Disclaimer: Masashi Kishimoto
Author: Lueky
Rated: T
Genre: Romance,Drama, Tragedi
Warning: AU, OC, OOC, abal-abal, geje, lebay, alay, korban sinetron, ceritanya ngambang, tragis, gk nyambung dll.
Pairing: NaruHina
Catatan: Cerita ini semuanya Author pov kecuali ada pemberitahuan sebelumnya apabila telah berganti pov. Dikarenakan sang Author masih pemula jadi kalau ada kalimat yang gak jelas saya meminta maaf.
Serta cerita ini keluar dari otak busuk Author sendiri. Jika ada kesamaan alur, waktu, tempat kejadian di cerita ini. Saya mohon maaf.
Ket:
* Dialog yang bercetak miring berarti bicara di dalam hati.
* Dialog yang bercetak huruf kapital berarti sedang berteriak.
Walaupun bahasa dan penulisan masih kacau
serta tidak mengikuti EYD
Tapi…
Baca sampai selesai ya!
SELAMAT MEMBACA! T(^_^)T
Chapter 5: KENANGAN
Sudah jam 21.00, saatnya seorang gadis lavender terbujur kaku di tempat tidur. Ia berbaring di kasurnya dan mentap langit-langit kamarnya. Pikirannya melayang ketika Naruto menyatakan cintanya.
Flashback
Naruto membawa Hinata hingga ke taman belakang Rumah Sakit Konoha. Mereka memilih tempat yang rindang di bawah pohon besar.
"Sebelumnya, aku minta maaf. Karena aku sudah salah paham padamu. Aku tidak tahu kalau Gaara itu adalah sepupumu. Awalnya aku mengira dia adalah laki-laki yang kau sukai karena kepribadianmu berubah jika kau di dekatnya. Dan sekarang itu tidak menjadi masalah lagi. Aku bertekad tidak akan ada lagi yang bisa mendahuluiku. Jadi maukah kau menjadi kekasihku. Aku akan menjagamu, melindungimu, dan aku rela mengorbankan seluruhnya agar kau bahagia. Hinata, kaulah satu-satunya wanita yang menjadi cinta pertama dan terakhirku. Karena aku sangat mencintaimu. Pada hari Rabu, tanggal 15 Juli 2013, jam 14:15:11, aku memilihmu sebagai ratu di kekaisaranku"
"Na-Naruto, benarkah itu kamu? Kau lebih wibawa dan lebih serius dari biasanya. A-aku pasti akan selalu bersamamu Na-Naruto kun" Hinat tersenyum. (ingat yang bercetak miring di dalam hati)
Sepasang bola mata safir Naruto menatap lekat mata lavender Hinata lebih dalam hingga membuat kedua wajah mereka merah padam. Telapak tangan kekar Naruto menyentuh daun telinga kanan Hinata dan menyelipkan sekuntum bunga lavender di telinga mungil itu.
Flashback end
Hinata menggeser penglihatannya ke sebuah meja kecil disamping tempat tidurnya. Disana terlihat sekuntum bunga lavender pemberian Naruto lima hari yang lalu. Bunga yang mengingatkannya bagaimana Naruto menyatakan perasaannya dan sekarang bunga itu sudah berada di sebuah vas bunga yang berbahan dasar kaca. Hinata mengambil secarik kertas dari dalam laci mejanya.
Flashback again
Sepulang sekolah, Naruto membawa Hinata dan teman-temannya ke sebuah bukit kecil yang tak jauh dari Konoha. Naruto ingin membuat Hinata dan teman-temannya senang pada hari jadinya NaruHina. Rencana yang telah Naruto buat 2 hari yang lalu tepatnya sepulang dari rumah sakit.
JRENG JRENG…..
"Selamat datang di rumah keluarga kecil Uzumaki. Hehehe sebenarnya, aku mengajak kalian kesini untuk membersihkan rumah tua keluargaku yang telah kami tinggalkan selama hmmm… kira kira 15 tahun" Naruto sempat ragu mengucapkan kata-kata 15 tahun.
"Wah…, 15 tahun ya? Ternyata lama juga, ta-tapi rumah ini dari luar terlihat terawat. Bagaimana kalau kita masuk saja? Udara disini dingin sekali brrrr" kata-kata yang diucapkan Hinata mendapat persetujuan dari teman-temannya.
Baru saja, Hinata membuka pintu. Bau busuk kotoran tikus dan kecoa langsung menusuk hidung hingga mengikat paru-paru. Dengan cekatan Hinata membuka seluruh jendela yang ada dirumah itu, sedangkan Naruto mengambil sapu, pel, kemoceng dan lap yang ia letakkan di dalam bagasi mobil sewaan mereka. Hinata, Sakura, Ino dan Temari membersihkan lantai atas, sedangkan Naruto, Sasuke, Sai, Neji, Kiba, dan Shikamaru membersihkan lantai bawah. Rumah reyot bertingkat dua ini masih kokoh dan bisa didiami selama kurun waktu 10 tahun mendatang.
PRAANG!
"Suara kaca pecah! Sepertinya sumber suara itu dari atas. Ah iya, Hinata!"Naruto berlari ke sumber suara. Disana terlihat seorang gadis sedang membersihkan pecahan kaca atas kecerobohannya.
"Ma-maaf Naruto. A-aku telah memecahkan foto keluargamu" Hinata menunduk takut sambil memungut beling-beling itu yang dibantu oleh teman-temannya.
"Tak apa, yang penting kau tidak terluka. Bahkan aku ingin mengucapkan terimakasih padamu. Foto ini sudah lama kucari-cari dan pada akhirnya karenamu aku bisa menemukannya. Kamu seperti dewi penolong bagiku. Seorang bidadari tak bersayap. jiah" Naruto tersenyum lembut dan mengacak-ngacak rambut Hinata layaknya anak kecil.
"Ehmm" sontak Naruto dan Hinata gelagapan. Ternyata sedari tadi ada yang merasa terganggu dengan kejadian itu.
Pecahan-pecahan kaca tadi mereka singkirkan dan di kubur dalam-dalam. Setelah 2 jam lamanya. Akhirnya, mereka bisa beristirahat dengan tenang dengan suasana rumah yang bersih dan asri.
"Na-Naruto, saat ki-kita bersih-bersih tadi. A-aku menemukan surat ini" Hinata menyerahkan sepucuk surat yang telah kusam dan kumal.
Naruto menerima surat itu dan membukanya pelan-pelan. Ia senyum-senyum sambil membaca surat itu. Lalu ia memberikan surat itu ke Hinata "Bacalah, Hinata!".
"La-lalu?" Hinata bertanya kepada Naruto setelah ia selesai membaca surat itu.
"Ambil lah dan bawa pulang. Anggap saja itu hadiah dariku, dan keluargaku (^_^)"
Anak-anakku,
Maafkan kami, kami telah di panggil dan diikut sertakan dalam sebuah perang. Jika kami bisa menolak,kami akan menolaknya karena kami lebih baik bersama kalian. Kalian akan kami titipkan dengan Paman Nagato selama kami berada di medan perang.
Tapi jika kami tidak kembali, kalian harus menurut pada Paman Nagato, jangan nakal, belajar yang benar dan bersungguh-sungguh hingga buat kami bangga, jangan pilih-pilih makanan, makan semua yang ada, rajin berolahraga, dan do'a kan kami.
Sayang kami,
Orangtuamu,
Minato Uzumaki dan Kushina Uzumaki
"Ehem ehem. Sepertinya hari ini kami menjadi patung di kehidupan kalian, apakah kami masih dianggap?" seperti biasa Kiba si mulut besar mulai berbicara namun kali ini disambut anggukan dari yang lainnya. "Teman-teman apa kalian sudah siap?!" seru Kiba.
"Sangat siap"
"Ayo serbu"
Naruto dan Hinata segera berlari setelah melihat nafsu membunuh dari teman-teman mereka.
Flashback end
"Naruto-kun" di balik tidurnya Hinata menyebut nama Naruto dan diseberang sana Naruto juga menyebut nama Hinata.
"Hinata-chan"
RS Konoha kembali ramai oleh tangisan dan kesedihan. Bagaimana tidak?. Karena yang sedang bertarung dengan penyakitnya adalah teman dekat mereka, Hinata. Hinata tiba-tiba pingsan saat perjalanan pulang dari sekolah.
Dokter yang menangani Hinata sudah selesai memeriksa Hinata dan memberitahukan semuanya kepada mereka. Saat dokter itu memberitahukan apa yang terjadi, sahabat Hinata yang perempuan menangis histeris sedangkan yang laki-laki hanya bisa ikut prihatin dan menenangkan si perempuan.
Ada seseorang yang mendengar pembicaraan mereka diam-diam dan bersembunyi di balik dinding. Dia mengepalkan tangannya dan meninju dinding keras-keras. Rasa sakit ditangannya tidak sebanding dengan rasa penyesalannya. Mengapa dia keluar kota saat Hinata sedang sakit?. Ya orang itu adalah Naruto.
Naruto melihat dokter yang menangani Hinata semakin dekat dengannya. Dokter itu segera dicegat oleh Naruto dan mereka berbincang-bincang serius.
"Hinata….." Sakura menangis histeris dan Sasuke mencoba menenangkannya.
"Kenapa harus Hinata..." Ino menimpali dan menangis lebih histeris, Sai juga mencoba menenangkannya sesekali mengeluarkan senyum tulusnya. (senyum tulus bukan senyum palsu)
"Dia baru saja jadian dengan Naruto, dan sekarang… huaaa….. mereka harus berpisah" Tenten melanjutkan "Neji dia adikmu, apa kamu tidak bisa melakukan apa-apa?" Neji hanya menggeleng. Jelas di wajahnya tersirat rasa penyesalan, marah, sedih, dan prihatin. Tapi mau bagaimana lagi inilah permainan kehidupan.
"Silau, mengapa begitu banyak cahaya? Aku tidak bisa membuka mataku" perlahan-lahan Hinata membuka matanya. Terdengar suara Sakura menjerit dan memanggil yang lainnya.
Mereka semua mengelilingi Hinata dan tersenyum kecuali Sasuke dan Shikamaru. Hinata membalas senyum mereka. Ia edarkan pandangannya ada seseorang yang tidak hadir saat itu.
"Naruto kun mana?" seketika senyum temannya menghilang setelah Hinata bertanya. Bahkan mereka saling sikut-menyikut dan akhirnya Neji yang angkat bicara.
"Naruto sedang diluar kota, dia ada lomba" Neji menggunakan senyum palsu milik Sai.
"Naruto mendonorkan sum-sum tulang belakangnya untukmu dan dia sudah tidak didunia ini lagi" tiba-tiba Sasuke berkata jujur sejujur-jujurnya dan mendapatkan death glare dari teman-temannya.
Mata Hinata membulat dan ia tidak bisa menahan air matanya keluar. Hinata menangis histeris dan mengamuk. Bahkan dia tidak menghiraukan rasa sakit di punggungnya usai operasi.
Sejak saat itu Hinata tidak pernah bersemangat. Harinya terasa hambar tidak ada yang berkesan. Selama ini dia hidup karena senyuman dari Naruto, tapi kini hanya tinggal bayangannya yang semakin pudar. Hinata tidak pernah konsentrasi saat belajar, guru-guru yang melihatnya hanya bisa prihatin dan memberi semangat. Teman-temannya yang selalu ada di samping Hinata tak mampu membuat Hinata kembali tersenyum.
Sepulang sekolah, seperti biasa Hinata tak bersemangat. Tiba-tiba kedua mata Hinata melihat rambut jabrik mencuat, warna mentari seperti Naruto. "Naruto kun" Hinata berlari dan mendekatinya.
"NARUTO…!" Hinata menjerit. Orang yang mengejarnya merasa aneh dan heran dengan sikap Hinata. Hinata segera menghentikan langkahnya saat melihat wajah pria itu. Air matanya kembali turun.
"Maaf, saya bukan Naruto yang kamu kenal. Tapi saya yang hampir menjadi calon kakak iparmu" laki-laki itu tersenyum simpul mencoba untuk meyakinkan.
"Kakak ipar?" Hinata bertanya karena tidak mengerti apa yang pria itu maksud sambil menghapus air matanya. Dia mencoba untuk kuat kali ini saja. "Jadi?"
"Kamu Hinata kan? Naruto adalah adikku"
"Pantas mirip," Hinata kembali lemas saat mendengar nama Naruto. "Tapi Naruto tidak pernah cerita pada ku kalau ia punya kakak. Karena yang ku tahu dia hidup sebatang kara"
"Naruto tidak pernah cerita padamu?. Padahal dia selalu menceritakan mu setiap hari padaku hingga kupingku berdengung. Dasar bocah kurang ajar, sudah tahu hidupnya singkat masih saja tidak menganggapku. " pria itu agak geram dengan adiknya yang telah tiada.
"….." Hinata bungkam melihat tingkah pria di depannya, dia sama persis dengan Naruto. Namun yang ini sepertinya lebih dewasa. Naruto serasa hidup kembali dengan bentuk yang lain. "Oh iya, disurat waktu itu. Surat dari orangtua Naruto. Disana tertulis kalian. Mungkin kata-kata 'kalian' itu adalah Naruto dan orang ini"
"Hey! namaku Uzumaki Yahiko" pria itu membuyarkan lamunan Hinata.
"Ya-Yahiko? U-Uzumaki Ya-Yahiko?"
"Hahaha, ternyata yang Naruto katakan benar" Yahiko tertawa terbahak-bahak tanpa menghiraukan Hinata yang terkejut. "Hahaha, kamu gagap".
"Apa?"
"So-sorry" Yahiko menirukan gaya gagap Hinata.
Hinata hanya bisa bersabar melihat orang aneh ini. Dia kira orang ini sedikit lebih dewasa dari Naruto. Tapi kenyataannya sama saja -_-" #hadeuhhh.
"Ternyata bumi ini terlalu sempit"
"Maksudnya?" Hinata bingung. Dia tidak tahu apa maksud dari perkataan Yahiko.
"Lupakan! Kalau boleh mengingatkan, kamu jangan pernah melupakan Naruto dan selanjutnya terserah kamu. Kamu ingin menghabiskan waktu sendiri atau… errr kamu pasti mengerti apa yang aku maksudkan?"
"Baiklah, aku mengerti"
"Satu hal lagi. Kamu ingin tahu kehidupan masa kecilnya dulu? Jika kau ingin, datang saja ke rumah"
"Apa aku boleh membawa temanku?"
"Tentu saja boleh. Hmm, teman-temanku sudah menungguku jadi aku harus cepat. Sampai jumpa. Dah…." Yahiko berlari dan melambaikan tangannya ke Hinata
"Dah…"
Hinata melihat punggung Yahiko. Semakin lama punggung itu semakin jauh.
DEG DEG DEG.
"Kenapa ini, kenapa aku jadi deg-degan begini" Hinata heran dengan detak jantungnya. Semakin lama ia memandangi punggung itu semakin kencang pula jantung itu berdetak. Sama seperti saat Hinata pertama kali bertemu dengan Naruto. Namun bedanya karena cengiran khas Naruto lah yang dapat menggetarkan hatinya.
"Naruto, apa yang harus kulakukan? Jantung ini terus berdetak kencang. Apakah aku salah jika aku juga menyukai kakak mu karena dia mirip denganmu?"
THE END
Huaa….. T_T akhirnya ending juga.
Saya tadinya bingung mau milih sad ending atau happy ending. Dan akhirnya jadi begini deh :P. endingnya juga kurang greget. Gomenasai T_T.
Mohon review nya dan sarannya
Terimakasih untuk semua review sebelumnya, untuk para pembaca, dan untuk semuanya saya mengucapkan banyak terimaksih. Pada akhirnya saya bisa menyelesaikan cerita ini. sekali lagi terimakasih :D
