Our Stories
.
.
By dee-mocchan
.
.
For #aokiseweek celebration in tumblr
.
.
.
Kuroko no Basuke © Tadatoshi Fujimaki-sensei.
Warning: BL, banyak typo(s), bahasa nggak baku, mungkin OOC.
Characters: Aomine Daiki, Kise Ryouta.
Pair: Touou!AoKise.
Rate: T
.
.
Day 2 Themes: Same school/Graduation.
Chosen Theme: Same school.
"Ah, ternyata kau ada disini Aominecchi. Aku cari kemana-mana tahu..." Suara cempreng dan sedikit manja memenuhi pendengaran Aomine yang sedang asyik tidur terlentang dengan kedua tangannya sebagai alas kepala menikmati hangatnya matahari musim semi.
Sesaat kedua mata cobalt blue milik pemuda yang di panggil terbuka, seorang pemuda lain dengan rambut secerah mentari memenuhi pandangannya. Helaian pirang serta dasi bercorak kotak panjang merah hitam itu terayun lembut oleh sang angin.
"Kau menghalangi, apa maumu Kise?" Tanya Aomine ketus yang lalu merubah posisi tidurannya ke samping.
Aomine tahu ketika dirinya membelakangi si pirang, bibir kecil berwarna pink kemerahan itu akan menerucut maju. Dan tanpa Kise ketahui senyum simpul melebar dari kedua sisi bibir pemuda tan tersebut.
"Mou, Aominecchi masih saja ketus-ssu. Tadi Momocchi memintaku mencarimu, katanya mau mengingatkan nanti ada latihan sepulang sekolah." Ujar Kise yang kini duduk memeluk lutut seraya memejamkan mata dan menikmati sejuknya embusan angin.
"Cih, apa sih maunya si Wakamatsu itu? Baru juga beberapa hari tahun ajaran baru mulai, tahu-tahu latihan..." Aomine lalu duduk. Moodnya bermalas-malasan ria hilang seketika.
"Entahlah.. Aku dengar dari Momocchi walaupun Imayoshi-senpai sudah tidak aktif di klub, dia masih memberi jadwal latihan untuk kita semua-ssu..." Kini Kise memangku dagunya di kedua tangannya yang terlipat dan bertumpu pada kedua lututnya. Menikmati pemandangan bunga sakura beterbangan ke angkasa dari atap sekolah. Tempat Aomine biasa mangkal kalau bolos pelajaran.
"Sudah kelas dua saja yah kita, Aominecchi..." Gumam Kise dengan nada yang sarat akan kesedihan dan malas bercampur satu.
"Waktu cepat berlalu... Rasanya baru kemarin kita pertama kali bertemu Kagamicchi. Lalu saat kita berhasil di kalahkan oleh Kagamicchi dan Kurokocchi rasanya...mengesalkan tapi aku juga lega. Lega karena ada yang bisa mengalahkanku karena dengan begitu aku tidak akan merasa bosan jadinya." Kise terus mengoceh yang hanya di sahut 'hmm' balik oleh Aomine.
"Ah, aku baru ingat. Aku kan ke atas sini juga ingin mengajak Aominecchi makan siang! Aku benar-benar lupa sekarang sedang istirahat siang-ssu!" Kise lalu mengambil dua buah bekal makan.
"Ini untuk Aominecchi! Yang dibungkus kain hijau punyaku..." Tanpa menunggu Aomine menjawab, Kise meletakkan bekal jatah Aomine di pahanya.
Tanpa suara mereka berdua lalu membuka bekal masing-masing.
"Dagingnya dikit banget sih..." Keluh Aomine ke Kise, yang bersangkutan memutar bola matanya ke samping.
"Bekal Aominecchi itu tidak pernah imbang antara sayur, nasi, dan lauknya! Makanya aku kurangi jatah daging di bekalmu..." Ujar pemuda kuning itu dengan tenang mulai mengunyah makanannya.
"Kau tidak seru ah," gerutu pemuda sangar itu lagi. Meskipun komentar, Aomine tetap memakan bekal pemberian Kise dengan lahap.
Kise menunggu reaksi Aomine mengenai bekal buatannya, "Gimana rasanya Aominecchi?"
"Lumayan, kurang asin sedikit. Masih enakan masakannya Ryo," ujarnya sambil menyumpit sosis goreng.
"Aominecchi hidoi-ssu! Aku kan sudah berusaha keras supaya bisa masak... Setidaknya bilang enak kek!" Cibir Kise.
"Ini masalah selera lidah bukan perasaan."
"Ya sudah, kalau Aominecchi tidak suka boleh berhenti memakannya. Di buang juga tidak apa-apa. Lain kali minta Sakuraicchi saja bikinkan bekal sekolahmu." Kise menjawab dengan wajah yang tidak bisa di baca. Tidak ada tanda marah atau kesal.
"Ini aku bawakan teh juga. Paling tidak kau tahu teh buatanku tidak terlalu buruk." Kise menyodorkan termos kecil lalu menuangkan isinya ke tutup sebagai wadah gelas.
Aomine tidak berbicara apapun tapi hanya memperhatikan si pemuda pirang dari ekor matanya. Beberapa lilitan plester di jemari-jemari tangan Kise tidak luput dari penglihatannya yang memang tajam. Mereka kembali makan dalam diam sementara kelopak sakura terus bertebaran di tiup angin.
Angin kencang yang berembus kala itu membuat debu kasat mata masuk ke dalam mata Kise yang tengah memandang luasnya langit. Kise memejamkan matanya lalu menjatuhkan sumpit yang ia pegang secara refleks. Berkali-kali Kise berusaha mengeluarkan debu pengganggu dari matanya dengan mengusap matanya pelan. Namun debu itu malah semakin menyakiti matanya hingga air matanya harus turun tangan menghentikan ulah si debu nakal.
"Mou, debunya tidak mau hilang-ssu..."Kise makin panik. Tanpa sadar badannya menggeliat gelisah dan membuat bekal makannya tumpah ke lantai atap.
Sebelum Kise memperparah keadaan, tangan kekar Aomine menghentikan pergerakan Kise. "Jangan mengucaknya bodoh! Nanti matamu makin sakit."
Aomine lalu meletakkan jauh bekal makannya dan memposisikan Kise menghadap ke arahnya. "Diam sebentar, biar aku tiup matamu." Aomine kemudian menyingkirkan tangan Kise lalu membuka kelopak matanya hati-hati dan dengan pelan meniup mata Kise.
Kedekatan wajah mereka membuat Kise tertegun sesaat. Bahkan tidak sadar matanya kini tidak kelilipan lagi kalau Aomine tidak menghapus jejak air mata di pipi kanannya.
Wajah Aomine yang biasanya bertampang bosan, nampak lebih khawatir. "Sudah mendingan?"
Kise mengerjap, "Eh? Iya sudah hilang kok debunya, Aominecchi." Kise lalu tersenyum tapi segera tergantikan dengan kerutan di dahi.
"Ahh, makananku jadi tumpah. Sebegitu tidak enakkah bekal buatanku sampai aku sendiri tak bisa memakannya?" Kise yang kecewa tidak bisa makan lagi segera membereskan kekacauannya barusan.
Belum sempat menyentuh makanan yang jatuh, Aomine mengambil salah satu potongan sosis goreng yang ada di tanah dan memakannya.
"Aominecchi jorok! Itu kan sudah jatuh-ssu!" Omel Kise.
"Belum tiga menit kan?" Sahut Aomine balik setelah menelan makanannya.
"Bukan masalah menitnya Aominecchi! Makanan jatuh kan sudah kotor-ssu!"
"Tapi ini kan masakan buatanmu, sayang kalau tidak di makan..." Kise terdiam mendengarnya.
"Lagipula, aku lebih suka sosis goreng gosong buatanmu daripada telur setengah matang buatan Ryo," Pemuda remang itu mengambil lagi sepotong sosis yang sekiranya masih selamat dan aman dari kotoran dan memasukkannya ke dalam mulut.
"Dasar baka..." Kise menghela napas lalu tersenyum lega. Setidaknya usaha Kise belajar masak dengan Kagami seminggu membuahkan hasil.
.
.
.
The End of Day 2
A/N: Semoga belum ada yang bosen sama cerita ini… Day 2 selesai! Mohon ripiunya :3
