Republish

Naruto © Masashi Kishimoto

Save Me © Thia Nokoru

.

* Save Me *

.

Chapter 5,

"K-kau,"

Sakura sangat tidak percaya dengan seseorang yang dilihatnya. Ini seperti mimpi untuknya.

"Sakura-chan? Benar itu kau?" tanya ulang laki-laki itu.

Laki-laki itu berjalan mendekati Sakura. Kini, Sakura sudah ada di hadapannya. Dengan ragu dan perlahan, tangan kanan laki-laki itu menyentuh kepala Sakura dan mengelus kepala Sakura dengan lembut.

"Ah… ternyata benar, ya… Sudah lama sekali, Sakura-chan…"

Wajah laki-laki itu terlihat begitu tenang. Rasa rindu, sayang, dan senang, tercurahkan lewat tangannya yang mengelus kepala Sakura. Sedangkan Sakura, perasaan hangat mengalir dalam tubuhnya. Belaian lembut tangan laki-laki itu di kepalanya membuatnya sangat tergetar. Air mata mulai membendung dan perlahan menetes dan jatuh di kedua pipinya. Isakan tangis mulai terdengar dari Sakura. Dan Sakura pun langsung memeluk erat laki-laki itu, menangis dalam pelukan laki-laki itu.

"Sakura!" Sasuke tidak terima dengan Sakura yang memeluk laki-laki itu. Sasuke tidak suka melihat Sakura yang memeluk laki-laki itu. Sasuke menatap tajam kepada laki-laki yang terlihat sangat senang karena dipeluk oleh Sakura.

"A-ada apa i-ini?" Ino hanya bisa bengong melihat Sakura yang seperti itu.

"Sudah… sudah… jangan menangis seperti ini…. Ini sangat merepotkan…. Aku sedang tidak bawa permen Sakura…." Laki-laki itu tersenyum jahil dan masih mengelus-ngelus kepala Sakura dengan sayang.

"Aku bukan anak kecil lagi!" Sakura tiba-tiba saja melepaskan pelukannya dan berkata sambil cemberut kepada laki-laki itu.

Laki-laki itu hanya tersenyum saja melihat Sakura yang cemberut kepadanya. Sedangkan Sasuke dan Ino, mereka tidak percaya dengan kelakuan Sakura yang bisa seperti itu.

"Tunggu! Kalian berdua jangan mesra seperti itu, donk!" Ino akhirnya memecah pertemuan Sakura dan laki-laki itu.

"Sakura, siapa laki-laki itu?" tanya Ino penasaran sambil menunjuk laki-laki yang ada di hadapan Sakura.

"Aku? Ah, ya. Perkenalkan, namaku adalah Nara Shikamaru. Pacarnya Sakura." jawab laki-laki itu sambil tersenyum tipis kepada Ino.

Sakura bengong dengan apa yang dikatakan oleh Shikamaru. Ino sangat terkejut mendengarnya sampai tidak bisa berkata-kata. Sedangkan Sasuke, saat itu juga seperti ada sebuah peluru meriam yang menembus dadanya.

"Kok, kalian pada diam?" tanya Shikamaru yang melihat ekspresi Sakura, Ino, dan Sasuke yang terdiam.

"YANG BENAR, SAKURAAAA…?!" Ino tiba-tiba saja berteriak.

"Hei, kau sejak tadi sangat berisik! Bisakah kau tidak berteriak-teriak seperti itu? Telingaku sakit!" Shikamaru sepertinya sangat terganggu dengan Ino yang berisik.

"Biar saja! Dan kau, kau tidak pantas jadi pacar Sakura! Sakuraaa… kenapa kau berpacaran dengan orang seperti dia, sih?" Ino sangat tidak terima Sakura berpacaran dengan Shikamaru. Seharusnya Sakura tuh pacaran dengan Sasuke.

"Ah, I-Ino… ada salah paham… ini…" Sakura bingung mau menjelaskannya dari mana dulu.

"Huh! Aku hanya bercanda saja. Memangnya aku tidak pantas jadi pacarnya Sakura? Respon kalian tuh sangat berlebihan." Shikamaru menatap Ino dan Sasuke yang sepertinya sangat tidak suka dengan dirinya. Ino yang sangat tidak terima, dan Sasuke yang terlihat seperti kehilangan nyawanya.

"Haahh…"

Mendengar kalau Shikamaru hanya bercanda, Ino dan Sasuke menghela napas lega bersamaan. Ino yang sangat lega karena akhirnya tidak sia-sia Ino mendekatkan Sakura dan Sasuke. Sasuke sendiri kini sedang mengkhayal kalau dirinya sedang menutup dadanya yang sempat ditembus peluru meriam.

"Aku harus mengenalkan mereka, ini teman-temanku, Yamanaka Ino dan Uchiha Sasuke." Sakura tersenyum kepada Shikamaru.

"Ya. Salam kenal, ya. Sakura pasti sudah sangat merepotkan kalian dengan sifatnya yang sangat periang, berisik dan suka marah-marah, ya? Mohon dimaklumi saja, dia memang sangat suka berteman dengan siapa saja di sekolah. Di luar sekolah juga, setiap orang yang dia temui pasti dijadikan teman olehnya, hahaha…" Shikamaru bercerita dengan sangat semangat.

Mendengar Shikamaru bercerita tentang Sakura, membuat wajah Sakura menjadi pucat. Ino juga terkejut lagi mendengar kalau Sakura itu orang yang seperti diceritakan oleh Shikamaru. Sedangkan Sasuke, Sasuke bisa mengerti mengapa Sakura sangat berbeda dengan Sakura yang diceritakan oleh Shikamaru.

"A-ah! Nii-san, Nii-san sedang apa disini?" Sakura cepat-cepat mengalihkan pembicaraan Shikamaru.

"Aku sedang ada tugas kuliah di sekitar sini. Sekarang aku tinggal di Konoha. Kau mau main? Pintu rumahku akan selalu terbuka untukmu, Sakura…"

"Wah… Nii-san sekarang di Konoha? Kalau sempat, aku pasti akan main ke rumah Nii-san…" Entah mengapa, wajah Sakura tidak menampakkan senang, melainkan sedih.

"Sudah larut malam, sebaiknya kalian kembali ke kamar kalian. Kalian sedang study tour, kan?" tanya Shikamaru.

"Ya, seminggu." jawab Sakura.

"Besok, kita masih bisa bertemu lagi. Kalau begitu, aku permisi dulu, ya…" Shikamaru mengelus kepala Sakura dengan penuh rasa sayang. Setelah itu Shikamaru pergi dari aula hotel ini.

Sakura rasanya tidak ingin Shikamaru pergi darinya. Rasa hangat itu pun mulai hilang. Sakura sangat rindu pada Shikamaru. Rasanya ingin berlari ke tempat Shikamaru, dan tidak mau kembali. Tapi, ada Ino dan Sasuke di dekatnya kini. Sakura tidak boleh pergi. Sakura pun kini menatap Ino dan Sasuke yang memang sedang menatap Sakura. Sakura jadi merasa bersalah atau tidak enak kepada Ino dan Sasuke.

"Ayo, kita kembali ke kamar…"

Sasuke berjalan lebih dulu diikuti Ino dan Sakura di belakangnya.

"Ino…" Sakura memanggil Ino yang terlihat seperti sedang berpikir keras.

Ya, Ino sedang berpikir. Membayangkan Sakura seperti yang diceritakan oleh Shikamaru dengan Sakura yang kini dikenalnya. Apakah Sakura memang seperti yang dikatakan oleh Shikamaru? Periang? Berisik dan suka marah-marah? Rasanya tidak. Suka berteman dengan siapa saja? Malah ditindas di sekolah. Dan Ino tersadar karena Sakura telah memanggilnya.

"Ah, ya? Ayo, kita juga kembali ke kamar, Sakura…" Ino tersenyum kepada Sakura.

Ino lagi-lagi berpikir, sepertinya Ino harus banyak bertanya kepada Shikamaru tentang Sakura. Sakura masih tidak mau bercerita tentang dirinya kepadanya.

.

T_N

.

Hari kedua, semua murid kini sedang menuju Rumah Laut. Disana mereka akan mengerjakan tugas yang diberikan oleh guru mereka dan sekalian juga acara jalan-jalan di Rumah Laut ini. Rumah Laut ini adalah sebuah aquarium raksasa. Di dalam aquarium ini banyak berbagai macam jenis ikan dari yang kecil sampai yang sangat besar.

Sasuke dan Sakura berjalan mengelilingi Rumah Laut, kini Sasuke dan Sakura sedang mengamati seekor ikan duyung yang besar. Ikan duyung itu hanya diam saja, seperti sedang mati di tempat. Sasuke sangat malas melihat ikan duyung yang malas berenang itu.

"Kita pindah, Sakura!"

Sakura hanya mengangguk dan mengikuti Sasuke dari belakang. Kini, mereka berhenti di sebuah aquarium yang berisi ikan-ikan kecil yang warna-warni.

"Cantik, ya, Sasuke…" gumam Sakura pelan sambil tersenyum senang.

"Hn," Sasuke senang. Akhirnya Sasuke bisa melihat Sakura yang tersenyum senang seperti itu.

Mereka berdua berkeliling melihat-lihat semua jenis ikan yang ada di Rumah Laut ini. Saat mereka berdua berada di sebuah aquarium khusus untuk ikan Hiu yang besarnya hampir sebesar ukuran manusia dewasa, bahkan ada yang lebih besar lagi, Sakura mengamati ikan-ikan Hiu itu yang menurutnya sangat menakutkan. Mulut yang sangat besar, gigi-gigi yang sangat tajam, dan tiba-tiba saja ada dua ekor ikan Hiu yang tiba-tiba saja menabrakkan kepalanya ke dinding aquarium saat Sakura sedang memperhatikan mereka. Sakura yang sangat terkejut, reflex Sakura memeluk Sasuke yang ada disampingnya sambil berteriak,

"Kyaaa… mereka akan memakan kita!" Sakura berteriak sambil memeluk Sasuke dengan erat karena Sakura ketakutan.

Jujur, bukan hanya Sakura yang terkejut. Sasuke juga terkejut, cuma tidak tampak pada ekspresi wajah Sasuke. Yang bikin ekspresi wajah Sasuke terkejut adalah ketika Sakura yang memeluknya dengan erat. Sasuke senang Sakura memeluknya. Sasuke pun tersenyum menyeringai kepada kedua ikan Hiu itu yang telah menabrakkan kepalanya ke dinding aquarium hingga membuat Sakura terkejut dan takut. Ikan Hiu itu menatap Sasuke, seolah-olah berkata dalam batin, Sasuke mengucapkan terima kasih kepada kedua ikan Hiu itu. Karena mereka, Sakura jadi memeluk dirinya. Kedua ikan Hiu itu pun sudah pasti tidak mengerti apa kata Sasuke, sehingga mereka pun akhirnya menabrakkan lagi kepala mereka ke dinding aquarium itu berkali-kali. Itu membuat Sakura semakin takut dan terus memeluk Sasuke dengan erat.

"Sasuke, kita pergi dari sini saja, ya…." mohon Sakura dengan sangat karena Sakura sangat takut.

Setelah pergi dari tempat Hiu, Sakura sangat malu karena telah berani memeluk Sasuke. Sasuke sendiri berusaha sekuatnya untuk tetap bersikap datar. Padahal, dalam hatinya Sasuke sangat senang sekali.

"Sakura, mau pegang kura-kura?" Sasuke mengajak Sakura untuk melihat kura-kura.

"Boleh?" tanya Sakura.

"Hn," Sasuke mengangguk.

Sasuke menggandeng tangan Sakura menuju kolam kura-kura. Ini membuat wajah Sakura memerah karena Sasuke telah menggandeng tangannya. Sampai di kolam kura-kura,

"Waahh… besar sekali!" seru Sakura senang melihat kura-kura yang berukuran sangat besar.

"Lihat aku, ya…" Sasuke mengambil kura-kura raksasa itu dan mengangkatnya.

"Wuaahh… Sasuke, kau kuat sekali!" seru Sakura senang sambil bertepuk tangan. Sepertinya Sakura sudah terbawa suasana yang menyenangkan dan melupakan semua masalahnya saat ini.

Sasuke tertawa melihat reaksi Sakura yang berseru sambil bertepuk tangan seperti itu. Ini adalah Sakura yang sebenarnya. Bukan Sakura yang seperti di sekolah. Sasuke ingin melihat Sakura seperti ini terus, tersenyum dan senang.

"Kau mau coba Sakura?" Sasuke menawarkan Sakura untuk mengangkat kura-kura juga.

"Aku tidak bisa, Sasuke. Itu sangat besar. Lebih baik, aku ambil yang ini saja…" Sakura mengambil anak kura-kura yang masih kecil dan tersenyum manis kepada kura-kura kecil itu.

'Sakura… kau memang sangat manis dan cantik bila kau terus tersenyum seperti itu…' kata Sasuke dalam hati.

"Lucu, kan, Sasuke?" Sakura berjalan mendekat kepada Sasuke untuk menunjukkan anak kura-kura itu yang ada di telapak tangan Sakura lalu dipindahkan ke telapak tangan Sasuke.

"Ya, lucu. Dia mirip sepertimu. Dari luar terlihat kuat, tapi dalamnya sangat lemah."

Kata-kata Sasuke memang benar. Sakura sependapat dengan Sasuke, kalau dirinya ini seperti kura-kura. Tapi, seekor kura-kura itu tidak pernah menyerah dalam hidupnya. Sejak kecil, kura-kura kecil sudah ditinggal oleh induknya. Mereka berjuang seorang diri untuk mencari makan dan bertahan hidup di lautan yang penuh dengan bahaya. Sakura juga harus seperti kura-kura itu yang selalu mempunyai semangat untuk hidup dan melawan arus kehidupan yang saat ini membuatnya menderita.

"Aku ingin punya semangat kura-kura…" gumam Sakura pelan.

"Kau pasti bisa, Sakura. Aku akan selalu ada bersamamu." Sasuke menatap kedua mata Sakura dengan lembut.

Lagi-lagi Sasuke mengatakan kata-kata yang membingungkan bagi Sakura. Sakura sama sekali tidak mengerti dengan kata-kata Sasuke. Seperti waktu pertamakali Sakura datang ke rumah Sasuke, tiba-tiba saja Sasuke meminta maaf kepadanya dengan lirih, maksudnya apa? Walau belum mengerti apa arti dari kata-kata Sasuke, yang Sakura tahu saat ini adalah Sasuke selalu memberinya semangat untuk hidup.

"Terima kasih, Sasuke… kau sangat baik kepadaku…" Sakura tersenyum manis kepada Sasuke.

"Ayo, kita kembali berkumpul…"

Sakura dengan senang mengikuti Sasuke dari belakang. Tugas mereka sudah selesai dikerjakan.

.

Ino memang sudah punya rencana untuk menemui Shikamaru. Kini, setelah jam makan malam selesai, Ino melihat Shikamaru yang sedang duduk bermalas-malasan di aula depan hotel ini. Ino menghampiri Shikamaru dari belakangnya. Sepertinya Shikamaru juga menyadari ada seseorang di belakangnya.

"Aku tahu. Itu kau, kan, Sakura?" tebak Shikamaru. Tapi, saat Shikamaru menoleh ke belakangnya, ternyata bukan Sakura, melainkan Ino.

"Kenapa kau, sih?" gerutu Shikamaru tidak suka.

"Aku datang kesini untuk berbicara dan bertanya kepadamu!" tegas Ino.

"Bicara saja…" kata Shikamaru malas.

Ino duduk berhadapan dengan Shikamaru. Shikamaru menatap Ino yang sepertinya Ino akan berbicara serius dengannya.

"Tolong, ceritakan kepadaku bagaimana kehidupan Sakura yang dulu?" tanya Ino serius.

"Maksudmu, masa lalu Sakura, begitu? Aku rasa masa lalu atau saat ini Sakura tidak ada yang berbeda." jawab Shikamaru.

"Kau ini siapanya Sakura? Kakak kandungnya? Sepupunya? Pamannya? Atau yang lain?" tanya Ino lagi.

"Aku hanya tetangganya saja. Kami besar bersama di Suna. Kami berdua sudah seperti kakak dan adik sungguhan." jawab Shikamaru lagi.

"Tapi… benarkah dulu Sakura seperti yang kau ceritakan? Periang? Sepertinya kau tidak tahu Sakura yang sekarang?"

Shikamaru mengerutkan kedua alisnya, tidak mengerti apa maksud Ino.

"Memangnya, apa yang terjadi pada Sakura sekarang?" tanya Shikamaru mulai cemas.

'Maaf, Sakura… aku harus memberitahu Shikamaru tentangmu saat ini. Dan aku juga mau tahu tentang masa lalumu.' kata Ino dalam hati.

Ino menceritakan tentang Sakura di sekolah. Shikamaru sangat tidak percaya dengan apa yang diceritakan Ino kepadanya. Ino juga mendengar tentang Sakura dari Shikamaru yang sangat berbeda dengan Sakura yang sekarang.

"Sepertinya… Sakura masih mempunyai rahasia lain, dan dia tidak pernah mau menceritakannya kepadaku." ucap Ino sedih.

"Astaga… Sakura… kenapa kau jadi seperti itu…" Shikamaru sangat sedih. "Aku sangat sayang kepadanya, dia sudah aku anggap adikku sendiri…"

Shikamaru menatap Ino dan tersenyum kepada Ino. "Terima kasih kau sudah mau menjadi teman Sakura, ya…"

Melihat senyuman Shikamaru membuat Ino jadi gugup. "I-iya,"

"Lalu, bagaimana dengan anak yang bernama Sasuke? Dia siapa?" Shikamaru belum mendengar cerita tentang Sasuke dari Ino.

"Hahaha… kau tahu? Sasuke itu cinta mati sama Sakura! Kau bisa melihat sendiri saat kau bilang kalau kau adalah pacarnya Sakura, hahaha… wajahnya itu lho, pucat banget!" Ino malah jadi tertawa-tawa bila mengingat tentang Sasuke.

"Hmm… apa dia orang yang bisa dipercaya untuk bisa menjaga Sakura?" tanya Shikamaru sambil berpikir.

"Tentu saja! Sakura juga sebenarnya menyukai Sasuke. Hanya saja dia terlalu malu untuk mengakuinya." jawab Ino.

"Begitu." Shikamaru tersenyum.

Shikamaru dan Ino masih terus mengobrol di aula depan hotel. Sementara itu, Sakura yang berada di kamar hotel sendirian, sedang menunggu kedatangan Ino. Ino bilang kepada Sakura kalau Ino hanya akan pergi sebentar, tapi ini sudah lama sekali. Karena terlalu lama menunggu, Sakura pun akhirnya ketiduran.

.

T_N

.

Hari ke tiga dan keempat, mereka belajar di salah satu ruangan yang besar yang di sediakan oleh hotel ini. Biasanya ruangan ini di gunakan untuk seminar-seminar. Hari ke lima dan hari keenam adalah hari bebas untuk semua murid.

Hari bebas adalah hari yang ditunggu-tunggu oleh semua murid. Kini, mereka semua menuju pantai.

"Yuhuuuu… pantai… kami dataaaangggg…!" Ino berseru dengan sangat gembira.

Semua murid sudah turun dari dalam bus. Setelah diberikan peraturan selama jam bebas di pantai ini, semua langsung berpencar untuk bersenang-senang.

"Sakura, ayo kita ganti baju!" seru Ino mengajak Sakura.

Sakura bingung, ganti baju? "Kenapa harus ganti baju?" tanya Sakura tidak mengerti.

"Sakura… kita mau main air, kan? Jadi, kita harus ganti baju kita dengan baju renang!" seru Ino lagi.

"Eh? Main air? Aku tidak bawa baju renang, Ino."

"Kalian berdua mau berenang?" tanya Sasuke bersama Kiba menghampiri Ino dan Sakura.

"Tentu saja! kalian bagaimana?" tanya Ino.

"Kami juga! Ayo, kita pergi ke ruang ganti!" seru Kiba semangat.

"Ayo!" balas Ino semangat juga.

Kiba dan Ino sangat semangat sekali. Sasuke menatap Sakura yang sejak tadi hanya diam saja.

"Kau mau berenang juga?" tanya Sasuke pada Sakura.

"Aku tidak. Aku menonton kalian berenang saja dari pinggir pantai." jawab Sakura tersenyum.

"Tidak apa-apa tidak pakai baju renang juga…" kata Sasuke.

"Aku tidak bawa baju ganti." ucap Sakura tersenyum lagi.

Sasuke sepertinya tahu mengapa Sakura menolak untuk berenang.

"Kau ini bagaimana, sih? Jelas-jelas kita mau ke pantai. Kalau ke pantai, sudah pasti main air, kan? Kenapa kau malah tidak membawa pakaian ganti?" Sasuke jadi sedikit kesal sama Sakura.

Melihat Sasuke yang sepertinya marah menurut Sakura, Sakura jadi cemberut.

"Aku kan memang tidak mau main air! Kalau kau mau main air, main saja sana!" jawab Sakura ketus.

Melihat Sakura yang seperti itu, Sasuke langsung menarik Sakura dan membawanya ke sebuah toko baju yang letaknya tidak begitu jauh dari pinggir pantai.

"Mau kau yang pilih, atau aku yang pilihkan?" tanya Sasuke pada Sakura saat sudah masuk ke dalam toko baju.

"Kenapa kau membawa aku kesini, Sasuke?!" tanya Sakura agak kesal.

"Kita sudah di pantai. Jadi, apa artinya bila datang ke pantai bila tidak bermain air?" tanya Sasuke balik.

Sasuke berkeliling untuk melihat-lihat baju yang cocok untuk Sakura pakai di pantai. Sasuke memilih sebuah kaos lengan buntung berwarna biru laut dan celana pendek berwarna merah 20cm diatas lutut. Tanpa bertanya komentar dari Sakura, Sasuke segera membayar di kasir.

"Sekarang, kita ke ruang ganti." Sasuke segera menarik Sakura menuju ruang ganti. Dan Sakura hanya bisa pasrah di bawa oleh Sasuke.

Sampai di ruang ganti, "Cepat pakai ini." Sasuke menyodorkan bingkisan baju yang dibelinya kepada Sakura.

Sakura hanya bisa menuruti Sasuke dan masuk ke ruang ganti untuk perempuan. Sasuke pun masuk ke ruang ganti untuk laki-laki.

Sasuke lebih dulu keluar dari ruang ganti laki-laki. Sasuke hanya mengenakan celana pendek selutut berwarna hitam dan sebuah jaket berwarna putih yang tidak diresleting, hingga memperlihatkan tubuh bagian depannya yang sempurna. Para perempuan yang ada di sekitar Sasuke, selalu berteriak kalau dirinya sangat keren dan tampan sekali. Karena Sasuke sangat cuek dan terlihat dingin, para perempuan itu hanya bisa menatap Sasuke dan tidak berani untuk mendekati Sasuke.

"Sakura lama sekali…" gerutu Sasuke. Sasuke benar-benar sudah tidak sabar untuk segera pergi dari tempatnya saat ini. Perempuan-perempuan yang mengaguminya kini semakin banyak. Dan menurut Sasuke itu sangat mengerikan bila tiba-tiba saja mereka bersama-sama menyerangnya.

Dan akhirnya, Sakura pun keluar dari ruang ganti perempuan. "Ma-maaf, aku lama…" Dengan malu-malu Sakura menghampiri Sasuke.

"Ayo, cepat kita pergi dari sini!" Tanpa memperhatikan penampilan Sakura, Sasuke segera menarik Sakura dan pergi dari tempat itu. Perempuan-perempuan itu sangat kecewa ketika Sasuke membawa Sakura pergi.

"Sasuke… pelan-pelan jalannya! Kyaaa…!"

Brukk

Sakura terjatuh karena tidak bisa mengimbangkan langkah kaki Sasuke yang cepat itu.

Karena Sasuke ingin cepat-cepat menghindar dari para perempuan itu, Sasuke tanpa sadar sudah berjalan dengan sangat cepat dan tidak memperhatikan Sakura yang ternyata kesulitan mengikuti langkah kakinya yang panjang-panjang itu.

"Sakura, maaf… kau tidak apa-apa?" tanya Sasuke sambil membantu Sakura berdiri dari jatuhnya.

"Tidak apa-apa." jawab Sakura.

Pemandangan pantai yang sejuk karena di sepanjang pinggir pantai ditanami pohon-pohon kelapa yang besar. Sepertinya pengunjung pantai hari ini penuh dengan murid-murid dari SMA Konoha. Sasuke dan Sakura berjalan beriringan di pinggir pantai untuk mencari Ino dan Kiba. Sepanjang perjalanan, murid perempuan yang melihat Sasuke selalu berteriak kalau Sasuke sangat keren, sexy, dan kata-kata cinta untuk Sasuke. Sakura bisa mengerti mengapa para perempuan itu begitu histeris melihat Sasuke, karena Sakura sendiri saat keluar dari ruang ganti dan melihat Sasuke dengan penampilan seperti itu membuat jantungnya berdebar-debar sampai mau copot. Apalagi, sekarang Sakura berjalan disamping Sasuke, entah mengapa, Sakura bolehkan merasa senang dan bangga karena bisa bersama dengan Sasuke? Tapi, rasa senang dan bangga itu berubah menjadi rasa takut, karena para perempuan itu menatap dirinya dengan tatapan benci dan tidak suka.

Sasuke sendiri, selain tidak nyaman dengan para perempuan yang selalu menatapnya dan berteriak kepadanya, Sasuke juga sebal dan tidak suka dengan para laki-laki yang selalu menatap Sakura dengan tatapan yang menurut Sasuke menjijikan itu. Sasuke tidak menyangka sama sekali kalau Sakura akan terlihat manis dan cantik seperti ini. Sakura tidak memakai kacamata, rambut panjangnya tergerai indah. Kaos lengan buntung berwarna biru laut itu sangat pas di tubuh Sakura sehingga membentuk lekuk tubuh Sakura yang indah. Di tambah lagi, celana pendek merah 20cm diatas lutut memperlihatkan paha dan kaki Sakura yang putih mulus itu. Menyesal tidak menyesal Sasuke memberikan Sakura pakaian itu, dan seharusnya Sasuke bersyukur kalau Sakura tidak memakai bikini atau baju renang seperti murid-murid perempuan yang lainnya.

"Sasuke! Sakura!"

Dari kejauhan terdengar teriakan Ino yang memanggil Sasuke dan Sakura. Sasuke melihat Kiba dan Ino yang melambaikan tangan kepada mereka. Kiba mengenakan celana pendek berwarna coklat. Ino mengenakan bikini berwarna ungu yang sexy sekali.

"Kalian lama sekali!" Ino cemberut karena Sasuke dan Sakura sangat lama. Sakura hanya tersenyum kepada Ino.

"Ayo, ayo, ayo, kita main air!" Ino langsung saja mendorong Sakura untuk masuk ke dalam air. Dan Kiba mendorong Sasuke untuk masuk juga ke dalam air.

Mereka bersenang-senang. Saling mencipratkan air, tertawa, bercanda, dan Sakura sungguh sangat senang sekali. Kesenangan bersama teman-teman seperti ini, mengingatkan dirinya saat bersama dengan teman-temannya dulu di Suna.

.

"Nii-san,"

Sakura menghampiri Shikamaru yang memang sudah menunggunya di bangku taman hotel ini.

"Kemarilah… aku ingin kita mengobrol…" Shikamaru menyuruh Sakura untuk duduk disampingnya.

Sakura duduk di samping Shikamaru. Shikamaru merangkul Sakura dari samping dan menyenderkan kepala Sakura di bahunya. Rasanya… sudah lama sekali Sakura tidak merasakan kasih sayang seperti ini dari Shikamaru. Shikamaru pun mengelus-ngelus kepala Sakura dengan penuh kasih sayang.

"Sakura, kalau ada apa-apa, bilang saja kepadaku. Kalau kau ada masalah, ceritakan kepadaku. Kalau kau butuh bantuan, panggil saja aku. Mulai saat ini, aku akan selalu ada untukmu…" ucap Shikamaru lembut.

"Aku tidak apa-apa, kok! Kenapa Nii-san berkata seperti itu?" Sakura mulai berpikir yang tidak-tidak karena Shikamaru berkata seperti itu.

"Jangan berbohong Sakura… aku sudah tahu tentangmu dari Ino… Kenapa? Kenapa bisa seperti itu?" Shikamaru ingin Sakura menceritakannya semuanya kepadanya.

Sakura terdiam mendengar kalau Shikamaru sudah tahu tentangnya dari Ino. Apakah Sakura harus menceritakan masalahnya kepada Shikamaru?

"Aku… mungkin setelah aku kehilangan kedua orangtuaku, aku jadi seperti ini. Aku berubah, bukan Sakura yang selalu periang dan suka berteman. Karena aku yang jadi pendiam, makanya tidak ada teman yang mau berteman denganku, hahaha…" Sakura hanya bisa tertawa kecil. Dan Sakura hanya bisa mengatakan alasan itu kepada Shikamaru. Sakura tidak mau Shikamaru tahu tentang Anko. Cukup Sasuke saja yang tahu tentang Anko. Sakura tidak mau Shikamaru terlibat dengan Anko.

"Begitu, kah? Lalu… sekarang kau senang?" tanya Shikamaru.

"Aku senang, kok! Punya teman seperti Ino dan Sasuke, lalu sekarang ada Kiba juga. Mereka mau berteman denganku saja aku sudah senang sekali. Entah bagaimana aku membalas kebaikan mereka kepadaku… aku tidak tahu…" Sakura jadi bingung.

"Seorang teman itu, tidak mengharapkan balasan karena mereka sudah baik kepada kita. Asal kita bisa bersama dengannya dalam suka maupun duka, itu saja sudah cukup. Apa kau sudah lupa, Sakura? Coba kau ingat lagi, bagaimana dulu kau begitu semangat mendapatkan seorang teman? Semua orang menyukaimu karena kau sangat suka berteman dengan siapapun. Apa kau pernah mengharapkan mereka membalas kebaikanmu waktu itu?" kata Shikamaru mengingat Sakura yang dulu.

Sakura teringat masa-masanya dulu sebelum orangtuanya meninggal. Benar, Sakura sama sekali tidak pernah mengharapkan balasan apapun dari teman-temannya. Asal bisa melihat teman kita bahagia, itu saja sudah cukup. Ino dan Sasuke adalah yang sekarang merubah Sakura. Kalau Sakura senang, Ino dan Sasuke pun ikut senang.

"Ya, aku mengerti…"

Tidak terasa, mengingat itu semua membuat Sakura meneteskan air mata.

"Sakura, apa kau masih menyembunyikan sesuatu dariku?" Shikamaru masih penasaran dengan masalah Sakura. Kalau mendengar apa yang Ino ceritakan, itu masih ada yang mengganggu dipikiran Shikamaru kalau Sakura hanya bercerita seperti itu saja.

Sakura terlihat sedikit gugup, dengan cepat pun Sakura menggelengkan kepalanya. Shikamaru tahu, pasti masih ada lagi masalah yang tidak bisa Sakura ceritakan kepada Shikamaru. Tidak jauh dari tempat Shikamaru dan Sakura, di balik sebuah pohon yang besar, disana ada Sasuke yang mendengarkan pembicaraan Shikamaru dan Sakura.

.

T_N

.

"Nii-san mau pergi?"

"Ya. Tugas kuliahku sudah selesai. Ini, alamat rumah dan nomor teleponku. Datanglah ke rumahku kalau kau libur sekolah…"

Shikamaru memberikan alamat dan nomor teleponnya kepada Sakura.

"Aku juga, hari ini kami kembali. Study tour sudah selesai." ucap Sakura.

"Jarak dari sekolahmu ke kampusku tidak begitu jauh, kok! Kalau sempat, mainlah kesana…"

Shikamaru memeluk Sakura dengan erat dan mencium kepala Sakura. Sungguh, Shikamaru tidak mau melepaskan Sakura. Tapi, Sakura punya kehidupannya sendiri, walau Shikamaru ingin membawa Sakura pulang ke rumahnya. Lalu, Shikamaru melihat Ino dan Sasuke yang ada di belakang Sakura. Melihat Ino dan Sasuke, mereka berdua menatap Shikamaru dengan tatapan tidak suka karena telah memeluk Sakura. Shikamaru melepaskan pelukannya pada Sakura. Shikamaru menghampiri Ino dan Sasuke.

"Aku mohon, tolong hubungi aku tentang keadaan Sakura." Shikamaru memberikan Ino alamat dan nomor teleponnya tanpa Sakura ketahui.

Shikamaru tersenyum kepada Ino, dan percaya kepada Ino, kalau Ino akan menjaga Sakura dan memberikan kabar tentang Sakura kepadanya. Ino pun balas tersenyum kepada Shikamaru. Entah mengapa, Ino merasa seperti orang yang dipercaya oleh Shikamaru. Debaran jantung pun berdetak kencang sekali saat Shikamaru tersenyum kepadanya.

Dan, Shikamaru melirik pada Sasuke. Sebelum mendekati Sasuke, Shikamaru menatap tajam laki-laki berwajah dingin itu. Ditatap seperti itu oleh Shikamaru, Sasuke membalas dengan tatapan yang tak kalah tajam, kerena Sasuke memang sangat tidak suka dengan Shikamaru.

"Aku mohon kepadamu, tolong jaga adikku satu-satunya, Sakura. Sepertinya kau tahu banyak tentang Sakura dibanding Ino, kan?" Shikamaru berbisik sambil menyeringai kepada Sasuke.

Sasuke terkejut Shikamaru berkata seperti itu. Shikamaru pun memberikan Sasuke alamat dan nomor teleponnya.

"Mungkin belum saatnya. Sakura tidak bercerita apa-apa kepadaku." Shikamaru tersenyum kepada Sasuke.

"Hn. Tenang saja, aku akan menjaganya untukku, untukmu, dan Ino." Sasuke yakin sekali dengan kata-katanya.

"Aku percaya kepadamu, Sasuke." ucap Shikamaru.

"Baiklah semuanya… aku tidak terlalu suka berbasa-basi seperti ini, aku pergi, ya…"

Shikamaru melambaikan tangannya sambil berlalu pergi meninggalkan Sakura, Ino, dan Sasuke.

Sakura menatap kepergian Shikamaru. Sakura berharap, Sakura segera bertemu lagi dengan Shikamaru. Ino menatap Sakura yang sangat sedih dan menepuk bahu Sakura.

"Kita masih bisa bertemu dengannya lagi, jangan sedih, ya…" ucap Ino sambil tersenyum.

Study tour sudah selesai. Semua sedang dalam perjalanan pulang. Tugas-tugas mereka sudah dikumpulkan.

"Sakura, sebentar lagi ujian akhir. Kalau sudah lulus, kau mau lanjut ke universitas apa?" Ino mengusir Sasuke yang duduk di sebelah Sakura. Ini hanya untuk sebentar saja.

"Hahaha… aku tidak tahu. Aku belum kepikiran sampai kesana…" Sakura tertawa aneh menurut Ino.

Mana mungkin Sakura bisa kuliah, kan? Mengingatnya saat lulus saja itu adalah hal yang paling mengerikan bagi Sakura. Rasanya Sakura mau kelulusannya masih lama lagi. Tapi, itu tidak mungkin, kan? Andai saja Sakura bisa kuliah, setiap orang pasti ingin mendapatkan ilmu sebanyak-banyaknya. Tapi, Sakura bersyukur bisa sekolah sampai SMA.

"Aku, masuk ke Universitas Konoha. Padahal aku ingin kalau kita bertiga bisa bersama-sama lagi di sana…" Ino jadi sedih.

"Tapi, kalau pun aku tidak kuliah, kita masih bisa bertemu, kan?" Sakura tersenyum kepada Ino.

"Ya, walau kita jauh dan terpisah nanti, kita masih bisa bertemu…" Ino balas tersenyum kepada Sakura.

Sasuke mendengarkan obrolan dua orang yang ada di belakangnya. Sasuke hampir lupa kalau setelah lulus nanti, Sakura akan menjadi perempuan penghibur di café Anko.

"Sial!" Sasuke merutuk kesal. Apakah dia bisa melakukan sesuatu untuk Sakura?

BERSAMBUNG

REPUBLISH

30 MARET 2014

A/N :

Nieeeee… udah update cepet, kan? ;D

Chapter ini panjang euy… :3 Gimana, suka gak? Semoga suka, ya… :D

Gak banyak ocehan, tinggalkan jejak kalian yang membaca fic ini biar saya makin semangat update… XD #plak

Balas Review chapter 4 nyo… :3

Hanazono yuri ++ Ini udah kilatz, kan? ;D Makasih sudah membaca dan mereview, ya… :D

Uchiha Matsumi ++ Yaaaaa… dikau benar sekaliiiii… XD Hahaha… makasih sudah baca dan review… :D

Sudoer arekndapblekputrakeramat ++ Oi juga, oi salam kenal… XD Kenapa? Kenapa dikau tak geregettt…?! :D Yo wis dah… dapet-dapetin aja fel-nya… hehehe… okay, nie udah update cepet… Makasih sudah membaca dan mereview, ya… :D

Selesai, nyo~ sampai jumpa chapter 6 ya… :D

Be happy, semoga kalian selalu suka… (^O^)/

Review? :3