40 Days Confession
'Hangat.'
'Bau apa ini? Rasanya enak sekali.. Sangat harum.'
'Apakah aku sudah berada di Surga?'
Aku membuaka mataku. Perlahan-lahan aku melihat di atasku ada langit, lalu ke samping aku melihat... Tokyo Tower?
'Tunggu. Kenapa ada Tokyo Tower?' pikirku. Saat aku memalingkan wajahku ke bawah. Ternyata di sana adalah kota Tokyo.
Syuuut
Aku tersadar dan seperti terjatuh.
"AHHKKK! AKU JATUH!"aku berteriak sambil tanganku menggapai-gapai langit kosong, berharap ada yang melihatku terjatuh. Tapi ada tangan yang memegang kedua lenganku.
"Hah?!" aku menengok ke atas dan melihat pria berbaju putih yang sebelumnya aku liat. Dan dia bisa... terbang? Tanpa sayap?
"Siapa kau? Kenapa-" tanyaku panik.
"Kenapa kamu jadi bawel sekali, Sasuke?. Setahuku kamu orangnya sangat dingin," protes orang berbaju putih tersebut.
"Diam. Aku tak peduli. Kau belum menjawab pertanyaanku. Siapa kau? Dan kenapa kamu bisa terbang tanpa sayap?" tanyaku yang sedang emosi dan panik.
"..."
"Kalau kau tidak mau jelaskan. Lepaskan tanganmu. Menjijikan tahu."
Tangan itu terlepas dari kedua lenganku dan saat terlepas aku seperti akan jatuh ke bawah lagi, tapi itu terhenti karena jentikan tangan pria itu. Aku sedikit kaget juga.
"Kenapa? Kaget, hah?" ada seringai dari mulut menyebalkan itu yang membuatku sebal pula.
"Tentu saja, baka!" jawabku kesal karena seringainya itu.
"Berani sekali kamu menyebutku 'Baka'. Kamu tidak tahu aku siapa, hah?" terlihat perempatan di pelipisnya.
"Tentu saja aku tidak tahu, baka. Makanya aku tanya tadi, kau ini SIAPA?" tanyaku yang kesal.
"Ah. Kau benar. Mungkin benar aku baka. Hahaha ..." tawanya dan aku hanya memutar bola mataku karena jengah akan kelakuannya.
"Jadi kau ini siapa? Apa kau malaikat pencabut nyawa?" tanyaku yang mulai merasa bosan, karena sudah mengucapkan pertanyaan ini berulang kali.
"Ya...di dunia kalian kami dipanggil seperti itu. Tapi kami lebih senang dipanggil Shinigami," jelasnuya.
Aku menanggapinya hanya dengan ber'oh' ria.
"Jadi, kenapa aku masih di sini dan bisa melihat dunia ini?" tanyaku penasaran.
"Karena kau masih punya satu tugas yang belum terselesaikan. Kamu punya penyesalan."
"Hmm? Tugas?"
"Iya. Kamu belum menyatakan perasaanmu pada sahabat manismu itu,"
Langsung muncul perempatan di pelipisku mendengar kata manis yang ditunjukkan kepada Sakura dari mulut Shinigami sialan itu.
"Jangan seenaknya saja kamu memanggilnya manis. Apalagi di hadapanku," saking kesalnya aku hampir meraih kerah baju yang dipakainya. Tapi ketika kudekati, dia mendadak menghilang. Lalu dia muncul di belakangku.
'Kamu begitu cemburunya ternyat,.' batin sang Shinigami.
"Tugasmu adalah nyatakan cintamu dalam waktu 40 hari. Jika kamu bisa melakukannya, maka kamu akan dimasukkan ke surga," ucap Shinigami itu padaku.
"Kalau tak berhasil aku ke neraka, begitu?"
"Neraka terlalu ringan untuk menjadi hukumanmu," dia menjentikkan jarinya lagi dan seketika ada kertas yang berisi pemberitahuan.
Nama : Sasuke Uchiha
Lahir : 23 Juli 1996
Wafat : 27 Maret 2013
Penyebab kecelakan : Tertabrak truk di trotoar ketika hendak mengambil hadiah ulang tahun untuk sahabatnya
Hukuman : Tidak akan masuk surga ataupun neraka.
Hukuman ini dapat dibatalkan dengan syarat sebagai berikut.
Merubah sikap yang ketus kepada semua orang.
Menyatakan cinta kepada orang yang dicintai.
Jika orang tersebut sudah meninggal dan menjadi arwah, maka pilihan pertama otomatis tidak dapat dilakukan. Dan pilihan kedua yang harus dilakukan dalam batas waktu 40 hari dimulai dari orang tersebut meninggal.
Apabila syarat kedua tidak dapat terlaksana, maka arwah yang berangkutan tidak akan masuk ke alam baka selama 500 tahun. Orang yang dicintai oleh arwah dan arwah tersebut tidak akan bereinkarnasi. Apabila mereka bereinkarnasi, mereka tidak akan dipertemukan dan ingatan akan masa lalu dihapus.
TTD
Komite ...
Seketika itu kertas pemberitahuan tersebut menggulung dan menghilang.
"Jadi kau harus segera mencari cara untuk menyatkan cintaimu sebelum 40 hari," Shinigami itu memulai pembicaraan saat melihatku yang melongo karena masih tak percaya dengan apa yang baru saja aku tahu.
"Haah.. sudah kuduga akan begini," lanjut Shinigami itu.
"Kau harus membantuku," ucapku yang sudah sadar dengan pandangan kosong.
"Itulah gunanya aku di sini. Kau bisa mengandalkanku," ucapnya bangga.
"Oh iya. Supaya kau mudah mebedakan dengan shinigami yang lain, panggil saja aku Sai," tambahnya.
"Hn. I'm count on you, Sai."
Keesokkan harinya di kediaman Uchiha.
Di hari saat aku akan dikebumikan, di rumah aku melihat banyak orang yang menangis. Orang tuaku, Itachi-nii, sepupuku –Shikamaru, Naruto, Hinata, Ino, teman-teman sekelasku –terutama fans ku, dan semua orang yang hadir bersedih dan mengucapkan bela sungkawa pada orang tuaku. Ayah yang selama ini aku anggap tak mempedulikanku, dia menangis melebihi yang lain. Namun ibuku bisa menambahkan ayah.
Tapi sosok yang aku cari tidak ada saat itu, aku melayang bersama Sai yang mengikuti dari belakang. Aku berkeliling rumah, dan aku melihat pintu kamar tidurku terbuka sedikit lebar. Dalam hati, siapa yang masuk keenaknya ke kamar, apa ada pencuri. Tapi tidak mungkin. Kemudian aku masuk perlahan takut orang itu menyadari kehadiranku. Padahal aku ini arwah yang bisa menembus apapun, tapi karena saat itu belum terbisa dengan kondisiku sebagai arwah maka aku masuk perlahan saja.
Saat itu aku terkejut, aku melihat orang yang aku cari sedari tadi ternyata berada di kamar tidurku sendiri.
Sakura berdiri mematung, pandangannya kosong. Pikirannya seperti melayang entah kemana. Aku lihat tatapannya pada foto figura yang di dalamnya terdapat foto aku sedang dirangkul oleh Sakura.
"Sasuke... dasar pembohong! Aku benci padamu," Sakura mulai mengeluarkan suaranya.
Lalu seketika itu dia menangis. Dia tumbang, tangannya mencoba meraih foto itu dari meja belajarku. Dia memeluk foto itu sangat erat, seakan-akan itu adalah aku yang dia peluk. Dia tak ingin melepasnya. Tangisnya begitu pilu, menyakitkan. Sangat menyakitkan sampai aku yang melihatnya ingin menghapus air matanya. Aku mendekati dia, tangan kiriku mencoba menyentuh pundaknya, dan tangan kananku menyentuh dagunya. Tapi betapa terkejutnya aku karena aku tak dapat menyentuhnya, tanganku menembus badan Sakura. Aku menoleh ke arah Sai.
"Aku tak bisa menyentuhnya, Sai," ucapku menatap Sai dengan lirih.
"Kuatkan dirimu Sasuke," ucap Sai dengan tatapan yang sedih karena melihat dua makhluk berbeda alam ini yang terlihat begitu rapuh.
"Apa ada cara agar aku bisa mengatakan sesegera mungkin perasaanku pada Sakura, Sai? Aku tak ingin melihatnya seperti itu, dia cukup menderita karena perlakuanku dulu yang mengacuhkan perasaannya padaku. Aku ingin membalasnya," jelasku panjang lebar. Aku melihat lagi ke arah Sakura yang masih memeluk foto itu. Lalu terdengar pintu yang mendecit membuka lebih lebar, aku melihat Itachi-nii dan Ino menghampiri Sakura yang tengah tertunduk itu.
"Sakura, kuatkan dirimu," Ino memeluk Sakura dari samping.
"Ihklaskan Sasuke. Apa kamu mau dia tidak tenang di alam sana? Kasihan Sasuke, Sakura. Relakan dia," sambung Ino lagi. Ino benar, aku tidak tenang karena melihat Sakura yang seperti itu.
Itachi-nii hanya memandang Ino yang memeluk Sakura melihatkan ekpresi sedihnya.
"Sakura. Ino benar, sekarang kamu istirahat saja. Kamu juga harus memperhatikan kesehatanmu," Itachi-nii membenarkan pendapat Ino.
"Kalian tahukan, aku masih mencintai Sasuke. Dia pembohong! Sasuke jahat! Aku benci Sasuke! Kamu masih punya hutang janji padaku. Kamu bilang hari ini kamu akan mengajakku ke taman bermain. Lihat, aku sudah membuatkan bekal untuk kita, Sasuke, hiks... hiks..." ucap Sakura sambil menatap foto itu dan menunjukkan bekal yang dibawanya.
.
.
.
Aku terus memperhatikan Sakura selama 5 hari dan selama 5 hari itu dia tidak masuk sekolah sampai Ino memaksanya -menyeretnya lebih tepatnya. Tapi tetap dia tidak terlihat bersemangat seperti biasa.
End of Flashback
"Sai,beritahu aku cara untuk menuntaskan tugas ini," pintaku pada Sai. Aku yang masih di kelas Sakura berbicara pada Sai.
"Aku belum bisa berbuat apa-apa. Tapi, kemarin aku membaca buku saat aku di surga, jika kamu ingin 'hidup kembali', kamu harus memasuki tubuh makhluk hidup yang hampir mati dan tubuh itu harus tidak memiliki dosa," jelas Sai.
"Apa?! Kalau orang yang hampir mati aku tak keberatan. Tapi memang ada orang yang tidak memiliki dosa?" ucapku tak percaya.
"Siapa yang bilang orang? Kamu pikir yang bakal kamu masuki tubuhnya itu manusia?" timpal Shinigami menyebalkan ini.
"Dasar sialan! Asal jangan serangga. Sakura tidak suka serangga," tak perlu dijelaskan oleh Sai, aku sudah mengerti maksudnya, aku harus memasuki tubuh hewan.
"Pftt... BUAHAAHAH!"
"Hey! Kenapa kau tertawa seperti itu?"
"Kamu benar-benar percaya ucapanku. Ternyata Sasuke, orang yang semasa hidupnya tak mudah percaya pada orang dan cerdas kalau kepepet bisa jadi seperti ini. BUAHAHAHA..."
"Hah?! Jangan mempermainkanku, dasar shinigami sialan," ucapku karena merasa terhina. Aku mengenjarnya, kami melayang-layang saling kejar.
"Sudah sudah, kali ini aku serius," ucap Sai yang sudah kutangkap dan kujitak kepalanya.
"Katakan apa yang harus aku lakukan?" tanyaku dengan tak sabar.
"Kamu harus merasuki tubuh manusia yang sedang sekarat."
"Tak ada cara lain?" tanyaku.
"Tak tahu. Hanya itu yang aku tahu. Tapi Sasuke, kamu harus menerima apapun yang terjadi kalau ada sesuatu yang berbeda setelah kamu berada dalam tubuh itu," jelas Sai. Entah kenapa aku jadi ragu setelah Sai mengucapkan resiko yang akan aku alami. Tapi demi bertemu dengan Sakura, apapun aku lakukan.
"Apapun itu, aku terima segala kemungkinan yang akan aku alami."
Aku menatap mata Sai dengan mantap.
'Mata itu tak ada keraguan di dalamnya,' batin Sai.
Bersambung...
