Republish
Naruto © Masashi Kishimoto
Save Me © Thia Nokoru
.
* Save Me *
.
Chapter 6,
PLAAKK!
Sebuah tamparan keras menggema di ruangan yang besar ini.
"Aku sudah memberimu kebebasan sampai kau lulus! Kau masih saja bersikap seperti itu, hah?!" Anko berteriak pada orang yang ada di hadapannya.
"Aku akan bekerja, dan akan membayar semua hutang-hutangku kepadamu sampai kapan pun. Tapi, kumohon… jangan jadikan aku seorang pelacur…" Rasa sakit yang menjalar dari pipinya, membuat Sakura sudah tidak tahan untuk tidak melawan Anko.
"Kau sudah berani melawanku?! Kau tahu akibatnya bila kau melawanku, hah?" Anko sangat tidak suka bila Sakura mulai berani melawannya. Anko pun segera mengambil sebuah kayu tipis yang panjang. Kayu yang biasa dipakainya untuk mencambuk tubuh Sakura. Dengan penuh emosi, Anko mencambuk Sakura dengan perasaan senang.
Sakura terkejut, tidak menyangka kalau Anko akan mencambuknya lagi. Apakah Sakura bisa menghindar? Tidak. Sakura tidak bisa menghindar dari cambukan Anko. Cambukan demi cambukan di rasakannya di tubuhnya. Sakit, sakit sekali. Tubuhnya terasa sangat panas karena cambukan itu. Sakura merintih kesakitan, Sakura sudah tidak kuat lagi merasakan rasa sakit itu. Dengan perlahan pun kesadaran Sakura mulai menghilang. Sakura pingsan di tempat.
"Dasar anak lemah! Baru segini saja sudah pingsan? Itu belum sebanding dengan penderitaanku! Hahahaha…!" Mungkin Anko sudah gila. Ia sudah tidak waras dengan kelakuannya yang sangat senang melihat Sakura tersiksa dan menderita. Anko pun segera keluar dari ruangan itu, dan pergi ke café-nya untuk bersenang-senang, dan meninggalkan Sakura yang tidak sadarkan diri di ruangan kerja Anko.
.
Malam ini sangat membuat Sasuke tidak tenang. Pikirannya selalu dipenuhi oleh Sakura. Bayangan-bayangan Sakura yang sedang bekerja di café Anko, melayani para lelaki hidung belang yang penuh nafsu itu, selalu menghantui pikiran Sasuke.
"Sial!" rutuk Sasuke.
Sasuke harus keluar malam ini. Sasuke harus benar-benar memastikan kalau Sakura malam ini tidak ada di café Anko. Dengan segera pun Sasuke beranjak keluar dari kamarnya dan akan pergi ke café malam itu.
"Mau kemana, kau? Ini sudah larut malam." Ayah Sasuke yang bernama Uchiha Fugaku, yang masih menonton TV di ruang keluarga, melihat Sasuke yang turun dari tangga lantai dua menuju pintu keluar rumahnya.
"Keluar sebentar," jawab Sasuke singkat. Sasuke pun segera keluar dari rumahnya tanpa memperdulikan tatapan Ayahnya yang sepertinya tidak mengijinkan dirinya untuk keluar selarut ini.
Jam sudah menunjukan pukul 11 malam. Di rumah Sasuke, keluarga Sasuke sudah pulang dari luar negri saat kelulusan Sasuke dari SMA. Dengan cepat Sasuke melajukan motornya menuju café Anko. Sampai disana, Sasuke langsung masuk ke café itu dan mengedarkan pandangan matanya ke sekitar ruangan café itu.
"Tuan muda yang dingin…" Seorang perempuan sexy berambut merah melihat Sasuke yang baru saja datang ke café. Perempuan itu langsung menghampiri Sasuke dan menyambut Sasuke dengan manja. "Kau datang lagi… hihihi…" Betapa senangnya Tayuya melihat Sasuke yang datang lagi ke café.
"Aku mau bertanya kepadamu, dimana Sakura?" tanya Sasuke cepat.
"Sakura? Hmm… aku belum melihatnya lagi sejak kita pertamakali bertemu…" jawab Tayuya sambil tersenyum genit.
"Kau yakin?" tanya Sasuke tidak percaya.
"Kau tidak percaya kepadaku? Aku memang belum melihatnya lagi disini…" Diragukan oleh laki-laki tampan membuat Tayuya sangat sedih. Tayuya pun memasang ekspresi sedih kepada Sasuke.
"Hn. Kalau begitu, terima kasih." ucap Sasuke singkat lalu segera pergi dari café itu.
Sakura tidak ada di café. Berarti Sakura belum bekerja di café neraka itu. Sasuke masih berpikir, perasaannya sangat tidak tenang memikirkan Sakura. Rasanya dadanya sangat sesak dan sakit. Apakah Sasuke sedang sakit? Tidak. Sasuke sangat sehat. Sasuke pun langsung pulang ke rumahnya.
.
T_N
.
Jam 2 pagi, Sakura tersadar dari pingsannya. Sakura bangun perlahan karena seluruh tubuhnya sangat sakit. Sakura mau pulang, tidak mau berada di café ini. Sebelum keluar dari café, Sakura mengintip kalau Anko sedang mabuk bersama dengan laki-laki —entah Sakura tidak tahu siapa itu— dan Sakura tidak mau tahu.
Pagi hari telah tiba. Jam 8 pagi, Anko pulang dalam keadaan mabuk berat. Sakura tadinya hanya membiarkan saja Anko yang berjalan terhuyung-huyung dan hampir terjatuh itu. Tapi, ini sudah sering terjadi, hampir setiap hari. Karena Sakura masih mempunyai rasa kasih sayang dan belas kasih, Sakura pun membantu Anko menuju kamarnya. Sakura memapah Anko berbaring di kasurnya. Biarpun Anko sangat jahat dan kejam kepada Sakura, Sakura sebenarnya ada rasa sayang kepada bibinya itu.
"Kalau saja bibi ini orang yang baik, aku akan sangat senang sekali bisa hidup bersama denganmu. Kita bisa membangun sebuah keluarga yang baru. Hanya ada kita berdua. Karena kita berdua sama-sama merasakan kehilangan orang yang kita sayangi, sama-sama seorang diri. Aku punya Bibi, dan Bibi punya aku." gumam Sakura sambil menatap wajah bibinya yang sedang tertidur.
"Sayangnya… kebencian yang sangat pekat dan dendam yang sudah sangat dalam, merusak kehidupan Bibi dan perasaan Bibi…" lirih Sakura sedih.
Sakura keluar dari kamar Anko, membiarkan Anko tidur dengan cukup. Pagi hari ini Sakura akan ke pasar untuk berbelanja bahan makanan di rumah ini. Setelah berberes rumah dan sudah rapi, Sakura pun segera keluar dari rumah.
Sakura membawa keranjang belanja di tangannya. Walau tubuhnya masih sangat sakit, Sakura berusaha untuk berjalan santai menuju pasar. Jarak dari rumahnya menuju pasar lumayan jauh juga, memakan waktu 20 menit sampai kesana. Setelah sampai di pasar dan membeli bahan-bahan makanan, Sakura tidak percaya kalau ternyata belanjaannya sebanyak ini.
.
Rasa khawatir yang sangat mengganggu pikiran Sasuke tidak bisa hilang kalau Sasuke tidak melihat Sakura dalam keadaan baik-baik saja. Pikirannya selalu bertanya-tanya, bagaimana keadaan Sakura saat ini? Apakah Anko masih menyiksanya? Apakah Sakura baik-baik saja? Pertanyaan-pertanyaan itu selalu berputar-putar di kepalanya. Karena Sasuke belum lagi melihat Sakura, hampir setiap hari Sasuke selalu bermimpi buruk tentang Sakura yang akan dijamah oleh laki-laki hidung belang itu.
Sudah seminggu berlalu sejak Sasuke dan Sakura lulus dari SMA. Sejak kelulusan itu juga mereka berdua tidak pernah bertemu lagi. Sasuke tidak perduli jika tidak lagi bertemu dengan teman-teman SMA-nya yang lain, tapi tidak dengan Sakura. Satu hari saja tidak bertemu membuat dirinya selalu tidak tenang. Sasuke ingin kembali ke masa SMA, disana ia bisa melirik-lirik atau mencuri pandang kepada Sakura. Sasuke bisa berbicara kepada Sakura. Sekarang? Sulit sekali untuk bisa bertemu dengan Sakura. Sasuke juga belum menyatakan perasaannya kepada Sakura, kalau Sasuke sangat mencintai Sakura dan ingin Sakura selalu bersama dengannya.
Hari ini, Sasuke benar-benar akan datang menemui Sakura di rumahnya. Soal Anko, Sasuke tidak mau memikirkan dulu tentang Anko. Yang paling penting adalah, Sasuke harus melihat dengan matanya sendiri kalau Sakura baik-baik saja. Sasuke pun segera keluar dari rumahnya dan akan menaiki motornya. Tapi, sepertinya motor Sasuke ada masalah. Motornya tidak mau hidup. Sasuke pun merutuk kesal kepada motornya itu.
Tidak ada kendaraan di rumahnya yang bisa dipakai. Sasuke pun segera berjalan kaki menuju halte bus dekat rumahnya. Kalau pun bus juga tidak bisa mengantarkan Sasuke ke rumah Sakura, berjalan kaki pun akan Sasuke lakukan. Karena saat ini di pikirannya hanya ingin cepat-cepat bertemu dengan Sakura. Menatap wajah perempuan yang sangat dicintainya itu.
Akhirnya bus pun tiba, Sasuke menaiki bus itu. Selama perjalanan, Sasuke terus merutuk bus yang dinaikinya itu. Ternyata, bus ini berjalan sangat lambat, sering berhenti-henti, membuat Sasuke tidak sabaran. Kini, bus yang Sasuke naiki berhenti di depan sebuah pasar. Sasuke tahu, pasti akan lama bus ini berhenti. Sambil menghela napasnya dengan panjang, Sasuke memperhatikan orang-orang yang sangat ramai di pasar itu. Diantara banyaknya orang-orang di pasar itu, Sasuke terpaku pada seseorang yang dirasanya Sasuke kenal. Ya, untuk memastikan benar atau tidak, Sasuke menyipitkan kedua matanya kalau ternyata Sasuke memang tidak salah melihat orang yang dikenalnya.
"Tidak salah lagi…!"
Sasuke segera turun dari bus dan berjalan menghampiri orang itu. Ya, Sasuke tidak salah lihat. Orang itu adalah Sakura. Sakura yang sedang berjalan sambil membawa belanjaan yang sangat banyak.
Sakura sangat kesulitan membawa belanjaannya yang sangat banyak ini. Karena sangat berat, Sakura menaruh separuh belanjaannya di jalan dulu. Mengistirahatkan sebelah tangannya yang sakit dan pegal. Di belakang Sakura, Sasuke memperhatikan Sakura yang sepertinya kelelahan. Sebuah seringai pun muncul di bibir Sasuke. Rasanya, Sasuke senang sekali bisa bertemu dengan Sakura.
"Butuh bantuan, Nona?" tanya Sasuke pada Sakura dari belakang Sakura.
Sakura menoleh kebelakangnya untuk menolak kalau Sakura tidak butuh bantuan. Tapi, melihat siapa orang yang menawarkan bantuan itu, kedua mata Sakura terbelalak lebar melihat Sasuke ada di belakangnya. Ini mimpi, kah? Pikir Sakura.
Sasuke mengibas-ngibaskan tangannya di depan wajah Sakura yang terkejut melihatnya.
"Hei, kenapa kau diam? Jangan melamun di pinggir jalan seperti ini."
Sasuke segera mengambil belanjaan Sakura yang Sakura taruh di jalan. Melihat Sakura yang masih terdiam, Sasuke pun menggandeng tangan Sakura untuk segera berjalan pulang. Sakura tersadar dari terkejutnya. Melihat tangannya yang kini digandeng oleh Sasuke, membuat dirinya sadar kalau ini adalah kenyataan, bukan mimpi.
"Sa-Sasuke? Ke-kenapa k-kau ada disini?" Sakura bertanya dengan gugup.
"Hn? Hanya kebetulan saja." Sasuke berbohong. Sasuke berusaha agar dia tetap bersikap dingin di depan Sakura. Padahal, sesungguhnya Sasuke ingin sekali memeluk Sakura dengan erat dan tersenyum kepada Sakura kalau Sasuke sangat bahagia bisa melihat Sakura kembali.
Sakura tersenyum kecil. Rasanya sudah lama Sakura tidak melihat Sasuke. Sasuke masih sama saat terakhir kali mereka bertemu di acara kelulusan sekolah.
"Kau, setelah lulus sekolah, kemana saja?" Sasuke ingin tahu, jadi Sasuke yang memulai pembicaraan ini. Sungguh, ini bukanlah keahliannya untuk mengajak seseorang berbincang.
"Aku… aku hanya di rumah saja…" Sakura tersenyum pahit kepada Sasuke. Padahal Sakura sudah berusaha untuk tersenyum dengan wajar. Tapi, rasa sakit di hatinya bila teringat, membuat Sakura ingin menangis. Tapi, Sakura tidak boleh menangis di depan Sasuke.
Sasuke menatap Sakura yang tersenyum seperti itu. Sasuke tahu, Sakura berbohong. Kebohongan Sakura ini membuat perasaan Sasuke sangat sakit.
"Kau baik-baik saja?" Sasuke bertanya lagi. Sasuke memperhatikan Sakura, tubuhnya terlihat lebih kurus dan sangat lemas. Wajah Sakura juga sedikit pucat.
"Eh? Aku, aku baik-baik saja, kok!" Sakura tidak menyangka kalau Sasuke akan bertanya lagi. Sakura pun kini sudah tersenyum dengan aneh. Dan berharap kalau Sasuke tidak bertanya lagi kepadanya.
"Benarkah?" tanya Sasuke lagi. Kini Sasuke menatap Sakura dengan serius.
"Iya, aku tidak apa-apa, Sasuke…" Melihat tatapan mata Sasuke yang serius kepada Sakura, membuat Sakura senang karena Sasuke khawatir kepadanya. Kali ini, Sakura menjawab dengan senyum tulus. Sakura tidak mau Sasuke khawatir terlalu dalam.
Sasuke tahu, Sakura perempuan yang kuat. Kali ini, senyuman Sakura adalah tulus. Sasuke pun balas tersenyum kepada Sakura.
"Kalau ada apa-apa, cepatlah datang kepadaku, ya…" Sasuke mengatakan itu dengan tersenyum.
Mendengarnya, membuat wajah Sakura sedikit memerah. Mengapa Sasuke mengatakan kata-kata seperti itu kepadanya? Sakura tidak mengerti sama sekali artinya walau Sakura senang mendengarnya.
Sasuke dan Sakura terdiam. Tidak terasa, perjalanan mereka berdua sudah dekat dengan rumah Sakura. Sasuke mengantar Sakura sampai di depan rumah Sakura.
"Err… ma-maaf… bukannya aku tidak mau mengijinkanmu untuk masuk ke rumah. Tapi, Anko ada di dalam… kalau Anko tahu kau ada di sini… nanti… dia…" Sakura tidak melanjutkan kata-katanya. Sakura terdiam. Sakura takut kalau Anko melihat Sasuke, Anko akan meminta bayaran kepada Sasuke karena sudah berjalan bersama dengan Sakura. Aneh sih menurut Sakura, tapi kalau apa yang dipikirkannya benar bagaimana?
"Aku mengerti. Tidak apa-apa. Aku juga harus segera pulang…" Sasuke mengerti maksud Sakura. Sasuke pun tersenyum kepada Sakura.
Rasanya pertemuannya dengan Sasuke saat ini, Sakura banyak melihat Sasuke yang tersenyum kepadanya. Itu membuat Sakura berdebar dan memerah wajahnya karena melihat Sasuke yang tersenyum membuat Sasuke semakin tampan saja. Sasuke sangat baik kepada Sakura. Itu juga membuat Sakura sangat senang.
"Terima kasih atas bantuannya dan sudah mengantar aku pulang, ya…" Sakura pun tersenyum manis kepada Sasuke.
Melihat Sakura yang tersenyum manis seperti itu, membuat Sasuke jadi salah tingkah. Sudah lama sekali tidak melihat Sakura yang tersenyum manis.
"I-iya… tidak masalah, kok…" balas Sasuke sedikit gugup.
Sasuke pun dengan perlahan berjalan pergi dari rumah Sakura walau perasaannya masih tidak rela untuk berpisah dengan Sakura. Sasuke menoleh ke belakang dan melihat Sakura yang akan masuk ke dalam rumahnya.
"Sakura!" Sasuke memanggil Sakura. Sakura pun tidak jadi masuk ke dalam rumahnya.
"Err… apa kita masih bisa bertemu lagi?" tanya Sasuke.
Sakura hanya bisa mengangguk kecil dan tersenyum palsu kepada Sasuke. Sasuke kurang puas melihat senyuman Sakura, walau Sakura mengangguk kalau mereka pasti akan bertemu lagi. Sakura pun masuk ke dalam rumahnya dan Sasuke pun melanjutkan perjalanannya pulang.
Di tengah jalan, Sasuke melihat sebuah mobil yang dirasanya pernah dilihatnya. Mobil itu berjalan ke arah rumah Sakura.
"Mobil itu… bukankah mobil itu adalah mobil milik laki-laki yang bersama dengan Anko waktu itu?" pikir Sasuke. "Ah, mungkin hanya perasaanku saja. Mobil yang seperti itu kan banyak sekali." ucap Sasuke lagi. Sasuke pun berjalan kembali dan menghilangkan pikiran buruk yang muncul di kepalanya.
Ting Tong…
Bel rumah Sakura berbunyi. Sakura yang berada di dapur, segera menuju pintu untuk melihat siapa yang datang. Apakah Sasuke? Saat Sakura membuka pintu, ternyata bukan Sasuke. Melainkan laki-laki yang sering bersama dengan Anko.
"Anko ada?" tanya laki-laki berambut perak yang dikuncir satu dengan kacamata bulat yang menghiasi wajahnya.
"Anko masih tidur. Ada perlu apa? Biar saya sampaikan kepada Anko kalau dia sudah bangun…" jawab Sakura ramah walau sebenarnya Sakura sangat takut.
Sakura benar-benar takut, firasat buruk membuat tubuhnya bergetar. Sakura tahu laki-laki ini. Sakura pernah melihat laki-laki ini.
"Biar aku tunggu di dalam saja. Aku tunggu sampai dia bangun." Tanpa permisi dulu dengan Sakura, laki-laki itu seenaknya masuk dan duduk di sofa ruang tamu dengan seringainya yang membuat Sakura semakin takut.
Sakura hanya bisa diam, menutup pintu rumahnya dengan perlahan, dan Sakura pun langsung menuju dapur membuat minuman untuk laki-laki yang menakutkan itu. Sakura sangat tidak suka dengan tatapan laki-laki itu kepadanya. Tatapannya itu sangat menjijikan.
"Silahkan diminum sambil menunggu Anko bangun. Mungkin, sebentar lagi Anko sudah bangun…" Sakura menaruh segelas minuman di meja.
Laki-laki itu tidak mendengarkan apa kata Sakura. Laki-laki itu terus mengamati Sakura dari atas sampai bawah. Sakura tidak suka di pandang seperti itu. Pandangan mesum. Sakura pun segera pergi dari sana, tapi… saat Sakura akan pergi, laki-laki itu menahan tangan Sakura, menarik Sakura sampai Sakura terjatuh tidur di bangku sofa yang panjang. Sakura sangat terkejut dengan perlakuan laki-laki ini. Entah sejak kapan, laki-laki itu sudah ada di atas tubuh Sakura. Wajah Sakura memucat, tidak, tidak boleh, Sakura memberontak melepaskan diri dari laki-laki itu. Tapi, kedua tangan Sakura ditahan dengan erat oleh sebelah tangan laki-laki itu. Kedua kaki Sakura yang berontak pun, laki-laki itu segera menduduki paha Sakura agar kaki Sakura tidak bisa berontak.
Air mata sudah mengalir dari kedua mata Sakura. Sakura mau minta tolong sama siapa? Apakah Sakura akan pasrah saja dijamah oleh laki-laki seperti ini?
"Tolong… lepaskan aku…" Sakura memohon dengan sangat. Sakura sudah menangis memohon.
"Ck, kasihan sekali kau. Aku akan melepaskanmu, kalau kita sudah bersenang-senang, Sayang…" Laki-laki itu menjilat bibirnya sendiri. Membuat Sakura merasa jijik melihatnya.
"AKU BILANG, LEPASKAN AKU!" Sakura berteriak di depan wajah laki-laki itu dan kembali berontak dengan tenaganya yang lemah.
PLAAKKK
Sebuah tamparan keras mengenai wajah Sakura.
"DIAMLAH! KALAU KAU TIDAK BISA DIAM, AKU AKAN BERSIKAP KASAR KEPADAMU!" Kini laki-laki itu yang berteriak kepada Sakura.
Sakura semakin menangis, kali ini Sakura sudah benar-benar akan hancur karena akan dijamah oleh laki-laki yang tidak Sakura sukai. Sakura terus berharap dalam hatinya, semoga saja Kami-sama atau seseorang ada yang menolongnya.
Tubuh Sakura bergetar karena takut. Air mata terus mengalir. Laki-laki itu dengan senyum mesumnya mulai membuka baju kemeja Sakura, satu kancing sudah terbuka, Sakura terus berteriak dalam hatinya kalau Sakura tidak mau disentuh oleh laki-laki ini. Dua kancing sudah terbuka. Sakura mulai berontak kembali dan memohon untuk melepaskan dirinya. Tapi, laki-laki itu semakin kesal karena Sakura masih berani untuk memberontak. Dengan kasar pun, laki-laki itu merobek baju kemeja Sakura sampai semua kancing baju Sakura lepas. Itu membuat Sakura semakin berteriak dan meminta tolong kepada siapa saja untuk menolongnya dari laki-laki bejat ini.
Sasuke masih ragu dengan mobil itu, untuk menghilangkan rasa takutnya itu, Sasuke pun kembali berlajan menuju rumah Sakura untuk memastikan. Benar, Sasuke melihat mobil itu berhenti terparkir di depan rumah Sakura. Sasuke segera menuju pintu rumah Sakura dan akan menekan bel rumah Sakura. Tapi, sebelum bel ditekan oleh Sasuke, Sasuke mendengar sebuah teriakan Sakura dari dalam rumah.
DEG
Jantung Sasuke berdetak kencang karena takut. Dengan cepat Sasuke membuka pintu rumah Sakura yang beruntungnya tidak di kunci oleh Sakura. Sasuke pun segera masuk ke dalam rumah, dan betapa terkejutnya Sasuke melihat pemandangan Sakura yang sedang meronta-ronta minta dilepaskan dengan seorang laki-laki yang berada diatas tubuh Sakura. Apalagi, saat laki-laki itu merobek paksa baju kemeja Sakura dan akan mencium Sakura. Sebelum laki-laki itu mencium Sakura, Sasuke sudah menarik tubuh laki-laki itu hingga terlempar jatuh ke lantai.
Dengan amarah yang sangat besar, Sasuke menghajar laki-laki itu. Laki-laki itu juga tidak mau kalah karena tiba-tiba saja ada pengganggu hadir, laki-laki itu juga menghajar Sasuke. Sasuke dan laki-laki itu saling pukul di lantai. Sakura masih terkejut dengan keadaan sekarang. Dengan perlahan Sakura bangun dan melihat Sasuke dan laki-laki itu sedang saling pukul. Keduanya sama-sama mengeluarkan darah dari sudut bibirnya. Sasuke benar-benar sangat marah dan memukul wajah laki-laki itu bertubi-tubi sampai akhirnya laki-laki itu sudah lemah dan pingsan tidak sadarkan diri.
"Ada apa ini? Berisik sekali!" Anko yang baru bangun tidur, mendengar keributan di rumahnya dan segera menuju ke ruang tamu. Anko melihat seorang laki-laki yang dikenalnya sudah babak belur pingsan di lantai. Lalu, mata Anko melihat Sasuke yang berdiri di depan laki-laki yang sudah pingsan itu dengan wajah lebam. Anko juga melihat Sakura yang keadaannya terlihat sangat menyedihkan, baju kemejanya sobek dan tubuh Sakura terlihat, dan air mata masih mengalir dari kedua mata Sakura.
Sasuke melihat Anko yang sepertinya sedang terkejut karena hanya bisa diam melihat keadaan. Tanpa berkata-kata, Sasuke segera menarik Sakura dan berlari keluar dari rumah Anko. Anko pun sadar, terkejut karena Sasuke telah membawa lari Sakura.
"SAKURAAA…! HEI, MAU KAU BAWA KEMANA SAKURA, HAH? SAKURAAA… KEMBALI KAUUU…!" Anko berteriak dengan sangat kencang di rumahnya.
"Sial! Awas kalian berdua!"
Anko segera menelepon anak buahnya. Menyuruh mereka untuk mencari dan membawa Sakura pulang ke rumah dengan segera.
Sasuke dan Sakura berlari sekuat mungkin. Untung jalanan sepi. Sedikit lagi mereka akan sampai di halte bus.
"Sa-Sasuke…" Sakura memanggil Sasuke karena Sakura sudah sangat lelah. Tangan kanan Sakura ditarik oleh Sasuke. Sedangkan tangan kiri Sakura, menutup bajunya yang sobek.
Sasuke berhenti berlari dan melihat ke Sakura. "Ada apa? Kita harus segera pergi jauh-jauh dari sini!" seru Sasuke panik.
Sakura hanya diam dan mengeratkan pegangan tangannya pada bajunya yang sudah sobek itu. Sasuke memperhatikan gerakan Sakura, dan Sasuke pun akhirnya sadar.
"Maaf. Pakailah ini," Sasuke baru sadar kalau Sakura seperti itu. Dilepaskannya jaket hitam yang dipakainya dan diberikannya kepada Sakura.
"Terima kasih," ucap Sakura.
Setelah Sakura sudah memakai jaket Sasuke, Sasuke pun menarik Sakura kembali untuk segera berlari menuju halte bus. Beruntungnya, saat mereka sampai halte bus, bus pun tiba dan mereka segera naik dan duduk di bangku paling belakang dekat jendela. Suasana di dalam bus sangat sepi, hanya ada 5 orang penumpang. Dan Sasuke tidak tahu, kemana arah bus ini pergi.
"Haahh… kau tidak apa-apa, Sakura?" Sasuke segera bertanya sambil mengatur napasnya yang lelah.
"Ti-tidak apa-apa… terima kasih sudah menolongku…" Air mata kembali mengalir dari kedua mata Sakura.
"Sudah… jangan menangis… yang tadi itu hampir saja…" Sasuke mengelus kepala Sakura dengan lembut dan menyandarkan kepala Sakura di bahunya.
"Aku takut sekali. Aku tidak mau membayangkan apa yang akan terjadi kepadaku kalau kau tidak datang…" ucap Sakura sambil terisak.
"Saat aku berjalan pulang, aku melihat mobil yang waktu itu, berhenti di depan rumah Anko. Aku takut terjadi apa-apa kepadamu, karena itu aku segera kembali ke rumahmu, dan untunglah… aku belum terlambat…" Sasuke mengepalkan sebelah tangannya yang tidak mengelus kepala Sakura.
"Terima kasih… terima kasih… terima kasih… kau sudah banyak menolongku… aku banyak berhutang budi kepadamu, Sasuke…" Sakura sungguh beruntung karena Sasuke selalu ada untuk menolongnya.
"Jangan bicara tentang hutang budi. Aku tidak suka mendengarnya. Kau tidak pernah berhutang apapun kepadaku!" Entah mengapa, Sasuke sangat kesal mendengar Sakura mengucapkan hutang budi. Kata-kata itu mengingatkan Sasuke tentang hutang budi yang Sakura lakukan untuk Anko.
Mendengar Sasuke yang kesal, Sakura pun hanya bisa bilang maaf.
"Maaf…"
"Sudahlah… jangan menangis lagi. Kita, sudah bebas sekarang…" Sasuke sudah tenang kembali.
Sakura menghapur air matanya dan menatap Sasuke. "Kita, mau kemana, Sasuke?"
Sasuke juga belum memikirkannya. Ikuti saja kemana arah bus ini melaju. "Tidak tahu. Yang penting, kita harus menjauh dulu dari tempat ini." jawab Sasuke.
Ya, harus menjauh dulu dari tempat ini. Atau mungkin, kota ini. Sakura melihat Sasuke yang sedang berpikir keras. Sasuke berpikir, tidak mungkin Sasuke membawa Sakura ke rumahnya, kan? Anko sudah tahu siapa dirinya, jadi Anko pasti akan mencari mereka ke rumah Sasuke. Lalu, orangtuanya juga akan terlibat masalah ini. Gawat, bagaimana ini? Sakura merasa tidak enak kepada Sasuke. Sebentar lagi, pasti orang-orang suruhan Anko akan langsung mencarinya. Dan tempat yang pertama dicari mereka adalah rumah Sasuke. Sakura tidak mau melibatkan Sasuke lebih jauh lagi.
"Err… Sasuke… sebaiknya kau pulang saja… aku… tidak mau melibatkanmu lebih dari ini…" ucap Sakura pelan.
Sasuke menatap Sakura yang terlihat khawatir dan bingung. "Tenang saja, aku tahu apa yang kau pikirkan saat ini. Aku sudah masuk dalam masalah ini, dan ini bukan salahmu. Aku yang menginginkan masuk, jadi… aku akan melindungimu, Sakura… Kau harus terus bersamaku, ya…" Sasuke berkata lembut kepada Sakura.
Sakura menatap kedua mata Sasuke. Ya, Sasuke selalu serius dengan kata-katanya. Berada bersama Sasuke membuat Sakura merasa tenang dan terlindungi.
"Maaf… aku selalu menyusahkanmu…" gumam Sakura.
Sasuke tersenyum kepada Sakura, lalu mengeratkan rangkulannya kepada Sakura. Sakura terkejut Sasuke mengeratkan rangkulannya, ini sama saja Sakura dipeluk oleh Sasuke. Wajah Sakura memerah, dalam pelukan Sasuke seperti ini membuat dirinya merasa hangat dan nyaman. Sasuke pun senang, karena Sakura tidak marah karena dirinya telah memeluk Sakura.
"Tidurlah… perjalanan kita masih jauh…" ucap Sasuke sambil mengelus kembali kepala Sakura dengan lembut.
BERSAMBUNG
REPUBLISH
7 APRIL 2014
A/N :
Gak lama kan update-nyaaaaa… XD #plak
Hahaha… gak banyak omsong… semoga kalian suka ya… \(^O^)/
Nyo, balez review dulu…
Eagle onyx ))) Nyo~ gak ada lemon kali, ya… ^^a Rate M untuk kekerasan, mungkin? Saya pikir-pikir lagi deh… ^^v Terima kasih sudah membaca dan mereview, ya… :D
Tafis, ongkitang, parinza ananda.9, hanazono yuri ))) Ini sudah lanjuttt… Terima kasih sudah membaca dan mereview, ya… semoga kalian suka lanjutannya… \(^O^)/
Nyaaa ))) Ehehehe… iya, OOCness-nya buanyak, ya? Apalagi Sakura-nya… :D Makasih sudah menangis untuk fic ini… :'D Terima kasih juga sudah membaca dan mereview, ya… :D
Sakira nata-chan ))) Sama, saya juga sering jadi silent readers, kok… :3 Nyo~ makasih sudah membaca dan mereview, ya… :D
Kumada Chiyu ))) Harapanmu akan terkabulkan, tapi cuma sedikit kit kit kit tentang ShikaIno, nanti, ya… :D Makasih sudah membaca dan mereview… :D
Desypramitha26 ))) m(_ _)m …serasa diomelin sama kamu, deh… maap, kalau saya salah maap… hehehe… ^^v Nieee… langsung update… kan~ XD Terima kasih sudah suka sama fanfic ini… :3 Semoga saya gak lama-lama lagi updatenya, ya… :D Terima kasih sudah membaca dan mereview… :D
Selesai~
Nyo~ sampai jumpa chapter 7, ya~
Semoga kalian suka sama lanjutannya… ^U^
Be Happy…
Review? :3
