みんな、 みんな。。
あたし, saya baru sadar kalo summary sama isi cerita ada yang melenceng.
Jadi mohon dimaafkan karena kesalahan itu..
ほんとに ごめなさい。。X(
Well, enjoy reading, minna-san
Naruto is belong to Masashi Kishimoto-sensei.
And this story is mine.
40 Days Confession
Sekarang aku berada di tempat semua orang yang berharap bisa sembuh dari penyakit, ya, Rumah Sakit. Sai mengajakku ke tempat ini untuk menemukan tubuh manusia yang hampir sekarat. Saat proses keluarnya roh dari tubuh itu, aku langsung masuk. Sepertinya mudah tapi entahlah.
"Sai, kau yakin ini tempat yang tepat?" tanyaku ragu kepada Sai. kami terus berkeliling ke setiap ruangan, karena ini sudah Rumah Sakit kelima yang sudah kami kunjungi.
"Hmm. Tidak yakin juga."
"Tidak ada salahnya mencari, kan?"
"Haah.. terserah saja. Yang tahu cuman kamu," ucapku yang malas namun kesal juga karena baru kali ini aku harus bergantung pada orang lain, bukan lebih tepatnya makhluk gaib sih, yaah makhluk gaib (-_-). Yang aku harapkan sekarang, aku bisa menemukan tubuh yang bisa aku rasuki dan bertemu lagi dengan Sakura. Meskipun dengan wujud yang berbeda.
"Eh! Sai, tunggu." Aku menyusul Sai dari belakang.
.
.
.
.
Sementara itu di suatu tempat yang penuh dengan kebisingan, gemerlap lampu disko, laki-laki hidung belang, wanita penggoda, bau menyengat dari minuman yang menghangatkan namun memabukkan. Semua orang-orang yang melepaskan penat ada di sana. Kedengaran konyol, melepas penat di tempat bising seperti itu.
"Heeii, Sasori-kun, ke mana saja selama satu minggu ini?" tanya seorang gadis mersurai merah itu pada pria yang sedang menuangkan sebotol wine ke gelas sang gadis itu. Pria yang bernama Sasori itu seorang bartender. Seteah Sasori menuangkan wine, kemudian dia duduk dan menatap gadis itu.
'Kamu kenapa tidak ke sekolah?' tanya Sasori dengan isyarat tangannya. Asal kalian tahu, Sasori ini tidak bisa berbicara –lebih tepatnya bisu– tapi dia tidak tuli untungnya. Dan gadis ini adalah teman masa kecilnya sekaligus pengajar di tempat orang-orang seperti Sasori belajar.
'Ya. Aku sengaja ke tempatmu bekerja. Aku kesepian. Satu minggu tidak bertemu dengamu...' balas Karin 'Aku merasa ada yang kurang. Dan kenapa kamu tidak lagi datang ke sekolah dan mengajar anak-anak, Sasori?'sambung Karin yang penasan sekaligus rindu itu.
'Ada kalanya tidak mengetahui segalanya itu baik, Karin,' balas isyarat Sasori. Lalu ia hendak pergi dan melayani pelanggan yang lain. Tapi ketika Sasori memutar badannya, tangan Karin sudah menahan pergelangan kiri Sasori.
"Apa salah kalau sahabatmu khawatir padamu, hah?!" kini Karin sedikit meninggikan suaranya. "Dan lagi, kamu tinggal sendirian di apartemen sempit itu. Apa kamu tidak merasa risih?" sambung Karin lirih. Tapi Sasori tidak mengindahkan ucapan Karin dan melepaskan tangan Karin dengan lembut dan menghampiri pelanggan yang memanggilnya.
"Aku akan menunggumu di sini sampai kamu pulang dan menjelaskan semua padaku, Sasori," ucap Karin dan sepertinya Karin melangkahkan kakinya pergi menuju lantai dansa. Sasori yang melihat Karin pergi hanya bisa mendesah (tentunya tidak bersuara).
'Bukan aku tidak ingin menceritakannya padamu. Aku tidak ingin kamu kerepotan lagi seperti dulu,' kata Sasori dalam hati.
-oOo-
Sakura's POV
Semenjak Sasuke meninggal, aku seperti kehilangan arah. Aku kehilangan semangat hidup.
'Apa yang harus aku lakukan tanpamu, Sasuke-kun?' ucapku dalam hati.
Kalau saja pelajaran tadi menyenangkan, mungkin aku akan sedikit melupakan kesedihanku karena kehilanganmu, Sasuke-kun. Astaga! Apa yang aku pikirkan? Aku harus terus mengingatmu. Kalau bukan aku, siapa lagi yang akan mengingatmu. Sasuke-kun belum mati, dia abadi di dalam ingatanku. Kenanganku bersamanya abadi dalam ingatanku dan ponsel ini. Hal terakhir yang aku miliki bersamanya ada dalam ponsel ini. Jangan sampai hilang!
"Tenang Sasuke-kun, aku akan terus mengingatmu. Kamu akan selalu berada dalam ingatanku. Dan tentunya hatiku," gumam Sakura yang melihat-lihat ponselnya.
Tanpa dia ketahui, Ino, sahabatnya terus melihat ke arah Sakura dan merasa khawatir dengan keadaan sahabat sekaligus rivalnya dalam percintaan. Tapi mungkin kini mereka bukan rival lagi, mengingat pria yang mereka berdua cintai sudah tidak ada di dunia ini. Sakura tidak setabah Ino. Ino yang juga tidak kalah sedihnya bisa mengikhlaskan Sasuke dan mencoba mencari cinta yang lain. Meskipun Ino tahu tak semudah yang dipikirkannya bisa mencari cinta baru karena mereka –Sakura dan Ino– sudah mengukai Sasuke semenjak mereka masih kecil.
"Sakura, kamu sedang apa?" tanya Ino yang membuatku berhenti melihat foto di ponselku.
"Ah, Ino. Kamu mengagetkanku."
"Oh, maaf. Habis kelihatannya kamu terlihat senang."
"Aku sedang melihat fotoku bersama Sasuke di ponselku. Mau lihat, siapa tahu kamu kesal dengan melihat aku begitu akrab dengan Sasuke dibanding denganmu. Hehehe ..." ucapku dengan senyum jahilku. Aku ingin sedikit menggodanya, siapa tahu dia cemburu karena aku begitu dekat dengan Sasuke. Heheheh..
"Mana? Aku lihat," ucap Ino sambil menyodorkan tangannya yang meminta memberikan ponselku padanya. Akupun memberikannya.
"Nih. Jangan cemburu yaaaa.. hihihihi," tawaku sambil menyerahkan ponselku. Aku ingin sekali melihat ekspresi cemburu Ino.
Tapi setelah aku serahkan ponselku, yang aku lihat hanya wajah datar dari Ino. Tidak ada rasa cemburu sedikitpun kelihatannya. Ah mungkin Ino menahannya supaya aku terkesan kalah karena tidak bisa membuat Ino cemburu. Pasti sebentar lagi dia cemberut.
'Ayo cemberut,' batinku.
"Ah. Biasa saja. Aku malah punya yang lebiiiiiih mesra dengan Sasuke. Dan tentunya aku tidak mau memperlihatkannya padamu. Aku takut kamu menangis melihatnya," ucap Ino dan menjulurkan lidahnya padaku.
"A- PA?! Kapan? Kenapa bisa? Aku harus tanya Sasu-" aku terhenti.
"Kemana Sasuke, Ino? Dia tidak sekolah? Apa dia sakit? Aku harus menjenguknya kalau begitu, setelah pulang sekolah. Kamu mau ikut?" sambungku dan mengajak Ino untuk menjenguk Sasuke kalau memang dia sakit.
"Sakura." Ino tiba-tiba memelukku. Ah mungkin dia mau ngucapkan kapan mereka berfoto mesra seperti yang Ino ucapkan barusan. Tapi kenapa berlebihan seperti ini sampai menangis segala.
"Sasuke... di-dia.. Sakura, aku khawatir padamu. Sadarlah. Sadarlah. Sadarlah," sambung Ino.
"Sadar apanya? Aku sad-" ucapanku terhenti karena Ino melepaskan pelukannya dan mendorong dengan kuat, membuat bahuku sakit.
"SASUKE! Sasuke sudah tiada. Sadarlah! Kenapa kamu menjadi seperti ini?" teriak Ino padaku, yang membuat seisi kelas menoleh ke arah kami berdua.
"Kenapa?" "Ada apa?" "Oh. Haruno dan Yamanaka. Kasihan." Hanya itu yang tersengar dari teman sekelasku.
"Dia meninggal tepat sebelum hari ulang tahunmu, Sakura. Ikhlaskan dia." Kini air mata bercucuran dari kelopak mata Ino.
"Apa yang kamu bicarakan, Ino? Ak-" (PLAK!) kepalaku sudah tidak mengarah ke depan, melainkan ke samping, memegang pipiku yang sakit.
"SADARLAH! Sasuke. Dia. Sudah meninggal. Kenapa kamu jadi seperti ini?" Ino terus menutup matanya yang bercucuran air mata itu. Aku hanya menatapnya heran. Alis mataku terangkat sebelah karena bingung dengan keadaaan Ino sekarang. Tapi tiba-tiba kepala sakit.
Seketika penglihatannku memudah. Tidak terlihat jelas dan rasanya kepalaku berat sekali. Aku ingin menutup mataku. Dan semunya gelap.
Normal POV
BRUK!
Sakura terjatuh, dia pingsan.
"SAKURAAA!" Ino berteriak. Dia sedih juga merasa bersalah karena mengingatkan Sakura tentang kematian Sasuke. Dia juga merasa bersalah karena sudah menampar Sakura. Ino terduduk dan mengangkat tubuh Sakura yang tak sadarkan diri. Begitu pula teman-temannya membantu dan mengelilingi Ino dan Sakura.
SREEET. (Pintu kelas terbuka, pertanda ada yang masuk.)
"Ada apa ini?" tanya Kakashi-sensei.
"Haruno-san. Dia pingsan, Sensei," jawab salah satu murid.
"Astaga! Ketua kelas, ikut dengaku," perintah Kakashi. "Minggir! Cepat kita harus mengangkatnya ke ruang kesehatan." Kakashi pun mengangkat tubuh Sakura bersama ketua kelas –Gaara. "Kalian jangan panik. Pelajari bab 2," perintah Kakashi lagi.
"Ano, Sensei. Boleh aku ikut menemani Sakura?" tanya Ino.
"Terserah. Cepat, Sabaku-san," lanjut Kakashi lagi.
Di Ruang Kesehatan
"Shizune-sensei. Tolong, ada siswi yang pingsan," ucap Gaara yang langsung membaringkan Sakura di kasur yang terdekat. Di belakang disusul oleh Ino yang khawatir.
"Astaga. Haruno-san. Cepat-cepat. Kenapa dengan Haruno-san?" tanya Shizune. Dengan sigap, dokter sekolah itu langsung memeriksa keadaan Sakura. Dia tempelkan tetoskop ke dada Sakura. Dan membuka mata Sakura satu per satu, seperti memastikan sesuatu. Dan berbalik melihat ketiga orang di belakangnya yang menunjukkan ekspresi yang berbeda.
"Entahlah, Sensei. Ketika saya masuk, Haruno-san sudah pingsan. Mungkin mereka bisa menjelaskan," jawab Kakashi. Dia melirik kepada Ino dan Gaara.
"Ano, Sensei. Yang menyebabkan Sakura seperti ini adalah saya," kata Ino yang tertunduk, bisa terlihat ada air yang menetas dari tertunduknya kepala Ino. Ino kembali menangis. Seolah merutuki sikapnya tadi di kelas kepada Sakura.
"Hmm.. Begitu. Ya aku mengerti. Sekarang kalian tak usah khawatir. Kalian bisa kembali ke kelas. Biarkan Haruno-san beristirahat di sini sampai dia siuman," ucap dokter sekolah itu yang menyelimuti Sakura sampai leher jenjang milik Sakura.
"Baiklah. Kami permisi Shizune-sensei. Tolong rawat Haruno-san. Sabaku-san, Yamanaka-san, kita kembali ke kelas," perintah Kakashi kepada kedua muridnya.
Kakashi dan Gaara pun berjalan menuju pintu keluar, tapi tidak dengan Ino. Dia ingin berlama-lama di ruang kesehatan itu. Menjaga Sakura yang pingsan, kalau bisa dia ingin menjaganya sampai Sakura siuman dan meminta maaf karena memaksanya mengingat kembali kematian Sasuke, pria yang mereka cintai.
Kakashi sudah berada di luar, tapi Gaara yang menyadari bahwa Ino tidak mengikuti mereka segera mengingatkan Ino untuk kembali ke kelas.
"Ino, ayo kita kembali ke kelas. Tak usah khawatirkan Sakura, Shizune-sensei bisa menjaganya untukmu. Lagi pula jangan menyalahkan dirimu sendiri. Ayo cepat atau kamu mau kena marah Kakashi-sensei?" bujuk Gaara.
"Iya, Yamanaka-san, apa yang temanmu ucapkan benar. Aku bisa menjaganya untukmu. Sekarang kembali ke kelas, sebelum Kakashi-sensei marah," bujuk Shizune juga.
"Ino. Kamu tahu peraturannya, loh. Kakashi-sensei sudah hampir sampai ke kelas, kalau tidak..." ucap Gaara menggantung. Ino tahu apa yang dimaksud Gaara. Dan Ino pun menyerah daripada dia harus absen dari kelas Kakashi. Maka dia pun berpamitan kepada Shizune dan tentunya Sakura.
"Ba-baiklah, Gaara. Tunggu. Sensei, saya permisi. Sakura, cepat sembuh dan... maaf," ucap Ino, dia pun berlari untuk mencapai kelas bersamaan dengan Gaara. Jika Kakashi yang lebih dulu sampai di kelas, mereka berdua tidak boleh masuk.
"Jangan sampai aku tidak mendapat absen kosong gara-gara kamu lelet, Ino," ancam Gaara yang berlari di depan Ino.
"Siapa suruh menungguku. Dasar bodoh! Baka!" balas Ino yang tak mau kalah. Dia juga tentunya berlari.
Untunglah mereka 'selangkah lebih cepat' dari Kakashi. Tapi sebenarnya mereka hampir bersamaan masuk, nyaris terlambat malah. Bedanya, Kakashi masuk lewat pintu depan, sedang mereka berdua lewat pintu yang belakang.
"Haah... Haah.. Haah.. Hahaha.. kita beruntung," ucap Ino yang ngos-ngosan.
"Berterimakasihlah padaku, Ino," timpal Gaara yang juga sama-sama kecapean.
"Hei. Kenapa kalian lari-lari di koridor? Bisa menggangu kelas lain belajar," tegur Kakashi yang juga tiba bersamaan dengan mereka berdua.
"Ah.. maaf Sensei, kami hanya tak ingin terlambat masuk kelas Sensei," jawab Gaara.
"Kalian takut tidak aku masukkan ke kelasku, 'kan?"
Mereka berdua tertegun. Memang itulah ketakutan mereka. Hahaha..
"Aku juga masih punya perasaan. Kalian tadi 'kan mengantar orang yang sedang sakit, aku juga tidak akan sekejam itu karena aku yang mengizinkan kalian. Kalau begitu cepat duduk dan kita lanjutkan pelajaran yang tertunda tadi," jelas Kakashi panjang lebar.
"Hai!" ucap Ino dan Gaara bersamaan dan mereka mengikuti pelajaran Kakashi dengan serius.
-oOo-
.
.
.
.
.
'Enghh... aku di mana? Kepalaku terasa berat sekali. Aku tidur lagi saja deh.'
Bersambung...
おはよう ございますううう。。。
みんなさんへ
ごめん ね。。kalau cerita kali ini terkesan, yaaah.. hambar mungkin.
Kalau ada yang kurang dan mau ngasih masukkan, kritik, dan saran, author sangat senang demi kelancaran penulisan cerita ini.
Apa di chapter ini kependekan gak?
Well, well, mind to RnR? ^_^
