Re-publish

Naruto © Masashi Kishimoto

Save Me © Thia Nokoru

.

* Save Me *

.

Chapter 2,

Tempat-tempat hiburan malam berada di tengah-tengah pusat Kota Konoha. Salah satu dari banyaknya hiburan malam di tempat ini adalah sebuah café yang terlihat sangat mewah dan letaknya agak tersembunyi dari gedung-gedung yang berada di sekitarnya. Di café ini, selain tempat untuk makan dan minum, ada juga ruangan khusus untuk berkaraoke. Mungkin, kata tempat untuk berkaraoke itu hanya untuk sebuah sebutan saja, sebenarnya ruangan itu digunakan untuk hal-hal yang tidak baik.

Pelayan-pelayan cantik dengan pakaian yang ketat dan sexy, banyak mengundang para laki-laki yang memang sangat membutuhkan hiburan. Salah satu dari banyaknya pelayan cantik di café ini adalah Haruno Sakura. Di café inilah sekarang Sakura berada. Dengan berbalut pakaian yang sangat ketat hingga membentuk lekuk tubuh Sakura, dan Sakura memilih rok ketat di atas lutut 5 cm yang seharusnya 20 cm di atas lutut. Sungguh, Sakura sangat membenci dirinya yang seperti ini. Ini semua terjadi karena Anko. Anko sangat kejam, menjadikan Sakura sebagai pelayan di café terkutuknya itu. Menjual Sakura kepada laki-laki yang ingin dilayani oleh Sakura dengan bayaran yang sangat tinggi. Sakura masih beruntung, karena Sakura selalu bisa menghindar dari orang-orang yang ingin menyentuhnya atau yang ingin dilayani olehnya. Mengantarkan makanan dan minuman ke meja-meja adalah tugas Sakura. Rasa-rasa yang seperti perasaan risih, kesal, marah, benci, sedih, perasaan-perasaan yang seperti itu sudah tidak lagi terasa di dalam hati Sakura. Sakura mau menangis? Sudah. Mau marah? Rasanya Sakura tidak bisa untuk marah. Sakura selalu menangis dalam hati. Marah dalam hati. Sakura sudah pasrah, rasanya ingin sekali untuk mati. Tapi, Sakura tidak boleh mati. Sakura sampai saat ini masih hidup, itu karena nyawanya adalah pemberian dari kedua orangtuanya yang melindunginya saat kecelakaan itu terjadi.

Jam 2 pagi Sakura pulang dari bekerjanya di café Anko. Anko selalu pulang pagi hari. Sakura hanya mempunyai waktu istirahat beberapa jam saja sebelum berangkat ke sekolah.

Dengan wajah yang sangat kusut, pucat, rambut agak berantakan, Sakura tidak memperdulikan penampilannya yang seperti itu, Sakura berangkat menuju sekolahnya pagi sekali. Sampai di kelas, seperti biasa sudah ada Sasuke di dalam kelas. Sakura sempat berpikir, Sasuke rajin sekali datang ke sekolah pagi-pagi, biasanya dulu Sasuke selalu terlambat datang ke sekolah. Yah, mungkin Sasuke datang pagi-pagi sekali ke sekolah untuk menghindari kejaran para penggemarnya yang sangat banyak itu.

Sasuke menatap Sakura yang memasuki kelas, dan Sakura juga menatap Sasuke yang melihatnya masuk ke dalam kelas. Sakura tidak perduli Sasuke mau menatapnya seperti apa? Dengan penampilan Sakura yang seperti ini, apa yang akan terpikirkan oleh Sasuke? Apalah itu, terserah saja, Sakura tidak mau perduli apa penilaian Sasuke terhadap dirinya yang seperti saat ini. Sakura tidak mau merasakan rasa sakit lagi. Sakura pun langsung duduk di bangkunya dan memilih untuk tidur sebentar di kelas karena jam masuk masih satu setengah jam lagi.

Sakura tidak tahu, kalau Sasuke masih memperhatikan dirinya. Karena penasaran Sakura yang terdiam dan terlihat seperti tidur di mejanya, Sasuke dengan perlahan bangun dari duduknya dan berjalan mendekat ke meja Sakura. Dugaan Sasuke benar, ternyata Sakura memang tertidur. Dengan perlahan, Sasuke menyingkirkan rambut Sakura yang menutupi wajahnya yang sedang tertidur. Sasuke melepaskan kacamata Sakura dan menaruhnya di meja. Sasuke menatap wajah lelah Sakura, ada perasaan sakit melihat Sakura yang terlihat sangat lelah itu. Entah apa yang dikerjakan Sakura sampai terlihat seperti ini, Sasuke ingin sekali mengetahuinya. Belaian lembut yang pernah dilakukan oleh seorang Sasuke diberikan kepada Sakura. Sasuke mengelus dengan perlahan kepala Sakura, dan entah apa yang mendorong dirinya, Sasuke dengan perlahan mengecup kening Sakura dengan lembut. Sadar dengan apa yang telah diperbuatnya itu, Sasuke dengan cepat menjauh dari Sakura. Wajah Sasuke kini terlihat sangat merah. Ia malu, Sasuke sangat malu karena ia telah mengecup kening Sakura.

Tidak lama, Ino datang. Sasuke sudah duduk dengan tenang sambil membaca sebuah buku. Ino yang melihat Sakura sudah ada di kelas, segera berjalan menuju Sakura untuk menyapanya. Saat hendak menyapa, Sasuke menaruh jari telunjuknya di depan bibirnya. Ino tidak mengerti, lalu bertanya kepada Sasuke.

"Kenapa?" tanya Ino dengan suara berbisik.

"Dia terlihat sangat lelah, biarkan dia tidur." jawab Sasuke singkat.

Ino mendekat, dan menatap wajah Sakura yang memang terlihat sangat lelah. Tapi, melihat Sakura yang tertidur dengan sangat nyaman, membuat Ino tersenyum, kalau Sakura masih baik-baik saja, hanya terlihat lelah.

Jam istirahat, halaman belakang sekolah dan atap sekolah adalah tempat dimana Sakura suka menyendiri. Saat hendak keluar dari kelas, seseorang menarik tangan Sakura dari belakang. Sakura terkejut, dilihatnya orang yang telah menarik tangannya, Ino. Ino tersenyum manis kepada Sakura yang terlihat bingung karena Ino mencegahnya keluar dari kelas.

"Sakura… kita ke kantin sekolah sama-sama, yuk!"

Ino benar-benar ingin sekali bisa berteman dengan Sakura. Ino tahu, Sakura bukan orang yang pendiam. Ino bisa melihat dalamnya luka yang terpancar dari kedua mata Sakura. Walau mungkin tidak bisa untuk merubah Sakura, setidaknya Ino ingin bisa membuat Sakura tersenyum bersamanya.

"Ke-kenapa?"

Padahal Sakura sudah menyuruh Ino untuk tidak dekat-dekat lagi dengannya. Kenapa Ino mengajaknya ke kantik sekolah bersama? Bukankah kalau Ino bersamanya, Ino bisa mendapatkan masalah?

"Jangan banyak bertanya! Ayo, cepat! Nanti kehabisan, lho!"

Ino menarik paksa Sakura. Sakura pun tidak bisa menghindar dari tarikan tangan Ino. Sakura yang berjalan di belakang Ino, menatap sosok Ino dari belakang, sungguh… genggaman tangan Ino pada tangannya terasa hangat. Rasa hangat itu sedikit mengalir ke dalam lubuk hatinya. Sudah lama sekali Sakura tidak merasakan perasaan hangat seperti ini. Senyum kecil pun terukir di bibir Sakura.

Kantin sekolah selalu ramai. Ino dan Sakura memilih duduk di meja paling belakang. Hampir semua yang ada di kantin menatap heran kepada Ino dan Sakura. Sakura tahu tatapan itu. Mereka memang tidak suka melihat Sakura yang tidak menarik ini. Pandangan mata Sakura pun berubah kembali menjadi kosong. Ino menyadari kalau Sakura berubah karena tatapan murid-murid di kantin. Ino tidak perduli orang lain mau menatap mereka seperti apa? Memangnya mereka siapa? Tidak penting. Setelah membeli makan siang mereka, Ino mengajak Sakura untuk makan di bangku kantin yang jauh dari orang-orang. Mereka pun dengan perlahan menyantap makan siang mereka.

"Sakura," panggil Ino.

Sakura menatap Ino yang memanggilnya sambil tersenyum. Melihat Ino yang tersenyum, Sakura perlahan-lahan mulai kembali ke dirinya lagi. Ino pun sepertinya menyadari, kalau ia tersenyum kepada Sakura, Sakura pasti akan berubah kembali. Ya, Sakura hanya berpikir, masih ada yang tersenyum untuknya saja berarti orang itu seperti memberikan rasa kasih sayang kepadanya.

Ino ingin mengajak Sakura berbicara, tapi sepertinya Sakura masih terlihat tidak ingin berbicara kepadanya. Jadinya, Ino pun bercerita tentang kisahnya sendiri. Dimulai saat Ino masih kanak-kanak sampai sekarang. Ino senang, Sakura mendengarkan ceritanya, dan Sakura juga sepertinya terbawa oleh cerita Ino, karena Ino melihat Sakura sempat tersenyum mendengar ceritanya. Apakah Sakura juga terkenang oleh masa-masanya? Sepertinya begitu. Tapi, senyum Sakura hilang dan berubah menjadi muram saat Ino menceritakan masa-masa di SMP-nya dulu. Ino melihat Sakura kembali menjadi bukan dirinya lagi. Tatapan mata Sakura kembali kosong, membuat Ino bingung melihat Sakura yang seperti itu. Ino berpikir, apakah terjadi sesuatu pada saat Sakura SMP? Ataukah… apakah saat-saat itu adalah awal mula dari penderitaan atau kesedihan Sakura? Ino ingin sekali tahu. Tapi, Ino harus sabar, Ino ingin Sakura sendirilah yang menceritakan masalahnya kepadanya. Bukan dengan memaksa Sakura.

Ino jadi sedih melihat Sakura yang seperti itu. Lihat, semakin lama, Ino melihat sepertinya Sakura menahan tangis. Ino bertanya kepada Sakura, apakah Sakura baik-baik saja? Sakura hanya berusaha untuk tersenyum dan bilang kalau Sakura baik-baik saja. Tidak bisa begitu, Ino malah jadi semakin khawatir.

"Sakura… aku ini temanmu, kalau kau ada masalah, kau boleh bercerita kepadaku. Aku akan berusaha untuk membantumu sebisaku, Sakura."

Sakura tahu Ino tulus ingin menjadi temannya. Tapi bukan saat ini. Sakura tidak mau Ino terlibat dalam masalahnya.

"Terima kasih banyak, Ino. Aku tidak apa-apa, kok!" Sakura kali ini benar-benar tersenyum dengan tulus. Sakura berusaha untuk meyakinkan Ino kalau Sakura tidak apa-apa, walau sebenarnya adalah sebaliknya. Rasanya… baru kali ini Sakura bisa tersenyum seperti ini lagi. Perasaan hangat menjalar ke hatinya.

"Baguslah kalau memang benar seperti itu." Ino senang, akhirnya Ino bisa melihat Sakura yang tersenyum dengan tulus seperti itu. Berarti, Sakura sudah mau menerima dirinya sebagai temannya, kan? Syukurlah.

Selesai makan siang, Ino dan Sakura kembali ke kelas. Dalam perjalan menuju kelas, mereka berpas-pasan bertemu dengan guru. Guru itu meminta Ino untuk membantunya mengambil buku-buku di ruang guru. Dan Sakura pun seorang diri berjalan menuju kelasnya. Sepanjang koridor kelas-kelas, sangat sepi. Karena murid-murid lebih senang menghabiskan waktu istirahat mereka di luar ruangan sekolah. Sakura melihat salah satu jendela di sepanjang koridor dekat dengan kelasnya terbuka, Sakura berhenti disitu dan menatap keluar dari jendela. Pemandangan yang dilihat Sakura adalah halaman depan sekolah. Seulas senyum kecil terukir di bibir manis Sakura. Sakura teringat akan Ino. Setiap apa yang dilakukan Ino untuknya terlintas dalam pikirannya. Itulah yang membuat Sakura tersenyum.

"Apakah aku boleh mempunyai seorang teman?" gumam Sakura pelan. Sakura pun menghelakan napasnya dengan panjang.

"Ino sangat baik. Bersamanya membuat aku merasakan perasaan yang seperti dulu saat berteman. Aku ingin berteman dengan Ino, tapi apa aku yang seperti ini pantas untuk menjadi teman Ino?" Sakura bergumam sendirian.

"Kalau ada seseorang yang ingin berteman denganmu, kenapa tidak berteman saja?"

DEG

Sakura sangat terkejut mendengar ada seseorang yang berbicara di belakangnya. Apalagi, suara itu… Sakura segera menoleh ke belakangnya, mereka saling bertatapan dan seseorang itu pun segera masuk ke dalam kelasnya.

"Sa… Sasuke?"

Sakura tidak percaya kalau Sasuke berbicara kepadanya. Apakah Sasuke tidak membencinya seperti yang lain? Tapi, kata-kata Sasuke itu adalah kata-kata yang baik. Sakura mengingat kembali apa yang Sasuke katakan kepadanya, bukankah itu berarti Sasuke menyarankan kalau Sakura harus berteman dengan Ino? Entah mengapa, seperti Sasuke mendukungnya untuk berteman dengan Ino. Perasaan hangat kembali menyelimuti hati Sakura. Sakura senang sekali.

"Ayah… Ibu… aku mendapatkan kekuatan baru untuk terus bertahan menjalani hidup ini dengan tersenyum. Ya, semoga aku kuat menghadapi Bibi Anko!"

Sakura mendapatkan semangat baru, kekuatan baru, dan Sakura bertekad untuk mengubah kehidupannya yang suram itu. Tersenyum lebih baik, dan sangat nyaman bagi Sakura. Daripada terus-menerus meratapi nasib yang terus menderita. Itu membuat dirinya suram dan mati rasa.

.

T_N

.

Sepertinya kehidupan Sakura belum sepenuhnya selalu bahagia. Tidak terasa waktu cepat sekali berjalan, sudah berbulan-bulan Sakura bekerja di café malam itu. Sakura jadi sering tertidur di sekolah, bahkan sampai tertidur di tengah pelajaran. Sasuke yang duduk di samping Sakura khawatir sekali melihat keadaan Sakura sekarang. Sasuke selalu merutuk pada dirinya sendiri karena tidak berani mendekat pada Sakura. Ino juga semakin khawatir melihat Sakura yang sekarang.

"Baiklah anak-anak, sebentar lagi akan ada acara study tour sekolah untuk tugas akhir kalian. Aku akan membagi perkelompok dua orang yang terdiri dari laki-laki dan perempuan. Nah… aku sudah menyiapkan nama para murid laki-laki di kertas ini, jadi yang perempuan harap maju untuk mengambil undian siapakah pasangan kalian."

Kakashi tersenyum pada muridnya dan para murid perempuan mulai maju ke depan untuk mengambil kertas. Setelah semuanya sudah mengambil… masih tersisa satu kertas.

"Siapa yang belum mengambil kertas?" Kakashi mengedarkan pandangannya ke muridnya, tapi tidak ada yang menjawab.

"Baiklah, coba kalian buka kertasnya dan duduk dengan pasangan kalian!"

Yang perempuan membuka kertas yang diambilnya dan menuju pasangan teman kelompok mereka nanti. Banyak yang mengeluh dan ada juga yang senang. Kini semuanya sudah bersama teman kelompok masing-masing dan yang tersisa hanya Sasuke dan Sakura yang tertidur menutupi dirinya dengan buku pelajaran.

"Hmm… berarti di kertas ini adalah namamu Sasuke. Sepertinya ada yang sedang tertidur di kelas ini…"

Kakashi menghampiri meja Sakura dan membuka buku pelajaran yang menutupi wajah Sakura.

"Sakura… Sakura… Sakura…?" Kakashi memanggil Sakura yang tertidur.

Sakura mendengar ada yang memanggil-manggil namanya. Sakura terkejut dan langsung bangun dari tidurnya. Tapi… kepalanya tiba-tiba sangat pusing sekali dan pandangannya memudar.

"Sakura, kau sakit? Sebaiknya kau ke ruang kesehatan saja. Wajahmu sangat pucat." Kakashi melihat wajah Sakura yang sangat pucat, dan ada lingkaran hitam di kedua mata Sakura.

"Maaf, Kakasih-sensei. Aku tertidur dalam pelajaran." ucap Sakura meminta maaf.

Sakura merasa pusing sekali, Sakura mencopot kacamatanya lalu memandang Kakashi-sensei dan melihat semua yang ada di kelas memandangnya. Tidakkah Sakura bisa lihat tatapan para anak laki-laki yang melihat Sakura tanpa kacamata? Mereka bagaikan tersihir oleh kilauan emerald Sakura. Sakura sangat cantik tanpa kacamata besar dan kuno itu.

"Sasuke… bisa kau antar Sakura ke ruang kesehatan?" Kakashi meminta Sasuke untuk mengantar Sakura ke ruang kesehatan.

"Hn," jawab Sasuke yang artinya setuju.

"Tidak! A-aku bisa pergi ke ruang kesehatan sendiri. Tidak perlu ditemani." Sakura menolak diantar Sasuke.

"Tidak bisa Sakura, bagaimana kalau kau pingsan di jalan?" Kakashi tetap menyuruh Sasuke mengantar Sakura ke ruang kesehatan. Kakashi juga sekalian menyuruh Sasuke untuk menjelaskan tentang study tour nanti dan Sasuke sepertinya harus sekelompok dengan Sakura.

Sasuke sepertinya tidak keberatan sama sekali. Sakura sepertinya tidak ada pilihan. Sakura bangun dari duduknya dan sedikit terhuyung karena pusing dan pandangannya yang mulai mengabur. Sakura masih kuat berjalan dengan perlahan. Sakura berjalan keluar kelas dan diikuti Sasuke di belakangnya.

Di perjalanan menuju ruang kesehatan, Sakura merasakan kepalanya semakin pusing dan pandangannya berubah menjadi gelap. Sasuke yang memang sudah waspada, ketika Sakura berhenti berjalan, Sasuke langsung sigap menangkap Sakura yang langsung pingsan. Sasuke pun menggendong Sakura dan segera menuju ruang kesehatan. Tiba di ruang kesehatan, pintu ruang kesehatan sudah terbuka, memudahkan Sasuke untuk segera masuk ke dalam dan menidurkan Sakura di ranjang. Sasuke mencari guru jaga, tapi tidak ada sama sekali guru jaga di ruangan ini. Yah, karena jarang ada yang sakit, makanya ruangan kesehatan ini jarang sekali ada guru jaga.

Sasuke menghelakan napasnya dengan berat dan duduk di kursi yang ada di sebelah ranjang tempat Sakura berbaring. Dilihatnya wajah Sakura yang sangat pucat dan ada lingkaran hitam di bawah matanya yang menandakan kalau Sakura kurang tidur.

"Sakura…"

Sasuke menggumamkan nama Sakura pelan. Sasuke terus memandang Sakura yang seperti tertidur itu. Sasuke sadar kalau ia sedikit menaruh perasaan kepada Sakura, cuma Sasuke sungguh sangat bodoh tidak berani untuk berteman atau dekat dengan Sakura.

"Maaf,"

Sudah 2 jam berlalu. Tangan Sakura bergerak perlahan, lalu kedua matanya bergerak dan membuka perlahan. Sakura mengerjap-ngerjapkan matanya dan melihat ke sekeliling ruangan, dan mata Sakura melihat sosok orang yang diam-diam dia sukai sedang tertidur di samping ranjang kasurnya.

"Sa-Sasuke? Uchiha?" gumam Sakura pelan.

Walaupun pelan tapi telinga Sasuke bisa mendengarnya, Sasuke terbangun dari tidurnya.

"Kau sudah sadar?" Sasuke bertanya masih dengan nada dingin.

Sakura mengangguk kecil. "Kenapa?" Sakura bertanya pada Sasuke yang masih memandang Sakura.

"Hn? Apanya yang kenapa?" Sasuke bingung. Tidak mengerti dengan pertanyaan Sakura.

"Kenapa kau mau repot-repot menungguku? Aku ini…" Belum Sakura selesai bicara Sasuke sudah memotongnya.

"Sudahlah, jangan dibahas. Kau sudah sadar, jadi aku akan menjelaskan tentang study tour nanti."Sasuke menjelaskan kepada Sakura tentang study tour nanti dan Sakura hanya mengangguk.

"Terima kasih atas penjelasannya. Dan maaf, kalau kau harus sekelompok denganku." Sakura sangat takut kalau Sasuke tidak suka sekelompok dengannya.

"…." Sasuke hanya terdiam.

Melihat Sasuke yang hanya diam. Sakura berpikir, kalau Sasuke memang tidak suka sekelompok dengannya. Tidak apa-apa, seharusnya Sakura tidak sedih, karena tidak disukai orang itu sudah sering ia rasakan.

Plokkk

"Eh?"

Sakura terkejut. Sakura terkejut karena tiba-tiba saja Sasuke menepuk kepalanya dengan pelan.

"Kalau ada masalah, kau boleh meminta tolong kepadaku, Sakura."

DEG

Walau terlihat tanpa ekspresi, tapi Sakura bisa melihat sekilas Sasuke yang tersenyum tipis kepadanya.

"Aku kembali ke kelas dan kau istirahat saja…" Sasuke langsung keluar dari ruang kesehatan dan menutup pintunya.

Sakura sangat tidak percaya Sasuke berkata seperti itu padanya. Tidak terasa air mata jatuh menetes dari matanya. Entah tangisan sedih atau tangisan bahagia? Yang pasti Sakura sangat senang dengan tangisannya kali ini.

"Sasuke… terima kasih… dan maaf…"

Sakura menggumam dalam isak tangisannya. Sasuke masih berdiri di depan ruang kesehatan. Sasuke bisa mendengar suara isak tangis Sakura dari dalam. Sasuke sudah bertekad dalam hatinya kalau dia akan menjaga dan melindungi Sakura. Sasuke tidak mau melihat orang yang disukainya menderita seorang diri.

Jam istirahat Sakura ijin pada Kakashi untuk pulang. Ino menghampiri Sakura dan bertanya pada Sakura apa dia baik-baik saja? Sakura menjawab kalau dia tidak apa-apa. Ino sedikit kesal dengan sikap Sakura yang masih selalu dibuat-buat itu, tapi Ino tahu kalau Sakura masih belum mau bercerita kepadanya.

Sakura senang Ino selalu baik padanya walaupun Sakura masih belum bisa terbuka pada Ino. Sekarang ini kebahagian Sakura ada di sekolah bukan setelah pulang sekolah. Sakura takut menceritakan masalahnya kalau Sakura bekerja di café malam. Kalau Ino tahu, mungkin Ino tidak akan mau berteman dengannya lagi. Dan Sakura sebenarnya memang tidak pantas untuk menjadi teman Ino.

Sakura berjalan menuju sebuah taman di dekat sekolahnya. Di sana ada sebuah rumah-rumahan kecil dan Sakura masuk ke dalam rumah-rumahan itu. Hanya tempat ini yang bisa membuat Sakura tenang. Sakura tidak perlu takut kalau pulang terlambat, karena Anko hari ini akan ada di café-nya sampai besok pagi. Sakura masih punya banyak waktu sebelum jam 8 malam.

Hari sudah gelap, Sakura ternyata tertidur di dalam rumah-rumahan ini. Sakura melihat jam di tangannya dan betapa kagetnya Sakura sudah jam setengah tujuh malam.

"Astaga! Bibi Anko pasti akan menghukumku kalau aku telat!"

Sakura bergegas berlari keluar dari taman itu. Tidak ada waktu lagi untuk bersantai-santai. Sakura segera kembali ke rumahnya untuk makan dulu secepatnya, karena dari siang dia belum makan apa-apa. Sakura langsung membawa baju ganti seragam kerjanya dan peralatan make-up ke dalam tas sekolahnya. Dengan cepat Sakura berlari menuju café malam milik Anko.

Kenapa Sakura takut telat? karena pernah sesekali Sakura terlambat datang, karena Sakura sedang serius mengejarkan tugas sekolahnya, jadi tidak melihat jam lagi. Para orang suruhan Anko datang mencarinya dan langsung menyeret Sakura ke café malam itu. Kejam bukan?

Sasuke sedang berkeliling di pusat Kota Konoha malam hari dengan sepeda motornya. Lalu matanya menangkap sosok perempuan yang ia kenal. Seorang gadis berambut merah muda sedang tergesa-gesa berlari di tengah keramaian Kota Konoha ini.

"Sakura? Sedang apa dia berlari seperti itu?"

Sasuke berniat untuk mengikuti Sakura yang sedang berlari. Sakura berhenti di depan sebuah café malam tempat orang-orang dewasa dan remaja untuk bersenang-senang.

"Tempat ini? Apa yang Sakura lakukan di tempat ini?"

Sasuke sangat penasaran apa yang Sakura lakukan di tempat seperti ini. Berbagai macam tuduhan pada Sakura berputar-putar di kepalanya. Tapi Sasuke masih belum bisa percaya pada pikirannya itu sebelum memastikannya. Sasuke melihat Sakura masuk ke sebuah lorong yang berada di samping gedung café itu. Sepertinya itu jalan untuk para pegawai café ini.

Sasuke masuk dan memarkirkan motornya ke area parkir. Dengan cepat Sasuke mengikuti Sakura masuk ke dalam lorong itu dan melihat Sakura memasuki toilet untuk perempuan. Sasuke mengenakan jaket dan memakai tudung jaketnya untuk menutupi dirinya. 10 menit Sasuke menunggu Sakura keluar dari toilet perempuan tapi belum ada tanda-tanda Sakura keluar dari toilet. Sasuke terus memperhatikan orang-orang yang keluar dari toilet itu, lalu sesosok perempuan berambut pink di kuncir ekor kuda tinggi dengan pakaian kemeja ketat warna putih di tubuhnya dan rok di atas lutut 5cm berwarna merah, dengan make-up tipis di wajahnya keluar dari dalam toilet. Tadinya Sasuke pikir itu Sakura, tapi tidak mungkin kalau Sakura terlihat sangat dewasa seperti itu. Wanita itu berjalan melewati Sasuke dan Sasuke seketika sedikit terpana dengan kecantikan wanita itu, Sasuke menggeleng-gelengkan kepalanya berusaha sadar, tidak mungkin Sasuke tertarik dengan wanita penghibur itu. Sasuke memperhatikan wanita itu lagi dan betapa terkejutnya Sasuke melihat tas yang di bawa wanita itu, itu bukannya tas milik Sakura? Akhirnya Sasuke mengerti kalau wanita tadi adalah Sakura. Sasuke sedikit kecewa dengan kenyataan kalau Sakura ternyata adalah seorang wanita penghibur di café malam ini. Tapi… lagi-lagi… rasa penasaran Sasuke belum hilang, Sasuke memutuskan untuk masuk ke dalam café itu dan ingin tahu lebih banyak tentang kehidupan Sakura.

Sasuke memasuki tempat yang bisa di bilang terlarang ini. Seorang wanita muda, kira-kira berusia 20 tahunan menghampiri Sasuke.

"Selamat datang Tuan Muda…" Wanita itu hendak menggelayut manja pada tangan Sasuke, tapi Sasuke segera menepis tangan wanita itu kasar dan membuat wanita itu sedikit kaget dengan kelakuan Sasuke.

"Waahh… baru kali ini ada tamu yang dingin sepertimu. Ada yang bisa aku bantu?" Wanita berambut merah panjang itu mengikuti Sasuke yang berjalan menuju meja di sudut café ini, dekat jendela, dan duduk di sana.

"Kau mau pesan apa?" Wanita itu memberikan daftar menu café ini, dan Sasuke hanya memesan secangkir kopi.

"Tunggu sebentar, ya." Wanita merah itupun pergi untuk mengambil pesana Sasuke.

Sasuke mengedarkan matanya ke seluruh penjuru café ini untuk mencari Sakura. Sasuke tidak menemukan sosok Sakura.

"Silahkan…" Cepat sekali wanita merah ini datang dan membawakan pesanan Sasuke.

Wanita itu memandang wajah Sasuke yang sangat tampan dan tersenyum genit pada Sasuke. Sasuke memberinya tatapan mematikannya tapi tidak mempan pada wanita ini, menyebalkan! Rutuk Sasuke dalam hati.

PPRAAANNGGG…!

Terdengar sesuatu yang pecah.

"KURANG AJAR SEKALI KAU! AKU SUDAH MEMBAYAR LEBIH AGAR KAU YANG MELAYANIKU DI SINI, TAPI KAU MALAH KURANG AJAR PADAKU! DASAR WANITA SIAL…!" Teriak seorang tamu pria yang berbadan besar dengan baju yang basah seperti terkena tumpahan air.

Sasuke melihat ke arah kerumunan orang-orang yang sepertinya terjadi keributan itu. Sasuke mendekat ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi. Sasuke terkejut… di sana ada Sakura yang sedang dimarahi oleh seorang pria yang berbadan besar. Sasuke rasanya ingin menghajar orang itu yang membentak Sakura.

"Ah… maaf Tuan, maafkan dia. Saya akan menggantinya dengan pelayan yang lain, saya akan memberikan bonus tiga orang sekaligus, bagaimana?" Anko datang dan menenangkan tamunya itu.

"SUDAH CUKUP…! KALIAN TAHU SIAPA AKU? AKU MERASA TERHINA DI PERLAKUKAN BEGINI OLEHNYA…! AKU TIDAK AKAN PERNAH DATANG LAGI KEMARI…!" Pria besar itu marah dan langsung keluar dari café malam ini.

'Baguslah. Jangan datang lagi!' kata Sasuke dalam hati.

"Sakura… ikut denganku sekarang juga!" Anko menyuruh Sakura mengikutinya.

Sakura tahu pasti dia akan dihukum lagi. Seperti tidak mempunyai nyawa, Sakura mengikuti Anko masuk ke dalam. Sasuke bisa melihat kalau pandangan mata Sakura itu kosong, seperti tidak bernyawa.

"Lagi-lagi anak itu membuat keributan! Tidak sakit apa setiap kali dihukum?" gumam wanita merah itu yang sudah ada di samping Sasuke.

"Kau tahu sesuatu tentangnya?" Sasuke bertanya pada pelayan rambut merah itu.

Arah Anko dan Sakura pergi tadi sejalur dengan arah menuju toilet. Sasuke dengan berpura-pura ingin ke toilet, mengikuti Anko dan Sakura. Kalau ke toilet berbelok ke kiri, Anko dan Sakura berbelok ke kanan. Di lorong ini hanya ada satu ruangan, pasti ruangan wanita yang membawa Sakura, pikir Sasuke. Anko tidak menutup pintu ruangannya dengan rapat sehingga Sasuke bisa mengintip ke dalam dan melihat Anko dan Sakura sedang berdiri berhadapan.

PLAAAKKK…! Sebuah tamparan keras mendarat di pipi halus Sakura. Sakura meringis sakit, dan Sasuke sangat terkejut melihatnya.

"Sudah berapa kali aku bilang padamu agar melayani tamu dengan baik! Sepertinya kau selalu melawanku, ya! Tidak pernah menurut padaku!"

Sasuke melihat Anko memegang sebuah kayu kecil panjang dan Anko mencambuk punggung belakang Sakura. Sakura tidak bereaksi apa-apa, rasanya… rasa sakit di tubuhnya ini sudah kebal bagi tubuhnya. Sasuke tidak percaya dengan apa yang baru saja di lihatnya. Anko mulai menceramahi Sakura lagi, Sasuke mendengarkan ocehan-ocehan Anko pada Sakura, Sasuke berpikir wanita itu sangat kejam pada Sakura.

"Mengerti Sakura?!"

Anko selesai berbicara. Sakura hanya mengangguk dan memulai bicara.

"Bisakah aku tidak bekerja untuk sementara waktu? Sebentar lagi ujian sekolah dan dua bulan lagi aku akan lulus. Setelah aku lulus aku akan berusaha untuk melayani para tamu di sini…" Sakura berbicara dengan nada getir.

"Hmm… kau mau menawar setelah selalu berbuat kesalahan, ya? Aku mengerti. Ku ijinkan kau tidak bekerja dulu di sini sampai kau lulus. Tapi setelah kau lulus, kau harus bekerja dengan serius di sini. Jangan sok suci jadi orang Sakura!" Anko menyetujui permintaan Sakura.

"Terima kasih, Bibi." Sakura mengucapkan terima kasih.

Anko sepertinya ingin keluar dari ruangannya dan Sasuke bersembunyi di balik pot pohon yang lumayan besar. Sasuke terkejut mendengar pembicaraan Sakura tadi, jadi… wanita kejam itu Bibinya Sakura. Setelah Anko pergi, Sasuke mengintip kembali ke dalam dan melihat Sakura yang masih berdiri dengan wajahnya tertunduk. Sasuke bisa melihat pundak Sakura bergetar, Sakura menangis. Ingin rasanya Sasuke menghampiri Sakura dan memeluknya dengan erat dan membawa Sakura pergi jauh dari tempat ini. Tapi Sasuke lega karena Sakura diijinkan tidak bekerja sampai lulus nanti, masih ada waktu untuk membantu Sakura keluar dari tempat laknat ini.

Sasuke kembali ke mejanya dan meminum kopinya.

"Hai… lama sekali ke toiletnya?" Wanita berambut merah itu menghampiri Sasuke lagi.

"Kau tahu tentang gadis yang dimarahi tadi? Aku akan membayarmu!" Sasuke mengeluarkan uang yang lumayan banyak kepada wanita pelayan itu.

"Waaah… ini sih banyak sekali hanya untuk informasi keponakan Anko itu!" Wanita itu langsung mengambil uang yang di sodorkan Sasuke.

"Cepat kau beritahu aku informasi tentang gadis itu!" Perintah Sasuke.

"Dia namanya Haruno Sakura, seorang anak yatim-piatu. Orangtuanya kecelakaan lalulintas dan hanya dia yang selamat dari kecelakaan itu. Anko pemilik café ini adalah adik dari ibunya Sakura, dan Anko yang menampung Sakura di rumahnya. Waktu itu Sakura masih kelas 3 SMP. Yang kutahu orangtua Sakura itu kawin lari, karena hubungan keduanya tidak direstui oleh keluarga dari Ayah Sakura. Sakura tadinya hanya di jadikan pembantu di rumahnya, karena banyak para tamu yang suka main ke rumah Anko, para tamu itu melihat Sakura yang cantik dan ingin sekali dilayani oleh Sakura. Anko bilang pada para langganan tamunya kalau mau dilayani Sakura nanti kalau Sakura sudah cukup umur, dan sekarang Sakura sudah cukup umur, sudah hampir setahun yang lalu Anko menyuruhnya bekerja di café ini. Sakura bekerja seminggu 4 kali. Seperti yang kau lihat tadi, setiap ada tamu yang membayarnya… Sakura selalu membuat para tamu marah dengan menyiram air ke tamunya, kalau tamunya itu ingin menyentuhnya sedikit saja. Sakura tidak kapok-kapok membuat para tamu marah dan mendapatkan hukuman dari Anko. Tapi aku juga heran kenapa Anko masih saja mempertahankan Sakura untuk bekerja di sini kalau Sakura terus-terusan membuat tamu marah!" Wanita itu menjelaskan pada Sasuke.

"Kenapa Sakura tidak kabur saja dari Anko?" Sasuke bertanya lagi.

"Pernah Sakura kabur, tapi orang-orang suruhan Anko berhasil menyeretnya kembali!" Wanita itu menghela napas, dan merasa kasihan juga pada Sakura.

"Hn, terima kasih atas infonya! Aku pergi dulu!" Sasuke segera beranjak dari duduknya dan menaruh uang untuk membayar kopinya.

Wanita berambut merah itu hanya diam saja melihat orang seperti Sasuke yang cuek itu.

"Dia bahkan tidak menanyakan namaku, namaku Tayuya… Tuan Muda yang dingin." gumam wanita berambut merah yang bernama Tayuya.

'Aku baru tahu dan melihat sendiri… kehidupan yang sangat kelam di dunia ini. Sakura sungguh menderita hidupnya, tapi dia kuat sekali bisa bertahan selama ini. Seandainya aku tahu masalahnya dari awal waktu itu, aku pasti akan berusaha menolongnya. Aku jadi ingat kata-katanya waktu pertamakali bertemu dengannya.'

"Kenapa Ayah dan Ibu tidak mengajakku bersama kalian saja ke surga? Aku sudah tidak kuat lagi…" ucap Sakura sedih. "Maaf, Ibu… aku tidak bisa kuat… pesan terakhir Ibu agar aku selalu jadi anak yang kuat dan tetap tersenyum, aku tidak bisa…." ucap Sakura kembali.

'Waktu itu aku memang orang yang tidak perduli sama orang lain terutama terhadap perempuan. Maafkan aku, Sakura. Aku akan menolongmu.'

Sasuke menunggu Sakura di depan café ini. Jam 1 malam Sakura keluar dari café.

"Sakura…" Sasuke memanggil Sakura yang berjalan melewatinya. Sakura sangat terkejut melihat Sasuke ada di sana. Sakura dengan cepat berlari menghindar dari Sasuke. Sasuke pasti tahu kalau Sakura adalah seorang gadis penghibur. Sasuke dengan motornya mengejar Sakura.

"Sakura, jangan lari Sakura! Aku mau bicara padamu!" Sasuke memanggil Sakura yang ada di depannya.

Sakura berhenti dari larinya dan berbalik menatap Sasuke.

"Mau apa kau? Mau menghinaku? Silahkan! Mau menyebarkan kalau aku ini gadis penghibur di sekolah, silahkan!" Sakura rasanya ingin menangis, orang yang disukainya melihatnya keluar dari café malam itu. Sungguh tidak terbayangkan sama sekali.

Sasuke menarik tangan Sakura dan menyuruhnya untuk ikut naik ke motornya. Sakura tadinya berontak tapi pegangan Sasuke kuat sekali, jadinya Sakura menurut untuk naik ke motornya Sasuke. Sasuke membawa Sakura ke rumahnya.

Sakura melihat di depannya ini sebuah rumah yang sangat megah. "Ayo masuk!" Sasuke menarik tangan Sakura untuk mengikutinya masuk ke dalam rumahnya. Sasuke menyuruh Sakura untuk duduk di bangku sofa ruang tamunya. Sakura melihat ke sekelilingnya, sepertinya rumah ini tidak ada penghuninya. Di depan hanya ada dua orang satpam.

"Kau tenang saja, hanya ada aku dan para pembantu di sini. Orangtuaku sedang pergi ke luar negri." Sasuke sepertinya tahu apa yang Sakura pikirkan.

"Kenapa kau membawaku ke rumahmu?" Sakura menatap Sasuke tajam. Sasuke terkejut Sakura bisa menatapnya tajam seperti itu, berbeda sekali ketika waktu di sekolah.

"Aku sudah tahu semua tentangmu, Sakura." Sasuke menatap tatapan tajam Sakura kepadanya.

Sakura menoleh ke samping untuk menghindari tatapan mata dingin Sasuke yang bisa membuat dirinya berdebar.

"Kalau sudah tahu, kenapa kau membawaku ke rumahmu?" Sakura bertanya lagi.

"Menurutmu kenapa aku membawamu kemari?" Sasuke menyeringai pada Sakura dan bertanya balik pada Sakura.

Sakura sepertinya mengerti maksud Sasuke dan Sakura menjadi geram, "Jangan seenaknya ya! walaupun aku bekerja di sana, jangan berharap kalau aku akan melayanimu!"

Sakura marah dan beranjak dari duduknya menuju pintu keluar.

"Hahaha…"

Tiba-tiba saja Sasuke tertawa dan membuat Sakura heran dan membalikkan tubuhnya menatap Sasuke. Sasuke juga bingung dengan tindakannya kali ini, ini di luar pikirannya. Apalagi Sasuke bisa tertawa seperti itu, dirinya juga heran. Sasuke mendekat pada Sakura.

"Mau apa kau?" Sakura berjalan mundur karena takut.

"Aku terkejut sekali melihat kau bisa marah seperti itu." Sasuke kali ini menatap Sakura dengan lembut.

"Sakura… maafkan aku. Seandainya saja aku dari awal sudah tahu,"

Sasuke berkata lirih di depan Sakura. Sakura sama sekali tidak mengerti apa yang di ucapkan oleh Sasuke.

"Ayo, aku antar kau pulang."

Sasuke keluar dan Sakura mengikuti di belakang. Sasuke mengantar Sakura ke rumah Anko. Sampai di rumah Sakura, "Kau tinggal di sini?" Sasuke bertanya, Sakura hanya mengangguk.

"Baiklah, sampai jumpa besok di sekolah."

Sasuke mengelus kepala Sakura sambil tersenyum tipis, lalu pergi. Sakura sangat bingung dengan kelakuan Sasuke yang tiba-tiba baik kepadanya. Tapi, dalam hati Sakura rasanya sangat hangat dan sangat tenang. Tanpa sadar, Sakura tersenyum senang.

BERSAMBUNG

REPUBLISH

16 AGUSTUS 2013

A/N :

TARAAAAA…! Err… tadinya fanfic ini mau saya hapus ^^a tapi gak jadi. Kenapa? Jangan tanya kenapa, hehehe… #plak

Setahun lebih tak di update maafkan saya… XD Nih, chapter 2 udah ada, gimana? Suka gak? :D

Maaf kalau masih banyak kesalahan dalam penulisan. Saya ini gak pinter-pinter, ya? Ngartinya lama… ^^a

Ini juga saya relain begadang ngetik ini, padahal kondisi fisik lagi tidak enak. Saya kangen update fanfic… TT^TT

Nyo, gak banyak curhat, terima kasih banyak buat yang sudah membaca dan mereview fanfic ini… :D

Semoga kalian semua selalu terhibur dengan fanfic ini… ;D

Balas review chapter 1 dulu, nyo…

Matsumoto Rika : Wah... Sudah lama sekali fanfic ini akhirnya ada lagi dan tambahan cerita yang buat tambah seru. Kenapa cerita yang dulu dihapus? Tapi ya gak apa-apa _ Ayo Next Chapter Selanjutnya Update Kilat Ya...

Thia Nokoru : Hai… terima kasih sudah mau membaca dan mereview kembali… :D Err… sepertinya tambahan cerita saya gak tau apakah ada atau tidak, yang pasti perubahan ada. Kenapa ceritanya dihapus? Itu… ya, begitulah… maklum waktu itu masih mental tempe, tidak tahan sama omongan jelek. ^^a sekarang udah tahan banting, hahaha… XD Maaf, ya… updatenya setahun lebih, semoga kamu masih mau membaca chapter 2 ini… ;D

Obsinyx Virderald : wah.. knp d re-publish? knp jg sempet d delete? saya uda prnh baca n saya suka ceritanya.. yah walaupun uda rada2 lupa ma jln ceritanya.. Xp saya lupa apakah d sini ada lemon atau mature scene.. seinget saya dulu saya baca fic ini n nnya k dlm hati,knp fic ini bisa d taro d rate m y? soalnya yg saya inget gak ada lemon atau mature scene.. a gomen ne.. tp saya tetep suka ceritanya kok.. d tunggu chap berikutnya.. D

Thia Nokoru : Hai… kenapa di republish? Ya, begitulah… hahaha… #plak Terima kasih sudah mau membaca kembali fanfic ini… :3 Err… saya mau rubah isi, gak semua sih, mau saya jadiin rate T. Waktu dulu rate T atau M, ya? Saya juga lupa… hehehe… Yang pasti saya taruh di rate M karena mengandung unsur kekerasan dan yah ada adegan-adegan yang, bukan lemon atau lime dan sejenisnya sih, memang tidak ada. Rate M kan bukan berarti harus ada lemon, lemon itu kan termasuk rate MA, kan? ^^a Pokoknya mau saya rubah ke rate T semi M ya… ^^v Maaf updatenya lama… Semoga kamu mau membaca kembali chapter 2 ini… :D Terima kasih sudah mau membaca ulang dan mereview fanfic ini, ya… :D

Soo Dana : Waw udah pernah baca dan fict nya seru! Oke chp 2 ditunggu, uhm karena ini rated M ada adegan lemon ga? Haha #plak mesum

Thia Nokoru : Hai… Terima kasih mau membaca kembali dan mereview… :D Maaf updatenya lama… Err… saya mau ganti jadi rate T semi M aja, tidak ada adegan lemon… ^^v hehehe…

Chini VAN : Waaa! Kangen fic ini! Ini fic favoritku! Aku kira ga bakalan bisa baca fic ini lagi... :( Tapi syukurlah... :D Kira-kira fic yg ini ada perbedaan sama fic yg dulu ga? #sekedar nanya# . Ok sekian dulu, dan trimakasih sudah meng-ada-kan fic ini kembali! V UPDATE!

Thia Nokoru : Hai… Terima kasih banyak fanfic ini menjadi favorit kamu… :'D Perbedaan mungkin cuma sedikit, gak banyak. Maaf, chapter 2 baru diupdate sekarang. Terima kasih sudah mau membaca kembali dan mereview, ya… semoga kamu selalu terhibur dengan fanfic ini… ;D

DarkBlueCherry : Bikin yuri dunk... SakuIno couple fufufu :D

Thia Nokoru : Ahahahaha… saya emang lebih suka yuri daripada yaoi… hehehe… :3 Tapi buat bikin fanfic yuri saya masih belum berani, hehehe… maaf, ya… ;)

Uchiha Akira : Wow, keren bgt cerita.x aku suka bgt ama ceritax bikin aku terharu bgt deh! Apdet kilat z senpai !

Thia Nokoru : Hai… terima kasih sudah membaca dan mereview… :D Terima kasih juga dibilang keren, ^U^ Maaf, ya… updatenya luama banget… nih udah update, semoga kamu masih mau membacanya, ya… :D

Karasu Izaya : SM0GA chap.2 cpet update,

Thia Nokoru : Nyoo~ maaf, updatenya lama… TT_TT Terima kasih sudah mau membaca fanfic ini dan mereviewnya, ya… nih udah update, semoga kamu masih mau membacanya… :D

Eunike Yuen : Aku masih inget loh sama ceritanya! Seru banget! Semoga ini juga tambah seru! Semoga nanti kayak yang dulu, happy ending...Semangat author!
Sign,
Eunike Yuen!

Thia Nokoru : Hai… wah, kamu masih inget? Terima kasih… senang kalau kamu suka… :D Pasti happy ending, kan ceritanya sama… :D Semangat…! Terima kasih mau membaca kembali dan mereview, ya… semoga kamu selalu terhibur dengan fanfic ini… :D

Aoi Ciel : Keren,,, ceritanya bagus... Lanjutkan ya... See you next chap...

Thia Nokoru : Hai… Terima kasih dibilang keren… :D Ini sudah lanjut… Terima kasih sudah mau membaca dan mereview, ya… :D

Hany-chan DHA E3 : Huuuuaaa..! Aku kangen banget sma save me sequelnyaa! Aku fav!

Thia Nokoru : Hai… Terima kasih sudah di fav… :D Terima kasih juga sudah mau membaca kembali dan mereview… Semoga kamu selalu terhibur dengan fanfic ini ya… ;D

Annonim : Cih ! Akhirnya kamu kembali juga, wahai pengkhianat. Setelah kamu debut di NaruSaku, dan tidak terkenal di sana kamu kembali ke asal. Yaitu SS. Kamu anggap SasuSaku itu apa,heh? Kamu menghapus fic SasuSaku-mu, tanpa menyadari perasaan para penggemar fic mu, tapi setelah kamu nggak terkenal di N.S, kamu kembali, cih! Pengkhianat! Dulu kamu benar" ingin melupakan SS kan? Aku harap kamu sadar apa yang kamu lakukan, jangan sok deh kamu ! Pengkhianat kuadrat !

Thia Nokoru : Hai… Jujur… dulu saya suka buat fanfic NaruSaku, NaruSaku fanfic pertama buatan saya, tapi saya jarang baca fanfic NaruSaku author lain. Saya lebih suka baca fanfic SasuSaku, dulu gak bisa bikin fanfic SasuSaku. Saya coba buat fanfic SasuSaku, ternyata responnya banyak yang suka. Teman-teman author dari NaruSaku juga tahu kalau saya Sakura centric, mereka tidak marah sama saya karena saya buat fanfic yang bukan NaruSaku. Saya gak ngincer mau terkenal atau apalah namanya itu, saya gak masalah fanfic saya terkenal atau tidak. Dapet review dikit atau banyak saya gak terlalu mempermasalahkan. Saya senang-senang aja selama masih ada yang bilang suka… walau itu cuma 1 atau 2 orang saja yang baca… ^U^ Saya menghapus fanfic saya, karena saya waktu itu masih tidak tahan banting, bukan karena fanfic saya dapet flame, ini masalah lain, saya niat mau undur dari dunia fanfiction. Banyak yang PM saya, ada yang marah, ada yang kasih semangat buat lanjut, dan akhirnya saya kembali dan semoga bisa merepublish semua fanfic-fanfic saya. Saya ini Sakura centric. Saya suka Sakura. Mau saya buat Sakura berpasangan dengan siapa, saya suka semuanya… :3 Tapi, jujur… Sasuke itu emang GANTENG, CAKEP, yang lain gak bisa nandingin, ya… XD Terima kasih sudah berkomentar… love you… :*

azu : haha. .please lnjutkan

Thia Nokoru : Hahaha… nie, sudah dilanjutkan… :D Terima kasih sudah membaca dan mereview… :D

Azakayana Yume : LANJUTKAN

Thia Nokoru : Nyo~ LANJUTKAN…! Terima kasih sudah membaca dan mereview, ya, Yume… :D

Guest : kirain oneshot ternyata enggak. tp bagus dech ceritax seru sih! :) readers setia menunggu :P

Thia Nokoru : Hai… Terima sudah membaca dan mereview… :D Nih udah update, semoga masih mau membaca, ya… :D

Nina317Elf :huft aku menangis bacaNa, mdah2an ada ino n sasu, pndritaan saku akan trhapuskan. Next chap

Thia Nokoru : Hiks… terima kasih sudah terharu… :') Terima kasih sudah membaca dan mereview, ya… :D Nih, udah update, semoga suka… :D

YashiUchiHatake : huaaaaaT.T pukpuk sakura. penasaran. waiting for next chapter

Thia Nokoru : Puk puk puk… jangan nangis… T^T Terima kasih sudah membaca dan mereview… :D Nih, udah update, semoga suka, ya… :D

Himawari no AzukaYuri : sakura kasihan sekali.. lega rasanya ada ino sama sasuke yg mau peduli..
lanjut yaa, ditunggu chap slanjutnya :)

Thia Nokoru : Hai… Terima kasih sudah mau membaca dan mereview… :D Ini sudah update, semoga kamu suka, ya… :D

MilanArizawa : Masih. Senpai, ending nya sama atau enggak sama fic yang dulu?

Thia Nokoru : Sama, cuma saya mau mengurangi adegan romantis dan kekerasannya… XD Terima kasih banyak mau membaca ulang dan mereview, ya… Semoga kamu selalu terhibur… :D

Uchiha Matsumi : huweee baru chapter 1 aja gw udah ber-nangisnangis ria thor !ceritanya bagus thor! lanjut dongs

Thia Nokoru : Te-terima kasih banyak… :'D Terima kasih banyak sudah membaca dan mereview, ya… Nih, udah update, semoga suka, ya… :D

Guest : Makin penasaran nich. Kpn bisa posting chapter 2. Kalau bisa cepat posting nya.

Thia Nokoru : Maap… ya… hehehe… ^^a

Yeaaahh… selesai sudah balas reviewnya… \(^O^)/

Saya gak janji chapter 3 bakal cepet, ya… ;]

Semoga kalian suka chapter 2 ini, dan selalu terhibur membaca fanfic ini…

Be Happy All

Love You

:*