Episode 6 : Versus
Selamat pagi, author akan melaporkan kondisi rumah besar milik Indonesia yang dipasrahkan pada dua orang suaminya. Debu dan sisa-sisa tanah bekas berkebun kemarin berserakan di beranda. Begitu juga sapu, sekop dan aneka peralatan berkebun lainnya masih tergeletak manis disana. Kondisi ruang tamu dan ruang keluarga ngga kalah mengenaskan. Majalah dan Koran berserakan di kolong sofa. Bekas cup mie instant, plastik kresek, piring en gelas kotor masih nangkring di meja tamu. Bekas sisa-sisa makanan masih berceceran di lantai. Beberapa bahkan sudah dikerubungi semut dan rekan-rekan. Kitchen sink alias tempat cucian piring di dapur penuh dengan sisa-sisa makanan yang lengket dan menimbulkan bau tak sedap. Beberapa piring en gelas kotor juga menghiasi tempat itu. Belum lagi tempat sampah yang isinya sudah menggunung belum sempat dibuang ke tempat pembuangan akhir. Jangan ditanya kondisi jendela, meja kerja di kamar Indonesia, bufet tempat memajang aneka souvenir khas dari 33 propinsi atau kamar mandi, semuanya serba kotor, jorok dan bau! Sekian laporan dari author, langsung dari rumah besar Indonesia.
-000-
Netherlands mengucek matanya yang masih ngantuk. Masih setengah sadar ia melangkah keluar kamarnya.
"Belgie! Luxie!" ia memanggil-manggil dua orang sodaranya.
Tak ada sahutan.
Ia berjalan menuju arah dapur mengikuti naluri biologis perutnya yang keroncongan. Ada secarik kertas Post-It yang menempel di kulkas.
"Mau shopping ke Tanah Abang. Kalau sudah pulang kami buatkan Broer makan siang. Bel-Lux."
Neth garuk-garuk kepala. Ternyata duo sibling nya itu hobby shopping di Tanah Abang.
"Huh, padahal baru mau gue suruh beres-beres rumah." batinnya.
Ia menguap sambil merengangkan kedua tangannya ke atas, lalu menggaruk-garuk perut di balik kaos lengan buntung berwarna hitam. Pemuda Belanda bertubuh besar itu tertegun sejenak. Ia baru menyadari betapa berantakan dan semrawutnya dapur rumah itu. Lantai dapur pun terasa lengket dan kotor. Si bule berjalan ke arah depan dan mendapati keadaan yang tak jauh berbeda.
Ia menghela napas. Masih segar dalam ingatannya bagaimana melelahkannya kegiatan membersihkan halaman rumah yayangnya yang seluas 5 hektar kemarin. Ia bahkan harus mendapat luka baret dan lecet di sekujur tangan dan kakinya. Belum lagi penyakit encoknya yang kumat gara-gara harus berjongkok-jongkok-ria mencabuti rumput. Alhasil ia pun tepar. Untung saja duo siblingsnya datang membesuk dan merawatnya sehingga ia sanggup melupakan kejadian mengerikan itu. Tapi kalau hari ini ia harus kerja rodi lagi membersihkan seisi rumah seperti kemarin, oh my gay, amit-amit! Otak liciknya pun berupaya mencari jalan keluar.
Pemuda berwajah Melayu oriental itu terbangun dari tidurnya. Ia teringat akan cucian kotornya yang menumpuk dan memanggil-manggil untuk segera dicuci. Padahal, ia masih lelah jiwa dan raga akibat peristiwa kemarin. Rasanya ingin kembali menarik selimut, memeluk guling membenamkan kepala di balik bantal lalu kembali ke alam mimpi. Persetan dengan cucian kotor. Baru saja ia memutuskan untuk kembali tidur ketika perutnya tiba-tiba dangdutan. Diliriknya jam di dinding. Jam 8 pagi, waktu yang tepat untuk sarapan pagi. Ugh, dasar cacing-cacing perut sialan! Dengan lantai gontai ia pun beranjak menuju dapur.
Di dapur yang kotornya ampun-ampunan itu, si pemuda Asia Tenggara itu mengambil sebungkus mi instant dari lemari penyimpanan makanan. Sambil menunggu air di dalam panci kecil yang diletakkannya di atas kompor mendidih, sang pemuda bertubuh mungil berkulit sawo matang itu menyiapkan mangkok serta sendok dan garpu. Ia baru menyadari bahwa persediaan telur di kulkas sudah habis. Apa daya, akibat kebangkrutan dalam negeri yang menimpanya setelah peristiwa mark-up anggaran pembelian nasi goreng dan es cendol yang dilakukan oleh 3 adik sewilayah geografisnya kemarin, ia terpaksa hidup prihatin, makan mi tanpa telur. Si pemuda berambut poni lempar itupun mulai bersenandung, "Masak, masak sendiri, makan, makan sendiri, cuci baju sendiri, tidurpun sendiri..." Yap, itu adalah sebait lagu dangdut yang nampaknya akan selalu akrab di telingan readers semua karena rutin dinyanyikan oleh Malay selama ditinggal sang yayang bertugas ke luar negeri.
Ketika mi instant yang dimasaknya sudah siap dinikmati, muncul si pemuda bule. Tangan besarnya membuka pintu kulkas lalu mengeluarkan susu cair dalam kemasan. Dibukanya tutup kemasan susu itu lalu cairan berwarna putih pekat itu ditenggaknya sampai habis. Ditatapnya si pemuda Melayu yang sedang menikmati semangkuk mi instant panas.
"Gue punya penawaran menarik," si pemuda bule membuka suara, "kita adu tendangan penalti, seperti biasa the winner takes it all, yang kalah hukumannya membersihkan rumah plus mencuci baju kotor sang pemenang."
Malay menatap rivalnya. Ia mempertimbangkan tawaran yang cukup menarik itu. Jika menang ia tak perlu susah-susah mencuci pakaian kotornya yang menggunung.
"Take it or leave it?" tawar Netherlands sambil mengulurkan tangan.
Malay menjabat tangan saingannya yang berukuran besar pertanda setuju.
Dan pertandingan adu tendangan penalti itupun dimulai.
-000-
Gawang sederhana yang biasa digunakan Malaysia untuk bermain bola bersama yayangnya Indonesia itu digotong ke sisi lapangan. Bukan lapangan bola, hanya lapangan rumput biasa yang terletak di halaman belakang rumah Indonesia yang luas. Sejak dulu tempat itu memang biasa digunakan Indonesia dan Malaysia untuk adu tanding bola yang kemudian akan berakhir dengan adu jotos yang akan diikuti oleh fans fanatik kedua belah pihak.
Malaysia mempersiapkan dirinya dengan melakukan pemanasan seadanya. Tubuh mungil berkaos biru dan bercelana pendek warna gelap itu berlari-lari kecil kemudian menendang-nendangkan kakinya ke depan. Sementara Netherlands yang memakai kaos orange kebanggaannya itu mempersiapkan dirinya dengan cara menenggak satu liter susu cair langsung dari wadahnya. Rupanya ia selalu ingat-ingat pesan mama, kalau mau badan tinggi dan tulang sehat supaya jangan lupa selalu minum susu.
Begini peraturannya. Dua belah pihak diberi waktu 60 detik untuk memasukan bola sebanyak-banyaknya ke gawang. Siapa yang paling banyak mengumpulkan skor dialah pemenangnya. So simple!
Setelah melempar koin, didapatkan bahwa yang akan melakukan tendangan penalti lebih dahulu adalah Malaysia. Bocah Melayu itu tersenyum senang. Ia sudah berencana untuk mengumpulkan skor sebanyak-banyaknya lebih dulu daripada lawannya. Kebetulan, hari ini ia sedang semangat. Siapa tahu dengan mengalahkan Belanda akan menaikkan gengsinya di ajang Piala Dunia tahun 2014 yang akan diselenggarakan di Brazil nanti. Yeah, walaupun cuma menang adu penalti-penaltian. Tendangan pertama melayang mulus ke gawang dan langsung membentur jala. Netherlands menatap bingung pada bola yang meluncur langsung ke gawang itu tanpa sempat ia sentuh. Skor 1-0 untuk Malaysia. Si bocah gemblung itu teriak kegirangan.
"Skor sementara 1-0 buat Kak Malay!" teriak suara cempreng dari pinggir lapangan.
Malaysia kaget bukan kepalang. Tiga adik sewilayah geografisnya, Laos, Myanmar dan Cambodia tiba-tiba nongkrong di pinggir lapangan sambil mengangkat papan tulis tinggi-tinggi.
"Siapa yang mempekerjakan tiga setan neraka itu!?" Malay menatap Netherlands sambil mencak-mencak.
"Mereka volunteer." balas Neth santai.
Kali ini gantian Netherlands yang siap-siap mengeluarkan jurusnya. Dengan sekuat tenaga, ditendangnya benda bulat yang terbuat dari kulit itu. Wush wush, benda bulat yang memiliki diameter 68-70 sentimeter itu melesat membelah angin dan mendarat di wajah sang bocah Melayu penjaga gawang. Sontak sang korban marah-marah tidak terima wajahnya yang manis namun jutek itu lecet-lecet.
"Aduh, sorry, sorry!" ujar Nether minta maap tapi raut wajahnya puas banget berhasil mengenai wajah rivalnya.
Malaysia menetap Netherlands dengan kesal.
"Skor 1 sama!" teriak trio tuyul dari pinggir lapangan.
Berganti sekarang Malaysia yang menendang bola dengan tujuan menjebol gawang yang dijaga oleh si bule jabrik. Sang bocah tersenyum licik. Bukannya diarahkan ke gawang, ia malah berniat mengarahkan bola ke wajah sang penjaga hati, eh salah, penjaga gawang. Mungkin berniat balas dendam. Wush, melesatlah bola itu. Benar saja, tendangannya tepat mengarah ke wajah saingannya, lebih tepatnya lagi di hidung sang saingan. Hidung yang mancungnya begitu menggoda itu langsung dihantam sang bola bundar mengakibatkan sang pemilik hidung langsung menjerit kesakitan. Berbagai kata-kata umpatan baik dalam bahasa Belanda, Afrikaans maupun Suriname meluncur deras dari mulut sang bule. Sementara Malaysia, sang pelaku, tersenyum puas karena telah berhasil membalaskan dendamnya.
"Kurang ajaaarrr!" teriak Netherlands menggelegar.
"Loe yang kurang ajar duluan!" jawab Malay ngga mau kalah.
Kedua manusia itu saling melemparkan tatapan penuh kebencian. Karena ngga bisa menahan rasa kesal, akhirnya kedua manusia itupun langsung saling terjang dan bergumul di tanah. Netherlands yang esmosi langsung menjambak poni lempar Malay sampai-sampai sang empunya poni berteriak-teriak kesakitan. Jambakan sang bule rupanya lumayan sadis. Lihat saja beberapa helai rambut Malay sampai rontok. Malay tak mau kalah, ia balas menjambak rambut jabrik sang bule. Akibatnya poni yang sudah tertata rapi jabrik ke atas itu kini berantakan ngga karu-karuan. Ada sebagian yang masih tegak berdiri, ada juga yang jatuh berurai di dahinya.
"Uuugh, sial!" jerit Nether.
Posisi saat ini adalah kedua manusia eror itu saling menjambak rambut rivalnya masing-masing. Malaysia di bawah dengan kondisi poni lempar acak-acakan yang dijambak Netherlands. Sedangkan Netherlands di atas Malaysia dengan rambut jabriknya yang jatuh berurai karena dijambak Malaysia. Peristiwa saling jambak menjambak itu menyebabkan keduanya saling bertatapan dengan posisi tubuh yang sangat dekat. Malay dapat merasakan aroma tubuh Netherlands, begitu juga Netherlands yang dapat menatap bola mata hitam legam milik Malaysia. Entah kenapa keduanya juga dapat merasakan debaran dada milik rivalnya. Tiba-tiba suasana menjadi romantis karena ada kelopak bunga yang berjatuhan dengan gerakan slow motion di sekeliling mereka.
"Eh bocah, ternyata loe manis juga kalau dilihat dari dekat gini," bisik Netherlands sambil tersenyum genit.
"Hah!?" entah kenapa mendengar bisikan gombal itu Malaysia jadi tersipu-sipu. Pipinya terlihat memerah. Doi cuma bisa diam terpaku akibat uhuk-grogi-uhuk ditatap lekat-lekat oleh Netherlands.
PRIIIIITTTT
"Waktu tinggal 10 detik lagi!" jerit Cambodia yang jadi wasit dadakan.
"HAH!?" kedua rival tiba-tiba tersadar dari momen romantis barusan dan teringat bahwa mereka sedang di tengah pertandingan adu penalti.
Keduanya langsung bergegas berdiri dan mengejar bola. Persetan ini giliran siapa, yang pasti pertandingan harus dimenangkan. Karena sejarah akan berpihak kepada mereka yang menang. Karena kekalahan adalah aib yang akan dipanggul seumur hidup sampai tujuh turunan.
Bola bundar itu tergeletak disana, menanti siapapun yang lebih dahulu datang menghampiri dan kemudian akan menendangnya ke arah gawang di detik-detik akhir pertandingan. Malay berjibaku, begitu juga Netherlands yang mengeluarkan tenaga pamungkasnya. Malay meloncat, Netherlands menerjang. Netherlands mengaum, Malaysia menggeram. Namun sejarah hanya butuh satu orang pemenang.
DASH
Kaki besar berotot itu menendang bola sekuat tenaga. Sang kulit bundar itu kembali melesat ke arah gawang, sodara-sodara. Laos, Myanmar dan Cambodia melongo menatap bola. Apakah bola itu akan masuk ke gawang, sodara-sodara, mari kita saksikan dan-GOOOOOLLLLLL!
JEGEEEEERRRR
Terdengar suara geledek menggelegar.
"GOOOLLLL! 2-1 untuk Om Nether!" teriak Myanmar.
"Priiiittt, waktunya habis!" Cambodia meniup peluit panjang tanda permainan berakhir.
"YEEEEESSSSSS!" jerit Nether penuh kepuasan.
Malay melongo. Ia kalah. Sungguh memalukan. Padahal ia sudah pede en yakin bisa memenangkan taruhan itu. Dengan hati kesal ia menggebrak tanah. Langitpun serasa ikut bersedih, buktinya tak lama hujanpun turun membasahi bumi.
Sementara rivalnya si bule Netherlands yang memenangkan pertandingan, bersorak-sorai gembira sambil mengeluarkan gaya selebrasi yang lebay. Dihampirinya tubuh mungil sang rival yang sedang terpuruk terduduk di tanah dalam kondisi remuk redam. Dengan senyum penuh kebanggaan, digamitnya dagu si pemuda Melayu sambil berkata, "Selamat bersih-bersih rumah, jangan lupa baju kotor gue juga dicuciin ya." lalu memonyongkan bibir seolah ingin mencium rivalnya. Malay yang sedang kesal akibat peristiwa kekalahannya barusan langsung menarik bibir si bule yang sedang monyong dengan keras. Si pemilik bibir mengaduh kesakitan sambil mengusap bibirnya.
"Aduh, sialan, bibir gue tambah seksi deh.." keluhnya ganjen yang kemudian langsung dibalas dengan tatapan sewot si pelaku.
"Yeah, whatever, yang penting hari ini gue santai kaya di pantai..." ujarnya sambil merenggangkan tubuhnya ke atas lalu berlalu dari hadapan si pemuda Melayu yang malang.
Malay akhirnya sadar satu hal, jangan pernah berunding dengan wong Londo. Pangeran Diponegoro aja sewaktu mengadakan perundingan dengan kompeni bisa dikhianati oleh si kampret itu, apalagi nation biasa seperti dia! Dengan hati pilu Malaysia masih terpekur di tengah guyuran hujan merenungkan kekalahannya yang memalukan itu.
-0000-
Malaysia kesal bukan kepalang. Menurut hitung-hitungannya seharusnya ialah yang keluar sebagai pemenang. Entah kenapa takdir berkata lain. Kini si bocah malang berponi lempar itu sudah siap melampiaskan amarahnya. Sambil memegang peralatan perang seperti sapu, kemoceng, lap dan pel, ia menyerbu seisi rumah. Sambil berteriak frustasi ia mengelap kusen, kaca jendela, meja dan buffet di ruang tamu. Selesai di ruang tamu, kini ia pindah menjajah ruang keluarga. Disapunya lantai sambil sesekali memunguti sampah yang berserakan tak tentu. Bahkan ia berhasil mengumpulkan sampah sampai satu karung besar penuh! Setelah itu ia lanjut mengepel lantai sampai kinclong. Netherlands yang asyik nonton TV di sofa sambil makan snack terus memperhatikan si bocah gemblung saingannya yang sedang membersihkan rumah sambil ngamuk seperti orang kesetanan. Sambil membersihkan rumah, pemuda mungil itu tak lupa berteriak sumpah serapah tak karuan. Netherlands terkekeh demi melihat tingkah laku ajaib saingannya itu. Iseng dijatuhkannya kaleng minuman ringan ke lantai lalu bersiul pura-pura tak tahu. Dalam hitungan detik, kaleng yang jatuh di lantai itu tiba-tiba terbang en mengenai kepalanya. Ia menjerit kesakitan sambil mengusap kepalanya yang semi-benjol.
"Jangan main-main sama orang yang sedang kalap! Atau loe mau gue mutilasi jadi 13 bagian!?" si pemuda Melayu yang sedang kesel berat itu langsung menodongkan pisau daging ke leher si bule. Sang pemuda Belanda itupun geleng-geleng ketakutan.
"Bagus!" ujar Malaysia sambil menatap rivalnya dengan tatapan tajam setajam silet.
Ia kembali melanjutkan pekerjaannnya membersihkan rumah sambil ngamuk ngga karuan.
"Te-ternyata si Malay kalo lagi ngamuk, nye-nyeremin juga..." batin Nether.
"Kami udah pulang..!" terdengar suara cewek-cewek centil dari arah depan. Ternyata itu Belgie en Luxie yang udah kelar ngeborong di Tanah Abang. Lihat aja, tas belanjaannya segambreng. Netherlands geleng-geleng lihat kelakuan duo siblingnya. Bayangin, belanja dari pagi baru pulang sore hari. Dasar cewek, kalo udah belanja lupa daratan ingat lautan!
"Broer, tadi banyak barang bagus! Ini ik beliin buat jou." ujar Belgie.
Gadis berbando merah itu lalu mengeluarkan sesuatu dari tas belanjaannya yang langsung membuat ilfil abangnya. Ternyata yang dibelikan Belgie untuk abangnya adalah fancy underwear. Itu lho underwear lucu-lucu untuk cowok yang bagian depannya berbentuk kepala sapi, kelinci, gajah, wortel, dll.
"Ik beli sepasang buat jou en Broer Indonesie, jadi matching kan." Belgie tertawa kesenangan sambil menunjukan barang itu ke hadapan abangnya.
Netherlands speechless, ngga bisa ngomong demi diledek sedemikian rupa oleh sodaranya. Akhirnya doi mengambil pemberian Belgie itu dengan wajah merah padam.
Belgie en Luxie tertawa gemas demi melihat wajah Netherlands yang tersipu malu itu.
GRUK BRUK DUAG JDER JEBREEET
Terdengar suara gemuruh dari kejauhan yang membuat duo sibling terkaget-kaget.
"Apaan itu, Broer!?"
"Oh itu, ngga apa-apa, ngga usah diladenin." ujar Neth tenang.
Tak lama sang pemuda Melayu yang seperti orang kesurupan melintas di depan mereka bertiga. Tangannya sedang mengangkut gunungan cucian kotor. Wajah Malay cemong sana sini. Belum lagi rambut en poninya yang kacau berantakan. Ia masih terus saja meracau kalimat-kalimat umpatan yang malah terdengar seperti orang yang sedang komat-kamit. Belgie en Luxie langsung menjerit ketakutan demi melihat penampakan seram itu.
"Hiiiyy, rumah Broer Indonesie syerem! Banyak genderuwonya.." bisik Belgie pada Luxie ketakutan.
Tahu-tahunya si Belgie sama genderuwo. Jangan-jangan gegara kebanyakan nonton "Bukan Dunia Lain" di Transmigrasi TV.
Netherlands sweatdrop.
...
...
TBC~
