Sebelumnya, di WE ARE US!

Flashback.

"Sebenarnya ada sebuah permintaan dariku, tapi aku ragu kau akan menerimanya." Kakashi memasang telinganya baik-baik—tak ingin setitik informasi luput dari pendengarannya. "Apa itu?" tanya lelaki bermasker itu.

"Bisakah kau mencari nama orang yang paling berpengaruh pada perusahaan Uzumaki? Dan juga keberadaannya saat ini." Jelas sang Uchiha ulung. "Baik, akan kuusahakan."

Hatake kembali melangkah menjauhi sang Uchiha, "Aku mengandalkanmu, Kakashi," Itachi menaruh kepercayaan seluruhnya kepada Kakashi untuk tugas ini, "Jadi jangan mengecewakanku."

"Aku mengerti." Balas sang Hatake—kedua pemuda itu berbicara dengan punggug masing-masing berhadapan satu sama lain.

Flashback end.

"Baiklah, aku percaya kepadamu Kakashi." Kata Itachi sebelum memutuskan hubungan teleponnya dengan Hatake Kakashi. "Jadi itu kau, seorang bocah ahn? Kita lihat sejauh mana kemampuanmu," seringai tipis terlukis di wajah tampan Itachi Uchiha.

"Halo, Uzumaki Naruto."


WE ARE US!

Disclaimer : Masashi Kishimoto

Rat : M (untuk kedepannya)

Pairing : SasuNaru, ItaKyuu, pairing lainnya nyusul.

Warn : YAOI, OOC, Typo, alur kecepetan, dll.

Tidak suka Yaoi? Tekan tombol back!


Chapter 2 : Aku mulai, ya?


"Ck," decak kesal sang Uchiha bungsu. Beberapa dokumen menumpuk untuk diselesaikan olehnya. 'Kenapa aku tak bisa fokus untuk kali ini!' batin kesal sang pemuda onyx. "Huh, mungkin udara segar dapat menenangkanku," gumamnya memberikan solusi atas kegusaran hatinya. Sasuke Uchiha, seorang pemuda yang sangat cerdas ini sekarang merupakan kepala Manager di perusahaan Uchiha—menggantikan posisi kakaknya. Ketidak jelasan alasan pengunduran diri Itachi dari jabatan itupun menimbulkan tanda tanya besar dibenak Uchiha bungsu ini—mengingat kecerdasan dan kelincahan sang Uchiha sulung dalam me-manage perusahaan sehingga menjadi besar seperti sekarang ini.

Seusai sekolah, Sasuke memang disibukkan dengan berbagai macam kerjaan kantor. Beruntung, hal ini tak jadi masalah untuk pemuda berwajah tampan ini. Dengan kecerdasan dan kepintaran diatas rata-rata yang ia miliki, pelajaran disekolah adalah hal yang sangat mudah untuknya. Hingga malam hari berganti, pemuda onyx itupun masih mengerjakan tugas kantornya. Mengerjakan dua pekerjaan dalam satu hari memang akan menguras tenaga yang lebih banyak, tetapi hal ini tak pernah membuat seorang super macam Sasuke ini menjadi penghalangnya.

.

.

"Ck, dia itu! Melimpahkan kerjaannya kepadaku seenak perutnya saja!" gumam pemuda onyx itu terus mengutuk kakaknya. Langkah kakinya sekarang terhenti di parkiran perusahaan teknologi ini. Sang uchiha bungsu melangkahkan kakinya menuju mobil mewah di depannya, hingga langkahnya terhenti oleh suara yang cukup membuat kekesalan sang pemuda onyx bertambah.

"Kau kenapa Sasuke? Tak biasanya kau seperti ini," terdengar suara , "Masih terganggu dengan sikap kakakmu?" tanya pemuda putih pasi. Ia melangkahkan kakinya mendekati pemuda bergaya emo itu. Amarah Sasuke semakin memuncak melihat kesombongan lawan bicaranya, "Hn bukan urusanmu!" jawab Sasuke dingin. Tak kenal menyerah, pemuda yang akrab dipanggil Sai ini terus menggoda sang uchiha bungsu. "Hah, orang itu memang tak berguna! Hanya sampah di perusahaan ini! Pengkhianat itu memang seharusnya disingkirkan dari perusahaan ini."

Jika ia bukan seorang Uchiha, pasti wajah Sai saat ini sudah membiru akibat tinjuan telak sang uchiha bungsu. Namun bukan seorang Uchiha kalau tidak dengan cara yang membuat mental lawannya jatuh, dengan susah payah mengatur emosinya Sasuke pun angkat bicara. "Sudah cukup? Kau tahu? Orang yang mencela orang lain dengan mengatakan ia seperti sampah adalah lebih dari sampah itu sendiri!" kata Sasuke dingin. Sai hanya bisa menelan ludah mendengar kalimat yang keluar dari mulut pemuda emo itu. Sasuke melancarkan sorot mata membunuh untuk pemuda tak tahu diri di depannya ini.

'Kena kau," batinnya diiringi dengan evil smirk ala author (?).

"Kau tahu Sai? Kau harus selalu melihat daftar jabatan perusahaan ini, sampai kau mengerti bagaimana orang tak berguna sepertimu berbicara di hadapan seorang kepala Manager sekaligus orang yang paling berpengaruh sepertiku." Kata Sasuke tanpa ampun dengan sorot mata yang mengerikan seakan ingin mengoyak-ngoyak tubuh lawan bicaranya. Tanpa pamit, Sasuke membuka pintu mobilnya dan menancap gas berlalu meninggalkan pemuda putih pasi itu.

"Hah, kita liat saja nanti siapa yang akan termakan dengan kesombongnnya sendiri, Uchiha!" senyuman khas Sai yang sempat menghilang, kini mulai tersurai kembali. 'Selanjutnya, si Uchiha bungsu yang akan kuhancurkan layaknya menghancurkan Itachi Uchiha!' batin Sai ditengah keheningan parkiran itu.

Mind Controller

Di restaurant kepunyaan Sabaku..

"Waaaaaaaahhhhh!" kata para anggota keluarga Uzumaki (minus Naruto) berdecak kagum dengan hidangan yang disuguhkan di depan mereka. Iler Kyuubi pun semakin menjadi-jadi. "Ng.. eto, apa yang keluar dari mulut orang itu?" tanya Hinata sampai lupa gagapnya melihat pemandangan menjijikan dari arah sang rubah. Konan yang duduk bersebelahan dengan Hinata yang mendengarkan dengan baik setiap detil yang keluar dari mulut sang gadis lavender itupun men-death glare telak sang kakak. Sorot mata tajam Konan itupun seakan berkata 'Kau jangan malu-maluin Kak! Atau aku akan mematahkan lenganmu!' isyarat Konan tanpa ampun.

Merasa dilihat dengan pandangan yang tak biasanya Kyuubi pun menatap orang yang memberinya death glare itu, "Matamu kok ga kedip sih, Konan?" polos Kyuubi. Pemuda yang satu ini sangat tidak peka dengan yang terjadi disekitarnya. "Jiah!," Gubrak semua orang yang hadir pada jamuan makan siang itu. "EH KENAPA KAU IKUT-IKUTAN GUBRAK, BAKA NO KYUUBI!" emosi Naruto melihat kelakuan adiknya yang sangat memalukan. "Sudah.. sudah, ayo kita makan saja," lerai Sasori—menenangkan adik kakak yang entah sejak kapan mereka berguling-guling dibawah meja. "Kau ini aa-apaan Kak Naru, sekarang kau yang mulai melakukan tindakan yang memalukan tahu!" cetus Deidara yang semakin tidak habis pikir tingkah kedua kakaknya. Neji hanya bisa memijit-mijit keningnya melihat pemandangan yang ada di depannya itu.

'Hah, u-unik se-seperti b-biasa, dan te-terlihat le-lebih—manis?' Hinata membatin. Wajahnya memerah—sesegera mungkin ia menundukkan kepalanya agar tak terlihat oleh orang banyak jika ia sedang melamukan sang Uzumaki sulung. 'Ah a-apa y-yang a-aku pi-pikirkan? I-ia tak mu-mungkin m-menyukai ga-gadis s-sepertiku,' raut wajah Hinata yang tadi memerah kini berubah menjadi kalut. 'Apa kau juga mempunyai rasa yang sama sepertiku Kak Naruto?'

Nagato yang melihat gadis cantik di depannya itu sudah bisa menebak secara pasti jika gadis pemalu itu menyukai kakak idolanya. Terlihat serasi menurut Nagato, 'betapa beruntungnya gadis yang akan memiliki Kak Naruto nantinya.'

.

.

Setelah semua hidangan utama beserta makanan penutup ludes disantap, Kyuubi mulai berkomentar terhadap makanan yang ia santap dengan lahap tadi.

"Nyam.. Nyam ahhh lezat sekali!"

"Iya! Iya! Kak Saso, bisakah kami kemari lain waktu?" Kata Uzumaki bungsu membenarkan perkataan Kyuubi.

Hinata tersenyum kecil melihat tingkah Nagato yang begitu imut, "I-iya i-ini su-sungguh lezat," setelah mendengar suara yang sedari tadi ia tunggu-tunggu—maklum si Hinata orangnya pemalu jadi baru angkat bicara sekarang—jantung Naruto kini beradu cepat. Matanya tak henti memandang gadis manis di hadapannya.

"Iya.. iya kalian bisa ke sini kapan saja kalian mau," kata Sasori. Pemuda bermata biru itu tak mengabaikan percakapan yang tercipta disekitarnya, ia hanya terpaku dengan gadis yang kini tertawa lembut—manis.

Biru bertemu lavender.

Tatap.

Eye contact yang terjadi antara Naruto dengan Hinata ternyata memutar kembali kenangan masa lalu mereka.

Flashback.

Di taman bermain..

Ketika Sasori dan Neji berlari menuju perosotan, Hinata dan Naruto masih berada di tempat mereka tadi. "Jadi, kau suka bermain apa Hyuuga?" Naruto mulai membuka percakapan. "Eh eto.. a-aku su-suka me-membuat i-istana p-pasir" balasnya terbata-bata. "Ya sudah ayo kita membuatkan istana pasir yang terbagus yang pernah kau lihat! Hi-Hinata-chan!" seru Naruto ketika lidahnya kelu mengucapkan nama akrab untuk gadis di hadapannya. "B-bolehkan aku panggil kamu Hinata?" tanyanya memastikan yang empunya nama tidak keberatan.

Hinata tersenyum manis meng-iya-kan, "Hu'um a-ayo!"

.

.

"Hinata-chan, istana megah yang kujanjikan kini telah selesai ku rampungkan! Lihatlah!" kata bocah berambut pirang. Merasa namanya dipanggil, gadis lavender ini pun menoleh menuju sumber suara, "Waaahh, s-sugoii!" Hinata berdecak kagum, "A-aku be-belum pe-pernah m-melihat y-yang se-semegah i-ini, a-arigatou Naruto-senpai" sembari melemparkan senyuman termanisnya.

Istana pasir yang megah itu—setidaknya kelihatan megah oleh anak-anak sebayanya—memang sengaja Naruto buatkan khusus untuk sang Hime. Nampaknya sang gadispun sangat menyukai istana pasir tersebut.

"hm, Hinata-chan, boleh aku bertanya sesuatu padamu?" tanya nya disela-sela kegiatan bermain mereka. Hinata yang semula sibuk bermain pasir kini menatap penasaran Naruto, "T-tentu, a-apa it-itu?"

"Mengapa kau sangat suka dengan istana pasir? Bukankah mereka sangat rapuh? Terkena air saja bisa langsung berantakan, dan membuatnya juga butuh kesabaran ekstra," matanya kini menatap Hinata lekat—menanti sang gadis menjawab pertanyaannya.

Hinata menghela napas sembari tersenyum, "Kau tahu Naruto-senpai? I-sstana pasir itu me-menggambarkan impianku, i-impian yang ingin k-kubangun bersama seseorang k-kelak."

"Maksudmu?" Naruto masih kelabakan dalam mencerna penjelasan Hinata. Ia memasangkan telinganya agar mndengar segala penjelasan dari sang gadis Hyuuga.

"Sebuah istana pasir sangat sulit untuk dibuat, kita harus melihat jenis pasir dan tata letak istana itu sendiri, itu menggambarkan jika aku harus memilih seorang yang tepat untukku, jika aku salah memilih istana itu pasti akan cepat rubuh. Kemudian istana pasir itu sangat mudah dipengaruhi oleh faktor eksternal seperti angin kencang maupun hujan lebat, itu menggambarkan bagaimana ujian kesetiaan datang untuk mengganggu istanaku bersama seseorang itu," Hinata kini menatap langit untuk sekian detik lalu melanjutkan alasannya hingga ia lupa akan gagapnya.

"Jika aku benar dalam memilih, pasti istana itu akan kokoh berdiri. Tetapi yang terpenting dari itu semua, bagaimana cara kita untuk mempertahankan keseimbangan istana pasir itu."

Naruto memandang gadis didepannya dengan kagum. Ia tak menyangka jika lawan bicaranya itu memikirkan hal yang sangat jauh di depan. Penampilan dan pemikiran orang bisa saja berbanding terbalik, 'kan. Perasaan yang Naruto memiliki kini kian bertambah mendengar penjelasan yang luar biasa dari gadis berambut pendek ini (kala itu rambut Hinata pendek).

PROK. PROK. PROK. PROK.

Terdengar suara tepuk tangan yang sangat meriah, "Wah itu sangat bagus sekali Hinata-chan, aku tak pernah berpikir sejauh itu" Wajah Hinata memerah, "A-ah i-itu b-biasa s-saja"

"Tapi jujur loh, aku sangat kagum denganmu Hinata-chan" kata Naruto, Hinata tak lepas dari senyumannya "A-arigatou Naruto-senpai." Kini mereka saling berpautan senyum. "Baiklah kalau begitu aku akan berusaha membuatkan istana pasir yang kau impi-impikan itu! Aku janji!" naruto mengedipkan sebelah matanya dan kemudian menutup mulutnya.

'Ck, bicara apa aku ini!'

Hinata yang sedari tadi melamun, kini tersadar dari lamunannya, "A-apa k-kau me-mengatakan s-sesuatu Naruto-senpai?" Naruto menggerak-gerakkan tangannya seakan menepis pertanyaan Hinata, "Ah bukan apa-apa"

Naruto kini mengelus dadanya—bernapas lega, 'Huh untung ia tak mendengar hal itu'

Kini Hinata beranjak dari tempatnya tadi hingga terdengar suara yang cukup berbobot untuk menghentikan sejenak langkah Hyuuga tersebut, "S-sebenarnya a-ada satu hal lagi yang ingin kutanyakan." Hinata membalikkan badannya lalu membalas perkataan Naruto, "A-apa i-itu?"

Sang Uzumaki sulung mengelus lehernya—grogi, "T-tentang seseorang itu, apakah kau sudah menentukannya?" Hinata membulatkan matanya mendengarkan pertanyaan pemuda pirang di hadapannya sukses membuat jantung Hinata bergerak dari tempatnya.

Tatap.

Biru bertemu lavender.

Senyum.

Terlukis sebuah senyuman yang membuat debaran jantung Naruto tidak karuan. "S-soal i-tu.." senyuman gadis itu semakin melebar, "A-aku a-akan me-mengatakan p-padamu n-nanti!" kata Hinata sambil berlari kecil meninggalkan Naruto yang masih pewe dengan posisinya. "Hei! Tunggu Hinata-chan! Aku ingin tahu siapa orang itu!" kata Naruto sembari beranjak dari posisinya. Kini mereka saling berkejaran. Mereka berdua tertawa lepas di bawah terik matahari.

Flashback end.

"—to?"

"—Naru?"

"NARUTOOOO!" teriak Neji OOC—yang sedari tadi diam menahan emosi.

"Ng-eh i-iya" Naruto pun tersadar dari lamunanya. "Oh iya, nama kakak siapa?" tiba-tiba sang Uzumaki keempat bertanya kepada gadis bermata lavender disampingnya—penasaran. Hinata tersenyum, "Oh i-iya a-aku l-lupa me-memperkenalkan d-diri"

"N-namaku Hyuuga Hinata, s-salam k-kenal" sambungnya. 'Lembut seperti dulu' batin Naruto menanggapi cara berbicara pujaan hatinya itu. "Eh eto.. kau tinggal dimana?" tanya Kyuubi yang mulai penasaran dengan gadis cantik ini. Naruto kini memasang telinganya sebaik mungkin. Ia tak mau kehilangan informasi yang berharga ini mengingat Naruto sudah sangat lama tak menemui sang pujaan hatinya. Hinata menatap Neji lekat, "Saat ini aku tinggal dirumah Kak Neji, itupun jika urusan orang tuaku selesai."

"Oh," Nagato ber'oh' ria, "jadi, sekarang kakak bersekolah dimana?" tanyanya kembali mulai ikut meng-kepo-i sang Hyuuga. "Eh, sebenarnya, aku mulai sekolah baruku esok hari, aku juga tidak tahu pasti mengenai sekolah itu, tetapi.. ayahku bilang sekolah itu bernama Sekolah Kaicho," katanya sembari mengingat-ingat informasi mengenai sekolah barunya tersebut. Para kakak beradik Uzumaki ini membelalakkan matanya, ternyata gadis ini akan satu sekolah dengan mereka. "Wah! Itu adalah sekolah kami! Baiklah, perkenalkan aku Kyuubi Uzumaki dari kelas 3, aku akan jadi senpai mu loh~ jika ada yang mengganggumu panggil saja aku!" jelas Kyuubi mantap dengan mengacungkan jari jempolnya.

Neji mulai angkat bicara, "Begini saja, Hime besok pagi kau pergi bersama mereka saja" Neji memandang penuh arti Naruto, "Mengingat mereka semua adalah murid Sekolah Kaicho, bisa 'kan Naruto?"

'Ck' batin Naruto. Entah ia kesal karena sahabatnya kini menatap evil ke arahnya ataukah senang karena harus mengantarkan Hinata di hari pertamanya bersekolah di Sekolah Kaicho. Positif! Ia harus senang, senang jika sahabatnya mengerti akan dirinya. "Ya, tentu, dengan senang hati" Naruto membalas senyuman Neji. Senyuman sang Uzumaki sulung itu seakan berkata, "Makasih sob!" sementara sorot mata Neji membalas isyarat itu, "Yoi mas bro!"

"Ng-eto.." gumam Hinata.

Mind Controller

"Oh rupanya itu kau, Uzumaki. Baiklah kini hanya memirkan cara untuk memasuki pertahananmu," si pemuda berkucir satu ini kini meneguk jus alpukat dihadapannya. Ia membasahi bibir keringnya dengan jus itu dengan sorot mata yang sangat ingin membunuh siapa saja yang membuatnya seperti ini. Santapannya kini berada didepan matanya sendiri.

.

Deidara yang sedari tadi diam tampak sedang berkonsentrasi pada suatu hal yang menurutnya mencurigakan. Deidara yang sejak tadi menyadari tingkah laku Itachi merasakan sesuatu yang buruk akan terjadi, 'Siapa orang ini? Apa yang ia inginkan?' pertanyaan itu terus muncul di benak Uzumaki ketiga ini.

Memikirkan hal itu, Deidara sangat penasaran dengan pemuda yang sejak tadi memperhatikannya dan juga saudaranya. Hingga pemuda yang mempuyai dua guratan garis pada wajah tampannya itu meninggalkan mejanya dan berjalan pergi. 'Hah, mungkin aku hanya berpikiran negatif padanya," Deidara menghela napasnya—berpikir bahwa tak akan terjadi hal yang buruk seperti dugaannya.

"Ng-Dei? Kau jangan melamun saja! Melamun itu tidak baik loh," tegur Sasori—menyadarkan Deidara dari lamunannya.

"E-eh iya, Sasori-senpai." Balas Deidara ringan.

Deg.

Mata Sasori terbelalak, 'K-kenapa'

'K-kenapa i-ia t-terlihat—manis?' gumamnya kembali—ketularan gagap Hinata.

Deg.

Kembali jantung Sasori berdetak tak karuan, 'A-apa yang kupikirkan! Dia 'kan adik Naruto, terlebih lagi dia'kan laki-laki Sasori! LAKI-LAKI!' ia menyalahkan perasaannya. Segera ia menepiskan perasaannya ketika para undangannya itu berpamitan.

.

.

Tersirat sebuah seringai licik seorang Uchiha ketika ia melangkahkan kakinya menjauhi mangsanya, 'Anak pirang itu bisa juga, tapi dengan memandangiku terus tak akan menyurutkan niatku!' gumam Itachi kesetanan. Bangga ketika ada seorang Uzumaki yang merasakan keberadaannya.

'Tetapi, aku juga harus siaga—berjaga-jaga seketika orang itu hadir lagi' batinnya ketika posisinya yang dipunggungi oleh Itachi Uchiha.

.

.

.

Perasaan tidak enak terjadi pada daerah selangkangan Naruto. Merasa tampungan air seni-nya penuh hingga harus segera dikeluarkan, Naruto meminta izin kepada adik-adiknya dan para sahabatnya untuk membuang urine hasil ekskresinya itu. "Ng, kakak permisi kebelakang dulu, ya? Kalian tunggu saja disini, kakak udah ga tahan" katanya kepada para adiknya.

"Yahhh, padahal tayangan tv kesukaan kami udah mau tayang!" protes Konan—tak mengerti kedaan Naruto.

"I-iya kakak akan kembali secepatnya!" kata Naruto sambil berlari kecil menuju wc yang berada di restaurant ini.

.

"Kak Dei! Kak Dei! Katanya Kak Naru ingin kebelakang, tapi kok malah berlari kedepan?" tanya Nagato polos. "K-kakak juga tidak mengerti, ah! Mungkin saja ia berlari kedepan terus dengan diam-diam dia akan mulai kebelakang!" jawab Deidara dengan muka yang sangat tenang—seakan-akan jawaban yang ia berikan tak bisa diganggu gugat.

Melihat tingkah DeiNaga sukses memunculkan urat kekesalan di kening pemuda Uzumaki yang lain—Kyuubi.

PLAK. BRUK.

Tanpa berperike-Nagato-an dan ke-Deidara-an, Kyuubi memukul kepala mereka berdua. Dengan tatapan polos dengan ingus yang mulai melumer, Nagato meminta penjelasan dari kakaknya karena telah memukulnya tanpa ada alasan yang jelas—menurut Nagato. "Ya! Kak Kyuu jahat! Sakit tau! Aku kan ga salah apa-apa!"

"Kau ini! Ingat kalian itu adalah Uzumaki! Masa untuk kalimat seperti itu saja kalian tidak mengerti!" kata Kyuubi mulai membenarkan pengertian adik-adiknya.

Sementara Konan menghela napas karena merasa tak perlu angkat bicara untuk membenarkan presepsi DeiNaga. Ia merasa sudah terwakili oleh kakak keduanya itu. "Dia bukan diam-diam kebelakang tetapi setelah melewati tiang itu ia akan mulai kebelakang! Kalian mengerti sekarang?" jelas Kyuubi semakin menyesatkan.

'Hah, mereka sama saja, baiklah kali ini aku harus ikut andil, apa yang orang katakan jika Uzumaki tidak mengerti kalimat 'kebelakang'?' batin Konan. "Hoi kalian, kalian tak mengerti sama sekali maksud perkataan Kak Naru, ya?" Konan mulai melipatkan tangannya.

GELENG. GELENG.

Positif! Mereka (DeiNagaKyuu) menggeleng tak mengerti seperti seorang anak anjing yang tersesat. Konan menghela napas kemudian mulai angkat bicara, "Kak Naru tadi mengatakan ingin kebelakang, ia bermaksud ingin ke belakang restaurant ini untuk membeli beberapa cemilan jalanan! Gitu aja kalian ga tau!"

Perkataan Konan semakin menjebak para Uzumaki dalam jurang kesesatan. Alih-alih memperbaiki presepsi para saudaranya Konan malah membuat presepsi para Uzumaki (minus Naruto) melanglang buana. Hinata yang sejak tadi melihat tingkah gaje para adik pemuda bermata biru itupun hanya bisa tertawa.

Mind Controller

Di waktu yang sama..

WC restaurant Sasori..

"Aaaahhhh legaaaaa!"

Wajah Naruto pun begitu lega setelah membuang 'apa' yang mengganjalnya sedari tadi. Setelah memastikan ia menutup resleting celananya dengan baik, kini pemuda itupun memacu langkah kakinya dengan cepat—tak ingin membuat para adiknya menunggu lama. Dasar kakak yang penyayang!

BRUK.

SRET.

"Aduh, maaf maaf, aku tidak sengaja!" kata pemuda yang kini membuat baju putih Naruto menjadi ungu—seungu anggur yang ia bawa bersamanya. Naruto kini membersihkan bajunya dengan tangannya—merasa kurang ampuh, ia pun melangkahkan kakinya kembali menuju westafel wc restaurant Sabaku. Pemuda yang menabraknya tadi mengikuti langkah pemuda tadi dengan terus meminta maaf. "M-maaf, aku tak sengaja" ujarnya lagi. Merasa sudah agak mendingan, Naruto kini merapikan bajunya kembali "Ya, ini juga salahku karena terlalu cepat dalam berjalan, sudah ya aku terburu-buru," kata Naruto tanpa membalikkan badannya ke arah orang yang menabraknya tadi—terlalu fokus terhadap adik-adiknya.

Dapat!

Seringai tipis yang selalu menghiasi wajah Itachi Uchiha akhir-akhir ini. "Sebegitu paniknya kah dirimu megenai saudara-saudaramu itu, Uzumaki? Sehingga kau menjatuhkan barang ini" gumamnya kesetanan. "Ups, atau aku yang mengambilnya? Hahaha maka terkutuklah aku!"suara tawanya bergema seantero wc—membuat seorang lelaki tua pingsan ditempat dikala ia membuang hasil eksresi dalam bentuk feses di wc itu. Aduh kau sangat nakal, Tachi!

Mind Controller

Dengan napas yang tersenggal-senggal Naruto pun menghampiri tempat para adiknya yang tegah menungunya,"Hosh.. hosh.. k-kakak m-minta- eh?" Naruto bingung melihat keadaan sekitar. Kosong. "Kemana mereka? Huaaaahhh jangan-jangan mereka diculik! Huaaaaa adik-adikku yang lucu! Kalian belum nikah tau! Kenapa harus diculik duluaaaaan!" kata Naruto frustasi. Ia kembali mengacak-acak rambutnya, "A-aku telah gagal menjadi kakak yang baik," kini aura kehampaan terpampang cetar membahana disekitar pemuda itu.

Hinata sweatdrop melihat drama yang tengah Naruto mainkan. Gadis itupun mulai mendekatkan posisinya menuju sang Uzumaki sulung, "N-Naruto-senpai, a-adik-adikmu s-sudah diantar p-pulang oleh Kak N-Neji," katanya mulai menceritakan apa yang terjadi. Naruto menatap sumber suara itu, "K-kau tak u-usah khawatir, s-sepertinya sekarang m-mereka ada d-dirumah me-menonton siaran tv yang mereka eluh-eluhkan s-sedari t-tadi," gadis berambut panjang ini terus menjelaskan keadaan. 'B-benar juga, kalau tidak salah tadi Konan mengatakan..

Flashback.

Perasaan tidak enak terjadi pada daerah selangkangan Naruto. Merasa tampungan air seni-nya penuh hingga harus segera dikeluarkan, Naruto meminta izin kepada adik-adiknya dan para sahabatnya untuk membuang urine hasil ekskresinya itu. "Ng, kakak permisi kebelakang dulu, ya? Kalian tunggu saja disini, kakak udah ga tahan" katanya kepada para adiknya.

"Yahhh, padahal tayangan tv kesukaan kami udah mau tayang!" protes Konan—tak mengerti kedaan Naruto.

"I-iya kakak akan kembali secepatnya!" kata Naruto sambil berlari kecil menuju wc yang berada di restaurant ini.

Flashback end.

"Mereka juga daritadi menelponmu, tetapi kau tak kunjung mengangkatnya, yah jadi mereka pulang duluan bersama Kak Neji. Sedangkan aku menunggumu untuk berjaga-jaga bila kau berpikiran yang tidak-tidak terhadap adik-adikmu." Jelas Hinata panjang lebar—author juga ga ngerti orang pemalu seperti dia mulai berbicara panjang lebar, tanpa gagapnya lagi!

'M-menungguku? Sebegitu pentingnya kah diriku bagimu, Hime?'

Naruto melemparkan senyuman hangatnya kepada gadis yang kini berdiri di hadapannya, "Hah ini salahku karena telah membuat silent hapeku sehingga tak menggubris panggilan mereka,terima kasih, Hinata-chan." Senyuman lembut kini terpasang pada gadis lavender itu. "Ah, jangan menyalahkan diri seperti itu sudahlah, kau tak perlu berterima kasih untuk itu—aku sedari tadi merasa kasihan pada Konan yang sangat gelisah jika ia tak melihat acara tv itu."

'Hah, seharusnya aku tak sepercaya diri itu, ternyata hanya kasihan pada adik-adikku. Yah aku saja yang terlalu banyak berharap darimu.' Gumam Naruto kalut.

"Baiklah, ayo kita pulang sekarang, Hinata-chan." Naruto memaksakan untuk tersenyum.

"Hum! A-ayo" jawabnya dengan semangat.

Mind Controller

CKITTT.

"Seakan dia bisa saja mempermainkanku!" Pemuda onyx itu membanting stir sembari bergumam kesal. Ia melaju dengan kecepatan diatas rata-rata. Ya, ia melampiaskan segala hiruk pikuk permasalahannya pada mobilnya ini. Ia terus memacu mobilnya hingga ia seketika menginjak rem mobilnya telak. Nampaknya pemuda bergaya emo itu menyerempet sesuatu.

BRUK.

.

.

"Yo Hinata-chan, jadi kau tetap akan disini?" tanya sang Uzumaki ulung kepada gadis disampingnya—tanpa mengalihkan pandangannya dari jalanan. Kini Naruto memacu mobil sportnya untuk mengantar gadis cantik di sampingnya. "Aku juga tidak tahu Naruto-senpai, tapi nampaknya urusan orang tuaku akan memakan waktu yang agak lama."

'Kau tahu? Aku sangat merindukanmu, Hime'

"N-Naruto-senpai? A-aku ingin m-mengatakan se-sesuatu p-padamu—

—Kyaaaaaaa apa itu?" Hinata teriak histeris sambil menunjuk kearah ular-ularan Nagato.

"Ya, H-hinata-chan jangan terlalu banyak bergerak, aku jadi kehilangan keseimbangan!" Naruto panik. "kyaaaaa jauhkan darikuuuu!" kata Hinata yang semakin lama gerakannya semakin tak karuan. "H-Hinata-chan tenang-tenang itu hanya sebuah m-

-awas!" Kata Naruto yang seketika membanting stirnya. 'M-mobil sport ku..' batin Naruto mewek sejadi-jadinya.

CKITTT

.

.

'Shit!' batin sang onyx tak percaya jika ada orang yang berani menyambar mobil lamborgenie kesayangannya. Tanpa berpikir panjang sang Uchiha pun keluar dari mobilnya hendak memarahi orang yang sangat berani karena telah mengganggu sang Uchiha—apalagi dalam keadaan mood yang sangat menyeramkan.

"Hei! Keluar kau!" kata sang Uchiha bungsu—memukul kap mobil Naruto.

"Ck, sialan orang itu! Kau tunggu disini saja Hime, aku akan mengurusnya," Kata Naruto yang mulai naik pitam meliat tingkah sang pemilik mata onyx tersebut. "Hei kau bocah tengik! Enak saja memukul kap mobil orang lain dengan seenak perut!"

"Memang siapa yang kau panggil bocah tengik itu, Dobe!" kata Sasuke dengan kasar tanpa melihat jika lawan bicaranya adalah seorang yang lebih tua darinya. Melihat tingkah angkuh orang di depannya, amarah Naruto kian lama kian memuncak "Kau ini! Bersikap sopanlah bocah tengik!"

"Hn, seperti kau pak tua saja! Mana boss mu? Suruh ia keluar sekarang!" sorot mata Uchiha sempat membuat sang Uzumaki kehilangan langkahnya. Tapi ia adalah Uzumaki—dia harus bisa melawan pemuda di depannya yang memiliki kesombongan yang sangat tinggi. Urat kekesalan mulai mencuat pada permukaan keningnya, "Memangnya aku ini supir apa! Aku yang punya mobil ini!" napasnya tersenggal-senggal. Tetapi sang Uchiha bungsu memandangnya sebagai lelucon di tengah hiruk pikuk permasalahan yang ia hadapi. "Hn, kau tak tampak seperti seorang yang bermobil, Tuan." Kata Sasuke menggoda Naruto. 'Menarik,' batinnya singkat.

"Hei! Sialan kau!" kata Naruto dengan emosi yang kini memuncak—ia menarik kerah baju Sasuke sehingga kini kaki pemuda bergaya emo kini sedikit terangkat dari tempat berpijaknya. "Hah, memang aku benar, orang yang mudah terpancing sepertimu adalah SAM-PAH!" kata Sasuke telak. Naruto membelalakkan matanya tak percaya jika pemuda di hadapannya sangat berpegang teguh pada pendiriannya—maklum, Naruto masih belum mengenal Sasuke yang bisa dibilang The King of Ababil (ABG Labil)!

Biru bertemu Onyx.

"Si-sialan kau!" belum sempat kepalan tinju Naruto mendarat di wajah tampan Uchiha Bungsu, terdengar suara klakson yang semakin meriah—dan tentunya memekakkan telinga. "WOY! KALIAN BISA MAJU TIDAK! ISTRIKU MAU MELAHIRKAN NIH!" ketus seorang calon ayah dibalik mobil ambulance. "Iya betul! Sudahlah ayo jalan!" tambah seorang kakek yang naik sepeda. Nah loh?

"Ck!" ketus sang Uzumaki sulung. Ia melepaskan genggamannya dari kerah baju Sasuke dengan kasar. Ia membalikkan badannya—memunggungi sang pemuda bermata onyx. "Sampai jumpa lagi, Supir yang tidak tau diri, itupun jika kau masih bisa melihatku," langkahnya sempat terhentikan dengan kata-kata perpisahan dari sang Uchiha bungsu. "Kita lihat saja nanti," Naruto membalas perkataan Sasuke sebelum masuk kembali ke dalam mobil sport nya yang kini sudah sedikit—penyok.

.

.

"H-Hime? D-dia m-memanggilku Hime?" gumam Hinata, "T-tunggu, orang yang menyerempet kami adalah...

Hinata menatap Sasuke lekat-lekat, ia memastikan dengan memicingkan matanya. Berusaha agar ia tak salah melihat orang yang kini sedang beradu mulut dengan Uzumaki Naruto. 'D-dia' batinnya. Matanya kini hanya menatap lurus orang yang berada di luar sana, "K-kenapa dia ada disini?" gumamnya.

BRUK.

Lamunannya seketika terbuyarkan oleh suara tutupan pintu mobil yang sengaja dibanting oleh pemuda bermata biru didekatnya. "Ck, sialan orang itu!" Kata Naruto emosi, ia langsung menancapkan gas lalu melaju dengan cepat menelusuri jalan raya itu. "A-apa kau baik-baik saja Senpai?" kata Hinata khawatir dengan keadaan sang Uzumaki yang sedari tadi diam dan hanya bisa memukul-mukul stir dan sesekali mengucapkan kata-kata yang mengutuk.

"Ah, tidak apa-apa aku hanya kesal dengan orang yang tadi, sombong sekali bocah tengik itu!" Naruto melepaskan uneg-unegnya kepada Hinata. "Oh iya, sebelum kita bertabrakan dengan bocah ingusan itu, kau singin memberitahukan sesuatu padaku 'kan? Apa itu Hinata-chan?" tanya Naruto kembali mengingat perkataan Hinata sebelum kejadian yang memancing emosi itu terjadi.

"Eh.. anu.. itu.."

"Itu kenapa?" tanya Naruto semakin penasaran.

"Se-sebenarnya—

REM.

"Nah kita sudah sampai!" kata Naruto tanpa menyadari jika ia memotong pembicaraan sang Hyuuga. "Jadi, apa yang ingin kau katakan?" lanjutnya—tetap tak merasa bersalah. Melihat emosi Naruto yang sekarang mulai stabil Hinata berpikir jika ini waktu yang tepat, namun jika memikirkan perasaan Naruto nantinya—ia sangat takut hal itu akan terjadi. Jadi untuk mengatakan hal itu Hinata mesti memikirkannya beberapa kali sebelum sang Uzumaki mengetahuinya.

"Mm, nanti saja yah, sepertinya aku butuh istirahat. Arigatou Naruto-senpai" katanya sebisa mungkin tersenyum di hadapan sang Uzumaki sulung. Naruto yang mengerti keadaan Hinata hanya meng-iya-kan. 'Yah, kau mesti lelah dengan hari ini Hime,' lanjutnya dalam hati.

"Douita, perlu aku antar masuk Hinata-chan?" tawar Naruto yang sedikit tidak enak dengan Hinata atas apa yang terjadi tadi. "T-tidak usah, kau sebaiknya pulang. Adik-adikmu pasti mencari-cari kakak kesayangannya, sudah ya jaa!"

Lalu pintu didepannya itu menutup akibat dorongan sang gadis.

Mind Controller

Di kontrakan Itachi..

Sang pemuda berkucir satu ini nampak dengan serius mengetik sesuatu pada laptop hitam yang berada tepat dihadapannya. Tenang. Rumah kontrakan ini sangat tenang, bagaimana tidak sang penyewa rumah sedang serius dengan apa yang ia kerjakan. Di depannya terlihat sebuah kartu berwarna merah dan sedikit ada oranye nya.

Uzumaki Naruto.

Nama itu tertulis pada ID card yang kini sedang Itachi tatap dengan sorot mata tajam. "Aku tidak menyadari jika Uzumaki hanya segini, sampai-sampai aku tidak perlu kekuatan ekstra untuk mencuri ID card ini, sangat mudah seperti mengambil permen dari bayi!" gumamnya dengan senyuman puas dan terlihat sangan mengerikan. Nyamuk pun tak berani melintas dihadapan pemuda onyx dengan dua guratan garis di wajah tampannya.

"Baiklah kini mengakses IP adress perusahaan mu, brengsek" kata Itachi tak henti menari-narikan tangannya di keyboard laptopnya. "Kemudian Log In menggunakan ID mu sialan, dan-

-aku mulai, ya? Naruto-kun? HAHAHAHAHAHAHA" tawa Itachi bergema seantero ruangan membuat seekor bayi kucing yang baru saja dilahirkan dibelakang rumahnya kini merangkak masuk kembali ke perut ibunya.

Kemudian pemuda yang sedari ketawa kesetanan ini lalu mengarahkan jarinya hendak menekan suatu tombol pada keyboard laptopnya.

ENTER.

'Klik!'

Bersambung..


Ini adalah chapter kedua! Aku sangat berterima kasih kepada para readers hingga silent readers *aku tahu loh kalian baca fict ini 3:) #evilsmirk, tenang aja aku juga pernah menjadi silent reader seperti kalian *peluk cium* xD wkwkwk ini apaan #plak. Terima kasih juga untuk para reviews! Kalian adalah napasku~~ kekekeke #tertawanista.

Terkhusus untuk dia—Orin Donnut, dia adalah teman yang secara tidak sadar menyemangatiku T^T sangkyu! *peluk cium lagi*

Nah, seperti yang dikatakan di fict sebelumnya, author meminta maaf atas nasib tidak baik author. Hiks hiks semoga kalian ga kecewa deh, dan tambah penasaran dengan apa yang terjadi di fict WE ARE US! Ini.

Baiklah salam peluk dan cium dari aku,

Suka? Tidak suka? Jelek? Abal? Mengecewakan? Silahkan di review untuk membuat fict ini lebih bagus lagi! ^^