Our Stories

.

.

By dee-mocchan

.

.

For #aokiseweek celebration in tumblr

.

.

.

Kuroko no Basuke © Tadatoshi Fujimaki-sensei.

Warning: BL, banyak typo(s), bahasa nggak baku, mungkin OOC.

Characters: Akashi Seijuurou, Aomine Daiki, Haizaki Shougo, Kise Ryouta, Kuroko Tetsuya, Midorima Shintarou, Murasakibara Atsushi.

Pair: AoKise.

Rate: T

.

.


Day 3 Themes: Change/Learning

Chosen Theme: Change


Sore itu di sebuah cafe, terlihat dua pasang lelaki duduk berhadapan satu sama lain. Pemuda yang berambut sebiru malam itu menyesap orange juice nya dengan tenang. Sementara cowok pirang di depannya asyik berceloteh ria.

"Oh, iya Aominecchi! Kemarin aku dan Nee-chan pergi ke toko aksesoris. Disana banyak kalung-kalung lucu loh! Aku jadi ingin beli-ssu!" Kedua mata Kise berbinar-binar secerah lampu panggung saat ia membeberkan dengan riang aktivitasnya dengan sang kakak kemarin.

Aomine hanya memangku dagu dengan telapak tangannya dan menyeruput minumannya dengan suara berisik. Terkadang dirinya bertanya-tanya Kise itu laki-laki atau perempuan. Tidak sekali si pirang terlihat antusias setiap kali berbelanja dengan kakak perempuan dan melihat barang-barang 'unyu' kalau perempuan menyebutnya.

'Apa jangan-jangan Kise berkelamin ganda?' Pikir Aomine dengan absurd nya.

Aomine mengehentikan aksi menggigit sedotannya seraya menggelengkan kepala pelan. 'Tidak mungkin ah! Terakhir aku cek Kise masih punya 'itu' kok di dalam celananya sepertiku!'

"Aominecchiii! Dengarkan dong! Humph!" Kise mendadak ngambek dan menggembungkan kedua pipinya dengan lucu. Aomine yang bengong mikirin hal nggak penting kembali memberi perhatiannya ke Kise.

"Iya, sayang aku dengerin kok. Kepikiran sesuatu tadi," Aomine ngeles.

"Halah, bohong. Tatapanmu kosong begitu..." Sanggahan Kise bikin pemuda gosong di depannya speechless.

Baru membuka mulut niat ngeles lagi, teriakan membahana dari luar cafe mengagetkan seluruh pengunjung cafe termasuk Aomine dan Kise.

"Gyaaa! Monsteeerrr!" Teriak dua wanita yang sibuk menenteng high heels mereka.

"Monsteeeerr lariiii!" Teriak ibu-ibu mendorong gerobak ramennya. Sebenarnya maksud ibu itu monsternya yang lari apa karena ada monster mereka harus lari? Entahlah hanya Tuhan dan ibu itu yang tahu...

Aomine segera bangkit dari meja, "Kise! Ayo kita pergi dari sini!" Teriaknya panik begitu sesosok monster cumi-cumi raksasa mulai tampak dari kaca besar cafe tempat mereka berada. Tentakel-tentakel besar dan lengket milik monster itu mulai menangkap warga kota yang mengganggu jalannya.

Kise dengan tampang sama horror nya dengan Aomine hanya bisa mematung. Begitu Aomine menarik paksa tangannya untuk keluar dari sana, barulah Kise sadar sesuatu.

"Aominecchi! Berhenti sebentar-ssu!" Ujarnya terengah-engah setelah mereka lari sekuat tenaga dan berhenti di depan gorong-gorong.

"Tidak ada waktu mengeluh Kise! Ayo kita mengungsi jugaaa!" Teriak Aomine sampai tarik urat. Sayangnya sesaat kata-kata itu terlontar, sekumpulan orang mendorong Aomine hingga dirinya dan Kise terpisah satu sama lain.

"Tidaaaakkk! Kiseeee!" Teriak Aomine meronta saat dirinya terbawa arus lautan manusia yang berusaha melarikan diri.

"Aominecchiiii! Mengungsilah duluan! Nanti aku menyusul-ssu!" Kise berteriak sekuat pita suaranya mampu. Dengan wajah serius Kise lalu masuk ke dalam gorong-gorong tadi dan mengeluarkan ponselnya.

"Ya, Akashicchi aku akan kesana. Hmm. Ya monster itu berada dua meter di depanku sekarang ini. Oke. Tunggu aku-ssu!" Kise memutus teleponnya sepihak lalu mengeluarkan sebuah alat yang terlihat seperti kombinasi iPol dan hape-hapean mainan anak kecil berwarna kuning ngejreng.

Kise mengangkat alat itu tinggi-tinggi sambil berpose ala pahlawan bertopeng dari anime bocah ingusan Crayon Sh*nchan.

"BERUBAH!" Dalam sekejap Kise yang tadinya berpakaian kaos putih dan cardigan cokelat tua serta jeans cokelat bata berubah menjadi pakaian satu setel berwarna kuning dengan armor di sekitar kedua lengan, pinggang dan helm full berkaca gelap dengan lapis kain berwarna kuning yang sama.

Nggak bingung kan bayanginnya?

"Color ranger Yellow siap bertempur-ssu!" Teriaknya lagi. Lalu mengeluarkan sebilah pedang cahaya mirip di film st*r wars.

Yup, Kise berubah jadi ranger kuning.

Dengan lincah Kise melompati gedung-gedung tinggi. Latihan rahasia yang Akashi berikan kepada sekumpulan ranger pelangi itu membuat tubuhnya fleksibel dan tahan banting menghadapi medan tempur apapun.

Tut tut tut tut.

Kise mengambil ponselnya dari ikat pinggan armornya lalu menekan tombol hijau. Bunyi telepon macam apa itu?!

"Iya, Kurokocchi! Aku otw kesana! Ah aku sudah bisa melihat kalian!" Kise lalu salto membuat 'dramatic entrance' layaknya hero di film yang datang saat krusial dengan kerennya.

"Lama banget sih lo, Ryouta!" Teriak gray ranger yang sibuk memotong tentakel-tentakel licin dan basah dari monster yang sedang mereka lawan.

"Gomen-ssu! Tadi aku kabur dulu dari Aominecchi! Hyaaaah!" Kise lalu membantu Haizaki dan Midorima yang kewalahan memotong tentakel monster cumi-cumi yang terus bergenerasi itu.

"Chikuso! Nggak ada habisnya ini mah!" Umpat Haizaki ketika berusaha mengelak dari tentakel nakal di hadapannya.

"Aka-chin. Monster ini kelihatannya lezat. Apa boleh kita pesta cumi-cumi bakar kalau sudah berhasil kita kalahkan?" Seruan purple ranger bertubuh dua meter itu membuat red ranger a.k.a abang Akashi memutar bola matanya ke samping-seandainya ia tak memakai helm tentu akan tampak jelas.

"Jangan bergurau Atsushi! Monster hina ini mengeluarkan racun dari lubang-lubang di tentakelnya. Lihat! Orang-orang yang berhasil tertangkap tentakel-tentakel itu berwajah biru dan pingsan semua. Nanti beli cumi bakar normal saja di festival! Yang ini belum teruji oleh ITB dan IPB!" Nasihat Akashi seraya sibuk mencabik-cabik kulit cumi-cumi raksasa itu dengan gunting jumbonya.

"Kise! Kise dimana kau?!" Seorang yang tadi Kise tinggalkan kini sibuk menyerukan namanya. Wajahnya terlihat pucat pasi dan panik tercetak tebal dari iris cobalt nya. Tanpa sadar bahwa sebuah tentakel panjang dan lengket monster itu menyerang di belakangnya.

"Aomine-kun dalam bahaya!" Teriak light blue ranger a.k.a Kuroko yang terlihat tidak kecapaian sama sekali. Entah kenapa setiap kali ada monster menyerang cuma Kuroko yang selamat dari luka-luka. Mungkin karena ia invisible dari mata monster-monster yang berkeliaran di kota mereka? Entahlah hanya Kuroko yang tahu...

Kise yang mendengar teriakan Kuroko sejernih kristal memutar cepat kepalanya ke arah Aomine yang masih tidak sadar akan di serang.

"Aominecchi! Awas-ssu!" Kise segera melompat diantara jarak Aomine dan tentakel beracun monster itu lalu mendorong Aomine dari bahaya. Membiarkan dirinya tersambat dan terlempar cukup jauh.

Hasil sambatan dari tentakel beracun itu membakar helm Kise yang menampakkan mata kiri dan hidungnya.

Aomine sontak membelalakan kedua matanya. Tidak salah lagi! Bulu mata lentik dan bola mata cokelat madu itu adalah milik Kise.

"Ki-se?" Serunya lirih.

Kise yang mendengar itu mengerjap. Cengkraman pedang di tangannya mengendur dan tanpa sadar pertahanannya melemah. Hitungan detik kemudian tentakel besar berhasil menangkap Kise dan melemparnya ke atas gedung.

"KISEEEEEEE!" Teriak Aomine yang terkapar dan mencoba mengesot akibat patah tulang karena dorongan Kise tadi.

'Aku tahu itu kau, Kise!'

'Jadi selama ini kau...'

'Kise... Kise!'

'Inikah alasan mengapa kau selalu menghilang misterius dan kembali dengan luka memar?'

'Kenapa kau merahasiakannya dariku, Kise?'

'Kise... Kise...'

Mental Aomine amat terguncang. Hanya Kise yang berada dalam pikirannya kali ini.

"Ti-dak... Kise... Kise... Kiseeeee!" Tangan Aomine menggapai udara kosong. Matanya mengerjap berkali-kali mencoba menyesuaikan diri dengan ruangan gelap. Badannya bergetar hebat dan membuat sosok di sampingnya terbangun.

"Aominecchi?" Tanya pemuda pirang tercintanya yang lalu duduk sambil mengusap matanya.

Napas Aomine memburu. Perlahan-lahan ia coba rilekskan jantungnya yang berdebar-debar.

Tangan lembut membelai poni pendeknya.

"Mimpi buruk ya?" Aomine hanya bisa mengangguk dan membiarkan dirinya bergerak secara insting yaitu mendekap Kise dengan erat.

Kise yang setengah bangun membiarkan Aomine memeluknya. Tidak ia hiraukan walaupun mereka dalam keadaan polos hanya selimut menutupi bagian privasi mereka.

"Kau dilarang menonton tokusatsu berbau-bau ranger lagi, pokoknya aku tak mau tahu..." Gumam Aomine pelan yang hanya membuat Kise mengeryitkan dahinya.

.

.

.

The End of Day 3


A/N: Bwahaha tema nya apa ini fic plotnya apaan... Gak nyambung /rotfl/ Day 3 ini saya dedikasikan untuk wen phantom14 yang stress mau cosu jadi yellow ranger di shinkenger *tulisan bener ga ya?* buat jikan tanggal 14 nanti. Moga-moga bisa menghibur deh. Kali-kali pengen bikin plot gini. Gomen kalo ga becus mendeskripsikannya orz. So, review? :3