Disclaimer: Masashi Kishimoto

Author: Lueky

Rated: T

Genre: Romance,Drama, Tragedi

Warning: AU, OC, OOC, abal-abal, geje, lebay, alay, korban sinetron, ceritanya ngambang, tragis, gk nyambung dll.

Pairing: NaruHina

Catatan: Cerita ini semuanya Author pov kecuali ada pemberitahuan sebelumnya apabila telah berganti pov. Dikarenakan sang Author masih pemula jadi kalau ada kalimat yang gak jelas saya meminta maaf.

Serta cerita ini keluar dari otak busuk Author sendiri. Jika ada kesamaan alur, waktu, tempat kejadian di cerita ini. Saya mohon maaf.

Ket:

* Dialog yang bercetak miring berarti bicara di dalam hati.

* Dialog yang bercetak huruf kapital berarti sedang berteriak.

Walaupun bahasa dan penulisan masih kacau

serta tidak mengikuti EYD

Tapi…

Baca sampai selesai ya!

SELAMAT MEMBACA! T(^_^)T

Chapter 2: Surat cinta

Langit biru yang sejuk disertai awan putih yang menggumpal semakin mempercantik pemandangan alam di siang hari. Terlihat di atap sekolah enam pemuda KHS sedang bersantai ria dan menyaksikan tarian awan di panggung biru yang luas. Keheningan di siang itu mampu melelapkan kelima pemuda itu (Sasuke, Sai, Neji, Kiba dan Shikamaru) tetapi tidak untuk Naruto. Ia tidak akan bisa tidur sebelum ia tahu bahwa Hinata baik-baik saja.

"Sudah lima bulan aku sekolah disini. Tapi aku masih sendiri, sedangkan kalian?" sesal Naruto

"Tembak saja Naruto tidak usah takut-takut" kata Shikamaru tiba-tiba.

"Eh? Bukannya kalian sedang tidur pulas ya?"

"Hanya Kiba yang takut ditolak ya?"sambung Shikamaru

"Bukan itu masalahnya, tapi dia selalu menghindar tiap kali kami bertemu. Ku piker dia membenciku" Naruto tertunduk murung setelah menyelesaikan perkataannya.

"Payah" ledek Sasuke

"APA KATAMU? KAU PIKIR MUDAH MENDEKATI GADIS ITU!?" Kata Naruto setengah berteriak.

"Mudah saja bagiku" jawab Sasuke dengan enteng .

"AWAS KAU!" Naruto bangkit dan siap-siap menghajar Sasuke tapi dihalang Neji.

"Sudahlah Naruto tidak ada gunanya kau marah-marah. Lebih baik kau cari solusi, bagaimana mendekati Hinata?"

Naruto langsung berhenti dan menoleh ke arah Neji. Ketiga kawannya yang lain pun ikut menoleh terkejut ke Neji (kecuali Kiba yang sedang tidur).

"Itu benarkan Naruto?" tanya Neji. Tatapan Sasuke, Shikamaru, Sai beralih ke Naruto. Naruto yang tersudut hanya menjawab dengan anggukan dan senyuman seikhlasnya.

"Oh ternyata Hinata. Kenapa kamu tidak jujur aja sama kami dari awal?" celoteh Kiba yang baru saja bangun tidur dan disambut anggukan dari teman-temannya kecuali Neji.

"Naruto blushing! hahahahaha" kata Sai.

Mendengar bahwa Naruto blushing sontak yang mendengarnya tertawa terpingkal-pingkal tak terkecuali. Keheningan siang itu sudah terhapus dan digantikan tawa riang dari atas atap Sekolah KHS.

Teng Teng…

"Nah itu bunyi bel. Aku ke kelas duluan ya!" kata Naruto yang mencoba untuk menghindar dari tawa ledek teman-temannya. Sebelum mereka mencoba untuk menghentikan Naruto. Naruto sudah berlari meninggalkan mereka yang sedang tertawa.

"Flash Orange, si cepat kabur ckckckc"

Naruto masih berlari menuju kelasnya. Ia tidak mau kalau teman-temannya mengejarnya sebelum ia sampai ke kelas. Oleh karena itu ia selalu menoleh kebelakang. Tetapi, BRUUK!, Naruto menabrak seseorang di depan pintu kelas 10-2.

"Maaf-maaf aku, tidak senga" Naruto menghentikan perkataannya karena terkejut. Ia tidak menyangka kalau yang ia tabrak adalah Hinata "Hinata!". Sama halnya dengan Naruto, Hinata juga tak kalah kagetnya "Na-Naruto!". Hinata menundukkan wajahnya yang memerah dan langsung pergi dari hadapan Naruto yang tertegun dalam duduk.

"Hei Naruto!, setidaknya kau menolongnya berdiri? Bukannya hanya duduk berdiam diri seperti itu!" tanya Kiba yang melihat kejadian tabrakan tadi.

"Bodoh" kata Sasuke.

Naruto berdiri dan berhadapan dengan Sasuke. "Apa kau bilang!? SASUKE!"

"Ehem, ehem"

Mendengar dehaman dari belakang, Naruto langsung menoleh ke asal suara dan ternyata yang terlihat adalah Jiraiya (guru bahasa Indonesia).

"Sedang apa kalian? Cepat masuk!" perintah tegas dari seorang Jiraiya.

"Baik Pak" kata Naruto dkk patuh.

Bel pulang telah berbunyi. Seluruh siswa KHS keluar dari kelasnya masing-masing dan berhamburan menuju gerbang sekolah.

"Tunggu! Mengapa kalian meninggalkanku tadi?" tanya Naruto yang mencoba menghentikan teman-temannya .

"Bodoh" serempak teman-temannya menjawab.

"Eh? Maksudnya?" Naruto masih belum mengerti jawaban yang dilontarkan teman-temannya.

"Kenapa kamu tidak pulang bareng dengan Hinata? Padahal itu kesempatanmu" sahut Shikamaru.

"Bukannya aku sudah pernah bilang pada kalian. Kalau Hinata selalu menghindariku kalau aku mendekatinya" kata Naruto meyakinkan.

"Ya…, setidaknya kan kamu berusaha lebih giat mencari titik lemahnya lalu kamu tembak dor…dor…dor…"seru Kiba mempraktekkan cara menembak ala Rambo.

"Tidak mudah mencari titik lemah Hinata" kata Neji yang mulai angkat bicara. "Hmm…bagaimana kalau kamu menulis surat cinta untuk Hinata? Walaupun sudah tidak zaman lagi. Tapi ini bagus untukmu yang pengecut" usul yang dikatakan Neji mendapat respon positif dari teman-temannya dan diputuskan sebagai pemecah masalah Naruto.

"Teman-teman aku berpisah sampai disini saja, aku sudah janjian dengan Temari. Kalau begitu sampai berjumpa besok… dah…" kata Shikamaru berpamitan dengan teman-temannya di parkiran motor KHS dan pergi mengendarai motor bersama Temari.

Satu-persatu telah pergi dengan kekasih mereka. Shikamaru dengan Temari, Sai dengan Ino, Neji dengan Tenten dan yang terakhir Sasuke dengan tampangnya. Lalu yang tersisa hanyalah Kiba dan Naruto saja. Ya mereka berdua memang belum memiliki, tetapi Kiba masih beruntung karena ia memelihara Akamaru (anjing).

To: Hyuuga Hinata

Tahukah kau Hinata? Dari pertama kali aku bertemu denganmu di ruang tunggu saat pendaftaran, bahkan mendengarmu bernyanyi aku sudah jatuh hati padamu. Dari suaramu yang indah aku segera bangkit dari mimpi burukku yang hidup sebatang kara.

Saat aku mengetahui kalau aku sekelas denganmu aku merasa pria yang paling beruntung. Tetapi perasaan itu sudah berganti semenjak kau menghindariku. Bahkan dengan mukamu yang memerah seperti orang yang sedang marah selalu terlihat jika aku didekatmu. Aku menepisnya dan beranggapan kau hanya orang yang pemalu tapi aku tak pernah melihatmu menghindari pria yang mendekat denganmu dengan wajah memerah selain denganku. Sesungguhnya hati ini sakit jika melihatnya.

Walaupun begitu aku akan selalu tetap mencintaimu dan menunggu sampai kau merubah sikapmu pada ku.

I LOVE YOU HINATA

From: NN

Itulah isi sepucuk surat cinta yang pertama kali dibuat oleh Naruto untuk Hinata. Surat itu dimasukkan kedalam sebuah amplop berwarna biru safir dengan hiasan love lavender ditengahnya. Lalu Naruto menyelipkan surat itu tepat di loker Hinata.

Dan sejak hari itu, Hinata selalu mendapatkan surat-surat manis dari dalam lokernya setiap hari. Surat-surat itu ia bawa pulang dan disusun di dalam sebuah kotak kecil berwarna biru safir. Ini kali pertamanya ada warna lain di kamar Hinata. Serta dilihat dari cara Hinata merawat surat-surat itu, bisa dikatakan bahwa Hinata menyambut perasaan si penulis surat.

Sesuai dengan kenyataan yang ada. Hinata memang telah menyambut perasaan si penulis surat. Itu karena Hinata sudah mengetahui siapa penulis itu. Sebab tidak ada lelaki lain yang membuat wajah Hinata merah merona selain Naruto (sudah dijelaskan pada isi surat itu). Jadi bisa disimpulkan bahwa Narutolah yang menulis surat itu begitu katanya. Tetapi Hinata tidak pernah menceritakannya pada siapa pun. Karena dia adalah wanita yang tertutup. Itulah kenapa tidak mudah mencari titik lemah Hinata?.

"Maafkan aku Naruto. Aku tidak bermaksud memperlakukanmu seperti itu. Hanya saja, itulah satu-satunya cara agar aku tidak pingsan di depanmu. Aku takut, takut hal itu akan terjadi. Maafkan aku Naruto…" tangisan Hinata pun tak dapat terbendung lagi. Dia merasa bersalah kepada Naruto. Tak seharusnya ia berbuat seperti itu. Tapi apa boleh buat, itu sudah terjadi.

TING TONG…

Mendengar bel berbunyi Hinata segera menyeka air matanya dan mencoba seakan-akan ia tidak pernah menangis. Saat Hinata membukakan pintu, yang terlihat ternyata Sakura, Ino dan Tenten.

"Selamat siang, Hinata" salam S,I,T serempak.

"Selamat siang. Mari masuk! Aku senang kalian berkunjung kerumah ku" kata Hinata ramah. Mereka berjalan ke kamar Hinata yang ada di lantai dua.

"Hmm…Hinata, Ayahmu ada tidak?" tanya Ino sambil berbisik.

"Oh… beliau tidak ada dirumah. Ayahku pergi bersama ibuku ke pentas drama sekolah Hanabi (adik Hinata). Mungkin mereka pulang nanti malam, jadi jangan takut. Dan dirumah ini hanya ada aku dan kak Neji saja" kata Hinata menjelaskan. Namun diakhir kalimatnya Hinata, Sakura dan Ino melirik Tenten.

"Mengapa kalian menatapku seperti itu? Tidak ada yang salah bukan?" kata Tenten yang mencoba untuk tidak salah tingkah di depan teman-temannya.

"Jiah…dia pura-pura tidak tahu. Padahal tadi yang semangat ke sini kan Tenten?" Sakura yang sedari tadi diam mulai membuka mulutnya. Ino mendukung perkataan Sakura dengan menatap tajam ke Tenten yang tersudut. Tetapi Hinata hanya bisa tersenyum simpul melihat teman-temannya.

"Jangan perlakukan Tenten seperti itu. Karena Tenten adalah kekasih kakakku dan calon kakak iparku, hehehehe…." goda Hinata

"KALIAN…!" Tenten geram dengan godaan teman-temannya yang menyebalkan.

"Jangan kencang-kencang! Nanti kakakku bangun. Ayo kita masuk!" kata Hinata memperingatkan sambil berbisik dan membukakan pintu kamar untuk ketiga temannya.

Setelah pintu terbuka. Sakura segera berlari ke jendela kamar Hinata yang menghadap kamar Sasuke. Dari jendela itu terlihatjelas pemandangan sebuah kamar yang beciri kahas keluarga Uchiha. Dan beruntungnya lagi, ada Sasuke yang sedang bermain gitar di kamarnya. "Sasuke… kakkoi…(_) ". Sakura pun segera mengambil handphonenya dan memotret gerak-gerik si Uchiha.

Ino dan Tenten mencari kesibukan di kamar Hinata. Mungkin ada ssuatu yang bisa mereka bongkar. Secara tidak sengaja Hinata sedang membuatkan minuman dan cemilan. Jadi, Ino dan Tenten dapat dengan bebas membongkar isi kamarnya sebelum Hinata selesai.

Dari sebuah Kamar yang bertemakan segala Lavender, akan terlihat jelas bila ada sesuatu yang janggal mengenai warna. Oleh sebab itu, Ino dan Tenten langsung berhasil menemukan target. Terdapat kotak kecil berwarna biru safir di bawah meja belajar Hinata. Mereka segera mengambil dan membuka kotak itu. Ino dan Tenten saling bertatapan terkejut setelah mereka tahu isi kotak itu.

"Rupanya teman kita yang satu ini sudah ada penggemarnya. Aku jadi iri" gumam Ino sambil mengambil salah satu surat dari kotak itu.

"Eh? Bukannya kamu udah punya Sai!" mendengar perkataan si bangsat Tenten wajah Ino merona merah dan tersadar dari dengkinya.

"Surat ini sepertinya diterima Hinata hari ini deh. Kita baca yuk!" Ino memutarbalikkan suasana sebelum Tenten menyerbunya habis-habisan mengenai Sai. Tenten menghembuskan napasnya panjang-panjang melihat tingkah temannya. Mereka membaca surat itu dengan hikmat dari awal hingga akhir.

"Oh… SO SWEET…" Ino, Tenten dan Sakura serempak menyebutkan kata-kata itu.

"Eh? Sejak kapan kau ada disini, Sakura?. Memangnya sudah selesai memandangi zombie itu?" tanya Ino yang cerewet.

"Udah, soalnya dia udah pergi. Secara aku melihat kalian yang sibuk sendiri, jadi aku putuskan untuk kesini (^_^)"

"Hah… terserah deh"

TAP TAP TAP

"Itu kayaknya Hinata dateng. Eh? Surat-suratnya belum diberesin" mereka panik dan memasukkan surat-surat itu ke dalam kotak asal-asalan.

Ckreek

"Hay Hinata… (^_^)"

"Eh? Kok kalian aneh gitu? Oh ya, nih cemilan dan minumannya biar sayko kalian hilang" Hinata meletakkan minuman dan cemilan itu di depan teman-temannya "Ada apa dengan kalian? Kok pada senyum-senyum gak jelas? Apa ada yang salah denganku?" Hinata memeriksa wajahnya dan pakaiannya di depan cermin. Saat Hinata berbalik, yang dilihatnya bukanlah sebuah jawaban melainkan teman-temannya saling sikut-menyikut. Akhirnya Sakura yang mulai membuka suara.

"Hmm…? Gimana ya? Kamu aja deh Tenten!"

"Nggak ah. Mana bisa gitu? Yang duluan ngebuka nya kan Ino?"

"Hah… ya udah deh. Begini, kami tadi dari ngebuka kotak yang biru safir itu" Hinata langsung kaget dan muncul semburat merah dari kedua pipinya saat Ino menunjuk sebuah kotak di bawah meja belajar Hinata.

"A-apa kalian telah membacanya?!" dari pipi chubbynya kini terlihat semakin memerah setelah mendapat anggukan dari teman-temannya.

Ckreek

"Hinata, aku akan keluar sebentar jadi jaga rumah baik-baik!. Hmm… kalian juga jangan semena-mena di rumah ini! Dan Tenten tolong jaga adikku untuk siang ini" seketika wajah mereka merona, dan terdengar jelas detak jantung dari sepasang kekasih yang malu-malu.

"Ba-Baik, Neji-san"

"Ya sudah aku pergi dulu"

BLAM

"Cie cie NejiTen"

Di tempat lain. Di sebuah kedai ramen terlihat 5 pemuda yang bersenda gurau dan mengganggu pengunjung lainnya.

"Hahaha… benarkah itu Naruto? Kau belum menembaknya? Jangan bergurau… hahaha kau ngigo ya? Hahaha?"

"Seharusnya aku yang ngomong itu ke kamu Kiba! Kamu ngigo ya? Ketawamu keras sekali" Naruto menghela napasnya dan meletakkan dagunya di atas meja.

"Lambat" celoteh Sasuke

"Kamu sendiri? Tak sadar ya? Kau sama saja denganku pantat ayam!" Naruto tersenyum kemenangan melihat Sasuke tertunduk diam, namun ia juga sama.

Melihat kedua temannya yang gelisah, gundah, gulana merutuki kehidupan suram mereka. Shikamaru, Sai dan Neji yang baru dating menghabiskan ramen mereka lalu pergi.

"Hei, kalian mau kemana?" cegah Naruto, Sasuke hanya menatap mereka.

"Tidak ada gunanya kami di sini, kami hanya bisa menonton film horor karena keputus-asaan cinta yang tak diungkapkan. Aku pergi dulu aku ada janji dengan Temari, kalian harus berjuang. Ganbatte!" jawaban Shikamaru yang menusuk. Mereka keluar dari kedai ramen dan tak pernah menengok kebelakang.

"Hah….." napas panjang yang dihembuskan dari kedua pemuda yang malang.

"Shikamaru dengan Temari, Sai dengan ino dan Neji dengan Tenten. Padahal kalau dipikir-pikir Sai itu tak punya kelebihan dibandingkan aku" kata-kata jahat Naruto di lontarkan tanpa melihat ekspresi Sasuke yang bergidik ngeri.

"Baka" satu kata dari Sasuke.

"Aku iri dengan mereka, mereka enak-enakkan menghabiskan waktu berdua, sedangkan aku malah menulis surat yang panjang-panjang" sesal Naruto.

"Hn… sama, tampangku number one pun tak bisa mengatakan cintanya kepada gadis pujaan hatinya" sesal Sasuke yang mengikuti gaya Naruto membenamkan kepalanya di atas meja.


Reviewnya please

disini aku masih newbie jadi dimohon kritikan dan saran yang membangun
dan satu hal lagi terimakasih untuk kalian yang udah baca FF abal-abalku dan reviewnya