Arufi Rizuki Yoshida
.
.
.
...40 Days Confession...
...
...Chapter 5...
...
...Warning...
OOC, Gaje, Monoton maybe, Aneh pula, alur terlalu lambat (gpp), Gariing
.
.
And typo(s) everywhere
.
.
Will and it always be,
Naruto always belong to Masashi Kishimoto-sensei
.
.
.
.
.
The story by Arufi Rizuki Yoshida
.
.
.
Full of Sasuke POV
.
.
Please enjoy it
.
.
.
SasuSaku
.
.
Di episode sebelumnya...
"Hey. Karin, sepertinya kamu tak memiliki kesempatan untuk mengatakan perasaanmu. Maaf, kalau kau berada di posisiku, kau juga akan mengerti bagaimana berharganya dia untukku, seperti Sasori untukmu. Maafkan aku. Aku tahu kau tak bisa melihat dan mendengar ucapanku. Maaf, tapi keputusanku sudah bulat," ucap Sasuke panjang lebar. "Asal kau tahu, aku jarang mengucapkan kata maaf pada orang lain. Apa lagi pada orang yang baru akau kenal sepertimu. Ini semua karena ocehan seseorang yang membuatku berubah, meski semuanya sudah terlambat. Aku tak memintamu memaafkan ku. Sekali lagi maaf," lanjut Sasuke lagi dan diapun kembali masuk ke ruang operasi.
"Selamat Sasuke," ucapan selamat dia dapatkan dari Sai.
"Dia sudah meninggal?" tanya Sasuke memastikan. "Dia?!" Sasuke terkejut dengan seseorang yang berada di belakang Sai. Kenapa bisa?! Rambut merah dan mata hazel itu memandang Sasuke dengan tatapan tajam.
"Dia...?! Sai!"
.
.
.
.
.
.
"Jadi kau yang namanya Sasuke?" tanya orang di belakang Sai yang tak lain dan tak bukan adalah...
Shinigami lainnya? Penampilannya sama saja seperti Sai memakai pakaian putih-putih, hanya dia memakai kacamata hitam. Sasuke sadar, rambut merah dan mata hazel itu hanya khayalan Sasuke belaka. Apakah ini bukti bahwa Sasuke sudah tak memiliki kesabaran sehingga membayangkan orang yang di belakang Sai adalah Sasori, betapa Sasuke ingin mengambil alih tubuh Sasori untuk dia gunakan sebagai 'wadah' untuk mendekati Sakura kembali. Melihatnya lagi, bersamanya lagi, dan mengungkapkan persaannya.
Sasuke's POV
"Ya. Aku Sasuke. Ada yang salah?" aku menjawab shinigami berkacamata hilam itu. Lalu aku menatap Sai untuk mencari jawaban yang mungkin saja keluar dari mulutnya itu. Tapi yang ada dia hanya diam menatapku seolah bertanya "Hm? Apa?" dan mengangkat bahunya.
Akhirnya si shinigami kacamata hitam itu menjawab pertanyaanku. Siapa dia sebenarnya?
"Sepertinya kau penasaran siapa aku sebenarnya, Sasuke?" ucapnya yang kini berjalan menghampiri. Baru satu langkah, sosoknya sudah hilang. Aku terkejut. Aku mengedarkan pandanganku ke seluruh ruangan. Tapi shinigami tadi tak ada di mana pun.
Aku beralih lagi menatap Sai. "Dia di mana?" tanyaku pada Sai, dan kulihat dia hanya menunjukkan ekspresi datar.
"Di belakang, Sasuke!" ucap suara tadi, tapi bukan suara Sai. Reflek. Aku menoleh ke belakang dan mendapati si shinigami benar-benar di belakangku dengan wajah yang lebih condong ke depan. Hampir saja!
"Huwaa!" aku berteriak kaget dibuatnya. Aku sedikit –ah tidak- aku langsung mundur, sebenarnya terjungkal ke belakang saking kagetnya.
"Aku Shino. Wujud lain yang selalu bersama anak itu," ucapnya memperkenalkan diri dan tersenyum lebar. Dia mengulurkan tangannya sebagai salam perkenalan. Aku pun meraih tangannya dan berjabat tangan sedikit ragu. 'Anak itu? Maksudnya Sasori?' batinku.
"Kurasa aku tak perlu memperkenalkan diri, karena kau sudah tahu siapa aku," balasku. Lalu kami melepaskan jabat tangan kami bersamaan. "Apa harus seperti itu setiap kalian ingin memperkenalkan diri, huh?" sambungku kesal dan sekilas menatap Sai kemudian beralih lagi kepada Shino.
"Oh. Tidak juga. Aku hanya ingin menjahilimu. Lagi pula ini pertama kalinya aku keluar dari raga Sasori," timpalnya.
"Apa? Tunggu! Kau shinigami 'kan?" tanyaku tak mengerti dengan apa yang diucapkan oleh shinigami –jika memang dia shinigami– yang ada di hadapanku sekarang.
"Shinigami?" tanyanya balik. Terlihat sepertinya dia sedang melihat ke arah Sai. Aku pun menoleh untuk mencari penjelasan dari Sai.
"Aaa... Itu.. sebenarnya. Yaah Sasuke, jad–" ucapannya dipotong olehku secara sepihak.
"Apa maksudnya? Kau berbohong? Kau bukan Shinigami yang kau ceritakan itu?"
"Haah... begini, Sasuke. Jadi Sai tidak, tidak menjelaskan apapun tentang semua ini?" tanya Shino. Kedua tangannya dia angkat berserta bahunya terangkat.
"Tentang kalian yang ternyata bukan shinigami?" tanyaku balik. Shino mengangguk mengiyakan.
"Perhatikan sekelilingmu, Sasuke," ucapnya lagi. Sesuai dengan apa yang dikatakan oleh Shino, aku perhatikan sekelilingku.
Tunggu! Kenapa semua orang tetap pada posisinya, tetap sama ketika aku memasuki ruangan ini.
Di sana, Sasori memang terlihat sudah meninggal. Ini menguatkan asumsiku dengan melihat alat detak jantung yang menunjukkan angka nol, yang kemungkinan besar Sasori sudah tiada. Ditambah para dokter yang terlihat menunduk dengan ekspresi kekecewaan dan sedih. Apa ini? Seakan-akan mereka membeku. Aku melihat ke arah jam dinding, dan jarum jam tak menunjukkan pergerakkan yang berarti. Apakah rusak? Tidak, di dalam sebuah ruang operasi sangat dibutuhkan jam dinding sebagai pengingat, sangat dibutuhkan apabila sang pasien meninggal dapat memudahkan sang dokter mengetahui kapan tepatnya sang pasien telah berpulang.
Lalu aku keluar lagi untuk melihat keadaan di luar ruangan. Dan aku lihat, wanita itu –Karin- masih tetap sama dalam posisi setelah aku meninggalkannya dan mengucapkan hal tadi. Lalu aku kembali secepat kilat ke dalam ruang operasi lagi, tetap sama.
Baiklah. Aku mengerti dengan kondisi di sekitarku. Jam dinding yang berhenti menandakan bahwa seseorang yang memiliki kemampuan khusus dapat menghentikan waktu. Mungkin lebih tepatnya bukan seseorang, tapi salah satu dari kedua makhluk yang berada di kiri kananku. Salah satu dari mereka memiliki kekuatan ini.
Kembali aku menatap mereka bergantian lalu mendesah. Baik! Aku mengerti.
"Haah... baik aku mengerti dengan keadaan di sini. Siapa kalian sebenarnya? Coba jelaskan. Aku siap dengan 'ketidak' masuk akalan yang akan kalian terangkan padaku. Tapi secara garis besar aku mengerti apa kalian sebenarnya. Yang aku mengerti, salah satu dari kalian memiliki kekuatan khusus untuk mengentikan waktu," ucapku final.
Aku melirik Sai, tapi dia malah memalingkan wajahnya dan menyilangkan tangan di dadanya. 'Baik, kalau kamu tak mau menjelaskannya, Sai' ucapku padanya lewat pikiranku.
Lalu aku berpaling kepada Shino yang tetap tenang dari tadi. Sepertinya dia yang akan menjelaskan semua kebingungan ini. Tepatnya kau yang bingung sendiri karena tak mengerti dengan keadaan sekarang, dan shinigami –yah aku panggil shinigami saja dulu- ku tak seakan enggan memberi penjelasan lebih jauh. Apa ada yang dia sembunyikan? Hn..
"Baik. Kau saja yang jelaskan, Shino. Aku tak butuh shinigami tak berguna seperti dia," sengaja aku mengucapkan kalimat itu sambil meliriknya sinis. Dan selintas dia seakan ingin protes, tapi dia tak sanggup melawan mungkin karena dia merasa seperti itu, tak berguna.
"Baiklah. Kami adalah Souls," ucap Shino mulai menjelaskan. "Setiap manusia memiliki Souls masing-masing. Sewaktu manusia masih hidup, mereka tak bisa melihat kami. Kami adalah bagain dari kalian para manusia. Kemana pun, kapan pun, apapun yang kalian lakukan, kami juga mengetahuinya. Wujud kami ada yang berbeda dari wujud manusianya, contohnya seperti Sai dan aku. Adapula yang memiliki wujud yang sama dengan wujud manusianya. Tapi itu jarang sekali. Oh, dan kami memiliki nama kami masing-masing," lanjutnya.
"A! Satu lagi. Kami memilki kekuatan khusus yang berbeda-beda. Contohnya seperti kekuatan Shino, dia bisa menghentikan waktu," ucap seseorang yang dari tadi diam saja, Sai.
"Lalu kekuatanmu?" tanyaku sedikit sinis padanya.
"Kau tak akan percaya dengan apa yang akan aku ucapkan, Sasuke," jawabnya memalingkan wajah.
"Oh aku tahu. Kau bisa membaca pikiran seseorang! Benar?" tebakku. Aku yakin pasti tidak akan salah. Karena sebelum kami menemukan Sasori dia sempat membaca pikiranku.
"Coba kau berbicara sesuatu lewat pikiranmu," perintah Sai aku pun heran. Kenapa?
'Apa lagi? Aku benar 'kan? Sai?' ucapku dalam pikiranku sendiri sambil menatap Sai meminta kepastian.
"Apa yang dia ucapkan, Shino?" tanya Sai pada Shino, sontak aku mengangkat alis dan beralih lagi kepada Shino.
"Apa lagi? Aku benar 'kan? Sai?" ucap Shino, tepat dengan apa yang aku ucapkan pada Sai hal dalam hati.
"Kau juga bisa membaca pikiran seseorang?" tanyaku kaget.
"Semua Souls bisa membaca pikiran arwah sepertimu, juga Souls lainnya," ucap Sai. Dia terliat murung. 'Hah, apa peduliku,'
"Kau memang tak peduli apapun," sepertinya pikiranku terbaca oleh Sai.
"A.. Go-gomen," aku tertunduk. "Jadi apa kekuatan yang kau miliki?" tanyaku lagi karena masih penasaran. Tapi Sai enggan menjelaskan dengan mengalihkan pembicaraan.
"Shino, sebenarnya masih ada yang ingin kamu jelaskan 'kan?" ucap Sai yang sekarang melayang mendekati Shino. Oke, penjelasan yang lain.
"Ah iya. Kau mengingatkanku tentang hal itu, tapi kurasa hal ini bisa dijelaskan nanti setelah apa aku bicarakan dengamu tadi," sepertinya Shino melupakan hal yang penting.
"Kalian memiliki perjanjian?" tanyaku penasaran.
"Ya. Sebenarnya anak itu, Sasori nyawanya sudah tak bisa tertolong lagi dan seharusnya dia sudah keluar dari raganya, tapi entah mengapa yang keluar hanya aku," ucap Shino seperti orang kebingungan. "Dan setelah aku keluar dari raga Sasori, yang pertama aku lihat adalah Souls lain yang sedang memperhatikan Sasori sedari tadi, ya aku melihatnya dari pertama Sasori dilarikan ke rumah sakit. Aku bisa merasakan kekuatan yang luar biasa dari Sai, dia memiliki kekuatan istimewa sebenarnya. Dan aku memerlukan kekuatannya demi anak ini, karena aku selalu bersamanya semenjak dia terlahir ke dunia fana ini," lanjut Shino. Dia menatap Sai penuh harap dan yang ditatap juga menampilkan ekspresi sendu.
"Apa kekuatanmu yang sebenarnya, Sai? Katakan padaku," ucapku sambil menepuk bahunya.
"Aku bisa memberikan kehidupan pada orang yang sedang sekarat, memberi mereka harapan hidup yang lebih baik, itupun hanya berlangsung singkat," jawabnya. Dia tertunduk seperti tak menginginkan kekuatannya ini.
"Apa? Lalu kenapa tidak kau lakukan padaku, Sai? Kalau aku tahu dari awal, ak-" ucapanku langsung dipotong oleh Sai dengan wajah penuh tekanan.
"Itu tak berlaku padamu, Sasuke. Ini juga merupakan keistimewaan yang dimiliki oleh Klan Uchiha sepertimu, setiap Souls yang bersama para Klan Uchiha memiliki dua sampai tiga kekuatan sebenarnya, dan kekuatan yang selalu bersama para Souls dari Klan Uchiha adalah memberi kehidupan dan harapan hidup," sergah Sai penuh emosi disetiap perkataannya, seakan ada yang dia tahan tapi dia enggan mengungkapkannya. "Dan semua itu ada imbalannya," lanjut Sai sendu.
"Apa konsekuensinya?" tanyaku yang juga terbawa emosi, sebenarnya aku ingin sekali marah padanya karena dia tak menjelaskan kekuatannya sejak awal kami bertemu tapi aku tahan karena melihat ekspresi di wajah Sai.
Shino hanya terdiam mendengar penjelasan lain dari Sai dan dia pun baru mengetahui bahwa ada konsekuensi jika memberi harapan hidup pada yang lain. Tapi mau apa lagi, Shino pun harus memberi harapan hidup pada Sasori.
"Ada dua kemungkinan, kau menjadi arwah jahat dan aku akan menghilang. Atau kau tetap seperti sekarang dan tetap bersamamu, tapi waktu penantianmu akan dikurangi," jawab Sai.
"Dikurangi? Berapa lama?" tanyaku.
"Sesuai dengan berapa lama harapan hidup yang aku berikan pada sang penerima harapan, yang tentunya semua harus dengan izinmu," jawab Sai lagi mantap.
"Shino? Berapa lama?" tanyaku pada Shino yang sedari tadi fokus pada percakapan kami dan mungkin banyak hal yang kini sedang pikirkan.
"Aku hanya ingin memberi Sasori kesempatan supaya dia bisa menyampaikan perasaannya pada Karin, gadis yang sedang menangis di luar itu, kau juga pasti sudah melihatnya," jawab Shino yang terlihat sendu menatap Sasori. "Setelah itu Sasori bisa keluar dari raganya," Shino mengucapkan kalimat itu sambil melihat padaku.
"Tapi aku ingin memasuki raga Sasori setelahnya, apa kau keberatan?" tanyaku lagi.
"Itu... apa bisa? Jika Sasori mengizinkan, tapi untuk apa kau membutuhkan raga Sasori untuk kau masuki?" jawab Shino dan berbalik bertanya padaku.
"Aku memiliki tujuan yang sama dengan Sasori, dan sisa waktuku tinggal satu bulan lagi," jawabku mantap.
Namun tiba-tiba ada cahaya putih yang menyilaukan mataku, otomatis aku menutup sebelah mataku dan melihat ke arah cahaya itu datang. Setelah cahaya itu meredup dan menampakkan sesosok laki-laki berbadan tegap denang berdiri (melayang) di hadapan kami bertiga.
'Siapa lagi ini? Jangan bilang masih ada makhluk aneh lainnya,' batinku.
Setelah mataku terbuka keduanya, aku terkejut karena orang yang sedari tadi dibicarakan kini ada di hadapanku dan kedua Souls di samping kanan-kiriku. Iya, dialah orang yang sedari tadi menjadi bahan perbincangan beberapa menit yang lalu. Aku lihat masih menutup matanya, kepalanya sedikit tertunduk. Rambut merah menyalanya agak berantakan namun itulah yang menambah kesan keren jika dia masih hidup, baik aku kaui itu tapi aku lebih keren dari dia pastinya (Hey Sasuke! Sejak kapan kamu jadi narsis begitu? #plak). Pasti itulah yang akan ada di pikiran para gadis jika melihatnya. Ditambah wajahnya yang awet muda, atau biasa disebut baby face.
Akupun terkejut, bukannya kata Shino dia masih ada dalam raganya?
Ataukah Sasori benar-benar sudah meninggal sekarang? Kalau memang seperti itu, aku harus bagaimana?
"Sasori!" tiba-tiba suara Shino memecahkan keheningan yang beberapa detik yang lalu tercipta. Mungkin Sasori mendengar ada yang memanggil namanya maka dari itu Sasori mulai membuka matanya. Aku lihat dia perlahan-lahan membuka mata dan mengerdip-ngedipkan matanya sekedar menyesuaikan cahaya yang mulai memasuki retina matanya. Setelah dia bisa menyesuaikan, Sasori terdiam sebentar dan memandang kami cukup singkat.
"Sasori! K-kau..?! bagaimana bisa?!" Shino mulai panik dengan kehadiran Sasori. Bukannya bagus kalau dia sudah keluar, dan aku bisa memasuki raganya.
"Kalian siapa? Heh? Ini di mana?" ucap Sasori yang mulai sadar dengan sekelilingnya. Di sana sudah ada Shino yang menenangkan Sasori. "Hey! Kenapa aku bisa bicara? Dan... " ucap Sasori selanjutnya, aku heran dengan ucapan yang satu ini? Bicara? Memangnya dia tak bisa bicara saat dia hidup? Ah mungkin benar dia tak bisa berbicara. Kemudian dia sudah melihat tubuhnya terlentang di meja operasi di sebelah kirinya. Sasori membulatkan matanya dan mundur beberapa langkah, tapi tetap masih melayang.
"Sasori, tenang dulu. Aku bisa menjelaskan semuanya," ucap Shino menengankan Sasori yang ada di hadapannya.
"Hey! Lelucon macam apa ini? Aku juga belum pernah meliaht kalian? Dan apakah itu dokter? Dan itu aku atau boneka yang menyerupaiku? Seingatku, aku tak pernah punya kembaran! Hey aku sedang tidak dikerjai oleh suatu reality show, kan?" ya pertanyaan itu kelaur dari mulut Sasori seperti senjata yang menembak kita cepat dan tanpa jeda. Dia mengguncang-guncang tubuh Shino yang ada di hadapannya.
"Hey Sasori, kamu sedang seka-" mulutku langsung dibekap oleh Sai karena tahu apa yang akan keluar dari mulutku.
'Ini akan lebih baik jika kita memberitahunya lebih awal, baka!' ucapku dalam hati pada Sai. Tapi dia malah menggelengkan kepalanya tanda jangan dulu.
'Aku akan meminta izin darimu, Sasuke. Apa kau mau membagi sisa penantianmu dengan sedikit harapan hidup untuk pemuda itu?' ucap Sai yang bisa aku baca pikirannya. Aku juga cukup terkejut dengan ucapannya tadi. Haruskah? Bagaimana jika waktu yang kumiliki tak cukup untuk mengungkapkan perasaanku pada Sakura, apalagi dengan wujud orang lain? Aku cukup tahu bagaimana sifat Sakura. Dia akan sulit membuka hati untuk orang lain lagi. Bukan orang lain, tapi aku tepatnya yang berwujud Sasori. Aku takut Sakura tak menyadari bahwa yang akan mendekatinya nanti adalah aku dalam wujud lain. Aku terus saja menatap Sai, Sai juga sebaliknya. Dia mencari jawaban di mataku, meminta persetujuan.
Aku memalingkan wajahku dan menutup mataku rapat-rapat. Apa keputusan yang harus aku ambil?
"Hm. Baiklah, aku mengijinkan," ucapku final. Di sana Shino yang masih menenangkan Sasori pun menoleh padaku dan terukir di sana senyuman ketulusan. Terlihat dia merasa lega dengan keputusanku tadi.
Lalu Shino dan Sai mulai lagi menjelaskan pada Sasori tentang apa yang mereka jelaskan padaku. Bisa dilihat di sana, raut wajah kesedihan mendalam. Mengetahui bahwa dirinya kini sudah tak bisa lagi hidup menemani Karin sebagai Sasori. Dan bahagia setelah mengetahui bahwa dia bisa menyampaikan perasaannya pada Karin.
"Apa tak ada cara lain selain yang telah kamu sebutkan, Sai?" tanya Sasori yang sepertinya masih ragu. Sai dan Shino mengglengkan kepala bersamaan. Hanya ini satu-satunya jalan yang mereka ketahui.
"Begitu ya?" ucap Sasori yang merasa kecewa. Tentu saja, aku juga jika ada di posisi Sasori akan menanyakan hal yang sama. Mungkin aku akan menolaknya secara tegas. Tapi Sasori tipe orang yang baik hati. Mungkin terlalu baik hati. Aku jadi merasa jahat jika dipikir-pikir. Tapi mau bagaimana lagi. Daripada aku tak bisa melihat Sakura dan terus menyesal karena tak dapat bereinkarnasi. Harus melihat Sakura bersama pria lain mungkin aku harus bisa merelakannya, tapi jika melihatnya terus terpuruk aku tak tahan.
"Hmm.. maaf," ucap Sai.
"Haah... tak apa. Aku akan melakukannya, bagaimana denganmu Sasuke?" aku terkejut dibuatnya. Sasori memberi izin? Kami-sama apa aku tak salah dengar? Otomatis aku langsung tersenyum lega dan menganggukkan kepala tanda setuju.
"Terima kasih Sasori. Aku tak tahu harus berbuat apa," ucapku berterima kasih. Di sana Sai hanya melongo mendengar aku berucap itu. Dia yang selama aku hidup pasti tahu bahwa aku hampir tak pernah mengucapkan kata 'Terima Kasih' dan 'Maaf'.
"Mungkin aku yang seharusnya banyak berterima kasih padamu, Sasuke. Meskipun kita baru berjumpa, tapi bolehkah aku memelukmu sebagai ungakapan terima kasihku?" ucap Sasori setelah penjelas dari Shino dan Sai. Tadinya aku enggan berpelukan, karena dia orang baru dan kami sama-sama laki-laki. Aku kesampingkan itu, karena aku juga terkejut malah dia yang berucap banyak terima kasih padaku, rasanya aku menerima tanda terima kasihnya.
"Hn. Tak apa. Aku juga berterima kasih karena sudah bersedia meminjamkan tubuhmu untuk kumasuki." Kami pun berpelukan cukup lama dan melepaskannya.
"Hmm.. tunggu. Masih ada satu pertanyaan lagi," ucap Sasori. Sai, Shino, dan aku diam menunggu pertanyaan yang akan keluar dari mulut Sasori. "Kenapa aku bisa bicara?" lanjutnya.
"Hah?! Jadi sebenarnya kamu tak bisa berbicara?" aku rasa responku wajar. Kalau begitu bagaimana nanti aku mengucapkannya pada Sakura. Apa aku tolak saja?
"Tenang Sasuke, mungkin bisa berubah," ucap Shino. Aku tahu dia berusaha mendapatkan kepercayaanku, tapi .. ahg sialan.
"Secara bawah alam sadar, kamu sudah melupakan traumamu, Sasori. Makanya kamu bisa berbicara. Tapi saat kamu masih hidup, kamu menolak untuk berbicara," jelas Shino. "Tapi aku yakin jika kamu hidup lagi, kamu pasti bisa melupakan traumamu, Sasori. Aku yakin itu, aku masih yakin," lanjut Shino meyakinkan Sasori. Lalu Shino menoleh ke arahku. "Kamu masih mau kan, Sasuke? Aku yakin Sasori akan mampu berbicara. Ini hanya trauma, bukan cacat permanen," ucap Shino. Mau tak mau aku harus mencobanya terlebih dahulu.
"Baiklah. Aku percaya padamu," ucapku walau sebenarnya aku masih tak rela.
Sekarang saatnya Sai memberi harapan hidup pada Sasori. Sebelumnya Shino memutar waktu kembali. Dokter dan suster di sini sudah bergerka lagi, semua sudah dalam keadaan normal kembali. Sasori di perintahkan berdiri di samping Sai, begitu pula aku. Sai menyuruh kami berpegangan tangan. Prosesi ini berlangsung dengan Sai mengucapkan beberapa kata-kata yang tak bisa kudengar. Melihat Sai menutup mata, kami berdua juga menutup mata kami. Kemudian aku merasakan tubuhku terombang-ambing ke sana kemari tak tentu arah. Semua terasa berputar sampai aku menemukan suatu titik putih, aku menghampiri titik itu, tapi sepertinya titik itu yang menghampiriku, bukan! Itu setitik cahaya yang terus membesar dan menyelimutiku.
.
.
.
.
.
.
.oOo.
.
.
.
.
.
.
Normal POV
Prosesi yang dilakukan oleh Sai berlangsung hanya beberapa detik saja. Dan sekarang, kedua arwah tersebut sudah tak nampak di hadapan Sai dan Shino. Ya benar. Keduanya menghilang setelah ada cahaya yang menyelimuti mereka berdua. Memasukkan mereka berdua kedalam jasad Sasori. Jika harus dikatakan, sebenarnya mereka berdua, para Souls sudah mengetahui ini. Mereka mengetahui kekuatan masing-masing sesamanya ini. Mereka berdua sudah merencanakan ini semenjak Sai ditinggalkan oleh Sasuke keluar ruangan, dan setelahnya muncul Shino sebagai Souls dari Sasori.
Shino yang mulai menyadari kemampuan Sai, langsung menawarkan suatu kesepakatan kepada Sai untuk bekerja sama dengannya. Timbal balik yang menguntungkan kedua belah pihak, tidak bukan mereka, tapi untuk Sasori dan Sasuke. Mereka melakukan sedikit kebohongan demi mereka berdua, Sasori dan Sasuke. Karena mereka para Souls sudah menganggap Sasuke bagian dari Sai, dan Sasori bagian dari Shino. Karena secara langsung, apapun yang Sasuke rasakan pasti Sai pun merasakannya. Begitu pula dengan Sasori dan Shino. Karena itulah mereka memutuskan untuk melakukan kerja sama ini. Mengembalikan Sasori ke dalam tubuhnya berserta roh Sasuke. Meski berat, tapi tak ada cara lain lagi. Hanya Sasori yang menjadi harapan untuk Sasuke, begitu pula sebaliknya Shino butuh kekuatan Souls dari keturunan klan Uchiha yang dapat memberikan harapan hidup Sasori kembali. Dan sekarang, ada dua roh dalam tubuh Sasori, roh Sasori sendiri dan Sasuke.
Sekarang hanya tinggal menunggu Sasori/Sasuke sadar dari pasca operasi. Karena detak jantung Sasori mulai kembali berdetak.
PIIIIIIIIIIP PIIIP PIP PIP PIP PIP
"Dokter! Jantung pasien kembali bertedak," ucap seorang perawat
"Ini benar-benar suatu keajaiban Tuhan. Suster siapkan ruangan untuk tuan ini. Ada kabar gembira yang harus kita beri tahu pada keluarganya." Sepertinya itu dokter.
"Baik, dok." Itu suara wanita yang tadi. Aku merasakan... ada tangan yang memegang kepalaku. Aku masih belum bisa melihat sekelilingku. Mataku enggan terbuka sedari tadi. Tapi mungkin aku bisa berbicara pada Sai. Iya aku putuskan untuk berkomunikasi dengan Sai melalui pikiranku.
'Sai? Kau bisa dengar aku?' tanya Sasuke di dalam pikirannya. Memastikan apakah dia masih bisa berkomunikasi dengan Souls-nya.
'Ya aku bisa mendengarmu, lebih baik kamu jangan dulu banyak bertanya. Lebih baik kamu tutup mata saja,' jawab Sai untuk menenangkan Sasuke yang akan mulai banyak bertanya. Sasuke hanya menuruti kata-kata Sai karena dia tidak tahu menahu tentang hal-hal berbau magis. Menurutnya ini peristiwa yang tak dapat diterima oleh nalar, Sasuke juga termasuk orang yang tak begitu mempercayai hal semacam ini. Maka dari itu, daripada terjadi hal yang tak diinginkan, dia memilih untuk menuruti perkataan Sai dan menutup matanya. Tanpa sadar, sebenarnya apa yang diperintahkan oleh Sai adalah agar Sasuke tenang dan tertidur. Sedangkan Sasori belum juga terlihat tanda-tanda terbangun pasca operasi dan penyatuan tesebut.
"Shino, apakah keputusan kita tepat? Maksudku, menyatukan mereka dalam satu tubuh?" tanya Sai setelah prosesi penyatuan yang dikatakan Sai. Sekarang Sai dan Shino mengikuti kemana perginya para perawat mengantarkan Sasori menuju ruangan barunya.
"Mmmm... kita lihat saja nanti. Tapi bersiaplah Sai," jawaban Shino semakin menambah kekhawatiran Sai. Ya, sebenarnya bukan masalah besar, tapi Sai mengetahui sifat Sasuke jika mengetahui bukan dia saja yang mengendalikan tubuh Sasori, dia tidak akan terima begitu saja. Yang Sasuke hanya tahu waktu penantiannya di bumi diperpendek dengan memberikan harapan hidup pada Sasori, dan setelahnya tubuh Sasori bisa Sasuke ambil alih untuk menjalankan misi pentingnya. Dan sekarang yang bisa Sai lakukan hanya menyiapkan mental dan berdoa pada Kami-sama.
.
.
.
.
.oOo.
.
.
.
.
Sedangkan di luar ruang operasi, Karin terus merasa gelisah dan terus berdoa dalam diam, mengharapkan semua akan baik-baik saja.
'Kami-sama, jangan ambil Sasori dariku. Aku mohon berikan aku kesempatan untuk mengungkapkan perasaanku ini, aku tak ingin menyesal,' ucap Karin dalam hati berdoa pada Kami-sama.
BRAK!
Karin menolehkan kepalanya ke sumber suara. Pintu operasi sudah terbuka dan berdiri seorang dokter yang masih mengenakan masker operasinya. Sang dokter menghampiri Karin kemudian. Karin langsung berlari ke hadapan sang dokter untuk menanyakan keadaan Sasori di dalam sana.
"Anda kerabat dari pasien?" tanya sang dokter setelah membuka maskernya. Terlihat di sana ada bercak darah di sarung tangan dan maskernya.
"Bukan, dok. Saya satu-satunya teman yang dekat dengan pasien. Maksud saya Sasori-san sudah tak memiliki sanak saudara lagi selain saya. Bagaimana keadaan Sasori, dokter? Dia bisa bertahan, 'kan?" pertanyaan dilontarkan oleh Karin dengan cepat dan tergesa-gesa. Tentu saja, siapapun pasti akan berekasi seperti Karin jika menyangkut nyawa orang yang sangat disayangi. Apalagi hanya dialah yang menurut kita sebagai orang satu-satunya hanya ada untuknya, yang dapat menerima kita apa adanya.
"Tenang dulu..." ucap dokter yang secara tak sengaja melihat nama Karin pada bajunya. "...Sarutobi-san. Sasori-san sudah melewati masa kritisnya. Sekarang kita tinggal tunggu kesadarannya, karena sangat banyak darah yang keluar dari bagian kepala pasien," jelas sang dokter. Karin yang mendengarnya terkejut.
"Lalu bagaimana, dok? Apakah... hiks.. hiks.. Sa-sasori bisa ber.. tahan? Hiks hiks," Karin terkejut bukan main, air mata yang tadi berhenti kini kembali bercucuran menahan sedih dan kehilangan yang mungkin akan terjadi lagi padanya setelah sepeninggal kedua orang tua yang sangat dikasihinya. Tapi kesedihan itu kembali sirna, dokter ini seakan terus mempermainkan suasana hatinya.
"Tenang Sarutobi-san, Tuhan masih berada dekat dengan kita. Pertolongan terus menghampirinya, banyak darah yang sepertinya cocok untuk Sasori-san. Anda tak perlu khawatir. Sekarang anda urus administrasinya dan kita tunggu sampai Sasori sadar, hm?" ucap sang dokter yang menepuk pundak Karin seakan memberi kekuatan pada wanita yang ada di hadapannya yang terlihat begitu rapuh ini. Karin kemudian tersenyum dan membungkuk, berterima kasih pada sang dokter.
"Terima kasih. Terima kasih dokter. Anda sudah bekerja keras untuk menyelamatkan Sasori. Terima kasih," ucap Karin yang terus membungkuk.
"Aku bukan yang menyelamtkan nyawanya, manusia hanya berupaya. Ini sudah menjadi kehendak-Nya. Dan ini juga pasti berkat doa anda juga. Baiklah saya kembali menuju ruangan, sebaiknya anda juga mengurus administrasi sekarang. Saya permisi," ucap sang dokter kembali. Dia meninggalkan Karin di sana. Karin juga segera menuju tempat administrasi untuk melengkapi keperluan Sasori nantinya. Air mata yang sedari tadi terus keluar, Karin basuh dengan punggung tangannya pelan. Dan setelahnya dia tersenyum bahagia. Tuhan benar-benar mendengar doanya.
"Terima kasih, Kami-sama," ucap Karin mengucap syukur kepada Tuhannya.
Tak perlu waktu yang lama, semua keperluan administrasi Sasori sudah ditangani oleh Karin. Dan kini Sasori sudah dipindahkan ke ruangan yang lebih nyaman dan tenang. Ini demi kesembuhan Sasori dan Karin menemani Sasori setelahnya. Menunggunya membuka mata hazelnya. Melihat kondisinya yang sekarang dengan kepala diperban dan leher yang digips, Karin merasa tak tega.
"Sasori, maafkan aku. Dan cepat buka matamu, aku merindunkan mata indahmu. Kamu satu-satunya yang aku miliki sekarang, hiks.. hiks.." Karin kembali menangis, dia memegang tangan Sasori. Dan air mata Karin menetes...
Clak...
...di atas punggung tangan Sasori.
Karena tangan Sasori dipegang oleh Karin, dia merasakan ada yang bergerak. Tangan Sasori menuntukkan pergerakan, jari-jarinya bergerak satu persatu dan meremas tangan Karin kuat.
"Eh?" Karin menengadah karena ada yang mengelus-elus kepalanya lembut, penuh perhatian dan sayang. Karin melihat di sana, Sasori tengah tersenyum padanya. Memandangnya lembut dan menyiratkan rasa kerinduan yang dalam pada gadis yang ada di hadapannya.
"Sasori! Ka-kamu sadar. SYUKURLAH!" Karin langsung memeluk Sasori erat, sangat erat seperti enggan melepasnya lagi. Tak akan dia lepas lagi Sasori.
"Sas-saori... hiks.. hiks.. aku pikir aku kelinganmu, hiks.. jangan tinggalkan aku. Dan ini semua salahku, ya ini salahku" Karin melepas pelukannya dan menatap Sasori dengan pandangan menyesal. Sasori celaka pasti karena ulahnya, karena berusaha mengejar Karin setelah pertengkarannya di bar tempat kerja Sasori.
Sasori menggelengkan kepalanya. Bukan, ini bukan salah Karin, tapi salahnya yang ceroboh. Sasori berusaha mengucapkan sesuatu pada Karin, tapi Karin hendak beranjak dari posisi nyamannya untuk memanggil dokter yang tadi menangani Sasori. Karena air mata Karin yang terus keluar, Sasoripun mengambil inisiatif untuk menghapusnya dengan ibu jarinya perlahan. Berusaha menyampaikan agar Karin berhenti menangis. Sasori urungkan dulu niatnya untuk berbicara pada Karin, dia ingin lebih lama lagi bersama gadis yang sangat dia cintai ini. Dia peluk lagi Karin sama eratnya saat Karin memeluknya tadi.
"Sasori. Aku harus memberi tahu dokter dulu kalau kamu sudah sadar. Aku akan segera kembali, ya," ucap Karin di sela-sela acara peluk-pelukan mereka itu.
"Ka..a..ri.n..," ucap Sasori terbata-bata mengucapkan nama Karin. Karin yang mendengarnya walau terdengar samar namun cukup jelas karena jarak yang begitu dekat itu terkejut bukan main. Dia melepaskan pelukannya dan bertanya.
"Sasori?! Kamu bisa bicara lagi? Aku tidak slaah dengar, kan? Coba ucapkan lagi," ucap Karin yang masih belum percaya dengan apa yang didengar oleh telinganya.
"Kaa..rin," ucap Sasori menyebutkan nama Karin dan tersenyum.
"Ini akan menjadi berita bagus. Aku segera ke ruangan dokter ya, kamu istirahat dulu. Coba kamu regangka otot-otot mulutmu semoga membantu," Karin bernajak dari kursi dan berlari menuju pintu keluar untuk melakukan tujuannya yang tadi tertunda. Sasori mencoba menutup matanya untuk beristirahat.
Seperti dugaan Shino, Sasori bisa berbicara kembali. Melupakan traumanya yang dia alami selama kurang lebih hampir tigaperempat usianya. Peristiwa yang sangat memilukan baginya. Bukan sesuatu yang perlu diingat kembali karena hanya akan membuka luka lama yang berujung membisunya Sasori. Selama menutup matanya Sasori dikejutkan oleh suara Shino.
"Sudah sadar?" tanya Shino pada Sasori.
'Hah? Shino?! Bagaimana bisa...?' ucap Sasori dalam pikirannya. Menatap Shino dan beralih pada Sai yang melambaikan tangannya.
"Ya. Kamu sekarnag bisa melihatku dan Sai, hehehe... jangan terkejut sepeti itu," jelas Shino.
'Lalu Sasuke?' karena dia tak melihat Sasuke di manapun. Tetap dalam mode pikirannya agar orang lain tidak menganggap Sasori berbicara sendiri.
"Itu yang ingin kami jelaskan padamu. Sebenarnya, prosesi yang dilakukan oleh Sai ada sedikit gangguan," ucap Shino menjelaskan.
'Gangguan?' tanyanya ulang.
"Iya. Entah apa, tapi memang ada beberapa Souls dari keturunan klan Uchiha yang terkadang melakukan kesalahan dari proses yang kulakukan. Ya ini terjadi padaku," Sai yang kali ini menjelaskan. "Dulu juga pernah ada yang mengalami hal serupa yang aku alami," lanjutnya.
'Sebentar. Kalau menjelaskan itu yang jelas, aku tidak mengerti. Apa yang terjadi?' ucap Sasori yang masih belum mengerti. Shino dan Sai saling bertukar pandang. Sai menelan ludahnya, siap menjelaskan lagi.
"Jiwa kalian... bersatu dalam ragamu, Sasori. Maaf," ucap Sai menyudahi dan menunduk meminta maaf. Masih menunduk Sai berkata lagi, "Jadi, selama Sasuke belum bisa mengucapkan perasaannya pada Sakura, Sasuke juga tak akan bisa keluar dari tubuhmu," yang diberi penjelasan menjadi terdiam. Mencerna apa yang baru saja dia dengar, benarkah?
'Kalau begitu aku tak bisa mengungkapkan perasaanku pada Karin juga?' pertanyaan dengan ekspresi datar pada Sai. 'Lalu bagaimana cara Sasuke mengungkapkan perasaannya?' tanya Sasori lagi.
"Kamu akan memiliki dua pikiran. Dan orang lain akan menganggapmu memiliki dua kepribadian. Tapi kalian bisa mendiskusikan kapan saja kalian akan kelaur sebagai diri kalian. Jadi secara jelasnya, kalian akan bertukar jiwa sesuka hati namun tetap seizinmu sebagai pemilik tubuh, dan sebagai imbalannya kamu bisa hidup lagi setelah Sasuke keluar dari tubuhmu," jelas Sai. "Kamu juga bisa dengar, kan Sasuke?" tanya Sai pada Sasuke yang ada di dalam tubuh Sasori.
'Hn,' ucap Sasuke membalas pertanyaan Sai. Ucapannya bisa didengar oleh ketiganya. Sasoripun terkejut mendnegarnya. Sasuke yang mendengar dari awal juga merasa kesal dan ingin marah.
"Maafkan aku Sasuke, ini benar-benar diluar kendaliku," ucap Sai meminta maaf.
'Aku tak ingin ambil pusing lagi. Kalau begini jadinya, selama satu bulan penuh aku yang akan ambil alih tubuhmu Sasori. Biarpun kamu anggap aku orang jahat, tapi ini keputusanku. Aku yang sudah memberimu kehidupan maka kamu juga harus meminjamkan tubuhmu padaku,' ya itulah keputusan yang akhirnya dengan berat hati Sasori harus menerimanya. Karena ucapan Sasuke memang benar, dia bisa hidup kembali berkat kekuatan Souls dari klan Uchiha.
'Aku rasa ini cukup adil. Kamu masih bisa hidup dengan wanita yang kamu cintai setelah aku peri dari tubuhmu, hm? Aku beri kesempatan padamu untuk menjelaskan semua yang terjadi padamu, mengenaiku dan kedua Souls kita. Pastikan dia percaya agar aku bisa dengan mudah mendekati Sakura. Aku tak ingin ada yang menggangu. Kamu bisa, kan?' ucap Sasuke lagi.
"Tapi Sasuke, mungkin lebih baik kalau Sasori mengungkapkan perasaannya terlebih dahulu kemudian kamu..." ucapan Shino menggantung karena sebenarnya dia juga tak tega mengatakannya. Rasanya memang kejam pada Sasori tapi ini sudah menjadi keputusan Sasuke.
'Usulmu masuk akal juga. Dan katakan padanya kamu akan kembali padanya,' Sasuke setuju dengan usul Shino dan kini tinggal mendengar jawaban dari Sasori. Tapi Sasori tidak menjawab hingga Karin dan dokter masuk ke dalam ruangan di mana Sasori dirawat.
"Sasori," sahut Karin riang dan berdiri di tepi ranjang, Sasori tersenyum padanya. Sedangkan dokter memeriksa keadaan fisiknya.
"Karin bilang padaku bahwa awalnya kamu tak dapat berbicara dan saat kamu sadarkan diri kamu menyebut nama Karin. Coba kamu bicara lagi," ucap dokter memerintah setelah selesai pengecekan.
"Ayo, Sasori. Kamu pasti bisa mengucapkannya lagi," Karin sangat antusias dengan perkembangan yang dialami oleh Sasori. Mungkin dia juga bersyukur atas kecelakaan ini maka Sasori bisa berbicara lagi.
"Ka..rin.. ak-.. ugh!" ucap Sasori terbata-bata. Tapi entah mengapa Sasori memegangi tenggorokannya seperti menahan sakit.
"Sasori!" Karin sedikit berteriak dan menghampiri Sasori.
"Jangan terlalu dipaksakan, Sasori-san. Anda belum terbiasa untuk berbicara," ucap sang dokter. "Perihal kembalinya kemampuan berbicara Sasori-san, mungkin pada saat kecelakaan otaknya memerintah untuk berbicara. Ya kemungkinan seperti itu bisa saja terjadi namun terkadang sulit dijelaskan secara medis. Tapi saya bersyukur anda bisa kembali berbicara seperti sedia kala," lanjutnya. Sasori yang mendengarnya merasa heran, berarti dokter ini tahu bahwa Sasori dulunya memang bisa berbicara, dan memiringkan kepalanya heran. Sang dokter yang menyadari dengan tatapan heran dari Sasori yang dilontarkan padanya kembali berbicara.
"Oh! Karin-san yang memberitahu saya semua," ucapnya kemudian. "Kalau begitu saya permisi dulu. Sekarang anda harus banyak istirahat. Mungkin anda juga perlu melakukan rehabilitasi," lanjutnya dan mendapat balasan ucapan terima kasih dari Sasori dengan bahasa isyaratnya dan Karin.
Sang dokterpun keluar dari ruangan bersama para perawatnya. Kini tinggal mereka berdua terdiam di sana. Rasanya jadi canggung entah mengapa, merekapun heran.
"Kamu haus tidak? Aku bawakan minum, ya," ucap Karin memecah keheningan yang tadi tercipta. Sasori pun mengangguk.
Setelah Sasori minum, dia merebahkan tubuhnya untuk beristirahat sesuai saran dari dokter bahwa Sasori harus banyak beristirahat. Mungkin tindakan rehabilitasi diperlukan untuk memperlancar Sasori berbicara lagi. Karin juga tak hentinya terus menemani Sasori walau Sasori sudah menyuruhnya pulang untuk istirahat juga, tapi Karin masih bersikukuh ingin menemani Sasori. Namun itu juga tak menyurutkan semangat Sasori juga, Sasori memberi alasan yang cukup masuk akal untuk diterima oleh Karin sehingga Karin pun dengan terpaksa pulang. Alasan yang diberikan Sasori hanya besok Karin harus kembali bekerja dan Sasori selamanya tidak akan mau berbicara lagi. Akhirnya Karin pulang dengan gontay karena enggan meninggalkan Sasori sendiri di rumah sakit. Tapi Sasori mengucapkan.
"Ja..ngan khawa..tir," dengan senyuman maka Karin pun mebalas dengan senyuman pula dan pulang.
Kini Sasori tengah tertidur di rumah sakit. Ingin merasakan ketenangan. Tapi bukan itu yang dia lakukan, matanya memang tertutup namun pikirannya masih sangat sadar.
'Sasuke,' panggil Sasori.
'Hn?' balas Sasuke.
'Terima kasih. Mungkin akan memakan waktu tapi aku berusaha agar rehabilitasi yang kulakukan selesai dengan cepat, agar saat menjelaskannya dia bisa memahaminya,' tutur Sasori.
'Kau tahu? Aku jadi merasa terlalu jahat padamu Sasori. Tapi aku beri waktu 1 minggu untuk melakukannya,' balas Sasuke.
'Tidak. Aku rasa apa yang terjadi hari ini sungguh merupakan kebahagiaanku untukku. Terima kasih,' Sasori kembali berterima kasih pada Sasuke.
'Iya, iya. Sekarang kamu istirahat saja dulu. Aku juga lelah,' ucap Sasuke.
"Itu ucapan selamat tidur untukmu dari Sasuke, Sasori," ucap suara yang terdengar seperti suara Sai. Hanya Sasori yang dapat mendengarnya. Sasori tersenyum dan membalas ucapan selamat malam untuk Sasuke.
'Oyasum mo, Sasuke,' ucap Sasori.
'Ha?' yang diberi salam hanya mengucapkan 'ha' saja karena merasa aneh dengan ucapan Sasori.
'Hahahaha...,' Sasori hanya tertawa kemudian tertidur.
Bersambung...
Minna-san e
Gomenasai karena keterlambatan publish fic ini. Sentan malas terus naik di punggung saya jadi bawaannya pengen tiduran aja.
Ya saya gak mau banyak bicara lagi. Semoga kalian puas dengan chpt 5 ini :) hehehe
Sakura : Arufi-san, kapan aku muncul lagi?
Author : Sabar, ya Saku. Mungkin di chapter depan pun kamu bakal dikit. Gomen
Sakura : Hmmm.. aku pundung, Arufi-san. Pundung pokoknya. Aku juga pengen satu scene sama Sasuke-kun.
Sasuke : Aku juga pengen satu scene sama kamu. Tapi kayanya bakal susah berhubung nanti yang ngedeketin kamu Sasori terus. *Sasu elus-elus kepala Saku*
Sakura : Hmm iya deh gpp. Aku maafin Arufi-san jangan ya?
Author : Maafin dong~~ *ting ting ting*. Terus jangan pacaran mulu, ngiri liatnya *cemberut*
Sakura : Iya deh aku maafin. Asalkan nanti ada scene aku sama Sasuke nya ya.
Author : Itu pasti Saku...
Sakura : Yeeey! *jingkrak-jingkrak*
Author : Tapi nanti di akhir -_- hehehe
Sakura pun melepar kursi ke kepala sang author.
Yah, kalian siap-siap dibuat kecewa sama saya.
Jaa, minna-san ... Luv u
Arufi Rizuki Yoshida
