuan yang sahabatnya ajak bercanda tadi. Neji angkat bicara, "Eh itu sepupuku dari luar kota, dia sekeluarga berkunjung ke rumahku, orang tuanya sedang ada urusan jadi yah aku bawa kesini saja daripada ia kering di rumah."
"Wah, cantiknya! Namamu siapa?" perkataan Sasori tadi sukses membuat wajah Hinata memerah,
"Hi-"
"Namanya Hinata, sudahlah ayo kita bermain!" kata Naruto memotong pembicaraan Sabaku dan Hyuuga. 'Ck, kenapa aku kesal seperti ini' batinnya. "Ya sudah, ayo kita bersenang-senang!" hari ini Sasori sangat bersemangat.
Ketika Sasori dan Neji berlari menuju perosotan, Hinata dan Naruto masih berada di tempat mereka tadi. "Jadi, kau suka bermain apa Hyuuga?" Naruto mulai membuka percakapan. "Eh eto.. a-aku su-suka me-membuat i-istana p-pasir" balasnya terbata-bata. "Ya sudah ayo kita membuatkan istana pasir yang terbagus yang pernah kau lihat! Hi-Hinata-chan!" seru Naruto ketika lidahnya kelu mengucapkan nama akrab untuk gadis di hadapannya. "B-bolehkan aku panggil kamu Hinata?" tanyanya memastikan yang empunya nama tidak keberatan.
Hinata tersenyum manis, "Hu'um a-ayo!"
Sekali lagi jantungnya berderu cepat. 'Pe-perasaan apa ini?' sang Uzumaki kembali membatin.
.
Semenjak hari itu, setiap kunjungan Hinata ke rumah sepupunya—Neji, Hinata selalu ikut bermain dengan tiga sahabat itu. Naruto sangat bersemangat jika mengetahui Hinata datang berkunjung.
Seiring berjalannya waktu, intensitas kunjungan Hinata mulai berkurang. Hingga suatu hari Hinata tak kunjung bermain dengan tiga sahabat itu. Perasaan hampa mulai menyelimuti hati Naruto mengingat kenangan yang ia buat bersama orang yang ia cintai itu. Hingga sekarang, mereka tak pernah berkomunikasi—apalagi bertatap muka secara langsung. Tetapi Naruto tak pernah bisa menghilangkan bayang-bayang Hinata. Ia pun akan menunggu saat dimana ia akan bertemu dengan orang terkasihnya itu.
"Aku akan menunggu untukmu, Hime" gumam Naruto.
Flashback end.
Naruto kini menepis ingatan itu, dan mulai berkonsentrasi dengan materi kuliahnya. 'Akhirnya hari yang kutunggu-tunggu datang juga, selamat datang kembali, Hime'
Mind Controller
Sekolah Kaicho..
TRINGGGGG
Bunyi bel bergema di seluruh sudut bangunan itu pertanda jika waktu pulang telah tiba. Nagato meregangkan otot-otot tubuhnya yang menegang akibat duduk seharian menerima materi dari guru "Ukkhhmm.. akhirnya hari ini berakhir juga." Nagato membereskan dengan cepat barang-barangnya dan memasukkannya kembali ke dalam tasnya, "Uh harus cepat-cepat ini, nanti aku bisa jadi orang terakhir dan tidak bisa berduaan dengan Kak Naru menunggu kakak-kakak keluar dari kelas," gumamnya.
Setelah memastikan tak ada yang terlupa, Nagato kini melangkahkan kakinya dengan kecepatan dua kali lipat dari biasanya. "Aduh, Kak Naru tadi sms katanya ada event penting setelah pulang sekolah, apa yah, mungkin kejutan buat aku! Kekeke~" Imajinasi Nagato mulai merebak kemana-mana. "Hoy anak tukang pamer!" terdengar suara salah seorang bocah dari belakang Nagato. "Maksudmu aku?" polos Nagato.
"Siapa lagi kalau bukan kamu!" kesal Gaara, "Kau berhentilah bersikap seolah-olah kau ini seorang raja di kelas!"
"Hah? Aku tak mengerti maksudmu," sanggah Nagato. Gaara yang terlihat sangat kesal dengan lawan bicaranya ini kini melangkahkan kakinya mendekati posisi sang Uzumaki, "Aku bilang berhentilah bertingkah bak seorang raja yang di kelilingi semua wanita!"
"Kenapa? Kau cemburu? Sudah dulu yah besok kita sambung lagi, aku ada acara hari ini, jaa!" balas Nagato yang kemudian berlari menuju gerbang sekolah.
.
.
"Hosh.. hosh maaf aku lama, tadi ada orang yang mengajakku bicara," jelas Nagato kepada kakak-kakaknya yang sedari tadi menunggu sang Uzumaki bungsu ini. "Ya sudah, ayo masuk ke dalam mobil! Bisa-bisa kita terlambat!" Naruto pun menyuruh adiknya untuk masuk ke dalam mobil. 'Yah, hilang sudah deh berdua-duaan dengan Kak Naru! Itu salah anak itu, tunggu saja aku akan membalasnya!' Nagato berdecak kesal.
"Memangnya kita mau kemana Kak Naru?" selidik Deidara. "Sudahlah, kalian lihat saja nanti."
Mind Controller
Restaurant Sabaku..
"Waaaaahhhh.. restaurat-nya mewah sekali!" Konan berdecak kagum. "Interiornya pun terkesan sangat elit," tambah Deidara. "Makaaaaannn.." kata Kyuubi dengan iler yang menetes-netes membuat para Uzumaki bersaudara memandak jijik sang rubah. "Waaah, Kak Naru ini surprise yang sangat spesial untukku, terima kasih," kata Nagato yang daritadi tak bisa lepas dari imajinasinya.
BRUK.
Kyuubi memukul kepala adiknya ini karena terlalu tinggi dalam berimajinasi, "Ada-ada saja kamu!". "Aduh! Sakit tau!" protes Nagato.
"Yo! Naruto! Sebelah sini!" panggil sang pemuda berambut merah. "Nah, ayo!" Naruto mengarahkan adik-adiknya menuju ke tempat yang sudah Sasori siapkan. "Nah, silahkan duduk!" kata Sasori mempersilahkan. "Oh iya, mana Neji?" tanya Naruto. "Tadi katanya sudah di jalan, nah itu dia!" kata Sasori sambil menunjuk sahabatnya yang kedatangannya sudah ditunggu-tunggu.
"Maaf, aku terlambat jalanannya macet" kata Neji berharap toleransi sahabatnya. "Wah kakak ini cantik ya," kata Konan sambil memandang kagum Hinata. Naruto memandang wajah yang telah lama ia tunggu-tunggu, 'Hi-Hime'
Sang gadis lavender itupun meminta maaf atas keterlambatannya,"Eh, m-maaf k-kami te-terlambat." Para Uzumaki bersaudara (minus Kyuubi) memandang lekat Hinata. "Tidak apa-apa, baiklah kita ke menu pembuka saja ya" kata Sasori. "Wah aku sudah menunggu hal itu!" Kyuubi bersemangat jika menyangkut soal makanan.
.
.
"Kau yakin itu dia?" kata pemuda berkucir satu memandang sang Uzumaki sulung lekat-lekat. "Ya, aku sangat yakin, karena namanya yang tertera disini," terdengar suara diujung telepon yang ia gunakan.
Flashback.
"Sebenarnya ada sebuah permintaan dariku, tapi aku ragu kau akan menerimanya." Kakashi memasang telinganya baik-baik—tak ingin setitik informasi luput dari pendengarannya. "Apa itu?" tanya lelaki bermasker itu.
"Bisakah kau mencari nama orang yang paling berpengaruh pada perusahaan Uzumaki? Dan juga keberadaannya saat ini." Jelas sang Uchiha ulung. "Baik, akan kuusahakan."
Hatake kembali melangkah menjauhi sang Uchiha, "Aku mengandalkanmu, Kakashi," Itachi menaruh kepercayaan seluruhnya kepada Kakashi untuk tugas ini, "Jadi jangan mengecewakanku."
"Aku mengerti." Balas sang Hatake—kedua pemuda itu berbicara dengan punggug masing-masing berhadapan satu sama lain.
Flashback end.
"Baiklah, aku percaya kepadamu Kakashi." Kata Itachi sebelum memutuskan hubungan teleponnya dengan Hatake Kakashi. "Jadi itu kau, seorang bocah ahn? Kita lihat sejauh mana kemampuanmu," seringai tipis terlukis di wajah tampan Itachi Uchiha.
"Halo, Uzumaki Naruto."
Bersambung..
Kyaaaa~ akhirnya chapter pertama rampung, pertama aku mau minta maaf atas keterlambatan update chapternya. Seharusnya fict ini udah update 3 hari yang lalu, tapi... kejadian yang menyeramkan itu terjadi, modem kepunyaan author rusak T^T hari itu author langsung mewek karena ga bisa update :'''''''''( so, mohon pengertian para reader, yaa.
Untuk itu author meminta maaf yang sebesar-besarnya kepada para reader. Maaf banget di chapter awal udah bikin kecewa L tapi untuk menebus kesalahan author, aku udah update 2 chapter sekaligus!
Baiklah terlepas dari itu semua sekarang waktunya balas reviewers! Sesuai dengan bio aku, "Para reviewers adalah napas author!" kekeke~ ini betul loh, para reviews adalah semangat author untuk melanjutkan WE ARE US! Ini. Oke lanjut!
~Dari Shiroi.144: Hehehe ini udah update kok, 2 chapter malah xD, semoga kamu suka ceritanya yah
~Dari Vianycka Hime: Halo salam kenal juga ^^ iya ini semangat '45 aku-nya xD wkwkwk
~Dari : Sip ;) ini udah update
Okelah sekian dari saya, dan tak bosan-bosannya aku meminta maaf kepada para readers sekalian.
Suka? Tidak suka? Kecewa? Abal? Silahkan di review!
