Republish
Naruto © Masashi Kishimoto
Save Me © Thia Nokoru
.
* Save Me *
.
Chapter 9,
Proses persidangan berjalan dengan lancar. Itachi-lah yang mengurus semuanya di persidangan. Anko, Kabuto, dan para anak buah mereka, tidak bisa lepas dari hukum. Sebelum Sakura meninggalkan ruang persidangan, Sakura menghampiri Anko yang kini menatap Sakura dengan penuh kebencian.
"Aku akan selalu datang mengunjungi Bibi…"
Sakura sedih melihat Anko akan dikurung di penjara. Anko tidak perduli Sakura mau datang mengunjunginya atau tidak. Yang Anko rasakan saat ini adalah perasaan bencinya kepada Sakura semakin dalam, dalam, dan tidak berdasar.
"Kau kini bebas dari siksaanku! Sekarang akulah yang tersiksa disini! Aku benci padamu, Sakura! Benci! Benci sekali padamu! Kalian selalu membuat aku menderita!"
Anko mengeluarkan semua amarahnya kepada Sakura. Pihak polisi, tidak mengijinkan Anko untuk berbicara kepada Sakura terlalu lama. Dengan sedikit paksaan-pun Anko dibawa oleh polisi dan akan dimasukkan ke penjara. Sakura menangis sedih melihat bibinya di bawa oleh polisi. Sungguh, itu sangat menyakitkan. Siapa yang mau hidup di penjara? Semua orang tidak ada yang ingin hidup di penjara.
Shikamaru menghampiri Sakura yang masih menangis, dan memeluk Sakura dengan erat. Rumah Anko kini ditahan oleh polisi, karena Sakura tidak ingin tinggal di sana. Kalau Sakura mau tinggal di rumah Anko, boleh-boleh saja.
Setelah semuanya selesai, Shikamaru membawa Sakura bersamanya.
.
T_N
.
"Jadi, semuanya sudah selesai?"
Uchiha Fugaku menatap kedua anaknya yang kini sedang duduk santai bersamanya di ruang keluarga. Setelah beberapa hari lalu mereka berdua sibuk mengurusi masalah seorang perempuan, rasanya rumahnya sepi sekali.
"Ya, sudah selesai. Aku sudah bilang, ini hanya masalah kecil." Itachi menggampangkan sekali. Membuat Sasuke mendelik menatap kakaknya itu.
"Kecil apanya, hah? Ini masalah besar untuk Sakura!" Sasuke tidak terima kalau masalah Sakura dibilang kecil oleh Itachi.
"Hahaha… memang kecil, kok! Panggil polisi, beres, deh…" Itachi sangat santai mengucapkannya.
Ya, Itachi sudah memikirkannya. Awalnya Itachi akan memberikan Anko uang, bawa Sakura pulang dan jadi adiknya, selesai. Tapi, ternyata adiknya kena kekerasan juga. Itachi pun sebenarnya sudah menghubungi polisi untuk segera datang ke rumah Anko saat Itachi dan Sasuke berada di rumah sakit. Karena Sasuke bersikeras ingin ke rumah Anko, Itachi pun mengikuti keinginan Sasuke. Sampai di tempat tujuan, ternyata sudah terjadi keributan. Itachi pun menghubungi polisi kembali, menanyakan kalau mereka sudah sampai dimana? Ternyata sudah dekat dari rumah Anko. Makanya Itachi santai saja menonton adiknya dan Shikamaru yang berkelahi itu.
"…."
Sasuke terdiam mendengar kata Itachi. Memang, sebenarnya cara untuk memanggil polisi tidak terlintas sama sekali di pikiran Sasuke. Tapi, kalaupun terlintas di pikirannya, bagaimana dengan Sakura? Sakura pasti tidak mau berurusan dengan polisi. Lain lagi kalau akhirnya Itachi-lah yang mengurus semuanya. Sudahlah… jangan dipikirkan lagi. Sekarang sudah selesai. Apapun caranya, sekarang Sakura sudah tenang.
"Apakah perempuan itu gadis baik-baik?" Sambil menikmati secangkir kopi hitam, Fugaku ingin mendengar cerita tentang perempuan yang anaknya selamatkan itu.
"Hn. Sakura gadis yang baik dan pintar." Sasuke menjawabnya dengan yakin.
"Kalau begitu, besok, bawalah ia kemari. Ayah ingin melihatnya…"
Sasuke sangat terkejut, kenapa ayahnya ingin ia membawa Sakura ke rumahnya? Yah, kalau untuk mengucapkan terima kasih karena sudah ditolong oleh keluarga Uchiha rasanya sih memang perlu. Tapi, apakah ayahnya itu akan melakukan hal yang lain? Sasuke sudah berpikiran yang buruk saja.
Itachi tahu kalau Sasuke merasa khawatir ayahnya ingin melihat Sakura. Untuk membuat suasana tidak kaku seperti ini, Itachi pun menggoda Sasuke.
"Calon adik ipar, nih… Calon menantu akan datang ke rumah ini besok, hihihi…" Itachi senang sekali menggoda Sasuke.
Sasuke yang mendengar godaan Itachi, sukses membuat wajah Sasuke memerah dan menjadi gugup. Sasuke segera melempar bantal sofa di dekatnya dan tepat mengenai wajah Itachi.
"Sudah, kalian berdua ini, masih saja seperti anak kecil. Sasuke, kau menyukai perempuan itu?" Fugaku hanya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat Itachi yang menggoda Sasuke seperti itu.
"…."
Sasuke terdiam. Kenapa ayahnya bertanya seperti itu? Sudah pasti Sasuke menyukai Sakura, kan? Kalau tidak suka, buat apa Sasuke berkorban menemani Sakura sampai sejauh itu? Lalu, sekarang Sasuke harus mengakui kalau dirinya ini menyukai Sakura di depan ayahnya dan Itachi yang suka menggodanya itu? Di depan Sakura saja Sasuke belum berani mengakui.
"Haahh… hn, aku… menyukainya…" Setelah menghela napas panjang, akhirnya Sasuke mengakuinya dengan wajah yang memerah.
Akhirnya Sasuke mengatakannya, Itachi sudah senyum-senyum menatap Sasuke. Rasanya Itachi semakin ingin menggoda Sasuke saja.
"Haahh… ya sudah, besok bawa dia kesini…" Setelah mengucapkan itu, Fugaku bangun dari duduk santainya dan berjalan menuju kamarnya.
Setelah ayah mereka berdua sudah masuk kamar, Itachi masih terus menatap Sasuke dengan haru.
"Ehem… ehem… adik ipar mau main, nih…" Itachi sudah pasti akan menggoda Sasuke lagi.
Sasuke yang memang sudah malu dan memerah wajahnya, mendelik pada Itachi. "Pergi, kau!" Sasuke mengusir Itachi agar Itachi tidak lagi menggodanya.
.
T_N
.
Rumah berlantai 2 yang sederhana dengan halaman depan yang lumayan luas ini, terparkir sebuah mobil sedan hitam. Di ruang tamu rumah itu, terlihat dua orang laki-laki yang sedang berbincang-bincang.
"Jadi, kau mau mengajak Sakura untuk bertemu dengan Ayahmu?"
"Ya. Ayahku ingin bertemu dengan Sakura. Aku juga tidak tahu mengapa Ayah ingin bertemu dengan Sakura, boleh?"
Shikamaru menatap Sasuke, Shikamaru tahu Sasuke adalah laki-laki yang baik. Shikamaru juga rasanya tidak perlu khawatir kalau Sakura bersama dengan Sasuke.
"Boleh saja. Tunggu sebentar, aku akan memanggil Sakura dulu…"
"Hn,"
Ini adalah pertamakalinya Sasuke berkunjung ke rumah Shikamaru, tempat Sakura tinggal sekarang. Sudah 2 hari sejak persidangan kasus Sakura, Sasuke belum bertemu lagi dengan Sakura. Rasanya berdebar-debar menanti orang yang disukai. Bagaimana keadaan Sakura sekarang? Sasuke tidak sabar ingin segera melihat Sakura. Dan, tidak lama pun Sakura muncul bersama dengan Shikamaru. Kedua mata Sasuke membelalak lebar karena terkejut melihat orang yang kini sudah ada di hadapannya.
"Sa-Sakura?"
"Kau terkejut? Bagaimana? Ini aku, Sasuke…" Sakura tersenyum manis kepada Sasuke yang menatapnya terkejut.
Wajah Sasuke langsung memerah melihat Sakura yang tersenyum dengan sangat manis. Sakura yang sekarang sangat cantik sekali. Wajah Sakura terlihat segar, tidak agak pucat atau lesu seperti dulu. Tubuhnya juga tidak kurus sekali, membuat Sasuke berpikir apakah Sakura banyak makan selama 2 hari ini? Lalu, yang membuat Sasuke terkejut adalah rambut panjang Sakura kini menjadi pendek sebahu. Sakura berubah sekali, tapi Sakura terlihat semakin cantik.
"Kau semakin cantik saja…" gumam Sasuke pelan.
Walau pelan, Sakura masih bisa mendengarnya, dan membuat Sakura merona karena dibilang cantik oleh Sasuke. Begitu juga Shikamaru yang menatap Sasuke, Shikamaru hanya tersenyum saja melihat reaksi Sasuke yang melihat penampilan baru Sakura. Tapi, suasana seperti ini, lebih baik diisi oleh godaan, kan?
"Ne, Sasuke! Cantik, kan? Kau pasti semakin jatuh cinta pada Sakura." Shikamaru menyeringai senang kepada Sasuke.
Melihat Shikamaru yang menyeringai seperti itu mengingatkan Sasuke kepada Itachi yang selalu menggodanya. Sasuke memalingkan wajahnya ke samping karena kini wajah Sasuke semakin memerah padam.
"Hahaha… kau malu, ya?" Shikamaru tertawa melihat Sasuke yang wajahnya sangat merah. "Sudah sana, jangan lama-lama disini, kalian berdua pasti sudah tidak sabar ingin kencan, kan?" Shikamaru langsung mendorong Sakura ke depan, membuat Sakura yang ada di hadapan Sasuke, jatuh menabrak Sasuke.
"Nii-san! Jangan dorong aku seperti ini!" rutuk Sakura yang kini sudah ada dalam pelukan Sasuke.
Gawat, Sasuke semakin malu saja dengan posisinya kini memeluk Sakura. Jantungnya sudah berdebar-debar tidak karuan. Sudah cukup godaan dari Shikamaru. Lebih baik mereka berdua segera pergi dari rumah Shikamaru. Sasuke segera membangunkan Sakura, Sasuke pun bangun dari duduknya dan segera menarik Sakura keluar dari rumah Shikamaru tanpa pamit pada Shikamaru. Shikamaru hanya tertawa sambil menggeleng-gelengkan kepalanya saja. Sakura yang langsung ditarik oleh Sasuke keluar rumah menjadi bingung,
"Sasuke, mau kemana?" tanya Sakura bingung.
"Kita ke rumahku. Ayahku ingin bertemu denganmu."
"EH?" Sakura terkejut. Bertemu dengan ayahnya Sasuke? Deg. Sakura berdebar takut. "Tapi…" Sakura melepaskan tangan Sasuke yang menariknya.
"Ada apa?" tanya Sasuke menatap Sakura yang terlihat gugup. Apakah Sakura takut?
"A-aku… aku ganti baju dulu kalau begitu…"
Sasuke memperhatikan pakaian yang Sakura pakai, sebuah kemeja berwarna merah muda yang senada dengan warna rambutnya, dan sebuah rok payung selutut berwarna biru dongker, hmm… tidak buruk juga menurut Sasuke.
"Tidak apa-apa, seperti itu juga tidak apa-apa."
Sasuke menatap Sakura yakin kalau penampilannya ini tidak buruk. Sebenarnya pakaian bukan masalah besar, Sakura hanya agak takut untuk bertemu dengan orangtua Sasuke. Sakura pun kini sudah menaiki mobil Sasuke dan mereka menuju rumah Sasuke. Selama perjalanan Sakura sangat gugup.
"Jangan gugup seperti itu, Ayahku orang yang baik, kok."
Sasuke tahu, Sakura terlihat gugup. Sakura menoleh ke Sasuke yang masih fokus menyetir. Sakura mengangguk kecil, dan tidak lama pun mereka sampai di kediaman Uchiha.
Sasuke memarkirkan mobilnya di halaman depan rumahnya. Sasuke turun dari mobil diikuti Sakura. Kedua tangan Sakura bergetar, jantung Sakura juga berdebar-debar cepat, agar tidak terlalu terlihat gugup, Sakura mengepalkan kedua tangannya dan menarik napas dengan panjang, lalu dihembuskannya dengan perlahan. Sasuke memasuki rumahnya diikuti oleh Sakura di belakang Sasuke. Walau Sakura pernah menginap di rumah Sasuke, tapi rasanya kali ini rumah Sasuke terlihat asing baginya.
Sampai di ruang keluarga rumah ini, Sakura melihat disana sudah ada banyak sekali orang yang berkumpul. Sudah pasti mereka adalah orangtua Sasuke, kan? Uchiha Fugaku, ayah Sasuke. Uchiha Mikoto, ibu Sasuke yang sudah pulang. Uchiha Itachi, kakaknya Sasuke. Mereka melihat Sasuke dan Sakura yang sudah datang menghampiri mereka. Mereka pun tersenyum ramah menyambut kedatangan Sakura. Sasuke juga ikut tersenyum.
"Se-selamat pagi, perkenalkan, aku Haruno Sakura. Maaf mengganggu atas kedatanganku…" Sakura langsung membungkukkan badannya kepada mereka.
"Sakura-chan, ayo, silahkan duduk dulu…" Mikoto menyuruh Sakura untuk duduk.
"Ba-baik…" ucap Sakura gugup.
Sasuke dan Sakura duduk berhadapan dengan Fugaku dan Mikoto, sedangkan Itachi duduk di sofa samping Mikoto. Sasuke tahu, Sakura gugup, tapi lucu juga melihat Sakura yang terlihat gugup seperti itu. Sasuke melihat tangan Sakura yang sedikit bergetar, Sasuke pun dengan perlahan meraih tangan Sakura yang dekat dengannya, dan digenggamnya erat tangan Sakura. Sakura menoleh pada Sasuke, Sasuke hanya tersenyum tipis pada Sakura. Entah mengapa, perlakuan Sasuke ini membuat rasa gugup Sakura perlahan-lahan menghilang.
"Jadi, kau Haruno Sakura?" Fugaku menatap Sakura tajam. Ditatap Fugaku seperti itu membuat Sakura kembali gugup. Sepertinya Fugaku sedang menilai diri Sakura.
"I-iya…" jawab Sakura gugup.
"Ayah, jangan serius seperti itu. Lihat, Sakura-chan terlihat takut…" ucap Mikoto pelan.
"Ah, maaf… Perkenalkan, aku Uchiha Fugaku, ayahnya Sasuke. Ini adalah Uchiha Mikoto, ibunya Sasuke. Dan kau sepertinya sudah mengenal Itachi, jadi aku tak perlu memperkenalkan Itachi padamu." jelas Fugaku. Sakura mengangguk mengerti.
Menurut Sakura, suara Fugaku yang berat terasa menakutkan, sepertinya ekspresi seorang Uchiha itu memang seperti itu. Sasuke dan Itachi sangat mirip dengan Fugaku. Tapi, terkadang Itachi terlihat seperti Mikoto yang terlihat lebih ramah.
"Aku memanggilmu kesini, hanya ingin melihat perempuan yang ditolong oleh anakku." Fugaku tampak puas melihat Sakura.
"Aku sangat berterimakasih kepada kalian semua, tanpa bantuan kalian, aku tidak tahu bagaimana kehidupanku saat ini." Sakura mengucapkannya dengan sungguh-sungguh.
"Syukurlah, ya, Sakura-chan… sekarang semuanya sudah baik-baik saja…" Mikoto tersenyum. Sakura pun balas tersenyum.
"Tadi, kau bilang kalau kau dari Haruno? Aku baru teringat sesuatu, dulu… aku juga pernah punya seorang teman yang berasal dari Haruno juga. Tapi, sudah lama sekali aku tidak tahu kabar tentangnya…" Fugaku berpikir mengingat sahabat lamanya.
Sakura sepertinya tertarik dengan apa yang dikatakan oleh Fugaku. Jujur… Sakura sama sekali tidak tahu apa-apa tentang keluarga dari ayah dan ibunya.
"Maaf, kalau boleh aku tahu, siapa nama lengkapnya, ya?" tanya Sakura penasaran.
"Kau tertarik?" tanya Fugaku. Sakura mengangguk. Yang lainnya juga sepertinya tertarik.
"Dia adalah sahabatku saat sekolah dulu. Namanya adalah Haruno Orochimaru." Fugaku tersenyum kecil mengingat temannya itu.
Terkejut? Ya, Sakura sangat terkejut apa yang baru saja Fugaku katakan.
"A-Ayah…" gumam Sakura.
Semua mendengar gumaman Sakura. Ayah? Maksud Sakura?
"Ayah?" tanya Fugaku.
"Di-dia… dia adalah Ayahku…" ucap Sakura sedih.
Semua tidak percaya dengan apa yang baru saja didengar mereka. Haruno Orochimaru adalah ayahnya Sakura? Apa arti dari semua ini?
"Benarkah? Kau… kau putri dari Orochimaru? Wah… aku tidak menyangka sama sekali! Dimana dia sekarang?" seru Fugaku.
"Sudah tidak ada…" lirih Sakura.
Fugaku terdiam. Sepertinya Fugaku melupakan apa yang pernah di dengarnya itu. Sakura kan tinggal bersama dengan bibinya yang jahat itu. Kalau ada orangtua, kenapa harus tinggal bersama dengan bibinya?
"Kenapa?" Fugaku ingin tahu, mengapa Orochimaru sudah tidak ada.
"Kecelakaan lalu lintas bersama Ibuku…" jawab Sakura.
"Maaf, aku sudah lama sekali hilang kontak sejak kami berdua lulus dari kuliah. Semoga mereka berdua tenang di alam sana…" Fugaku jadi sedih sekali.
"Sudahlah… Ternyata, dunia itu sempit, ya… Sakura-chan, apa Ibumu bernama Tsunade?" Mikoto tersenyum kepada Sakura.
"Kenapa bisa tahu? Apakah kalian mengenal kedua orangtuaku?" tanya Sakura tidak percaya.
"Kami berdua adalah teman orangtuamu… Ternyata Tsunade dan Orochimaru bisa bersatu juga, ya…" Mikoto terlihat senang sekali.
Ya, dunia memang sempit. Sakura tidak menyangka kalau orangtuanya dan orangtua Sasuke adalah sahabat baik saat sekolah.
"Kalian berdua setelah ini mau jalan-jalan, kan?" tanya Mikoto lagi.
"Eh?" Sakura tidak tahu.
"Hn. Aku mau pergi dengan Sakura." jawab Sasuke tenang.
"Yang mau kencan… Sakura-chan, harus banyak sabar, ya, punya pacar seperti Sasuke…" goda Itachi.
Sakura memerah wajahnya dan segera menggelengkan kepalanya dengan cepat. "A-aku… aku dan Sasuke tidak pacaran, kok!"
"Apa? Jadi, Sasuke belum jadi pacarmu? Sasuke belum bilang kalau dia suka padamu?" tanya Fugaku tidak percaya. Bagaimana bisa? Payah sekali anaknya itu.
Sasuke malu sekali ayahnya bicara seperti itu. Sakura juga semakin memerah wajahnya mendengar kata-kata Fugaku.
"Arrggg… kalian ini! Ayo, Sakura, kita pergi saja!" Sasuke tahu, kalau mereka masih disana, mereka akan terus digoda. Lebih baik mereka segera pergi saja.
Sasuke segera menarik Sakura keluar dari rumahnya. Sampai di luar rumah Sasuke, Sakura menatap Sasuke dengan wajahnya yang masih memerah.
"Kenapa?" tanya Sasuke malu.
"Ti-tidak," jawab Sakura malu.
"Memangnya kenapa kalau aku suka kepadamu, hah?" ucap Sasuke cuek dan memalingkan wajahnya ke samping.
"Eh? Jadi… benar?" tanya Sakura malu.
"Sudahlah, cepat masuk ke dalam mobil." Sasuke sudah sangat malu. Sasuke segera membukakan pintu mobil untuk Sakura, dan Sakura pun segera masuk ke dalam mobil.
Sakura tidak tahu Sasuke mau membawanya kemana, selama perjalanan tidak ada yang berbicara sama sekali. Mereka berdua terlihat malu-malu dengan wajah yang masih merona.
"Sudah sampai, ayo, turun…"
Sasuke turun dari mobilnya, Sakura pun turun dari mobil. Sakura melihat tempat yang mereka kunjungi, ini adalah Taman Sakura. Sasuke menghampiri Sakura dan segera menggandeng tangan Sakura. Mereka berdua memasuki Taman Sakura. Di sepanjang jalan ditanami pohon-pohon Sakura yang kini sedang musim berbunga. Indah sekali bisa melihat bunga Sakura yang sudah mekar.
"Kau masih ingat saat pertamakali kita bertemu?" tanya Sasuke memecah kediaman mereka.
"Hn, di bawah pohon sakura di halaman belakang sekolah." Sakura mengingat pertemuan mereka.
"Kau tahu, awal aku melihatmu waktu itu, aku sudah tertarik kepadamu. Dulu… aku adalah seorang laki-laki yang tidak mau tahu urusan tentang perempuan. Tapi, setelah bertemu denganmu, aku selalu memperhatikan dirimu dalam diam." Sasuke mengungkapkannya.
Sakura tidak menyangka kalau Sasuke sudah tertarik dengannya sejak dulu. "A-aku juga… kau tahu, aku juga menyukaimu sejak pertamakali kita bertemu Sasuke…" Sakura mengucapkannya dengan malu.
Sasuke terkejut, ternyata Sakura juga sama seperti dirinya. "Haahh… kenyataan itu… kejam, ya… hahaha…" Sasuke tertawa pelan. "Tapi, kenyataan itu juga sebuah kebahagiaan…" Sasuke tersenyum pada Sakura.
"Sasuke…" Sakura menatap Sasuke yang menatapnya dengan lembut.
Mereka berdua berjalan di bawah pohon-pohon sakura yang bermekaran, Sasuke menggenggam erat tangan Sakura, langkah jalan mereka berdua mulai terhenti, Sasuke berdiri di hadapan Sakura, mendekatkan wajahnya dengan wajah Sakura, sampai akhirnya kedua bibir mereka bersentuhan. Tidak lama, Sasuke pun menyudahi ciumannya pada Sakura. Wajah Sakura merona merah, Sakura menyentuh bibirnya yang baru saja dicium oleh Sasuke. Tiba-tiba saja angin bertiup dengan sangat kencang, membuat kelopak-kelopak bunga Sakura berjatuhan dan terbang terbawa angin. Pemandangan ini seperti saat pertamakali Sasuke bertemu dengan Sakura.
"Cantik," Sasuke tersenyum sambil mengelus pipi Sakura dengan lembut.
"Sasuke… sudah, ah… aku malu…" Sakura menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
"Kau adalah kekasihku. Jadi, tidak perlu malu seperti itu…" Sasuke terkekeh pelan melihat Sakura yang malu.
"Tapi, apakah aku pantas untukmu? Aku sangat senang bisa dekat denganmu. Tapi, aku masih agak ragu kalau aku ini pantas untukmu, Sasuke…" Sakura sedih dan ragu.
"Aku hanya mau denganmu, aku ingin kau terus ada di sampingku, selamanya… apakah kau masih mau berpikir kalau kau pantas atau tidak, hah?" Sasuke seperti anak kecil yang merajuk.
"…." Entahlah, masih ada keraguan dalam diri Sakura.
"Sakura… kau meragukanku?" tanya Sasuke.
Sakura menggelangkan kepalanya. Meragukan Sasuke? Rasanya tidak akan. Sakura percaya dengan Sasuke. "Bagaimana dengan keluargamu?" Sepertinya Sakura melupakan sesuatu.
"Hei, kau lupa? Bukankah saat kau datang ke rumahku mereka menyambutmu dengan baik? Aku rasa mereka menyetujui hubungan kita." jelas Sasuke.
"Tapi—"
"Sudah cukup. Tidak ada lagi pertanyaan. Aku menyukaimu, kau juga menyukaiku. Aku akan selalu menjagamu, menyayangimu, selamanya. Itu adalah janjiku." ucap Sasuke serius.
"Hihihi… kau lucu sekali Sasuke…" Melihat Sasuke yang sudah serius seperti itu, menurut Sakura sangat lucu. Sasuke takut sekali kalau Sakura tidak mau dengannya.
"Jangan tertawa! Aku serius, Sakura!" gerutu Sasuke kesal.
"Tentu saja. Tentu saja aku mau Sasuke… bersama dengan orang yang disukai adalah impian semua perempuan di dunia." Sakura tersenyum manis pada Sasuke.
Cup
Sasuke mengecup bibir Sakura sekilas.
"Ih, kau ini!"
"Haha… Nona Sakura, maukah kau bersamaku?" Sasuke mengulurkan tangannya pada Sakura.
"Tentu," Sakura menerima uluran tangan Sasuke.
Mereka berdua kembali menikmati pemandangan di Taman Sakura. Berjalan berdua sambil bergandengan tangan, serasa dunia ini hanya milik mereka berdua. Sampai disini kah akhir cerita dari mereka berdua?
.
T_N
.
Upacara penerimaan mahasiswa dan mahasiswi baru di Universitas Konoha sangat ramai. Setelah upacara selesai, Sasuke dan Ino yang sejak bertemu dengan Sasuke, Ino selalu mengekori Sasuke kemana pun Sasuke pergi, mereka berdua menjadi pusat perhatian di Universitas. Uchiha Sasuke yang tampan, dan Yamanaka Ino yang cantik. Mereka berdua menjadi pusat perhatian karena mereka dikira sepasang kekasih. Dari kejauhan, Sasuke melihat seseorang yang dikenalnya. Sasuke pun segera menghampiri orang itu.
"Shikamaru!" Sasuke memanggil Shikamaru.
Merasa ada yang memanggil namanya, Shikamaru pun menoleh dan melihat Sasuke yang berjalan menghampirinya. "Hoiii… Sasuke!" panggil Shikamaru juga.
"Akhirnya, kau masuk sini juga…" Shikamaru menyeringai senang.
"Hn," respon Sasuke.
"Ehem… kok aku tidak kau sapa?" Ino cemberut pada Shikamaru yang sama sekali tidak dipandangnya.
Shikamaru melihat Ino yang ada di samping Sasuke. "Ah, kau perempuan yang berisik itu, kan?" Shikamaru tersenyum pada Ino.
Ino cemberut pada Shikamaru. "Aku bukan perempuan berisik, tau! Namaku Yamanaka Ino!" Ino sedikit berteriak di depan Shikamaru.
"Ya, ya, ya… Aku hanya bercanda saja, kok. Lama tidak bertemu, bagaimana kabarmu?" Shikamaru mengelus-ngelus kepala Ino dengan lembut sambil tersenyum.
Perlakuan Shikamaru ini membuat jantung Ino memompa lebih cepat dan wajahnya merona sedikit. Ino pikir, setelah lama tak bertemu dengan Shikamaru, perasaannya akan kembali normal lagi. Tapi, ternyata perasaannya belum hilang. Melihat Shikamaru yang tampan itu, membuat Ino berdebar. Apalagi, bila dimanja oleh Shikamaru seperti ini, membuat Ino tidak bisa apa-apa.
"Sakura tidak ada, apa dia tidak masuk sini?" tanya Sasuke.
"Kau ini kan kekasihnya. Masa kau tidak tahu, Sasuke?" tanya Shikamaru balik.
"APA? Tunggu! Kau bilang kalau Sakura kekasihnya Sasuke, begitu?" Ino tidak salah dengar, kan?
"Kalau iya, kenapa?" kata Sasuke cuek.
"Kok aku baru tau! Oh, ya! Mana Sakura? Bagaimana kabarnya sekarang?" tanya Ino senang.
"Kemana saja kau selama ini, hah?" tanya Shikamaru.
"Hahaha… setelah lulus, aku kembali ke rumah lamaku." jawab Ino.
"Sakura sekarang tinggal bersamaku. Dia baik-baik saja. Kalau kau mau bermain bersama Sakura, kau boleh, kok, datang ke rumahku…" ucap Shikamaru.
"Waahh… senangnya! Aku masih bisa bertemu dengan Sakura!" seru Ino senang.
"Tapi, sepertinya kalian berdua akan sulit untuk bisa bertemu dengan Sakura." kata Shikamaru.
"Kenapa?" tanya Sasuke.
"Kau tidak diberitahu Sakura, Sasuke? Sakura kan mengambil kuliah malam. Pagi sampai sore ia akan bekerja, dan malam harinya ia baru kuliah." jelas Shikamaru.
"Kenapa?! Kenapa kau biarkan Sakura bekerja, hah? Kalau soal biaya, aku bisa membiayai kuliah Sakura!" Sasuke terlihat marah pada Shikamaru. Sasuke tidak mau melihat Sakura bekerja. Sasuke jadi teringat saat Sakura berkerja di café Anko.
"Kau ini mudah sekali emosi, Sasuke. Aku dan keluargaku juga sudah bilang kepadanya, keluargaku juga masih sanggup membiayai kuliah Sakura. Hanya saja, Sakura tidak mau menerimanya. Sakura berpikir kalau dirinya sudah terlalu merepotkan banyak orang, kali ini Sakura mau berusaha sendiri. Aku dan keluargaku hanya bisa menerima keputusan Sakura. Tapi, kau tenang saja. Sakura bekerja di tempat yang baik, tidak seperti café malam milik Anko dulu." jelas Shikamaru.
"Sakura…" Sasuke kesal, Sakura tidak membicarakan hal ini kepadanya.
"Padahal… kalau bisa bersama-sama dengan Sakura lagi, pasti sangat menyenangkan…" Ino sedih Sakura harus kuliah malam. "Pokoknya, waktu kosong Sakura akan aku ambil untuk bertemu dengan Sakura!"
"Tidak boleh. Sakura harus bersamamu." kata Sasuke.
"Siapa yang duluan, dia yang dapat Sakura!" Ino tidak mau kalah.
"Sakura milikku, jadi Sakura harus bersamaku terus." kata Sasuke.
"Ih, dasar pelit! Kau ini, seperti anak kecil!" Ino memukul bahu Sasuke.
"Biar saja…" Sasuke cuek.
"Haahh… kalian berdua ini… sudahlah…" Shikamaru hanya menghelakan napasnya saja melihat tingkah Sasuke dan Ino yang seperti itu. Sepertinya kehidupannya akan selalu dihadiri oleh dua orang yang membuatnya pusing ini.
.
T_N
.
"Selamat datang di Café Cake Fruits," Sakura mengenakan kostum maid berwarna biru dongker yang sangat cantik. Dengan senyum manisnya, Sakura menyambut para tamu yang datang berkunjung untuk mencicipi berbagai macam kue buah di café kecil ini.
TAMAT
REPUBLISH
9 JUNI 2014
A/N :
Haaaaiiiii… apa kabar semuaaaa…? ^O^)/
Kalau soal EYD dan TANDA BACA, saya tahu dan SADAR BANGET, banyak yang SALAH, hehehe… :D
Rate M untuk kekerasan, tidak ada lemon-lemonan, hahaha… :P
Chapter ini pendek dengan ending yang berbeda dari cerita sebelumnya, hahaha… XD
Mungkin agak mengecewakan dengan chapter terakhir ini ^^a gakpapalah…
Saya sungguh-sungguh berterima kasih buat semua yang sudah membaca ulang dan yang baru membaca, yang menjadikan fanfic save me ini favorite, buat yang diam-diam membaca fanfic ini juga terima kasih, love you all… :*
Saya gak janji bakal buat lanjutan dari fanfic ini. Pastinya kalau dilanjut, dengan judul yang berbeda :D Kalau sudah selesai publish fanfic yang lain, semoga saya bisa bikin lanjutan save me, ya… ^^v
Nyo, cuma ingin tahu aja, hayooo… siapa aja yang hadir membaca fanfic ini…? Kasih tahu kehadiran kalian ya… ^O^
Yang review chapter 8,
hanazono yuri, hanahimechan, ntika blossom, Aiko Asari, Jeremy Liaz Toner, Guest, natsu, Alifa Cherry Blossom, Kumada Chiyu, Eagle onyx, Gilang363, gittaharuno, matsuo, YashiUchiHatake, nyaaaa, Chini VAN, Guest, cherryl.
Terima kasih banyak sudah mengikuti sampai chapter terakhir ini. Review kalian semua bikin saya senang, hahaha… makasih, ya… :D Saya senang kalau kalian juga senang Yang minta sekuel, nanti ya… saya gak janji kapannya, tapi saya buat kok… ^^ Semoga aja sekuelnya nanti membuat kalian semua puas dengan ending dari Save Me ini, ya… :D
Yeay~ sudah selesai… sampai jumpa di sekuel Save Me dengan judul yang berbeda, ya… ^O^)/
Bye~
Be happy all… :D
