Republish
Naruto © Masashi Kishimoto
Save Me © Thia Nokoru
.
* Save Me *
.
Chapter 4,
Kamar yang sangat luas dan nyaman sekali bagi Sakura. Di rumah Sasuke yang besar ini, tersedia banyak kamar kosong, dan Sakura menempati salah satunya. Berbaring di kasur yang nyaman sambil menatap langit-langit di kamar, Sakura mulai khawatir dengan dirinya sendiri.
"Apakah saat ini Anko sedang menyuruh anak buahnya untuk mencariku?"
Kurasa memang seperti itu. Anko pasti marah besar karena aku tidak pulang.
Sasuke… Sasuke begitu baik kepadaku. Ino juga… mereka berdua sangat baik kepadaku. Aku tidak boleh mengecewakan kebaikan mereka berdua. Mereka saat ini adalah temanku. Jadi, aku harus kuat. Aku pasti bisa menghadapi masalahku ini.
Esok hari adalah hari libur, lalu esoknya lagi adalah study tour. Selama seminggu aku akan bebas dari Anko. Aku senang sekali. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana acara study tour nanti. Astaga… aku sungguh sangat menyadari, hidupku berubah saat ada Ino, karena Ino juga aku bisa sangat dekat dengan Sasuke seperti ini. Karena Ino juga, aku sudah tidak lagi diganggu oleh Karin dan teman-temannya. Karin sudah tidak lagi menggangguku karena Ino menolongku saat aku diganggu oleh Karin. Ino juga mengalahkan ketenaran Karin di sekolah. Karena Ino lebih unggul dari Karin, Karin tidak berani untuk melawan Ino. Aku tidak tahu, bagaimana aku harus membalas semua kebaikan mereka kepadaku. Aku kan tidak punya apa-apa untuk diberikan kepada mereka.
"Aku… tidak bisa tidur…"
Sakura mencoba untuk tertidur. Tapi, kedua matanya belum mau tertidur.
Tok tok tok
Pintu kamar Sakura ada yang mengetuknya. Sakura pun segera bangun dari tidurannya dan membukakan pintu.
"Sasuke-kun? Ada apa?"
"Boleh aku masuk? Tenang saja, aku tidak macam-macam, kok! Hanya sebentar saja…"
Sakura mengangguk pelan dan Sasuke pun langsung masuk ke dalam kamar dan duduk di kasur. Sakura pun dengan berjalan perlahan menghampiri Sasuke dan duduk di sebelah Sasuke dengan jarak 1 meter. Sakura memperhatikan Sasuke yang sepertinya sedang mengeluarkan sesuatu dari kantong celananya. Sakura melihat Sasuke mengeluarkan bingkisan kecil yang Sasuke beli di toko aksesoris itu.
"Ini," Sasuke memberikan bingkisan kecil itu untuk Sakura.
"Ini… bukankah bingkisan ini yang kau beli di toko aksesoris itu?" Sakura tidak mengerti. Kenapa Sasuke memberikan bingkisan itu kepadanya?
"Untukmu," Sambil menolehkan wajahnya ke arah berlawanan dengan Sakura, Sasuke menyembunyikan wajah malunya dari Sakura.
"U-untukku? Ke-kenapa?" Sakura tidak percaya kalau bingkisan itu untuk dirinya.
"Kau ini, sini tanganmu!" Sasuke tidak sabar karena Sakura masih belum mengambil bingkisan yang disodorkan olehnya.
Sasuke membuka bingkisan itu dan mengambil aksesoris gelang di dalamnya. Sakura sangat terkejut melihat gelang itu, gelang itu adalah gelang yang sangat disukainya saat di toko aksesoris itu. Sasuke meraih tangan kanan Sakura dan segera memakaikannya di tangan Sakura.
"Warna kulitmu sangat cocok dengan warna gelang ini. Bagaimana, kau suka?" Sasuke tersenyum tipis kepada Sakura.
Sakura tidak bisa berkata apa-apa, rasanya ingin sekali menangis, Sasuke memberinya sebuah gelang yang sangat cantik ini. Melihat Sakura yang terlihat seperti ingin menangis, Sasuke hanya bisa menghela napas lega.
"Haahh… sudah… jangan menangis, ya…"
Sakura tahu kalau dirinya ini sangat cengeng. Sakura berusaha untuk tidak menangis. Sakura menghapus air matanya yang sedikit keluar di sudut matanya dengan tangan kirinya, karena tangan kanan Sakura masih digenggam oleh Sasuke.
"Terima kasih banyak, Sasuke… aku senang sekali…" Sakura mengucapkannya dengan senyuman manis.
"Baguslah, kalau kau senang. Oh, ya, masih ada lagi…" Sasuke mengeluarkan lagi sebuah bingkisan kecil dari dalam saku celananya.
"Ini, kupikir ini sangat cocok untukmu." Sasuke memberikan Sakura sebuah jepit rambut dengan motif bunga sakura kecil yang sangat cantik.
Sakura dengan ragu menerima jepit rambut itu dan menatap wajah Sasuke yang terlihat senang.
"Simpan baik-baik, ya… Sekarang, lebih baik kau tidur. Besok pagi, aku akan mengantarkanmu pulang. Kau jangan takut, aku akan bersamamu." Sasuke mengelus pelan rambut Sakura, lalu pergi keluar dari kamar Sakura.
"Terima kasih banyak… Sasuke… Kau begitu baik kepadaku. Dan jepit rambut ini… ini sangat cantik…" Sakura sangat terharu. Ingin sekali menangis lagi, tapi Sakura tidak boleh menangis, walau tangisan ini adalah tangisan kebahagiaan.
.
T_N
.
"Sudah siap?"
Sasuke sudah naik di motornya. Sakura mengangguk kecil, lalu naik ke motor Sasuke. Sasuke dan Sakura menuju rumah Sakura pagi-pagi. Sampai di sana, terlihat beberapa anak buah Anko sedang mondar-mandir masuk ke dalam rumah Anko. Sakura menyuruh Sasuke berhenti sebelum mereka sampai di depan rumahnya. Sakura turun dari motor Sasuke dan memberikan helm-nya pada Sasuke.
"Terima kasih, biar aku saja sendiri. Kau pulang saja, ya…" Sakura tersenyum pada Sasuke.
"Tidak. Aku sudah bilang padamu, biar aku yang menjelaskannya kepada Anko." Sasuke turun dari motornya.
"Aku pasti akan baik-baik saja!" Sakura berusaha meyakinkan Sasuke. Sasuke tidak mau mendengar alasan Sakura. Sasuke harus yakin kalau Sakura tiba di rumah tidak di hukum oleh Anko.
"Aku ikut! Ayo!" Sasuke menarik tangan Sakura menuju rumahnya.
Sakura tidak mau melibatkan Sasuke dengan Anko. Tapi sekarang… biarlah nasib yang menentukan bagaimana nanti.
Sasuke dan Sakura berjalan menuju rumah Sakura. Anak buah Anko melihat kedatangan Sakura dan Sasuke. Salah satu dari mereka berseru kalau Sakura sudah pulang. Dua orang preman anak buah Anko menghampiri Sakura dan Sasuke—menyeret Sakura dan Sasuke masuk ke dalam rumah Anko.
Brukkk
Sakura dan Sasuke di dorong ke depan sehingga mereka berdua jatuh di hadapan Anko yang sedang duduk di bangku sofa ruang tamu.
"Sakura…" panggil Anko dengan suara yang membuat Sakura merinding.
Sakura menatap Anko yang tersenyum padanya. Entah senyumnya itu baik atau tidak Sakura yakin Anko akan menghukumnya lagi.
"Tolong jangan marahi Sakura! Aku bisa menjelaskannya padamu!" kata Sasuke menatap tajam Anko.
"Owhh… rupanya kau bersenang-senang dengan anak muda ini, ya? Siapa namamu?" tanya Anko pada Sasuke.
"Aku Uchiha Sasuke. Sakura tidak bersenang-senang denganku. Tidak seperti yang kau pikirkan." Sasuke berkata dengan nada dingin dan terdengar ketus.
"Kami hanya kerja kelompok, kami satu kelompok dalam acara study tour nanti. Karena sudah malam jadinya Sakura menginap di rumahku." jelas Sasuke pada Anko. Sakura menatap Sasuke yang sama sekali tidak merasa takut pada Anko.
"Uchiha? Kau dari Uchiha? Hahahaha… bagaimana bisa seorang Uchiha mau berteman dengan Sakura? Apa kau tahu Sakura itu gadis seperti apa?" Anko tertawa dan memandang Sasuke dengan seringainya.
"Aku tahu Sakura. Memangnya kenapa kalau aku berteman dengannya?" Sasuke balas menyeringai pada Anko.
Sakura kagum pada Sasuke, dia laki-laki hebat. Berani sekali melawan Anko.
"Berani juga kau padaku. Hmm… menarik. Kau jangan khawatir pada Sakura, aku tidak akan menghukum Sakura-mu karena semalam tidak pulang. Jadi, sekarang sebaiknya kau pulang saja!" kata Anko tegas.
Anak buah Anko menyeret Sasuke untuk keluar dari rumah Anko. Sakura memanggil Sasuke dengan khawatir tapi Sasuke hanya tersenyum lembut pada Sakura.
"Sakura…" Anko memanggil Sakura. Sakura masih melihat ke arah Sasuke yang dipaksa keluar dari rumah Anko, menoleh pada Anko.
"Hebat sekali kau bisa dekat dengan seorang Uchiha." Anko tersenyum pada Sakura.
"Apa yang kau rencanakan?" tanya Sakura curiga yang melihat Anko tersenyum seperti itu.
"Rencanaku? Tahu saja kau, kalau aku punya sebuah rencana! Hahaha…" Anko tertawa kencang sekali.
"Jangan bawa-bawa Sasuke! Dia tidak bersalah padamu!" kata Sakura sedikit marah.
"Dia bersalah padaku! Dia bersalah karena telah membawamu ke rumahnya!" kata Anko menatap Sakura tajam.
"Aku hanya menginap saja!" kata Sakura.
"Cuma menginap? Uchiha itu harus membayarmu kalau mau membawamu menginap di rumahnya!" kata Anko.
Sakura tidak percaya mendengar kata-kata Anko. Memangnya kalau ada yang membawanya pergi, orang itu harus membayarnya?
"Kenapa kau ingin sekali aku menjadi wanita penghibur? Dan kenapa kau senang sekali menghukumku? Kalau kau tidak suka padaku kenapa tidak kau usir saja aku dari rumahmu sedari dulu?" Sakura menangis lagi.
"Kau ingin tahu kenapa?" Anko menatap Sakura dengan wajah yang penuh kebencian.
"Aku benci melihatmu! Kau anak dari laki-laki yang membawa kabur Kakakku! Kau anak dari Kakakku yang telah merebut orang yang kucintai!" Anko berteriak pada Sakura, Anko marah terbawa perasaannya.
Sakura terkejut mendengarnya. Bisa Sakura rasakan kalau perasaan dendam Anko sangat dalam.
"Aku membalaskan dendamku padamu! Dosa-dosa orangtuamu biar kau yang menerimanya! Aku senang melihatmu tersiksa, aku ingin kau menjadi wanita penghibur, karena orangtuamu yang kawin lari itu meninggalkanku sehingga aku jadi seperti ini!" Anko menyeringai senang pada Sakura.
"Dendam telah menggelapkan hatimu, Bibi!" kata Sakura.
"Aku sama sekali tidak tahu masa lalu orangtuaku, yang ku tahu mereka berdua adalah orang yang baik dan penyayang." kata Sakura lagi.
"Yah… mereka berdua memang orang yang baik, malah terlalu baik!" kata Anko.
"Sekarang, kau kembali dengan tugasmu. Yah… sekali-kali kubiarkan kau bebas untuk study tour nanti. Jangan lupa kalau kau sudah lulus nanti Sakura… Oh, ya… kalau Uchiha itu mau dilayani olehmu katakan padanya dia harus membayar dulu padaku! Mengerti?" kata Anko tersenyum.
Sakura tidak menanggapi kata-kata Anko, Sakura langsung menuju kamarnya dan segera untuk berbersih rumah ini.
Anko masih terdiam di ruang tamu, Anko menutup kedua matanya. Apa yang baru saja di katakannya pada Sakura kini kembali terlintas di kepalanya.
Kakaknya… Kakak satu-satunya yang dia punya bernama Tsunade. Tsunade orang yang baik dan sangat cantik. Kakaknya mempunyai teman laki-laki bernama Orochimaru. Orochimaru suka main ke rumahnya waktu dulu. Tsunade mengenalkan Anko pada Orochimaru. Orochimaru selalu mengajaknya mengobrol kalau sedang main ke rumah. Karena Orochimaru selalu baik kepadanya, Anko jadi suka kepada Orochimaru. Anko bercerita kepada Tsunade kalau Anko mencintai Orochimaru, Tsunade hanya tersenyum kecut mendengar kalau adiknya menyukai orang yang juga dicintainya.
Sampai saat itu tiba… Orochimaru melamar Tsunade dan Anko mengetahui hal itu. Orangtua Tsunade tidak setuju dengan Orochimaru karena mereka tahu kalau keluarga Orochimaru tidak setuju dengan Tsunade menjadi menantunya. Orochimaru sangat mencintai Tsunade dan begitu juga dengan Tsunade sangat mencintai Orochimaru. Maka terlintaslah pikiran untuk kawin lari berdua.
Anko yang kecewa dengan Kakaknya dan Orochimaru, setiap hari Anko selalu datang ke tempat-tempat hiburan. Minum-minuman keras yang bisa membuatnya lebih tenang dan melupakan kekecewaannya pada dua orang yang di sayanginya. Disana Anko mulai terpengaruh dengan pergaulan yang bebas. Bermain-main dengan banyak laki-laki yang suka memberinya uang. Dengan seperti itu Anko merasakan kepuasan tersendiri. Dua tahun setelah kepergian Kakaknya, orangtua Anko meninggal karena terserang penyakit. Anko mulai hidup seorang diri, lalu Anko memulai usahanya untuk membuka sebuah Café malam.
Kematian Kakaknya terdengar olehnya setelah bertahun-tahun tidak ada kabar. Anko datang ke upacara kematian Kakaknya dan disana Anko melihat seorang anak perempuan berusia belasan tahun menangis memanggil-manggil Ayah dan Ibu. Entah kenapa Anko sama sekali tidak sedih atas kematian Kakaknya, melihat gadis kecil itu Anko tersenyum senang dan membawa Sakura bersamanya.
.
T_N
.
Semua murid kelas 3 SMA Konoha berkumpul di aula sekolah untuk mendengarkan pengarahan tentang acara study tour ini. Kelas 3 berjumlah 10 kelas jadi sepertinya acara study tour ini akan ramai sekali.
Setelah mendengarkan pengarahan, seluruh murid menuju mobil bus yang akan membawa mereka ke tempat tujuan. Kakashi-sensei mengatur murid-muridnya untuk duduk bersama dengan teman kelompoknya yang diprotes sebagian oleh murid perempuan. Kakashi-sensei bilang agar bisa berdiskusi lebih mudah kalau duduk bersebelahan.
Sakura duduk bersama Sasuke, Ino duduk di depan mereka bersama Kiba. Sakura duduk dekat jendela agar dia bisa memandang ke luar. Bus sudah mulai berjalan, anak-anak berseru senang. Ino mengajak Sakura untuk mengobrol tapi ia di marahi Kakashi agar tidak berisik selama perjalanan.
"Sakura," Sasuke memanggil Sakura dan Sakura menoleh kepadanya.
"Bagaimana kemarin? Kau tidak di hukum, kan?" Sasuke sejak pulang dari rumah Sakura sangat khawatir pada keadaan Sakura, sampai-sampai tidak bisa tidur.
Sakura tersenyum pada Sasuke, "Lihat… aku tidak apa-apa,kan? Yang kemarin terima kasih, ya… Sasuke…" kata Sakura senang. Sasuke hanya mengangguk dan tersenyum tipis pada Sakura.
Keduanya kembali terdiam, Sakura mengamati jalan dan sesekali memandang langit yang begitu cerah hari ini. Sakura berharap semoga kehidupannya bisa secerah langit yang selalu ia lihat setiap hari. Sasuke lebih memilih untuk tidur karena semalam dia tidak bisa tidur karena memikirkan Sakura.
Bus yang membawa murid-murid SMA Konoha sudah tiba di tempat tujuan. Hari pertama… mereka semua ke museum sejarah, semuanya turun dari mobil dan membawa peralatan alat tulis untuk mengerjakan tugas yang telah di berikan sebagai nilai tes akhir.
Semuanya boleh berpencar di museum dan kembali berkumpul lagi pukul dua siang untuk makan siang lalu ke hotel untuk beristirahat.
Sakura, Sasuke, Ino dan Kiba mereka berempat berjalan bersama-sama. Mereka memasuki gedung yang sangat besar. Untuk mempercepat tugasnya mereka berempat langsung mengerjakan tugasnya dan mencatat salah satu sejarah yang ada di Jepang ini dan memotret bukti-bukti yang di tinggalkan dari sejarah tersebut. Setelah selesai Ino menyuruh Kiba untuk memotret mereka bertiga, Ino, Sakura dan Sasuke.
"Siap, ya?" kata Kiba.
"Satu… dua… ti—ga!" seru Kiba.
Jpreett
Sakura baru kali ini berfoto bersama lagi dengan teman-temannya. Sakura agak canggung jadinya.
"Bagaimana hasilnya, Kiba?" Ino langsung menghampiri Kiba untuk melihat hasilnya.
"Haahh… kok aneh gini sih…" keluh Ino. Di foto itu terlihat Ino yang memang suka bergaya, Sakura yang menunduk wajahnya karena malu, dan Sasuke yang membuang mukanya ke samping.
"Kalian berdua ini merusak pemandangan saja!" Ino memanyunkan bibirnya.
"Memangnya siapa yang mau di foto?" kata Sasuke santai. Sakura hanya tersenyum kecil.
Mereka berjalan lagi untuk melihat-lihat museum ini. Ino senang sekali memfoto-foto sekitarnya. Mereka berempat berfoto-foto dengan dipaksa oleh Ino. Yang menyenangkan untuk Ino… Ino memotret Sasuke dan Sakura yang kadang sedang mengobrol. Malah, Ino mendapatkan hasil yang sangat bagus ketika Sakura dan Sasuke saling tersenyum lembut. Mereka berdua memang sangat cocok. Ino senang melihat Sasuke dan Sakura sudah jadi akrab sekali.
"Sudah pukul dua siang, ayo kita kembali…" kata Sasuke.
"Ughh… padahal aku masih ingin melihat-lihat lagi, dan berfoto-foto lagi!" keluh Ino.
"Aku juga masih ingin lihat-lihat…" keluh Kiba.
Sakura hanya diam saja.
"Ino… ayo…" Sakura menggandeng tangan Ino dan mengajaknya berjalan bersama.
Ino tersenyum pada Sakura dan merangkul Sakura lalu berjalan dengan semangat. Sasuke dan Kiba hanya memperhatikan mereka berdua.
"Aku baru melihat Sakura yang seperti itu. Beda sekali dengan yang di kelas…" kata Kiba.
"Ya, masih banyak yang tidak diketahui oleh teman-teman di kelas tentang Sakura. Mereka hanya melihat Sakura dari luarnya saja." kata Sasuke.
"Penyendiri bukan berarti orang yang sombong atau buruk." kata Sasuke lagi, lalu berjalan untuk menyusul Sakura dan Ino.
Kiba sepertinya bisa mengerti sedikit, lalu ikut menyusul Sasuke.
Semua murid sudah selesai dengan tugas mereka dan semuanya sudah kembali ke dalam bus masing-masing. Di dalam bus mereka dibagikan makan siang sambil menuju ke hotel tempat mereka menginap nanti.
Tiba di hotel yang lumayan besar dan mewah ini, semua murid terlihat senang. Sakura saja baru kali ini melihat hotel semewah ini. Kecuali mereka yang berasal dari keluarga berada, hotel yang seperti ini biasa saja.
Kakashi membagikan kunci kamar pada muridnya. Satu kamar dua orang. Sakura sekamar dengan Ino. Lalu mereka semua menuju kamar masing-masing dan berkumpul lagi jam 7 malam untuk makan malam.
"Haaah… lelah sekali…" Ino membaringkan tubuhnya di kasur. Sakura hanya tersenyum melihat Ino. Sakura merapikan barang-barangnya dan di letakkan di dalam lemari.
Ruang kamarnya sederhana tapi masih terlihat mewah, satu kasur ukuran king size, ada Tv 29", kulkas, ada sofa yang di sediakan di sini, pokoknya nyaman untuk tinggal seminggu di sini.
Sekarang sudah pukul 7 malam, semuanya berkumpul di ruang makan hotel ini yang penuh oleh murid-murid SMA Konoha. semuanya makan dalam diam. Setelah selesai satu-persatu keluar dari ruang makan.
"Sakura… kita keliling hotel, yuk?" ajak Ino yang sudah selesai makannya.
"Apa boleh?" tanya Sakura. Sakura juga sudah selesai makannya.
"Tentu saja boleh! Asal tidak keluar dari lingkungan hotel." kata Ino.
"Baiklah," kata Sakura.
Ino langsung menarik Sakura keluar dari ruang makan. Sasuke melihat Ino yang menarik Sakura keluar dan berniat untuk menyusul mereka berdua.
"Kita kemana, ya? Ke kanan? Ke kiri?" tanya Ino bingung.
"Kalian mau kemana malam-malam begini?" Sasuke sudah ada di belakang mereka berdua.
"Ahh… kebetulan… Ayo temani kami jalan-jalan di hotel ini, Sasuke! Kalau ada bodyguardnya, kan lebih aman!" seru Ino seenaknya.
"Lagi-lagi kau bicara seenaknya, Ino…" kata Sasuke.
"Hehehe… biar saja!" kata Ino sambil menjulurkan lidahnya.
"Kita ke kanan saja!" Ino menarik Sakura menuju ke arah kanan. Di sana mereka menuju ruangan depan atau aula depan dari hotel ini. Hotelnya sangat besar, ada 3000 kamar yang di sediakan oleh hotel ini.
Mereka berjalan mengikuti Ino yang sekarang sudah berlari duluan sendiri di depan.
"Sepi sekali di sini. Tidak ada orang sama sekali. Apa karena sudah malam jadi tidak ada yang mau menginap?" tanya Ino entah pada siapa.
Ino berjalan menuju sofa aula depan hotel ini. Disana ada seorang laki-laki yang sedang tertidur. Ino menghampiri orang yang sedang tertidur itu dan memperhatikan wajahnya apa laki-laki itu dari sekolahnya atau salah satu dari guru sekolahnya? Tapi, kalau dibilang seorang guru dia masih terlihat muda, paling hanya beda satu-dua tahun dengannya. Sakura dan Sasuke mencari Ino, Ino melihat Sakura dan Sasuke yang sedang celingak-celinguk mencarinya, lalu tanpa sadar Ino memanggil mereka dengan suara yang sangat kencang dan menggema di aula hotel ini.
"BAKA! Jangan berteriak di depan orang yang sedang tidur, Bodoh!"
Orang yang sedang tidur itu terbangun karena teriakan Ino. Ino tiba-tiba membeku di tempat, ia lupa kalau di hadapannya ini ada yang sedang tidur.
"Ma-maaf… aku lupa… eh… maksudku… aku tidak sengaja melakukannya… eh… sama saja, ya?" kata Ino gugup.
"Haahh… Dasar perempuan! Selalu menyebalkan!" Orang yang tadi tertidur itu berdiri dan hendak meninggalkan tempat itu.
Sakura dan Sasuke melihat Ino bersama dengan laki-laki dan menghampiri Ino.
"Ino…" panggil Sakura.
Orang yang tertidur tadi berbalik dan hendak berjalan, lalu ia mendengar ada yang memanggil Ino—mungkin gadis pirang itu bernama Ino, pikirnya. Dia melihat sosok perempuan bersama seorang laki-laki yang sedang berjalan menuju gadis pirang itu. Matanya sedikit menyipit melihat sosok gadis berambut merah muda panjang itu yang semakin mendekat. Matanya seketika membelalak lebar melihat gadis itu.
"Sakura-chan?" gumam laki-laki itu.
Karena ruangan ini sepi, kata-kata yang diucapkan pelan pun bisa terdengar. Sakura bisa mendengar kalau ada yang memanggilnya. Sakura pun menoleh pada laki-laki yang memanggilnya itu. Sama seperti orang yang memanggilnya, mata Sakura membelalak lebar melihat sosok laki-laki itu.
Sasuke dan Ino heran melihat dua manusia yang terdiam itu dan saling pandang dengan wajah keterkejutannya.
BERSAMBUNG
REPUBLISH
28 MARET 2014
A/N :
Chapter ini pendek, ya? Hahaha… XD #plak Nyo… di chapter ini gak banyak yang saya rubah. Kalau masih banyak kesalahan, maaf, ya… saya emang maju-nya lambat… :P
Semoga chapter 5 gak lama update-nya… :3
Terima kasih buat kalian semua yang sudah membaca dan mereview fanfic ini, ya… :D Kalian senang, saya juga senang… :*
Balas Review dulu chapter 3
Hanazono yuri Maap, gak bisa update kilaz… :3 Cuma sampai chapter 8, kok! Makasih sudah baca dan review, ya… :D
Alifa Cherry Blossom, Tsurugi De Lelouch, h, Aoyamari Shitasi, Uchiha Cherry, Masayu Saruno Terima kasih buat kalian semua yang sudah menunggu, membaca dan mereview, ya… :D Maaf updatenya lama… :]
Hatake Ridafi kun Iya, jadi mirip Hinata. Karena sering di hukum oleh Anko, Sakura jadi seperti trauma atau apa gitu, sehingga sifatnya berubah. Nanti ada kok mengapa Sakura bisa jadi seperti itu… Terima kasih sudah membaca dan mereview… :D
Kitsuri Mizuka Terima kasih sudah dibilang bagus. Ya, memang seperti itu, agak-agak gimana, gitu… saya juga sadar, kok! Saya belum bisa bikin cerita dengan banyak tokoh. Makanya, semua fanfic saya cuma fokus sama tokoh utama aja… :3 Maaf, ya… Terima kasih sudah membaca dan mereview… :D
Alviindriani Sasuke yang omes atau authornya, nih? XD #plak Maaf, lama… Terima kasih sudah membaca dan mereview, ya… :D
Ratih Gak ada lemon. :] Maaf, ya… XD Terima kasih sudah baca dan review… :D
AoStraw Hahaha… sadis tuh… -_- Terima kasih sudah membaca dan mereview, ya… :D
Zhao mei mei Maaf, lama update. Makasih mau membaca fanfic ini lagi… :D Selesainya cuma sampai chapter 8, kok! Terima kasih sudah review dan baca… :D
Shuznu'L chan Maaf, dilanjutnya lama… ;D Terima kasih sudah review dan membaca, ya… :D
Alya Marxela Ini, sudah lanjut walau pendek… :] Terima kasih sudah membaca dan mereview… :D
Ria Salvani Asek asek josh! Hehehe… makasih… :D Terima kasih sudah membaca dan mereview… :D
YashiUchiHatake T_T jangan nangis, ya… Terima kasih sudah baca dan review, ya… :D
Gadisranti3251 Iya, republish. Maaf ya lama. Walau repost, tapi ancur banget lho ceritanya yang dulu… ^^a Terima kasih sudah membaca dan mereview… :D
Milkyryous Hahaha… kamu bilang ini udah tahun 2014, saya jadi buru-buru update nie fic walau pendek… Terima kasih sudah membaca dan mereview, ya… :D
Sudah selesai… \(^O^)/
Sampai jumpa chapter 5, nyo~
Bye… :D
