Rival or Lover?
Episode 2 : Mine
Jarum pendek jam di dinding sudah mangkal di angka 4. Acara gosip siang yang tadi sedang ditonton Malay dengan khusyuknya kini sudah berganti menjadi acara berita sore. Berita yang paling hot saat ini adalah kabut asap hadiah dari negeri yayangnya, Indonesia yang menimpa negerinya Singapore yang sudah mencapai tahap memprihatinkan. Sebenarnya sebagian negerinya yang berdekatan dengan pulau Sumatera juga kecipratan kabut asap. Untung aja doi lagi "ngendon" di rumahnya Indonesia, jadi ngga kena. He, ada untungnya juga doi jadi "imigran gelap" di rumahnya Indonesia, terselamatkan dari bencana kabut asap. Namun walaupun begitu doi turut merasakan kepedihan rakyatnya dan juga rakyat Singapore yang sedang diserbu kabut asap. Rasanya pedih perih, sepedih dan seperih perutnya yang kini mulai dangdutan lagi.
Damn, dasar perut sialan!
Yeah maklumlah, doi terbiasa makan makanan enak yang dibuat dengan sepenuh hati oleh yayangnya, Indonesia. Sangking enaknya, doi pun tak sanggup menahan nafsu untuk tidak nambah makan lagi dan lagi. Yang pasti doi baru akan berhenti makan kalau perutnya sudah tak sanggup lagi menampung makanan yang masuk alias kekenyangan. Mungkin karena sudah terbiasa mengisi perutnya sampai full tank sehingga setengah sisir pisang Ambon dan beberapa butir kacang kulit tak sanggup untuk meredakan rasa laparnya saat itu.
Demi Tuuuuhan (ala Arya Wiguna gitu#dzig), ia harus makan, ia harus mengisi perutnya yang sudah gonjang ganjing ngga karuan itu.
Sambil menahan rasa lapar to the max di perutnya, cowok berambut poni lempar itu pun beringsut ke arah dapur. Dibukanya pintu kulkas. Semilir angin dingin dari dalam kulkas bertiup ke arah wajahnya dan cowok berwajah melayu oriental itupun mengembangkan senyum. Di dalam kulkas yang kosong melompong itu, tersisa sebuah pisang Ambon. Buah berbentuk lonjong panjang berwarna kuning yang memang merupakan buah favoritnya itu terlihat sangat sexi, menggiurkan dan begitu menggoda. Ingin rasanya ia segera meraihnya, menggenggam, melucuti kulit luarnya lalu dengan penuh hasrat memasukannya ke dalam mulut untuk segera dikulum, digigit, dikunyah dan ditelan. Ia mengulurkan tangan kanannya untuk menggapai si buah sexi itu. Half way there. Ia sudah membayangkan lezatnya buah pisang yang akan melewati tenggorokannya dan masuk ke perutnya, sekedar meredam rasa lapar disana.
"Eits! Sorry, I got it first!" suara bariton yang sudah akrab di telinganya terdengar nyinyir.
Rupanya si bule Belanda berambut jabrik saingannya sudah lebih dulu mendapatkan si buah idaman. Dengan tatapan mengejek ia melambaikan si buah pisang, memprovokasi.
"Aku pemenang dan kau pecundang!" Netherlands, Si bule Belanda itupun bernyanyi ala Squidward.
Diejek sang rival tak membuat Malay jatuh mental. Dengan sigap cowok berambut lurus itu merebut apa-apa yang seharusnya menjadi hak miliknya.
Enak saja, ia yang lebih dulu membuka kulkas dan menemukan sang buah idaman sedang tergolek pasrah di dalam sana menunggu tangan hangat miliknya yang akan meraih dan menggenggamnya dengan sepenuh hati.
Enak saja, walaupun si bule jabrik sialan itu sama-sama kelaparan, seharusnya dia-sebagai nation yang paham hukum-lebih paham ungkapan, "Sesama Pria Kelaparan Dilarang Saling Mendahului".
''Hap!" Tangan mungilnya berhasil menggapai si buah idaman. Kini posisi menjadi seri. Tangan mungilnya berhasil mengklaim wilayah atas si buah pisang, sedangkan tangan besar milik sang rival berhasil mengklaim wilayah bawah si buah pisang. Keduanya menebar pandangan penuh provokasi. Dengan sekuat tenaga dua orang pria beda negara itu berusaha merebut si buah pisang.
"This is mine, you jerk!" umpat Malay yang sebel banget liat wajah puas si bule saingannya.
"No way, this is mine, you idiot! " Netherlands ngga mau kalah, doi berusaha mencari kata-kata umpatan yang lebih dahsyat.
"Mine!" Si bocah melayu mencoba menggertak rivalnya dengan satu tarikan kuat ke arahnya. Namun tubuh besar sang rival tak mudah ditaklukan dengan sekali tarikan saja. Buktinya, tubuh besar berkulit pucat itu masih tak bergeming. Tetap dengan pendiriannya, mempertahankan si buah Pisang sampai titik darah penghabisan.
"M-I-N-E!" Sang rival yang memang bertubuh lebih tinggi dan besar itu membalas dengan satu tarikan kencang. Tubuh mungil Malay pun tak kuasa menahannya. Doi tertarik ke arah tubuh Netherlands dan menabrak dada bidang si bule. Namun genggamannya masih erat melingkari tubuh si buah Pisang.
"Uugghhhh…!" kini keduanya saling menebar death glare sambil tetap menggenggam erat si buah Pisang.
Tahu lagunya Doel Sumbang & Nini Carlina berjudul ''Kalau Bulan Bisa Ngomong''? Mungkin lagu itu sangat cocok dalam kondisi ini, "Kalau Pisang Bisa Ngomong". Yeah, kalau saja Pisang itu bisa ngomong mungkin doi akan berteriak, "Tolooong, aku galau~". Doi galau, bingung, apakah memilih untuk berlabuh ke dalam mulut sang cowok manis berwajah melayu oriental dengan poni yang terbelah pinggir, ataukah ke mulut si cowok bule macho dengan rambut ala bunga Tulip? Dan kegalauan si buah Pisang itupun akhirnya berakhir ketika dua orang partner Indonesia itu dengan sekuat tenaga menariknya ke arah yang berlawanan. Si buah Pisang yang semula berwujud lonjong panjang itupun, kini terbelah dua, remuk redam, tak berbentuk lagi.
Itulah akhir tragis si buah Pisang di tangan dua pria kelaparan.
"Damn!" Malay mengutuki buah idamannya yang kini belepotan di telapak tangannya. Impiannya makan sebuah Pisang Ambon utuh nan lezat musnah sudah. Tapi lumayan lah, ada sedikit sisa-sia yang bisa ia makan untuk meredam rasa lapar di perutnya.
Ia melirik si bule saingannya yang juga tengah melahap buah Pisang yang belepotan di tangannya dengan kalapnya. Memalukan! Dua orang laki-laki gagah yang kelaparan, lalu berperang demi sebuah Pisang Ambon, lalu berakhir dengan menjilati tangannya sendiri yang belepotan Pisang Ambon bonyok.
It sucks!
TBC
-00000-
Mau tahu lanjutannya?
Mau tahu aja atau mau tahu banget?
