Republish
Naruto © Masashi Kishimoto
Save Me © Thia Nokoru
.
* Save Me *
.
Chapter 7,
Malam telah tiba, rumah kediaman Anko saat ini banyak sekali orang-orang suruhan Anko yang berlalu-lalang di rumah itu.
"Maaf, kami belum menemukan mereka."
Salah satu anak buah Anko melaporkan kalau mereka belum menemukan Sakura dan Sasuke.
"Hmm… kemana mereka berdua pergi? Sepertinya aku tahu kemana harus mencari mereka berdua, heh?" Anko berpikir, lalu menyeringai senang memikirkan apa yang akan dilakukannya.
"Kalian semua boleh pergi!" perintah Anko dengan tegas.
Anak buah Anko satu-persatu pergi dari rumah kediaman Anko, walaupun masih ada beberapa orang yang berjaga di luar rumah Anko.
.
T_N
.
Anko melirik sebuah jam dinding yang menunjukkan pukul sembilan pagi. Anko tersenyum, memikirkan apa yang akan dilakukannya hari ini. Dengan pakaiannya yang terlihat minim dan sexy, Anko segera keluar dari rumahnya. Saat keluar dari rumahnya, Anko melihat sebuah mobil yang dikenalnya berhenti di depan rumahnya. Lalu, terlihat seorang laki-laki berambut perak dikuncir satu dengan sebuah kacamata bulat yang menghias kedua matanya.
"Aku tahu kemana kau akan pergi. Kau butuh bantuanku?" Laki-laki itu menghampiri Anko.
"Tidak butuh. Ini adalah urusanku." jawab Anko dingin.
"Tidak butuh? Hei, ini juga jadi urusanku karena Bocah itu telah menghajarku!" ucap laki-laki itu marah.
"Itu salahmu! Karena kau BODOH! Masa BOS sepertimu bisa kalah sama seorang BOCAH, heh?!" Anko menatap laki-laki itu dengan pandangan meremehkan.
"Cih! Pokoknya aku ikut denganmu!" Laki-laki itu tetap memaksa Anko.
"Huh! Terserah kau saja! Tapi, jangan membuat kacau disana, Kabuto!" tegas Anko.
"Baik… baik…" Laki-laki yang dipanggil oleh Anko dengan nama Kabuto itu tersenyum senang kepada Anko.
"Kita pergi sekarang."
Anko menaiki mobil Kabuto dan segera menuju tempat yang Anko perintahkan. Selama perjalanan, Anko menceritakan kepada Kabuto tentang Uchiha Sasuke yang telah membawa kabur Sakura. Kabuto menyeringai, karena ternyata mereka sedang berurusan dengan seseorang yang mempunyai nama besar di negara ini. Tidak lama pun mobil Kabuto berhenti di depan sebuah rumah yang sangat megah.
"Sudah sampai," ucap Kabuto.
Mereka berdua turun dari mobil dan berjalan menuju gerbang pintu masuk rumah megah itu. Di depan pintu masuk ada seorang penjaga keamanan, Anko dan Kabuto pun menghampiri penjaga keamanan itu. Kabuto berpikir, orang yang mempunyai nama besar ini, tidak mempunyai keamanan yang ketat.
"Aku mau bertemu dengan Uchiha Fugaku. Ini urusan penting." ucap Anko pada seorang penjaga keamanan itu.
Penjaga keamanan itu menyuruh Anko dan Kabuto untuk menunggu sebentar. Tidak lama, penjaga keamanan itu pun kembali dan membukakan pintu masuk untuk Anko dan Kabuto. Sepertinya Uchiha Fugaku menerima tamu yang tidak dikenalnya itu. Anko dan Kabuto pun masuk ke dalam rumah kediaman Uchiha. Mereka berdua duduk di ruang tamu dengan tenang. Dan tidak lama pun Uchiha Fugaku datang menghampiri Anko dan Kabuto.
"Maaf menunggu," Fugaku datang dan duduk di hadapan Anko dan Kabuto.
"Maaf mengganggu Anda. Perkenalkan, aku Anko dan temanku ini Kabuto." Anko bersikap dengan sopan.
"Ya. Ada keperluan apa kalian berdua mencariku?" tanya Fugaku.
"Aku datang kesini untuk memberitahukan Anda sesuatu. Aku harap, Anda mau bekerjasama denganku." ucap Anko sambil menyeringai.
Fugaku merasakan firasat yang tidak baik. Apalagi, melihat penampilan dari kedua tamunya yang tidak diundang ini, membuat Fugaku merasa pasti ada masalah besar.
"Apa?" tanya Fugaku tetap tenang.
"Anakmu, Uchiha Sasuke, membawa kabur keponakanku satu-satunya dari rumah." Anko mengatakannya dengan penuh penekanan disetiap katanya.
"APA?" Kaget? Jelas sangat kaget mendengar kalau anak bungsunya telah membawa kabur keponakan orang.
"Aku datang kemari untuk mencari keponakanku dan juga anakmu. Apakah mereka berdua ada sini?" Anko membuat ekspresi seolah-olah ia khawatir dan cemas.
Walau sangat terkejut, Fugaku harus bisa bersikap tenang. Walau sebenarnya ia saat ini ingin berteriak-teriak karena anaknya telah membuat masalah.
"Err… Maaf, sejak kemarin memang anakku tidak pulang ke rumah. Kalau dia sudah pulang, aku akan memberikan kabar kepada kalian."
"Kalau begitu, ini, Anda bisa menghubungiku kalau sudah menemukan mereka. Aku mohon kerjasamanya. Kalau tidak, aku bisa melaporkan masalah ini ke polisi dengan tuduhan penculikan!" Anko memberikan kartu namanya dan dengan seringai penuh kepuasan, Anko mengancam Fugaku.
"Satu lagi! Lihat, lebam diwajahku ini adalah hasil perbuatan anakmu itu!" Tiba-tiba saja Kabuto langsung berbicara sambil menunjuk-nunjuk Fugaku. Seperti anak kecil yang sedang mengadu.
"Baiklah, kalau memang benar anakku yang membawa kabur keponakanmu, aku akan segera menyuruhnya untuk membawa kembali keponakanmu."
"Ya, kutunggu kabar secepatnya dari Anda. Kami permisi dulu." Anko dan Kabuto berdiri dari duduknya dan segera berjalan keluar dari kediaman Uchiha ini.
Setelah kedua tamu yang tak diundang itu pergi, Fugaku memijit-mijit kepalanya yang mulai terasa pusing. Mengurus perusahan besarnya lebih mudah daripada mengurus kedua anaknya itu.
"Apa yang sebenarnya telah Sasuke lakukan?" gumam Fugaku.
Fugaku memang sejak kemarin sudah berkali-kali menghubungi Sasuke, tapi tidak pernah tersambung. Kali ini juga sama, tidak tersambung kembali.
"ITACHIIII…!" Karena dirasanya sudah tidak lagi bisa menahan emosinya, Fugaku berteriak memanggil anak sulungnya itu.
Mendengar teriakan yang menggema di dalam rumah yang besar ini, seorang laki-laki yang terlihat mirip dengan Sasuke segera menghampiri ayahnya. "Ada apa, Ayah?" tanya laki-laki yang bernama Itachi itu.
"CARI SASUKE SEKARANG JUGA!"
Melihat ayahnya yang terlihat marah, Itachi sudah bisa menebak kalau adiknya Sasuke pasti sudah membuat masalah besar.
"Tenanglah Ayah. Memangnya apa yang sudah dilakukan oleh Sasuke?" tanya Itachi sambil menenangkan sang ayah.
"Haahh…" Fugaku menghelakan napasnya dan mengatur emosinya dengan cepat. "Tadi, ada orang yang datang dan bilang kalau Sasuke telah membawa kabur keponakannya itu. Apalagi sampai menghajar orang," jelas Fugaku.
"Sasuke membawa kabur keponakan orang? Hmm… pasti… keponakannya itu seorang perempuan. Tidak mungkin, kan, kalau Sasuke membawa kabur keponakan laki-laki orang?" gumam Itachi sambil berpikir.
"Apa yang kau katakan, Itachi? Mau perempuan atau laki-laki, cepat sekarang juga kau cari adikmu itu!" Fugaku tidak suka melihat Itachi yang malah menduga-duga. Apalah itu, yang penting sekarang adalah menemukan Sasuke.
"Ayah jangan marah-marah seperti itu dulu. Kita belum tahu kebenarannya seperti apa, kan? Orang-orang yang datang itu terlihat seperti bukan orang baik-baik." Itachi sempat melihat kedatangan Anko dan Kabuto, makanya Itachi berpikir kalau mereka berdua itu bukan orang baik-baik. "Sasuke juga bukan orang yang tidak punya pikiran. Pasti ada sebab mengapa Sasuke melakukan hal seperti itu. Atau… jangan-jangan Sasuke telah kawin lari? Mungkin saja, karena tidak direstui oleh perempuan itu!" Pemikiran Itachi yang seenaknya seperti itu malah semakin memancing emosi ayahnya.
"Jangan menduga-duga, Itachi! Aku tidak pernah mengajarkan kalian untuk berbuat seperti itu! Cepat cari adikmu!" tegas Fugaku.
Melihat ayahnya yang sudah semakin marah, Itachi hanya bisa mengangguk cepat dan segera berjalan keluar dari rumahnya.
"He? Aku mau cari kemana, ya?" Saat sudah sampai di luar rumahnya, Itachi bingung mau mencari Sasuke kemana. Sedangkan Sasuke tidak bisa dihubungi sama sekali.
.
"Sedang apa?" Sakura berjalan menghampiri Sasuke yang sedang duduk di bangku sofa ruang tamu di rumah yang kecil ini.
"Hn, aku sedang mencoba menghubungi Kakak-ku. Sulit sekali…" Walau ekspresi Sasuke terlihat tenang, tapi dari nada suaranya, Sakura bisa mengerti kalau Sasuke sedang mengeluh.
Sakura sudah sangat merepotkan Sasuke. Apalagi sampai masalahnya jadi seperti ini. Sakura jadi sedih kembali, tapi ditahannya agar Sakura tidak lagi merepotkan Sasuke. Sasuke yang merasa kalau Sakura hanya terdiam disampingnya, melirik ke arah Sakura yang berdiri di sampingnya. Raut wajah Sakura terlihat cemas dan sedih. Sasuke tahu apa yang sedang Sakura pikirkan.
"Sakura, duduklah…" panggil Sasuke, Sakura pun menuruti Sasuke dan duduk di samping Sasuke. "Sudah aku bilang, jangan terlalu dipikirkan, ya…" Sasuke mengelus lembut kepala Sakura.
"Maaf, ya…" ucap Sakura sedih.
"Jangan meminta maaf lagi. Kau sudah mengatakan itu ratusan kali, Sakura." tegas Sasuke.
Sakura hanya mengangguk kecil. Sasuke sungguh-sungguh baik kepadanya.
"Bagaimana kalau kita minta tolong saja pada Shikamaru?" tanya Sasuke.
"Eh? Sama Nii-san?" tanya Sakura mengulang.
"Hn. Kita tidak mungkin terus-terusan kabur seperti ini dari mereka, kan? Tidak apa-apa bila aku meminta bantuan kepadanya?" tanya Sasuke.
Sasuke tahu, Sakura tidak mau Shikamaru tahu masalah Sakura. Tapi, menurut Sasuke, lebih baik Sakura bersama Shikamaru. Masih ada orang lain yang mau menerima Sakura dengan kasih sayang, bukankah itu lebih baik?
Sakura berpikir, lagi-lagi akan ada orang-orang yang terlibat dalam masalahnya. Shikamaru adalah orang yang sangat baik. Sakura sudah menganggapnya seperti kakak kandungnya sendiri. Meminta bantuan kepada Shikamaru, sudah pasti Shikamaru akan segera datang membantu. Tapi… bagaimana reaksi Shikamaru kalau mengetahui keadaan Sakura yang sebenarnya?
Sasuke mengerti, sangat mengerti apa yang sedang Sakura pikirkan. Tapi, ini juga demi Sakura, agar masalah Sakura cepat selesai. "Tidak apa-apa, biar aku yang menjelaskan kepadanya." Sasuke meyakinkan Sakura.
Sakura menatap Sasuke yang sedang menghubungi Shikamaru. Sakura sangat takut kalau Shikamaru akan marah kepadanya. Saat Shikamaru menjawab panggilan Sasuke, Sasuke dengan pelan dan jelas menceritakan semua apa yang terjadi kepada Sakura dan masalahnya sekarang. Shikamaru tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Sasuke. Tapi, memang kenyataannya seperti itu. Terkejut? Sangat terkejut. Rasa sakit, kecewa karena Sakura tidak jujur kepadanya, dan masalah yang seperti ini sangat jauh di luar pikiran Shikamaru tentang apa yang dialami oleh Sakura, membuat Shikamaru sangat sedih. Ya, tidak menyangka kalau adik kesayangannya itu mengalami kehidupan yang menyakitkan.
"Apa Sakura ada di dekatmu?" tanya Shikamaru.
"Hn," jawab Sasuke.
"Bisa aku berbicara dengannya?" tanya Shikamaru lagi.
Sasuke segera memberikan telepon genggamnya kepada Sakura yang ada di sampingnya. Sakura menatap Sasuke dengan takut, dan Sasuke pun hanya tersenyum kepada Sakura. Dengan ragu-ragu Sakura menerima telepon genggam Sasuke dan mulai menjawab telepon itu.
"Ha-halo…" Sakura sangat gugup, takut untuk berbicara dengan Shikamaru.
Mendengar suara pelan yang sangat dirindukannya itu membuat Shikamaru menghelakan napasnya dan mengucapkan nama Sakura dengan penuh rasa khawatir. Mendengarnya, Sakura pun bisa tahu kalau Shikamaru pasti sangat kecewa dengannya. Setelah saling menyebutkan nama, keduanya hanya terdiam. Sakura berusaha untuk menahan tangisannya. Sedangkan Shikamaru tidak tahu mau bicara apa dengan Sakura. Yang ingin Shikamaru lakukan saat ini adalah memeluk adik kesayangannya itu, mengelus lembut kepala adiknya dengan penuh rasa sayang, dan tidak akan Shikamaru lepaskan Sakura.
"Ma-maaf… maafkan aku…" Karena hanya saling terdiam, Sakura pun akhirnya meminta maaf kepada Shikamaru. Tangisan Sakura pun akhirnya pecah. Sakura hanya bisa mengucapkan maaf karena telah membuat Shikamaru masuk dalam masalahnya.
Mendengar Sakura yang meminta maaf dan isak tangis Sakura, Shikamaru bisa tahu kalau Sakura pasti menderita sekali.
"Jangan menangis, ya… Yang penting saat ini adalah kau baik-baik saja bersama dengan Sasuke. Aku akan menyelesaikan masalahmu dengan Anko. Percaya kepadaku, Sakura…" Shikamaru berjanji kepada dirinya sendiri kalau dia akan membebaskan Sakura dari Anko.
"Maaf… Maaf sudah membuat Nii-san masuk ke dalam masalahku…" ucap Sakura masih dengan isak tangisnya.
"Kalau kau tidak ada tempat tinggal, tinggal bersamaku saja, ya…" ucap Shikamaru.
"Hm, terima kasih banyak…" Sakura mengangguk.
"Bisa kau berikan teleponnya kepada Sasuke? Aku mau bicara kembali dengannya…"
Sakura memberikan teleponnya kepada Sasuke. Sakura kembali memperhatikan Sasuke yang entah Sakura tidak mengerti apa yang sedang dibicarakan oleh mereka di telepon.
.
T_N
.
"Aku sudah dapat informasi mengenai orang yang datang kemari itu." Itachi berjalan menghampiri ayahnya yang sedang duduk santai di ruang keluarganya.
"Hn, apa itu?" tanya Fugaku tenang. Sepertinya Fugaku tidak lagi memikirkan tentang Sasuke. Biar saja yang urus semuanya itu adalah Itachi.
Itachi duduk di sebelah ayahnya, "Anko itu adalah seorang pemilik café malam yang ada di pusat kota. Sedangkan laki-laki yang bernama Kabuto itu adalah seorang bos mafia gelap yang kelompoknya kecil." jelas Itachi.
"Kenapa Sasuke bisa berurusan dengan orang-orang seperti itu?" Fugaku heran, kenapa anaknya bisa terlibat dengan orang-orang yang tidak baik?
"Hn, yang sudah aku ketahui, keponakan Anko itu bernama Haruno Sakura. Perempuan itu adalah teman sekelas Sasuke saat SMA." jelas Itachi.
"Teman sekolah?" tanya Fugaku.
"Hn, Haruno Sakura ingin dijadikan seorang pelacur oleh bibinya, Anko. Sakura dipaksa untuk bekerja di café Anko. Anko sendiri juga seorang wanita pelacur, dan Kabuto adalah pelanggan di café Anko."
"Bisa jadi kalau Sasuke membawa kabur perempuan itu agar perempuan itu tidak menjadi seorang pelacur, begitu?" tanya Fugaku.
"Ya, menurutku juga seperti itu. Mungkin, Sakura adalah perempuan yang berarti untuk Sasuke. Kalau tidak, tidak mungkin Sasuke sampai membawa kabur Sakura dan tidak menghubungi kita di rumah." Itachi tersenyum mengatakan kata-katanya.
"Urus masalah ini, Itachi."
"Ayah tenang saja. Aku akan menyelesaikan masalah ini dengan cepat."
Mungkin, bagi Itachi masalah seperti ini adalah masalah kecil baginya. Tapi, masalah ini adalah masalah besar untuk Sakura karena telah melibatkan banyak orang.
.
Waktu yang pas sekali untuk menyelamatkan Sakura. Saat ini, Shikamaru sedang libur dari kuliahnya. Shikamaru sudah menyelidiki sendiri tentang Anko dan orang yang bernama Kabuto. Sekarang, Shikamaru sedang bersembunyi di balik pohon yang berada dekat dengan rumah Anko. Para anak buah Anko ada yang berjaga di depan rumah. Mereka terlihat sibuk sekali karena keluar-masuk ke rumah Anko. Selain memperhatikan rumah Anko, Shikamaru juga mencurigai sebuah mobil yang terparkir tidak jauh darinya. Dari luar, terlihat seorang laki-laki yang juga sedang memperhatikan rumah Anko. Shikamaru berjalan perlahan menuju mobil itu dan mengetuk-ngetuk pelan kaca mobil itu.
Laki-laki yang berada di dalam mobil membuka kaca jendela mobilnya dan melihat Shikamaru yang sudah menatapnya tajam.
"Apa yang kau lakukan disini?" tanya Shikamaru.
"A-aku… aku… aku hanya sedang melihat-lihat saja… hahaha…" Laki-laki itu terlihat ketakutan dengan Shikamaru.
Ya, ketakutan. Saat kaca jendela mobil sudah terbuka, Shikamaru segera mengeluarkan sesuatu dari kantongnya dan mengarahkannya ke leher Itachi.
"Lihat-lihat? Mencurigakan sekali. Apa hubunganmu dengan Anko dan Kabuto? Kalau kau ada hubungan dengan mereka, katakan kepadaku apa rencana Anko untuk Sakura?!" tanya Shikamaru.
Laki-laki itu semakin tegang saat benda kecil yang Shikamaru acungkan kepadanya menyentuh kulit lehernya. Tapi, saat mendengar pertanyaan Shikamaru, laki-laki itu sadar kalau Shikamaru itu bukan musuhnya. Laki-laki itu pun tersenyum dan bersikap tenang kembali.
"Kau, masuklah dulu ke dalam mobil. Kita bicara baik-baik." Laki-laki itu menyuruh Shikamaru untuk masuk ke dalam mobilnya.
Shikamaru melihat laki-laki itu tampak tenang dan tersenyum ramah kepadanya. Apakah Shikamaru salah orang? Shikamaru pun menuruti apa kata laki-laki itu dan masuk ke dalam mobil dan duduk di sebelah laki-laki itu.
"Sepertinya… aku bukan musuhmu. Kita ada di pihak yang sama." kata laki-laki itu.
Shikamaru mengerutkan kedua alisnya, "Siapa kau?" tanya Shikamaru.
"Perkenalkan, aku Uchiha Itachi." jawab Itachi sambil tersenyum.
"Uchiha Itachi? Uchiha? Apa kau masih saudara dengan Uchiha Sasuke?" tanya Shikamaru.
"Kau kenal dengan adikku? Sasuke adalah adikku yang sedang kabur." kata Itachi.
"Jadi, kau ini adalah kakaknya Sasuke?" tanya Shikamaru ulang. Ya, memang mirip sih wajahnya.
"Hn. Kau tahu dimana adikku?" tanya Itachi serius.
"Ya. Aku tahu mereka ada dimana." jawab Shikamaru santai.
Mereka berdua sudah saling kenal. Shikamaru dan Itachi memutuskan untuk bekerja sama menghancurkan Anko dan Kabuto. Dan mereka berdua pun memutuskan untuk berbicara langsung kepada Anko. Shikamaru dan Itachi berjalan menuju rumah Anko. Sampai di depan rumah Anko, para penjaga rumah Anko sudah menatap mereka berdua dengan tatapan tajam.
"Kami ingin bertemu dengan Anko." Shikamaru juga menatap tajam para anak buah Anko itu.
Tanpa membalas apa yang dikatakan oleh Shikamaru, para anak buah Anko malah ingin menangkap Shikamaru dan Itachi.
"Jangan sentuh kami! Atau, kalian akan menerima akibatnya nanti! Bawa kami pada Anko sekarang!" tegas Itachi saat para anak buah itu akan menangkapnya.
Mereka pun membiarkan Shikamaru dan Itachi masuk ke dalam rumah Anko. Melihat ada dua orang laki-laki asing yang tampan masuk ke dalam rumahnya, Anko tersenyum menyambut mereka.
"Wah, wah, wah, ada apa ini?" tanya Anko yang terlihat sedang bermesraan dengan Kabuto di ruang tamu.
'Wanita RENDAH!' rutuk Shikamaru dan Itachi dalam hati mereka.
"Tidak banyak bicara, langsung saja. Aku ingin menego denganmu. Bebaskan Sakura, atau café malammu di tutup?" tanya Itachi tenang.
"Aku tahu siapa kau. Uchiha Itachi, seorang direktur muda di salah satu perusahaan besar milik ayahmu. Kau mau menego, atau mengancamku, hah?" tanya Anko dengan seringainya.
"Aku bisa mengancammu. Aku bisa mengancammu dengan menutup café malammu atau membuat hidupmu hancur." kata Itachi.
"Bagaimana kalau aku tidak mau membebaskan Sakura? Aku tidak mau kau menghancurkan hidupku. Aku tahu, adikmu itu tergila-gila pada Sakura. Kalau kalian mau, kalian bisa membeli Sakura dariku?" ucap Anko sambil tersenyum menggoda.
"Memangnya kau pikir Sakura itu barang yang bisa dijual, hah?!" Shikamaru segera berteriak kepada Anko. Sungguh, Shikamaru sangat membenci Anko.
"Bisa saja kalau aku mau…"jawab Anko tersenyum pada Shikamaru. "Lagipula… aku tidak butuh anak macam Sakura!" bentak Anko.
"Dasar Iblis!" kesal Shikamaru sambil menggertakan gigi-giginya.
Itachi tidak suka keributan. Itachi lebih suka menyelesaikan masalah dengan cepat dan mudah. "Jadi, kau mau berapa?" tanya Itachi santai.
"Heh, berani juga kau! Bagaimana kalau aku minta… 10M?" Anko menyeringai kepada Itachi.
"GILA!" ucap Itachi dan Shikamaru bersamaan karena sangat terkejut.
"Kenapa kalian terkejut? Aku rasa, uang segitu masih sangat kecil bila dibandingkan dengan pendapatan dari perusahaanmu itu." Anko tersenyum puas.
"Jadi, tujuanmu sebenarnya itu uang?" tanya Shikamaru.
"Ya… tujuanku sebenarnya hanya memanfaatkan Sakura untuk mendapatkan uang banyak. Sakura sangat cantik, banyak pelangganku yang menginginkan Sakura dengan harga mahal. Dengan adanya Sakura, café-ku akan semakin ramai, hahahaha…"
"Cih! Perempuan tidak punya perasaan!" Shikamaru benar-benar semakin membenci Anko. Bagaimana bisa ada perempuan yang seperti Anko di dunia ini?
"Terserah kau mau bilang aku apa. Jadi, berani? Uang 10M bisa aku dapatkan dengan mudah bila Sakura bekerja di café-ku, fufufu…" ucap Anko senang.
Itachi hanya tidak menyangka saja, ternyata bayaran untuk Sakura itu sangat mahal. Yah, uang 10M, memang masih bisa dijangkaunya dengan mudah. Tapi, Itachi masih ragu, apakah setelah Anko mendapatkan 10M berani menjamin kalau ia tidak akan lagi mengganggu Sakura? Tidak ada yang tahu, kan?
"Baiklah… aku akan menghubungimu lagi." ucap Itachi.
Itachi segera menarik Shikamaru untuk keluar dari rumah Anko. Anko hanya tertawa melihat kepergian Shikamaru dan Itachi dari rumahnya. Sedangkan Kabuto, Kabuto hanya diam saja menatap bosan apa yang telah terjadi tadi.
Di dalam mobil Itachi, Shikamaru tidak henti-hentinya menggerutu kesal kepada Anko. Kata-kata kasar untuk menghina Anko keluar terus dari mulutnya itu.
"Sudahlah. Shikamaru, mau kah kau mengantarkan aku ke tempat Sasuke?" tanya Itachi sambil menenangkan Shikamaru.
"Baiklah, aku juga belum pergi kesana…" Shikamaru jadi tenang, karena dia akan pergi menemui Sakura.
Itachi pun segera melajukan mobilnya pergi dari wilayah Anko. Shikamaru memberitahu dimana Sasuke dan Sakura sekarang tinggal. Mereka menuju sebuah daerah yang berada di pinggiran kota. Daerah yang jauh dari keramaian. Perjalanan mereka memakan waktu 2 jam perjalanan. Sampai di sebuah desa yang asing bagi mereka, Itachi bertanya kembali kepada Shikamaru.
"Desa ini?" tanya Itachi.
"Ya, mungkin. Sasuke bilang kepadaku kalau mereka tinggal disebuah rumah kecil yang ada pohon sakuranya."
Mereka memasuki desa kecil itu dan mengamati setiap rumah yang ada pohon sakuranya. Dan, ternyata hanya ada satu rumah yang mempunyai pohon sakura.
"Disana!" Shikamaru menunjuk sebuah rumah kecil yang ada pohon sakuranya di halaman depan rumahnya.
Mobil Itachi pun segera melaju ke rumah itu. Sampai di depan rumah itu, Itachi dan Shikamaru segera turun dari mobil dan mengetuk pintu rumah kecil itu.
Tok tok tok
Tidak lama, Sasuke keluar membukakan pintu rumah diikuti Sakura dari belakang Sasuke. Betapa terkejutnya Sasuke melihat ada kakaknya di depan rumah kecilnya. Sedangkan Sakura terkejut melihat Shikamaru ada di depan rumah.
"SASUKEEE…!" teriak Itachi yang langsung memeluk erat adik kesayangannya itu.
"Sakura…" gumam Shikamaru pelan.
Shikamaru melihat sosok Sakura yang sudah lama tidak dilihatnya. Sakura semakin kurus dan terlihat rapuh sekali. Shikamaru merentangkan kedua tangannya ke arah Sakura, berharap kalau Sakura akan menghamburkan dirinya dalam pelukan Shikamaru. Merasa sangat terharu dan juga rasa rindu yang sangat dalam, dengan senang hati Sakura menghamburkan dirinya ke dalam pelukan Shikamaru.
Itachi memeluk Sasuke dengan sangat senang, sedangkan Sasuke yang dipeluk erat oleh kakaknya itu segera melepaskan pelukan kakaknya kepadanya. "Lepaskan, Baka!" kata Sasuke kesal. Dan Sasuke pun akhirnya bisa lepas dari pelukan maut kakaknya itu. Itachi yang mendapat perlakuan seperti itu dari adiknya hanya tersenyum-senyum karena memang sifat adiknya memang seperti itu.
Sasuke menatap Shikamaru yang kini sedang berpelukan erat dengan Sakura, membuat Sasuke sangat cemburu. Dirinya saja tidak pernah berpelukan erat seperti itu dengan Sakura. Sedangkan Shikamaru mungkin sudah berkali-kali mendapatkan pelukan hangat dari Sakura.
"Ehem… lebih baik kita masuk ke dalam saja…" ucap Sasuke dengan nada dinginnya.
Melihat Sasuke yang berkata seperti itu, Itachi tersenyum. Itachi tahu, Sasuke pasti cemburu melihat pemandangan Shikamaru dan Sakura. "Wah… adikku cemburuuu…" goda Itachi pada Sasuke dengan seringai jahilnya.
Sasuke menatap kesal pada Itachi. Sasuke pun langsung masuk ke dalam rumah diikuti Itachi di belakang Sasuke. Shikamaru pun segera melepaskan pelukan rindunya kepada Sakura. Shikamaru dan Sakura pun masuk ke dalam rumah dan menutup pintu rumah itu.
Mereka berempat kini duduk di ruang tamu kecil rumah ini.
"Jadi, bagaimana?" tanya Sasuke pada Shikamaru dan Itachi.
Itachi dan Shikamaru menjelaskan kepada Sasuke dan Sakura apa yang telah mereka lakukan dan kejadian yang tadi.
"APA? 10M?!" teriak Sasuke dan Sakura bersamaan karena terkejut.
Sakura kembali sedih mendengar cerita Shikamaru dan Itachi. Sungguh, uang sebanyak itu mau di dapatnya darimana? Sakura benar-benar tidak punya uang sama sekali. Sakura tahu, selain Anko yang melampiaskan kebenciannya kepadanya, Anko juga memanfaatkan dirinya untuk mendapatkan uang banyak. Bagaimana, ini? Sakura pusing memikirkan apa yang harus dilakukannya sekarang.
Itachi memperhatikan Sakura yang terlihat sedang berpikir keras dan sedih. Itachi tersenyum melihat Sakura, Itachi berpikir kalau Sakura memang perempuan yang sangat cantik kalau saja kondisi Sakura terlihat sehat. Sasuke sungguh sangat tertarik oleh perempuan seperti Sakura, membuat Itachi semakin ingin tahu lebih tentang Sakura.
"Sakura, kau tenang saja. Kami semua akan membantumu…" ucap Itachi sambil tersenyum tenang.
Melihat Itachi yang tersenyum dengan tenangnya, membuat Sakura tidak bisa mengatakan apa-apa. Sakura jadi semakin tidak enak karena telah melibatkan keluarga Sasuke seperti ini.
Tidak disadari oleh Itachi dan Shikamaru, ternyata anak buah Anko mengikuti mobil Itachi sejak Itachi meninggalkan kediaman Anko. Para anak buah Anko itu pun segera melapor kepada Anko. Mendapat kabar dari anak buahnya, Anko tersenyum senang dan menyuruh mereka untuk membawa Sakura pulang ke rumah secepatnya.
Hari sudah malam. Jam sudah menunjukkan pukul 7, Itachi dan Shikamaru memutuskan untuk balik. Mereka sudah saling mengenal dan merencanakan apa yang akan mereka lakukan kedepannya.
"Kami pulang dulu, Sasuke, Sakura…" pamit Itachi.
"Kalian yakin tidak mau pulang ke rumah?" tanya Shikamaru.
"Ya. Aku rasa, untuk beberapa hari ini aku dan Sakura lebih baik disini dulu. Atau mungkin, besok kami akan pulang ke rumahku." jawab Sasuke.
"Wah… mau puas-puasin tinggal berdua sama Sakura, ya?" goda Itachi pada Sasuke.
Wajah Sasuke dan Sakura langsung merah padam saat Itachi mengatakan itu.
"Bu-bukan! Lagipula, kami tidak ngapa-ngapain, kok!" Baru kali ini Sasuke terlihat sangat panik karena digoda oleh kakaknya.
"Ngapa-ngapain? Sasuke… kau ternyata bukan lagi Sasu-chanku yang dulu… kau sudah besar, ya…" Itachi menyeringai jahil kepada Sasuke. Sungguh, Itachi saat ini ingin sekali tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi adiknya yang gugup, panik, dengan mukanya yang memerah.
"Baka! Sudah sana, kalian pulang saja!" usir Sasuke pada Itachi dan Shikamaru.
"Sudah tidak sabar ingin berduaan, ya? khukhukhu…" Itachi benar-benar masih ingin terus menggoda Sasuke. Sasuke yang semakin kesal dengan kakaknya, mendorong kakaknya segera keluar dari rumah.
"Jaga Sakura, ya, Sasuke…" pinta Shikamaru. Sasuke hanya mengangguk saja.
Itachi dan Shikamaru pun pergi pulang untuk kembali ke rumah. Sasuke dan Sakura setelah mengantar kepergian kakak mereka, masuk ke dalam rumah dan mengunci pintu rumah kecil mereka.
"Itachi adalah orang yang pintar. Jadi, kau tenang saja. Semua akan cepat selesai." Sasuke tersenyum kepada Sakura.
Sakura menatap Sasuke yang tersenyum kepadanya. Dengan cepat, Sakura berjalan menuju Sasuke dan memeluk Sasuke dengan erat. Sasuke sangat terkejut, tiba-tiba saja Sakura memeluk dirinya dengan erat. Tanpa banyak berpikir, Sasuke pun membalas pelukan Sakura dengan erat. Mereka berdua menikmati pelukan yang diberikan oleh masing-masing. Rasa hangat, nyaman, damai, mereka berdua rasakan bersama.
"Terima kasih banyak, Sasuke…" gumam Sakura dalam pelukan Sasuke.
"Hn,"
Mereka berdua melepaskan pelukan mereka. Kedua mata mereka saling menatap. Tangan kanan Sasuke terangkat untuk menyentuh pipi Sakura dengan lembut. Merasakan sentuhan jari-jari Sasuke di pipi Sakura, membuat seperti ada sengatan listrik kecil dari jari-jari Sasuke yang menyentuh kulit wajahnya. Terasa aneh, tapi Sakura menyukainya. Melihat Sakura yang tidak menolak Sasuke menyentuh wajah Sakura, Sasuke pun merasa senang. Tangan kiri Sasuke pun terangkat dan mengelus kepala Sakura dengan lembut.
"Sakura…" ucap Sasuke dengan penuh perasaan.
Sasuke dan Sakura merasakan hal yang sama. Jantung mereka berdebar-debar tidak karuan. Mereka sadar dengan apa yang akan mereka lakukan. Tapi, keduanya tidak ada yang ingin menyudahi apa yang akan terjadi kepada mereka.
Tangan kiri Sasuke yang masih mengelus lembut kepala Sakura, tangan kanan Sasuke yang masih mengelus wajah Sakura, kini Sasuke mendekatkan wajahnya pada wajah Sakura. Dihirupnya aroma manis yang tercium dari rambut panjang Sakura. Sasuke pun dengan perlahan mengecup kening Sakura. Sakura hanya bisa merasakan kehangatan dari bibir Sasuke yang menyentuh keningnya. Lalu, bibir Sasuke mulai turun menuju hidung Sakura. Sasuke pun mengecup hidung Sakura. Sakura hanya bisa memejamkan kedua matanya. Sakura terlalu malu apabila ia membuka matanya dan melihat wajah Sasuke yang ada di depan wajahnya. Setelah mencium hidung Sakura, tangan kanan Sasuke yang mengelus wajah Sakura kini menyentuh dagu Sakura dan menaikkannya sedikit. Sakura membuka kedua matanya, dan Sakura melihat Sasuke yang tersenyum kepadanya. Dengan perlahan, wajah mereka saling mendekat, dan kedua bibir itu pun akhirnya bersentuhan. Hanya bersentuhan. Saling merasakan kelembutan bibir yang menyentuh bibir mereka. Lalu, kedua bibir itu pun menjauh.
"Sakura…"
Dengan wajah memerah, mereka berdua saling menatap dengan malu. Sasuke masih ingin mencium Sakura. Sasuke pun dengan perlahan mendekatkan kembali wajahnya pada Sakura. Sakura hanya bisa memejamkan kedua matanya saja. Apa yang akan dilakukan Sasuke kepadanya, Sakura akan memberikannya. Karena Sakura sangat mencintai Sasuke.
Sentuhan bibir Sasuke di bibir Sakura, membuat Sakura melenguh. Dengan perlahan Sasuke mencium, mengecup, sampai akhirnya Sasuke melumat bibir mungil Sakura. Mereka berdua terhanyut dalam ciuman pertama mereka.
Sudah pukul 10 malam. Sasuke dan Sakura sudah tertidur di dalam rumah yang hanya ada 1 kamar. Sasuke tidak akan macam-macam kepada Sakura hanya karena mereka berdua tidur dalam satu ranjang. Mereka memberikan pembatas sebuah guling untuk memisahkan jarak diantara mereka.
Di depan rumah kecil Sasuke dan Sakura, sudah ada 6 orang suruhan Anko yang datang ke rumah kecil itu. Dengan mudah, mereka membuka pintu rumah kecil itu dan masuk ke dalam rumah. Mereka menerobos masuk ke dalam kamar Sasuke dan Sakura yang sedang tertidur.
"KYAAAA…!" Sakura sangat terkejut dan menjerit. Ketika ia tidur, tiba-tiba saja diseret bangun oleh orang suruhan Anko.
Mendengar teriakan Sakura, Sasuke pun terbangun dan melihat di dalam kamar sudah ada banyak laki-laki besar yang menyeramkan. Orang-orang itu segera menahan Sasuke agar tidak melawan. Sasuke melihat Sakura yang dibawa pergi oleh orang-orang itu. Sasuke dengan sekuat tenaganya melepaskan diri dari orang-orang yang menahannya. Tapi Sasuke tidak bisa lepas.
"SAKURAAA…" teriak Sasuke yang kini Sakura sudah dibawa keluar dari rumah ini.
"LEPASKAN AKU!" Sasuke semakin berontak. Tapi, salah satu dari orang-orang itu memukul belakang kepala Sasuke dengan keras hingga membuat Sasuke kehilangan kesadarannya.
"Sa-Sa…ku…r…r…aaa…" Sasuke pingsan di kamar. Beberapa tetes darah mengalir dari belakang kepala Sasuke.
"Ayo kita pergi!" Orang-orang suruhan Anko pun segera pergi dari rumah kecil itu.
Di dalam mobil Sakura terus menangis dan memanggil-manggil nama Sasuke. Mendengar tangisan Sakura yang membuat orang-orang suruhan Anko merasa terganggu, mereka pun mengatakan kalau Sasuke sudah mati.
"Berhentilah menangis! Dia sudah mati!" bentak salah satu orang suruhan Anko.
Sakura tidak percaya dengan apa yang didengarnya, dan itu membuat Sakura semakin kencang menangis. Karena merasa terlalu berisik, akhirnya Sakura pun dibuat pingsan oleh anak buah Anko itu.
BERSAMBUNG
REPUBLISH
20 APRIL 2014
A/N :
Seharusnya ini jadi chapter yang paling panjang. 20 halaman, mungkin? Karena terlalu panjang jadi saya potong aja… hehehe… ^^v
Terima kasih sudah membaca fanfic ini, semoga kalian suka, ya… :D
Karena gak bisa balas satu-satu karena sudah malam dan sudah mengantuk, terima kasih buat yang sudah membaca dan mereview di chapter 6,
"KEKA, Jeremy Liaz Toner, Miura Kumiko,Natsu, hanazono yuri, haru no baka, ntika blossom, UchiHarunoKid, Gilang363, Guest, Luca Marvell, desypramitha26."
Terima kasih masih setia membaca… ^O^
Sampai jumpa chapter 8, ya… :D Semoga saja chapter 8 nanti bukan ending… :3
Be happy… ^^v
