Republish

Naruto © Masashi Kishimoto

Save Me © Thia Nokoru

.

* Save Me *

.

Chapter 8,

Pintu rumah kecil itu sudah terbuka lebar. Langit yang gelap, perlahan-lahan mulai disinari oleh cahaya matahari yang mulai menampakkan sinarnya. Sebuah mobil, melaju perlahan dan berhenti di depan rumah kecil itu.

"Mereka sudah bangun sepagi ini? Kupikir, mereka masih tertidur, haha…" gumam seorang laki-laki yang baru saja turun dari dalam mobilnya.

Laki-laki itu adalah Itachi. Itachi sengaja datang ke tempat Sasuke sepagi ini untuk menjemput Sasuke dan Sakura pulang ke rumahnya. Itachi hanya berpikir, tidak baik, anak-anak seperti Sasuke dan Sakura jauh dari jangkauan orang dewasa. Walau sebenarnya usia mereka sudah menginjak kata dewasa, mungkin?

"Sasuke? Sakura?"

Sebelum Itachi masuk ke dalam rumah kecil itu, rumah yang Sasuke sewa hanya untuk beberapa hari saja, Itachi mengetuk-ngetuk pintu rumah. Karena tidak ada sambutan dan suara dari dalam rumah, Itachi pun langsung masuk ke dalam rumah.

"Sasuke? Sakura?"

Itachi terus memanggil Sasuke dan Sakura, tidak ada jawaban sama sekali. Melihat sebuah kamar yang pintunya sudah terbuka, Itachi pun segera berjalan ke arah kamar itu.

"Sasuke? Kau ada disini?"

Dilihatnya di ranjang kasur, ada Sasuke yang terlihat sedang tertidur.

"Sasuke? Kau masih tidur? Tapi, kenapa pintu rumahmu terbuka seperti itu? Apakah Sakura sedang keluar?" gumam Itachi.

Itachi berjalan mendekat ke Sasuke. Tampak sekali wajah Sasuke yang sangat pucat. Lalu, dilihatnya ada bercak darah di balik kepala Sasuke. Itachi pun dengan segera mengecek kondisi Sasuke, masih bernapas. Dengan cepat, Itachi menggendong Sasuke ke mobilnya dan segera membawa Sasuke ke rumah sakit. Tanpa mengetahui penjelasan Sasuke, sepertinya Itachi sudah bisa membaca apa yang telah terjadi kepada Sasuke dan Sakura.

.

Suasana di sebuah ruangan yang serba putih ini sangat tegang. Aura kemarahan keluar dari seorang laki-laki yang terlihat sangat marah bercampur khawatir jadi satu.

"Kau sudah berbuat BODOH! Kau tahu itu, Sasuke?!"

"…."

"Kau pikir kau itu hebat? Lihatlah sekarang, apa yang telah terjadi!"

"Maafkan aku, Ayah…"

"Haahh… bersyukurlah kalau kau hanya luka ringan. Kalau kau sampai tidak selamat bagaimana?"

"Maaf…"

Fugaku marah karena Sasuke telah bertindak seorang diri dan tidak mengabari keluarganya. Apalagi, Sasuke sampai mengalami kejadian seperti ini. Bersyukur, kata dokter kalau Sasuke hanya luka ringan akibat pukulan, dan pukulan itu hanya menyobek sedikit kulit kepala Sasuke. Tidak ada luka serius yang Sasuke dapat.

"Kalau sampai Ibu-mu tahu masalah ini, dia pasti akan menangis tidak ada hentinya. Untungnya Mikoto masih tinggal di rumah Kakek-mu."

Ya, Sasuke tidak sampai berpikir kesana. Kalau saja ibunya tahu masalah ini, ibunya pasti akan terus menangis karena kelakuannya ini.

"Tapi Ayah… aku mohon, ijinkan aku pergi…" Sasuke menatap Fugaku dengan sangat berharap.

"Tidak! Kau harus istirahat di rumah sakit!" tegas Fugaku.

"Ayah, aku sudah tidak apa-apa, tolonglah ijinkan aku pergi…" mohon Sasuke kembali.

"Itachi, jaga adikmu! Jangan sampai dia keluar dari rumah sakit sebelum lukanya sembuh!" Fugaku tidak mau mendengar permohonan dari Sasuke. Fugaku tahu, Sasuke sangat ingin menolong perempuan itu. Tapi, lihat kondisinya dulu, Sasuke sedang terluka, walau hanya luka ringan. Dan Sakura, Sakura sudah bersama dengan bibinya. Jadi, seharusnya masalah sudah selesai, kan? Soal Sakura dijadikan pelacur atau tidak, Fugaku tidak tahu mau melakukan apa untuk perempuan itu.

Itachi yang sejak tadi terdiam dan hanya menatap ayah dan adiknya, setelah Fugaku keluar dari ruangan rawat Sasuke, Itachi menghampiri Sasuke di ranjang kasurnya. Itachi tidak tega juga melihat Sasuke yang sangat ingin menolong Sakura. Entah apa yang sekarang Anko lakukan kepada Sakura di rumahnya, membayangkannya saja Itachi tidak mau. Terlalu mengerikan, mungkin?

"Sasuke, kau disini saja. Urusan Sakura, biar aku yang urus." ucap Itachi.

"Itachi…" Sasuke menatap Itachi dengan tatapan memohon.

Melihat sisi lain dari sikap Sasuke yang seperti ini membuat Itachi tersenyum. Demi adik kesayangannya itu, Itachi akan melakukan apa saja untuk Sasuke.

"Tenang saja, Sasuke. Aku akan membebaskan Sakura dari Anko." ucap Itachi tersenyum.

Itachi duduk di sebelah ranjang Sasuke. Sepertinya Sasuke hari ini bisa langsung pulang ke rumahnya.

.

Gelap, hitam, tidak ada cahaya sama sekali. Itulah yang Sakura lihat saat kedua matanya terbuka. Sakura hanya pingsan selama 2 jam saja. Sakura sadar, Sakura sudah ditangkap oleh anak buah Anko. Dan Sakura kini berada di sebuah ruangan sempit tanpa penerangan lampu sama sekali. Kedua tangannya diikat dengan kencang. Sakura tahu tempat di mana dia dikurung. Ini adalah ruang bawah tanah yang ada di rumah Anko. Menyadari apa yang kini telah terjadi, air mata kembali menetes dari kedua mata Sakura. Sakura menangis. Apa yang harus dia lakukan sekarang? Apalagi, bagaimana keadaan Sasuke saat ini disana? Apakah benar kalau Sasuke sudah mati?

"Tidak! Aku tidak boleh berpikiran seperti itu!"

Karena terus menangis dan merasa lelah, akhirnya Sakura tertidur di kamar ruang bawah tanah itu sampai pagi hari menjelang.

Jam 8 pagi, Kabuto sudah datang ke rumah Anko. Setelah mencumbu mesra dengan Anko, Kabuto menatap Anko dengan manja.

"Anko, dimana keponakanmu itu? Bolehkah aku bersenang-senang dengannya saat ini?" Kabuto menatap Anko dengan seringai mesumnya.

"Kau… mau bersenang-senang dengan Sakura?" tanya Anko.

"Ya, untuk melanjutkan kegagalanku waktu itu. Boleh tidak?" kata Kabuto.

Anko terlihat berpikir. Setelah itu Anko menyeringai kepada Kabuto. Melihat seringaian Anko yang seperti itu, Kabuto langsung tersenyum kepada Anko.

"Silahkan saja. Puaskan dirimu dengan Sakura. Jadikan ini sebagai pelajaran untuk Sakura, hahaha…" Anko tertawa dengan sangat senang. Tidak adakah sedikit rasa kasihan kepada Sakura?

"Sayangku memang sangat baik, terima kasih…"

Kabuto memeluk Anko, dan kembali mencumbu Anko di ruang tamu rumah Anko. Anko pun dengan senang hati melayani nafsu dari Kabuto. Setelah mencium Anko dengan puas, Kabuto berdiri dan meninggalkan Anko yang sudah mengijinkannya untuk menyentuh keponakannya yang masih suci itu.

"Aku harus keluar dari sini!"

Sakura yang sudah terbangun dari tidurnya, mulai berpikir untuk bisa keluar dari ruang bawah tanah ini. Pasti, akan ada seseorang yang akan datang ke ruang bawah tanah ini untuk melihat keadaannya. Mungkin, hanya itu cara bisa keluar dari ruangan gelap ini. Apalagi, Sakura sempat mencuri alat kejut listrik milik salah satu anak buah Anko itu. Sebelum Sakura dibuat pingsan, Sakura melihat ada alat kejut listrik di dekatnya. Jadinya Sakura mengantongi alat kejut listrik itu.

Cklek… trek…

Baru saja dipikirkan, pintu ruang bawah tanah ini seperti ada yang sedang membukanya. Sakura dengan segera berpura-pura tidur di kasur. Dengan mengintip sedikit, Sakura melihat ada seseorang yang sedang turun dari tangga.

Kabuto turun melewati tangga. Di pojok ruangan yang kecil ini, dengan sinaran cahaya yang masuk dari pintu, Kabuto bisa melihat kalau Sakura sedang tertidur di kasur. Kabuto menyeringai, ia sudah tidak sabar ingin merasakan tubuh Sakura yang cantik itu.

Sakura sangat terkejut kalau ternyata Kabuto-lah yang datang. Bukan anak buah Anko. Apa yang akan Kabuto lakukan padanya? Tenang, Sakura harus tetap tenang.

"Sakura sayang… kau sudah bangun?" Kabuto berjalan mendekat ke ranjang Sakura.

Sakura dengan segera bangun dan duduk menatap tajam pada Kabuto. "Apa yang kau lakukan disini?!" tanya Sakura tajam.

"Hehehe… jangan menatapku seperti itu. Kau terlihat sangat menakutkan. Aku datang kemari, karena aku ingin kita bersenang-senang… aku ingin sekali menikmatimu…" ucap Kabuto dengan tatapan mesumnya.

Sakura juga sempat berpikir seperti itu saat melihat Kabuto. Pasti Kabuto ingin melakukan hal kotor dengannya. Tidak mau, Sakura tidak mau bila bukan dengan orang yang dia sukai. Kalau saja kedua tangan Sakura tidak terikat, Sakura pasti akan dengan mudah menyerang Kabuto. Tapi, Sakura harus bisa menyerang Kabuto dan kabur dari tempat ini. Sakura harus bisa mengandalkan dirinya sendiri.

"Jangan takut kepadaku. Aku akan membuatmu menikmatinya, dan kau pasti akan merasa bahagia…" ucap Kabuto lembut.

"Haahh… kau ingin bersenang-senang denganku?" Sakura menghelakan napasnya dengan berat lalu bertanya kepada Kabuto.

"Tentu saja aku mau." jawab Kabuto sambil duduk di sebelah Sakura.

"Kalau begitu, tolong lepaskanlah ikatan di tanganku ini. Sakit sekali. Aku tidak akan melawanmu…" mohon Sakura pasrah.

Melihat ekspresi Sakura yang sudah pasrah, Kabuto menuruti apa permintaan Sakura. Karena terbawa perasaan yang ingin segera menyentuh Sakura, Kabuto tidak terpikirkan bisa saja kalau Sakura memberontak setelah ia lepaskan ikatan tali di tangan Sakura. Yah, terkadang seseorang bisa berubah menjadi bodoh atau mungkin memang sudah bodoh? Sejahat, sekejam, sepintar, atau sebodoh, seorang laki-laki bila sudah terjerat wanita cantik pasti akan langsung tunduk pada wanita cantik itu. Bagi beberapa orang saja, mungkin?

Kabuto dengan segera melepaskan ikatan tali pada kedua tangan Sakura. Setelah ikatan tali terlepas, Kabuto tersenyum puas karena akhirnya ia bisa menikmati Sakura. Sakura sangat takut, biarlah permainan ini mulai berjalan dengan perlahan. Sakura tidak akan memberikan kesuciannya untuk laki-laki seperti Kabuto ini. Dengan perlahan kedua tangan Kabuto mulai memeluk Sakura dan membawa Sakura dalam pelukannya erat. Setelah puas merasakan tubuh Sakura dalam pelukannya, Kabuto membaringkan Sakura di ranjang. Sakura takut, tapi Sakura akan berusaha bersabar sampai Sakura bisa lepas dari Kabuto. Kabuto dengan segera naik ke atas ranjang dan menindih tubuh Sakura. Melihat Sakura yang tidak melawan sama sekali, Kabuto dengan segera mendekatkan wajahnya pada wajah Sakura. Melihat Kabuto yang ingin menciumnya, Sakura menengadahkan kepalanya, hingga akhirnya leher Sakura lah yang dicium oleh Kabuto. Kabuto kesal karena Sakura menghindar, memberikan lehernya untuk dicium oleh Kabuto. Tapi, tidak apalah, Kabuto pun dengan penuh nafsu menciumi leher putih Sakura hingga meninggalkan bercak-bercak merah di leher Sakura.

"Aku harus segera melepaskan diri dari laki-laki ini! Ini sangat menjijikan!" ucap Sakura dalam hati.

Sakura tidak suka, ini terlalu menjijikan. Sakura dengan segera meraih alat kejut listrik yang ada di kantong bajunya.

.

"Itachi, aku tidak bisa menunggu diam disini terus. Perasaanku sangat tidak enak. Seluruh leherku terasa sangat panas sekali. Aku mau menemui Sakura. Aku tidak bisa menunggu sampai esok hari ataupun setelah aku keluar dari rumah sakit!"

Sasuke yang tadinya tenang, tiba-tiba saja merasakan panas di seluruh lehernya. Pikirannya tertuju pada Sakura. Apa yang sedang terjadi kepada Sakura? Perasaan apa yang sangat membuat dirinya menjadi panik dan tidak tenang seperti ini? Tanpa menunggu persetujuan dari Itachi, Sasuke segera bangun dari tidurnya di ranjangnya. Turun dari ranjangnya, dan segera berlari keluar dari kamar rawatnya. Itachi bisa mengerti keadaan Sasuke, jadinya Itachi tidak melarang kepergian Sasuke. Itachi pun segera menyusul Sasuke. Mungkin lebih baik masalah ini diselesaikan hari ini juga, pikir Itachi. Kini, Itachi dan Sasuke menaiki mobil dan segera menuju rumah Anko.

.

Sakura mendapatkan alat yang dicarinya. Sebuah alat kejut listrik berbentuk persegi empat, Sakura tersenyum melihat alat kejut listrik yang sudah ada di tangannya. Sedangkan Kabuto tidak menyadari karena masih asik menikmati leher Sakura. Sakura menekan tombol ON, dan menyentuhkan alat kejut listrik itu ke punggung belakang Kabuto. Dengan segera Kabuto berteriak kencang dan langsung ambruk di atas tubuh Sakura.

"Wow, kecil-kecil sungguh mengerikan!" seru Sakura.

Sakura dengan segera melepaskan diri dari tindihan tubuh Kabuto. Bersyukur Sakura mengambil alat kejut listrik itu dari salah satu milik anak buah Anko. Sekarang, Sakura harus bisa kabur dari rumah Anko.

Di dekat kediaman rumah Anko, terlihat ada seseorang di balik sebuah pohon besar yang tumbuh dekat dengan kediaman rumah Anko. Shikamaru. Ya, perasaan Shikamaru menyuruhnya untuk datang ke rumah Anko. Shikamaru tidak tahu untuk apa, tapi akhirnya ia mengikuti perasaannya dan disinilah sekarang Shikamaru, mengintai rumah Anko.

Sakura menaiki tangga dan keluar dari ruangan bawah tanah. Sakura mengintip, sepertinya tidak ada orang di dekatnya. Sakura dengan perlahan berjalan menuju kamarnya, mungkin saja ada beberapa barang yang ingin dibawanya kabur? Tapi, tidak mungkin membawa barang, akan menyulitkannya untuk kabur. Uang? Ya, walau sangat sedikit jumlahnya, Sakura mengambil uang yang diam-diam ditabungnya itu. Setelah mengambil uangnya, Sakura membuka jendela kamarnya. Karena jendela kamarnya menghadap ke samping rumah Anko, jadi para penjaga rumah Anko tidak akan bisa melihatnya. Sakura mengintip ke luar dari jendela kamarnya. Tidak ada orang di samping rumah Anko. Sakura pun dengan segera keluar dari jendela kamarnya.

Shikamaru yang terus memperhatikan rumah Anko, pandangannya menangkap seseorang yang melompat keluar dari jendela di samping rumah Anko. Shikamaru sangat terkejut karena orang itu adalah Sakura. Berbagai pertanyaan hadir dalam pikiran Shikamaru. Tapi, lupakan pertanyaan-pertanyaan itu. Yang penting sekarang, Shikamaru tahu kalau Sakura ingin kabur dari rumah itu.

Sakura mengedarkan pandangannya ke sekeliling, memastikan tidak ada orang yang melihatnya sudah keluar dari rumah. Sakura tahu, kalau ia harus melewati halaman depan baru Sakura benar-benar bisa kabur. Tapi, di halaman depan rumah banyak sekali anak buah Anko, mungkin? Sakura belum melihatnya. Bagaimana ini?

Shikamaru melihat Sakura yang sedang bingung untuk keluar dari rumah itu. Shikamaru sangat berharap kalau Sakura bisa melihat dirinya yang ada di sebrang rumah Anko. Ah! Beruntungnya! Akhirnya Sakura bisa melihat Shikamaru yang sedang bersembunyi di balik pohon. Sakura sangat senang melihat Shikamaru yang ada disana. Shikamaru memberi kode kepada Sakura untuk tetap disana. Sakura mengerti, Shikamaru punya rencana untuknya. Tidak terasa, lagi-lagi air mata keluar dari kedua mata Sakura tanpa diperintahnya. Ini bukan air mata kesedihan, tapi air mata bahagia. Bahagia karena ada Shikamaru yang akan menolongnya.

Shikamaru memperhatikan para penjaga rumah Anko itu. Sekitar 6 orang yang ada di luar. Shikamaru berjalan mendekat ke rumah Anko, para preman penjaga rumah Anko itu menatap Shikamaru dengan tajam.

"Kau lagi. Mau apa kau?!" tanya salah satu preman itu.

"Dimana Sakura?" tanya Shikamaru tenang.

"Dia tidak ada! Bukankah kalian yang membawanya pergi, heh?" kata preman itu sambil menyeringai.

Sakura mengintip dari balik tembok samping, sepertinya semua perhatian para penjaga itu tertuju pada Shikamaru. Sakura mengerti, Shikamaru mengalihkan perhatian mereka dan Sakura akan keluar dengan perlahan-lahan tanpa diketahui oleh mereka.

Shikamaru terus bertanya-tanya kepada preman itu. Diliriknya Sakura, Shikamaru memberi kode kepada Sakura untuk segera keluar dari rumah Anko. Sakura pun mengangguk. Dengan perlahan Sakura berlari keluar dari halaman depan rumah Anko. Di dunia ini mungkin tidak ada yang 100% sempurna. Sayangnya, salah satu anak buah Anko itu melihat Sakura yang sedang berlari keluar dari halaman depan rumah Anko.

"DIA KABUR!" seru anak buah Anko itu sambil menunjuk ke arah Sakura.

Shikamaru menepuk jidatnya. Beberapa anak buah Anko langsung berlari mengejar Sakura. Sisanya, mereka segera menyerang Shikamaru. Keributan pun terjadi. Untungnya, Shikamaru bisa bela diri. Dengan cekatan Shikamaru menghajar para preman itu. Shikamaru tidak takut sama sekali.

"KYAAAA…"

Sakura tertangkap kembali. Sakura diseret masuk oleh anak buah Anko itu. Sakura memberontak, tapi sulit sekali untuk melepaskan diri dari anak buah Anko ini.

Akhirnya, Itachi dan Sasuke segera tiba. Melihat Sakura yang sedang diseret masuk oleh para anak buah Anko itu, Sasuke segera keluar dari mobil dan berlari menghampiri Sakura yang sedang diseret. Dihajarnya para anak buah Anko yang menyeret Sakura. Setelah Sakura terlepas dari anak buah Anko, Sasuke segera menarik Sakura kepadanya.

"Sasuke?!" Sakura tidak percaya kalau kini Sasuke ada di depan matanya. Ternyata Sasuke belum mati. Sakura sangat lega.

"Sakura, cepat masuk ke dalam mobil Itachi!" teriak Sasuke.

Sakura melihat Itachi, dan Sakura pun segera menghampiri Itachi. Kini, Shikamaru dan Sasuke sedang berkelahi dengan para anak buah Anko itu.

"Itachi-nii, bagaimana ini? Nii-san dan Sasuke berkelahi, aku harus apa…?" Sakura menangis kembali. Sakura sungguh tidak tahu harus bagaimana. Shikamaru dan Sasuke sedang berkelahi. 2 lawan 6 orang, kenapa jadi seperti ini?

Itachi menghelakan napasnya dengan panjang. Itachi menatap Shikamaru dan Sasuke yang sedang berkelahi. Itachi pun menatap Sakura yang sudah berlinangan air mata dengan tubuh bergetar.

"Haahh… terpaksa…" keluh Itachi.

Itachi mengambil telepon genggamnya dan menekan nomor singkat yang diketahuinya.

Sakura tidak mengerti apa yang dilakukan oleh Itachi. Tapi, Itachi malah tersenyum kepadanya.

"Tenang saja, Sakura. Sebentar lagi polisi akan datang…" ucap Itachi sambil mengelus kepala Sakura dengan lembut.

Shikamaru dan Sasuke terlihat sudah tidak bisa lagi untuk bertahan. Walau mereka bisa melawan, tapi jumlah yang mereka hadapi tidak seimbang. Dari kejauhan, terdengar suara sirine polisi yang semakin mendekat. Tiga truk mobil polisi datang dan berhenti di depan rumah Anko. Polisi-polisi dengan jumlah 10 orang itu menodongkan senjatanya agar mereka semua berhenti untuk berkelahi.

Akhirnya, para preman-preman itu menyerah dan menurut untuk masuk ke dalam truk mobil polisi. Polisi itu pun masuk ke dalam rumah Anko, menyeret Anko yang sedang ada di kamarnya untuk ikut. Dan para polisi itu juga menemukan Kabuto yang sedang pingsan di ruang bawah tanah.

"SAKURA! KAU MEMANG SAMA SAJA DENGAN ORANGTUAMU ITU! KALIAN SELALU MEMBUATKU MENDERITAAA!" teriak Anko pada Sakura.

Melihat Anko yang diseret oleh polisi, membuat Sakura sangat sedih.

"Maafkan aku, Bibi…" Sungguh, bukan kemauan Sakura melihat bibinya masuk penjara.

"Kita selesaikan ini di pengadilan." ucap salah satu polisi itu kepada Itachi. Itachi hanya mengangguk saja.

Tiga mobil truk itu pun akhirnya pergi membawa Anko, Kabuto, dan para anak buah Anko. Sakura masih menangis, menangis karena bibinya akan di penjara.

"Sudah berakhir, Sakura…" Sasuke berjalan mendekat pada Sakura. Sakura menatap Sasuke yang kini tersenyum kepadanya.

"Eh? Lehermu kenapa?" tanya Sasuke. Sasuke terkejut melihat banyak sekali bercak-bercak merah di leher putih Sakura.

"Err…" Duh, Sakura bingung mau bilang bagaimana? "Ta-tadi… ta… tadi… err…" Sakura jadi gugup dan merasa takut untuk mengatakannya. "Tadi Kabuto… Kabuto…" Duh, Sakura sulit sekali mengatakan kalau Kabuto telah menciumi lehernya. Sakura takut kalau Sasuke akan membenci dirinya. Bagaimana ini?

Melihat Sakura yang gugup dan takut, apalagi ada nama Kabuto yang keluar dari mulut Sakura. Sasuke mengerti apa yang telah dilakukan Kabuto kepada Sakura.

"DASAR MANUSIA BRENGSEK! UGHHH… KALAU BERTEMU LAGI, MENYESALLAH KAU BERHADAPAN DENGANKU!" teriak Sasuke marah dan geram.

Sakura terkejut mendengar Sasuke yang berteriak seperti itu. Sasuke terlihat sangat marah, dan itu terlihat menakutkan.

"Sasuke… Sasuke… dia hanya mencium leherku saja… aku tidak diapa-apain lagi, kok! Saat Kabuto menciumi leherku, aku bisa membuat Kabuto pingsan dengan alat kejut listrik yang aku pakai!" Semoga saja penjelasan Sakura bisa menenangkan emosi Sasuke.

"Air! Mana air?! Ini harus dihilangkan!" Sasuke terlihat tidak terima dengan apa yang Kabuto lakukan kepada Sakura. Sasuke mencari air, lalu Sasuke masuk ke dalam mobil dan menemukan air putih dalam botol minuman.

Byuurrr…

Entah apa yang ada dipikiran Sasuke saat ini. Setelah mendapatkan air, Sasuke segera menyiramkan air itu ke leher Sakura dan menggosok-gosok bercak-bercak merah itu agar hilang.

"Sasuke! Bajuku basah!" Sakura tidak menyangka apa yang telah dilakukan Sasuke kepadanya.

Itachi dan Shikamaru yang sejak tadi hanya menonton saja, kini mereka berdua tertawa terbahak-bahak melihat kelakuan Sasuke yang seperti itu.

"Sasuke, memangnya Sakura siapamu? Sampai kau tidak terima kalau Sakura dicium oleh Kabuto, hah? Apalagi, sampai membersihkan bekas ciuman Kabuto seperti itu… hahaha…" ledek Shikamaru.

"Iya, yang seharusnya marah itu adalah Shikamaru. Karena Shikamaru adalah kakaknya Sakura. Kau kan bukan siapa-siapanya Sakura… hahaha…" Itachi juga ikut berkomentar meledek Sasuke.

Diledek seperti itu membuat Sasuke sadar dengan apa yang telah dilakukannya. Wajah Sasuke memerah padam. Sasuke merutuk dalam hatinya kalau dirinya telah berbuat bodoh dan memalukan. Sasuke membuang wajahnya ke samping, Sasuke tidak mau Sakura melihat wajahnya yang terlihat bodoh dan memalukan ini. Sakura yang melihat perubahan Sasuke, membuat Sakura tertawa, Sasuke terlihat lucu sekali.

"Hahaha… kau lucu sekali, Sasuke…" Sakura tiba-tiba saja tertawa lepas. Sakura menertawakan Sasuke. Melihat Sakura yang menertawakannya seperti itu, membuat Sasuke semakin malu saja.

Sasuke, Shikamaru, dan Itachi, melihat Sakura yang sudah bisa tertawa lepas seperti itu, sangat lega dalam perasaan masing-masing. Mereka melihat wajah Sakura yang terlihat senang. Beban dan penderitaan Sakura yang selama ini diterimanya, seolah-olah itu tidak pernah dialami oleh Sakura. Sakura sudah bebas. Sakura juga, tidak menyangka kalau dirinya sudah bisa tertawa lepas. Ini adalah pertamakalinya Sakura merasakan kesenangan seperti ini sejak orangtuanya tiada. Rasanya sangat ringan, bebas, dan menyenangkan. Sakura tinggal menata kembali kehidupan barunya ini. Kehidupan baru, semangat baru, untuk menuju masa depan yang lebih baik lagi. Semoga kau berbahagia Sakura…

TAMAT?

REPUBLISH

27 APRIL 2014

A/N :

Lanjut atau tidak? XD #plak

Nyo, bagaimana? Suka gak? Kalau suka terima kasih, kalau tidak suka, nikmati saja… hahaha… :D

Terima kasih banyak buat kalian yang masih setia membaca fanfic ini dan mereview fanfic ini dan menjadikan fanfic ini sebagai fav lagi ataupun yang baru fav… hehehe… ^^v

Karena chapter 7 itu sebenarnya saya potong jadi 2 chapter, jadinya yang harusnya tamat di chapter 8, jadi chapter 9, masih ada 1 chapter lagi, ditunggu, ya… ^O^

Terima kasih buat kalian yang sudah mereview chapter 7, ya… :D

" Gilang363, ntika blossom, QRen, Jeremy Liaz Toner, hanazono yuri, december tania , Aiko Asari, rose, o.O rambu no baka, Alifa Cherry Blossom"

Maaf lagi, gak balas satu-satu… ^^a udah malem, hampir jam 12 malem… ngantuk… saya senang dan sangat berterima kasih karena sudah mau mereview, ya… terima kasih banyak… :D

Sampai jumpa deh di chapter 9… Be happy… ^O^/

Review? :3