Re-publish
Naruto © Masashi Kishimoto
Save Me © Thia Nokoru
.
* Save Me *
.
Chapter 3,
Apakah ini bisa dibilang sebuah awal kehidupan baru yang singkat? Kehidupan Sakura yang tidak lagi bekerja di tempat Anko untuk sementara. Tidak bertemu dengan para tamu yang selalu menatap Sakura dengan tatapan mesum dan jam istirahat Sakura di rumah lebih banyak. Mungkin singkat, hanya sampai Sakura lulus sekolah. Tapi, bagi Sakura, Sakura sudah punya semangat hidup baru, jadi jangan sia-sia'kan kesempatan baik ini untuk ketenangan.
"Ayah, Ibu, entah mengapa… hari ini aku senang sekali…" Sakura menatap langit biru cerah di pagi hari ini, sambil menggumam pelan dalam perjalanannya ke sekolah.
"Apakah karena aku tidak lagi bekerja di café Anko? Yah, walau hanya sampai lulus, aku masih ingin berharap bisa bebas seperti saat ini… selamanya…" Sakura tersenyum manis pada langit biru. Seolah-olah Sakura sedang tersenyum kepada kedua orangtuanya yang sudah tiada.
Seperti biasa, Sakura selalu datang pagi-pagi sekali ke sekolah. Sakura membuka pintu kelas, dan sudah pasti di dalam kelas sudah ada Sasuke. Ya, sudah ada Sasuke. Sakura memasuki kelas, Sasuke menatap Sakura, dan mereka berdua pun saling berpandangan.
DEG
Sakura berdebar-debar, Sasuke kini sedang menatapnya. Sakura jadi teringat kejadian semalam. Sakura masih bertanya-tanya, mengapa Sasuke sangat baik kepadanya? Sakura juga masih belum mengerti kata-kata yang diucapkan Sasuke kepadanya. Wajah Sakura terasa panas, Sakura pun berjalan menuju bangkunya dengan menundukkan wajahnya. Sakura tidak berani menatap Sasuke, takut kalau Sasuke bisa melihat wajahnya yang memerah.
"Sepertinya kau sedang senang?"
Sasuke tiba-tiba saja bertanya kepada Sakura saat Sakura sudah duduk di bangkunya. Nada bicara Sasuke memang masih terdengar dingin, tapi bagi Sakura itu bukan sebuah pertanyaan yang menyakitkan, kan? Dan Sakura hanya bisa diam, masih menundukkan wajahnya. Tidak menjawab pertanyaan Sasuke.
"Jangan takut. Aku sudah mengatakan, kau boleh minta tolong kepadaku kalau kau ada masalah, Sakura?"
Sasuke menatap Sakura yang masih menundukkan wajahnya. Sakura tahu Sasuke menatapnya, tapi Sakura tidak berani menatap wajah Sasuke. Tapi, Sakura tidak bisa menghindar.
"Aku… aku tidak mengerti apa maksudmu," Sakura memberanikan diri untuk menatap Sasuke.
"Sakura, aku…" Sasuke tidak jadi melanjutkan kata-katanya karena Sasuke melihat Ino yang baru saja datang ke kelas.
"SELAMAT PAGI, SASUKE, SAKURA…!" Ino berteriak mengucapkan selamat pagi kepada orang-orang yang rajin sekali datang pagi-pagi ke sekolah.
Sasuke dan Sakura jadi canggung, mungkin tidak tampak dari luar, tapi Sasuke dan Sakura merasa jadi salah tingkah.
"Sakura… kau sudah sehat, kan?" Setelah menaruh tas di bangkunya, Ino segera menghampiri Sakura. Sakura hanya menjawab dengan anggukan kecil dan senyuman kecil. Melihatnya, Ino menghela napas lega dan bersyukur kalau Sakura sudah baik-baik saja.
"Terima kasih, Ino." Sakura senang sekali. Ino ternyata benar-benar sangat perduli kepadanya.
"Kau ini temanku, kau sudah aku anggap seperti saudara, Sakura…" Ino tersenyum kepada Sakura. Mendengarnya, Sakura sangat terharu.
"Oh, ya! Sakura, kau sekelompok dengan Sasuke, ya? Kalau Sasuke jahat kepadamu, bilang padaku, ya!" Ino berkata sambil menatap Sasuke.
Sasuke yang merasa disindir, hanya mendengus kesal kepada Ino. Tanpa berkata apa-apa untuk membalas perkataan Ino, Sasuke hanya langsung berjalan keluar dari kelas. Ino dan Sakura yang melihatnya heran, yah… memang begitulah sifat Sasuke, kan? Mungkin? Ino pun melanjutkan obrolannya dengan Sakura.
Jam istirahat telah tiba, Sakura memilih untuk berdiam diri di dalam kelas. Kini, hanya ada Sakura seorang diri di dalam kelas. Memang jarang sekali murid yang menghabiskan waktu istirahat di dalam kelas, mereka lebih suka di luar kelas. Ino berjalan seorang diri menuju kantin, di lorong sekolah yang sudah sepi, Ino melihat Sasuke yang sedang melamun sendirian di salah satu jendela lorong sekolah yang terbuka. Entah mengapa, pikiran jahil muncul di kepala Ino. Ino berniat akan mengerjai Sasuke. Ino tahu, Ino sudah lama mengetahui kalau Sasuke itu suka melirik-lirik ke Sakura diam-diam. Dengan tersenyum iblis, Ino pun berjalan mendekati Sasuke.
"Sasuke!" Ino menyapa Sasuke dengan senyuman cerianya.
"Hn?" Dengan malas, Sasuke merespon panggilan Ino.
"Sasuke, Sakura menunggumu di kelas. Katanya, sih, dia mau berbicara sesuatu kepadamu. Err… aku tidak tahu apa, Sakura hanya bilang seperti itu kepadaku kalau aku bertemu denganmu."
"Benar?"
Yup, Ino memang pantas jadi seorang artis. Sasuke saja sepertinya sangat percaya dengan apa yang Ino katakan. Ino tertawa dalam hati. Ino tidak menyangka kalau Sasuke sepertinya langsung percaya kepadanya.
"Hm," Ino mengangguk.
"Aku pergi," Tanpa curiga sedikitpun, Sasuke pun langsung pergi untuk menemui Sakura di kelas.
"Ahahahaha…" Ino tertawa terbahak-bahak saat Sasuke sudah jauh darinya.
Sasuke dengan segera menuju kelas untuk menemui Sakura. Sasuke berpikir, apakah mereka akan melanjutkan pembicaraan pagi tadi? Atau, Sakura mau berbicara tentang masalahnya? Apa pun itu yang akan mereka bicarakan nanti, Sasuke terlihat sangat senang. Terlihat, ada senyum tipis menghias bibir Sasuke.
Sampai di depan kelas, Sasuke membuka pintu kelas dan masuk ke dalam kelas. Sasuke melihat Sakura yang sedang sendirian di dalam kelas. Lagi-lagi Sakura memandang langit. Apa bagusnya menatap langit? Pikir Sasuke. Sasuke pun segera berjalan mendekat pada Sakura dan berdiri di depan meja Sakura. Sakura merasakan kalau di depannya ini ada seseorang. Sakura pun menoleh, dan melihat ada Sasuke yang berdiri di hadapannya.
"Kau mau bicara apa?" Sasuke dengan tatapan serius bertanya kepada Sakura.
"Eh?" Sakura tidak mengerti. Sakura mengkerutkan keningnya dan berpikir, mau bicara apa?
Melihat reaksi Sakura, Sasuke tidak mengerti. Mengapa Sakura terlihat bingung saat Sasuke bertanya?
"Kau mau bicara padaku, kan?" Sasuke bertanya ulang.
"Aku? Aku tidak mengerti, apa maksudmu?" Sakura berkata pelan. Sakura memang tidak mengerti.
"Kau tidak memanggilku?" tanya Sasuke.
Sakura hanya menggelengkan kepalanya pelan. Sasuke mulai mengerti. Sasuke ternyata kena dikerjain oleh Ino. Sasuke merutuk dalam hati. Bodoh.
"Mungkin aku salah orang."
Sasuke kesal, rasanya dia mempermalukan dirinya sendiri di depan Sakura. Tapi, tidak apa. Sasuke senang bisa berbicara dengan Sakura. Sasuke pun duduk di bangkunya dan Sakura mulai kembali menatap ke luar jendela, memandang langit. Keduanya pun hanya saling berdiam diri.
Sasuke memang tidak suka keramaian. Tapi, berdua saja dengan orang yang disukai, apa yang bisa Sasuke lakukan? Sasuke tidak tahu sama sekali harus bagaimana. Sebagai seorang laki-laki, setidaknya Sasuke bisa mengajak Sakura untuk berbicara. Sasuke pun merutuk dalam hatinya karena Sasuke tidak bisa melakukan apa-apa dalam keadaan yang sepi ini.
Greeekkk
Pintu kelas terbuka, terlihat Ino yang memasuki kelas sambil cengar-cengir tidak jelas. Sasuke memberikan Ino tatapan mematikannya. Ino yang merasa takut, hanya bisa menangkupkan kedua tangannya ke depan seolah-olah berkata kepada Sasuke, maafkan aku, lalu Ino mengedipkan sebelah matanya kepada Sasuke. Sasuke pun hanya bisa menghela napas melihat perbuatan Ino.
"Sakura!" Ino menghampiri Sakura.
Sakura melihat Ino yang sudah duduk di depannya.
"Sakura, pulang sekolah ikut denganku, ya?" Ino tersenyum.
"Pulang sekolah? Mau apa?" tanya Sakura.
"Temani aku melihat-lihat toko aksesoris yang baru buka itu! Temani aku, ya! Sebentar saja!" Ino merajuk kepada Sakura seperti anak kecil.
Sakura berpikir, Anko pasti ada di rumah. Mungkin kalau pulang agak telat sebentar tidak apa-apa. Bukankah Sakura punya waktu bebas?
"Err… kalau hanya sebentar saja, sepertinya tidak apa-apa, aku bisa…" Sakura mengatakannya dengan ragu.
Jalan-jalan sepulang sekolah bersama teman, Sakura juga mau merasakannya. Makanya Sakura ingin menemani Ino. Pergi ke mall, nonton bioskop, makan-makan bersama, seperti cerita-cerita persahabatan dalam novel yang pernah Sakura baca, Sakura juga ingin bisa seperti itu. Tapi itu semua hanya sebuah mimpi buat Sakura. Dan saat ini, mungkin sedikit bisa terwujud walau hanya ke tempat aksesoris.
"Sasuke, kau juga ikut, ya!" Ino mengedipkan sebelah matanya kepada Sasuke.
Sasuke menatap Ino yang menyuruhnya untuk ikut. Sasuke menaikkan sebelah alisnya, Sasuke berpikir, Ino punya rencana apa lagi?
Mendengar Ino juga mengajak Sasuke, Sakura seperti jadi kaku di tempat. Kenapa Ino juga mengajak Sasuke? Pikir Sakura.
"Sudahlah, kau ikut saja!" paksa Ino.
"Tidak!" Sasuke menolak. Sasuke juga mendengarkan apa yang Ino bicarakan dengan Sakura. Masa Sasuke harus pergi ke tempat aksesoris perempuan? Yang benar saja!
"Kau pasti akan menyesal!" Ino memberikan tatapan kepada Sasuke kalau Sasuke nanti akan sangat menyesal.
"Sakura, iya, kan? Kalau Sasuke tidak ikut dia nanti akan menyesal, kan?" Ino bertanya kepada Sakura sambil menyipitkan kedua matanya untuk meminta jawaban kepada Sakura.
Sakura jadi sangat gugup ditanya seperti itu. Sakura hanya bisa diam dan menyembunyikan wajahnya yang sepertinya sudah memerah dengan menundukkan wajahnya. Ino tersenyum dalam hati melihat reaksi Sakura. Sasuke yang memperhatikan Sakura sedikit kecewa karena Sakura hanya diam saja. Kalau saja Sakura mengatakan iya, mungkin Sasuke akan ikut.
"Bagaimana Sakura?" Ino mengulang bertanya kepada Sakura.
"Itu sih, terserah Uchiha saja…" Sakura menjawab masih menundukkan wajahnya.
"Nah! Sakura bilang, kau akan menyesal kalau tidak ikut!" Ino percaya diri sekali berkata seperti itu.
Sakura menatap Ino heran, bukankah Sakura tidak berkata seperti itu?
"Haahh… baiklah, aku ikut. Aku tidak tahu apa rencanamu sebenarnya." Sepertinya Sasuke tidak punya pilihan selain ikut dengan Ino.
"Apa maksudmu, Sasuke? Aku kan hanya ingin kita bertiga berjalan-jalan bersama!" seru Ino.
Mungkin Ino cekikikan dalam hatinya. Tapi Ino senang melakukannya. Ino ingin memberi kejutan untuk Sasuke dan Sakura.
Sepulang sekolah, mereka bertiga berkumpul saat semua murid di kelas sudah pulang.
"Sasuke, kau bawa motor, kan? Kau mengikuti mobilku saja dari belakang, ya! Aku dan Sakura naik mobil." perintah Ino.
"…." Sasuke hanya diam. Biar saja Ino bertindak sesuka hatinya.
Ino dan Sakura sampai lebih dulu di toko aksesoris. Tidak lama, Sasuke pun sampai. Ino tidak menyangka kalau Sasuke benar-benar datang.
"Ahahahaha… kupikir kau berubah pikiran?" Ino tertawa saat Sasuke menghampiri Ino dan Sakura.
"Ck," Sasuke hanya mendengus kesal.
"Ayo kita masuk!"
Ino mengajak Sakura dan Sasuke untuk masuk ke dalam toko aksesoris yang sangat besar ini.
"Ah, kacamatamu ini mengganggu, Sakura!"
Ino dengan paksa mengambil kacamata Sakura dan memasukan kacamata itu ke dalam tas Ino. Sakura pun hanya bisa pasrah kacamatanya diambil. Sedangkan Sasuke, Sasuke senang bisa melihat Sakura yang tanpa kacamata jelek itu. Ino pun menggodanya dengan mengedipkan sebelah matanya.
"Aku tahu kau merencanakan sesuatu." Sasuke terus menuduh Ino merencanakan sesuatu untuknya.
Mereka bertiga masuk ke dalam. Berbagai macam aksesoris terpajang dengan rapi di toko ini. Ino kelihatannya senang sekali dan langsung melihat-lihat aksesoris.
Sakura benar-benar takjub dengan toko aksesoris ini. Sakura mengamati setiap macam aksesoris di toko ini. Ini mungkin pertamakalinya Sakura masuk ke tempat seperti ini. Sakura mengamati gelang tangan yang cantik-cantik, ada yang dari batu-batuan, dari kristal yang bening, perak juga ada, dari tali, dan masih banyak lagi. Sakura mencoba mengambil gelang tangan dengan manik-manik kristal berwarna biru laut yang bening. Sakura memandangi gelang itu, dan sepertinya Sakura suka dengan gelang itu, Sakura pun tersenyum memandangnya.
Sasuke lebih memilih memperhatikan Ino dan Sakura yang sedang melihat-lihat toko ini. Lebih tepatnya Sasuke lebih memilih memperhatikan Sakura yang sedang melihat-lihat. Sasuke menduga kalau Sakura pasti baru pertama kali ke tempat seperti ini, terlihat dari raut wajah Sakura yang serius mengamati aksesoris di sini. Sasuke melihat Sakura yang mengambil gelang manik kristal berwarna biru laut, dan Sasuke melihat Sakura tersenyum memandang gelang itu.
Sakura melihat harga gelang itu dan wajahnya kini berubah kecewa. Sakura menaruh lagi gelang itu ke tempatnya. Sakura ingat, kalau ia tidak punya uang sama sekali. Untuk membeli barang macam ini rasanya itu tidak mungkin. Buat makan siang di kantin saja pas-pasan. Mau menabung, uang dari mana? Anko suka lupa tidak memberikan Sakura uang jajan, jadinya Sakura memanfaatkan uang dari bulanan untuk membeli bahan-bahan makanan. Sisa dari uang bulanan itu untuk Sakura, karena Anko suka memberi uang belanja bulanan lebih dan tidak mau menerima uang sisanya.
Sasuke melihat raut wajah Sakura berubah sedih yang menaruh kembali gelang itu. Sasuke pikir Sakura mau membeli gelang itu, ternyata tidak. Sasuke terus memperhatikan Sakura yang sekarang berpindah ke tempat jepit rambut. Sasuke menuju tempat gelang dan mengambil gelang yang tadi dipegang Sakura dan melihat harga dari gelang tersebut.
"Ternyata barang-barang seperti ini lumayan mahal juga, ya…" gumam Sasuke.
Sasuke pun kembali mengamati Sakura yang terlihat senang mengamati setiap aksesoris yang dilihatnya.
"Hei!" Ino menepuk pundak Sasuke yang sedang mengamati Sakura.
"Hn?" respon Sasuke.
"Aku duluan, ya! Ibuku telepon, aku disuruh pulang cepat!" seru Ino.
Sasuke mengamati Ino, pasti Ino ingin meninggalkan mereka berdua saja.
"Ini rencanamu, kan?" Sasuke menatap Ino tajam.
"E-eh? Bu-bukan, kok! Aku memang harus pulang cepat!" Ino jadi gugup, Sasuke terlihat sangat menakutkan.
"Sudahlah… Kau sebenarnya mau apa?" tanya Sasuke.
"Aku, aku hanya ingin mengajak Sakura jalan-jalan saja. Lihat, deh… sepertinya Sakura baru pertamakali ke tempat seperti ini, ya?" tanya Ino sambil menatap Sakura yang serius memperhatikan aksesoris sambil tersenyum.
"Hn,"
"Aku sudah membuat peluang untukmu berkencan dengan Sakura lho!" Ino mengedipkan sebelah matanya dan menyeringai pada Sasuke.
"Hn,"
Akhirnya Ino mengatakannya juga. Sasuke tahu, pasti jadi begini akhirnya. Makanya Sasuke tidak terlalu terkejut mendengar kalau Ino membuat peluang untuknya berkencan dengan Sakura.
"Ih, dasar makhluk pelit kata! Hn, hn, hn, aku tidak mengerti, bilang terima kasih atau apa, gitu? Ya sudahlah… aku duluan, ya! Jaga Sakura dengan baik, ya, Sasuke!"
Ino segera keluar dari toko aksesoris setelah membeli beberapa aksesoris yang disukainya. Sakura tidak tahu sama sekali kalau Ino sudah pergi dari toko aksesoris ini.
Sepertinya Sakura lupa waktu, sudah hampir satu jam Sakura melihat-lihat di toko aksesoris ini dengan serius. Walaupun tidak membeli, tapi Sakura senang sekali melihat-lihat aksesoris yang cantik-cantik. Sampai akhirnya Sakura pun tersadar kalau ia tidak melihat Ino di sini. Sakura mengedarkan pandangannya dan tidak melihat Ino sama sekali. Sakura melihat Sasuke yang sedang berdiri tidak jauh darinya. Sakura menghampiri Sasuke dan bertanya padanya.
"U-Uchiha, apa kau melihat Ino?" Sakura bertanya takut-takut kepada Sasuke.
"Ino sudah pulang duluan. Katanya, Ibunya menelepon agar dia pulang cepat." jawab Sasuke tenang.
Betapa terkejutnya Sakura mendengarnya. Ino sudah pulang, sejak kapan? Pertanyaan-pertanyaan yang seperti itu berputar-putar di kepala Sakura.
"Sejak kapan? Kok, aku tidak diberi tahu?" Sakura mulai panik.
"Setengah jam yang lalu." Sasuke masih menjawab dengan tenang.
Terkejutnya Sakura semakin menjadi. Setengah jam yang lalu? Rasanya… tubuh Sakura jadi lemas. Sekarang, apa yang harus Sakura lakukan? Ino meninggalkannya.
"Kenapa kau tidak memberitahuku? Kalau Ino pulang, setidaknya aku juga akan pulang!"
Sakura jadi kesal kepada Sasuke karena tidak memberitahukan kalau Ino sudah pulang duluan.
"Aku pikir kau masih mau di sini. Kulihat, sepertinya kau senang melihat-lihat aksesoris di sini." kata Sasuke.
Wajah Sakura memerah mendengar perkataan Sasuke. Yah, ini karena salahnya juga terlalu asik melihat-lihat. Harusnya Sakura menemani Ino melihat-lihat, bukannya asik sendiri melihat-lihat.
"Ke-kenapa kau tidak pulang juga?" Sakura bertanya lagi pada Sasuke.
"Eh, kenapa, ya?"
Sasuke terlihat berpikir, wajahnya sedikit memerah. Alasan Sasuke tidak memberitahukan Sakura kalau Ino pulang, ya itu tadi, rencana Ino. Sasuke terlalu senang mengamati Sakura yang senang melihat aksesoris di sini. Biasanya menunggu adalah hal yang paling dibenci Sasuke. Tapi, menunggu kali ini berbeda, sampai seharian juga Sasuke mau menunggu Sakura.
"Ada yang mau kau beli?" Sasuke mengalihkan pembicaraan.
DOR
Rasanya Sakura malu kalau menjawab, aku tidak punya uang untuk membelinya. Lalu, Sasuke akan menjawab, kalau tidak punya uang kenapa lama-lama di sini? Berbagai macam prasangka-prasangka yang buruk berputar-putar di pikirannya.
"Itu… mungkin lain waktu, aku akan kesini lagi…" Sakura tidak tahu harus bagaimana.
Sasuke tahu kalau Sakura pasti tidak punya uang untuk membelinya. Baru kali ini Sasuke merasakan perasaan ingin memberi.
"Kalau tidak ada yang ingin dibeli, sebaiknya kita pulang saja."
Sasuke berjalan keluar dari toko aksesoris diikuti Sakura dari belakang. Kini mereka sudah berada di luar toko aksesoris itu.
"Oh, ya. Kau tunggu sebentar disini. Jangan kemana-mana."
Sasuke menyuruh Sakura untuk menunggunya. Sakura tidak mengerti. Sasuke masuk lagi ke dalam toko aksesoris dan tidak lama keluar sambil membawa bingkisan. Sepertinya Sasuke membeli sesuatu.
"Aku pulang, ya…" Melihat Sasuke yang sudah keluar dari dalam toko, Sakura pun segera pamit kepada Sasuke.
"Tunggu! Aku antar!" Sasuke mencegah Sakura yang mau pergi dengan menarik sebelah tangan Sakura.
"Aku bisa pulang sendiri." Sakura terkejut Sasuke mencegahnya pergi. Apalagi, tangan Sakura dipegang oleh Sasuke. Itu membuat Sakura berdebar-debar.
"Aku antar. Cepat, naik."
Mungkin Sasuke memaksa Sakura. Sakura pun tidak bisa apa-apa. Sakura hanya bisa mengikuti apa yang dikatakan oleh Sasuke.
"Kau pegang ini."
Sasuke memberikan bingkisan yang dibelinya tadi kepada Sakura. Sakura menerimanya dan segera naik ke motor Sasuke. Sasuke menghidupkan motornya dan melaju menuju rumah Sakura. Sakura sedikit penasaran dengan bingkisan yang Sasuke beli. Sakura ingin mengintip, tapi Sakura tidak berani. Bingkisan itu terbuka sedikit, Sakura bisa melihat di dalamnya ada benda berwarna biru langit. Sakura berpikir, warnanya sama seperti gelang yang Sakura suka tadi.
Tiba dekat rumah Sakura, Sasuke dan Sakura melihat sebuah mobil berhenti di depan rumah Sakura. Sakura tanpa sadar meremas belakang baju seragam Sasuke. Sasuke bisa merasakan kalau Sakura sepertinya ketakutan. Sasuke pun memberhentikan motornya dan menengok ke belakang untuk melihat Sakura.
"Sakura, kau kenapa?" Sasuke bertanya pada Sakura.
Sakura tidak menjawab pertanyaan Sasuke. Sakura masih menatap ke arah mobil yang berhenti di depan rumah Anko. Sasuke pun jadi ikut memperhatikan mobil yang berhenti itu.
Tidak lama, keluarlah Anko dan seorang laki-laki dari dalam mobil. Setelah laki-laki itu mengunci mobilnya, laki-laki itu berjalan memeluk Anko dan mereka langsung berciuman di depan rumah. Sambil berjalan masuk ke dalam rumah, mereka masih saja berciuman panas dan terlihat tangan laki-laki itu menggerayangi tubuh Anko. Anko melepas pelukan dan ciuman laki-laki itu, membuka pintu rumahnya, setelah pintu terbuka, mereka melanjutkan ciumannya dan menutup pintu rumah itu.
Sakura tubuhnya bergetar, Sakura ketakutan, biasanya kalau Anko seperti itu, mereka suka melakukan hal seperti itu tidak pandang tempat. Kadang-kadang Sakura yang baru pulang dari sekolah suka memergoki Anko bersama laki-laki yang sedang bercinta di ruang tamu. Sakura sangat terkejut melihatnya lalu langsung berlari masuk ke kamarnya dan menguncinya. Sakura menangis, kenapa Sakura harus melihat pemandangan yang seperti itu?
Sasuke juga sepertinya mengerti apa yang akan dilakukan Anko bersama laki-laki itu di dalam. Sasuke mulai menghidupkan kembali motornya dan berbelok meninggalkan rumah Sakura. Sakura masih terdiam, pandangannya mengabur karena air mata yang sudah berlinang di kedua matanya. Sasuke memutuskan akan membawa Sakura ke rumahnya.
Tiba di rumah Sasuke,
"Sakura… tenanglah… Kau aman di sini," Sasuke berkata lembut pada Sakura.
Sakura turun dari motor Sasuke. Tubuhnya masih bergetar sedikit. Sasuke menatap wajah Sakura, terlihat ada bekas air mata yang mengalir di pipi Sakura, rasanya Sasuke ingin tahu semua yang di alami oleh Sakura.
"Ayo masuk. Tenang saja, jangan takut padaku."
Sasuke menarik Sakura untuk masuk ke dalam rumahnya. Sasuke membawa Sakura menuju kamarnya. Tadinya Sakura ragu mau masuk, tapi Sasuke berkata, dia tidak akan macam-macam pada Sakura. Melihat Sasuke yang selalu baik kepadanya, Sakura tidak merasakan takut sama sekali kepada Sasuke. Sakura pun akhirnya mau masuk ke kamar Sasuke.
"Kau duduk di sini." Sasuke membawa Sakura duduk di bangku sofa yang ada di kamarnya.
Walaupun masih ada kesan dingin dari nada bicara Sasuke, tetapi Sasuke sangat perhatian kepada Sakura. Sasuke keluar dari kamarnya dan kembali membawa dua botol minuman air mineral. Sasuke memberikan satu botol kepada Sakura dan duduk di sebelah Sakura.
"Mau bercerita kepadaku?" Sasuke bertanya dengan nada pelan pada Sakura.
Sakura menatap Sasuke, ingin sekali rasanya Sakura mengeluarkan semua uneg-unegnya selama ini. Di pendam seorang diri membuatnya sesak, tidak bisa bernapas dengan tenang. Sakura tidak mau melibatkan masalahnya pada orang lain. Tapi, karena hanya Sasuke yang sudah mengetahui masalahnya, Sakura mungkin bisa sedikit percaya kepada Sasuke.
"Aku… aku…" Sakura masih ragu untuk bercerita kepada Sasuke semuanya.
"Aku janji, tidak akan memberitahukannya kepada Ino, atau siapa pun juga. Kau boleh minta tolong padaku, kau boleh bercerita padaku, aku mau membantumu Sakura." Sasuke berkata lirih pada Sakura.
"Hiks… Aku… takut, takut… takut sekali…" Sakura menangis dan tubuhnya kembali bergetar. Sakura memeluk dirinya sendiri. Sasuke yang melihatnya sungguh miris hatinya.
"Ceritakan padaku, Sakura." kata Sasuke.
"Hiks… A-aku tidak mau melihat mereka sedang melakukan itu. Kalau sudah selesai, pasti Anko akan memanggilku dan menyuruhku untuk membawakan minuman untuk mereka. Kadang-kadang, laki-laki yang dibawa Anko suka menggodaku dan bahkan pernah memaksaku untuk melayani nafsunya. Anko hanya tertawa-tawa melihatku yang sedang dipaksa. Walau aku selalu bisa melepaskan diri dari mereka, tapi kalau terus-terusan seperti itu, aku takut… jijik sekali…
Beda saat di café malam itu. Kalau di café, sebelum para tamu yang membayarku membawaku ke ruangan khusus, aku selalu menyiram mereka dengan air minum yang selalu aku bawa. Biarlah aku dihukum oleh Anko, asal tidak melayani para tamu itu.
Aku tidak tahu mau lari kemana lagi… Aku tidak tahu mau tinggal di mana lagi… Satu-satunya keluargaku yang kupunya hanyalah Bibi Anko…" Sakura terus bercerita sambil meneteskan air matanya.
"Aku… sudah lama membuang perasaanku. Tapi Ino datang di kehidupanku dan membuatku merasakan kembali kehangatan mempunyai seorang teman seperti dulu. Aku juga senang kau tidak membenciku seperti anak-anak yang lain. Aku selalu berharap kalau kebahagian kecil ini bisa terus berlangsung selamanya… Aku juga selalu berharap kalau aku bisa lepas dari Anko. Tapi, aku tidak bisa pergi dari Anko, karena Anko yang selama ini mau menampungku di rumahnya, membiayai hidupku, sekolahku, dan aku harus membalas budi kepadanya." Yah, Sakura akan membalasnya dengan bekerja di café Anko nanti.
"Aku memang ingin membalas budi pada Anko, Anko bilang aku harus membalas budinya dengan bekerja di café malam miliknya. Aku mau menolak pun tidak bisa. Aku mau kabur pun tidak bisa. Anko selalu menyuruh preman-preman itu untuk mencariku kalau aku telat pulang sekolah. Bahkan saat aku kabur pun mereka berhasil menemukanku dan menyeretku kembali." Sakura terdiam sejenak.
"Kau janji tidak akan bilang kepada Ino, kan? Maaf, kau mendengarkan ceritaku. Kau pasti jijik padaku. Hiks… kalau saja aku boleh bunuh diri, aku sudah melakukannya sejak dulu. Nyawaku ini pemberian dari kedua orangtuaku yang menyelamatkan aku dari kecelakaan. Mereka memelukku untuk melindungiku. Aku… ingin mati saja… bersama kedua orangtuaku waktu itu…"
Sakura bercerita dengan terisak dan air mata yang terus-menerus mengalir tidak berhenti-henti di pipinya. Sasuke tidak tega melihat Sakura yang menangis seperti ini. Sasuke memejamkan matanya sambil mendengarkan cerita Sakura. Sasuke bisa merasakan apa yang Sakura rasakan selama ini, hati Sasuke ikut terasa sakit mendengarnya.
"Uchiha… maaf…" Entah mengapa, Sakura mengucapkan maaf kepada Sasuke.
"Sasuke. Panggil aku Sasuke saja." ucap Sasuke.
Sasuke menatap Sakura lembut dan menghapus air mata Sakura yang masih mengalir dengan jarinya.
"Kenapa? Kenapa kau baik padaku?" Sakura terisak lagi dengan perbuatan Sasuke.
"Jangan menangis. Untuk sementara, lebih baik kau di sini saja…" Sasuke menenangkan Sakura.
Dilihatnya Sakura yang masih menangis. Sasuke mengelus punggung Sakura pelan. Ketika Sasuke menyentuh punggung Sakura, Sasuke melihat Sakura meringis sakit. Sasuke hanya mengelusnya pelan dan Sakura menghindar sambil meringis kesakitan. Kenapa dengan punggung Sakura? Sasuke tidak tahu.
"Astaga…" Sasuke baru ingat kalau kemarin punggung Sakura di cambuk oleh Anko dengan kayu.
"Sakura… punggungmu tidak apa-apa?" Sasuke bertanya kepada Sakura.
"Ah, ti-tidak apa-apa…" Sakura menjawab dengan gugup.
"Benar?" tanya Sasuke lagi.
"I-iya," Sakura semakin gugup.
"Boleh aku lihat? Aku janji tidak akan macam-macam." Sasuke mendekatkan tangannya pada Sakura, Sakura menepis tangan Sasuke.
"Sakura…" Sasuke menatap Sakura khawatir.
Sakura sungguh sangat berdebar-debar. Sasuke tidak boleh melihat punggungnya. Tapi, Sakura tidak bisa melihat tatapan khawatir Sasuke, ada kesedihan di dalam bola matanya. Sakura bingung, bagaimana ini? Sakura tahu kalau Sasuke tidak akan macam-macam padanya. Tapi… tetap saja… tidak boleh… tidak boleh.
"Sakura…"
DEG
Sasuke menyebut nama Sakura lagi dan mendekatkan tangannya lagi pada Sakura. Sasuke bisa melihat kalau Sakura terlihat sedang berpikir. Sasuke mendekatkan duduknya pada Sakura. Tangan Sasuke sudah menyentuh kancing kemeja Sakura. Sasuke bisa rasakan kalau Sakura menegang. Sasuke membuka satu kancing kemeja Sakura, terlihat Sakura memejamkan matanya. Tidak tahukah Sasuke kalau Sakura sangat berdebar-debar ? Lalu kancing kedua, Sakura masih diam sambil memejamkan matanya dan kedua tangannya mengepal erat pada rok sekolahnya. Kancing ketiga, keempat sampai semua kancing kemeja Sakura sudah terlepas.
Ketika Sasuke hendak melepaskan kemeja sekolah Sakura, "Ku mohon… jangan lihat…" Sakura menangis lagi.
Sasuke tadinya berniat tidak jadi melihat punggung Sakura, karena Sakura menangis lagi. Tapi Sasuke harus tahu luka pada punggung Sakura.
"Maaf, Sakura… aku harus lihat." ucap Sasuke lembut.
Sasuke melepas kemeja sekolah Sakura, Sakura menutupi tubuhnya yang hanya mengenakan bra dengan kedua tangannya. Sasuke bukan tipe laki-laki yang matanya jelalatan melihat pemandangan yang seperti ini.
"Tenang saja. Jangan sama kan aku dengan laki-laki yang selalu di bawa oleh Anko ke rumahnya. Aku tidak akan macam-macam padamu. Sekarang, kau berbalik, ya."
Sasuke menyuruh Sakura berbalik untuk memperlihatkan punggungnya yang masih tertutup oleh rambut merah muda panjangnya. Sakura menggelengkan kepalanya, masih tidak mau memperlihatkan punggungnya. Sasuke mengelus kepala Sakura pelan.
"Kumohon Sakura…"
Sasuke memohon pada Sakura. Sakura masih memejamkan matanya dan dengan ragu Sakura berbalik dan membelakangi Sasuke. Sasuke dengan perlahan menyibakkan rambut panjang Sakura ke depan dan betapa terkejutnya Sasuke melihat punggung Sakura.
Punggung Sakura yang tadinya putih bersih dan tanpa lecet sedikitpun, kini dihiasi oleh banyaknya luka cambukan. Bekas-bekas luka yang lama-lama, ada juga luka cambukan yang masih baru, semua bagian punggung Sakura berwarna biru keungu-unguan dan penuh lebam, mungkin bengkak? Sasuke melihatnya sangat mengenaskan. Wajah Sasuke meringis sakit, walaupun dia tidak merasakan di cambuk, tapi hatinya sakit sekali melihatnya.
"Keterlaluan…" Sasuke menggertakan giginya pertanda kesal.
"Kita ke rumah sakit! Pakai bajumu!"
Sasuke bangun dari duduknya. Sakura heran melihat Sasuke dan segera memakai kembali kemeja sekolahnya. Setelah Sakura memakai kemeja sekolahnya, Sasuke langsung menarik Sakura keluar dari rumahnya dan sekarang Sasuke dan Sakura menuju rumah sakit.
Sakura diberi obat yang diminum untuk mengobati lukanya dari dalam dan obat luar seperti salep. Sasuke meminta kepada dokter untuk memberikan obat yang paling bagus agar luka di tubuh Sakura cepat sembuh dan tidak membekas.
Hari sudah malam saat pulang dari rumah sakit. Sasuke berhenti di pinggir taman dekat dengan rumahnya. Keduanya turun dan duduk di bangku taman.
Sakura sungguh sangat berterima kasih kepada Sasuke. Sasuke terlalu baik kepadanya. Sakura tidak lagi merasa canggung atau pun takut seperti biasa. Bercerita kepada Sasuke tadi membuatnya sangat lega. Perasannya kini ringan sekali. Keduanya pun masih terdiam duduk di bangku taman.
"Sasuke… Te-terima kasih banyak, ya…" Sakura berkata pelan dan menundukkan wajahnya.
"Hn,"
"Hn? Apa itu?" Sakura menatap Sasuke, tidak mengerti apa arti dari 'Hn,'.
"Tidak apa-apa. Aku senang membantumu, Sakura…"Sasuke tersenyum tulus kepada Sakura.
Sakura baru kali ini melihat Sasuke tersenyum tulus seperti ini. Jantung Sakura pun jadi berdebar kencang, Sakura senang sekali rasanya.
"Terima kasih… Sasuke-kun…"
Kini giliran Sakura yang tersenyum tulus kepada Sasuke. Sasuke senang, akhirnya Sakura bisa tersenyum tulus seperti ini. Keduanya pun saling tersenyum senang.
"Kau mau kembali ke rumahmu Sakura?" Sasuke bertanya pada Sakura.
Sakura langsung membatu. Karena senang, Sakura jadi lupa kalau dia harus pulang, kan?
"Aku…"
Sakura kalau tidak pulang, memangnya mau pulang kemana lagi?
"Kau mau menginap di rumahku? Besok hari libur. Jadi, tidak perlu khawatir soal sekolah. Besok aku akan mengantarmu pulang dan aku akan bantu untuk menjelaskan pada Anko kalau kau menginap di rumahku. Bagaimana?" tanya Sasuke.
Tidak ada lagi kesempatan seperti ini Sakura, merasakan kebebasan walau hanya semalam. Bebas dari Anko. Sakura mengangukkan kepalanya dan Sasuke senang akhirnya Sakura mau menginap di rumahnya. Mereka berdua pun pulang ke rumah Sasuke. Sasuke tersenyum senang dan Sakura juga senang. Masalah besok, lebih baik jangan dipikirkan dulu.
BERSAMBUNG
REPUBLISH
23 AGUSTUS 2013
A/N :
Taraaaa… taraaammm… taramtaaaammm…. ^U^
Chapter 3 update! Gak sampe setahun lagi, kan? :3
Nyo~ ini termasuk bacaan dewasa, kan? Jadi, harus taruh di M nih walau tidak ada adegan lemon dan sejenisnya, khukhukhu… XD #plak
Gimana? Suka gak? Maaf, kalau masih banyak kesalahan dalam penulisan, ya… ;D
Okay, balas review chapter 2 dulu…
hanazono yuri : Lanjuuuuuuut...
Thia Nokoru : Okay… lanjuuuutttt… (^O^)/ terima kasih sudah membaca kembali dan mereview… :D Semoga suka ya chapter 3 ini… :3
Rin-chan : salam kenal thia-chan... update kilat ya... oh iya aku mau tanya, karin masih ngebully sakura gak sih?, trus pas karin ngebully sakura, sasuke nolongin gak?
Thia Nokoru : Salam kenal Rin-chan… ^O^ Ni udah update… Err… mungkin Karin udah gak nongol lagi dicerita? Disini Sasuke bakal nolong Sakura, kok! Saya juga lupa ceritanya… =_=)a payah, nih… Yup, terima kasih sudah membaca dan mereview fanfic ini, ya… semoga selalu terhibur… :D
Tsurugi De Lelouch : Sebetulnya sudah baca dari dulu tapi tetap suka kalau diulang, lanjutkan ya
Thia Nokoru : Wah, terima kasih banyak sudah membaca kembali dan mereview… :D …Siap dilanjutkan…! ^O^)/ terima kasih, ya…
haru no uchiwa : bagus sekali X) saya senang dgn cerita.a. .mendebarkan . . . Teruslah berusaha ya xD
Thia Nokoru : Hai… terima kasih banyak… :D Terus berusaha! Siap! Terima kasih sudah membaca dan mereview, ya… semoga kamu selalu terhibur… ^U^
Rindalaska : penasaran
Thia Nokoru : Kenapa penasaran? :3 Terima kasih sudah membaca dan mereview, ya… :D
Alviindriani : ditunggu ya chapter ke 3 nya,,udh gatel pengen baca? fanfic nya ngangenin seru sampai aku yang bacanya juga nangisss hiks hiks :) *lebay* cepetin ya bikin chapter 3nya hehe!
Thia Nokoru : Hai… terima kasih banyak sudah membaca kembali dan mereview… ^U^ Ini sudah update, semoga kamu suka, ya… :D hehehe…
CN Bluetory : Sakurakuu, malangnya nasibmu nak huhuhu. Jeblosin aja Anko ke Azkaban, author-san, biar kapok dicium Dementor *loh kok malah nyasar ke Harry Potter. Jgn siksa Sakura lama2 author, dia berhak bahagia-ttebayoooo
Thia Nokoru : Nyo~ hiks… saya gak menyiksa Sakura, kok~ TT^TT #plak, Terima kasih banyak sudah membaca dan mereview, ya… :D Pasti happy ending, kok! Hehehe… ^U^
L Lawliet : kalo bisa updatenya cepet ya.. bahkan 2/3 hari sekali ya..
Thia Nokoru : Nyo~ maaf, gak bisa… :'( Kalau ada waktu luang, saya baru bisa ngetik :) Terima kasih sudah membaca dan mereview, ya… :D
desypramitha2 : wow...sngguh mngharukan...ksian saku. next y
Thia Nokoru : Iya, kasihan, maaf, ya… :D Terima kasih banyak sudah membaca dan mereview, ya… Ini sudah update, nyo~ ^U^
Chana : Astaga,, ternyata fic ini ditelantarin setahun lebih? Tapi gak apa-apa deh, chap 2 nya bagus kok. Plis chap 3 nya cepat di update ya, jangan di update setahun lagi -_-v
Thia Nokoru : Iya, setahun, lho! Gak kerasa… =_= Hehehe… terima kasih banyak sudah membaca dan mereview, ya… Ini gak sampe setahun chapter 3 nya… :D Terima kasih, semoga kamu terhibur, ya… :D
Selesai…!
Terima kasih buat semuanya yang sudah membaca dan mereview fanfic ini, semoga kalian semua suka dan terhibur, ya… ^O^)/
Yup, sampai jumpa di chapter 4… semoga saya gak lama updatenya… :3
Be Happy All
Love You
:*
