Untuk menghormati para reviewers, maka balasan atas review chap sebelumnya author naruh di atas #smirk.
Oke disini ada Vianycka Hime,
Author : kekeke~ Itachi gitu xD. Yeaaaaayy mainpairing udah ketemu #niup terompet. Soal sekongkol menyekongkol #apaancoba ==a kita ga tau yah Chi? Ataukah kamu memang bersekongkol!
Itachi : Hn
Author : (_ _) maafkan suamiku Vi-chan #plak. Oke ini udah update!
Selanjutnya ada lovelyKyuu,
Author : nguaaaa aku diberi titik dua bintang xD kekeke
Itachi : gitu aja bangga, dasar autho sarap!
Author : sirik aje lu :p, oke ini udah update :*
Dan the last but not least #idih sok inggris ya. Oke disini ada Just me,
Author : Huaaaahhh ceritanya buat kamu penasaran ya? Sama saya juga! #apaan coba. Makasih banyak loh (^-^)—c^^) kekeke~
Itachi : oke ini udah update!
Author : itu kata-kata aku Chi -_-
Sekian balasan review, yoweslah Happy Reading minna-san!
Di kontrakan Itachi..
Sang pemuda berkucir satu ini nampak dengan serius mengetik sesuatu pada laptop hitam yang berada tepat dihadapannya. Tenang. Rumah kontrakan ini sangat tenang, bagaimana tidak sang penyewa rumah sedang serius dengan apa yang ia kerjakan. Di depannya terlihat sebuah kartu berwarna merah dan sedikit ada oranye nya.
Uzumaki Naruto.
Nama itu tertulis pada ID card yang kini sedang Itachi tatap dengan sorot mata tajam. "Aku tidak menyadari jika Uzumaki hanya segini, sampai-sampai aku tidak perlu kekuatan ekstra untuk mencuri ID card ini, sangat mudah seperti mengambil permen dari bayi!" gumamnya dengan senyuman puas dan terlihat sangan mengerikan. Nyamuk pun tak berani melintas dihadapan pemuda onyx dengan dua guratan garis di wajah tampannya.
"Baiklah kini mengakses IP adress perusahaan mu, brengsek" kata Itachi tak henti menari-narikan tangannya di keyboard laptopnya. "Kemudian Log In menggunakan ID mu sialan, dan-
-aku mulai, ya? Naruto-kun? HAHAHAHAHAHAHA" tawa Itachi bergema seantero ruangan membuat seekor bayi kucing yang baru saja dilahirkan dibelakang rumahnya kini merangkak masuk kembali ke perut ibunya.
Kemudian pemuda yang sedari ketawa kesetanan ini lalu mengarahkan jarinya hendak menekan suatu tombol pada keyboard laptopnya.
ENTER.
'Klik!'
.
.
Uchiha sulung ini pun sekarang telah sukses mengakses data penting perusahaan Uzumaki. Berbekal ID card kepunyaan Naruto dan juga keahlian pemuda onyx ini dalam mengotak atik sistem komputer, Uchiha sulung ini dapat dengan mudahnya mengacaukan sistemnya. Tetapi, ia tak pantas disebut Uchiha jika ia hanya langsung meretas sistem perusahaan Uzumaki dan membuat perusahaan Uzumaki hancur telak. Ia mempunyai pikiran yang lain—dan tentunya lebih menyedihkan. Ia akan menghancurkan semua yang berhubungan dengan Uzumaki sampai ke akar-akarnya. Mental setiap Uzumaki yang mempunyai jabatan penting pada perusahaan itupun akan ia hancurkan. Sampai-sampai orang tersebut dapat merasakan rasa hancur yang sebenarnya—Naruto Uzumaki.
Nama itu terus terngiang ditelinganya semenjak Kakashi Hatake memberikan informasi bahwa pemuda itulah yang saat ini paling berpengaruh pada perusahaan. Pemuda yang tidak bisa dianggap remeh dalam berbisnis. Pemuda yang mengangkat nama perusahaan Uzumaki. Juga pemuda yang memiliki perusahaan yang ingin sekali Itachi Uchiha hancurkan.
.
.
Itachi yang sejak tadi memandang laptopnya dengan wajah yang sangat puas, kini mengambil sebuah telepon genggam miliknya, "Halo" terdengar suara diseberang sana. Itachi menyunggingkan senyuman evilnya, auranya kini semakin mendominasi di kontrakan kecilnya itu "Jadi, katakan padaku jika posisiku digantikan olehnya, prediksiku betul 'kan?" senyumannya kian melebar mendengar balasan orang yang menjadi lawan bicaranya lewat jaringan telepon itu.
"Ya, tepat sekali, kali ini ia tak bisa bergerak dengan leluasa." Pria bermasker itupun dapat merasakan aura yang sangat menyeramkan tetapi penuh kemenangan pada lawan bicaranya. "Bagus, terus pantau pengacau itu, biar bagaimanapun juga anak itu tak bisa dianggap remeh," kemudian raut wajah Itachi yang semula tersenyum evil kini berubah menjadi sinis. "Karena dia—" katanya dengan percaya diri, "—mempunyai obsesi sepertiku."
Setelah pembicaraan singkat tadi, kini Itachi memutuskan sambungan teleponnya. Kini sekarang saatnya ia menampakkan dirinya—memperlihatkan pada orang-orang itu jika mereka sedang berurusan dengan orang yang bahkan bisa dibilang seorang monster. Uchiha Itachi.
Pemuda onyx itupun meregangkan otot-otot tangannya, "Saatnya pemain di belakang layar maju sebagai pemain utama."
WE ARE US!
Disclaimer : Masashi Kishimoto
Rat : M (untuk kedepannya)
Pairing : SasuNaru, ItaKyuu, pairing lainnya nyusul.
Warn : YAOI, OOC, Typo, alur kecepetan, dll.
Tidak suka Yaoi? Tekan tombol back!
Chapter 3 : Our lives have just begun
Di kediaman Hyuuga..
Bersamaan dengan terbitnya matahari , kicauan burung kini terdengar merdu di pagi hari. Cahaya yang berasal dari sang bola api panas itupun kini mencari celah disetiap ruangan yang terkena hamparan sinar hangatnya. Kini saatnya sinar itu mulai merayap di ventilasi udara kamar seorang gadis yang tidur dengan nyenyak. Nampak bahwa sang gadis itu sangat kelelahan. Tanpa memandang bulu, sinar hangat itu mulai menyilaukan mata sang gadis berambut panjang itu. Sinar hangat itu seakan-akan mengetuk pelupuk matanya.
Kini sinar itu berhasil membuka pelupuk mata itu, terlihatlah sebuah mata yang indah mengawali pagi ini. Meskipun terasa berat, sang gadis terus memaksakan mata lavendernya terbuka. Mengawali paginya, gadis itupun meregangkan otot-ototnya. Kemudian ia menoleh tepat disamping tempat tidurnya, matanya seakan mencari-cari sebuah benda.
"Hime! Cepatlah! Kau bisa terlambat jika tidak cepat-cepat!" terdengar suara yang meninggi, mengingatkan sang gadis dengan hari ini.
"I-iya! Memangnya ini pukul berapa?" kemudian matanya menemukan benda yang sedari ia cari keberadaannya, "APAAAAAAAA! P-PUKUL 8 KURANG SEPEREMPAT!" katanya sambil menjambak rambutnya OOC. Matanya kini membelalak ke arah kamar mandi. 'AKU HARUS MANDI 10-EH BUKAN! 5 MENIT SAJA!' batinnya dengan semangat yang tersulut-sulut.
.
.
"Ng.. eto, Kak Hinata lama ya" kata Konan dengan wajah yang cemas. Kali ini jam sudah menunjukkan pukul 8 kurang 5 menit—ini menandakan pintu gerbang sekolah Kaicho akan ditutup. Sekedar info, gerbang sekolah Kaicho akan tertutup dengan sendirinya pada pukul 8 tepat. Dengan gerbang otomatis ini, tidak memungkinkan anak-anak sekolah Kaicho mendapatkan toleransi. Meskipun anak-anak ini adalah anak-anak orang kaya, penting, ataupun tersohor di Konoha. Tetapi peraturan sekolah Kaicho sangat ketat, pantas saja sekolah ini menjadi kandidat sekolah terbaik.
Sedikit lagi mata Nagato menitikkan air mata lebay, "I-iya kak, sebentar lagi gerbang akan ditutup, dan kita.. hiks.. kita tidak dapat hiks.." kata Nagato melebih-lebihkan.
"Kita tidak dapat masuk dan belajar HUWEEEEEE," tambah Kyuubi lebay yang kini hanya memperparah keadaan, biasanya juga rubah ini yang paling malas jika disuruh untuk ke sekolah, dasar Kyuubi
Deidara yang sedari tadi hanya melipatkan tangannya kini mulai berbicara kepada kakak sulungnya, "Kak Naru, jika terus seperti ini kita akan terlambat," kata Deidara lebih dewasa dari adiknya dan juga kakak keduanya. Naruto memahami perkataan adik-adiknya, ia sangat setuju dengan protes adik-adiknya—meskipun terlihat lebay jika melihat drama NagaKyuu pagi-pagi begini. Tetapi ia sangat mengerti posisi para Uzumaki manis di depannya.
"Baiklah, Neji katakan dimana letak kamar Hinata," katanya hendak menjemput eksklusif sang gadis yang sedari ditunggu-tunggu oleh para Uzumaki bersaudara.
"Lantai dua, belok kanan," jawab Neji singkat. Naruto menganggukan kepalanya—mengerti. Kini dengan derap kaki yang dipercepat, Naruto menuju ke kamar Hinata.
.
.
Setelah memastikan dirinya sudah siap untuk menghadapi hari pertama di sekolah barunya kini gadis lavender ini pun turun dengan kecepatan yang sangat cepat. 'Aku tidak boleh terlambat di hari pertamaku!' batinnya. Ketika di anak tangga ketiganya, kakinya tiba-tiba tergelincir akibat ketidak hati-hatian Hinata. "Kyaaaaaa!" teriaknya yang kini sedang meluncur ditangga. Naruto yang baru ingin menaiki anak tangga itu kini mendengar suara yang sangat ia kenal.
BRUK.
Kejadian tangga itupun tak terelakkan.
Mind Controller
"Ngeh, pemuda menyebalkan! Tapi ia menarik juga," kata seorang pemuda yang kini sedang mengemudikan mobilnya. Ia menjilati bibir bawahnya yang kering. "Hah sepertinya aku ingin bertemu lagi dengannya, dan sedikit me—
KRIINNNGGG.
Telepon genggam sang pemuda itupun berbunyi membuyarkan lamunannya yang oleh sebagian orang menjijikan. "Ck, apa yang kupikirkan!" cetus sang pemuda terhadap pikirannya sendiri. Melihat telepon genggamnya yang tidak berhenti untuk berbunyi. Ia pun memutuskan untuk mengangkat telepon itu.
"Sasuke, sebaiknya kau secepatnya kesini, ada hal penting yang harus kita bicarakan," katanya dengan nada yang serius. "Cepatlah," katanya kembali sebelum menutup sambungan telepon. "Baik." Jawab Uchiha bungsu tenang.
'Ck, kali ini ada apa?' batinnya.
Dengan segera ia memutar arah mobilnya menuju ke tempat yang sebelumnya ia tinggalkan.
.
.
Ruangan Direktur utama..
Tak butuh banyak waktu sang Uchiha bungsu kini berada di ruangan Fugaku Uchiha. Melihat ayahnya sedang duduk di mejanya, segera sang Uchiha bungsu menghampiri meja kerja ayahnya. "Ada apa?" tanya pemuda onyx—to the point. Wajahnya tak menyiratkan segaris senyuman pun. Begitu pula dengan Fugaku, ia sama sekali tidak memperlihatkan wajah ramahnya. Nampaknya ayah dan anak ini sangat serius jika berbicara mengenai bisnis.
"Tender, besok lusa akan diselenggarakan rapat mengenai tender itu, mengingat kakakmu yang sekarang telah berkhianat, maka perusahaan Uchiha akan diwakili olehmu." Sorot mata Fugaku yang tadinya nampak sinis kini sedikit melonggar. Tersirat sebuah sorot mata seorang ayah yang sedang mengkhawatirkan anaknya. Sang Uchiha bungsu tidak sulit untuk menangkap raut wajah itu.
"Baiklah aku akan berusaha," balas Sasuke singkat. Setelah mendengar informasi penting dari ayahnya, tanpa berlama-lama sang Uchiha bungsu melangkahkan kakinya menuju pintu—memunggungi Fugaku Uchiha. "Seminggu, rapat itu memakan waktu seminggu, dan itu akan diadakan di Jepang." Suara ayahnya membuat langkah kaki sang pemuda bermata onyx terjeda. "Hn," jawab Sasuke singkat. Uchiha benar-benar dingin!
"Sasuke!" panggil sang ayah. Mendengar panggilan itu sang Uchiha bungsu pun membalikkan badannya—menatap ayahnya lekat-lekat. Sang Uchiha bungsu seperti menerawang perasaan sang Fugaku Uchiha lewat sorot mata yang ia pancarkan. Sebenarnya Fugaku sebagai seorang Uchiha sangat pandai dalam menyembunyikan perasaan yang ia rasakan. Tetapi entah mengapa jika itu menyangkut anak-anaknya sang ayah pun tak bisa berkutik—apalagi dihadapan salah satu putranya.
"Kakakmu, apakah kau mendapatkan informasi mengenai dirinya?" suara Fugaku kini terdengar lebih parau dari biasanya. Sasuke dapat mengetahui kalau sang ayah sangat emosional jika menyangkut keluarganya. Memang Fugaku adalah tipe seorang ayah yang penyayang meskipun ia nampak sangat keras dalam mendidik Itachi dan Sasuke. "Tidak, tidak sedikitpun," jawab sang pemuda onyx.
Uchiha Sasuke kini melanjutkan langkahnya dengan mantap. "Kalau aku mendapatkan sesuatu aku pasti akan mengabarimu," kata Sasuke ketika memegang knop pintu—hendak keluar dari ruangan ayahnya. Sebelum menutup pintu itu, Sasuke kembali menambahkan "Oh iya satu hal lagi, biar bagaimanapun juga kau ini seorang ayah, berhentilah bersikap seolah kau tak peduli, permisi!"
BRUK.
Pintu ruangan kerja Fugaku Uchiha pun kini tertutup beriringan dengan langkah kaki Uchiha Sasuke. Fugaku menyatukan kedua tangannya sejajar dengan hidungnya, ia tak pernah berhenti berpikir tentang semua yang terjadi. "Itachi.." gumamnya.
Mind Controller
Wajah Hinata dan Naruto kini berjarak sangat dekat. Saking dekatnya, napas keduanya bisa mereka rasakan satu sama lain. Wajah keduanya pun mulai memerah. Mata biru itu terus menerawang jauh ke dalam lavender. Tangan Naruto yang berada pada kepala bagian belakang Hinata pun agak menekan sang empunya kepala. Wajah mereka kini semakin dekat. keduanya tak membiarkan mata mereka berkedip—tidak untuk menikmati saat-saat yang memacu adrenalin masing-masing.
Dekat.
Dekat.
"Ekhm, sepertinya adikmu mulai kebanjiran ingus menangis di pojokan sana, Naruto." Tegur Neji yang hanya senyam senyum melihat adegan NaruHina. Baik Naruto maupun Hinata segera memperbaiki posisi mereka. "Ng.. eto a—NANIIIIII! 4 MENIT SEBELUM GERBANG DITUTUP!" balas Naruto mangap-mangap. Ia sangat mengkhawatirkan anak sekolah Kaicho yang sebentar lagi tidak diperbolehkan masuk. Dengan menarik lengan sang Hyuuga, Naruto kini berlari menuju mobil sport-nya yang terparkir di depan kediaman Hyuuga.
"Ayo kids! Kita berangkat!" seru Naruto yang melewati tempat para Namikaze tanpa melepaskan tangan sang Hyuuga. Deidara yang cepat tangkap kini berlari sekuat tenaganya, Konan yang terpana dengan jam tangan miliknya kini mulai berlari menyusul Deidara dan kini telah melampaui sang Namikaze ketiga dengan cepatnya. Maklum, Deidara jarang berolahraga sehingga kecepatannya setara dengan kecepatan anak 5 tahun mengayuh sepeda—bahkan pemuda pirang ini pernah terkalahkan di lomba lari antar kampung oleh seorang kakek-kakek!
Nagato yang sedari tadi menangis di pojokan dengan ingus yang melumer di sekitar tembok kini membalikkan tubuhnya dan melihat para kakak-kakaknya berlari dengan kecepatan tinggi—rupanya Neji tidak bohong mengenai 'kebanjiran ingus'. Kyuubi yang terus memperhatikan Nagato hanya mengerutkan keningnya melihat kebodohan Nagato yang tidak ikut lari.
"Ck, kau ini memangnya apa yang kau tangisi sejak tadi!" gumam Kyuubi. Tubuh Nagato terangkat, rupanya sang Namikaze kedua memberikan tumpangan untuk adik bungsunya. Dengan kecepatan tinggi Kyuubi pun melaju menuju mobil sang Uzumaki sulung.
.
.
"Kyaaa~ Kak Naru 3 menit lagi!" Konan tidak berhenti histeris. Ia sedari tadi hanya menatap horor jam tangannya.
"Baiklah pegangan kids! Kakak akan menunjukkan kepada kalian kecepatan yang sebenarnya," balas Naruto dengan seringai tipis tersungging di wajahnya.
"Ng.. interupsi! Sebenarnya kau salah menarik orang Naruto," Mata para Namikaze kini tertuju kepada satu-satunya Hyuuga yang berada di dalam mobil tersebut.
"KENAPA KAU ADA DISINI!" para Namikaze bersaudara berteriak dengan kompaknya. "Eh, maaf kan aku hanya ditarik sama Naruto," kata Neji ringan—dengan menggaruk-garuk tengkuk lehernya.
"Hosh.. hosh.. m-maaf a-aku berlari la-lamban," terdengar suara lembut dari luar mobil. Neji pun dengan sigap menukar posisinya dengan Hinata.
"Baiklah hati-hati, ya! Dan Naruto, nyawa para adik-adikmu dan sepupuku kini berada ditanganmu!" semangat Neji—tetapi lebih bisa disebut menekan Naruto.
"Baiklah, ka-
"SUDAHLAH AYO CEPAT KAKAK!" teriak Nagato dengan ingus yang mulai melumer mengotori mobil Naruto—lagi.
"Ini dia, kekuatan mobil sport ku yang sebenarnya!" gumamnya menaikkan sedikit alisnya. Wajahnya nampak serius dengan pagi ini. Naruto benar-benar tidak mau mengecewakan para penumpang mobilnya ini.
.
Gerbang besar kini terpampang dihadapan para penumpang mobil sport yang baru saja tiba di sekolah Kaicho. "HUWEEEEEEEE kita terlambat!" mewek Nagato. "Iya, kita terlambat huweeeee," lanjut Konan yang kini tengah berpelukan dengan adiknya—sok dramatis .
"Ck, dasar drama queen" emosi Deidara kini mulai diuji dengan tingkah kekanak-kanakan adiknya. Aduh Dei! Mereka memang masih anak-anak!
"Waw, jadi itu deinisi kecepatan sebenarnya," gumam Kyuubi tetapi masih bisa di dengar oleh Naruto yang berdiri tepat di samping sang rubah. Penglihatan Kyuubi tak lepas dari gerbang di depannya. "Sudah, sudah kalian masuk sana! Sebentar lagi guru kalian akan tiba di kelas!" kata Naruto mengingatkan saudara-saudaranya plus Hinata akan keadaan sekarang.
Flashback.
"Huaaahhh tinggal semenit lagi kak!" semangat Kyuubi kepada Naruto. Pedal gas mobilnya kini sudah mencapai batas maksimalnya. "Tenang saja, serahkan padaku!"
"Kyaaa~ Naruto-senpai t-tinggal t-tiga puluh d-detik lagi!" Hinata kini angkat bicara. Ia sangat cemas dengan keadaan mereka sekarang. "Baiklah, itu dia gerbangnya!" Naruto kini memantapkan laju mobilnya.
5.
4
3.
NGEENGG...
2.
1.
GERBANG TERTUTUP.
"K-kita b-berhasil" gumam Hinata tak percaya.
Flashback end.
Tempat parkir sekolah ini memang berada di dalam gerbang sekolah. Sekali lagi inilah pagi para Namikaze bersaudara yang tekesan—absurd(?)
"Baiklah kak, aku jalan dulu ya! Ayo Hinata," pamit Kyuubi kepada kakak pertamanya.
"T-terima k-kasih Naruto-senpai," pamit Hinata dengan mengekor Kyuubi. Kyuubi merupakan tour guide dadakan Hinata selama ia masih menyesuaikan diri dengan lingkungan barunya.
"Kalau begitu aku juga," kata Deidara cool. Ia melangkahkan kakinya sambil menyeret Konan dan Nagato yang sedari tadi tak berhenti dengan dramanya.
"Hah, mereka itu," gumam Naruto melihat tingkah aneh saudara-saudaranya. "Tapi, bagaimana caraku keluar dari sekolah ini?" kasihan Naruto!
Mind Controller
Mobil sport mewah itu kini melaju di jalanan konoha. Pemuda yang tadinya terjebak di sekolah adik-adiknya kini telah kembali ke rutinitas sehari-harinya—meskipun ia bersusah payah meminta pihak sekolah Kaicho untuk membukakan gerbang. Tetapi bukan Uzumaki namanya kalau tidak bisa mengantisipasi hal seperti itu. Tujuannya kali ini adalah perusahaan Uzumaki. Kegiatan pemuda satu ini memang bisa dibilang super padat, karena disamping menjadi mahasiswa di Universitas Konoha, Naruto juga merupakan penerus perusahaan Uzumaki. Tetapi hal ini dapat diatasi oleh seorang Uzumaki Naruto. Ia merupakan sosok yang cerdas sehingga dalam perkuliahannya ia dapat bersaing dan bahkan melebihi teman-temannya—meskipun ia sibuk dengan perusahaan Uzumaki.
KRIINNGG..
Terdengar suara telepon genggam pada saku celana sang Uzumaki. Tanpa berpikir panjang Naruto mengambil telepon genggamnya. "Halo," sapanya ramah.
"Halo Naruto, kau bisa kesini sekarang? Ada hal penting yang ingin kusampaikan," tanya seseorang dengan suara berat diseberang sana.
"Ya tentu, aku memang menuju ke sana sekarang." Balasnya lurus menatap kearah jalan raya. "Baiklah, aku tunggu." Kata lawan bicara sang Uzumaki sulung bersamaan dengan putusnya sambungan komunikasi diantara mereka.
Sang Uzumaki sulung pun kini memantapkan laju mobilnya.
.
.
Perusahaan Uzumaki...
Seperti biasa, Naruto melangkahkan kakinya dengan santai. Sebagai penerus perusahaan ini sang pemuda pirang jabrik ini sangat dihormati oleh para karyawannya. Langkah kakinya kini terhenti didepan ruang kerja orang yang menelponnya tadi.
Tuk. Tuk. Tuk.
Sang Uzumaki sulung mengetuk pintu yang berada di hadapannya. "Masuk," kata seseorang yang berada pada ruangan tersebut. Mendengar dirinya telah disilahkan untuk masuk, pintu itupun terbuka beriringan dengan kedatangan orang paling berpengaruh di perusahaan Uzumaki tersebut.
"Ada hal apa yang ingin kau bicarakan kakek?" kata pemuda bermata biru ini to the point. Rupanya sang Uzumaki sulung sangat serius jika berbicara mengenai bisnis.
"Mengenai tender itu, selama seminggu akan diadakan rapat untuk membahas perisapan tender yang kita tunggu-tunggu ini." Balas lawan bicara Naruto, yang tidak lain dan tidak bukan Hashirama Senju—kakek para Uzumaki bersaudara. Tangannya ia arahkan ke arah sofa yang berada di hadapan keduanya.
Melihat sang kakek mempersilahkannya duduk, Naruto Uzumaki menganggukan kepalanya dan segera duduk pada sofa itu seuai dengan perintah kakeknya. "Hah jadi hal yang kita tunggu-tunggu akhirnya akan datang," katanya dengan sorot mata penuh ambisi. "Jadi kek, katakan padaku kapan dan dimana rapat itu akan diadakan?"
Hashirama Senju hanya dapat tersenyum tipis melihat cucunya yang sangat bersemangat ini, "Besok di Jepang." Naruto melebarkan matanya mendengar jawaban dari kakeknya, "J-Jepang?" tanya Naruto mangap-mangap—meragukan pendengarannya. "Iya, Jepang, ada masalah dengan itu Naruto?" tanya kembali Hashirama dengan senyumnya yang semakin melebar melihat tingkah konyol cucunya. 'Ck, dia ini! Tadi dia sangat serius, sekarang nampak gelagapan, aneh' batin Hashirama.
"Ng.. eto.. sebenarnya kek aku mengkhawatirkan adik-adikku, aku tahu meskipun di rumah banyak pelayan namun aku belum punya pelayan yang khusus untuk mengurusi adik-adikku," katanya kalut tetapi sukses membuat Hashirama sweatdrop. Seperti yang dijelaskan di chapter sebelumnya, di mansion mewah kepunyaan kakak beradik ini memang mempunyai banyak pelayan. Namun para pelayan tersebut sengaja dipekerjakan hanya untuk satu tugas khusus akan tetapi untuk urusan mengurus adik-adiknya Naruto memang tidak mempekerjakan seorang pelayanpun. Hanya dirinya yang boleh mengurusi adik-adiknya. Sifat penyayang dan perfectif Naruto ini membuat Hashirama kagum dengan cucunya yang satu ini. Tidak salah jika Hashirama menjadikan Naruto sebagai cucu kesayangannya.
"Hah aku sudah bisa menebak kau akan seperti Naruto, tapi jangan takut aku sudah menyiapkan pelayan khusus untuk mengurusi cucu-cucuku yang lain," kata Hashirama menenangkan kegalauan sang Uzumaki sulung. Memang hanya para adik-adik Naruto yang bisa membuatnya merasa galau!
Sorot mata sang biru yang mulai meredup tiba-tiba berbinar, "Betulkah itu kek?" tanya Naruto—memastikan jika apa yang dikatakan kakeknya memang benar.
"Iya, aku sudah menyiapkannya. Tenang saja, orang ini sangat berbakat, dan aku sendiri yang menyeleksi orang ini, kau tinggal menyiapkan diri saja untuk rapat tender." Jelas sang kakek meyakinkan cucu pertamanya ini. "Dan jangan lupa untuk mengalahkan pemenang tender sebelumnya, meskipun pemenang itu adalah mitra kerja kita," mata Hashirama kini memicik tajam.
"Jadi, tender yang lalu Uchiha yang memenangkannya, ahn?" tanya Naruto dengan nada sing a song.
"Siapa lagi?" dengus Hashirama dengan aura yang begitu menyeramkan. Melihat ada sesuatu yang tersirat dari perkataan kakeknya, Naruto bisa menebak ada hal yang disembunyikan oleh kakeknya—sesuatu yang melibatkan Uchiha. Tetapi Naruto tidak langsung bertanya mengenai hal yang mengganjalnya itu karena dia tahu kakeknya ini adalah orang yang tidak sembarangan memberitahukan orang lain tentang rahasianya—meskipun kepada cucunya sendiri.
"Aku tahu kau ingin sekali mengalahkan Uchiha dengan suatu alasan yang tidak kuketahui, tapi aku juga mempunyai tujuan lain untuk memenangkan tender ini kek," mata Naruto kini menatap tajam Hashirama.
Hashirama memejamkan matanya, sebuah surai senyuman terhias diwajahnya, "Selama hal itu membuatmu mengalahkan Uchiha, terserah kau saja!"
'Baiklah, kali ini aku akan berusaha sebaik mungkin, Hime!' batinnya mengingat-ingat alasan mengapa ia ingin sekali untuk memenangkan tender kali ini.
Flashback.
Kedatangan Hyuuga Hinata ke Konoha membuat Uzumaki sulung terheran-heran. Mengingat alasan sang lavender yang membuatnya untuk menginjakkan kaki di Konoha, membuatkan tanda tanya besar untuk Naruto. "Kau kenapa Hime?" gumamnya. Ia tahu ia tidak bisa tinggal diam saja melihat hal misterius tejadi pada Hinata yang notabene nya merupakan sosok pujaan hati Uzumaki sulung.
Hingga akhirnya ia memutuskan untuk menanyakan hal ini pada sahabat dekatnya, Hyuuga Neji. awalnya pemuda berambut panjang ini enggan membuka mulutnya perihal persoalan yang tengah dihadapi keluaganya. Namun melihat Naruto yang notabene merupakan sahabatnya dan raut wajah Naruto menyiratkan sorot mata yang cemas.
"Jadi katakan Neji, hal apa itu?" tanya Naruto.
Akhirnya pemuda tampan bermarga Hyuuga ini pun menceritakan semua hal yang menimpa keluarganya.
"Perusahaan Hyuuga mengalami penurunan nilai di pasaran dunia sehingga membuat perusahaan Hyuuga secepatnya akan mengalami kebangkrutan. Juga para pemegang saham beramai-ramai menjual sahamnya dan seakan lepas tangan dari perusahaan Hyuuga. Singkatnya perusahaan Hyuuga sekarang diambang kehancuran total." Neji mengambil napas sejenak. Dipandanginya langit yang berhiaskan awan putih yang sedang berarak.
Kemudian pemuda berambut panjang itu melanjutkan, "Untuk mengatasi hal itu, perusahaan Hyuuga yang dipimpin oleh orang tuaku dan orang tua Hinata pun melakukan sebuah pendekatan dengan sebuah perusahaan, dan perusahaan yang digencar oleh perusahaan Hyuuga ini pusatnya berada di Konoha. Itulah sebabnya mengapa Hinata saat ini berada di Konoha."
Mendengar penjelasan Neji mata Naruto terbelalak. Mulutnya tak berhenti membuka-tutup. 'J-jadi karena hal ini,' batin Uzumaki sulung. Melihat mata Neji yang meredup, Naruto dengan segera mengatasi emosinya. Raut wajah prihatin yang ia perlihatkan tadi dengan segera ia ubah dengan raut wajah yang menyemangati pemuda di sampingnya.
"Yo Neji, aku akan melakukan apapun untuk membantu perusahaan keluargamu itu, aku janji!" kata Naruto dengan senyuman lebar. Ibu jarinya teracung mantap.
Setelah mendapatkan informasi yang cukup rahasia ini dari sahabatnya, Naruto lalu berpikir keras untuk membantu keluarga Hyuuga untuk memperbaiki perusahaan mereka. Akhirnya sang pemuda pirang jabrik ini mempunyai satu peluang untuk menolong perusahaan Hyuuga, yaitu dengan memenangkan tender.
"Yosh! Aku pamit dulu ya, Neji. ada hal penting yang harus kuurus, jaa!" pamit Naruto dari pemuda berwajah kalut di hadapannya.
Setelah pemuda yang memiliki mata biru itu menghilang dari hadapannya, Neji pun agkat bicara."N-Naruto," kata Neji. "G-gomenasai," gumamnya kembali dengan suara yang lebih kalut dari sebelumnya.
Flashback end.
"Naruto!" seru Hashirama sehingga membuat lamunan pemuda di hadapannya berhenti. "Bisakah kita kembali ke topik pembicaraan kita tadi?" tanya sang kakek.
"I-iya, jadi kapan aku bisa bertemu dengan pengasuh adik-adikku itu?" tanya Naruto berusaha kembali ke topik awal.
"Ia akan datang di pagi hari sebelum keberangkatanmu besok," jawab Hashirama seraya menuangkan teh untuk sang Uzumaki sulung. "Minumlah, dan kau akan merasa lebih baik," tawar Hashirama.
"Arigatou." Kata Naruto seraya meneguk secangkir teh yang disuguhkan di hadapannya.
Mind Controller
Di sekolah Kaicho..
KRIINNNGGG
Bel tanda istirahat berbunyi. Ini saatnya Kyuubi untuk menjadi tour guide dadakan Hyuuga Hinata. Setelah mendengar bel itu berbunyi langkah kaki Uzumaki kedua inipun terarahkan pada kelas Hinata. Dengan penuh semangat sang rubah berlari menghampiri sepupu sahabat kakaknya ini.
"Yo Hinata-chan, bagaimana dengan kelas pertamamu?" sapanya setelah menemukan sosok lavender ini ditengah keramaian.
"H-halo Kyuubi-senpai, k-kelas pertamaku lu-luar biasa!" seru Hinata penuh semangat.
"Hah baguslah, mm Hinata-chan tour pertama kita adalah kantin! Jadi mari aku antarkan, pasti kau juga lapar sehabis belajar tadi, ayo" ajak Kyuubi. Orang ini memang berbakat jadi tour guide!
"I-ide yang b-bagus, a-ayo!" balas Hinata antusias.
Sang gadis lavender dan sang rubah pun berjalan beriringan di koridor sekolah menuju ke kantin sekolah Kaicho. Di tengah perjalanan keduanya berpapasan dengan pemuda dengan raut wajah stoic.
"Oh hoy Sasuke!" Kyuubi menaikkan satu tangannya menyapa sang Uchiha.
"Hn," balasnya singkat. Sapaan Kyuubi tak membuat langkah sang Uchiha bungsu terhenti hanya untuk menanyakan siapa gadis cantik disampingnya—seperti pemikiran Kyuubi. Tingkah sang pemuda bergaya emo itu nampaknya sukses menaikkan emosi sang Uzumaki kedua. "Dasar! Pemuda tidak tahu diri!" kata Kyuubi mengutuk pemuda yang terus melangkahkan kakinya menjauhi Hinata dan juga dirinya.
"Ng Kyuubi-senpai kau duluan saja ke kantin nanti aku susul. Aku ada urusan mendadak oke?, aku segera kembali!" kata Hinata disela-sela kegiatan mengutuk sang rubah. Dengan segera gadis lavender itupun berlari meninggalkan Kyuubi yang saat ini mematung.
.
.
"Hal apa lagi yang ingin kau tanyakan? Aku kira semuanya sudah jelas," kata pemuda berwajah stoic itu.
"A-apa k-kau yakin dengan s-semua ini?" tanya gadis bermata lavender ini. Semilir angin mengibaskan rambut panjang sang gadis yang terurai indah dipunggungnya. Wajahnya nampak cemas.
"Aku tidak akan berada disini jika aku tidak yakin," sang pemuda bermata onyx itupun melangkahkan kakinya hendak meninggalkan sang gadis. "Jika tidak ada lagi yang ingin kau bicarakan, aku permisi dulu." Lanjutnya. Pemuda bergaya emo itupun berlalu.
'Ck. Apa yang harus kulakukan! Aku memang lemah!' batin sang gadis.
.
.
"Nagato-sama! Ayo makan bersama kami!" teriak para fans Nagato. Saat istirahat seperti ini memang paling ditunggu-tunggu oleh para fans Nagato. Di waktu ini mereka bisa makan bersama dengan pangeran impian mereka.
Melihat tingkah para fans Nagato yang tidak bisa diam barang sedetikpun membuat emosi sang bocah berambut merah-namun agak sedikit pendek dari rambut Nagato yang biasa duduk dipojokan kelas itu meningkat. 'Ck, dan hari ini pun dimulai!' batinnya kesal. Ia pun bangkit dari tempat duduknya—berniat keluar dari kelas yang bisa membuat dirinya gila itu.
BRUK.
Pintu kelas itu ditutup dengan keras oleh Sabaku Gaara. Ia sudah tak tahan lagi dengan pemandangan di depannya.
"Ng eto.. kali ini aku tidak bisa, gomen ne! Aku ada urusan penting," Nagato meminta maaf kepada para fans nya karena tidak bisa menemani mereka makan bekal kali ini. Setelah meminta maaf, Nagato dengan segera berlari mengejar pemuda yang baru saja membanting pintu tersebut.
.
"Hosh hosh, Gaara tunggu!" seru Nagato dengan napas tersenggal. "Tunggu! Aku ingin bertanya sesuatu padamu," lanjutnya sembari mengatur napas.
"Apa? Jika tidak penting sebaiknya kau kembali ke kelas dan bermainlah bersama para pengagummu itu!" Balas Gaara dengan suara agak meninggi.
"Oh, begitu, rupanya kau kesepian" kata Nagato pelan. Ia memang punya analisa yang sangat baik. Bisa dibilang Uzumaki bungsu ini memiliki kecerdasan yang luar biasa.
"Tau apa kau soal kesepian, ahn? Dasar sombong!" kembali Gaara mengintimidasi.
Tidak termakan omongan Gaara, Uzumaki bungsu ini lebih memilih untuk tersenyum kepada lawan bicaranya. "Aku mengenal baik rasa itu, rasa dimana kau benar-benar tidak memiliki apapun meskipun banyak hal yang mengitarimu. Siapa bilang aku tak tahu rasa itu?" Uzumaki Nagato benar-benar sukses membuat mata Gaara terbelalak.
"Aku tau rasa itu, sebab aku merasakan hal itu sekarang," lanjut Uzumaki bungsu. "Untuk menghilangkan rasa itu, bolehkan aku berteman denganmu, Sabaku Gaara?"
DEG.
'D-dia ini' batin Gaara. "Hentikan omong kosong mu! Dasar omong besar!" kata Gaara sembari berlari meninggalkan sang Uzumaki bungsu.
"Eto.. kenapa dia lari?" gumam Nagato dengan wajah absurd nya. Ia sangat heran dengan tingkah Gaara. "Aku kan hanya ingin berteman," lanjutnya.
Mind Controller
Mansion Uzumaki..
"Kids! Waktunya makan malam!" teriak Uzumaki sulung memanggil para adik-adiknya untuk santap malam.
"Yeeeeeeeee! Gurame bakar!" teriak Konan gembira.
"Sudah.. sudah ayo cepat dimakan nanti keburu dingin!" celetuk Deidara yang sudah tidak sabar menyantap hidangan mewah didepannya.
"Selamat Makan!" kata kakak beradik ini serempak.
"Oh iya, adik-adikku tersayang besok kakak ada rapat perusahaan, tidak apa-apa yah kakak tinggal seminggu?" kata Naruto membuka percakapan.
"PPPPFFFFFFTTTTTT!" para adik-adik Naruto pun dengan serempak menyembur makanan yang sedang mereka kunyah.
Kyuubi adalah orang pertama yang berkomentar, "NANIIII?! SEMINGGU! What the F-"
"BAHASA UZUMAKI KYUUBI! BAHASA!" kata sang Uzumaki sulung mengingatkan adik pertamanya itu untuk tidak menggunakan bahasa yang kasar.
Mendengar kata sang kakak, dengan reflek Kyuubi menutup mulutnya. "A-apa harus selama itu Kak Naru?" tanya Deidara.
"Sepertinya sih begitu, mengingat event kali ini adalah event yang sangat besar," jawab Naruto atas pertanyaan Deidara. "Huweeeee Kak Naruuuuuu, kok lama keles kak! Huweeee," Nagato mulai mewek menanggapi rapat kakaknya.
"Cih, dasar drama king! Lebay tau!" Deidara yang tidak tahan jika Nagato memulai dramanya kini mulai mengkritik adiknya. "Biarin huuuu, yang penting aku temenan sama orang bukan sama komputer atau gadget! Huuuu," kata Nagato sembari menjulurkan lidahnya ke arah Uzumaki ketiga.
"Jadi, siapa yang akan mengurusi kami selagi kakak pergi?" tanya Konan tidak memperdulikan adegan DeiNaga. "Oh iya, masalah itu, besok pagi akan datang pengurus kalian selama seminggu ini, jadi perbaiki sikap kalian, ya?" pinta Naruto.
"SIAP!" kompak para kakak beradik ini.
'Baiklah, semoga orang ini tidak mengecewakan' batin Naruto melihat tingkah lucu para adiknya.
Mind Controller
"Kyuubi! Apakah kau melihat dasi merah kakak?" teriak Naruto yang sedang mencari-cari dasinya. "Tidak! Aku tidak melihatnya, coba Kak Naru tanya Konan, 'kan Konan yang menyetrika pakaian kakak semalam," jawab Kyuubi.
"Ko-
Ting. Tung. Ting. Tung.
Mendengar bel rumahnya berbunyi, Nagato dengan sigap brlari menuju ke pintu utama. "Aku yang buka!" teriaknya memberitahukan para penghuni rumah agar tidak terburu-buru untuk membuka pintu karena sudah dilakukan olehnya. Disamping itu, ia juga sangat penasaran dengan pengurus yang telah disiapkan oleh kakak pertamanya.
KRIET.
Pintu utama pun terbuka. Di balik pintu itu Nagato melihat sesosok pemuda berpakaian rapih. Berjas hitam dengan celana kain hitam. Sepatu mengkilap dengan dasi kupu-kupu hitam, warna putih menjadi warna dalaman pemuda tersebut. Penampilannya bak pelayan pada umumnya.
Nagato kini memandang wajah pemuda tersebut. Gagah. Pemuda itu memiliki mata onyx yang indah. Wajahnya juga dihiasi dengan dua garis kerutan yang malah membuatnya semakin gagah. Rambut raven nya ia kuncir satu.
"Apa benar ini kediaman Uzumaki?" tanyanya membuat Nagato tersadar akan pesona pemuda dihadapannya ini.
"I-iya, dan kau ini siapa?" tanya Nagato kembali.
"Perkenalkan aku pengurus baru di rumah ini, namaku Uchiha Itachi."
Bersambung..
Hyaaaa akhirnya update juga, gomen atas keterlambatannya soalnya author lagi persiapan H-Sebulan untuk tes SBMPTN, doakan author yaa T^T9
Tapi ga tahu kenapa ya chapter ini terkesan apa yah, sepertinya author ga terlalu puas sama chap ini. Ada yang merasakan hal yang sama denganku? Gomen~ aku udah beri yang terbaik, trustme.
Gini nih kalau fokus author mulai terbagi #apa coba. Oh iya, aku juga mau menyampaikan kalau misalnya update chapter berikutnya kayaknya ga bisa update kilat mengingat SBMPTN udah H-sebulan :')
Jadi, mohon pengertian para reader sekalian (_ _) dan juga mohon doanya yah, semoga lulus di PTN yang diinginkan, Aamiin ('/\')
Suka? Tidak suka? Abal? Jelek? Silahkan review!
~Para reviewers adalah napas author (^o^)/
