New Secretary, New Life

Summary :

Pekerjaan menuntut seorang Draco Malfoy untuk tetap fokus. Memiliki seorang anak sudah menyita sebagian besar waktunya dan memilki pasangan sama sekali tak ada dalam agendanya. Selama 5 tahun belakangan ia tetap berpegang teguh pada pendiriannya ini. Apakah Draco, pria yang takut berkomitmen dan takut pada pernikahan akan merubah pendiriannya setelah bertemu dengan ayah dari teman anaknya itu yang tak lain adalah sekretarisnya sendiri.

.

.

.

A/N: Chap 1 update, mudah mudahan gak ngasal nih cerita. Ini aja, saya sudah 2 kali ganti plot ceritanya. Pengennya sih chap 1 ini, masih menjelaskan ulang tentang prolog kemarin, tapi, saya pikir lagi, itu bisa bikin si Harry ma Draco gak kebagian sceene ketemuan di chap ini. Jadilah saya skip sebagian besar chap 1 dan tulis yang baru lagi. Pegellll*author lebay#.

Kasih kado review dong, bagi yang udah sempet buka page ini*Pwease# & terima kasih buat yang sempetin review, nge-follow, nge-fave ama siders jg yang udah mau mampir baca.

Di sini saya buat percakapan antara Scorpy ma James tdk khas gaya bicara anak-anak, tapi dengan gaya yang biasa walaupun usia ereka baru 5 thn*OMG maafkan daku#, ok segitu aja dulu.

Happy New Year yah buat semuanya. Hope all the best for our next future life...

.

.

.

Chap 1

.

.

.

"Scorpy, Scorpius!" Teriak james cepat saat melihat Scorpius Malfoy tengah berjalan keluar kelas. Pelajaran baru saja berakhir dan bel tanda istirahat pun sudah terdengar nyaring. Karena asiknya melihat lelucon yang terjadi di depan kelasnya, sampai-sampai James tidak menyadari kalau Scorpius sudah berjalan keluar kelas.

Dengan sekali lompatan ia berhasil berdiri dari kursi, lalu bergegas menyusul 'si anak aneh' yang sepertinya tdak mendengar panggilan nyaringnya itu.

"Hosh, hosh, tunggu. Tunggu sebentar!" Seru James karena orang yang di panggilnya tadi tidak menghentikan langkah, bahkan menengok sedikit pun tidak.

"Apa anak aneh ini tak tau kalau pita suaraku akan segera putus!" Gerutunya membatin. Ia terpaksa mengejar si makhluk yang di panggilnya aneh itu, sementara Scorpius sendiri tengah asik tak mau berbalik mengindahkan panggilannya itu.

"Sret." Saking gemasnya karena tak bisa mendapat tanggapan dari Scorpy, akhirnya James memutuskan untuk menambah laju kakinya dengan sedikit berlari dan begitu ia berada tepat di belakang Scorpy, dengan cepat ia menarik kasar seragam sekolah Scorpy dari belakang.

Karena tarikan tiba-tiba itu membuat Scorpy meraih lemari di ujung koridor dengan spontannya.

"Hampir saja." Scorpius membatin. Bukannya apa, bisa malu dia kalau sampai jatuh dengan tidak elitnya seperti tadi, huh memikirkannya saja bisa membuatnya bergidik ngeri. Dengan seikit kesal ia berbalik menatap angkuh sosok anak yang hampir membuatnya tercoreng menurutnya.

"Maaf." Ujar James cepat. Aku sedari tadi memanggilmu, apa kau tidak dengar?" Serbu james lagi.

"Ini, apa kau tak lihat?" Delik Scorpy sebal.

Scorpius menunjuk arah telinganya yang terdapat benda kecil yang melingkar di sekitar telinganya itu.

James hanya menggaruk-garuk kepalanya merasa berdosa. Ia memang tidak melihat ear-phone yang terpasang di telinga Scorpy.

"Salah sendiri, kenapa memakai ear-phone yang seperti itu, kalau kau pakai yang bertali mungkin aku bisa melihatnya." Sanggahnya cepat.

"Dan apa kau tak lihat kalau rambut terangmu itu membuat pandangan orang mengabur di siang hari begini." Tambahnya lagi. Sebenarnya James sedang mencari alasan saja agar terhindar dari amukan anak aneh ini.

Mendengar penuturan James membuat Scorpy hanya bisa mendesah malas.

"Ada apa?, kau pasti punya alasan mengejarku seperti itu kan?" Kali ini mata tajam Scorpius beralih ke James.

"Aku sebenarnya ingin, ingin..." Ujar james ragu.

"Ingin apa? Sebaiknya kau cepat, karena kau hanya membuang waktu istirahatku.

"Aku ingin memperkenalkan diriku. Namaku James" Ucapnya semangat sembari mengulurkan tangannya ke arah Scorpius.

"Aku tau..." Balas Scorpius cepat dan mengindahkan uluran tangan James.

James balik menatap heran Scorpius. " Kau mengenalku?" Tanya james lagi.

Mendengar pertanyaan itu membuat Scorpius menatap malas James. "Tentu saja aku mengenalmu, James Sirius Potter kan!, bodoh, bukannya kita sekelas." Scorpius menatap James tanpa minat.

"Baiklah, karena kau sudah mengenalku, mmm bagaimana jika kita berteman?" Ujar James langsung pada intinya dengan tatapan polosnya.

"Berteman, bukankah kita sudah menjadi teman sekelas?" Kali ini gantian Scorpy yang di buat bingung.

Sedangkan James, ia hanya bisa mengangguk-angguk kecil, tanda bahwa ia setuju dengan penuturan temannya ini.

"Benar juga, hehehe." Ucapnya cengegesan.

"Kalau tak ada yang lain, aku pergi dulu." Ujar Scorpius sambil memutar badan, ingin pergi sepertinya.

"Tunggu, aku ikut." Teriak James cepat dan melangkah menyusul Scorpius.

Scorpius hanya merespon pekikkan keras itu dengan kedikkan bahunya, tanda bahwa ia sedang malas untuk meladeni pembicaraan ini. Dengan malas akhirnya Scorpius berhenti dan beralih menatap James malas " Usahakan kau menurunkan sedikit oktaf suaramu itu. Aku bahkan bisa mendengarmu dari gerbang depan." Ujarnya lagi.

"Ok ok." Sambut James malas.

.

.

.

"Maksud daddy apa? Draco menghentikan acara mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil di tangannya. Semua yang terjadi hari ini membuat pikiran serta badannya serasa remuk sakit. Bayangkan saja, acara rapat yang entah bagaimana tidak terlaksana, belum lagi 'acara keluarga' yang 'wajib'-begitu kata Lucius selaku ayahnya, malah berganti tempat dari The Five Fields Restaurant yang tak lain adalah restoran nomer satu di London itu, harus berpindah ke Hertford Hospital, di karenakan sorang 'penting' yang ingin mereka temui, tengah terbaring sakit di sana.

Draco Malfoy, pria berumur 32 tahun, bertubuh atletis dan jangan lupakan wajah tegas dan tatapan tajam yang selalu mampu mempesona mata setiap lawan jenisnya ini, tiba-tiba saja merasa kesal dengan gadget kecil di pegangannya. Sang ayah Lucius Malfoy tengah mengatakan sesuatu yang mungkin saja penting, karena melihat ekspresi kaget dan kesal yang bersamaan di wajah anaknya ini.

"Apa maksud daddy dengan sekretaris baru?, maaf dad, tapi kurasa aku masih bisa meng-handle masalah ini sendiri. Besok akan ada wawancara untuk mencari sekretaris baru untukku. Aku masih bisa menarik salah satu sekretaris dari direksi yang lain untuk sementara, sampai aku bisa mendapatkan seorang sekretaris yang baru." Ujarnya serius.

Terlihat beberapa kerutan kini tercipta di dahinya, mungkin saja karena pembicaraan ini yang semakin membuat sakit di kepalanya bertambah.

Draco berjalan ke arah tempat tidurnya dan melempar asal handuk kecil dari tangannya. Ia tak habis pikir dengan orang tuanya ini. Bukankah ayahnya tidak pernah memperdulikan hal semacam ini, lalu kenapa masalah kecil seperti ini saja membuat ayahnya mau repot-repot turun tangan sendiri.

"Rekomendasi?, Tuan Dombledore?." Apa karena pria tua tadi yang mereka temui itu membuat ayahnya mau merepotkan dirinya seerti ini.

"Tapi dad." Tiba-tiba saja sebelum dia sempat memprotes keputusan ayahnya itu, ia malah mendengar bunyi 'klik' yang menandakan panggilan itu telah di putuskan secara sepihak. Draco pun hanya menatap horor benda kecil di pegangannya itu dengan kesal.

"hah apa lagi ini!" Draco membatin.

Draco sebenarnya tidak terlalu mempermasalahkan hal ini, tentang rekomendasi. Tapi setidaknya orang yang akan menjadi sekretarisnya iru harus melewati beberapa test dulu, bukannya langsung masuk seperti penyelinap menurutnya.

Walaupun rekomendasi ini datang langsung dari Kerabat bisnis ayahnya, yang bisa di katakan juga adalah seorang motivator yang membuat perusahaan keluarga Malfoy bisa berjaya seperti sekarang ini.

Draco terlihat menerawang menimbang lagi perihal ini, walau bagaimanapun, ia tak ingin masalah seperti si Pansy mantan sekretarisnya dulu terulang lagi. Walau dia mau membantah, toh tidak akan ada gunanya juga. Bukankah Lucius Malfoy 'tidak terbantahkan.'

"Hah." Draco hanya mampu menghela nafas beratnya.

.

.

.

"Wow daddy kelihatan berbeda hari ini." Cerocos James kecil melihat setelan ayahnya lebih bergaya hari ini.

"Daddy kelihatan lebih keren kan!" Goda Harry.

Terlihat James mengangguk cepat mengiyakan perkataan ayahnya. "Daddy wawancara lagi kali ini?" Tanyanya penasaran.

"Ya, daddy akan ada wawancara di perusahaan besar hari ini, bagaimana, daddy James keren kan!" Seru Harry over PD.

"Daddy memang keren, tapi apa perusahaan besar itu akan menerima daddy bekerja di sana?" Tanya James antusias.

Harry hanya berusaha tersenyum mendengar celotehan khas anak kecil ini. Harry memang tipikal orang yang optimis, tapi, jika menghadapi perusahaan besar seperti itu, mau tidak mau nyalinya malah menciut kecil.

Harry memang bukan lulusan terbaik di sekolahnya dahulu, bukan pula pekerja teladan di tempat bekerjanya dulu, tapi dia tidak bodoh, mungkin nasibnya saja yang selama ini membuatnya terus berada di tengah-tengah, dan seakan tidak mengizinkannya naik ke level yang lebih tinggi.

"Tentu saja Daddy akan di terima di sana." Ucap seseorang yang baru saja datang bergabung di meja makan.

Albus Dombledore-pria yang kemarin tergeletak dijalanan dan terbaring di rumah sakit itu malah berakhir di rumah Harry. Harry yang sangat-sangat tak tega mendengar kalau Dombledore tak punya sanak saudara itu dengan seenaknya menyimpulkan kalau Dombledore tak punya tempat tujuan. Jadilah ia mengajak pria itu tinggal bersamanya sementara.

"Apa anda betul-betul mengenal seorang yang bekerja di sana sir?" Tanya Harry meragu.

"Huh sudah ku bilang kalau kau bisa mengandalkanku Harry." Jawab Dombledore seadanya. Pria tua ini bisa melihat dengan jelas kalau Harry tengah ragu dan dengan pelan mengangguk kecil padanya.

"Maafkan aku sir, bukannya aku meragukanmu, tapi bukankah perusahaan itu adalah perusahaan terbaik di kota ini!" Tambahnya lagi.

"Sudah ku bilang kalau kau bisa mengandalkanku Harry." Ucap Dombledore pasti.

"Baiklah sir."Tanggap Harry mendengar ucapan anggota baru di rumahnya itu.

"Silahkan makan sir, maaf jika jamuan pertamaku hanya seperti ini." Ujar Harry merasa tak enak melihat hanya beberapa potong sosis dan omelette yang tersaji di atas meja makan mereka."

Dombledore tak memberi respon apapun atas perkataan Harry itu, malah ia terlihat santai, lahap menikmati menu makan paginya.

"Aneh." Batin Harry.

"Baiklah, cepat habiskan makananmu James, daddy tidak ingin terlambat hari ini."

.

.

.

"Apa saja yang kau bawa son?" Tanya Draco melihat tas anaknya yang lebih menyembul dari biasanya itu.

Draco dan anaknya Scorpius tengah berada di dalam mobil ayahnya, dan melaju dengan kecepatan sedang kearah sekolah anaknya pagi ini.

"Ini, aku membawa 2 bekal untuk makan siang hari ini dad." Jawab anaknya.

"2 bekal makan siang!, untuk apa, apa kau bisa menghabiskannya?"

"Bukan seperti itu dad, kemarin ada teman Scorpy yang mengikuti Scorpy seharian dan juga dia memakan habis bekal Scorpy."

"Apa ada yang mengganggu Scorpy di sekolah?" Draco terdengar cemas kali ini.

Scorpy menggeleng cepat mendengar pertanyaan ayahnya itu.

"Bukan dad, itu teman baru Scorpy. Dia tidak mengganggu Scorpy, tapi dia anak yang berisik dan tak pernah berhenti berceloteh. Scorpy tidak suka mendengar suara nyarignya, tapi Scorpy suka dia menjadi teman Scorpy." Ujar anaknya cepat dengan nafas tak teratur. Jelas saja tak teratur, karena Scorpy bicara hanya dengan satu tarikan nafas saja, jadi bisa bayangkan sendiri kalau sedari tadi paru-parunya berdemo meminta oksigen.

Tampak Draco tersenyum kecil mendengar cerita anaknya itu, huh sempat di kiranya yang bukan-bukan. Sepertinya sifat 'father complex-nya' langsung kambuh tadi.

Draco tersenyum menoleh ke arah anaknya itu.

"Dan anak itu meminta Scorpy menjadi temannya, aneh, bukankah kita teman sekelas, kenapa malah bertanya seperti itu." Gerutu Scorpius tak berhenti.

Draco menatap takjub dengan perubahan anaknya ini. Bukankah Scorpy anak yang bisa di bilang pendiam dan tak suka bersosialisasi dengan sekitar. Malah kini berganti tak berhenti berbicara, walaupun itu hanya luapan perasaannya tentang teman barunya itu.

Biasanya anaknya itu hanya akan berkutat dengan gadget di tangannya atau kartun favoritnya saja. Berbicara pun seadanya saja, mungkin karena intensitas untuk bertemu mereka semakin menipis, mengingat pekerjaan sang ayah yang tak ada habisnya itu. Jangan salah, setiap tahun, setiap 2 atau 3 kali, Draco mengajak anaknya itu berlibur bersama. Namun perbedaan besar dalam diri anaknya itu terjadi setelah sang ibu memilih untuk memilih pergi bersama teman lelakinya setahun yang lalu.

Draco saat itu hanya bisa diam, memutuskan untuk tak bertanya apapun pada Scorpy tentang perasaannya yang di tinggalkan sang ibu, . tapi terlihat jelas perubahan sikap anaknya itu. Semuanya bukan karena Draco merasa hancur di tinggalkan mantan istrinya itu, bahkan, ia merasa lega, setidaknya wanita itu memilih kebahagiannya sendiri di banding bersama dengan dia yang tak pernah menaruh perasaan pada seorang pun. Perkawinan atas dasar perjodohan yang di atur orang tua membuatnya tak bisa mengelak menjauh, aneh memang, tetapi inilah seorang Draco Malfoy, pria yang tak percaya dengan yang namanya cinta dengan sebuah ikatan pernikahan beserta embel-embelnya.

Tapi setidaknya ia masih punya Scorpy, anak semata wayangnya yang adalah darah dagingnya sendiri. Anaknya itu menjadi penghibur untuk dirinya selama ini.

Tampaknya mood Draco pagi ini menjadi lebih baik, apa yang lebih baik dari melihat perubahan sikap baik sang buah hatinya itu.

.

.

.

"Morning Mione." Sapa wanita bernama Luna Lovegood itu ketika ia berpapasan dengan Mione Atau Hermione tepat di depan lift kantor pagi ini.

"Morning Luna." Sapa Mione balik dengan senyuman khasnya.

"Apa kau sudah dengar berita terbaru." Ujar Luna masuk ke dalam lift dan mengambil tempat di samping wanita itu.

Mione terlihat malas menanggapi ucapan temannya ini. Jelaslah Mione merasa terganggu, seorang Luna Lovegood mendekatinya seraya berbisik kecil ke arah telinganya, apalagi kalau bukan tentang sesuatu yang tidak lain adalah berbau gosip. Wanita satu ini memang terkenal dengan julukan 'si telinga seribu'. Jangan kira ia hanya mendapatkan julukan ini begitu saja, karena wanita ini bisa tau semua hal-hal yang berjarak 500 meter dari tempat kakinya berpijak, bahkan mungkin lebih.

Terakhir kali Luna mengapitnya seperti ini, tepat pada saat si Cho Chang mengundurkan diri karena ketahuan telah menikah diam-diam dengan Marcus Belby bagian HRD. Dan mereka melupakan salah satu aturan persahaan ini, yaitu tak membolehkan pasangan suami-istri bekerja di perusahaan yang sama. Jadilah dengan pertimbangan keras ia merelakan pekerjaannya dan memutuskan untuk resign dari perusahaan ini.

"Ada apa lagi kali ini?" Jawab Mione malas.

Sebenarnya Luna agak sebal melihat respon Mione yang terlihat hanya menannggapi malas perkataannya.

"C'mon Mione, ini berita besar." Ocehnya dengan mata yang berbinar terang.

"Ok ok baiklah, aku tak punya banyak waktu untuk berbelit-belit seperti ini, kau bisa mulai bicara sekarang." Ucap mione sambil bersedekap tak sabar. Telinganya bisa mendapat dosa di pagi hari yang cerah adalah pilihan terakhirnya. Mione sebenarnya kurang suka mendengar berita-berita yang di anggapnya kurang penting yang berasal dari Luna, tapi mau bagaimana lagi, wanita satu ini akan mengikutinya seharian kalau ia belum mendengar habis berita ini.

"Walau kesal karena waktu yang di berikan Hermione untuk mendengarkan gosip heboh itu hanya sebentar, akhirnya Luna bercerita juga. "Apa kau ingat Pansy yang menjadi sekretaris ?" Tanya Luna.

"Ya, aku mengenalnya, memangnya ada apa dengannya?" Tanya Mione balik.

"Apa kau tau juga kalau kemarin Pansy-sang sekretaris itu sudah resmi keluar dari perusahaan ini, atau bisa di bilang kalau pansy di pecat langsung oleh Presiden Direktur kita itu?" Cerocos Luna.

"Apa maksudmu dengan di pecat?, jangan asal bergosip , memangnya kau dengar dari mana?" Tanya Mione kesal. Wanita ini jelas kesal mendengar berita yang di rasanya tak benar itu. Mana mungkin Pansy Parkinson bisa di pecat, sedangkan Pansy sudah bekerja agak lama di perusahaan ini.

"Aku dengar sendiri kemarin. Begini, kemarin siang pas waktu lunch aku berniat menyerahkan hasil kajian keuangan kita bulan ini ke ruangan , nah tepat saat itu menyuruh Pansy membenahi semua peralatannya dan menyuruhnya segera keluar dari perusahaan ini. Apalagi maksud kalau bukan pemecatan sekretarisnya itu" Ujarnya meyakinkan.

"Benarkah?, memangnya ada apa?" Mione terlihat penasaran kali ini.

"Belum begitu jelas mengenai alasan itu, tapi yang ku dengar-dengar, ini semua ada hubungannya dengan rapat dengan salah satu klien asal New York." Tambah Luna.

"Apa mengenai klien yang kemarin itu ya?, Shit... Bahkan aku sampai lupa mengabarkan langsung pada Pansy kalau perwakilan perusahaan dari New York itu, meng-cancel rapat itu. Mereka mengundur 1 minggu untuk acara ulang tahun perusahaan induk mereka."Batin Mione resah.

Tapi bukankah aku sudah mengirim surel pada Pansy perihal penundaan itu, sebenarnya apa yang terjadi?" Ujar Mione merasa sedikit bersalah. Kalau saja apa yang di katakan Luna benar, maka bisa di bilang ini adalah murni kesalahannya, walaupun tak 100% kesalahannya, tapi ia tetap punya andil untuk mempertanggung-jawabkan permasalahan ini.

"Hey Mione apa kau baik saja." Tanya Luna sebal karena merasa Mione tak menanggapi pembicaraannya.

Mione tersentak begitu Luna mengguncang sedikit bahunya, menyadarkan wanita itu dari lamunannya.

"Aku harus pergi sekarang." Ucap Mione dan berlalu cepat saat pintu elevator sudah terbuka lebar. Meninggalkan Luna yang menatapnya bingung.

"Aku harus segera meluruskan masalah ini."

.

.

.

"Jadi kau sudah tau tentang sekretaris baru itu?, bagaimana bisa?" Tanya Draco menatap kesal Managing Direktur perusahaan yang tak lain bernama Blaise Zabini ini. (Managing Direktur= Bertugas memanage berjalannya suatu pelaksana yang akan di rinci seperti sebuah kerja sama yang akan di lakukan kedalam perusahaan lain atau membantu presiden direktur.).

Jangan tanya kenapa bukan si Blaise ini yang mengerjakan kerjasama dengan perusahaan New York kemarin, bukannya lalai, anak perusahaan dengan cabang di negara lain yang baru berkembang yang di rasa lebih membutuhkannya untuk sementara ini. Setelah 6 bulan, barulah ia bisa kembali ke London, menempati posisinya semula.

Rupanya kedatangannya ingin menjumpai Presiden Direktur perusahaan ini atau lebih tepatnya pria yang sudah menjadi sahabatnya sejak ia kuliah ini malah berbanding terbalik dengan ekspetasinya sendiri.

"Hah, kukira karena sudah lama tak melihatku, aku akan sedikit di sambut oleh sahabatku.! Ucap Blaise malas dan ia pun langsung mengambil duduk di sofa.

"Bagaimana kabarmu selama ini?, apa kau baik-baik saja selama aku di sana?" Cerocos Blaise, berniat menggoda temannya ini mungkin.

"Malah tatapan dingin itu lagi, huh, baiklah. Begini, semalam ayahmu menelepon dan menyuruhku kembali di sini membantu sekretaris barumu itu. Kata ayahmu, karena sekretaris baru itu belum terlalu berpengalaman dengan posisi ini, makanya aku yang di utus langsung untuk membantunya.

"Belum berpengalaman?, shit, apalagi ini!" Terdengar suara Draco meninggi.

Blaise yang sedari tadi mengamati temannya ini hanya mengedikkan bahunya tanda ia juga tak mengerti dengan keputusan Komisaris perusahaan ini.

"Pasti ada alasannya ayahmu menempatkan sekretaris kurang berpengalaman itu di sini, tak mungkin kan ayahmu mau mengambil resiko mempekerjakan orang seperti itu tanpa ada alasan yang jelas." Ujar Blaise menimbang lagi maksud Lucius Malfoy. Ia saja merasa ada yang aneh dengan keputusan ini.

"Huh, kau benar, Albus Dombledore." Gumam draco pelan.

"Apa benar tak ada pelukan hangat atau jamuan makan untukku?, aku jadi menyesal menerima tawaran ayahmu untuk kembali kesini, harusnya aku tetap di sana saja." Ucap Blaise pura-pura sedih.

"Jangan memasang wajah begitu, itu tak cocok dengan umurmu Blaise. Ok ok, malam ini di tempat biasa." Ucap Draco akhirnya.

"Dan kau yang traktir?" Tambah Blaise.

"Ya ya, aku yang traktir, apa kau sudah puas ?" Kesal Draco sepertinya.

"Hahaha, baiklah, sudah kuduga, see u tonight." Balas Blaise cepat sebelum keluar dari ruangan itu.

.

.

.

Pintu berukir mahal Draco di ketuk seseorang.

Setelahnya seseorang masuk dengan suit lengkap dan tas jinjing di tangannya. Draco hanya menatap malas ke arah orang itu.

Dan apa itu, meskipun Draco tidak terlalu mengenal dunia mode, tapi lihatlah orang awam pun pasti tau dengan hanya sekali melihat saja. Setelan itu, yang di pakai pria di hadapannya ini, belum lagi sepatu yang entah sudah ada dari zaman sebelum masehi. Draco menatap nanar penampilan Harry.

"selamat pagi sir." Sapa orang itu.

Draco tak ada niat sedikitpun membalas sapaan pria di hadapannya ini. Terlihat matanya teliti menilai tubuh Harry dari atas kepala hingga ke ujung kaki Harry dengan tak sopan, seperti meremehkan.

"Duduklah, tak usah berbasa-basi seperti itu." Perintah Draco menunjuk map di pegangan Harry.

"Harry James Potter, 30 tahun, bekas pekerja di bagian marketing." Draco terdengar meremehkan Harry.

"Iya sir. Nama saya Harry James Potter." Ucap Harry gugup. Siapa yang tak gugup jika di tanya dengan pandangan mengintimidasi seperti itu.

"Tak ku sagka pilihan ayahku hanya seperti ini, sangat mengecewakan." Batin Draco. Draco membaca tiap detil kertas di pegangannya itu dengan seksama.

"Apa maksud orang ini?." Batin Harry mulai tersinggung melihat dan mendengar cacian Draco sedari tadi itu.

"Jadi inilah sekretaris dadakan itu?, apa tidak salah!. Aku heran kenapa bisa merekomendasikan pria seperti ini." Pikir Draco tersenyum sinis.

"Apa kau yang akan menjadi sekretaris baruku?, kulihat kau tak punya pengalaman tentang ini dan lagi apa kau tak punya setelan yang lebih baik dari pada itu." Tunjuk Draco pada Harry.

Draco mengawasi pria di hadapannya itu dengan tatapan dinginnya. Pria itu bertinggi sedang, tak setinggi dirinya tentu saja, langsing. Namun, kombinasi setelan kemeja putih sederhana, serta celana suram yang lebih mirip seragam di matanya, dan fakta kalau pakaiannya murahan serta tidak pas di tubuh pria ini, mau tidak mau membuat Draco mendapat 'iritasi mata' seketika.

Selama sepersekian detik pandangan mereka bertemu. Dan detik terakhir Harry langsung menyimpulkan kalau ada-yang-tak-beres-dengan-otak-orang-ini.

"Sekretaris?, aku memang tak punya pengalaman dengan jabatan itu." Tentu saja Harry tak berbohong, mana pernah ia menjabat sebagai sekretaris, paling-paling selama ini jabatan tertinggi yang pernah didapatnya, hanya ketika ia menggantikan kepala seksi untuk sementara, itupun karena orang itu sedang cuti melahirkan.

"Sudah kuduga, orang dengan resume yang pas-pasan seperti ini, mana mungkin bisa di terima di perusahaan ini, kalau bukan karena main belakang, ya kan!" Sindir Draco.

"Maksud anda apa, aku memang datang ingin melamar pekerjaan di tempat ini. Tapi ku rasa pekerjaan di tempat seperti ini tidak cocok untukku. Maafkan aku sir, aku permisi." Marah Harry yang sangat tersinggung mendengar sindiran yang datang bertubi-tubi dari Draco. Memang ia hanyalah mantan pekerja biasa. Sekretaris?, maksud orang ini apa. Ia kemari karena usul , tapi kini ia menyesal karena tak menanyakan dulu lebih rinci tentang pekerjaan yang akan di posisikan untuknya.

Dan lagi apa ini, di hadapannya ada pria sombong yang menjabat presiden direktur di perusahaan besar seperti ini, yang terus menatapnya seolah dirinya orang yang tak pantas berada di sini.

Harry berdiri, merapikan sedikit jasnya dan langsung berlalu keluar dari ruangan itu.

"Rupanya nyalinya hanya seperti itu saja. Ini lebih gampang dari biasanya." Senang Draco dalam hati.

"Drtt, drtt."

"Mansion House's Calling." Draco membaca sepintas screen ponselnya dengan malas.

"Ya, mom." Jawab Draco. Jangan tanya kenapa Draco langsung tau orang yang meneleponnya adalah ibunya. Hanya wanita satu ini yang selalu meneleponnya menggunakan sambungan telepon mansion megah mereka.

"Morning Dray. Maaf jika ibu mengganggu. Ibu hanya ingin memastikan saja apa orang yang di rekomendasikan itu sudah datang?. Mom hanya ingin mengingatkanmu saja, kalau kau tak boleh mengacau kali ini sayang. Atau ayahmu... Ibu rasa kau sudah tau maksud ibu!" Ucap atau ibu dari Draco malfoy.

"Ya, tadi orang itu sudah datang, dan aku tak melakukan apapun padanya. Orang itu sendiri yang memutuskan tidak ingin kerja di perusahaan ini." Jawab Draco lagi.

"Apa maksudmu dengan pergi?, kau pasti melakukan sesuatu lagi kan!. Pokoknya ibu tak mau tau, kau segera cari orang itu kembali, atau proyek utama kita untuk tahun ini akan gagal son. Apa kau tak mengerti juga?" Kesal Narcissa.

"Proyek Utama, bagaimana ini ada kaitannya dengan pria itu?" Tanya Draco.

"Ibu tak bisa menjelaskannya sekarang son. Ingat, kau harus mencari lagi orang itu, dan bila perlu kau bisa meminta maaf padanya. Kau harus ingat nasib perusahaan kita bergantung pada orang itu." Kata Narcissa sebelum mengakhiri pembicaraan mereka.

"Shit, apa lagi ini." Kesal Draco dan langsung menghubungi seseorang dari line telepon kantornya."

"Tahan pria itu, tunggu aku sampai datang kesana." Ujar Draco, menarik kasar jas kerjanya lalu memakainya dengan cepat.

.

.

.

"Maaf sir, apa anda bernama James Potter?" Tanya seorang petugas keamanan yang tiba-tiba saja datang mengahampirinya saat ia baru saja keluar dari lift lobby perusahaan.

"Ya, saya Harry. Ada apa?" Bingung Harry tak tau ada kesialan apa lagi kali ini. Baru saja ia bertemu dengan manusia yang merasa dirinya dewa paling sempurna, sekarang ia malah dihentikan oleh petugas keamanan perusahaan ini.

"Maaf sir, bisa anda ikut saya sebentar?" Terlihat orang keamanan itu mempersilahkan Harry berjalan mengikutinya.

Harry yang bingung hanya mengikuti langkah kaki orang yang biasa di panggil satpam itu dengan pelan. Dalam benaknya, Harry sungguh mengutuk hari ini. Mimpi apa ia semalam, sampai-sampai harus tertimpa sial berkali-kali lipat dari biasanya. Bagaimana pun Harry tidak bodoh, di panggil satpam seperti ini pasti mengacu pada hal yang tidak baik. "Tapi, bukankah aku hanya beberapa menit di tempat ini, malah tak sampai 30 menit, apa ada yang aneh dengan itu." Batin Harry mulai gelisah sepertinya.

Sebelum mereka sempat masuk di salah satu ruangan yang lebih mirip terlihat seperti ruangan meeting yang besar dan megah. Tepat saat itu juga satpam itu berbalik dan memberi hormat pada pria yang telihat sedikit berpeluh, mungkin karena sedikit mempercepat laju kakinya menapak.

"Kau bisa pergi sekarang." Ujar Draco pada satpam.

Setelah beberapa saat terdiam kaku, akhirnya Draco mulai membuka percakapan mereka. "Duduklah." Kata Draco akhirnya.

Harry diam mencerna setiap kejadian yang agak random terjadi padanya sejak ia melangkah masuk ke tempat ini. "Baiklah, ada apa lagi ini." Batinnya ragu. Gantian Harry yang menatap penampilan pria di hadapannya ini.

Sang Presiden Direktur

Gagah. Tampan. Stylist. Percaya Diri. Dan... Sombong. Sepertinya itulah satu-satunya kesan yang berhasil di tangkap Harry setelah melihat dengan jelas perawakan orang di hadapannya ini.

"Ehem." Deheman keras draco seakan mengembalikan Harry pada dunia nyatanya.

"Maaf, tapi kukira urusan kita sudah selesai tadi. Ada apa, apa ada yang lain?" Tanya Harry berusaha untuk tetap berbicara sopan, walaupun ia tak berhenti mengumpat tentang pria sombong dihadapannya.

Draco terlihat salah tingkah sendiri. Seumur hidupnya baru beberapa kali saja ia merasakan bagaimana rasanya-menelan-ludah-gugup. Dan ini adalah saat tambahan satu poin untuknya."Shit, bagaimana bisa mulutnya seperti terkunci rapat, tak tau apa yang harus di utarakannya.

Dengan menghirup dan menghembuskan nafasnya dengan dalam selama beberapa kali, akhirnya Draco membuka bicara "Begini, mungkin aku langsung saja. Apa anda siap bergabung di perusahaan ini, sebagai sekretaris tentu saja." Tawar Draco pada Harry.

"Jangan bercanda tuan. Bukankah aku hanya pegawai pas-pasan yang tak punya pengalaman. Sekretaris?, apa anda sedang ingin bermain-main denganku?" Marah Harry kini. Ia benar-benar tak menyangka kalau kedatangannya di sini hanya menjadi olok-olokan pria ini saja. Tak apa kalau ia tak di terima karena tak memenuhi syarat masuk di tempat ini, tapi setidaknya, ia hanya ingin perlakuan sewajarnya saja, bukan dengan mempermainkannya seperti ini. Bukankah tadi pria ini telah menghinanya habis-habisan.

Huh, masih punya nyali juga pria ini menyela, jika tak mengingat ucapan ibunya di telepon tadi, sudah di pastikan pria di hadapannya ini sudah keluar terlempar jauh dari tiap inci tanah gedung megah ini.

"Bukankah aku bertanya apa kau mau bekerja sebagai sekretarisku di sini?, apa kau bisa mendengar dengan jelas?. Bukankah harusnya jawabanmu hanya satu kata, ya atau tidak." Balas Draco sinis.

Membujuk?, lupakan tentang satu kata itu untuk seorang Draco Malfoy, itu tak termasuk dalam kamusnya.

Niat sebenarnya ingin membujuk Harry, agar mau bekerja di perusahaan ini. Tapi dengan ego yang besar, tentu saja ia tetap berjuang mempertahankan sikap dingin dan tak acuh-nya.

"Apa orang ini sudah gila." Batin Harry menanggapi.

"Well, hanya satu kata kan!, dan itu TIDAK." Harry mempertegas kalimat akhirnya dan berniat pergi dari tempat ini. Harry terus melangkah meskipun ia beresiko menabrak pria yang sepertinya ingin menghentikan langkahnya dengan berdiri tepat di antara pntu keluar.

"Tunggu dulu, aku ingin bicara denganmu." Cegah Draco.

Sepertinya Harry tidak berniat untuk berbicara lebih panjang lagi dengan pria angkuh ini. Harry tetap berjalan melewati Draco, dan terkesiap ketika pria itu dengan seenaknya saja menghalangi jalannya.

"Kau menghalangiku." Kata Harry saat berusaha bersikap sopan dan tenang.

Mata Harry yang membola, mungkin karena ia sedikit kesal, membuat Draco terdiam di tempatnya. "Hijau Zamrud." Gumamnya pelan. Entah berapa lama ia sedikit mengagumi warna di hadapannya.

"Hey, kau menghalangiku tuan." Ulang Harry lagi.

Draco terkesiap diam, ia pandangi lagi Harry, dari atas sampai bawah tubuhnya dan menggeleng kasar, mengusir pikiran-pikiran aneh yang baru saja hinggap di kepalanya. Ini semua menimbulkan serangkaian reaksi panik dan kemarahan dalam dirinya. Dan parahnya lagi emosi itu di perkuat oleh fakta bahwa itu semua tak menghalangi pengaruh binar terang yang melingkupi setiap sisi pria di hadapannya itu.

" .Shit. Berhentilah berpikir dan kau akan kembali normal. Ini pasti karena aku terlalu membenci pria ini, tak ada alasan yang lain lagi, pasti hanya karena ini." Batin Draco menambahi.

"Oh rupanya kalian di sini." Sahut seseorang yang baru saja berdiri di antara mereka.

"Hey Dray minggirlah sedikit, kau menghalangi jalanku." Tambahnya lagi.

Baiklah, setelan mahal lengkap, sepatu mengkilap dan tentu saja wajah tampan, tak berbeda jauh dengan tampilan luar Draco itu mampu membuat Harry menoleh ke asal suara. Dan yang pasti tak ada pada Draco, yaitu senyuman lebar nan tulus terlihat di tujukan tepat pada Harry.

"Hi, kenalkan namaku Blaise Zabini." Ucapnya ramah.

Harry membalas uluran tangan Blaise dengan senyuman "Harry, Harry James Potter. Senang berkenalan dengan anda sir." Balas Harry sopan.

"Rupanya kau bisa juga bersikap sopan." Sinis Draco berkata menyindir Harry.

"Maaf, tadi aunt Cissy menghubungi saya. Dan sepertinya ia ingin Tuan Presiden Direktur segera menghubunginya kembali." Ucap Blaise terdengar tenang. Draco sudah mengerti dengan maksud Blaise yang membawa-bawa nama ibunya itu. Pasti ibunya-lah yang menyuruh Blaise membantunya menangani perihal ini.

"Bisakah kita berbicara di ruanganku sebentar ?" Tambah Blaise bertanya ramah pada Harrry.

Harry terlihat sedikit menimbang permintaan Blaise ini. Jujur saja, ia ingin segera keluar dari tempat ini, lebih jauh lebih baik. Tapi jika ia menolak, itu berarti harus tinggal di tempat ini beduaan lagi bersama Presiden Direktur sok terpelajar dan sombong itu, hell no, lebih baik ia menerima tawaran Blaise ini. Bukannya menggiurkan, hanya saja, ini adalah pilihan yang terbaik untuk saat genting seperti ini.

"B-baiklah ." Jawab Harry dengan sedikit ragu.

"Silahkan ." Kata Blaise mempersilahkan Harry berjalan terlebih dahulu di depan.

"Kami permisi dulu ." Ujar Blaise sambil mengedipkan sebelah matanya ke arah Draco.

Draco hanya memandangi satu-satunya pintu di ruangan itu dengan kesal. Bagaimana bisa ada pria tak berkelas dan tak berpengalaman seperti Harry malah menolak tawaran bekerja di perusahaan besar seperti ini, menjadi sekretaris seorang Presiden Direktur pula.

"Setelah perjanjian itu terlaksana, akan ku pastikan pria itu akan segera resign dari perusahaan ini."

.

.

TBC

.

.

.