Apa susahnya mengungkapkan perasaan?
Apa susahnya mengatakan dua kata sederhana itu?
Seberapa takutnya kau ditolak?
Seberapa lama memangnya sakit itu akan bertahan?
—kurang lebih, begitulah pemikiran Jongdae akhir-akhir ini. Sejak hari itu, ia mulai banyak merenung. Memikirkan ulang kebodohannya, memikirkan ulang kenaifannya. Sungguh, ia merasa sangat malu pada dirinya sendiri. Dirinya bahkan tidak lebih dari seorang pengecut.
Jongdae mengangkat undangan itu tinggi-tinggi dan menatapnya penuh kekosongan. Akhir dari penantiannya, akhir dari rasa cintanya, akhir dari segalanya, akan berlangsung besok pagi.
Dan Jongdae masih belum memutuskan apakah ia siap atau tidak.
Ia menghela nafasnya kasar dan melempar undangan itu ke sembarang arah. Jongdae memiringkan badannya dan memutuskan untuk tidur.
—meskipun ia sendiri tidak yakin bisa tertidur.
Maniknya menatap lurus ke arah altar yang telah disiapkan di depan sana. Sebentar lagi, Minseok-nya akan mengikat janji disana. Janji sehidup semati yang hanya akan dapat dipisahkan oleh maut.
Namun sayang, bukan dengannya.
Jongdae tersenyum miris. Ia sendiri tidak tahu mengapa ia masih bisa datang kesini, di saat tangannya bahkan bergetar ketika memegang undangan pernikahan itu. Jongdae tidak mengerti, entah keberanian darimana yang mendorongnya hingga sampai di tempat ini.
Yang jelas, sesuatu dalam hatinya berkata bahwa inilah akhirnya. Dia harus mengakhiri segalanya—penantiannya, perasaannya, kebodohannya. Cukup sampai disini saja.
Meski akan terasa sakit sekalipun.
.
.
Kini, tepat di hadapannya, hanya ada sebuah pintu yang membatasi antara dirinya dengan Minseok. Cukup dengan sekali ketukan, cukup dengan melangkah masuk, maka ia akan langsung bertemu dengan gadis itu.
Tapi pertanyaannya, apakah ia siap?
Jongdae melirik arlojinya. Hanya tinggal setengah jam lagi sebelum Minseok dijemput oleh sang ayah, Tuan Kim. Waktunya tidak banyak. Siap atau tidak, dia harus mengatakannya. Dia harus mengakhiri ini semua.
Akhirnya, dengan segenap keberaniannya, Jongdae mengetuk pintu itu.
"Masuk," balas sebuah suara dari dalam. Suara Minseok, tentu saja. Jongae tidak akan pernah bisa melupakan suara lembut itu.
Sejenak, ia kembali ragu dan takut. Jongdae menggeleng dan menepis ketakutannya jauh-juh. Perlahan, ia membuka pintu kayu itu—
—dan tatapannya langsung bertemu dengan kedua manik indah Minseok.
"Hei."
.
.
"Bagaimana perasaanmu?" tanya Jongdae berbasa-basi.
Minseok terlihat sangat indah dengan balutan gaun putih gadingnya. Sebuah bando beraksen mawar putih tersemat rapi di pucuk kepalanya, membuat ia terlihat semakin manis. Jongdae sempat terpana karenanya, dan hal itu membuat hatinya kembali meringis.
Andai kau memakainya di pernikahan kita, Min.
"Senang… juga takut. Begitulah," jawab Minseok sambil tersenyum. Jongdae hanya mengangguk kecil dan balas tersenyum kepadanya.
Dia senang, seharusnya aku juga. Bukankah harusnya aku bahagia melihat kebahagiaanku bahagia bersama orang lain?
"Ada… apa?" tanya Minseok, menyadarkan Jongdae dari lamunannya.
Gadis itu mendongak, menatap Jongdae tepat di matanya. Jongdae terasa membeku dan lidahnya pun kaku. Jantungnya berdebar cepat—bahkan terlalu cepat, hingga membuatnya bingung harus memulai dari mana.
"Min… boleh aku mengatakan sesuatu?"
Minseok mengangguk, "Tentu."
"Min, aku mencintaimu."
"…"
Jongdae begitu takut akan kebungkaman Minseok, namun ia tetap melanjutkannya.
"Aku mencintaimu, sejak kita di SMA dulu. Aku memang lelaki paling bodoh dan pengecut, karena setelah bertahun-tahun, aku baru mengungkapkannya. Bahkan tepat sebelum pernikahanmu dimulai. Maafkan aku, aku tidak bermaksud membuatmu tidak nyaman, Min..."
"Aku… aku hanya ingin mengakhiri semuanya. Mengakhiri penantian tujuh tahunku yang sia-sia. Aku akan mengubur dalam-dalam perasaan ini. Hanya dengan melihatmu bahagia dengan Luhan, aku rasa itu semua sudah cukup bagiku. Aku akan bahagia asalkan kau hidup dengan bahagia."
Jongdae menutup pengakuannya dengan senyuman miris. Hatinya lega sekaligus takut—juga sakit. Namun setidaknya, ia tidak akan mati dengan penyesalan karena tidak mengatakannya. Begitu pikirnya.
Minseok terdiam. Ekspresinya terlalu sulit untuk dibaca. Matanya mendadak kosong dan kini mulai berkaca-kaca.
Tunggu—apa?
"Bodoh…" gumam Minseok pelan. Sebutir air matanya lolos begitu saja.
Jongdae merasakan sesak yang amat luar biasa saat melihat air mata itu. Demi Tuhan—membuat Minseok-nya menangis adalah hal terakhir yang ingin ia lakukan di dunia ini.
"A-ada apa? Kenapa kau menangis?" tanya Jongdae penuh kekhawatiran. Ia segera mengambil sapu tangannya dan mengusap pipi gadis itu dengan lembut. "Jangan menangis, kumohon"
"Kau bodoh… Kau bodoh!" seru Minseok. Air matanya semakin banyak, namun ia berusaha sekuat tenaga untuk tidak menangis.
Jongdae bingung harus berbuat apa. Mengikuti instingnya—akhirnya ia merengkuh Minseok ke dalam pelukannya.
Ia memeluk gadis itu erat sambil mengusap surainya dengan penuh sayang. Persetan dengan fakta bahwa Minseok akan menikah—pelukan ini terlalu nyaman untuknya.
Bolehkah Jongdae menjadi egois untuk saat ini saja? Bolehkah ia berharap untuk dapat memeluk Minseok lebih lama lagi?
Siapapun, kumohon, tolong hentikan waktu.
Namun, suara ketukan pintu dari luar menghancurkan segalanya. Jongdae bagaikan terhempas kembali ke dunia nyata. Dunia yang mengingatkan bahwa sekarang, saat ini, ia tidak boleh bersikap egois. Ia harus merelakan Minseok.
Jongdae melonggarkan pelukannya dan menunduk—mensejajarkan dirinya tepat di wajah Minseok. Dengan lembut ia merapikan poni Minseok yang sedikit berantakan. Ia juga menghapus jejak-jejak air mata yang tersisa di pipi gadis itu.
"Nah, sekarang kau harus pergi. Ayahmu sudah datang," kata Jongdae sambil tersenyum.
Minseok menoleh ke arah pintu, kemudian kembali menatap Jongdae. Pria itu sendiri dapat merasakan tangan Minseok yang mengenggam erat tuxedo hitamnya.
"Bagaimana… Bagaimana bisa kau tersenyum di saat aku akan mengikat janji dengan orang lain sebentar lagi?"
"Bukankah aku sudah mengatakannya? Aku bahagia asalkan kau hidup dengan bahagia."
Minseok menggigit bibir bawahnya ragu dan menunduk.
"Dae…"
"Ya, Min?"
"Aku… Aku benci untuk mengatakannya—tapi pada kenyataannya, aku juga mencintaimu, Dae."
Jongdae membeku—dan rasanya seperti ditampar keras.
"Tapi ini terlambat. Semuanya sudah terlambat."
"…"
Minseok mundur selangkah lalu pergi ke arah pintu. Ia masih menunduk, enggan melihat wajah Jongdae—karena ia sendiri tidak tau apakah ia masih mampu menatap pria itu setelah pernyataannya tadi.
Minseok memegang kenop pintu dan berhenti. Ia menoleh kecil ke arah Jongdae dan tersenyum lemah.
"Annyeong saranga. Haengbeokhaeyadwae*."
Lalu keluar dari ruangan itu.
Meninggalkan Jongdae yang terduduk kaku tepat sesaat setelah pintu di tutup.
Setetes air mata mengalir di pipinya. Hatinya terlalu remuk dan hancur. Perasaannya bahkan terlalu sulit untuk dijabarkan. Dadanya begitu sesak sampai-sampai rasanya ia lupa caranya bernafas.
Jongdae mencintai Minseok.
Minseok juga mencintainya.
Namun semuanya terlambat.
Yang ada hanya tinggal penyesalan.
…Kenyataan yang menyaktkan, bukan?
FIN.
*Annyeong saranga. Haengbokhaeyadwae = Goodbye, love. You gotta be happy. (Dikutip dari Infinitely Yours karya Orizuka)
a/n:
that's it. that's the plot. maaf kalo kurang jleb, kurang angst, kurang sedih, maafkan aku;-;
sekalian mau kasih tau aku bakal take long hiatus soalnya aku mau masuk asrama hehehehe /kayak ada yang peduli aja lol/
aku bakal kangen kalian semua yeorobun! ;~~~~~~~~~~~~~~~;
big thanks untuk semua yang udah membaca karya-karyaku—dan bahkan ngereview hasil karyaku woah muehehe thankyou so much{}
sooo—review again?^^
.
.
Special Thanks to:
[Huang Minseok] [hyona21] [bbbee] [exindira] [sayakanoicinoe] [Initial D 0326] [chuapExo31] [Guest] [Ami KeyByun] [Alexara] [growl] [cheenmiin] [Prince Changsa] [kimangraa] [leehyh]
Loveya!
[140609—15:48]
