Disclaimer: Masashi Kishimoto

Author: Lueky

Rated: T

Genre: Romance,Drama, Tragedi

Warning: AU, OC, OOC, abal-abal, geje, lebay, alay, korban sinetron, ceritanya ngambang, tragis, gk nyambung dll.

Pairing: NaruHina

Catatan: Cerita ini semuanya Author pov kecuali ada pemberitahuan sebelumnya apabila telah berganti pov. Dikarenakan sang Author masih pemula jadi kalau ada kalimat yang gak jelas saya meminta maaf.

Serta cerita ini keluar dari otak busuk Author sendiri. Jika ada kesamaan alur, waktu, tempat kejadian di cerita ini. Saya mohon maaf.

Ket:

* Dialog yang bercetak miring berarti bicara di dalam hati.

* Dialog yang bercetak huruf kapital berarti sedang berteriak.

Walaupun bahasa dan penulisan masih kacau

serta tidak mengikuti EYD

Tapi…

Baca sampai selesai ya!

SELAMAT MEMBACA! T(^_^)T

Chapter 3: Sakit hati

"SASUKE!" sasuke menghentikan langkahnya dan menoleh ke belakang dan yang dilihatnya adalah Naruto.

"Ada apa?" nada dingin Sasuke kembali.

"Bagaimana kalau malam ini kita tembak gadis kita bersama-sama" ajak Naruto.

"Sepertinya kau telah ketinggalan berita utama"

"Tak usah memandangku dan memakai nada dingin itu juga aku sudah tau"

"Aku sudah jadian dengan Sakura"

"What?!" petir menyambar dari kalimat itu.

"Cih, katanya sudah tau, tapi terkejutnya bukan main"

Flashback

Di dekat danau, pada musim semi disaat bunga Sakura bermekaran. Terlihat sepasang pemuda-pemudi berambut merah muda dengan seorang cowok kece ber-style raven.

"Di danau ini dan di bawah pohon Sakura ini. Aku ingin mengatakan sesuatu" sikap dingin dari seorang Sasuke meleleh dan digantikan dengan kelebayan karena kehangatan musim semi.

"…" Sakura hanya bisa bungkam, ia menanti-nantikan Sasuke mengatakan aishiteru Sakura.

"Aku mau meminjam buku catatan fisika mu" background yang romantis tiba-tiba beralih menjadi perang dunia shinobi ke-4.

"Boleh" Sakura hanya bisa menjawab semanis mungkin walaupun berlawanan dengan harapannya.

"Eh! Sebenarnya bukan itu yang ingin kukatakan padamu" Sasuke menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. "Sejak kapan aku seperti ini, ah!" Sasuke kembali focus dan ia melihat lekat-lekat mata emerald Sakura dan membisikkan sebuah kata "Aishiteru"

"Aishiteru Sasuke (^-^)"

"(^_^)" kedua nya terhanyut dalam senyuman kebahagiaan di musim semi.

Flashback end

"…" Sasuke berjalan pelan ke kantin tanpa menghiraukan mulut Naruto yang menganga.

"Lalu aku bagaimana?"

Tanpa menghentikan langkah kakinya. Sasuke menjawab pertanyaan Naruto dengan senyum sinisnya "Terserah kau"

Naruto berbalik ke kelasnya. Ia berharap disana akan hadir sosok Hinata. Namun hari ini adalah hari tersial Naruto. Hinata yang diharapkannya tak ada dikelas "Aisshhh… SIAL! Kamu ada dimana Hinata?!" erang Naruto sambil mengacak-acak rambutnya.

Kimi to onaji mirai wo

"Hah? Nyanyian itu?" Naruto segera mencari sumber suara itu dan langsung berlari ke jendela yang terbuka "Disitu rupanya kau Hinata. Tunggulah aku disana. Aku akan menyatakan perasaan ini setidaknya aku akan mengungkapkannya bagaimanapun akhirnya. Karena kesempatan tidak datang dua kali"

Naruto segera berlari keluar dari kelas dan menghampiri Hinata yang sedang duduk bersandar dengan sebuah pohon besar dan rindang. Tetapi sebelum Naruto mendekati Hinata. Naruto melihat rambut merah jabrik dari balik kepala Hinata. Naruto menghentikan langkahnya dengan mata dan mulut yang sama-sama melebar. Dia melihat sang gadis sedang menyanyikan lagu untuk pemuda merah itu, bahkan setelah itu mereka tertawa lepas bersama-sama, menceritakan sesuatu yang menyenangkan dan menghiraukan tatapan risih dari siswa KHS lainnya.

"Senyum itu, tawa itu, ekspresi itu, tatapan itu, bahkan canda itu tak pernah ku lihat sekalipun"di ekor mata Naruto kini terlihat jelas air telah menggumpal dan siap untuk menetes. "Hinata, Apakah hanya pria itu yang bisa membuatmu nyaman? Pria itukah yang kamu sukai bukan aku? Aku tak bisa menerima semua ini. Kumohon bangunkan aku dari mimpi buruk ini"Naruto mengepalkan tangannya dan meninju dada sebelah kirinya. Ia hanya bisa menangis dalam duduk. Entah sejak kapan Naruto yang semangat berubah menjadi mellow dan dramatisi. Hatinya terasa sakit karena melihat pemandangan yang tak mengenakkan itu.

Teng Teng Teng (bel pulang)

"Hay Naruto, ada apa denganmu? Hari ini sepertinya kau sedang galau. Apa kau ingin ditraktir ramen oleh Sasuke yng baru jadian?"suara sumbang Kiba yang mencoba melunakkan suasana tegang itu malah menambah keruh.

"…" tidak ada jawaban yang keluar dari mulut Naruto. Yang terlihat hanya rasa putus asa yang kelam membalut di dirinya kini. Sebuah perasaan yang benar-benar tak pernah ia rasakan."Beginikah rasanya sakit hati? Seumur hidup aku baru pertama kalinya menyukai wanita dan pertama kalinya aku sakit hati"

"Tidak biasanya kau seperti ini" sahut Shikamaru.

"Ayolah Naruto…, semangatlah. Kalau kau begini Hinata akan diambil orang, bahkan ramenmu juga akan hangus" Kiba membujuk Naruto layaknya anak kecil. Tetapi tetap saja Naruto tidak merespon. "Naru"

"DIAM! JANGAN SEBUT-SEBUT NAMA GADIS ITU DI DEPANKU!" setelah itu Naruto berlari dan semakin menjauh dari mereka.

"Wah… sepertinya ada yang lagi broken heart" kata Sai yang diselingi senyum palsunya.

"Baka" sahut Sasuke.

"Aku harus bertanya pada Hinata mungkin dia tahu dengan kejadian ini" kata Neji yang langsung disetujui dengan anggukkan semua orang.

Tanpa semangat Naruto mengendarai motornya. Dipikirannya hanya Hinata dan pemuda -tiba Naruto melihat Hinata sedang dibonceng oleh pemuda tadi, bahkan Hinata berpegangan sangat erat dengan pemuda itu. Sakit yang diderita oleh hati Naruto semakin parah bahkan hingga pandangannya tidak focus ke jalanan sehingga motor yang dikendarai oleh Naruto manghantam sebuah mobil sedan.

BRUKK

"Oh, tidak! Apa yang telah kita lakukan? Kita telah menabrak seseorang. Bagaimana ini pak?" seorang pemilik mobil itu terkejut ketika mobil yang dinaikinya seperti menabrak sesuatu.

"Tenang saja, nona Shion tetaplah di dalam mobil, biar saya saja yang melihat orang itu" kata supir yang mencoba menenangkan majikannya.

"Baiklah, kita harus bertanggung jawab dengan orang itu karena aku takut dihantui oleh rasa bersalah ini"

"Iya, saya mengerti"

Perempuan yang bernama Shion itu mengintip seseorang yang ia tabrak dari kaca mobil. "Semoga orang itu baik-baik saja. Oh Kami-sama help me!"


bagaimana? Kurang greget ya? Maaf pendek T^T. karena kalo dilanjutin ditakutkan akan keluar dari topik . Gomen T^T. untuk chapter selanjutnya saya berjanji untuk lebih panjang.

Yang mau review silahkan review :D (jiah, PD amat kayak semua orang suka gituh ceritaku dan mau capek-capek review FF abal-abalku)

hahaha :v gk kok. Aku mohon review nya please.
dan untuk yang udah review (dibalas via PM ya), fav dan follow terimakasih banyak