Episode 4 : Dream
Warning : mature theme, self pleasure, wet dream, dll
PS : Becareful ya. Kali ini temanya 18+. Kalau ngga sanggup baca lebih baik ngga usah dibaca. Jangan terlalu serius dibaca. Anggap santai aja ya^^
Credit :
Angka Satu-Caca Handika (dangdut song)
Perdamaian-Gigi band
"Aku pulang.." suara lembut milik si pemuda berambut ikal terdengar lelah. Menunaikan tugas di negeri orang selama 1 minggu tentu saja melelahkan.
"I'm glad you're home…" tubuh lelah itu langsung disambut pelukan rindu dari pemuda yang serupa dirinya. Pelukan yang teramat sangat erat, seolah tak ingin melepaskannya lagi. Si pemuda ikal mencoba melonggarkan pelukan kekasihnya. Tubuhnya terasa lengket. Rasanya pasti menyenangkan jika ia segera mandi air hangat dan berganti pakaian.
"E-eh, Malay, gue mau mandi dan ganti baju du-"
Terlambat, bibir si pemuda berambut ikal itu sudah terlanjur disumpal ciuman penuh gairah. Ia tak bisa mengelak ketika seluruh bibirnya telah terkunci dan tak bisa melarikan diri. Tubuh mungilnya didesak ke arah dinding. Dalam sekejap, pakaian yang melekat di tubuhnya itu lenyap. Lalu tubuhnya ditarik ke dalam lautan api penuh hasrat yang meluap-luap.
...
"Mmmhhh,...'Ndon,..."
Malaysia, si pemuda berambut lurus berponi lempar itu tersadar dalam kondisi masih setengah mengantuk. Tangannya mencoba menggapai tubuh slim but sexy yang tadi ada di dalam pelukannya. Dicari kesana-sini namun tak ketemu juga sungguh membuatnya mengerang putus asa. Dengan mata yang masih terasa berat, akhirnya ia berusaha bangun juga. Alangkah kagetnya doi ketika terbangun. Bukannya menemukan sang yayang yang tadi asyik dicumbunya, doi malah mendapati sprei tempat tidurnya dalam keadaan basah-koreksi-lebih tepat disebut banjir. Begitu juga dengan celana yang dikenakannya.
Si pemuda melayu itu tercekat.
"Ja-jadi tadi itu...cuma mimpi!?"
...
...
...
Wajah si pemuda melayu itu menyembul dari balik pintu kamar. Tengok kiri tengok kanan. Setelah mendapati keadaan aman, tubuh mungil itu beranjak keluar dari balik pintu kamarnya. Langkahnya tersendat oleh bawaannya yang lumayan berat. Owalah, rupanya doi menggotong sprei tempat tidurnya yang "kebanjiran" tadi plus beberapa potong pakaian kotor miliknya.
"Sialan!" umpatnya.
Di ujung lorong kamar, doi kembali celingak celinguk, khawatir kepergok sama saingannya, siapa lagi kalau bukan si bule jabrik yang tidur di kamar di ujung lorong. Sehari-hari mereka memang selalu tidur bertiga di kamar utama tapi selama yayangnya ngga di rumah, mereka berdua memutuskan "pisah ranjang" sementara. Untung aja rumah Indonesia besar en punya banyak kamar tidur sehingga salah satu dari mereka ngga perlu gelar tikar di ruang tamu.
Malay berjalan pelan sambil berjinjit di depan kamar yang ditempati Netherlands. Pelan ia menempelkan telinganya di pintu kamar. Sepi. Sepertinya si jabrik belum bangun. Doi memang terkenal susah bangun pagi. Doi baru bisa bangun kalau sarapan pagi yang dibuatkan Indonesia sudah matang dan aroma lezatnya menyeruak ke penjuru rumah.
"Aman jaya, hehehe..." Malay terkekeh lalu melanjutkan perjalanannya menuju kamar mandi belakang.
Doi berniat langsung mencuci "barang bukti" yang memalukan itu. Jangan sampai saingannya dan juga seluruh dunia tahu bahwa sangking kangennya doi sama yayangnya, sampai-sampai mimpi banjir! Apalagi kalau sampai Singapore dan konco-konconya dari Fujodanshi Club itu tahu, wakk, bisa heboh dunia persilatan! Bisa-bisa di majalah Fujoshi Weekly Magazine terpampang wajahnya dengan headline besar berhuruf kapital "Kepergian Indonesia Akibatkan Banjir Besar di Malaysia". Tengsin!
Setelah tergopoh-gopoh membawa "buntelan"nya ke kamar mandi belakang, pemuda berwajah melayu oriental itu dikejutkan oleh penampakan sosok misterius di pojokan dekat mesin cuci. Sosok besar itu sepertinya membawa barang bawaan yang banyak.
"Netherlands!?" seru Malay kaget.
Di pojokan dekat mesin cuci, Netherlands si bule Belanda saingannya itu sedang mengangkut buntelan besar. Ada 2 sprei tempat tidur, selusin kaos lengan buntung, 5 potong celana pendek, sepotong jeans belel dan beberapa potong celana kolor.
"E-eh!?" si bule berbadan besar itu gelagapan sendiri sewaktu ditegur si pemuda melayu.
Dari kejauhan, Malay meneliti pakaian kotor milik Netherlands. Sprei berwarna biru abu-abu itu tampaknya basah. Begitu juga dengan yang berwarna kuning, sepertinya basah. Malay pun nyengir lebar.
"Abis mimpi basah ya semalam, hehehe..." ejeknya puas.
Diejek seperti itu oleh rivalnya bikin Netherlands tambah gelagapan. Butuh waktu beberapa detik baginya untuk bisa mencounter balik.
"Ba-baju kotor gue udah menggunung nih, jadi hari ini mesin cucinya gue booking ya." kilahnya asal.
Malaysia maju mendekati wajah si bule Belanda berambut jabrik itu sambil mesem-mesem. Doi nunjuk-nunjuk 2 lembar sprei yang kelihatan basah di belakang kaki Netherlands.
"O-oh i-ini, semalam atap di kamar gue bocor, trus netes jatuh ke sprei jadi basah begini deh," kilah Neth sekenanya. Doi kayanya udah bingung mau cari-cari alasan apa lagi.
Malaysia masih mesem-mesem mesum. Doi tahu banget kalau semalam ngga turun hujan sama sekali. Doi juga tahu betul kalau atap kamar yang ditempati si bule itu ngga bocor.
"Ahahaha, Netherlands semalam mimpi basah! Gue bilangin Singapore aaahhh, biar masuk berita majalah Fujoshi Weekly Magazine!" Malay langsung bersiap ngacir kesenengan.
"Ugh, sialan loe, bocah!"
Nether yang merasa kewibawaan dan ketahanan nasionalnya bakal terancam itu langsung sigap mengejar si bocah tengil kurang ajar itu.
"Weekk!" Malay ngacir sambil mengacungkan jari tengah merasa menang dari saingannya.
Namun untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak. Malay yang sudah berlari lebih dahulu, kakinya keserimpet sprei kotornya sendiri dan kehilangan keseimbangan. Sementara Netherlands yang sudah terlanjur lari dengan kecepatan tinggi, tak bisa mengerem mendadak. Alhasil tubuh besar Netherlands sukses menabrak tubuh mungil si bocah tengil di depannya. Merekapun jatuh berguling saling bertumpukan. Netherlands mengusap hidung mancungnya yang terantuk kepala belakang Malay. Begitupula Malay yang menjerit sakit pinggang akibat ditimpa gorilla berambut Tulip.
"Minggir loe, Bocah!" Nether mendorong tubuh langsing Malay.
"Sialan, 'kan loe yang nimpahin gue, jabrik!" Malay bersungut-sungut sambil mengelus pinggangnya yang hampir patah.
"Hmm?" tiba-tiba Netherlands menemukan sesuatu yang menarik. Selembar celana kolor motif garis-garis merah-biru yang tampak sangat basah menyembul di antara tumpukan pakaian kotor milik rivalnya.
"Apa ini?" ditariknya benda ajaib itu.
"Eeeeuhh..i-itu!" Malay langsung panik menyadari barang bukti yang hendak dihilangkannya itu malah ditemukan oleh saingannya.
Sekarang gantian Netherlands yang mesem-mesem mesum. Dengan semangat '45 diacungkan celana kolor milik Malay itu tinggi-tinggi dan berteriak
"Singapooore..! Aku punya berita yang menarik!"
Malaysia pun ngga mau kalah. Secepat kilat diambilnya 2 sprei kotor milik Netherlands sambil balas teriak.
"Gue juga punya berita yang ngga kalah heboh!"
Keduanya lalu saling tatap dengan tatapan penuh intimidasi sambil memegangi barang bukti milik saingannya masing-masing.
Lima menit berlalu dan tak ada satupun yang menyerah. Semuanya bersikeras menjatuhkan rivalnya.
"Hhhhhffftt,...ya udah, kalau gini caranya, kita berdua bakalan jadi headline majalahnya Hungary itu deh..." Netherlands menghela nafas pasrah.
"Dan jadi bulan-bulanan di acara rapat PBB..." timpal Malay.
Terbayang oleh keduanya betapa hina dan memalukannya saat Singapore en Fujodanshi Club asuhan Hungary dan Japan menginterview mereka berdua perihal "mimpi banjir bandang" plus menampilkan barang bukti nista milik mereka berdua di hadapan ratusan pasang mata nation dari seluruh dunia dalam acara Rapat PBB. Bukan hanya itu, mereka bahkan mencari sponsor kesana-kesini untuk ikut ditampilkan pada acara spesial interview dengan mereka berdua yang ditayangkan khusus live selama 3 jam. Sponsornya mulai dari produk alat kontrasepsi, makanan ringan, minuman bersoda sampai diaper dewasa!
Keduanya menarik nafas.
"Gencatan senjata..." ujar keduanya berbarengan.
Akhirnya mereka menyadari bahwa perdamaian itu indah. Dari kejauhan terdengan lagu Perdamaian yang dinyanyikan Gigi band. Perdamaian perdamaian, perdamaian perdamaian, banyak yang cinta damai tapi perang semakin ramai~
Keduanya duduk di lantai sambil memilah-milah pakaian kotor masing-masing.
"..."
"..."
"Cucian loe banyak bener?" suara Malay memecah kesunyian.
"Yeah, maklum gue sering ganti kaos, soalnya iklim di sini panas banget, beda sama di negeri gue..." keluh Netherlands.
Malaysia jadi ingat bahwa dia sering kali memperhatikan betapa mengkilatnya kulit Netherlands. Rupanya itu penyebabnya.
Malaysia memperhatikan gerak-gerik Netherlands ketika si bule itu memilah pakaian kotornya. Ada 2 tumpuk pakaian. Sprei yang basah ia tumpuk di sisi kiri, sedangkan baju kotor lainnya ia tumpuk di sisi kanan. Tumpukan baju kotor yang berada di sisi kanan ia masukan ke dalam kantong plastik. Setelah itu si bule berbadan besar itu memasukan sprei basah tadi ke dalam mesin cuci, menyalakan air dan memasukan sesendok deterjen ke dalam tabung mesin cuci. Tak lama kemudian terdengar suara deru pertanda mesin sudah menyala. Tak lama ia beranjak berdiri sambil membawa kantong plastik tadi.
"Kenapa ngga dicuci sekalian?" tanya Malay heran. Toh kapastitas mesin cucinya cukup besar, batin si pemuda melayu.
"Oh ini. Ini mau dilaundry sama Vietnam.." ujar Nether santai.
TING TONG TING TONG
Terdengar suara bel berbunyi.
"Ah, itu dia udah datang, see you.." dengan santainya Netherlands berlalu meninggalkan Malay sambil membawa kantong plastik berisi pakaian kotor tadi.
Penasaran Malay membuntuti Nether sampai ke ruang tamu. Benar saja, Vietnam, si sipit berambut panjang diikat belakang yang selalu memakai topi caping itu dengan sumringah menerima kantong plastik dari Netherlands. Setelah cuap-cuap sebentar, ia pun pergi. Netherlands mengedipkan sebelah matanya genit. Dibalas senyum manis oleh gadis berambut hitam itu.
"Nah, sekarang gue bisa santai-santai lagi..." ujar Nether berlalu di depan Malay.
"Da-dasar kompeni!" kutuk Malay ngga habis pikir dengan bule Belanda yang selalu saja memperbudak orang itu. Dia juga ngga habis pikir hanya dengan modal kedipan genit, mau-maunya Vietnam dibudakin wong Londo satu itu! "Mau ditaruh dimana harga diri kita sebagai orang Asia Tenggara!?" jerit Malay dalam hati.
-00000-
Netherlands masih tetap setia dalam posisi santainya di sofa ruang tamu, membolak-balik majalah sementara tangannya menggenggam softdrink yang kemarin dibelikan oleh trio tuyul di minimarket sebelah rumah. Malaysia yang sejak pagi berniat mencuci pakaian kotornya sebagai wujud penghilangan barang bukti kejadian mimpi banjir semalam, yang malah keduluan rivalnya itu kini dengan sangat terpaksa menunggu cucian si bule itu selesai. Doi akhirnya ikutan nongkrong di depan TV sambil minum teh manis.
"Semalam sampe 'banjir' ya, Coy?" tanya Nether. Maksudnya cuma nanya tapi malah terdengar mengejek.
"Sesama korban 'banjir' dilarang saling ejek!" Malaysia sebel banget.
Netherlands menyeringai.
"Oh kalau gue sih bukan korban banjir. Sengaja gue bikin banjir"
Malaysia mengangkat alis, mencoba mencerna kalimat rivalnya barusan.
"Maksud loe?"
"Ya...gitu deh." Nether tersenyum penuh misteri.
Tiba-tiba saja wajah Malay memerah. Ia membayangkan Netherlands yang sedang melakukan self pleasure. Jemari tangannya yang besar sedang sibuk menelusuri sensitive spot miliknya sambil terus membayangkan wajah kekasih tercintanya. Sampai akhirnya di satu titik puncak, ia tak bisa menghentikan gejolak itu lalu...
Wajah Malaysia semakin memerah.
"Da-Dasar mesum!"
Ia melempari wajah Netherlands dengan koran lalu ngacir ke kamar mandi belakang. Sementara sang korban penimpukan koran misuh-misuh ngga karuan. Doi protes akibat perbuatan si bocah gemblung, poninya yang sudah ditata rapi dengan hair gel jadi acak-acakan.
Malaysia yang sudah berhasil sampai di kamar mandi belakang masih tercenung dengan kalimat rivalnya barusan. Self pleasure. Selama ini ia belum pernah melakukannya. Entah kenapa ketika sang rival mengatakan hal tersebut sambil tersenyum tadi, pikirannya jadi mengawang-ngawang. Ia jadi teringat mimpi semalam yang menyebabkan ia "kebanjiran". Sialan, ini pasti gara-gara yayangnya yang tak kunjung pulang. Akibatnya kepalanya jadi pusing. Mungkin karena terlalu kangen pada sang yayang, perasaan itu jadi terbawa ke dalam mimpi.
Malaysia memejamkan matanya. Terbayang segurat wajah manis kekasihnya sedang tersenyum manis sembari menatap dirinya. Semilir angin meniup untaian hitam ikal itu. Beberapa helai ikal itu berjatuhan menutupi dahi dan juga pipinya. Tatapan matanya begitu hangat. Bibir kemerahan lagi basah itu merekah dalam diam.
Pemuda Asia Tenggara berambut lurus itu merasakan debaran mesra di jantungnya. Betapa ia ingin merengkuh bibir lembut itu lalu menyatukannya dalam pertemuan yang hangat dengan bibir miliknya. Membelai tubuh itu, memeluknya, menghirup dalam-dalam aroma khas tubuh itu, membelai setiap helai untaian hitam di kepalanya.
Tangannya mulai merayap ke bagian tubuhnya yang paling sensitif. Menelusuri setiap jengkalnya dengan napas terengah. Perlahan muncul guratan merah rona di kedua pipinya seiring tarikan napas yang semakin cepat.
"Indon...mmm.."
Malaysia masih memejamkan matanya, asyik berfantasi dengan imagi erotis di pikirannya.
"Aaghh.."
Ia merasakan sesuatu yang keluar meluap-luap dari bagian bawah tubuhnya. Menyembur kencang dengan beberapa kali sentakan, lalu perlahan mengalir lembut menghabiskan sisa-sisa tetesannya.
Pemuda Asia Tenggara itu terduduk lemas. Napasnya masih terengah-engah setelah peristiwa barusan. Matanya menatap kosong ke depan. Ia masih belum percaya apa yang telah ia lakukan tadi. Jadi, ini yang dinamakan self pleasure, batinnya bertanya-tanya. Dan ia pun hanya bisa melongo, speechless, demi merasakan sensasi baru yang belum pernah dirasakannya selama ini. Dan ia pun masih belum menyadari kalau ia "kebanjiran" lagi.
BEEP BEEP BEEP
Terdengar suara mesin cuci pertanda proses pencucian sprei milik Netherlands sudah selesai. Si empunya sprei pun datang menuju mesin cuci bergegas mengangkat cuciannya. Doi terkejut ketika mendapati si bocah sotoy, Malaysia, saingannya sedang terduduk lemas di dekat dinding, ngga jauh dari mesin cuci. Wajahnya memerah dengan tatapan kosong, melongo, cengo seperti korban pencopetan di jalan.
"Kenapa loe, Coy?" tanya Netherlands keheranan sambil mengambil sprei dari dalam mesin cuci lalu memasukannya ke dalam ember.
Tak ada sahutan dari lawan bicaranya.
Si bule Belanda itu melirik, mencoba meneliti apa yang sebenarnya telah terjadi pada diri bocah satu itu. Ketika irish hijaunya terpaku pada setetes cairan putih yang menampakan diri di antara sela-sela paha pemuda berambut poni lempar itu, barulah ia paham apa gerangan yang telah terjadi.
"Gimana rasanya, Coy?" Nether senyam senyum mesum sambil meledek Malay. Wajahnya mendekati wajah Malay sambil mengedip nakal dan tertawa kecil. Sementara subjek yang diledek masih belum mudeng. Tatapannya masih kosong. Rupanya doi masih terbang di awang-awang sangking dahsyatnya pengalaman pertama tadi.
"Yah..emang kalo baru pertama kali suka kaget begini deh..." ujar Nether sotoy. Ia pun beranjak pergi sambil menggotong ember berisi sprei miliknya.
Sementara Malaysia yang ditinggal sendirian mulai timbul kesadarannya. Perlahan ia berhasil menguasai diri dari efek dahsyat self pleasure yang dilakukannya tadi.
"A-aduh, dengkul gue gemeteran..." keluhnya sambil mengelus dengkul tercinta. Perlahan doi berusaha bangun sambil berpegangan tembok.
Refleks, tangannya langsung memeriksa bagian bawah tubuhnya yang "kebanjiran" maning.
"Ba-basah..sial!" umpatnya tengsin.
Akibatnya baju kotor doi nambah lagi. Dengan berat hati, doi terpaksa harus menanggalkan celana yang dikenakannya en melemparnya ke tumpukan pakaian kotor untuk dicuci. Untung aja ada kain sarung butut nganggur yang nyantol dengan indahnya di kapstok dekat mesin cuci. Entah punya siapa, mungkin juga punya yayangnya, Indonesia yang emang hobi banget pake sarung kalau mau bobo. Oh, terpujilah sarung butut! Untungnya ada dirimu, karena kalau ngga ada dirimu, Malay terpaksa nyuci baju dalam keadaan "bottomless" dan itu bakal jadi sasaran ejekan yang empuk bagi Netherlands. Bahkan lebih parah lagi kalau ada anggota Fujodanshi Club yang nekad menyelinap masuk ke dalam rumah lalu menemukan Malay dalam kondisi yanag sangat seksi seperti sekarang, lalu diam-diam memotretnya untuk kemudian dimasukkan dalam headline news majalah nista mereka. Bisa tamat riwayatnya!
Dengan kondisi dengkul yang masih gemetar, Malay mulai memasukkan pakaian kotornya ke dalam mesin cuci, menuangkan deterjen, menyalakan air keran lalu memencet tombol start. Namun sungguh sial nasib kawan kita yang satu itu. Setelah dipencet berkali-kali si mesin cuci tak kunjung menyala jua.
"Sialan, sialan, kenapa ngga mau nyala!?" Malay langsung naik pitam. Sangking emosinya doi menggebrak si mesin cuci dengan sekuat tenaga. Alhasil, bukannya menyala, si mesin cuci malah ngambek en rusak, ngga bisa digunakan lagi.
"Alamak jang, terus gue nyuci baju pake apaaaa?" Malay jadi hopeless. Hampir aja doi nangis bombay. Udah kepala pusing, kangen yayang ngga pulang-pulang, "kebanjiran", dengkul gemetaran, pakaian kotor segunung, mesin cuci pake ikut-ikutan mati pula! Lengkaplah sudah hidup ini!
"Terus gue mesti bilang WOOOOOWWWWW gituuuuu! Arrrghhhh!" Malay tidak bisa menguasai emosi. Ia menjambak-jambak rambutnya sendiri.
Dari ruang tamu Netherlands mendengar suara barang-barang berjatuhan. Ia heran padahal sepertinya tidak ada gempa bumi, yeah walaupun di rumahnya Indonesia memang sering ada gempa bumi sih. Tak lama terdengar suara teriakan-teriakan penuh amarah yang sudah sangat ia kenal. Sang bule mencopot earphone-nya sebentar, mencoba meneliti asal suara-suara penuh amarah tersebut, lalu memasang earphone-nya kembali. Ia kembali asyik dengan majalah yang dibacanya.
...
...
...
"Masak, masak sendiri, makan, makan sendiri, nyuci baju sendiri, tidur pun sendiri..." terdengar suara nyanyian-yang malah terdengar seperti suara curcol orang yang merana-dari mulut Malay.
Malaysia mengucek baju yang berlumuran busa sabun sambil duduk di bangku jongkok. Disikatnya baju itu di atas papan penggilasan. Busa sabun beterbangan ke segala penjuru. Ada beberapa yang muncrat ke wajah dan rambutnya. Ia mengucek matanya yang perih terkena busa sabun, tapi doi lupa kalau tangannya juga penuh dengan sabun. Alhasil bukannya hilang, malah tambah perih. Air mata pun bercucuran deras dari mata si bocah gemblung satu itu.
"Huhuhu...Indoooonnn, cepetan pulaaannnggg..!"
Tangisan putus asa Malay pun meledak. Sangking dahsyatnya, busa sabun pun ikut-ikutan menyembur kemana-mana. Sementara di ruang tamu, Netherlands tertidur pulas dengan telinga yang masih tersumpal earphone.
TBC~
