New Secretary, New Life
.
.
.
Summary :
.
Pekerjaan menuntut seorang Draco Malfoy untuk tetap fokus. Memiliki seorang anak sudah menyita sebagian besar waktunya dan memilki pasangan sama sekali tak ada dalam agendanya. Selama 5 tahun belakangan ia tetap berpegang teguh pada pendiriannya ini. Apakah Draco, pria yang takut berkomitmen dan takut pada pernikahan akan merubah pendiriannya setelah bertemu dengan ayah dari teman anaknya itu yang tak lain adalah sekretarisnya sendiri.
.
.
.
Harry Potter dan all cast bukan punya saya. Melainkan milik J.
.
.
.
Chap 3:
.
.
.
.
"Maaf sir, anda melakukan apa?"
Draco menghela nafas mendengar nada marah dalam suara Harry.
"House of Fraser, pukul 5 sore ini setelah jam pulang kerja. Apa kau masih belum mengerti juga?" Jelas Draco cepat.
Harry terdiam. Jelas bukan ini yang di inginkannya. Berusaha mencerna maksud inti dari perkataan bos'nya. Dia merasa mendengar nada iba dalam ucapan Draco dan ini sudah di luar batas toleransinya sendiri. Demi apapun juga, ia merasa tak ada yang salah dengan setelan lengkap yang dipakainya sekarang ini.
House of Fraser, tentu saja Harry tau tentang salah satu toko terkemuka untuk urusan fashion di negaranya sendiri yang berlokasi di Oxford Street, London Inggris, tempat para kalangan atas memanjakan fantasi berpakaian mereka dengan budjet dan kualitas eksklusif tentunya. Tapi untuk apa jika ia merasa tak ada yang salah dengan setelan lengkap yang membungkus tubuhnya lengkap.
"Maaf sir, tapi kurasa aku sama sekali tak membutuhkannya. Dan aku sudah membaca lagi tentang peraturan perusahaan ini. Disana tertulis pakaian wajib yang seperti ini. Setelan lengkap + rapi + harum dan wangi. Dan aku sedang memakainya saat ini. Lihatlah, ini sebuah setelan lengkap yang lengkap + rapi + harum dan wangi yang sedang kukenakan sekarang." Tunjuk Harry pada dirinya sendiri.
"Aku rasa akan lebih mudah jika kau mulai menyesuaikan diri jika kau memiliki setelan standart perusahaan ini. Dan apa kau akan memakai itu untuk bertemu kolega-kolega besar kita nanti? Apa kau mau menjatuhkan image eksklusif perusahaan ini dengan cara berpakaianmu itu!" Desis Draco tajam. Niat baik yang semula diam-diam ingin di tujukannya pada sekretaris barunya ini, berbalik membuatnya emosi. Apa sekretarisnya ini belum juga mengerti akan niat baiknya ini? Untuk menghilangkan rasa amarahnya, Draco hanya mampu mengumpat kata kasar dalam hati.
"Ini hal yang akan membuatnya dekat dengan sekretaris barunya ini, setidaknya kata terima kasih yang ingin didengarnya dan ia rasa itu sudah setimpal dengan niat baiknya inikan!?.
"Cara berpakaianku?" Harry menyela marah.
Dan apa lagi itu menjatuhkan image perusahaan di mata kolega penting mereka?. Apa cara berpakaianku seburuk itu?
"Hey, maksudku bukan seperti itu. Aku hanya mempertahankan kesan eksklusif perusahaan ini." Jawab Draco kesal.
Tubuh Harry menegang saat mengamati maksud Draco padanya. "Kesan eksklusif? Atau maksud anda lebih mengacu tentang pakaian murahan ini. Aku tidak merasa malu ataupun memberi kesan rendah dengan pakaian yang kukenakan sekarang. Bukankah ini adalah tempat yang lebih mementingkan kredibilitas pekerjaan yang akurat dibanding dengan kain sutera dan parfum high class yang setia menempeli tubuh mereka." Ucap Harry lantang.
"Apa kau harus menyela setiap ucapanku? Apa kau lupa siapa aku bagi perusahaan ini? Kenapa kau tidak bisa diam dan terima dengan baik setiap perkataanku tanpa harus beradu argumen dahulu?"
"Jadi, maksud anda mempermalukan dan merendahkan ketidak mampuanku secara finansial di mata orang lain? Untuk apa aku terima di permalukan untuk hal yang sama sekali bukan untuk kepentinganku?"
"Untuk kepentingan perusahaan ini. Dan kau sekarang termasuk dalam ikatan perusahaan ini." Draco berkeras, mencoba dengan cara lain.
"Aku takkan melakukannya." Ujar Harry marah.
'He's such a headstrong guy'
"Benarkah? Apa kau merasa sanggup kehilangan pekerjaanmu ataupun pendapatanmu untuk saat ini? Dan kurasa itu bukan ide yang brilliant untuk seorang single father sepertimu." Ujar Draco mencoba tenang.
Semua yang dikatakan Draco benar adanya, Harry tau jelas itu. Tapi itu tak berarti ia senang mendengarnya. Dalam sekejap semua luapan amarah dalam dirinya kian mereda, membuat dirinya merasa kecil dan sangat terluka.
Draco menyadari tatapan Harry yang kian berdiri dari kursinya berjalan perlahan sampai ia berada tepat dihadapan Harry. Perlahan ia meletakkan tangan di bahu Harry. "Aku sama sekali tak berniat merendahkanmu, anggaplah ini 'seragam' yang harus dikenakan dalam perusahaan ini. Tak ada niat lain, ini semata demi kelangsungan perusahaan." Kata Draco mencoba menenangkan.
Sontak Harry menubrukkan iris hijaunya pada sosok dihadapannya. Walaupun kesal dan sangat tersinggung dengan argumen mereka tadi, tapi inilah kenyataannya ia tak bisa mengelak lagi jika melihat sentuhan tulus dan betapa sungguhnya pantulan sinar muka Draco saat ini.
Untuk beberapa detik kemudian tatapan mereka masih beradu, seolah ingin menyelami pikiran lawan masing-masing. Merasa terkunci, tak ada salah seorangpun yang ingin memutuskan kontak mata itu.
Gelisah hati Harry memberinya kesadaran langsung jika ia ternyata keliru karena menganggap Draco berusaha mempermalukannya. "Baiklah, ku akan kesana." Jawab Harry akhirnya.
Draco sempat tersenyum sesaat dengan keputusan akhir perdebatan mereka. Satu tarikan kecil di sudut bibirnya mampu membuat perasaan hatinya membuncah gembira. Ini hal pertama yang di rasakannya selama ini, tak sekalipun rasa seperti mendapat 'kejutan' memenangkan sesuatu yang penting bagi dirinya pernah menghalau pikirannya. Ini yang pertama kali, dan ini tak lain karena sekertaris barunya itu.
"Kurasa mulai dari sekarang aku harus mengantisipasi untuk menunggu kejutan lainnya." Batinnya setelah mempersilahkan harry keluar dari ruangannya.
.
.
.
.
"Hey guys, sebelah sana, lihatlah. Wow, aku yakin dia bernilai 85, yeah walaupun bokongnya tidak nampak berisi, tapi setidaknya dadanya tidak serata papan. Pasti 34B untuk seukuran dadanya. Ah membuatku horny saja." Tunjuk Blaise pada seorang wanita yang baru saja masuk dalam tempat ini.
Tepatnya mereka tengah berada di Ministry of sound London, salah satu night club favorit di sana. Tempat yang mampu menarik sekitar 5000 pengunjung setiap weekend-nya, memiliki 3 lantai dansa dan 3 bar yang terpisah. Dengan Dj Pete Tong dan paul Oakenfold yang melegenda menjadi nilai tambah yang tersendiri. Bisa di bayangkan berasal dari mana ketertarikan warga London pada tempat ini.
Draco menatap malas arah pandang yang Blaise yang dirasanya sedikit berlebihan. 85 adalah angka yang terlalu tinggi untuk wanita dengan tampilan dress di atas lutut, make up setebal 2 centi disertai bibir merah merekah yang mampu membuat sebuah toko kehabisan stok lipstiknya untuk beberapa bulan kedepan. Ah satu lagi dada implan yang terlihat menonjol tapi palsu yang bergerak seirama dengan gerakan tubuhnya. Iuh demi apapun juga, nilai 1 pun tak sudi diberikannya untuk makhluk palsu diseberang sana.
"Ada yang salah dengan matamu Blaise. Sebaiknya kau cepat periksakan sebelum bertambah parah." Ucap Draco dengan 'tulusnya'.
"C'mon Dray, kakinya jenjang dan itu menambah lagi nilai untuknya."
"Kalau kau suka yang jenjang, kenapa tak sekalian kau kencani tiang listrik di luaran sana. Kurasa mereka semua masih single dan seperti katamu juga mereka PANJANG." Tambah Draco lagi.
Dan Harry membatu ditempatnnya.
Ada yang salah disini. Kemana si Blaise yang membumi, sopan dan tau cara bersikap itu pergi. Kenapa malah berubah menjadi si Omes(otak mesum) dengan hormon yang tak terkendali. Demi apapun juga,selama ini ia tak percaya dengan perkataan bijak atau filsafat yang mendunia 'jangan menilai buku dari sampulnya saja'. Bisa jadi si Blaise yang terlihat berkilau dari luar termasuk kategori Fonttenelle jika sudah mengenalnya lebih dalam. Sepertinya Harry harus mengetahui lebih banyak lagi dengan siapa ia berurusan nanti.
Harry menatap tak percaya mendengar pergulatan kata-kata vulgar dari kedua orang yang bersamanya kini.
"Seleramu selalu serendah itu Blaise, ckckck setidaknya carilah wanita yang tidak membuatmu terkena PMS(Penyakit Menular Seksual)." Sergah Draco cepat. Dan yang mengherankannya lagi, Draco mengatakannya dengan santai, seolah ini objek yang biasa dikemukakan.
"Hey, jangan merendahkanku seperti itu. Itukan terjadi karena aku masih muda dan masih dalam masa pubertasku. Untuk sekarang ini, aku sudah lebih seleksi dan tau jenis wanita yang bisa memberiku PMS dan yang tidak. Ah sebaiknya kau tidak mengngkitnya lagi Dray, perkataanmu sama sekali tak membantu. Benarkan Harry?"
Harry yang di tanya dengan pertanyaan seperti itu, ia hanya bisa tersenyum canggung pada Blaise tanpa balas mengatakan apapun juga.
Blaise hanya mengedikkan bahu cuek melihat respon Harry itu."Aku kesana sebentar." Ucap Blaise'penuh makna'. Tatapannya tak beralih sedikitpun dari wanita tadi yang sudah berbaur bersama para clubbers di lantai dansa.
Jangan tanya kenapa mereka di sini, salahkan saja si Blaise yang menyarankan hal seperti ini padanya saat Draco menceritakan pembicaraannya dengan sang ayah tadi. Tapi detik ini juga, Draco menyesali keputusannya yang ikut menyetujui usulan tak bertanggung jawab dari Blaise ini. Mana bisa ia dan Harry-sang target untuk bisa lebih dekat lagi dengan keadaan yang tak mendukung seperti sekarang ini. Dengarlah suara riuh dan gaduh yang mengisi di setiap sudut ruangan.
Ah, kenapa bukan makan malam biasa yang bisa membuat suasana hati menjadi tenang, bukannya dentuman musik yang tak berhenti menghentak-hentakkan dada seluruh penghuni tempat ini. Mana mungkin ia bisa menyeruakkan maksudnya bila untuk berbicara saja mereka sulit, tentu saja dengan ruangan yang sebising ini kau bahkan akan sulit mendengar, bahkan jika kau berteriak keras sekalipun.
Draco berpindah duduk tepat disebelah Harry. Meskipun awalnya ragu, toh ia hanya tak ingin membuat kesempatan ini terbuang percuma.
"Ada apa sir?" Tanya Harry dengan sedikit berteriak.
"Itu, apa kau tak ingin pergi dari sini? Kita bisa mencari tempat yang lebih tenang, mungkin!?"
Tanpa keraguan Harry langsung mengangguk setuju. Hey, bagaimana mungkin telinganya tahan dengan tempat-tempat bising dan penuh sesak seperti ini. Dilihat dari segi manapun, tempat seperti ini tak masuk di daftar tempat favoritnya, urgh never ever ever.
"Baiklah sir."
Draco berdiri cepat di ikuti Harry berjalan keluar dari sini, dan yang paling membuat Harry bingung ialah Draco yang tak mengajak Blaise untuk ikut bersama mereka, bahkan untuk sekedar berpamitan pun tidak.
"Sir, sir." Panggil Harry.
"Hm ada apa?" jawab Draco tanpa menghentikan langkahnya.
"Itu, kurasa anda lupa mengajak untuk ikut bersama kita." Jawab Harry.
Tanpa di lihat Harry, Draco mengulas senyuman di wajahnya. "Blaise menganggap tempat ini seperti rumah keduanya, jadi kau tak perlu khawatir ia tersesat atau apapun itu. Satu-satunya yang ku takutkan jika ia pulang sebelum matahari pagi. Bisa-bisa dia frustasi karena tak mendapatkan teman kencan malam ini. Dan parahnya lagi, itu bisa mengganggu konsentrasinya mengerjakan pekerjaannya besok." Draco terkekeh sendiri mengingat kebiasaan Blaise yang satu ini.
Harry tercengang mendengarkan ucapan Draco yang terkesan 'terlalu jujur' dengan ucapannya. Mana ada orang yang menceritakan keburukan orang lain dengan nada santai seperti tak ada etika apapun yang harus di sembunyikan. Telak ini menambah satu lagi keprihatinannya tentang orang-orang kalangan atas.
"Ternyata uang beserta penampilan mewah bisa menutupi topeng kepribadian buruk mereka." Batin Harry kasihan.
.
.
.
"Apa semua sudah di persiapkan dengan baik.?"
"Tentu saja sir, sejauh ini semua terkendali. Penawaran yang mereka kirimkan pada kita masih di pelajari lagi. Tapi menurutku semua isinya menguntungkan untuk kedua belah pihak. Meskipun ada beberapa hal yang memang harus kita pertimbangkan lagi."
"Baiklah, kalian periksa lagi dengan seksama. Aku tak mau membuang uangku untuk sesuatu yang tak ada hasilnya. Apa kalian mengerti?"
"Baiklah sir." Ujarnya dengan sopan.
"Aku sudah menempatkan seseorang disana, jadi kita bisa memantau langsung mereka dari sini." Ujarnya bangga.
"Maksud anda sir?"
"Hahaha untuk yang satu ini, aku yang bertanggung jawab. Kalian hanya harus melakukannya dengan benar dan aku tak ingin ada kesalahan."
"B-baiklah sir. Apa ada yang lain sir?"
"Siapkan keberangkatanku ke London untuk pertemuan kita nanti."
"Tapi sir, dokter anda menyaranan anda untuk tidak berpergian dulu untuk sementara sampai keadaan anda membaik tentunya. Kurasa perwakilan perusahaan kita saja yang akan di utus kesana menggantikan anda." Terang orang itu.
Pembicaraan ini membuatnnya menghela nafas kasar. "Dengar, aku yang akan menangani urusan ini langsung, tak ada perwakilan dan kalian harus ingat itu. Jadi kurasa, jika aku tak bisa bertemu mereka, maka tak ada salahnya jika mereka yang datang untuk menyapa kita di New York. Bagaimana? Kurasa ini benar-benar ide yang brilliant. Hahaha... Segera undang PD mereka kesini. Dan aku ingin atasan dan sekretarisnya langsung yang datang kemari, aku tak pernah suka mendengar kata perwakilan untuk urusan bisnis seperti ini."
"Kurasa itu ide yang bagus, sir. Baiklah aku akan langsung mengirim surel pada perusahaan mereka. Aku permisi dulu sir." Ucapnya sebelum keluar dari ruangan besar itu.
'Baiklah, ini bisa menjadi langkah kedua yang sempurna'
.
.
.
"Bagaimana?! Tepat ini lebih nyaman dan aku bertaruh kalau kau lebih suka tempat ini?" Tanya Draco setelah mereka mengambil duduk di salah satu fancy restoran.
"Ya, lumayan." Jawab harry seadanya.
"Lumayan! C'mon Potter, Matamu berbinar dengan rahang yang hampir jatuh menyentuh tanah itu kau sebut lumayan." Balas Draco menaikkan sebelah alis matanya, terlihat tak percaya mendengar penuturan sekretarisnya yang berbanding terbalik dengan penglihatannya sendiri.
Harry tercengang dan dengan cepat ia mengganti raut wajahnya itu setelah berdehem menyesuaikan tenggorokkannya yang kering.
"Mungkin aku sedikit terpesona dengan interior tempat ini, hanya sebatas itu saja. Karena kau tau sir... Aku belum pernah merasakan masakan di sini. Dan yah, kau belum bisa menilai sebelum yakin kalau itu pantas untuk di kagumi. Aku hanya mengikuti kata bijak itu saja." Ujar Harry dengan menelan ludah pelan berharap Draco tak menyadari kegugupan dalam suaranya.
"Ckckck alasan yang bagus." Tanggap Draco cepat.
"Bukan, itu bukan alasan." Tantang Harry tak mau kalah.
"Aku tak tau itu mataku atau alasanmu yang terdengar klise dan tak masuk akal." Ucap Draco malas.
Harry menatap Draco garang. Entah kenapa setiap berdekatan dengan bos-nya ini selalu terasa menantang seperti ini. Ia tak bisa menampik ketidaksukaannya pada Draco begitu saja. Jika bosnya itu bisa membuat orang lain merasa terintimidasi, lain halnya dengan dirinya. Semua perdebatan yang selalu di alaminya bersama orang ini mampu membuatnya mendeklarasikan 'perang' dengan sendirinya.
"Tapi kurasa tak ada yang salah dengan perkataanku, setiap orang berhak punya pendapat sendiri."
"Whatever." Kata Draco malas dan mengedikkkan bahunya cuek. Seperti ia mau percaya saja perkataan sekretarisnya ini. Orang yang matanya rabun sekalipun, bisa dengan jelas melihat kilau binar cahaya di mata Harry, mana mungkin ia yang penglihatannya-baik-saja bisa di bohongi dengan mudah.
Ditempat duduknya, Harry sibuk memandang tajam Draco seolah ingin menjadikannya santapan makan malam mereka. Seandainya saja ada menu Presiden-Direktur-Guling pasti ia akan dengan senang hati menyantapnya. Hahaha Sontak saja sudut bibir Harry tertarik membentuk senyuman kecil, mengingat 'ide' brilliant-nya ini.
Sementara Draco sibuk dengan buku menu ditangannya, Harry ternyata sibuk menyeringai tatapannya tak beralih dari wajah serius Draco. Andai saja pesanan 'spesialnya' bisa di sajikan malam ini, bisa-bisa ia merekomendasikan restoran ini ke semua kenalannya.
"Ada apa?" Draco bertanya heran begitu ia tak sengaja berpaling dan menemukan Harry sedang menatapnya intens seperti itu.
"Apa?" Jawab Harry pura-pura bingung dan segera mengambil buku menu dari tangan waiter.
Sebenarnya Draco ingin mengintrogasi sekretarisnya lebih lanjut, namun hal itu langsung di urungkannya mengingat ia sudah terlalu bosan dengan sikap dan tanggapan Harry yang seperti pemberontak itu. Malam ini terlalu menyedihkan jika harus di akhiri dengan pertikaian sengit lagi.
.
.
.
.
"Morning dad." Sapa Scorpius begitu ia sampai diruang makan pagi ini.
"Morning Scorpy. Hey son, kenapa buru-buru?" Heran Draco melihat anaknya masuk ke arah dapur dengan tergesa.
"Sebentar dad." Teriak Scorpius.
Kali ini anaknya telah duduk manis di meja makan. Draco menatap sayang anaknya "Ada apa? Sepertinya Scorpy tadi terburu-buru."
Scorpius mengangguk membenarkan "Memang Scorpy terburu-buru dad. Semalam Scorpy lupa meminta chef untuk mengganti menu bekal makan siang Scorpy." Ungkap anaknya.
"Apa sebelumnya Scorpy tidak suka dengan menu makan siangnya?" Tanya Draco memastikan.
Yang di tanya hanya menggeleng cepat. " Mana mungkin Scorpy tidak suka, Scorpy kan sukaaa sekali labu."
Draco mengernyit heran "Kalau suka, kenapa mengganti menu makan siang?" Tanyanya tak mengerti.
"Huh ayah ingat teman Scorpy yang bernama James kan? Yang dulu pernah Scorpy ceritakan itu."
"Tentu saja daddy ingat son. Memangnya kenapa?" Tanyanya bingung.
"James sudah bosan dengan labu, dari kemarin dia tak berhenti menggerutu tentang labu. Membuat Scorpy kesal saja." Ungkapnya kesal.
Draco terkekeh mendengar jawaban anaknya, walau sebenarnya ia belum bisa menangkap maksud perkataan anaknya ini, namun gaya bicara yang terlihat kesal seperti merajuk inilah yang membuat anaknya terlihat lebih menggemaskan.
"Kalau James yang tak suka labu, kenapa Scorpy ikut-ikutan tak menyukai labu?"
"Kan Scorpy yang setiap hari membawa bekal makan siang. Dua, satu untuk Scorpy dan satunya lagi untuk James." Ujar Scorpy sambil menunjukkan dua jari tangannya.
Sedikit demi sedikit Draco bisa menangkap arah pembicaraan mereka. "Baiklah, bukankah Scorpy bisa meminta chef membuatkan dua menu yang terpisah. 1 labu untuk Scorpy, dan menu yang lain untuk teman Scorpy itu." Ucap Draco tenang.
Scorpy menggeleng cepat " Tidak bisa dad, mana bisa seperti itu."
Kenapa tidak bisa?, bukankah lebih baik seperti itu?" Tanya Draco tak mengerti.
Scorpius tampak berpikir dan kembali menggeleng keras." No dad, bagaimana kalau nanti James memakan bekal makan Scorpy juga, James kan makannya banyak." Sergahnya horor.
Hah Draco tercengang dengan anak yang bernama James itu. "Apa James itu bisa memakan dua bekal makan siang sekaligus?"
Sejenak Scorpius mencoba mengingat dengan lebih teliti lagi. Dan lagi, gelengan kepalanya menjadi jawaban akhirnya. "Tidak, Scorpy belum pernah makan dua kotak bekal sekaligus." Ujarnya pelan. "Tapi, bagaimana jika nanti James suka dengan dua menu-nya! Bisa-bisa Scorpy tak dapat jatah makan siang. Semua habis masuk ke perut pipa James." Kesal Scorpy.
"Perut pipa?"
"Iya dad, perut pipa. Kata ibu guru di sekolah perut kita mempunyai usus untuk mencerna makanan yang masuk ke mulut kita. Tapi James tak punya usus." Ungkap anaknya.
Draco lebih tecengang bingung saat ini, ia menelan ludah tak percaya "Tak punya usus?"
"Ia, daddy harus lihat perutnya ketika habis memakan bekal siang buatan chef kita, perutnya bisa mengembang sebesar ini." Tangan Scorpy membentuk lingkaran besar di perutnya.
Draco terkekeh mendengar penjelasan anaknya ini. Meskipun bingung ia mencoba mengerti dengan ketakutan tak beralasan anaknya ini. Draco hanya menggeleng tak percaya dengan sikap anaknya ini.
'Hah aku benar-benar penasaran dengan anak yang bernama James itu'
.
.
.
"Morning sir."
Langkah kaki Draco terhenti mendapat sapaan langsung dari sekretarisnya. Ia berpaling sebentar sebelum kembali masuk ke ruangannya.
Draco men-dial telpon disampingnya "keruanganku sekarang." Dengan cepat ia menutup sambungan teleponnya.
"Masuklah." Serunya mendengar ketukkan pelan dari luar.
"Ada apa sir?"
Draco berdiri berjalan mendekati sekretarisnya dan menganalisa tubuh Harry dari atas hingga ke bawah. "Not bad." Tambahnya seolah puas dengan apa yang dilihatnya sekarang.
Harry berdiri kaku memperhatikan Draco yang berperilaku aneh menurutnya. "Ada apa sir?"
"Setelan itu sangat cocok denganmu, tak salah aku mengirimmu kesana. Kau kelihatan jauh lebih baik.
Dan 'pang' Harry baru mengerti kemana arah pembicaraan mereka. Harry mendengus samar tanda kalau ia tak terlalu berminat dengan topik seputar fashion 'lagi' sangat menjengkelkan tentunya.
"Ada apa, kau tak suka dengan pilihan koleksi disana?" Heran Draco, ia bisa dengan jelas melihat raut wajah Harry yang terkesan tak mau ambil pusing itu.
"Tidak, tak ada yang salah dengan pakaian disana . Aku hanya sedang menyimpan energi saja, beradu argumen di pagi hari bisa membuat tenagaku cepat menurun." Cerca Harry.
Kening Draco terangkat mencoba mencerna maksud Harry.
"Kita tidak sedang beradu argumen. Kau bisa lihat, malah aku sedang memujimu sekarang." Draco mencoba untuk tetap bersikap tenang.
"Baiklah sir, ada apa anda memanggilku kemari?"
"Apa kau harus selalu melakukan ini Harry? Aku sudah mencoba bersikap baik padamu, tapi kau tetap bersikap seperti itu" Kesal Draco merasa ucapannya dihiraukan begitu saja oleh sekretarisnya sendiri.
"Maksud anda sir? Ah, apa dengan membelikanku setelan mahal dan mentraktirku makan di tempat mahal membuat anda memiliku, jadi anda bisa mengaturku seperti yang anda inginkan?" marah Harry merasa tersinggung.
"Memilikimu? Pilihan kata yang salah Harry. Hhh tapi kurasa ide itu tak terlalu buruk juga."
Mati-matian Harry memaki bosnya dalam hati. Tersinggung! jelas ia tersinggung dengan 'niat baik' yang di pamer-pamerkan menurutnya. Bukankah ini 'seragam' seperti maksud Draco dan tentang traktiran itu, toh bukan Harry yang memintanya. Malah Draco dan Blaise yang menyeretnya ikut sebelum menjemputnya di pusat perbelanjaan kemarin.
Dan kata sakral 'memilikimu' mampu membuatnya bergidik ngeri entah karena alasan apa.
Tatapan nyalang Harry seolah membuat Draco tertantang untuk beradu disana. Cukup lama mereka saling menyeruakkan ketidaksukaan masing-masing. Berbagi tatapan tajam pun tak terelakkan lagi.
Keringat dingin mengucur laju dan hanya dalam hitungan detik saja Draco terjatuh duduk sambil menepuk dadanya dengan kasar.
Harry meredup, tatapannya terganti raut takut dan iapun langsung menghampiri bosnya yang terlihat sangat kesakitan.
"A-apa yang terjadi sir, a-ada apa, katakan padaku, kumohon sir!" Panik Harry mencoba meraih tubuh Draco.
Draco terus mencengkram kasar dadanya tanpa mengatakan apapun tangannya terulur menunjuk kearah meja kantornya.
Meski panik Harry mencoba mengambil kesimpulan arti maksud Draco. Secepatnya ia lari kearah meja panjang menarik dan membongkar mencari sesuatu di sana. Dan ketika ia menemukan botol kecil di sana, ia meraihnya dan kembali mendekat pada Draco.
"Minumlah." Perintahnya lembut setelah mengambil satu kapsul di tangannya.
Dengan cepat Draco menngambil dan menelan pemberian Harry. Draco mencoba untuk tetap bertahan dengan posisinya duduk meringkuk di atas lantai marmer.
"Sir, sir kurasa anda lebih baik berbaring di sofa." Usul Harry mencoba berbicara pada Draco.
Draco masih tak menggubris apapun, yang ada di pikirannya saat ini hanyalah kapsul yang di telannya bisa cepat bereaksi. Sakit di bagian dadanya membuat ia tak ingat hal yang lain lagi.
Harry seolah mengerti dengan Draco yang masih terlihat kesakitan. Ia mendekat duduk tepat disamping Draco. Tangannya terulur menyentuh belakang punggung bosnya dengan teratur seakan ingin menenangkan. Ia terus melakukan ini hingga di rasanya ketegangan tubuh Draco sudah sedikit melemas.
Obat yang di minumnya mulai membuahkan hasil. Sakit didadanya sudah tak separah tadi. Draco merasa ia bisa sedikit bernafas lega, ia tetap diam dan berusaha menoleh kesamping dimana sekretarisnya tampak sangat serius mengkhawatirkannya.
Entah kekuatan dari mana ia bisa tersenyum senang. Tiba-tiba saja ia menumpu kepalanya pada dua kakinya yang tertekuk itu. Melihat lebih seksama lagi orang disampingnya dengan senyuman tulus.
Harry terlalu tenggelam dalam ketakutannya sendiri dan tak memperhatikan Draco yang kini menatapnya dalam.
"Kurasa aku sedikit mengantuk." Ucap draco pelan dan perkataannya ini sontak membuat Harry kaget, membiarkan semua ketakutannya buyar dalam seketika.
"A-anda tak apa-apa sir? Bagaimana, apa perlu ku panggilkan ambulance kemari?" Cerocos Harry takut.
"Kau tau wajahmu lucu kalau sedang cemas seperti itu." Draco tersenyum.
Demi tuhan ini senyuman tulus lagi yang mampu membuat nafasnya tercekat. Matanya sibuk meneliti setiap bagian tubuh bosnya dengan seksama. Wajah yang biasanya angkuh dan tatapan tajam yang mengintimidasi entah hilang kemana. Wajah pucat dan lemah tak berdaya yang ada di hadapannya sekarang.
Harry hanya tersenyum mengangguk, tak tau harus memberi tanggapan seperti apa.
"Lebih lucu lagi kalau kau menjadi speechless, seperti bukan dirimu saja." Canda Draco.
Harry terlihat mendelik kesal "Berhentilah mengatakan aku lucu sir, karena aku sama sekali tak lucu. Dan jawablah pertanyaanku tadi." Ucapnya sedikit merajuk.
"Baiklah, aku tak apa-apa, dan tak akan apa-apa. Jadi kau tak perlu sampai memanggil ambulance kesini. Tidur sebentar dan aku akan baik lagi."
"Anda yakin sir?"
"Tentu, tak pernah seyakin ini." Jawab Draco masih sedikit bercanda.
Raut khawatir Harry kini berubah menjadi senyuman lebar yang tulus. "Baiklah, setidaknya anda harus berbaring di sofa sana." Tunjuk Harry pada sofa panjang berwana soft cream.
Baru saja Harry hendak berdiri mengulurkan tangannya pada Draco, ketika di lihatnya Draco tetap duduk dan menggeleng lemah di tempatnya tadi.
"Aku ingin di sini saja."
Perkataan Draco ini membuat Harry kembali merasa khawatir, ia pun kembali duduk di samping Draco. "Bukankah anda mengatakan, anda baik saja sir? A-aku akan memanggil ambulance kesini sekarang." Ucapnya marah.
Draco tetap menggeleng lemah menggenggam pergelangan tangan Harry dengan kuat "Kubilang aku tak apa-apa. Sedikit istirahat dan aku akan kembali sempurna seperti biasanya." Candanya lagi.
"Narsis." Ujar Harry tersenyum "Ok, tapi setidaknya aku harus membawa anda beristirahat di sofa sana. Atau anda ingin aku memanggil beberapa orang kesini untuk membantuku mengangkat anda ke sofa?"
Draco menggeleng lagi "Tolonglah."
Harry merasa kesal dengan kekeraskepalaan bos-nya ini. Namun ia bisa apa, ia menghela nafas panjang dan berkata "Tidurlah, aku akan tetap disini sampai anda bangun nanti." Entah kenapa kalimat ini bisa keluar begitu saja dari bibirnya, ia hanya merasa perlu menyampaikan ini pada Draco.
Draco menatap takjub Harry dari sisi sebelahnya. Pandangan penuh kasih sayang Harry membuatnya tertohok. Pandangan penuh perhatian ini tak pernah dirasakannya sebelumnya.
'Satu lagi hal yang menjadi kejutan untuknya dan ini tak lain karena Harry-sang sekretaris yang baru saja membuatnya menyadari sesuatu.'
'Tak tau seberapa dalam, namun Draco tau ia sudah jatuh dalam pesona orang ini'.
.
.
.
.
TBC
.
.
.
See ya next chap
.
.
.
R&R
.
.
