New Secretary, New Life
.
.
.
Summary :
.
Pekerjaan menuntut seorang Draco Malfoy untuk tetap fokus. Memiliki seorang anak sudah menyita sebagian besar waktunya dan memilki pasangan sama sekali tak ada dalam agendanya. Selama 5 tahun belakangan ia tetap berpegang teguh pada pendiriannya ini. Apakah Draco, pria yang takut berkomitmen dan takut pada pernikahan akan merubah pendiriannya setelah bertemu dengan ayah dari teman anaknya itu yang tak lain adalah sekretarisnya sendiri.
.
.
.
Harry Potter dan all cast bukan punya saya. Melainkan milik J K Rowling
.
.
.
A/N: Chap 2 update. Fiuh... Gak tau juga jadinya kayak gini hehehe apa ff ini masih layak lanjut? Gimme pendapat kalian yah, biar memacu semangat gitu loh hahaha.
Mmm ada yang tau gak, kenapa file di lappy saya kalo udah di manage di akun FFN malah banyak kata-katanya yang ilang kesasar gitu. Bagi yang tau solusinya, tolong ngasih tau yah Pm jg boleh, atau e mail: Mariahclouds , ok thanks.
Oh iya, kemaren ada yang nanya tentang film ATM, suer deh saya gak tau menau tentang tuh film. Jadinya karena penasaran, saya malah nge-browsing nyari film itu. Dan ternyata itu film thriller, serem deh. Pembunuhan berdarah-darah.?! Saya tuh sukanya film family romantis dan sejenisnya, gak terlalu demen ma genre bunuh-bunuhan. Tp gpp, berkat film itu sy ketemu ma film yang buagus banget "The Blind side" Adakah yang tau? Hahaha never mind, itu salah satu film favorit-ku.*koq saya jadi banyak bacot hehehe#
Ok, Jangan lupa buat nuangin pendapat maupun kritikan buat saya di kolom review bawah, please ok. Tq, buat yang sempat review di chap sebelumnya.
Segitu aja
Happy reading all
.
.
.
Chap 2:
.
.
.
Harry membetulkan letak sebuah pigura yang berukuran tak terlalu besar, sehingga bisa di tempatkan di atas meja kerjanya. Ia menatap lagi pigura di hadapannya dengan senyum terkembang. Menurutnya ini adalah salah satu momen yang terpenting dalam hidupnya. Terlihat gambar seorang wanita yang sedang menggendong seorang bayi kecil dengan tatapan sayangnya dan tentu saja bersama Harry yang juga tak kalah bahagianya dari wanita itu. Sekali lagi ia menatap puas sekeliling ruang kerja barunya. Akhirnya setelah 2 bulan menganggur, sekarang ia sudah mendapatkan pekerjaan. Tak tanggung-tanggung, menjadi seorang sekretaris pula. Membayangkannya saja Harry tak pernah, apalagi ini benar-benar realita/sebuah kenyataan. Bangga rasanya ia bisa menjadi salah seorang makhluk yang bersarang di perusahaan sebesar ini. Walaupun, ada sesuatu yang sangat disesalinya sejak ia menginjakkan kakinya di perusahaan ini. Siapa lagi kalau bukan Presiden Direktur si makhluk yang tak punya sopan santun itu.
Kini terdengar suara langkah kaki menuju ke arahnya.
"Bagaimana Harry, apa kau suka dengan kantormu?" Ujar Blaize saat masuk. Tangannya mendekap beberapa tumpukan map tebal di tangannya, lalu meletakannya di atas meja Harry.
" Ini beberapa hal yang harus kau pelajari dulu sebagai permulaan. Jika ada yang tak kau mengerti, kau bisa menanyaiku langsung." Jelas Blaise.
"Tentu saja aku suka, ini benar-benar bagus. Baiklah, mmm sekali lagi terima kasih ."Ujar Harry tersenyum pada Blaise.
Harry benar-benar merasa senang melihat pria di hadapannya ini adalah orang pertama yang menyambutnya dengan kata ramah seperti sekarang ini. Ah, Blaise Zabini yang begitu membumi, baik dan menyenangkan. Harry tak henti-hentinya merasa kagum pada pria di hadapannya kini.
"Sayang Draco belum kembali dari rapatnya pagi ini. Kalau sudah, mungkin dia bisa mengantarmu keliling kantor ini. Tapi tenang saja, siang ini pasti dia sudah kembali." Ujar Blaise bermaksud menyambut baik bergabungnya Harry di sini.
Harry hanya tersenyum mendengarnya, namun diam-diam bersyukur karena 'ide gila' itu tidak perlu terjadi. Hah untuk apa meminta si makhluk sombong itu menjadi pemandunya?. Ia memang belum mengenal seluk-beluk perusahaan ini, mungkin atas ataupun bawah gedung kantor yang megah ini, tapi toh nanti ia akan terbiasa sendiri. Dan lagi, apa si Presiden Direktur si makhluk aneh itu mau mengantarkannya berkeliling?. WTH Memikirkannya saja mampu membuatnya bergidik ngeri.
"Selamat bergabung di perusahaan ini Harry dan Jika kau butuh bantuan, aku akan ada di ruanganku. Kau tak perlu sungkan,ok." Ucap Blaise sebelum berjalan meninggalkan ruangan itu.
Harry hanya mengangguk paham kearah Blaise. First day at work place, setidaknya ia punya banyak hal yang harus di kerjakannya mulai hari ini.
.
.
.
"Apa kau sangat suka labu?" Tanya james begitu membuka kotak bekal siangnya kali ini. Atau lebih tepatnya kotak bekal makan siang Scorpy yang double extra itu.
"Memangnya ada apa dengan labu?, kalau tak suka yah jangan di makan." Jawab Scorpius malas melihat raut wajah James yang terkesan tak berminat itu tampak jelas oleh penglihatannya.
"Bukannya tak suka. Tapi, apa kau tak punya makanan lain selain sayur berwarna orange ini." Tunjuk James horor ke arah kotak bekal mereka. Sudah beberapa hari ini isi dalam kotak bekal mereka tak berganti apapun. Bukan makanannya sih yang sama, tapi semua inti isi kotak bekal mereka tak jauh dari sayuran yang bernama labu itu. Entah puding labu, rolade labu atau hanya sekedar sandwich yang terisi labu juga di dalamnya.
Scorpius beralih menatap kotak bekal ekstra yang berada di tangan james sembari berkata "Taruh saja lagi disana, kalau kau memang tak mau memakannya." Ujarnya cuek dan kembali menyantap makanannya.
"Aku hanya bertanya tentang menu makan siang kita ini, dan kau malah menyuruhku menyimpannya lagi. Padahal aku kan belum makan apa-apa siang ini. Mana ada orang yang berkata seperti itu pada temannya sendiri." Kesal James sepertinya.
James tak berhenti menggerutu kesal dalam hati. Bagaimana bisa teman barunya ini bersikap acuh padanya seperti ini. Yang di inginkannya hanya perutnya terisi hingga penuh, atau hampir penuh juga tak masalah. Tapi ketika ia mencoba menghiraukan makanan orange itu 'lagi' dan satu suapan hanya berjarak beberapa inci dari mulutnya, ia benar-benar tak dapat menahan ini lagi. Bau labu kuning itu menyeruak ke seluruh indera penciumannya hingga mampu membuatnya mulas dalam seketika.
"Bukankah kau tak berminat memakannya." Ujar Scorpius datar. Scorpius makan dengan rupa yang bisa di bilang elegan. Tangannya terulur teratur menyentuh tiap potongan garpunya,mengunyahnya teratur lalu menelannya dalam diam, malah hampir tak ada suara kunyahan terdengar.
Tanpa di sadarinya James sedari tadi tak berhenti memperhatikan cara Scorpy menelan menu itu "Hah, apa dia pikir dirinya adalah 'Ken' sang prince pasangan Barbie yang hidup dalam istana raja." Gerutu James malas.
James dengan berat hati menatap lagi pada kotak bekal di tangannya dengan seksama. Mungkin rasanya akan datar, tapi hanya inilah kesempatan perutnya di manjakan siang ini. Tak ada waktu lagi untuk mengganti menu makan siangnya ini, jam pelajaran selanjutnya tinggal menunggu beberapa menit lagi. Akhirnya ia menelan berat ludahnya dan mulai mengarahkan garpunya pada kotak bekalnya lagi.
"Huh, baiklah baiklah." Kali ini James harus bersabar sepertinya menghadapi teman barunya yang super cuek ini.
.
.
.
"Apa kau pengganti baru Luna?" Tanya Mione begitu sampai di ruangan Harry. Mione menatap Harry melalui ujung matanya memperlihatkan dengan jelas kalau ada suatu yang tak di sukainya dari perawakan pria di hadapannya ini. Matanya tak habis-habisnya meneliti penampilan maupun wajah canggung Harry.
Harry merasa sedikit bingung dengan maksud pertanyaan wanita ini. Ia sedikit memaksakan senyum ramah dan meletakkan kertas ditangannya dengan perlahan. "Maaf, Luna?" Tanyanya bingung.
"Ya, Luna sekretaris Malfoy." Jawab Mione sambil menatap lurus pada Harry. Mione merasa agak kesal melihat ternyata gosip si itu benar adanya dan yang lebih penting lagi, ada seorang pria yang duduk dengan tenang di meja itu, yang meyakinkannya kalau Pansy Parkinson memang sudah resmi resign dari perusahaan ini. Terlihat kecewa raut wajahnya saat ini, namun wanita satu ini langsung merubah air mukanya menjadi semula, datar.
"Hhemm... Maksudku mantan sekretaris Malfoy." Mione mencoba bersikap biasa dengan berdehem kecil.
Harry sedari tadi memperhatikan dengan seksama maksud dari wanita ini. Dan ia hanya bisa menyunggingkan seulas senyum ramahnya pada wanita ini. "Oh iya, aku sekretaris baru Presiden Direktur. Maaf jika membuat anda bingung, aku baru masuk kerja pagi ini dan belum sepat mengenalkan diriku dengan karyawan yang lain. Kenalkan, Harry James Potter." Ucap Harry berdiri mengulurkan tangan pada Mione.
Mione lalu maju beberapa langkah dan balas menjabat tangan Harry. "Hermione Granger, kepala bagian humas di perusahaan ini." Balas Mione memperkenalkan dirinya. "Maaf, aku kemari ingin berbicara dengan , apa ia ada?" Tambah Mione. Ia bersusah payah tersenyum meskipun sedikit kaku. Bukannya Mione membenci Harry, Cuma ia merasa kesal dengan pemecatan tiba-tiba Pansy, dan itupun baru 2 hari yang lalu. Jelas saja penggantian seperti ini terlalu terburu-buru di pikirnya. Bukankah ia juga belum menjelaskan apapun pada Presider Direktur itu.
"Maaf , tapi Tn. Draco sedang ada rapat pagi ini. Siang ini mungkin ia kembali. Apa ada yang bisa ku bantu?, atau anda ingin menitipkan pesan?, aku akan menyampaikannya nanti setelah ia kembali." Tanya Harry sopan.
Mione pun menangguk mengerti "Tidak usah, tak ada yang penting. Kurasa aku akan kembali lagi nanti. Thanks Harry, aku permisi dulu." Pamit Mione cepat dan langsung pergi.
"Baiklah ." Ujar Harry dengan sedikit keras, mengingat Mione sudah berjalan keluar terlebih dahulu bahkan sebelum ia sempat membalas ucapan wanita itu.
.
.
.
"Kira-kira kapan orang itu kembali?" Harry mengecek lagi jam tangannya lalu beralih menatap note di tangannya. Huh bisa-bisa note di tangannya ini penuh jika si bos-nya itu tak datang juga. Rupanya menerima telepon dan menulis pesan yang masuk untuk seorang Presiden Direktur itu ternyata cukup melelahkan juga. Hampir tiap 10 menit ada saja coretan yang bertambah di kertas memonya."Bukankah harusnya rapatnya sudah selesai dari tadi." 15:25 adalah angka yang tertera di bawah screen komputernya dan ia cukup yakin kalau ini sudah tak bisa di katakan siang lagi.
Tiba-tiba sebuah suara memotong cepat pikiran Harry. Harry sontak menengok kearah suara, mencari tau siapa sosok yang datang dengan tiba-tiba itu.
Seorang Draco Malfoy tentu saja. Datang dengan wajah datar namun tegas. Percaya diri dan menatapnya dingin. Tiba-tiba saja aura di ruangan ini menjadi berbeda, tatapan Draco yang seolah menyeruakkan ketidak sukaannya pada dirinya membuat Harry balas menatap Draco malas. Sopan? Pada pria di hadapannya yang menatapnya seperti itu adalah hal yang tak akan di lakukannya meski ia akan di tendang jauh dari sini. Masih segar di ingatannya tentang si sombong yang merendahkan dirinya itu, jelas saja masih terbayang. Semua kalimat penghinaan yang di tujukan untuknya itu baru saja di katakan kemarin, dan tak ada permintaan maaf sedikitpun yang diucapkan Draco padanya. Walaupun si Tn. Blaise yang tau-tentang-bagaimana-bersikap-sopan itu telah mewakilinya meminta maaf. Tapi mana ada permintaan maaf yang diwakilkan kalau nyatanya orang itu masih sehat wal afiat seperti Draco ini.
"Apa begitu cara sapaanmu pada atasan-mu yang dulu? Ujar Draco menatap Harry tajam. Ia tak menginginkan hal yang ribet dari sekretaris barunya ini. Setidaknya kalimat selamat sore atau selamat datang mungkin bisa mengingatkannya kalau ia sudah berada di kantornya sendiri. "Huh, apa benar pria ini yang menentukan pemasukan besar mereka nanti, pria yang bahkan tak tau bagaimana cara menyalami bos-nya sendiri. Masa sih ia harus bekerja dengan pria seperti dia. Ia tak kuasa menutupi rasa kesalnya melihat wajah Harry yang seperti tak kenal takut itu.
"Ah, selamat sore Malfoy. Selamat datang juga." Ujar Harry dibuat-buat dan jangan lupakan senyuman palsu yang terlihat jelas itu.
Kini lipatan kulit di dahi Draco bertambah sudah. Ia menyadari ucapan atau lebih tepatnya sindiran yang di tujukan Harry untuknya. Shit, mana ada yang pernah memperlakukannya dengan tak hormat seperti ini. Draco mencoba mempertahankan raut wajahnya dan balas tersenyum sinis pada Harry, walau bagaimanapun ia tak pernah merasa kalah dari seseorang apalagi pada pria tak jelas seperti Harry pikirnya.
"Thanks untuk penyambutannya... setelan kemarin Potter?, apa kau tak punya yang lain selain itu?." Tunjuk Draco pada pakaian Harry. "Ah, apa si Blaise itu lupa memberimu daftar peraturan perusahaan ini?, kalau begitu kau bisa memintanya lalu baca lagi dengan seksama. Yang seperti kau pakai itu, tak diperkenankan di perusahaan ini." Tambahnya sinis menunjuk lagi pakaian Harry, malah kini tangan Draco menunjuknya perlahan dari atas hingga bawah kaki Harry secara berulang.
Harry menatap garang Draco yang tersenyum menyeringai seperti itu. "Shit, apa lagi maksud si manusia tak punya sopan santun ini." Batin Harry gusar.
Draco tersenyum menang melihat pergantian drastis raut wajah Harry membuat pria ini mengerti akan siapa dirinya dan apa posisinya di sini sepertinya mampu membuat seorang Draco Malfoy berteriak senang dalam hati.
"Maksud anda sir?" Harry menatap tajam sosok di hadapannya itu. Ada apa dengan orang ini? Sejak baru datang tadi bicaranya selalu menyindir terus?! Harusnya seorang Presiden Direktur seperti Draco Malfoy Tau bagaimana cara ber-etika santun, nah ini malah berbalik 180 derajat dari yang seharusnya.
Dingin dan tajam. Draco tahu seperti itulah suara sekretaris barunya ini terdengar saat bertanya barusan. Walaupun ia baru 2 hari ini mengenal atau berbicara pada Harry, tetap saja Draco merasa tak terima dengan sikap sok-melawan Harry yang menggebu-gebu, serasa ia tak di hargai saja. Dan rasanya ia-lah yang menempati posisi atasan di kantor ini, lalu kenapa gaya bicara Harry seakan tak menghormatinya yang merupakan Presiden Direktur.
Draco terdiam di tempat. Ia sama sekali tak menduga akan mendapat balasan secepat, sedingin dan setajam itu dari orang baru. Kelihatannya pria ini sama sekali tak merasa terintimidasi olehnya. Sangat berbeda dengan penghuni seluruh isi kantor ini pada umumnya. Biasanya tak pernah ada yang menolak pesona dirinya. Kenapa yang satu ini tak tergoyahkan melihat penampilannya yang selalu mampu mengintimidasi orang di sekitarnya.
"Tentang itu, sudah kubilang kalau kau bisa menanyakannya langsung pada Zabini. Apa pendengaranmu juga kurang baik ?. Hah aku sedikit ragu kalau orang yang mempunyai banyak KEKURANGAN sepertimu bisa memberi kinerja baik bagi perusahaan ini." Jawab Draco cepat, merasa perlu menjatuhkan sang lawan barunya ini.
"Tadi mengomentari penampilan, dan sekarang mengataiku tuli?! Apa orang ini masih waras." Batin Harry marah. Harry memandang kesal kearah bos-nya ini yang ternyata memandangnya balik sambil menyeringai lebar.
"Aku tidak tuli sir, pendengaranku masih baik-baik saja. Bahkan aku menerima permintaan maafmu, ah, apa tuan belum bertemu dengan Tuan Blaise Zabini ?. Kusarankan tuan segera bertanya hal ini langsung pada tuan Blaise, tentang penerimaan maafmu yang kemarin itu. Aku bukan seorang pendendam, jadi kurasa aku bisa memaafkanmu sejauh ini sir. Jadi kurasa kiriman wine sebagai permintaan maaf itu rasanya sedikit berlebihan. But still, saya merasa harus tetap mengucapkan terima kasih atas hadiah itu. So, terima kasih banyak sir dan kartu ucapannya juga." Balas Harry lagi dengan nada meremehkan. Harry tak bodoh, ia tau dengan pasti kalau hadiah kemarin itu bukan hadiah langsung dari atasannya ini. Mana mungkin atasannya mau repot seperti itu. Harry agak bingung dengan alasan ia bekerja di perusahaan ini, malah bisa di bilang kalau ia merasa sedikit terpaksa bergabung di kantor megah ini. Tapi mau apa lagi, ini satu-satunya cara agar ia bisa mendapatkan pemasukan lagi, setelah 2 bulan menganggur. Mengenai alasan, walaupun sedikit aneh, toh ia tak terlalu ambil pusing dengan itu semua.
Raut wajah Harry yang di buat datar dan terkesan polos(tapi di buat-buat) mau tak mau membuat seorang Draco Malfoy naik pitam. Hey, apa-apaan itu. Wine sebagai hadiah dan bersama kartu ucapan permintaan maaf juga?!. Apa tak salah si Blaise itu, mencantumkan namanya, nama seorang Draco Malfoy di acantumkan sebagai pemberi hadiah permintaan maaf?!. Jujur saja ini menjadi suatu yang baru saja terjadi di kehidupan seorang Draco Malfoy yang terhormat.
"Hahaha kau bisa melucu juga ternyata. Menjadi badut perusahaan juga tak ada salahnya, tapi setidaknya lain kali perbaiki caramu berbicara pada atasanmu sendiri. Dan mengenai hadiah itu, jangan salah sangka dulu, kami punya stok banyak di perusahaan ini, dan kemarin ditambah lagi stok wine yang baru di penyimpanan bawah. Hah, dari pada sisanya di buang percuma di pembuangan sampah, kan sayang. Jadinya sisanya langsung di pack dan dikirim untuk beberapa orang yang mungkin membutuhkan. And guess what?, ternyata kau termasuk golongan orang yang membutuhkan itu. Hahaha lucky you." Ledek Draco menyeringai puas pada Harry.
"Kalau begitu aku merasa terhormat menjadi goongan yang membutuhkan. Lain kali jika kantor ini melakukan pembersihan aset-aset yang bernilai lainnya, kurasa aku akan dengan senang hati menampungnya." Desis Harry cepat masih dengan nada suara yang sama.
Draco menggeram di tempatnya berdiri, kesal karena si orang baru tampaknya tidak mau menyerah dan selalu balas menyahuti ejekannya.
"Oh iya sir, ini adalah pesan yang saya terima selama anda keluar rapat tadi. Semuanya sudah saya tulis di situ." Ujar Harry memberi note pada Draco. Dan yang anehnya, ia melakukannya dengan wajah yang terbilang santai. Sepertinya ia tak gentar dengan perkataan sinis atasannya itu.
Melihat perwujudan Harry membuat Draco mati-matian menahan nafsunya untuk menenggelamkan pria itu. Mungkin idenya tak terlalu buruk. Setidaknya ia sudah berusaha meredam segala gejolak amarahnya sedari tadi. Tapi pria di hadapannya ini selalu bisa memancing amrahannya lagi dan lagi.
"Pria ini masih berani melawanku, Draco marah melihat Harry menangkat dagu, seolah menentangnya. Well, dia akan segera tau siapa yang berkuasa disini. Draco mengambil kasar note yang di sodorkan padanya dan langsung pergi masuk keruangan kerjanya dengan wajah keras menahan amarah.
Draco Malfoy mempermainkannya, ia tau itu. Pria itu berusaha untuk membuatnya resign dari perusahaan ini. Harry bisa merasakannya dan ia bisa saja di pecat langsung saat ini juga. Memikirkannya mampu membuatnya berkeringat dingin. Ia tak boleh kehilangan pekerjaannya, tidak di hari ia pertama kerja. Walaupun di balik ketakutannya tersirat kemarahan pada atasannya ini, yang memanfaatkan kekuasaan untuk menyiksanya. Namun ia bersyukur, karena Draco tak akan pernah melihat sisi takutnya itu langsung karena semampunya ia akan menutup rapat bagaimana gugup dan takutnya ia dengan kekuasaan seorang Draco Malfoy.
Harry menatap garang arah pintu atasannya "Shit, semoga ia adalah satu-satunya manusia yang punya perawakan seperti itu, bagaimana kalau ada dua jenis makhluk sama seperti sang atasan ini." Batin Harry seram.
.
.
.
Satu jam kemudian, Draco masih setia berkutat dengan dokumen-dokumen di atas meja kerjanya. Saat ia membaca lagi detail-detail perencanaan pejanjian baru mereka. Draco dengan kesal menyadari bahwa benaknya masih tertuju pada Harry.
Belum pernah ada seorang yang pernah memenuhi benaknya ketika ia seharusnya berkonsentrasi pada masalah-masalah yang lebih penting. Penting baginya untuk tetap berkonsentrasi untuk membuat perjanjian ini tetap berjalan sesuai jadwal yang sudah jauh-jauh hari disusunnya.
"Drrrt drrrt"
Draco menatap malas handphonenya di atas meja.
"Ya, dad." Jawab Draco
"Bagaimana perkembangan kerja samanya?" Tanya Lucius di seberang line.
"Aku sudah memeriksanya dad. Kurasa ada sedikit yang harus direvisi lagi, tapi over all, semua baik-baik saja. Bisa di bilang tak ada halangan yang berarti sampai saat ini."
"Bagus. Untuk memastikan semua berjalan dengan baik, kuusulkan kau bisa lebih dekat lagi dengan sekretaris barumu itu. Kau tau kan, dia itu titipan Tn. Dumbledore, jadi kurasa selagi kau bersikap baik padanya, tak akan terjadi hal yang tak kita inginkan. Kau tau son, ini benar-benar penting untuk perusahaan kita." Kata Lucius serius.
"Sepertinya itu bukan ide yang bagus dad. Maksudku, bukankah kita sudah memberinya pekerjaan disini, walaupun kemampuannya terbatas. Harusnya Tuan Dumbledore menyadari itu, resumenya saja tak bisa diandalkan." Balas Draco tak terima.
"Lakukan seperti yang kuperintahkan son, aku tak menerima alasan apapun. Apa salahnya bersikap baik pada seseorang? Kau pasti bisa melakukannya son." Desak Lucius.
"Bukan seperti itu dad, kau hanya tak mengerti tentang ini. Pria itu benar-benar tak bisa di andalkan. Malah aku berfikir untuk segera memecatnya segera setelah kita menandatangani perjanjian ini." Jelas Draco.
"Jangan bicara sembarangan son. Bagaimana jika orang itu mendengar?" bentak Lucius.
"T-tapi..."
"Sudahlah son, tak ada tapi-tapian lagi, kau mengerti! Berbaik-baiklah dengannya." Ujar Lucius sebelum memutuskan line teleponnya di seberang.
Draco menatap tajam handphone-nya yang tak bersalah itu. Bagaimana bisa ayahnya melontarkan semacam lelucon tak lucu. Orang terakhir yang ingin di dekatinya adalah harry Potter si sekretaris baru. Namun suara ayahnya benar-benar serius dan tanpa humor, membuatnya menghela nafas berulang kali, menetralkan emosi yang janggal di dadanya. Draco jarang terkejut, tapi ia lebih jarang lagi menyadari dirinya berada di situasi yang tak di harapkannya dan semua ini tak bisa ia atasi dengan mudah.
Ayahnya mungkin tak bercanda, namun Draco juga tak ingin memanfaatkan seseorang. Tindakan berpura-pura seperti ini bisa di bilang memanfaatkan bukan?! Andai saja ia punya cara untuk menolak rekomendasi Harry tanpa menyangkut-pautkan perjanjian penting ini.
Ekspresi Draco berubah suram memikirkan pembicaraanya tadi bersama Lucius ayahnya. Dan jika Harry adalah orang yang akan membuat perjanjian ini berjalan sukses, maka ia akan melakukannya. Seorang Draco Malfoy akan melakukan apa saja karena dia pebisnis yang hebat dan bisa di andalkan. Ia tak akan membiarkan perasaan pribadinya mempengaruhi keputusan-keputusan bisnisnya. Harry mungkin seorang pembangkang menurutnya, tapi untuk perusahaan ini dia adalah permatanya untuk sementara waktu. Draco tak punya waktu jika perjanjian ini meleset dari jadwal yang sudah di susun rapi. Perjanjian ini harus segera di laksanakan dan diselesaikan jika ia berniat mendapatkan hasil yang ia inginkan.
"Baiklah, mungkin tak ada salahnya menerima pria itu bekerja di sini. Tapi tentu saja pria itu harus menaati peraturan-peraturan yang ku buat, atau ia akan menghadapi konsekuensinya"
.
.
.
TBC
.
.
.
