#Cuap-cuap author :

Makasih banyak bagi yang masih mengikuti fict ini. Daku sangat terharu, huaaaa..(lebeh!). Btw, di episode 5 ini daku munculin Benelux Siblings tapi versi daku sendiri gitu deh. Mungkin beda sangat dengan versinya om Hide. Yeah, namanya juga fanfict yang OOC sangat (bisa aja ngelesnya). Disini Luxembourgnya jadi cewek, padahal seharusnya doi adalah cowok ganteng. Maafkan daku yah para fansnya Luxie, semoga daku ngga disantet. Kalau fict ini banyak kekurangan, daku mohon dimaafkan ya.

Mau dilanjut bacanya?

Monggo...


Episode 5 : Gardening

Sebelum terbang ke Kolombia Selatan, Indonesia berpesan pada kedua suaminya supaya tidak lupa merawat tanaman di kebunnya. Jangan lupa juga memberi makan Si Komo, komodo peliharaan Indonesia yang ada di halaman belakang rumahnya dan ikan mas koki yang ada di aquarium bulat hadiah dari Japan.

Memberi makan Si Komo, checked

Memberi makan ikan mas koki, checked

Merawat tanaman di kebun…eum

Netherlands en Malaysia saling bertatapan. Di hadapan mereka terbentang halaman seluas 5 hektar yang ditanami bermacam-macam tanaman eksotis. mulai dari Melati (Jasminum sambac) yang didaulat sebagai Puspa Bangsa, Anggrek Bulan (Phalaenopsis amabilis) sebagai Puspa Pesona sampai Patma raksasa (Rafflesia arnoldii) sebagai Puspa Langka yang hanya berumur sekitar satu minggu (5-7 hari) dan setelah itu layu dan mati. Masih ada lagi tanaman yang menjadi flora khas setiap propinsi di negerinya, seperti Cempaka (Michelia champaca) atau biasa disebut Bungong Jeumpa di Nanggroe Aceh Darussalam, Kenanga (Cananga odorata) yang mewakili Sumatera Utara, Sedap malam (Polyanthes tuberosa) mewakili Jawa Timur, Lontar (Borassus flabellifer) mewakili Sulawesi Selatan sampai Matoa (Pometia pinnata) dari Papua Barat. Semuanya ada disini.

Netherlands menghela napas. Andai saja ada kantong ajaib Doraemon yang bisa mengeluarkan "Robot Perawat Kebun", dalam sekejab, halaman yang luasnya ampun-ampunan itu pasti sudah bersih terawat. Andai saja Netherlands bisa menemukan pekerja seperti era Cultuure Stelseel alias tanam paksa dahulu pastilah pekerjaan menyusahkan ini sudah beres. Namun, di era kemerdekaan seperti ini pastilah ia kena semprot lembaga HAM internasional di PBB. Dulu saja sistem itu diprotes keras oleh banyak kalangan di Belanda sehingga dihapus dan diganti dengan Politik Etis yang dipelopori oleh Van Deventer, apalagi sekarang. Bisa-bisa ia dikeroyok oleh negara-negara di dunia! Netherlands masih berusaha memutar otak, mencari calon mangsa yang tepat untuk bisa disuruh menyelesaikan pekerjaan berat itu. Trio tuyul, Laos, Myanmar, Cambodia? Sepertinya ngga. Ia kembali tenggelam dalam pikirannya.

Malaysia masih asyik terbengong-bengong menatap halaman rumah kakak merangkap kekasihnya itu. Bagaimana mungkin merawat seluruh tanaman di halaman yang sangat luas itu, menyapu, menggunting dahan en memberi pupuk saja belum pernah ia lakukan. Paling banter, ia hanya pernah membantu Indonesia menyiram tanaman yang paling dekat dengan pintu rumah. Peristiwa itupun sudah lama terjadi. Itupun lebih banyak mainnya daripada bekerjanya. Bukannya menyiram tanaman dengan serius, ia malah iseng menyemprot air ke tubuh kakaknya yang sedang nungging memberi pupuk pada bunga Matahari. Sebagai hadiah dari perbuatan "mulia"nya, sang kakak tercinta memberi hadiah jeweran di telinga sebelah kanannya.

Keduanya menghela napas putus asa. Netherlands tidak kunjung menemukan calon mangsa yang tepat, sedangkan Malaysia sudah ngga tahu harus ngapain lagi.

"Ya udah, kita bagi tugas aja, loe ke bagian kanan, gue ke bagian kiri." ujar Neth sembari membawa sapu lidi, gunting rumput dan sekop. Kalau untuk urusan berkebun doi udah terbiasa karena sering merawat Tulip di kampungnya.

"Te-terus gue ngapain?" tanya Malaysia bingung sambil gelendotan di gagang sapu.

"Yeah, ngapain kek, nyapu kek, nyabut rumput kek, nungging kek, terserah loe!" jawab Nether sekenanya lalu ngacir meninggalkan Malay yang masih garuk-garuk kepala bingung.

-000-

Setelah berjibaku selama 3 jam merawat halaman rumah sang kekasih tercinta, akhirnya 2 suami beda negara itu kembali dari "medan perang". Si suami berkebangsaan Eropa kembali pulang dalam keadaan penuh luka baret bekas terkena goresan di sekujur tangan berkulit pucat plus pinggang yang kumat encoknya. Maklum, faktor U alias sudah UZUR! Suami yang satunya lagi kembali pulang sembari ngesot sangking capeknya. Doi rupanya kesasar, ngga bisa menemukan jalan pulang. Setelah keliling sana sini sampai ngga kuat jalan lagi, akhirnya doi berhasil menemukan jalan pulang juga, walaupun sambil ngesot. Mereka berdua beristirahat di beranda rumah.

Si bule berbadan besar berambut menyerupai Tulip itu mengusap luka-lukanya yang terasa perih. Sesekali ia meringis menahan sakit. Peluh mengalir deras di sekujur tubuhnya mengakibatkan kulit pucatnya terlihat licin mengkilap. Bahkan kaos lengan buntung berwarna biru keabu-abuan yang dikenakannya itu basah kuyup.

"Ahh..aww!" ia mengerang kesakitan sambil memegangi pinggangnya, "a-aduh, encok gue kumat," rintihnya memelas.

Sementara rivalnya yang bertubuh kecil di sampingnya wajahnya sudah ngga karu-karuan, belepotan debu dan lumpur, bajunya terkoyak. Doi terkapar di lantai, ngga berdaya.

"Gu-gue nyerah..." ujarnya lemah.

-000-

"Belgie, Luxie, pokoknya kalian harus datang, aku ngga mau tahu caranya gimana, pokonya kalian harus datang ke rumah my honey sekarang juga...!" Netherlands yang terkapar sekarat di ruang tamu itu sedang sibuk menelpon sodara-sodaranya. Mereka adalah Belgium, gadis manis dengan rambut ikal yang selalu memakai bando berwarna merah en Luxembourg, gadis feminim berambut pirang panjang. Keduanya adalah saudara sewilayah geografisnya Netherlands. Setelah mendapat telepon dari abangnya yang terdengar sedang menderita itu, 2 jam kemudian Belgium en Luxembourg tiba di rumah Indonesia dalam keadaan selamat (bokis banget, padahal aslinya bisa nyampe 20 jam!). Mereka terkejut bukan main melihat kondisi abangnya yang luka-luka.

"Broer, jou kenapa?" tanya Luxie khawatir. Ia langsung berprasangka buruk kalau Indonesia suka main S & M.

"Broer, jou abis main perang-perangan sama Broer Indonesie dalam rangka mengenang 17 Agustusan?" tanya Belgie ngaco.

Netherlands yang seneng banget gara-gara dibesuk sibling nya itu, langsung pasang gaya kesakitan yang lebay.

"Aku begini karena berusaha menyelamatkan my honey yang hampir dimakan komodo peliharaannya kemarin. Untung aja my honey ngga apa-apa, kalau dia sampai terluka, aku ngga bisa memaafkan diriku sendiri yang ngga bisa melindungi orang yang aku sayang..." Netherlands mengarang bebas. Langsung dibalas dengan tatapan penuh haru oleh 2 orang sodaranya.

"Oooh, je bentechte held...Broer, benar-benar pahlawan sejati.."

Ngookk. Malaysia yang tergeletak hampir semaput ngga jauh dari situ langsung mules mendadak demi mendengar cerita karangan rivalnya. Doi ingat banget waktu tadi ngasih makan Si Komo, komodo peliharaan yayangnya, Netherlands sempet dipelototin Si Komo. Binatang khas Nusa Tenggara Timur itu bahkan sempet ngamuk en mau menggigit bule jabrik itu. Binatang juga tahu mana nation yang hatinya kompeni en mana nation yang hatinya putih suci laksana melati. Buktinya waktu Malaysia yang ngasih makan Si Komo, binatang melata itu asyik-asyik aja.

"Broer, kasihan jou luka-luka begini, sini ik obatin." Belgie nyari-nyari kotak P3K, tapi karena bukan rumahnya sendiri jadi ngga ketemu juga. Akhirnya karena putus asa, doi nanya juga ke Malaysia yang lagi terkapar di sofa.

"E-eh- de doos-isin de-de..." Malay grogi juga ditanyain bule. Kelihatan banget kalau doi ngga fasih bahasa Belanda. Doi cuma sesekali aja dengerin Netherlands cuap-cuap pakai bahasa Londo sama yayangnya yang bahasa Belandanya lebih mendingan dibanding dirinya.

"Ana ing ngendi? Ada dimana?" tanya Belgie dalam bahasa Jawa logat Suriname.

Malay sweatdrop. Cakep-cakep logatnya medhok.

"Deket telepon.." ujar Malay keki. Capek capek ngomong pakai bahasa Londo, ngga taunya doi bisa bahasa Jawa!

Belgie melenggang mengambil kotak obat dimaksud. Sementara Luxie membersihkan luka-luka di tangan abangnya dengan kain yang dibasahi air hangat.

"Feel good?" tanya Luxie sambil menatap hangat ke wajah abangnya.

"Hmm..." Netherlands mengangguk sambil geliat geliut di pangkuan Luxie.

Malay cengo demi melihat wajah Netherlands yang biasanya licik selicik Swiper si serigala di film Dore the Explorer tapi sekarang berubah 180 derajat jadi cute kaya mukanya Shaun The Sheep.

"Da-dasar serigala berbulu domba!" batin Malay eneg.

Kembali kepada Netherlands yang sedang dirawat 2 sibling nya. Setelah luka-lukanya selesai dibersihkan Luxie, Belgie membalut tangan abangnya yang berkulit pucat itu dengan perban. Luxie kemudian ganti posisi. Sekarang ia berlutut sambil membersihkan luka di kaki Netherlands.

"Emang sih gue luka-luka, tapi diperbannya ngga kaya gini juga kali..." Netherlands angkat suara.

Owalah, sangking seriusnya membalut perban, Belgie lupa kalau abangnya hanya luka baret ringan. Sangking seriusnya, doi membebat tangan abangnya ala orang patah tulang.

"Ahahaha, sorry, Broer, ik salah perban!" kelakar Belgie yang langsung disambut tawa oleh Luxie.

Netherlands sweatdrop. Doi tahu banget kalau Belgie lagi ngerjain dia. Dari dulu itu anak ngga pernah berubah, senang banget godain abangnya.

"Sory, sorry, sini ik bongkar lagi.." sahut Belgie kesenengan.

Kali ini doi berencana membebat abangnya ala mummy style.

"Belgieeee, ik ben nieteen mummie, aku bukan mummy!" Nether langsung keluar tanduknya gara-gara dikerjain melulu.

"Ahahaha, sorry, sorry, Broer, alstublieft wees nietboos, please don't be angry!"

Belgium en Luxembourg yang kesenengan karena berhasil membuat abangnya kesal itu langsung cubit-cubit pipi bule jabrik yang menggembung ngambek itu.

"Mijn schattige broer..my cute brother," mereka berdua jejeritan heboh sementara Netherlands mukanya memerah tengsin. Udah bangkotan begini masih aja digodain.

"Maafin ik ya, sini ik pijit biar encoknya Broer sembuh.." rayu Belgie seraya melumuri punggung en pinggang abangnya dengan minyak lalu memijit perlahan.

"Nah, Broer, istirahat aja, nanti ik buatkan makanan." ujar Luxie.

Netherlands langsung berbinar-binar membayangkan ngga lama lagi bisa makan makanan lezat khas kampungnya. Oh, bahagianya dia hari ini!

Malaysia yang terkapar di sofa ngga jauh dari trio siblings, terus memperhatikan kehebohan tiga mahluk bule itu. Ia merasa agak iri. Senangnya Netherlands bisa dibesuk oleh sodaranya, bisa dirawat dengan penuh kasih sayang, bisa bercanda, bersenda gurau bersama. Ah, andaikan ada saudara yang mau menjenguk en merawatku dengan penuh kasih sayang, batin Malay.

"Ah!" ia terlonjak dari sofa. Sebuah ide muncul di otaknya.

...

...

...

"Singapore, please, please kesini sekarang juga, gue sakit berat, butuh perawatan ICU segera.." terdengar suara berlogat khas Melayu bernada memelas sedang sibuk menelpon.

"Tadi pagi gue hampir diterkam Si Komo waktu mau ngasih makan. Padahal biasanya doi asyik-asyik aja sama gue, ngga tahu kenapa tadi tiba-tiba doi jadi beringas, mungkin lagi musim kawin.." cerocos Malay di telepon.

"Please, gue ngga bisa jalan, kaki gue sakit, luka-luka, tangan en leher gue digigit Si Komo sampe berdarah-darah, gue butuh pertolongan segera.." tambahnya lebay.

Rupanya Malay belajar ilmu berbohong dari Netherlands.

"Dasar bokis! Kalau tangan en leher loe digigit Si Komo, loe langsung koit dalam hitungan menit! Bilang aja loe minta gue masakin, dasar pemalas!" Singapore yang lagi stres gara-gara urusan kabut asap di negerinya langsung nyemprot. Ludahnya bahkan ikut-ikutan nyemprot dari telepon.

TUUUT ...TUUT... TUUUUUTT

"Si-sialan! Malah ditutup!" Malay langsung manyun.

Ternyata jurus bokis lebay yang dipakai Netherlands ke 2 orang siblingsnya ngga berlaku buat Singapore.

Dengan berat hati, Malay akhirnya menelpon yang bisa ditelpon.

"Ya ampun, Kak Malay sekarat!?" terdengar suara mungil di ujung telepon. Sepertinya suara Laos.

"Wah, kalau begitu kita harus segera pesan makam!" disambut dengan kehebohan mahluk mungil lainnya. Sepertinya itu Myanmar.

"Iya, jangan lupa pesan batu nisan en karangan bunga!" kehebohan pun makin melebar ke mahluk mungil yang lainnya lagi. Sepertinya itu Cambodia.

Di ujung telepon langsung terdengar suara-suara riuh en heboh. Ada yang heboh nangis sesunggukan, ada juga yang jejingkrakan kesenangan.

"Gawat, padahal hanya ditinggal sebentar sama Kak Indo, tapi Malay udah ngga sanggup menanggung derita en mau bunuh diri begini..." sepertinya suara Philipine.

"Kasihan, tapi walaupun niat bunuh diri, mestinya abang Malay mikirin cara bunuh diri yang lebih keren, masa bunuh diri dengan cara minum air liur Si Komo!?" sepertinya suara Brunei.

"Mari kita berdoa semoga arwah Malay tenang di alam sana, ana..." sepertinya suara Thailand.

Sepertinya ASEAN Brotherhood sedang mengadakan arisan di rumahnya Cambodia.

"WOOOIIII, GUE BELOM KOIT, GUE MASIH HIDUP, BASTARD!" Malay berteriak gahar. Doi naik pitam gara-gara disangka udah koit sama sodara-sodaranya.

SIIIIIINNNGGGG...

Sepi sejenak.

"Myanmar, aku takut, jangan-jangan itu suara hantunya Kak Malay..." ujar Laos gemetaran.

"Roh jahat, enyahlah, roh jahat, enyahlah!" kata Myanmar sambil lempar kacang ala Japan gitu.

"Ayo, kita sholat ghoib supaya arwah abang Malay diterima di sisi Tuhan YME," ajak Brunei. Doi langsung gelar sajadah en nyiapin sarung.

Malaysia tepok jidat. Awalnya doi bohong pura-pura sakit berat supaya dikasihani en sodara-sodaranya langsung pada datang membesuk. Namun malah berubah jadi gosip infotainment begini.

"Jadi kalian ngga ada yang mau besuk gue..." ujar Malay merana. Hampir aja doi nangis.

Sepi, ngga ada jawaban. Rupanya semuanya masih pada parno sama "arwah" nya Malay.

"Padahal gue udah nyiapin duit jajan buat yang mau besuk gue..." suara Malay makin lemah. Doi udah hopeless pasti ngga ada yang mau besuk juga.

Mendengar kata "duit jajan" mata trio tuyul langsung bling-bling. "KITA AJA YANG BESUK!" ujar trio tuyul. Rupanya rasa takut terhadap arwah penasaran itu bisa dihapuskan dengan duit jajan.

"Tapi duit jajannya 100 US dollar ya, Kak," ujar Myanmar.

Malay bengek.

"Per orang.." tambah Laos.

Malay bengek kuadrat.

"D-dasar setan neraka!" batinnya.

-000-

"Enak, Broer?" tanya Luxie yang menyuapi si bule bermata hijau sesuap Boerenkoolstamppot, dengan rookworst. Mereka bertiga bercengkrama di ruang keluarga. Sambil duduk-duduk di sofa, Luxie menyuapi makanan sedangkan Belgie memijit kening abangnya dengan minyak zaitun. Netherlands langsung berkaca-kaca demi merasakan nikmatnya masakan favorit dan juga pijatan lembut di keningnya. Ia merasa jadi seorang personifikasi nation yang paling bahagia sejagad Hetalia.

"Erg lekker, enak banget, Luxie!" serunya semangat.

Mereka bertiga tertawa bahagia, kembali saling menggoda satu sama lain.

Tidak jauh dari situ, Malaysia menggelar kasur tipis lalu tidur tengkurap di atasnya. Seorang bocah mungil sedang sibuk memijit pinggang dan betisnya.

"Agh, enak banget, Laos" Malay melenguh nikmat. Rasanya sekujur tubuhnya yang pegal-pegal terobati dengan pijatan ala kadarnya itu.

Tidak lama muncul Myanmar en Cambodia dari balik pintu membawa 2 kantong kresek besar. Dua bocah itu tadi disuruhnya membeli nasi goreng dan es cendol.

"Apa ini?" tanya Malay bingung.

"Struk belanja." ujar Myanmar sembari menyodorkan selembar kertas pada kakaknya.

Dahi Malay berkerut. Wong ini nasi goreng gerobakan kaki lima, masa pake struk belanja. Dipelototinya secarik kertas lusuh itu. Doi langsung sweatdrop. Disana tertulis Warung "Fried Rice" dengan tulisan acak-acakan mirip ceker ayam. Ini pasti akal-akalan 2 setan neraka itu! Seporsi nasi goreng dibanderol dengan harga 20 ribu. Padahal biasanya cuma 8 ribu! Dikalikan 4 berarti 80 ribu. Belum lagi es cendol yang biasa cuma 3 ribu perak, di struk itu ditulis seharga 5 ribu. Dikalikan 4 jadi 20 ribu.

Malay menatap 2 bocah neraka itu dengan tatapan hey-shit-sejak-kapan-loe-belajar-korupsi?

Yang ditatap malah membalas dengan tatapan polos, "Itu PPn, ditambah ongkos jalan en upah karyawan."

Alis Malay berkedut-kedut kesal, "Sialan, anggarannya di-mark up!"

"Uangnya pas ya, Kak, ngga ada kembaliannya," Cambodia menimpali.

"Sialan, sialan, sialan, gue bangkrut mendadak!" umpat Malaysia hampir nangis.

Mereka berempat akhirnya menikmati nasi goreng en es cendol itu dengan suka cita. Lebih-lebih trio tuyul, mereka benar-benar bersuka cita. Selain mendapat "uang jajan" 100 US dollar per orang, mereka juga mendapat "lebihan" dari belanja nasi goreng en es cendol tadi. Pundi-pundi uang mereka pun makin menggunung.

Semuanya berakhir dengan bahagia, kecuali Malaysia yang bangkrut mendadak akibat diporotin adiknya sendiri. Di balik peristiwa hari ini, ada hikmah yang bisa diambil. Ternyata Indonesia adalah "Super Sweet Heart" karena bisa merawat kebunnya sendiri tanpa bantuan siapa-siapa setiap minggu. Dan 2 suami ngga genah itu baru menyadari hal itu sekarang.

KRING KRING KRIIIING

Terdengar bunyi telepon.

"Laos, cepetan diangkat!" perintah Malay pada adiknya.

Sang adik berwajah polos tapi hobby banget morotin orang itu beringsut ke arah telepon dan mengangkatnya.

"...eh, Kak Indo, ya? Kak, kapan pulang?" ujar suara mungil itu.

Demi mendengar nama Indonesia disebutkan, dalam hitungan detik, Netherlands yang lagi asyik disuapin en Malaysia yang lagi asyik menyeruput es cendol langsung ngibrit. Mereka berdua adu sprint dengan garis finish meja telepon. Laos yang lagi memegang gagang telepon langsung disikut en di tackling sampai terlempar jauh.

"Indoon, Indon, gu-gue kangen, kapan pulang?" Malay langsung menyerbu gagang telepon. Diciumnya gagang telepon itu sambil bercerita betapa rindunya ia pada yayangnya itu.

"Minggir loe, bocah!" Netherlands menyikut Malay dan membuatnya terpuruk ke sudut tembok.

"Honey, gimana kabarnya? Jaga kesehatan, ya, jangan sampai sakit." Kini gagang telepon itu dibajak oleh Netherlands. Wajahnya begitu berseri-seri bisa mendengar suara kekasihnya tercinta.

Malaysia tidak terima. Sebagai seme yang berdaulat ia merasa memiliki hak yang sama untuk bisa berbicara dengan Indonesia melalui telepon. Dengan penuh amarah, didorongnya tubuh besar Netherlands yang sedang asyik menelpon. Namun rupanya tubuh itu terlalu kuat untuk digoyahkan. Akhirnya Malay merebut paksa gagang telepon yang sedang nangkring di telinga Netherlands.

"'Ndon, i love you, beib, i want to hug you and ki-" belum selesai ia merayu sang yayang, mulutnya keburu ditoyor saingannya.

"Honey, jangan didengerin suara aneh barusan, ik hou van je, cepat pul-"

Gantian bibir si bule jabrik yang ditoyor rivalnya.

"Be-beib, gue pingin nonton film Twilight bareng, gu-"

Sang gagang telepon direbut paksa kembali oleh si tangan besar.

"Honey, kalau kamu udah balik, ki-"

Terjadi tarik menarik gagang telepon yang berlanjut dengan toyor mentoyor bibir.

"Sialan, sekarang giliran gue, bastard!" Malaysia emosi ditoyor berulang-ulang oleh rivalnya. Mentang-mentang bibir doi seksi.

"Gue belum selesai ngomong, loe udah motong!" Netherlands ngga kalah emosi.

"Kalau berani, kita selesaikan sekarang juga!" tantang si bocah.

"Siapa takut, loe jual, gue beli!" Nether menanggapi sangar.

Terjadilah Perang Dunia ke-112.

Sementara di benua seberang samudera nun jauh disana, Indonesia cuma bisa sweatdrop. Di ujung telepon hanya terdengar suara-suara absurd.

"Hhhfftt, seperti yang gue duga.." ia menghela napas, "gue tutup aja deh..."

TUUUUUTTT

Telepon ditutup.

Sementara itu di bumi Nusantara terjadi perkelahian seru antara 2 suami Indonesia. Belgie en Luxie di sudut biru mengambil pom pom dan menyemangati abangnya sambil jejeritan

"Vlug een beetje! Vlug een beetje! Come on! Come on!"

Sementara di sudut merah, Myanmar en Cambodia berteriak heboh ngga mau kalah.

"Hajar! Sikat!"

"Biar mampus!"

...

...

...

OMAKE :

"Ngomong-ngomong, Laos kemana ya?" Cambodia baru menyadari sedari tadi ngga melihat sodaranya itu.

"Iya, kok doi terbang ngga balik-balik?" Myanmar ingat kalau adiknya yang mungil itu kena tampol Netherlands en Malaysia yang napsu rebutan telepon lalu menghilang di atas langit biru.

...

...

"Myanmaaaaarrrr, Cambodiaaaa, tolooooongg...!" terdengar suara Laos di atas langit.

Myanmar en Cambodia sweatdrop.

TBC~