Waktu itu ada yang nanya arti dari huruf-huruf Jepang di chap 3, saya jawab di sini.

あたし (Atashi) = saya

みんな (Minna) = Semuanyaaa...

みんなさん へ (Minnasan e) = Kepada semuanya

ほんとに ごめなさい (Hontoni gomenasai) = Benar-benar minta maaf..

おはよう ございます (Ohayou gozaimasu) = met pagiii

ごめん ね (Gomen ne) = Maaf ya

Sengaja buat latihan dikit-dikit..

Makasih juga udah review ^_^


40 Days Confession

Chapter 4

Romance, Supranatural

Naruto always belong to Masashi Kishimoto-sensei

But the story is mine

Typo(s)

OOC

Tragic (?)

.

.

.


'Enghh... aku di mana? Kepalaku terasa berat sekali. Aku tidur lagi saja deh.'

Itulah pikiran yang muncul dari Karin yang saat ini tengah tertidur di sebuah ruangan yang minimalis itu. Ya, sekarang wanita bersurai merah cerah itu berada di tempat istirahat para pegawai bar di mana Sasori bekerja. Seharusnya Karin tidak boleh berada di tempat itu, tapi berkat Sasori yang memohon kepada pemilik bar sampai sujud-sujud segala meminta izin agar Karin diperbolehkan tidur di tempat tersebut, ini semua agar Karin tidak 'tidur sembarangan'. Bisa-bisa ada yang jahil membawa Karin ke hotel, melihat kondisi Karin yang mabuk dan tidak sadarkan diri itu apalagi tubuh Karin yang lumayan menarik kaum adam.

Tiba-tiba Karin merasa ada yang mengganggu kedamaian yang baru saja dia nikmati dengan adanya seseorang yang mengguncangkan tubuhnya.

"Emm... Aduh siapa? Mengganggu waktu tidurku saja," keluh Karin yang sekarang sedang merem melekin matanya. (Apaan merem melek -_-)

Karena merasa tubuhnya terus diguncang-guncangkan oleh seseorang, dia pun bangun terduduk di kasur yang lumayan empuk itu dengan selimut yang menutupi tubuhnya sampai dada.

"Iya aku bangun. Eh di mana ini?" tanya Karin pada dirinya sendiri. Dia menoleh ke kiri dan mendapati Sasori sedang menatapnya khawatir.

"Eh. Sasori? Aku sedang di mana? Ini tidak terlihat seperti apartemenmu," tanya Karin yang sekarang melihat-lihat kondisi di sekelilingnya.

"Ini memang bukan apartemenku. Sekarang kamu ada di tempat istirahat pegawai bar ini. Kamu tidak sadar ya kalau kamu tadi mabuk berat?" jelas Sasori pada Karin dengan bahasa isyaratnya.

"Maksudmu ini kamar untuk pegawai? Ah iya aku tidak sadar kalau aku akan mabuk setelah gelas ketiga. Biasanya aku kuat. Apa yang mereka masukkan ke minumanku ya?" jawab Karin dengan bahasa isyarat juga dan merasa heran dengan kondisinya sendiri.

"Makanya jangan sembarangan kalau minum dengan orang lain. Bagaimana kalau kamu dibawa ke tempat yang tidak karuan, hah?" Jelas isyarat-isyarat yang Sasori tujukan kepada Karin penuh dengan rasa kekhawatiran.

"Aku tidak sembarangan. Aku bisa jaga diri kok," balas Karin dengan emosinya.

"Bisa jaga diri bagaimana? Kalau aku tidak melihatmu yang sedang dibopong lelaki hidung belang tadi, kamu sudah tidak di sini lagi. Harusnya kamu bisa menjaga diri sendiri. Bagaimana kalau tidak ada aku di sekitarmu? Kamu ada masalah? Lalu aku harus bilang apa pada pamanmu nanti, Karin?" terang Sasori panjang lebar. Tapi apa yang Karin berikan pada Saosori? Dia menatap Sasori dengan wajah getir bercampur sedih.

"Aku sudah tidak ada lagi hubungannya dengan laki-laki sialan itu! Dia bukan pamanku! Dia hanya bajingan yang menginginkan hartaku saja, Sasori! Dia bajingan! Kenapa kamu mengungkit-ngungkit dia lagi?" balas Karin geram dan semakin emosi karena topik pembicaraannya yang menyinggung perasaan dan harga diri Karin. Bisa dibayangkan sekarang mata Karin melotot dan menatap tajam kepada Sasori yang sebenarnya dia tidak terlalu bersalah.

Memang sekarang Karin tinggal sendiri di apartemen minimalisnya. Tapi meskipun seperti itu, Karin adalah pewaris tunggal dari keluarganya, meski bukan keluarga yang terpandang tapi setidaknya dia adalah orang yang memiliki hak waris. Kemudian datang seorang pria yang mengaku sebagai pamannya, satu-satunya kerabat yang masih hidup.

"Kamu jangan berpikiran negatif dulu padanya, Karin. Dia orang baik, aku yakin itu. Dia malah sangat mengkhawatirkanmu karena kamu tidak pulang-pulang ke rumah. Tidak ada yang merawat rumahmu. Pamanmu juga tidak menginginkan hartamu. Kenapa kamu bisa berpikiran seperti itu, sih?" jawab Sasori tak kalah emosinya. Tapi dia masih bisa mengontrolnya.

"Hah, mana mungkin dia tidak menginginkan hartaku- ah tidak! Harta orang tuaku. Rumah masih ada yang mengurus. Paman Teuchi yang mengurusnya untukku," sekarang Karin tidak menggunakan bahasa isyaratnya lagi saking emosinya. "Sudah. Tidak ada gunanya pembicaraan ini dilanjutkan. Aku ingin pulang yang tentunya bukan rumah itu. Jangan mencariku!" Karin bangkit dari temapt tidur dan menyingkirkan selimutnya dengan kasar sehingga selimut tersebut sempat menyentuh wajah Sasori.

"Lepas Sasori!" perintah Karin yang kini tangannya ditahan oleh Sasori agar dia tidak pergi dulu.

"Asal kamu jawab dulu pertanyaanku dulu baru kamu boleh pergi," 'ucap' Sasori pada Karin dengan isyarat sebelah tangannnya. Melihat Karin mulai mereda emosinya, Sasori pun melepaskan genggamannya pada tangan Karin perlahan.

"Kenapa kamu berpikir hal seperti itu tentang pamanmu? Kamu tidak punya bukti kalau dia akan merebut harta orang tuamu. Hm?" tanya Sasori.

"Jelas lah. Kenapa dia baru datang setelah mendengar kabar kalau adiknya meninggal? Pasti karena harta 'kan. Lagian dia itu selalu berjudi di sana-sini.. pasti dia banyak meminjam uang untuk bermain,'kan? Perusahaannya saja hampir bangkrut. Itu juga pasti karena kelakuannya sendiri. Itu yang aku dengar dari Paman Teuchi." Itulah jawaban Karin.

"Apa? Jadi kamu tidak mengetahuinya itu sendiri? Dari orang lain?" tanya Sasori yang sangat terkejut dengan apa yang baru saja dia ketahui. Kenyataan bahwa Karin lebih percaya kepada orang selain keluarganya hanya karena dia lebih lama bersama Karin dan keluarganya. Dibandingkan dengan keluarganya yang sudah Sasori interogasi sendiri. (bocoran)

"Paman Teuchi bukan orang lain! Dia sudah menjadi bagian dari keluargaku. Dia yang tahu bagaimana keluargaku. Sudah! Aku ingin pulang," balas Karin yang sudah tidak ingin dipusingkan lagi dengan masalah yang dia alami beberapa hari ini. Karin pergi dengan emosinya yang masih belum stabil, tapi sebenarnya hati kecilnya merasa bersalah sudah tidak mau mendengar ucapan Sasori, pria yang dia cintai. Dengan rasa kecewa dan marah dia pergi dengan tergesa-gesa seakan-akan seluruh dunia akan meninggalkannya. Dia juga menangis, dia berlari dan menutupi mulutnya dengan tangan kanannya. Dia merasa kecewa, dia pikir orang yang mengerti dirinya akan membelanya, menghiburnya. Tapi Karin tidak mendapatkan apa yang dia harapkan.

Sedangkan Sasori yang berada di dalam kamar pegawai tersebut mengepalkan tangan. Ingin rasanya dia mendukung Karin, tapi dengan caranya sendiri. Tak ingin Karin larut dengan kebencian yang dia rasakan pada pamannya. Karena Sasori mengetahui apa yang tidak diketahui oleh Karin.

Akhirnya Sasori keluar ruangan tersebut dan berbelok ke kanan menuju ruang ganti. Sasori juga merasa lelah dengan kekacauan barusan. Sasori putuskan untuk pulang karena memang sudah sangat larut. Dan kalau Karin masih belum jauh dari bar dia berniat mengantarnya pulang. Khawatir hal yang sama akan terjadi lagi. Maka dari itu Sasori cepat-cepat mengganti bajunya.

Sasori tersenyum kepada pegawai yang lain yang sempat melihatnya dan menyapanya. Bergegas keluar dari bar untuk mencari sosok Karin, berharap dia tidak terlalu jauh dari bar. Sasori meminta maaf atas ucapannya yang menyinggung-nyinggung masalah keluarganya.

Sasori mengerakkan kepalanya ke kanan dan kiri. Ke kerumunan orang, Sasori tidak akan bingung untuk mencari Karin di antara orang-orang yang lalu lalang ini, pasalnya Karin mudah dikenali dari warna rambut eksentriknya yang berwarna merah cerah itu. Akhirnya Sasori menemukan Karin yang hendak menyebrang. Sasoripun berlari berharap bisa menyusul Karin yang kini sudah menyebrang.

Sasori menambah kecepatannya dan dia berhasil menyebrang,-bukan Sasori berlari menerobos kerumunan yang hendak menyebrang, tapi Sasori kalah cepat sehingga lampu hijau sudah menyala dan Sasori terlalu ceoboh dan terdorong oleh orang di belakangnya mengakibatkan tubuhnya terpental ke zebra cross.

CIIIIIIT!

DUUG!

"KYAAAA... ada orang yang tertabrak! Toloooong!"

"Seseorang panggil ambulance! Cepat! Anak ini banyak mengeluarkan darah."

.

.

.

.

Karin's POV

'Astaga! Suara apa tadi? Banyak orang berkerumun di zebra cross,' ucapku dalam hati.

Karena penasaran dengan kerumunan itu aku mengikuti mereka. Melihat siapa yang tertabrak.

"Seseorang panggil ambulance! Cepat! Anak ini banyak mengeluarkan darah." Ucap seorang laki-laki dari dalam kerumunan.

"Permisi. Tolong permisi, aku ingin lihat siapa yang tertabrak," pintaku pada orang-orang ini.

Aku sedikit tersentak. Rambut merah! Air mataku langsung keluar begitu saja.

"SASORI!" aku menjeritkan namanya. Tidak! Jangan Sasori, Kami-sama. Jangan...!

"Anda mengenalnya?" tanya pria tadi yang memerintahkan untuk memanggil ambulance.

"Aku kerabatnya," jawabku sekenanya. Lalu ambulance datang dan pria tersebut mengangkat tubuh Sasori untuk masuk ke dalam ambulance. Akupun ikut masuk ke dalam. Di dalam ambulance aku terus memegang tangan Sasori dan mengecupnya berharap dia merasakan sentuhanku dan membuka matanya.

"Sasori... buka matamu. Jangan tinggalkan aku sendiri, hiks... hiks..." air mata tak bisa aku bendung lagi. Aku takut ditinggalkan sendiri lagi oleh orang yagn aku sayangi. Sasori terlalu berharga.

Karin's POV End

.

.

.

.

Sasuke's POV

"Aaarg! Apa tidak ada orang yang sedang sekaratkah? Sai! Lakukan sesuatu!" keluhku pada shinigami yang terus membawaku ke tempat-tempat orang sakit terbaring.

"Hei sabarlah. Kita masih punya banyak waktu. Santai," ucap Sai dengan tenangnya dan terus keluar masuk ruangan pasien. Aku juga melakukan hal yang sama. Sepertinya aku sudah mulai terbiasa dengan keadaanku melayang-layang seperti sekarang ini. Untunglah aku masih melihat kakiku, tidak seperti kebanyakan hantu yang manusia pikirkan. Kalian tahulah, seperti Casper. Untuk kepalaku tidak bundar seperti dia.

"Aku mau santai bagaimana? Ini udah hampir satu minggu!" aku kesal dengan jawabannya. Santai katanya? Santai?! Kau pasti akan merasakan kalau kau ada dalam posisiku, shinigami no baka!

"Kau gemar sekali menyebutku 'baka' ya, Sasuke," ucap Sai tiba-tiba. Cukup mengejutkan sebenarnya bagaimana dia tahu?

"Kau membaca pikiranku?!" geramku menghampirinya yang sedang sibuk mencari orang yang sekarat. Sungguh tak sopan. (sekarang Sasuke ngk lemot lagi)

"Hm? Ya begitulah. Mau bagaimana lagi, aku 'kan Shinigami," jawabnya acuh. Apaan nada bicaranya, sok sekali. Agggh! Dasar menyebalkan!

Tiba-tiba terdengar keributan dari sebrang koridor di mana kami berada. Beberapa suster dan dokter sedang membawa seseorang. Dan ada wanita bersama mereka yang menangisi orang itu. Seorang pria yang banyak mengeluarkan darah di bagain kepala. Aku lihat mereka berbelok menuju tempat UGD. Si wanita tidak diizinkan untuk masuk dan akhirnya dia hanya duduk di kursi terdekat sambil menutup matanya. Air mata terus bercucuran dari sela-sela telapak tangannya.

"Mungkin orang tadi bisa kau masuki tubuhnya, Sasuke," ucap Sai tiba-tiba di samping kanan telingaku. Aku bergidik ngeri dengan tindakannya.

"Kau melihatnya juga?" tanyaku. Aku lihat wanita itu, rambutnya warna merah, pria tadi juga berambut merah. Apakah mereka adik-kakak?

"Sasori~... aku mohon bertahanlah," ucapnya lirih.

"Jadi namanya Sasori ya. Sepertinya dia kakaknya. Sebaiknya kita lihat kondisi pria barusan," ucap Sai lagi. Aku hanya menjawabnya dengan 'hn', ucapan andalanku. Sekarang dia sudah masuk ke ruang UGD. Tak lupa dia juga menyeretku yang tengah memperhatikan wanita merah itu. Dia mengingatkanku pada Sakura. Apakah Sakura juga menangis seperti itu? Menangisiku?

'Tunggu sebentar lagi, Sakura,'

.

.

.

.

.

Normal POV

Di sekolah KHS

"Baiklah itu yang bisa saya sampaikan hari ini. Kita bertemu minggu depan. Selamat siang," ucap Kakashi sebagai penutup dari pelajarannya.

"Selamat siang, sensei," balas para siswa.

'Setelah ini pelajaran Iruka-sensei, aku ingin cepat pelajaran ini berakhir dan ke UKS melihat keadaan Sakura,' ucap Ino dalam hati.

Kemudian Gaara sang ketua kelas berdiri di depan papan blackboard. Sepertinya akan ada pengumuman yang akan diumumkan.

"Moichido, minna-san. Tadi kata sensei di piket, Iruka-sensei tidak akan masuk karena berhalangan hadir. Maka dari itu kerjakan tugas di buku paket latihan 1-4 bab 1. Dikumpulkan paling lambat nanti pulang sekolah. Sekian," jelas Gaara.

"Yaaah~~" semua anak malah mengeluh.

Tapi apa boleh buat mereka harus melakukan tugas mereka sebagai pelajaran. Tapi tidak untuk Ino. Setelah penjelasan dari Gaara membuat Ino senang. Dia bisa ke ruang UKS sekarang juga pikirnya. Kalau tugas bisa dia kerjakan nanti pulang sekolah.

Keadaan di kelas yang lumayan gaduh dijadikan kesempatan oleh Ino untuk menyelinap ke luar kelas menuju UKS (Ini jangan ditiru, minna-san). Tapi pergerakan Ino masih bisa ditangkap oleh Gaara, namun Gaara membiarkannya karena merasa maklum dengan sikap Ino walaupun kurang sopan juga.

.

.

.

Di ruang UKS

"Sakura? Kamu sudah sadar?" tanya sang Dokter sekolah yang berada di hadapan Sakura.

"Aku di mana sensei? Aduh kepalaku sakit~" bukan menjawab pertanyaan sang dokter, Sakura malah bertanya balik pada sensei-nya. Dan memegang kepalanya yang terasa sakit.

"Tadi kamu pingsan di kelas makannya kamu dibawa ke sini oleh Kakashi-sensei," jawab sang dokter. "Ini. Minum dulu," lanjut sang dokter.

"Hn. Arigatou Shizune-sensei," ucap Sakura. Dia minum air itu perlahan kemudian dia serahkan lagi pada Shizune.

"Habiskan, Sakura," perintah Shizune tapi Sakura malah menggelengkan kepala. Shizune tak ingin memaksa lagi kemudian beranjak dari tempat Sakura menuju mejanya. Sedangkan Sakura sepertinya sudah larut akan pikirannya sendiri. Dia melamun, tatapannya kosong. Apa yang ada di pikirannya?

SREEEET...

"Shizune-sensei, bagaimana Sakura? Dia baik-baik saja?" tanya suara dari pintu masuk.

"Dia sudah sadar," Shizune menoleh untuk menjawab dan kembali lagi pada kegiatannya.

"Sakuraaa! Maafkan aku. Aku tak bermaksud menamparmu keras-keras sampai pingsan," ucap gadis itu berhambur memeluk sahabatnya tersayang.

"Aku tak bermaksud memanas-manasimu, aku hanya-" ucapan gadis itu dipotong oleh Sakura seketika itu juga.

"Aku yang seharusnya meminta maaf. Maaf Ino, aku belum bisa terima kenyataan, hiks..." ucap Sakura. Dia mulai menangis lagi.

"Maaf aku sadar sekarang. Aku tidak tahu setan apa yang merasukiku hingga tak sadar. Terima kasih karena sudah menamparku.. hehehe, hiks.." lanjutnya. Dan dibalas anggukan dari sahabatnya yang sudah menangis tersedu-sedu.

"Aku ingin Sakura yang dulu. Yang ceria dan kuat, meski tak ada Sasuke di sisimu," ujar Ino menyemangati Sakura. Shizune yang mendengarnya tersenyum dan ikut menghampiri dua sahabat itu dan memeluknya.

"Aku yakin, Uchiha-san akan bahagia jika melihatmu bahagia juga, Sakura," ucap Shizune. Dia melepaskan pelukannya dan mengusap kepala merah muda itu dengan lembut. Ino pun melepas pelukannya.

"Mau ke kelas saja atau pulang? Kebetulan Iruka-sensei tidak masuk," tawar Ino pada Sakura. Sakura terlihat menimbang-nimbang tawaran Ino.

"Aku ingin ke kelas saja. Aku gak mau buat teman-teman khawatir," jawaban yang baikkah?

"Baiklah. Aku bersyukur Sakura sudah bisa ceria kembali," ucap Ino tersenyum.

"Tapi nanti saja ke kelasnya kalau sudah istirahat, aku ingin makan dulu. Lapar Inooo~," tawapun tercipta di ruangan itu. Dan seorang pria di balik pintupun tersenyum simpul dan berbalik arah tak jadi masuk ke ruang UKS.

'Syukurlah kalau begitu,' batin Gaara.

.

.

.

.

Sedangakan di Kelas 10-1 di mana biasanya Sakura menerima pelajaran, ada beberapa anak yang sedang berbincang-bincang.

"Hey, Tayuya. Aku merasa kasihan pada Sakura," ucap seorang siswi.

"Yah. Aku juga, Tenten. Dia pasti sangat terpukul atas kepergian Sasuke. Kita tahu, kalau Sakura selalu menaruh perhatian lebih pada Sasuke, tapi Sasuke seolah tak ada apa-apa," balas Tayuya pada temannya yang dipanggil Tenten.

"Kurasa perasaan kita pada Sasuke tak bisa dibandingkan dengan perasaan Sakura pada Sasuke," timpal salah seorang siswi dari belakang Tayuya. Sontak mereka, Tayuya dan Tenten menoleh pada orang yang ada di belakang Tayuya.

"Shion. Haha.. apa yang kamu katakan ada benarnya. Kita menyukai sebatas karena apa yang dia miliki," ucap Tenten yang setuju dengan perkataan Shion. Akhirnya mereka termenung beberapa detik sampai Tayuya bersuara kembali.

"Aku juga setuju pendapatmu, Shion. Karena aku dengar Sakura sudah sangat laama menyukai Sasuke. Dan mungkin bukan rasa suka lagi yang Sakura rasa..," ucap Tayuya tiba-tiba.

"Sakura mencintai Sasuke," ucap Shion dan Tenten bersamaan. Mereka bertiga mengangguk dengan ekspresi seakan telah memecahkan suatu masalah dan mereka yakin akan kesimpulan mereka.

"Bagaimana keadaan Sakura ya sekarang? Kalian mau ke UKS menjenguknya?" tanya Tenten menawarkan pendapatnya pada kedua temannya. Shion dan Tayuya saling memandang dan kembali mereka alihkan pandangan mereka pada Tenten. Mereka menyetujuinya dengan anggukan.

"Kita kesana saja sekarang," ajak Tenten menarik tangan Shion dan Tayuya. Mereka bertiga pun akhirnya pergi menuju UKS di mana Sakura berada.

Drrt... Drrt... terasa handphone Tayuya bergetar dan kemudian dia lihat ada satu pesan masuk.

"Tenten, apa lebih baik kita belikan sesuatu untuk Sakura?" tanya Tayuya pada Tenten. Kemudian Tayuya masukkan lagi handphone-nya.

"Hm. Boleh juga, kita ke kantin dulu kalau begitu," jawab Tenten menyetujui. Mereka bertigapun bergegas ke kantin untuk membeli makanan berat dan susu stawberi untuk Sakura.

"Aku belikan susu strawberi saja ya," ucap Tayuya. Shion dan Tenten hanya mengangguk saja. "Semoga dia suka," gumam Tayuya pelan.

Setelah merasa apa yang mereka butuhkan sudah lengkap mereka bergegas ke UKS.

.

.

.

.

"Lapar. Inoooo~" rajuk Sakura pada Ino.

"Aku rasa lebih baik kamu jadi kaya tadi pagi aja deh, kalau tahu bakal kaya gini," ucap Ino meledek Sakura. Yang diledek hanya tertawa renyah. Yah itulah Sakura.

SREEET...

"Shizune-sensei, apa Sakura sudah sehat?"

"Oh. Tenten, Tayuya, dan Shion. Sakura sudah sehat. Ayo masuk," jawab Shizune.

"Lebih dari sehat malah," timpal Ino memunculkan kepalanya dari balik tirai.

"Wah Sakura ada orang yang berbaik hati niih.. " Ino menghampiri mereka bertiga.

"Ini untuk Sakura, Ino. Kami khawatir kalau Sakura belum sarapan," ucap Tenten memberikan makanan dan susu strawberi pada Ino. Mereka pun berjalan menuju kasur Sakura.

"Hai Sakura. Bagaimana keadaamu?" tanya Shion duduk di dekat Sakura.

"Hm. Aku baik-baik saja. Maaf ya membuat kalian khawatir," ucap Sakura tersenyum. "Kalian juga sampai membelikanku makanan. Kebetulan aku sedang lapar... hehehe," sambung Sakura cengengesan. Tenten, Shion dan Tayuya bertukar pandang heran dan merasa terharu. Mereka berhambur memeluk Sakura.

'Ini anak masih bisa tertawa,' batin Tenten.

'Aduh anak ini kuat sekali,' batin Shion.

'Kami-sama padahal tadi pagi dia kaya orang yang stress, tapi dia bisa bangkit lagi,' batin Tayuya.

'Kuatkan Sakura, Kami-sama,' ucap mereka bertiga.

"Sudah Tenten, Shion, Tayuya, aku sudah tak apa-apa. Kalian tidak keberatan'kan kalau aku makan makanan pemberian dari kalian sekarang?" ucap Sakura. Mereka bertiga akhirnya melepaskan Sakura dan membiarkan Sakura makan. Ino yang melihat adegan tadi juga ingin menangis lagi, tapi dia tahan dan tersenyum saja untuk menahan agar air matanya tidak keluar lagi.

"Oh tentu saja," ucap Shion mengusap air matanya dan menunjukkan senyumannya pada Sakura.

Sakura membuka kresek dan mengeluarkan kotak makan dan susu strawberi.

"Wah strawberi. Aku suka sekali strarberi. Terima kasih teman-teman. Siapa yang membelikannya?" ucap Sakura senang.

"Tayuya yang membelikannya," jawan Tenten.

"Terima kasih, Tayuya. Lain kali aku traktir deh. Kalian juga aku traktir ya," ucap Sakura riang.

"Janji yaaa... awas kalau kamu lupa," ancam Tayuya. Dan yang lain, semua tertawa.

Di ruangan itu mereka berbincang-bincang. Banyak yang mereka bicarakan hingga bel istirahat berdering. Merasa Sakura sudah lumayan sehat, akhirnya mereka kembali ke kelas bersama-sama.

'Ternyata tak buruk juga berteman dengan mereka, mengingat mereka bertiga juga suka pada Sasuke dulu,' pikir Ino.

Ino yang berada di belakang Sakura yang sedang mengobrol dengan Tayuya hanya menyilangkan tangan dan terus mengikuti mereka, dia hanya tersenyum melihat tingkah Sakura yang bisa bangkit secara tiba-tiba. Tapi rasa khawatir masih ada padanya.

Ketika Sakura, Ino, Shion, Tenten, dan Tayuya masuk kelas dengan canda tawa. Semua mata memandang mereka. Merkeapun ikut terdiam. Dan tiba-tiba...

"Sakuraaaa~ kamu sudah baik-baik saja? Tadi pagi kamu kenapa?" ucap salah seorang siswi berambut hitam sebahu.

"Yo Sakura. Kamu membuat kami khawatir sekali," ujar laki-laki bertato di pipi, Kiba.

"Iya. Kalau ada apa-apa kamu bisa cerita pada kami."

"Benar. Kalau tak ada Sasuke 'kan masih ada aku," ucap seorang anak laki-laki yang memiliki hasil tebal dan mata yang bulat. Menepuk dadanya.

Pletak!

"Kalau ngomong itu ngaca dulu, Baka!" Kepala Lee dijitak oleh Kiba sekuat mungkin. Lee meringis kesakitan dan mengusapi kepalanya untuk menetralisir rasa sakit di kepalanya.

"Sakit, Kiba!" bentak Lee.

Sakura merasa terharu dengan perlakuan teman-temannya yang benar-benar mengkhawatirkan keadaannya. Melihat tingkah laku Lee dan Kiba membuat air mata yang tadinya akan keluar dari kelopak mata Sakura kini tak jadi keluar karena ulah Lee dan Kiba yang menurutnya cukup menghibur.

"Terima kasih teman-teman sudah mengkhawatirkan keadaanku. Aku sadar tak baik terus berlarut-larut dalam kesedihan. Walau berat harus ditinggal pergi oleh Sasuke, hiks... aah, kenapa sih keluar air menyebalkan ini, hehehe... (Sakura mengusap air matanya)" ucapan teriam kasih Sakura menambah keharuan di ruang kelas 10-1. Beberapa siswa ada juga yang menangis dan tak bisa melihat Sakura, tak kuasa menahan sedih.

"Ah.. kalian tidak lapar? Ayo kita makan, sudah ah.. Tayuya, Tenten, Ino, Shion kalian juga, ayo kita makan. Kalian pasti lapar," Sakura berbalik pada mereka berempat dan menarik merka semua satu persatu ke bangku mereka masing-masing.

Semua juga kembali ke bangku merka masing-masing sekedar menghargai Sakura yang sudah kembali ceria lagi. Mereka kembali pada aktivitas merka seperti sedia kala. Sakura dan yang lainnya memakan bekal mereka masing-masing. Dan Sakura hanya memperhatikan mereka sambil sesekali mengambil makanan dari mereka bermepat.

'Sepertinya Sakura mendapat teman baru,' batin Naruto yang melihat dari balik pintu kelas 10-1. Naruto dan Sakura berbeda kelas.

"Naruto-kun, apa tak sebaiknya kamu beritahu Sakura tentang itu?" tanya Hinata yang berada tepat di samping Naruto.

"Entahlah Hinata-chan. Aku juga bingung. Aku takut kalau aku memberitahunya, Sakura akan kembali tepuruk karena mengetahui kenyataan yang sebenarnya," jawab Naruto yang berbalik dan menatap Hinata.

"Kalau begitu kita ke atap sekolah. Keburu bel masuk," ajak Hinata pada sang kekasih.

"Yep. Ayo," ucap Naruto setuju. "Ngomong-ngomong sekarang kamu bawakan aku apa, Hinata-chan?" sambung Naruto mengikuti Hinata dari samping.

"Naisho!*" jawab Hinata tak ingin menjawab pertanyaan Naruto. (*Rahasia)

"Eh. Maen rahasia-rahasiaan," ucap Naruto dan mencubit pipi Hinata gemas. Yang dicubit malah jadi memerah mukanya dan terkikik.

.

.

.

oOo

.

.

.

Di ruang Operasi

"Apa tidak ada harapan lagi, dok," ucap salah satu asisten dokter itu.

"Tidak. Kita tak boleh menyerah," sanggah sang dokter. Dan yang lainnya juga mengikuti setiap instruksi dari sang dokter yang menangani Sasori.

Sai dan Sasuke dari tadi sabar menunggu jalannya operasi yanghgampir 3 jam ini. Menunggu pertanda keluarnya roh Sasori dari wadahnya –jasad.

"Kapan kau mati sih, Sasori?" geram Sasuke yang sepertinya sudah kehabisan kesabaran. Kemudian dia keluar. Dia melihat di luar sana masih ada wanita merah itu. Dia mondar-madir tak karuan. Sepertinya dia juga sudah tak sabar. Baru kali ini Sasuke melihat orang yang gelisah seperti ini. Lalu dia memutuskan untuk bersandar di dinding dan tatapannya kosong. Seperti menerawang.

"Sasori. Jangan tinggalkan aku. Aku belum mengucapkan kalau aku mencintaimu, hiks..." ucap Karin.

Dan ucapan tersebut membuat Sasuke terkejut, dia kira orang yang bernama Sasori itu adalah adiknya. Tapi dugaan Sasuke dan Sai ternyata salah. Wanita ini tidak memiliki hubungan darah, dia hanya wanita yang mencintai orang yang ada di dalam itu, Sasori yang sedang bertarung melawan maut. Tapi keinginan Sasuke untuk menyampaikan perasaannya yang membuatnya egois. Dia juga harus menyampaikan kata-kata itu pada Sakura.

'Gadis itu pasti sangat mengkhawatirkan orang yang di dalam, tapi Sakura lebih penting dari apapun,' ucap Sasuke dalam hati.

Sasuke mendekat pada Karin. Dia tahu kalau Karin tidak akan bisa melihatnya tapi setidaknya dia ingin mengucapkan sesuatu pada Karin.

Sasuke melirik papan nama yang ada di jaket yang dikenakan oleh Karin. Di sana tertulis namanya.

'Sarutobi Karin. Jadi namanya Karin,' ucap Sasuke.

"Hey. Karin, sepertinya kamu tak memiliki kesempatan untuk mengatakan perasaanmu. Maaf, kalau kau berasa di posisiku, kau juga akan mengerti bagaimana berharganya dia untukku, seperti Sasori untukmu. Maafkan aku. Aku tahu kau tak bisa melihat dan mendengar ucapanku. Maaf, tapi keputusanku sudah bulat," ucap Sasuke panjang lebar. "Asal kau tahu, aku jarang mengucapkan kata maaf pada orang lain. Apa lagi pada orang yang baru akau kenal sepertimu. Ini semua karena ocehan seseorang yang membuatku berubah, meski semuanya sudah terlambat. Aku tak memintamu memaafkan ku. Sekali lagi maaf," lanjut Sasuke lagi dan diapun kembali masuk ke ruang operasi.

Sasuke kembali ke dalam dan mendapati tubuh Sasori sudah sangant memucat.

"Selamat Sasuke," ucapan selamat dia dapatkan dari Sai.

"Dia sudah meninggal?" tanya Sasuke memastikan. "Dia?!" Sasuke terkejut dengan seseorang yang berada di belakang Sai. Kenapa bisa?! Rambut merah dan mata hazel itu memandang Sasuke dengan tatapan tajam.

"Dia...?! Sai!"

"Jadi kau yang namanya Sasuke?" tanya orang di belakang Sai yang tak lain dan tak bukan adalah...

.

.

.

.

.

Bersambung...

.oOo.


Aku harap kalian puas dengan chapter kali ini...

Dan MAAAAAF... updatenya terlalu lama...

Satu tahun dari 2013 samapi 2014 ...! O-O

Reader : Thor, please deh udah berapa lama belajar matematika? -_- yang gitu aja gak bisa ngitung

Author : Udah 12 tahun... hehehehe biar terlihat didramartisir (apa?)

Makasih yang udah review dan silent readers. Terima kasih atas koreksinya dan komentarnya.

Alany Rien, Always Sasusaku19, Maruyama Harumi, Febri Feven, hanazono yuri, Eysha CherryBlossom, sofi asat, dan Lukireichan,

Arigatou gozaimasu, minna-san

Well, well mind to RnR? ^_^