Disclaimer: Masashi Kishimoto

Author: Lueky

Rated: T

Genre: Romance,Drama, Tragedi

Warning: AU, OC, OOC, abal-abal, geje, lebay, alay, korban sinetron, ceritanya ngambang, tragis, gk nyambung dll.

Pairing: NaruHina

Catatan: Cerita ini semuanya Author pov kecuali ada pemberitahuan sebelumnya apabila telah berganti pov. Dikarenakan sang Author masih pemula jadi kalau ada kalimat yang gak jelas saya meminta maaf.

Serta cerita ini keluar dari otak busuk Author sendiri. Jika ada kesamaan alur, waktu, tempat kejadian di cerita ini. Saya mohon maaf.

Ket:

* Dialog yang bercetak miring berarti bicara di dalam hati.

* Dialog yang bercetak huruf kapital berarti sedang berteriak.

Walaupun bahasa dan penulisan masih kacau

serta tidak mengikuti EYD

Tapi…

Baca sampai selesai ya!

SELAMAT MEMBACA! T(^_^)T

Chapter 4: API CEMBURU

"Kau sudah sadar?. DOKTER! PEMUDA INI SUDAH SIUMAN!" Shion berteriak memanggil dokter.

"Maaf nona, tolong anda keluar sebentar. Kami harus memeriksa pasien" kata perawat sopan namun mengusir.

"Baik"

Selang beberapa menit. Pintu terbuka dan dokter mengonfirmasikan masalah Naruto kepada Shion.

"Baiklah, Terimakasih Dok" setelah mengucapkan terimakasih, Shion menghampiri Naruto yang sedang terbaring. "Bagaimana keadaanmu?"

"Siapa kau?" Naruto balik bertanya.

"Perkenalkan, nama ku Shion. Aku yang telah menabrakmu kemarin. Maafkan aku"

"Tidak apa-apa. Yang penting kau telah bertanggung jawab hehehehe :D" cengiran khas Naruto menampilkan giginya yang putih bersih.

"Itu! Senyum 3 jari itu! mirip sekali dengan dia. Naruto kau mengingatkan ku pada seseorang yang berharga bagiku".

"Hei Shion mengapa kau diam?"

"Tidak apa-apa (^_^)"

Naruto melihat Hinata sedang berdiri di depan pintu dan sedang memperhatikan mereka. "Hinata?"Naruto mencoba tersenyum untuk Hinata. Namun senyuman itu telah pudar sejak hari itu."Mau apa dia kesini? Mau menjengukku? Huh jangan harap! Aku akan membuatmu melihat sesuatu yang pernah kulihat hingga aku membencimu"!

"Shion, ku mohon jangan tinggalkan aku. Aku baru saja di tolak oleh seorang cewek jahat!" Naruto memegang tangan Shion dan memperlihatkannya kepada Hinata dengan sengaja.

"Baiklah, apakah gara-gara itu kau tak fokus mengendara?" Tanya Shion.

"Mungkin" Naruto menjawab pertanyaan Shion sambil melihat Hinata "Bisakah kau keluar dan kembali besok, Shion?"

"Ta-tapi"

"PERGI! KU BILANG PERGI YA PERGI!" bentak Naruto.

"Ba-baik, aku akan kembali besok" Shion menjawab dengan keraguan dan ketakutan. "Naruto berubah, ia tak selembut yang tadi. Aku takut dengannya"Shion pergi meninggalkan Naruto.

"Apakah yang kulihat tadi benar? Hinata menangis setelah ia melihatku memegang tangan Shion. Apakah cintaku bersambut? Aku jadi tak tega dengannya. Tapi, ini semua belum sebanding dengan apa yang pernah ia lakukan dengan pemuda itu?! Dasar bodoh…!"Naruto mengacak-ngacak rambutnya.

Tiba-tiba…

BRAKK.

Suara pintu dibuka paksa.

"NARUTO! Kau tidak apa-apa? Apa benar kemarin kau kecelakaan? Mana yang sakit? Beritahu aku!" Kiba yang lebay telah kembali, bahkan Akamaru saja sampai muntah-muntah.

"Aku tidak apa-apa. Yang penting kalian telah datang menjengukku" Naruto kembali riang dan disambut big hug dari kelima temannya, tak terkecuali.

"Kami masih bingung perihal kelakuanmu kemarin, dan mungkin itu sebabnya kamu kecelakaan. Apa yang sebenarnya kau pikirkan, bodoh?" kata Sasuke. Walaupun Sasuke kalem-kalem anyem, tapi dia memberikan perhatian lebih pada si Kepala Durian saat peristiwa genting. Jangan bilang Sasuke ada rasa sama Naruto.

"I-Itu. Hmmm…..A-aku melihat seorang pria berambut merah jabrik serta tato 'AI' dijidatnya yang jelek sedang tertawa bersama dengan Hinata. Aku tak pernah melihat Hinata seriang itu hingga aku menyimpulkan bahwa pria itu adalah pria yang ia sukai. Padahal waktu itu, aku ingin menyatakan perasaan ini pada Hinata. Aku memang bodoh, seharusnya aku menembaknya lebih cepat dan sekarang semuanya telah sia-sia" sesal Naruto atas perbuatannya yang lambat.

"Eit, tunggu. Naruto, pemuda yang kau lihat itu, ciri-cirinya rambutnya merah jabrik kan? Apakah dia orangnya? Gaara…. come here!" kata Neji seraya memetik jarinya seperti memanggil pelayan restoran.

"Hay Naruto" salam Gaara dingin a.k.a cool

"IYA! BENAR! DIALAH ORANGNYA! SEDANG APA KAU KEMARI! HAH?!" Naruto berteriak histeris seperti sedang melihat penampakan setelah itu ia membuang muka karena tak senang atas kehadiran Gaara "Kau ingin mengejekku kan? Dasar pria tengik!".

"Tunggu dulu Naruto, kau jangan berprasangka buruk dulu. Aku membawa Gaara kemari karena aku ingin menjelaskan bahwa Gaara ini adalah sepupu kami" kata Neji tegas.

"WHAT?! Ja-jadi kamu sepupunya Hinata? Oh tidak…! Ya, Tuhan-ku, aku telah melukai hati seorang gadis yang kucintai hanya karena kesalahpahamanku sendiri. A-Aku harus mencarinya dan menjelaskan semuanya. Apa ada yang melihat Hinata?"

"('.' )( '.')" keenam pemuda itu hanya bisa menggeleng.

"Aku harus mencarinya"tekad api Naruto kembali menggelora.

"Naruto, kau sedang sakit. Jadi jangan kemana-mana! Biar kami yang mencarinya" usul Shikamaru.

"Tidak bisa! Aku harus menyelesaikan permasalahanku sendiri. Jadi kalian jangan ikut campur! Minggir Naruto mau lewat!" dengan tergesa-gesa Naruto mencabut jarum infus dan segera berlari sekencang-kencangnya.

"Flash Orange kembali muncul ckckck" decak kagum yang menyindir.

"Bodoh, aku salah paham terhadapnya. Kupikir Gaara adalah…, tunggu dulu! Kalau dia sepupu Hinata berarti… :D, cintaku bersambut. HIHIHIHIHI, aku semakin semangat, peluangku 100%. Hinata-chan…. I'm coming…" Naruto semakin mempercepat larinya hingga melebihi kecepatan lari Sena (Eyeshield 21).

Hinata adalah perempuan yang tegar. Kejadian yang ia lihat beberapa menit lalu tidak bisa membuatnya menangis meraung-raung. Berbeda dengan Naruto yang lebay, pemikirinnya yang terlalu dangkal hingga membuatnya kecelakaan dan masuk Rumah Sakit yang terkenal di Konoha serta membuat Hinata menangis.

Hinata meninggalkan Rumah Sakit tempat Naruto dirawat. Walaupun sesekali ia menengok kebelakang. Ia selalu berpikir positif dan membuang semua pikiran negatif tentang Naruto. Bisa dikatakan, Hinata adalah perempuan yang bodoh, tetapi itulah yang dinamakan takdir.

Sepasang kekasih yang telah diikat dengan benang merah tidak akan pernah dapat dilepaskan. Semuanya bukanlah mereka yang menentukan. Mereka hanya bisa menjalankannya saja dan mengikuti aliran kehidupan yang akan menuntun mereka kedalam sebuah nuansa kebahagiaan.

Itulah yang dipikirkan Hinata. Jika memang benar ia dan Naruto telah terikat oleh benang merah, maka suatu hari nanti dia akan bertemu dengan Naruto.

"HINATA!"

"Bahkan, aku masih mengingat suara Naruto"

"HINATA!"

Hinata sadar bahwa itu bukan halusinasinya, itu benar-benar teriakan Naruto. Naruto menghampiri Hinata dengan kecepatan tinggi. "Na-Naruto kun" pipi Hinata bersemu merah sama halnya dengan Naruto kini.

CIIITTTTT

Rem kaki yang dapat diandalkan dari sepasang kaki sang Pangeran Safir berhenti pas di depan Putri Lavender. (terlalu banyak nonton Barbie)

"Tunggu dulu Hinata! Kamu mau kemana? Kumohon kamu jangan pergi. Biarkan aku menjelaskan semuanya. Ya?" pinta Naruto memelas (lebay).

Hinata hanya bisa terbelalak kaget. Dia tak menyangka jarak diantara mereka hanya sejengkal. Yang dia tau selama ini, jarak terdekat Hinata dengan Naruto adalah satu meter.

"Hinata, apa kau mendengarkanku?" Tanya Naruto untuk memastikan.

"A-Aku akan mendengar penjelasanmu, ta-tapi bisakah kita pindah dari sini ke tempat yang lebih aman dari kendaraan bermotor"

"Hehehehe :D, di sini kan jalan raya ya? Kalau gitu kita masuk ke Rumah Sakit lagi. Bagaimana?"

"Te-terserah Na-Naruto saja"

Naruto segera menarik tangan Hinata dan membawanya Masuk kedalam Rumah Sakit. Kini Naruto bisa merasakan denyut nadi Hinata yang terpompa cukup kuat dari pergelangan tangannya. Di sisi lain, Sasuke dkk mengintip tingkah aneh Naruto dan Hinata (dibaca: NaruHina).

"Cih! Bakanya kumat" cela Sasuke yang tidak di dengar oleh Naruto.

Naruto membawa Hinata hingga ke taman belakang Rumah Sakit Konoha. Mereka memilih tempat yang rindang di payungi oleh pohon besar.

"Sebelumnya, aku minta maaf. Karena aku sudah salah paham padamu. Aku tidak tahu kalau Gaara itu adalah sepupumu. Awalnya aku mengira dia adalah laki-laki yang kau sukai karena kepribadianmu berubah saat kau di dekatnya. Dan sekarang itu tidak menjadi masalah lagi. Aku bertekad untuk tidak akan ada lagi yang mencoba untuk mendahuluiku. Jadi…"

Kalimat-kalimat terakhir yang Naruto ucapkan untuk Hinata sayup-sayup terdengar. Karena desiran angin yang berhembus menyapu seluruh kalimat dan hanya Hinata yang dapat mendengarnya. Kata terakhir itu berhasil membuat Hinata kaget, senang, tak menyangka, melayang dan terharu.

"Kau mendengarnya tidak, Kiba, Akamaru?" Tanya Neji yang penasaran dengan perkataan Naruto sehingga membuat Hinata terkejut dan merona.

"Tidak, entah mengapa angin ini menghambat pendengaranku dan Akamaru"jawab Kiba tenang.

"Dasar kau Anjing liar tak becus" Kiba menjadi sasaran empuk pembantaian kemarahan terdahsyat sepanjang sejarah dari teman-temannya.

GLEKK

Kiba hanya bisa pasrah dan menelan air liurnya saat melihat tangan teman-temannya sudah mengepal."Jangan remehkan kecepatan kaki anjing berlari. Akamaru! pada hitungan ketiga. 1..2..3.. KABUR!"Kiba dan Akamaru lari dengan FULL POWER.

"HEY! ANJING LIAR MAU LARI KEMANA KAU?"

"Bahkan ini jauh lebih baik dari rencananya dan tugasku di sini sudah selesai, aku pasti akan membantumu selagi aku hidup dan berada di dekatmu. Walaupun kau tidak tau aku tapi aku selalu tau kamu" kata Shion yang bersembunyi di balik tembok Rumah Sakit sambil menatap punggung seorang lelaki yang sedang melihat aksi kejar-kejaran Kiba CS dan tersenyum simpul "Gaara-kun".


Hoah.

Lumayan pegel juga nih tangan. Gimana? Bagus gak? udah panjang belum? Udah capek-capek loh. Jadi, saya minta dengan sangat review nya.
Reviewnya please.

ngomong-ngomong ini belum tamat loh. Masih ada lanjutannya. Jadi, selamat menunggu :P