Seoul, 2014.

.

.

"Bagus, kita sudah mendapatkan solusi untuk permasalahan ini. Jadi, masih ada yang mau usul?"

Mereka yang ditanya pun hanya menggeleng dan melontarkan beberapa pujian seperti, "Ya, kami rasa itu sudah yang terbaik."

"Baiklah, kita akhiri meeting hari ini. Kalian bisa kembali ke ruangan kalian," ujarnya tegas dan berwibawa—namun tetap menyunggingkan senyum kecil sebagai pemanis.

Para peserta rapat pun segera berdiri dan membereskan berkas-berkas mereka. Satu per satu dari mereka berjalan keluar sambil membungkuk hormat kepada sang presiden direktur yang masih terbilang cukup muda.

Setelah semuanya pergi, pria itu menghempaskan diri ke kursi besarnya. Sebelah tangannya menopang kepalanya sambil memijitnya pelan. Ia membuang nafasnya kasar seturut ia memejamkan matanya.

Lelah.

Ia sangat lelah, tentu saja. Rasanya ia ingin pergi barang sejenak dan melupakan pekerjaannya. Tapi tidak bisa. Ia tidak bisa berhenti. Bayangan itu masih menghantuinya, dan tidak ada cara lain untuk melampiaskannya selain berkutat dengan pekerjaannya.

Ia sama sekali tidak punya pilihan lain.

Sedetik kemudian pintu terbuka. Suara heels yang beradu dengan lantai marmer terdengar semakin dekat ke arahnya. Sang presdir tak perlu repot-repot membuka matanya, karena ia sudah sangat tau kalau—

"Dae, kau tidak apa-apa?"

—Byun Baekhyun-lah yang datang, sahabat sekaligus sekretarisnya.

"Aku tidak apa-apa, Baek. Hanya sedikit lelah," gumamnya lirih, masih memejamkan matanya.

Baekhyun mendesah. "Sudah kubilang kau harus berhenti menjadi workaholic, Kim Jongdae. Kau membahayakan tubuhmu. Kau bukan robot, kau tau."

Jongdae hanya terkekeh mendengar omelan Baekhyun. "Ya, aku mengerti eomma. Simpan saja omelanmu untuk suamimu di rumah," godanya.

"Diamlah, bodoh," balas Baekhyun sok dingin—namun tetap merona mengingat suami tersayangnya, Park Chanyeol. "Ngomong-ngomong, kau dapat undangan."

"Aturkan saja jadwalnya."

"Tapi… ini tidak hanya kau. Maksudku, kita bertiga dapat. Aku, kau, dan Chanyeol."

Akhirnya Jongdae membuka matanya dan menegakkan badannya. "Undangan apa?"

Dengan ragu, Baekhyun menyodorkan sebuah amplop kecil berwarna krem kepada Jongdae. "Undangan reuni… High School."

Jongdae mengeratkan genggamannya pada undangan itu kala ia mendengar kata 'High School.' Sekelabat bayangan yang menjadi mimpi buruknya selama ini kembali berputar-putar di kepalanya.

Taman belakang sekolah, pohon ek, perpustakaan, pesta perpisahan, adegan memuakkan, hatinya yang hancur, dan tentu saja—

—Kim Minseok.

"Apakah menurutmu…" Jongdae tersenyum lemah. "Aku harus datang?"

"Apa yang membuatmu berpikir untuk tidak datang?"

"Entahlah," Jongdae mengendikkan bahu. "Kurasa kau tau persis jawabannya, Baek."

"Jangan bilang…" Baekhyun menatap pria itu tak percaya. "Dae, kejadian itu bahkan sudah tujuh tahun yang lalu."

"Aku tau, aku tau." Jongdae terkekeh kecil. "Tapi tetap saja, Baek. Aku sama saja membunuh diriku sendiri jika aku pergi ke tempat itu lagi. Kau tau, selama tujuh tahun ini aku sudah berusaha untuk melupakan cintaku padanya, melupakan kejadian itu—intinya, aku sudah berusaha mati-matian untuk melupakan segala tentangnya."

Baekhyun terdiam. Ia tidak tau harus berkata apa.

"Tapi kau tau?" lanjutnya lagi. "Aku tidak bisa melupakannya sedikitpun. Tak peduli seberapa keras aku berusaha untuk fokus pada pekerjaanku, selalu saja senyumnya yang muncul di kepalaku saat aku bahkan hanya berhenti barang sejenak. Namun kemudian, bayangan dimana Luhan menciumnya juga ikut datang, dan membuatku—lagi-lagi—hancur."

"Dae—"

"Jadi, sekarang kau mengerti, kan?"

Baekhyun benar-benar terpojok, lidahnya bahkan terasa kelu hanya untuk mengucapkan satu kata. Pikirannya berkecamuk, batinnya menyalahkan dirinya—bahkan ia tertipu dengan senyuman Jongdae selama ini.

Ia pikir, Jongdae sudah mulai melupakan kejadian itu seiring berjalannya waktu. Setahun pertama adalah saat-saat terberat pria itu, namun perlahan ia mulai kembali tersenyum. Ia kembali membuat lelucon, ia kembali berceloteh ria. Karena itulah, Baekhyun selalu berpikir kalau Jongdae memang sudah tidak lagi memikirkan kejadian waktu itu.

Namun ternyata ia salah—salah besar.

Ia memarahi dirinya sendiri—sahabat macam apa dia? Entah Baekhyun yang tidak peka, atau memang Jongdae yang sangat ahli dalam menyembunyikan perasaannya.

"Dae," panggil Baekhyun akhirnya—memecahkan keheningan di antara mereka. "Bagaimana… Bagaimana kalau Minseok datang?"—bagaimanapun juga kau harus datang, batinnya.

"Maksudmu?"

"Kudengar, Minseok akan datang. Ia baru saja kembali dari London."

Jongdae mengernyit. "Jadi?"

"Kau tetap tidak akan datang meskipun Minseok datang? Kau—Maksudku, apa kau tidak merindukannya?"

Pria itu terdiam. Haruskah?

Bohong kalau ia mengatakan kalau ia tidak merindukan gadis itu. Ia memang merindukan Minseok—sangat, malah. Tapi kemudian, bayangan Luhan dan Minseok bersama kembali menghantui pikirannya. Jongdae memejamkan matanya erat, menahan setiap gejolak amarah dan rasa sesak yang kini bersarang di dadanya.

"Aku… Aku akan memikirkannya nanti."

Baekhyun menyerah. "Baiklah, hubungi aku kalau kau berubah pikiran. Biar aku bisa mengatur jadwalmu."

Jongdae tak membalas, hanya mengangguk asal.


Dan disinilah ia sekarang. Di aula High School lamanya, yang kini sudah disulap menjadi ballroom pesta yang sangat indah.

Dengan segelas minuman di tangan, Jongdae mulai berjalan pelan menyusuri ruangan luas itu, mencoba mencari sosok yang menjadi alasannya datang kesini. Ia sama sekali tak berminat mengobrol dengan teman-teman seangkatannya dulu—toh tidak ada yang akan mengingatku, batin Jongdae. Pikirannya terlalu fokus hanya kepada satu nama;

Kim MInseok.

Bagaimanapun, hal ini terasa seperti dejavu—ia pernah mengalami hal ini sebelumnya. Tujuh tahun lalu, lebih tepatnya. Di pesta perpisahan bersejarah itu.

Merasa tak menemukannya dimanapun, Jongdae memilih untuk menyerah. Ia menghampiri Baekhyun yang tengah berbicara dengan beberapa wanita lainnya, bermaksud untuk mengatakan bahwa ia berniat untuk pulang.

"Baek," panggilnya. Baekhyun menoleh dan mengangkat alisnya, seakan berkata, Ya?

"Aku pulang."

Baekhyun langsung menarik tangan Jongdae, mencegahnya untuk pergi. "Pulang? Kau bahkan belum ada setengah jam disini, Dae."

"Tapi aku tidak menemukannya dimanapun, jadi untuk apa aku berlama-lama? Aku hanya ingin bertemu dengannya. Itu satu-satunya alasanku kesini."

"Belum ada setengah jam, Dae," Baekhyun mengigigit bibirnya ragu, "mungkin dia sedikit telat?"

Jongdae menggeleng. "Minseok tidak pernah terlambat, dia selalu tepat waktu."

Kalimat itu cukup membuat Baekhyun tersentak. Astaga, bahkan tujuh tahun sudah berlalu, tapi Jongdae sama sekali tidak melupakan fakta-fakta tentang Minseok. Bahkan fakta terkecil sekalipun.

"Baiklah, terserah kau saja." Baekhyun akhirnya mengalah. "Hati-hati di jalan."

Jongdae tersenyum kecil dan mengangguk, lalu berlalu dari sana.

.

.

Jongdae menyusupkan kedua tangannya di saku celananya, kemudian berjalan pelan ke arah parkiran.

Namun tiba-tiba langkahnya terhenti begitu saja.

Ia menoleh ke sebelah kanan, ke sebuah koridor kosong yang merupakan jalan satu-satunya menuju taman belakang sekolah. Sejenak ia bertanya-tanya, haruskah ia pergi kesana?

Logikanya menolak mentah-mentah—mengingat betapa banyaknya kenangan yang ada di sana bersama Minseok—namun hatinya berkata lain. Hati kecilnya seakan memaksanya untuk pergi kesana—bukan untuk sekedar bernostalgia, namun karena ada hal lain.

Menyerah, Jongdae lebih memilih untuk mengikuti kata hatinya. Ia berjalan menyusuri koridor itu, entah mengapa hatinya berdebar semakin cepat seiring langkahnya bertambah.

Dan begitu ia sampai, sebuah kejutan besar langsung menyambutnya.

Jongdae memejamkan matanya sesaat, berusaha meyakinkan dirinya bahwa sosok itu hanyalah mimpi—dan akan segera menghilang saat ia membuka matanya.

Tapi dia nyata—karena sosok itu masih disana meskipun Jongdae sudah membuka matanya. Tersenyum manis kepadanya—dengan gummy smile-nya yang bahkan tidak berubah sedikitpun.

"Aku tau kau pasti datang," katanya pada Jongdae.

.

.

"Jadi… apa kabar?" tanya Jongdae, memecah keheningan canggung di antara mereka.

Minseok terkesiap—namun tersenyum setelahnya. "Baik. Bagaimana denganmu?"

Katakanlah senyuman Minseok adalah penyakit menular, karena kini Jongdae ikut tersenyum karenanya. "Begitulah," sahutnya singkat.

Keheningan kembali menyelimuti mereka, tak ada satupun yang berminat untuk bersuara. Mereka hanya duduk terdiam, bersandarkan pohon ek tua sambil menatapi langit yang nampak sangat cerah malam itu.

"Kau masih bersama Baekhyun?" tanya Minseok tiba-tiba.

Jongdae mengernyit heran mendengar pertanyaan itu. Bersama Baekhyun? Bersama dalam hal apa?

"Apa?"

"Kau dan Baekhyun," nadanya terdengar lebih rendah, seakan-akan ada yang mengganjalnya. "Apa kalian… masih berpacaran?"

Berpacaran? Dengan Baekhyun? Astaga, Jongdae nyaris tertawa keras karena pertanyaan itu. Baginya Baekhyun adalah adik kecilnya yang manis, sahabat terbaiknya, sekretaris terhebatnya—dan selamanya akan seperti itu. Sungguh, berpacaran dengan Baekhyun terdengar sangat tidak wajar di telinganya.

Namun, Jongdae menahan tawanya. Ia hanya terkekeh pelan dan bertanya balik, "Mengapa kau berpikiran seperti itu?"

Jongdae dapat merasakan kalau gadis di sebelahnya ini sedang merasa gugup. "A-aku pikir kalian berpacaran. I-iya, kan?" katanya dengan suara yang sedikit bergetar menahan malu.

Dia bahkan masih pemalu seperti dulu, Jongdae membatin dalam hati. Hatinya terasa menghangat mengingat tak begitu banyak perubahan yang terjadi pada Minseok. Gadis itu masih sama, masih seperti Minseok-nya yang dulu.

"Dari dulu hingga sekarang, Baekhyun benar-benar murni sahabatku. Kami memang selalu bersama, namun itu benar-benar hanya sebatas sahabat. Lagipula, Baekhyun sudah punya suami sekarang. Park Chanyeol. Pacarnya sejak High School," jelas Jongdae.

"…Hah?" Minseok menatap Jongdae tak percaya. Pria itu mengernyit heran.

"Ada apa? Mengapa kau terlihat begitu… terkejut?"

Minseok menggeleng pelan, menolak menjawab pertanyaan Jongdae. Dan keheningan pun kembali menyelimuti mereka, sibuk dengan pemikiran masing-masing.

"T-tunggu," Jongdae berseru tiba-tiba, lalu menatap Minseok curiga. "Bagaimana… bagaimana kau bisa tau aku dekat dengan Baekhyun? Dan juga… mengapa kau begitu yakin—

—kalau aku pasti akan datang kesini?"

Jongdae mengernyit tak mengerti. Selama ini ia berpikir bahwa Minseok hanya mengenalnya sebatas nama, mengingat mereka dulu pernah sekelas selama setahun. Ia bahkan tidak pernah berbicara langsung dengannya. Tapi bagaimana ia tahu kedekatannya dengan Baekhyun? Tentang taman belakang ini? Jongdae benar-benar butuh penjelasan akan hal itu.

"A-aku…"

"Minseok?" sebuah suara menginterupsi mereka, membuat mereka berdua sama-sama menengok ke arah sumber suara itu berasal.

Dan, yatuhan, Jongdae lagi-lagi berharap sosok yang tengah berdiri di sana itu tidak nyata.

"Minseok? " panggilnya lagi, membuat Jongdae harus mengubur harapannya dalam-dalam karena sosok itu memang nyata.

Minseok langsung berdiri ketika mendengar namanya kembali di panggil. Jongdae spontan ikut berdiri, namun tetap bergeming ketika Minseok berjalan melewatinya dan menghampiri pria yang memanggilnya tadi.

Xi Luhan.

Minseok mendekatinya, dan Luhan langsung melepas jasnya dan menyampirkannya di bahu gadis itu. Ia menatap Minseok penuh selidik.

"Kau berjanji hanya sebentar. Aku menunggumu dari tadi, tetapi kau tidak datang juga. Aku mengkhawatirkanmu, kau tau."

Deg.

Sesuatu di dalam dadanya kini terasa begitu nyeri kala melihat tangan Luhan yang melingkar manis di pinggang Minseok. Gadis itu—seperti biasa—hanya menunduk menahan malu. Jongdae tersenyum miris, betapa inginnya aku memelukmu seperti itu juga, Min.

"Dan kau pasti Kim Jongdae," Luhan tersenyum kecil dan mengulurkan tangannya. "Salam kenal, aku Xi Luhan."

Bahkan tanpa kau memperkenalkan diri sekalipun, aku sudah sangat hafal siapa dirimu, Jongdae berkata dalam hati.

Kekasih gadisku.

Ia membalas uluran tangan Luhan dan menjabatnya. "Kim Jongdae."

"Aku mengenalmu karena Minseok pernah membicarakanmu."

Jongdae tertegun. Minseok membicarakannya? Tentang… apa?

"Banyak hal," Luhan melanjutkan, seakan dapat membaca pikiran Jongdae. "Gadis ini memaksaku untuk kembali ke Korea demi acara ini. Katanya ingin bertemu seseorang yang membuatnya—"

"Ge, sebaiknya kita pulang. Aku kedinginan," potong Minseok.

Luhan tersenyum mengerti. "Baiklah, ayo pulang."

"S-sebentar!" cegah Minseok. Ia kemudian membuka tasnya lalu mengambil sebuah amplop berwarna emas. Dengan ragu, ia mengulurkannya kepada Jongdae.

"Kuharap kau datang. Sampai jumpa," gumam Minseok, kemudian berlalu dari hadapannya bersama Luhan.

Meninggalkan Jongdae yang masih bergeming dengan tatapan kosong. Terlalu banyak pertanyaan di kepalanya. Dadanya begitu sesak dan tenggorokannya tercekat hebat, sampai-sampai ia bahkan tidak bisa bersuara sekedar untuk membalas salam sampai jumpa dari Minseok.

Perlahan, ia menunduk untuk melihat amplop yang baru saja diberikan Minseok tadi. Jantungnya berdebar begitu keras—takut, cemas, sakit, semua menjadi satu saat ini. Sungguh, ia benar-benar berharap malam ini hanyalah bagian dari mimpi buruknya tentang Minseok dan Luhan, yang selama ini selalu menghantuinya.

.

…dan sebutir air mata Jongdae yang lolos sepertinya sudah cukup menjelaskan bagaimana hancurnya ia saat ini.


.

Wedding Invitation

Luhan & Minseok

.


a/n:

okay, gajadi twoshoot. aku bikin jadi three-shoot muehehe

((buat kamu chenmin shipper, harus liat mereka pas di exo first box ep 1 pas bagian mereka main mini basket! THEY WERE JUST BEING TOO OBVIOUS OHMY*-*))

slow update banget yah. maafkan saya :c

terus, aku cuma mau bilang, sebagai true fans kita harus tetap dukung mereka (siapapun itu). jangan mainan 'take side', karena ini pasti berat untuk mereka yang di korea, ataupun dia yang di china, ataupun kita, fans, yang ada di seluruh dunia.

*if you know what i mean lah*

fighting!

teruuuus, the last but not least—mind to put some reviews in the box below?^^

thankyou so much yeorobun!

saranghamnidaaa

[200514—21:11]