HarMione (Harmony)
T
Harry Potter by J. K. Rowlings
Mari Lompati Tulip Bersamaku by Mizuki Rae Sichi
"Hermione si gadis sombong yang penyendiri bertemu dengan belahan jiwanya yang adalah seorang zombie. Jantung yang berdetak kembali seperti irama harpa kematian. Akankah ini akan berlanjut? Mari RnR!"
Supernatural—Hurt
Multichapters
.
.
.
====CHAPTER 2=====
Anomali Dimensi
Di luar Serein menunjukkan masa depan
Seperti doa jatuh, menerangi kesunyian
Sebuah bekas luka pendarahan; mencarimu
Sebuah keinginan yang tidak fana membawa kesimpulan
Menunggu hari serikat
SUDAH seminggu Hermione tidak bertemu dengan pemuda itu. Pemuda yang sudah memerangkap hatinya bagai venus flytrap. Pemuda berkacamata bundar yang sudah membuat air mata terus mengalir dalam selimut malam. Dalam taburan bintang-bintang yang menemani. Duduk di ambang jendela dengan ketinggian yang berbahaya tidak dipedulikan. Denyut yang menyakitkan ini membuat air mata seakan keran yang bocor. Isak tangis meluncur dalam waktu yang menunjukan pukul 1 dini hari. Memeluk kedua lutut yang menekuk berdiri di ambang jendela sama sekali belum bisa mengalahkan dinginnya suhu kala ini. Dalam keremangan ini hanya satu yang hanya bisa diisakan.
"Harry..."
Selama ini Hermione tidak peduli dengan dunia pribadinya yang dingin. Selama ini Hermione tidak peduli dengan kesendiriannya. Walau sering menangis setiap malamnya karena dunia selalu memusuhinya, tidak ada yang bisa membuatnya lebih sakit dari ini. Dadanya terlampau sesak seakan tubuhnya hendak pecah.
Saat mata Hermione tak sengaja mengedar ke bawah, anomali terjadi dan membuat kedua mata beriris kecokelatannya menyipit. Kepalanya melongok ke bawah untuk melihat lebih jelas. Memiliki kamar di lantai dua sepertinya bukanlah pilihan yang tepat—kalau dipikirkan sekarang. Jadi ia pun turun dari jendela dan berlari ke dalam untuk menuruni tangga. Ada rasa ragu saat tangannya memutar kunci. Berbagai perasangka buruk bertubrukan dalam pikiran. Namun segera dihapus karena rasa penasaran itu semakin menggigit.
Pintu kayu yang dicat berwarna putih itu terbuka dan... tiada siapapun di sana. Hermione yakin benar tadi melihat bayangan mondar-mandir di depan pintu rumahnya ini. Rasa takut mulai menggerayangi gadis bersurai cokelat terang yang ikal tersebut. Napasnya tercekat dan jantungnya berdebar kencang sekali. Batin mencelos dan seolah menunggu anomali apa yang akan terjadi. Segala pikiran negatif yang tadi sempat mampir di pikirannya mulai datang lagi.
Dengan gerakan halus dan canggung, Hermione mundur untuk menutup pintu. Dirinya hampir berteriak saat pintu itu tidak bisa ditutup. Namun begitu melihat setangkai bunga tulip yang masih menguncup tergeletak di ambang pintu, membuat semua rasa takutnya hancur—dan menjadi rasa penasaran sekaligus bingung. Perlahan dengan gerakan patah-patah layaknya robot, tangan yang mengalami tremor itu mulai menjulur ke bawah untuk mengambil tulip yang berwarna putih pucat. Jemarinya perlahan menggenggam batang bunga cantik tersebut.
Hermione lagi-lagi nyaris menjerit saat pintu rumahnya perlahan terdorong sendiri. Membuatnya bisa melihat dunia luar yang hanya di lengkapi cahaya lampu. Sepi.
"Tulip itu jangan kau ambil!"
Hermione terlonjak kaget dan berusaha mencari sumber suara yang entah di mana. Rasa takut mulai menyelimutinya. Jantung yang mengalami kecepatan yang lebih membuat dadanya ngilu. Ingin rasanya berlari ke dalam lalu membanting pintu. Menutupnya dari dunia luar rapat-rapat. Namun kedua kakinya mati rasa. Bahkan seluruh tubuhnya membeku.
"Letakan kembali, lalu lompatilah!"
Kekuatan Hermione kembali. Dengan lantang ia berteriak, "Siapa kau? Dan adakah alasan kenapa aku harus melakukannya?!"
"Turuti saja, Hermione! Atau dimensi akan berbenturan!"
"Kenapa kau tahu namaku?" gumam Hermione dengan nada yang melemah. Rasanya ia mulai mengenali suara ini.
Hermione melompat kaget saat tulip di tangannya bergerak sendiri hendak mekar.
"Oh tidak! Cepat letakan!"
Dengan bingung, akhirnya Hermione menurut saja. Tulip tersebut jatuh begitu saja pada lantai yang dingin. Dan ajaibnya gerakan pada tulip tersebut lenyap. Rasa penasaran meluap mencapai zenit.
"Aku pasti bermimpi!" gumam Hermione sembari memejamkan kedua matanya erat-erat.
"Ini bukan mimpi, Hermione." Suara menggema tersebut terdengar kembali. "Kalau kau mau, kau bisa melompati tulip tersebut, lalu berjalan keluar. Maka aku akan muncul."
Hermione mundur selangkah. Rasa galau menyelimuti—mencekik bagai jerat yang kuat.
"Jangan takut. Aku akan selalu di sampingmu!"
Melihat ke sekeliling sejenak, Hermione lalu mulai melangkah dengan sangat lambat. Perlahan kaki kanannya mulai melangkahi tulip yang tergeletak di lantai. Mendadak cahaya-cahaya kecil mengelilingi tubuhnya. Keajaiban terjadi. Bagai ada di sebuah negeri dongeng. Bagai sihir. Cahaya-cahaya kecil tersebut melayang-layang di atas tanah.
Kedua mata Hermione terbelalak sempurna. Perlahan dari tanah muncullah tunas-tunas hijau. Dan ajaibnya, tunas-tunas tersebut tumbuh dengan cepatnya. Bunga-bunga tulip yang masih kuncup berwarna putih pucat mucul dari ujungnya.
"Lompatilah tulip-tulip itu!"
Menurut saja, Hermione pun mulai mengangkat kaki. Satu persatu tulip itu diloncatinya. Hingga saat lompatan pada tulip terakhir, dunianya berubah menjadi putih. Benar-benar seperti mimpi. Perlahan butiran cahaya yang mengelilinginya tadi menjadi berkumpul di hadapannya. Membentuk sebuah sosok yang sangat dikenal.
"Harry?" gumam Hermione tidak percaya dengan penglihatannya sendiri. Pangeran negeri dongeng yang selalu ia harapkan untuk datang akhirnya datang di hadapannya saat ini juga. Entah ini hanya sebuah delusi atau apa, yang penting ia sangat menikmatinya. Dan jika seandaikan ini mimpi, ia sama sekali tidak ingin bangun.
Harry tersenyum lembut. Pemuda itu kini tidak memakai kacamata bundar yang biasa bertengger di depan kedua mata beriris emerald tersebut. Ia memakai setelan jas berwarna putih dengan dasi berwarna merah. Sepatu pantofelnya hitam mengkilat seperti sehabis disemir. Rambut hitam kecokelatannya masih berantakan namun terlihat klimis. Walau wajahnya pucat, namun terlihat segar.
Wajah Hermione memanas saat tangan kanan Harry terulur padanya. Dengan senyum yang tak dapat dikulumnya lagi, perlahan ia menerima uluran tangan pucat tersebut. Rasa panas menyenangkan menjalar ke seluruh tubuhnya. Jantung berdebar kencang dan tremor pada tubuh tidak bisa dikompromi.
"Mau bermain sebentar denganku?" ajak Harry dengan nada yang mempesona. Seperti ada percikan-percikan cahaya di sekitar tubuhnya yang membuatnya bagai malaikat dari langit.
"Tentu aku tidak akan menolak, Harry." Jawab Hermione dengan senyum malu dan wajahnya yang terus memanas.
Hermione terlonjak kaget saat cahaya-cahaya yang berterbangan tadi mengelilingi tubuhnya. Benar-benar seperti dongeng karena mendadak piyamanya berubah menjadi gaun putih cantik yang menjuntai ke tanah. Gemerlap pada gaun tersebut membuat mata Hermione berkaca-kaca terpukau. Kakinya yang telanjang mendadak terpasang sepasang sepatu kaca yang cantik. Surai kecokelatannya yang semula diikat satu, perlahan lepas dan tertata rapi dengan sendirinya. Cahaya-cahaya itu lalu melayang-layang di atas kepalanya—membuat sebuah flower crown yang cantik. Wajahnya yang semula pucat dan berantakan, tersihir menjadi cantik dengan riasan yang entah dari mana. Bibir pink yang mengkilat, pipi merona pink, gemerlap pada sudut mata, dan warna pink di kelopak mata. Benar-benar layaknya seorang putri yang dijemput pangeran.
Harry berlutut dan mengulurkan tangan lagi. Dan tanpa menunggu lama, Hermione segera menerimanya lagi. Hermione sangat tersipu malu saat punggung tangannya dikecup oleh pemuda itu.
"Kau cantik sekali." Puji Harry. Perlahan dirinya bangkit dengan senyuman lembut yang masih tergambar.
Hermione tertunduk malu dengan senyum yang dikulum, "Trims. Kau juga sangat memukau."
Mereka berdua berjalan beriringan. Hermione benar-benar tidak mengenali siapa, di mana, bagaimana, dan apa-apa lagi. Pikirannya hanya dipenuhi oleh sosok mempesona tersebut. Dirinya seperti sedang dihipnotis. Menari di tengah lautan bunga tulip bertepi pedang nyiur. Senyum tak pernah luput dari wajah ayunya.
"'Mione, maukah kau memakan tulip ini?" tawar Harry lembut.
"Tapi untuk apa?" tanya Hermione bingung.
"Makanlah jika kau mau memakannya. Kalau tidak, ya tidak apa-apa."
Karena tidak mau Harry kecewa, Hermione pun menerima tulip berwarna putih pucat tersebut. Perlahan ia menggigit bunga tersebut mentah-mentah. Ajaibnya, tiada rasa hambar yang tercipta. Justru rasa manis madu yang tercap lidahnya.
Harry tersenyum lembut sembari membelai pipi Hermione yang merona.
Mendadak Hermione terbatuk-batuk. Matanya terbelalak saat melihat tulip yang dimakannya tadi. Ada cairan merah pekat berbau amis di sana. Tubuhnya terlonjak kaget saat jemari Harry mengusap bibir Hermione dengan lembut. Seketika Hermione bergetar ketakutan. Pada jemari Harry yang tadi membelai bibirnya, terdapat cairan itu lagi.
"Darah?" gumam Hermione tidak percaya.
"...'Mione! Hermione! Ini sudah pagi, Dear!"
Perlahan kedua mata kecoklatan milik Hermione terbuka. Hanya suasana kamarnya saat ini yang ditangkap penglihatan. Menghela napas kecewa. Dadanya ngilu dan sesak. Kedua matanya memanas ingin mengeluarkan cairan bening. Semuanya hanya mimpi. Bahkan mungkin pertemuannya bersama Harry juga adalah mimpi belaka. Dongeng merupakan fiksi yang tak mungkin terwujud. Kemana saja otak pintarnya?
"Hermione!" panggilan sang ibu kembali terdengar nyaring.
"Aku sudah bangun, Mum." Sahut Hermione dengan nada yang parau. Parau karena sehabis bangun tidur dan menangis meratapi delusi sebuah romansa yang palsu.
Menghela napas lelah, Hermione lalu bangkit dari kasurnya. Dengan sempoyongan dirinya berjalan menuju kamar mandi. Dadanya masih sesak. Serasa masih ada tombak yang menusuk dadanya.
.
.
.
Sekolah terasa seperti biasa seperti sebelum Harry datang. Membosankan, sepi, dan parahnya semua orang kini malah tambah memusuhinya karena telah menjadi pacar seorang Harry Potter yang terkenal itu. Ah, mau sampai kapan dirinya akan sanggup berpacaran dengan the choosen one yang nyatanya adalah sesosok zombie?
Hermione menatap bangku di sebelahnya yang kosong. Menghela napas lalu meletakan dagunya di atas tumpukan buku. Tumpukan buku yang biasanya menjadi temannya pun kini seolah tiada daya tarik. Lirikan sinis, sumpah serapah, dan seringaian kemenangan dari orang-orang di dapat Hermione seharian ini. Bahkan Ron mantannya terlihat cuek dan tersenyum sinis padanya. Tanpa Harry, rasanya semua ini menjadi sangat berat. Rasanya ingin menghempaskan diri ke kasur di rumahnya.
"Akhirnya Mud blood kembali sendirian. Kau pikir bisa menjadi Putri dalam semalam, huh?" ledek salah satu perempuan dengan dandanan norak. Rupanya perempuan ini adalah salah satu dari geng yang waktu itu sering mem-bully Hermione.
"Sepatu kacamu hilang, ya? Uh, kasihan!"
"Dasar buruk rupa! Aku heran kenapa Pangeran Harry bisa tertarik dengannya!"
"Ke mana body guard-mu, Mud blood?"
"Kutu buku yang sialan!"
Rasanya kepala Hermione akan meledak. Kedua kupingnya sudah panas sekali. Akhirnya daripada meledakan emosinya di tempat umum seperti ini, dirinya memutuskan untuk menangis di toilet saja.
Toilet sangat sepi. Mungkin hanya Hermione yang berada di sini. Kesempatan bagus karena Hermione bisa menangis sepuasnya. Bayangan gadis polos yang bodoh terefleksi di cermin. Rasanya tiada lagi gelar IQ-diatas-200 pada wajahnya. Bulir-bulir air mata menetes dari kedua mata cokelatnya.
Hermione menyalakan keran air untuk meredam isak tangisnya. Ditadahnya air yang memancar dari keran tersebut. Dibawanya air dalam kedua tangannya pada wajahnya yang dipenuhi air mata. Perih saat kedua tangannya mengusap wajahnya sendiri. Amarah meluap hingga mencapai zenitnya. Kedua tangannya mengepal kuat.
"KEPARAT KALIAN SEMUA! AKAN KUBUNUH!" jerit Hermione hingga urat-urat pada lehernya muncul. Wajahnya sangat merah karena emosi.
Saat Hermione melihat ke cermin kembali, ia langsung terlonjak kaget. Jantungnya berdebar kencang dan tubuhnya bergetar hebat. Di sana bukan bayangannya! Di sana... terdapat dirinya dalam wujud lain. Iris mata merah dengan bagian putih di mata yang berwarna hitam, rambut yang berantakan, dan ah! Seringaiannya... seringaiannya bertambah lebar hingga merobek mulutnya mencapai telinga. Menampilkan gigi-gigi tajam berlumuran darah yang menyembul keluar. Luka-luka mengerikan terdapat di sekitar mata dan sekujur tubuhnya.
"Hello Hermione! Aku adalah dirimu yang lain. Sisi gelapmu!" sapa bayangan mengerikan dalam cermin tersebut.
Hermione menggeleng dengan tremor pada tubuhnya. Matanya terus terbelalak. Tubuhnya beringsut menjauh dari cermin. "Tidak!"
"Kenapa tidak? Tadi katamu kau ingin membunuh mereka semua. Makanya aku datang. Serahkan saja semua padaku." Ujar bayangan tersebut.
Hermione terteguk. Ambisi untuk meluapkan emosinya tadi kembali muncul. Perlahan dirinya bangkit dan memberanikan diri untuk menatap bayangan itu. "Kau bisa?"
"Itu mudah! Ayo, cukup beri aku setetes darahmu, maka kita akan bersatu!" rayu sang bayangan. "Selama ini kau kesal 'kan karena selalu sendirian? Dan di saat kau menjadi 'hidup', semuanya malah menghilang. Aku sangat mengerti karena aku adalah kau! Selama ini kau ingin membunuh manusia-manusia lemah itu 'kan? Inilah saatnya!"
Tekad Hermione membulat. Ada emosi yang membara dalam tubuhnya. Kedua tangannya terkepal erat. Pandangannya tajam ingin menembus cita-cita. "Baiklah!" tegasnya. Digigitnya jari telunjuk. Rasa perih dan linu mulai terasa. Cairan merah pekat dari telunjuknya mulai keluar.
Bayangan tersebut tersenyum kegirangan. Telunjuknya ditunjukan. "Ke mari! Tempelkan telunjukmu dengan telunjukku!"
Perlahan Hermione menempelkan telunjuknya pada cermin tersebut. Dan sebuah cahaya besar membutakan matanya. Tubuhnya memanas seperti dibakar. Jeritan kesakitannya tak mampu ditahan.
"Kau sudah menjadi setengah zombie!"
TBC (To Be Continued)
Mudah-mudahan masih ada yang ingat akan penpik gaje ini XD maaf nih baru lanjut, abis kemaren saya WB TAT dan bingung harus bagaimana. Untunglah ada anime yang mampu meluruskan pikiran saya lagi XD HAHAHAHA /malah curcol?
Wokeh, saatnya bales repiu! :D
fuji . pangesti
ahahaha memang pecinta DraMione itu banyak sekali TwT agak sulit bersaing di dunia pasar XD /memangnya ini sedang berdagang? XD
bagus? iyakah? ini abal lho X3
sankyuu ya udah RnR :D :* #hug
LunaScamander17
ahahahaha XD /ketawa misterius/ mengertikah kau? XD ah? ah? ah? /colek-colek grogi/
ini sudah lanjut sankyuu sudah RnR :* :D #hug
AdeLWizz
selingkuhan saya itu sudah saya ubah menjadi zombie XD /digeplak rame-rame
iya, karena Draco itu mainstream untuk menjadi yang begituan X3 jadi saya cari yang beda :D lagipula saya suka pair ini X3
huwaaaaaaaaaaa maaf nih nggak kilat x_x abis banyak ff lain yang musti di lanjut x_x maaf yaaaaa
sankyuu udah RnR :* :D #hug
Euishifujoshi
ini sudah lanjut :D sankyuu udah RnR :* :D #hug
Geraldine
iyakah? :D kenapa semua pada bilang warm bodies sih? ._.a /langsung capcus mbah gugel
aaaaaaaaa maaf ini nggak kilat x_x /deep bows
dan sankyuu udah RnR :* :D #hug
potter15
huwaaaaa maaf ini amat-sangat-sungguh-terlalu telat x_x maaf! /deep bows
tapi saya mah nggak mau ngegantung cerita kok :D
sankyuu ya udah RnR :* :D #hug
black
hehehe iya saya aja susah banget nyari HarMony yang begindang :D makanya mending saya aja yang bikin hihihi X3
sankyuu ya udah RnR :* :D #hug
ME
iya XD kebanyakan kan vampir tuh? nah saya inisiatif bikin zombie aja sih XD
huwaaaaa maaf ini amat-sangat-sungguh-terlalu telat x_x maaf! /deep bows
sankyuu udah RnR :* :D #hug
untan
ini sudah lanjut :D sankyuu udah RnR :* :D #hug
TheUltramarine
huwaaa maaf ini kelamaan hingga akhirnya kedaluarsa XD #plak
sankyuu udah RnR dan fav :* :D #hug
intanmalusen
abis bingung XD cewe di Harpot yang mirip Harry itu siapa XD
ini udah lanjut sankyuu udah RnR :* :D #hug
potter
ini udah lanjut sankyuu udah RnR :* :D #hug
fi blue
ini udah lanjut sankyuu udah RnR :* :D #hug
Guest
ini udah lanjut sankyuu udah RnR :* :D #hug
ScarheadFerret
kenapa semua pada bilang warm bodies sih? ._.a /langsung capcus mbah gugel
ini udah lanjut sankyuu udah RnR :* :D #hug
Guest
ini udah lanjut sankyuu udah RnR :* :D #hug
Guest
ini udah lanjut sankyuu udah RnR :* :D #hug
Guest
ini udah lanjut sankyuu udah RnR :* :D #hug
Guest
ini udah lanjut sankyuu udah RnR :* :D #hug
Siti Humairoh
serem? ini bukan bergenre horor kok XD cuma supernatural XP
ini udah lanjut sankyuu udah RnR :* :D #hug
Hphg
ini udah lanjut sankyuu udah RnR :* :D #hug
Guest
ini udah lanjut sankyuu udah RnR :* :D #hug
HPHG
ini udah lanjut sankyuu udah RnR :* :D #hug
Yak, itulah balasan untuk readers terhormat :D mohon apresiasinya saja untuk readers :D karena satu suara itu seribu penyemangat bagi saya pribadi sebagai seorang author. Jadi, kenapa takut bersuara? :)
