40 Days Confession
Aku lihat dia sedang duduk bersandar di kursi sembari memainkan ponselnya. Terlihat jelas bahwa dia sedang bosan. Dari raut wajahnya yang terus muram. Aku tidak tahu apa yang sedang dia rasakan, tapi yang jelas dia tidak dalam keadaan yang baik.
Ah aku hampir lupa kalau sekarang aku berada di dalam ruang kelasku sendiri. Aku terus melihat dia yang sedang bermuram durja dan memandangi isi ponselnya sendiri. Dia sedang melihat foto-foto aku dengan dirinya. Sepertinya dia belum bisa lepas sepenuhnya dariku. Ingin sekali aku memeluknya dengan erat dan jika bisa aku tak akan melepaskan pelukanku padanya. Aku tak ingin dia berpaling pada yang lain. Namun apa daya, aku tak bisa.
Sekarang aku berada di belakangnya, melihatnya dengan seksama. Setiap perubahan ekspresinya. Tawanya, muka sebalnya, dan terkadang dia menunjukkan rasa malu yang membuat wajahnya merona merah. Gadis ini benar-benar membuat jantungku berdebar-debar. Itupun jika aku memiliki jantung, sayangnya aku tidak memilikinya. Sebab aku adalah arwah penasaran yang memiliki penyesalan kepada seseorang yang sangat aku cintai.
"Hah~~ Sakura…. " gumamku.
Sakura Haruno adalah gadis yang sangat aku cintai. Aku baru menyadari bahwa aku benar-benar menyayangi sahabatku ini. Tapi semua itu aku rasa sudah terlambat.
"Jika saja aku masih menjadi seorang manusia. Aku pasti bisa memberi tahu isi hatiku padamu, Sakura." Ucapku yang berada di belakangnya.
Aku menatapnya penuh dengan rasa sayang juga ada rasa penyesalan yang dalam. Dulu aku yang tidak begitu menanggapi setiap pernyataan cinta dari semua gadis yang pernah menyatakan cintanya padaku. Aku melakukan itu karena aku tidak ingin terikat oleh status hubungan yang menuntut banyak komitmen. Akupun orang yang mudah bosan terhadap seseorang, egois, harga diriku tinggi. Tapi hanya orang itu, sahabat yang kini kucintai, yang tidak pernah membuatku merasa bosan. Dan Sakura pun pernah menyatakan cintanya padaku. Namun aku tolak, karena waktu itu aku hanya menganggapnya sahabat saja. Tak lebih dan tak kurang.
Baiklah, aku akan menceritakan kejadian sebelum aku mengalami kecelakan. Dan ceritanya akan sedikit lebih panjang...
Flashback
-Satu hari sebelum kecelakaan-
Pagi itu aku sedang di depan loker. Dan berjalan menuju kelas. Begitu pula Sakura yang berada tepat di sampingku. Kami satu kelas.
'Besok ulang tahun Sakura. Hadiah apa yang sekiranya pantas untuknya? Kalung atau gelang? Harus ada simbol yang melambangkan dirinya. Yang penting sekarang aku memberi tahu Sakura besok kencan denganku, dan cepat pulang untuk mencari kado untuknya. YOSH! Ganbatte, Sasuke.' batin Sasuke.
Kemudian bel masuk berdering, aku dan Sakura bergegas lari dan secara refleks aku menarik tangan Sakura. Aku yakin Sakura sedikit kaget.
Untung masih sempat sebelum pelajaran Kakashi-sensei dimulai. Bisa gawat kalau sampai kesiangan, aku dan Sakura pasti akan berada di luar kelas selama pelajaran.
Tapi rasanya aneh, kenapa semua mata memandang pada kami? Lebih tepatnya pada tanganku,-eh kami. Sadar dengan tatapan mereka, aku langsung melepaskan tanganku yang tapi ku pakai untuk menarik Sakura.
"Ah. Maaf. Aku tak sadar telah menarik tanganmu, Sakura." Ucapku.
"Tidak. Aku yang berterima kasih. Kalo aku tidak kau tarik, mungkin sekarang aku berada di luar kelas." Balas Sakura. Wajahnya sedikit memerah. Dia pasti senang. Dan seketika kami mendengar suara deham dari belakang.
"Ehem. Bisa kita mulai pelajarannya?" Kakashi-sensei menatap kami dengan tampang datar dan nada yang sedikit menyebalkan. Dan dari pada harus dimarahi, kami langsung meminta maaf dan duduk di bangku kami masing-masing.
Aku duduk di bangku belakang dekat jendela, sedang Sakura di tengah jajaran ke tiga pada deret yang sama pula denganku, namun tak ada jendela. Dan aku mulai membuka buku sejarahku dan memperhatikan Kakashi-sensei.
RIIIIIING...
Bel istirahat berdering. Anak-anak berhamburan keluar, ada juga yang ke kantin.
"Hey, Teme, kenapa kamu bisa menggandeng tangan Sakura?" suara khas milik Naruto bertanya padaku dari samping.
"Ternyata kau menyadarinya."
"Tentu saja. Semua mata tertuju pada tangan kalian yang bergandengan itu. Kami semua tidak menyangka kamu bisa melakukan hal itu karena kami tahu bagaimana sikapmu pada semua orang, ya tentunya sedikit beda pada sahabatmu. Itupun sedikit. Bukannya kamu tidak mau terikat dengan suatu hubungan seperti itu? Atau jangan-jangan kamu-" ucapan Naruto kupotong, karena dia akan mengucapkan kalimat yang akan aku ungkapkan pada Sakura, dengan mulutku sendiri besok.
"Sudah diam saja kamu. Jangan sampai terdengar oleh yang lain. Kalau kau sudah mengerti maksudku. Maka diam saja, ya Dobe."
"Oh. Aku mengerti. Ternyata Sasuke sekarang mulai berubah." Goda Naruto.
"Kalau begitu aku pergi ke kantin dulu dengan Hinata." Lanjutnya dan meninggalkan kelasku.
Kemudian aku melihat Sakura yang masuk kelas dan menghampiriku sambil membawa bekalnya.
"Sasuke-kun, kamu tidak membawa bekal?"
"Hm. Aku lupa."
"Ehmm... Kalau begitu ikut aku. Kita makan bareng di atap sekolah." Ajak Sakura sambil menarik tanganku.
"Kamu boleh makan bekalku, sebagai imbalan tadi pagi karena sudah menolongku." Lanjutnya.
"Oh. Tak apa. Aku hanya melakukan tugasku sebagai sahabat."
"Aku juga. Ayo cepat, nanti keburu bel masuk. Jangan buat aku kesal lagi." Sakura terus menarik tanganku dengan manja. Tapi aku merasa bingung dengan ucapannya yang terakhir. Lagi? Maksudnya apa? Dan karena ucapan barusan akhirnya aku menuruti Sakura.
Setelah kami sampai di atap. Kami duduk dekat pagar berdampingan.
Di sana kami membicarakan tentang pelajaran Kakashi-sensei tadi pagi. Pikiran kami mengenai guru itu sama. Dia galak, sedikit usil dan dia itu sangat MESUM.
"Dasar guru mesum." Kata kami bersamaan. Dan hal itu membuat kami tertawa.
"Sakura." Panggilku.
"Hhaha.. aduh perutku sakit. Iya apa Sasuke-kun?" tanya Sakura.
"Kemarin sepupuku membeli tiket ke taman bermain, tapi karena ada keperluan yang mendadak, dia memberiku tiketnya padaku. Katanya daripada terbuang sia-sia lebih baik aku memakainya dengan temanku."
"Ah! Sepupumu? Maksudmu Shikamaru?"
"Hm."
"Mungkin dia batal kencan dengan Temarin-chan, ya. Makanya dia memberimu tiket itu." Tebaknya.
"Hmm. Baiklah aku setuju. Lagi pula kalau di hari libur aku selalu sendirian di rumah."
"Hn." Balasku tersenyum. Setelah beres memakan bekalnya Sakura, Sakura mengeluarkan handphone-nya yang sepertinya baru dia beli.
"Ah. Sasuke-kun, kemarin tou-san membelikanku handphone baru. Belum ada foto-foto yang menarik. Makanya aku mau mencoba berfoto denganmu menggunakan handphone ini. Mau ya?"
"Hmmm.. Kamu mau bayar aku berapa? Hahahah..."
"Dasar matre. Cepat ke sini." Tangan Sakura menarik tanganku. Tangan kirinya memegang handphone ke bawah. Lalu Sakura menekan tombol kamera. Karena handphone Sakura ada kamera depannya, maka kami bisa berpose tanpa ragu hasil fotonya akan jelek.
"1, 2, 3. Cheese..." Kami tersenyum pada aba-aba 'cheese'.
Mengingat waktu istirahat lumayan banyak. Kami terus berfoto, kadang aku mengambil fotoku sendiri dengan gaya yang jelas bukan seperti karakterku di depan orang lain. Saat aku merangkul Sakura, saat aku berpose seperti sedang dibunuh dengan garpu, 'hahaha lucu' pikirku. Banyak sekali gambar yang kami ambil, sampai bel masuk yang menyadarkan kami. Setelah masuk kelas kami pun mengikuti pelajaran sampai pulang.
"Sasuke-kun, ayo kita pulang bareng." Ajak Sakura. Aku harus menolaknya karena hari ini aku ingin mencari hadiah untuk Sakura.
"Ah. Tidak, kau dulun saja. Aku masih ada urusan. Tak apa kan?" tanyaku.
"Oh. Tidak biasanya. Ya sudah aku pulang sendiri ya. Jangan pulang terlalu malam." Perintah Sakura yang sedikit kecewa namun tetap menghawatirkanku dan melangkah pergi.
"Kamu juga hati-hati di jalan." Ucapku yang melihat Sakura yang melambaikan tangannya ke atas.
Karena sudah 10 menit berlalu, aku rasa Sakura sudah tidak berada di lingkungan sekolah lagi. Lalu aku berangkat ke tempat aksesoris yang dikatakan oleh Shikamaru padaku kemarin. Setelah sampai di tempat itu, aku pun mencari benda yang aku inginkan.
Ada sekitar 15 menit aku mencari, hasilnya hanya ada 2, satu gelang dengan hiasan bunga yang berwarna-warni dan satu kalung yang bandulnya berbentuk bulat dengan di tengahnya ada kelopak bunga sakura warna biru muda yang timbul.
Maka setelah ditimbang-timbang, aku membeli kalung saja. Karena aku rasa kalung itu mewakili kami berdua, aku dan Sakura. Aku tambah senang, ternyata bandul itu dapat menyimpan foto. Aku ke kasih dan membayarnya.
"Tuan, apa hadiahnya dibungkus di sini? Pasti hadiah untuk pacar tuan ya?" tanya pelayan kasih.
"Hmm.. Dibilang pacar tidak, tapi kami memang dekat sekali. Tolong bungkuskan dengan kertas warna merah muda dan pita biru muda." Pintaku pada pelayan tersebut.
Tak lama, pelayan itu beres membungkusnya.
"Ini tuan, bingkisannya. Semoga anda puas dengan pelayanan kami." Pelayan tersebut menyerahkan bungkusan merah muda itu padaku.
"Iya. Terima kasih."
"Sama-sama."
Akupun keluar toko tersebut sambil memegang hadiah yang akan kuberikan pada Sakura besok.
Ketika aku berhenti di stopan, aku menjatuhkan hadiah yang akan aku berikan kepada Sakura karena orang yang di belakangku mendorongku sehingga hadiah tersebut jatuh terlempar ke trotoar. Aku menoleh ke kanan dan kiri, belum ada kendaraan. Kemudian aku bergegas memungut benda itu. Namun aku mendenger teriakan dari sebrang.
"KYAAAA! ANAK MUDA! CEPAT MENYINGKIR DARI SANA!" teriak seorang wanita dan orang-orang di sebrang sana.
Saat aku menoleh, sebuah truk sedang menghampiriku dan terlihat tidak seimbang. Akupun berlari ke arah sebrang stopan, tapi sayang, truk itu lebih cepat dan menambak bagian tubuh belakangku termasuk kepala bagian belakangku. Aku terseret sejauh 10 meter dari trotoar. Saat itu aku bisa melihat sosok laki-laki yang memakai baju serba putih.
"Malang sekali nasibmu, anak muda." ucap lak-laki berbaju putih itu. Kemudian pandanganku memudar dan seluruhnya menjadi hitam.
'Hangat.'
'Bau apa ini? Rasanya enak sekali.. Sangat harum.'
'Apakah aku sudah berada di Surga?'
Aku membuaka mataku. Perlahan-lahan aku melihat di atasku ada langit, lalu ke samping aku melihat...
Bersambung...
Pendatang baru.. Salam kenal Minna-san
Ehmm.. Mind to review?
XD
