Maafkan saya, karena terkesan menganak tirikan ff saya yang lain. Tapi saya sedang terkena deathlock, otak saya beku untuk meneruskan HBT, G-project, Angel/B atau sekuel dari Red Velvet. Otak saya justru berkeliaran ide tentang Shika-Hina maka dari itu maafkanlah jika saya malah meng-update fict ini dahulu T_T..
Chapter kemarin, temanya adalah 'dungu'. Kenapa begitu? Jujur saya mengkategorikan cewek yang di benci oleh Shikamaru. Yup! Bermula dari 'dungu', 'bodoh' lalu 'terlalu ingin tahu' dan terakhir.. hehehe, rahasia ya.
Oke, kita balas review. Mengapa berada di atas, kenapa enggak dibawah saja? Tanpa mengubah kenyataan jawabannya yaitu, karena yang review cuma sedikit saya justru senang. Hahaha, #plak! Apa-apaan itu. Bukan apa-apa, ternyata memang fandom menentukan jumlah reviewer, penyuka fandom Shika-Hina itu sangat sedikit. Mungkin saya adalah yang sedikit itu ^_^, dan saya berharap suatu saat crack pair ini bisa menempati porsi yang sama seperti SH atau NH.
Livylaval: demi kamyyyuuuu dong ah! Pendek ya? Perasaan semua fict saya kok semua ngeluh pendek ya? Hehe ^_^ mungkin bawaan dari orok saya gak bisa nulis panjang (bilang aja males, apa susahnya sih?! *Plak! Gegulingan di atas genteng) Ini udah update, demi siapa? Wakakakk..
Minji-blackjack: dirimu gak salah baca kok. Ini memang Shika-Hina (crack pair pertama saya di fandom Shi-Hi). Yup! Chap pertama emang lagi masa PDKT, karena mau ditunangin. Sasu ya? Bakal terjawab di chap ini. Tenang aja.. Hina aman bersamaku, fufufu *Plak! Ouch..
Keiko-buu89: haha. Akhirnya ada yang suka crack pairing ini. Kenapa banyak kata dungu? Karena temanya emang itu. Kan tingkatan orang yang dibenci Shika emang gitu. *tunjuk atas.
Yukori kazaqi: ketika saya bilang mau publish, memang fict ini udah ada, jadi ya beginilah.. ^_^
Guest: yyeeeeyyyy, rupanya ada yang sependapat sama saya. Udah dilanjut, jadi review lagi yaaaa.. ^_^
Mbik Si Kambing: senangnya kedatangan teman.. ^_^ Saya harap kamu juga ikut meriahkan ultah Shika (meski dah lewat juga gak papa) Saya mau Neji hidup lagi, meski Cuma ET juga gak papa, daripada gini, nyesek.. kalo MK udah gak make chara Shikamaru lagi brati emang udah mau ditamatin tuh manganya. Oke, lanjutkan! Hihihi..
Mayu masamune: terimakasih karena mayu-chan udah memberikan saran yang membangun. Sebenarnya saya nulis gitu (seperti yang disarankan) eh, karena mode English-nya nyala jadinya tulisan jadi lain. Kepalang malas, trus aku italic aja. Hahaha, garing ya, maaf. Tapi untuk kedepannya saya akan memperbaiki, yosshhhh! Ini next chappie-nya. Eniwei, bisa minta saran lagi. Soalnya newbie kaya saya kalo nggak ada yang nyasih tahu atau ngasih saran bisanya cuma ngawur kemana-mana. *ojigi.
Kirei-neko: hehehe, otanjobi juga untuk Shika. G-project udah jadi separuh tinggal filling aja. Solanya bahasanya bakal kaya chap satu. Ntar lok gak paham kujelasin lewat PM *plak! Apa-apaan itu?
FafaHany: namanya juga lagi posisi gak suka, pasti apa aja yang dikerjain jadi salah. Tapi kualat kan? di akhir cerita (chap 1 Shika jadi suka ma Hina)
Selanjutnya minna~
Selamat membaca..
.
.
Get It Down
Story by: Pororo90
Disclaimers: MK only
Shika-Hina
Romance/Family
Warning: Typo, OOC, OC, Abal, Gaje, dan hal yang mungkin mengganggu kesenangan Anda.
Chapter 2 : BODOH
.
.
Kadang sebuah tamparan bukan berarti benci,
Sama halnya..
Sebuah ciuman bukan berarti tak pernah berhianat.
.
.
Tepat saat mobil SUV milik Shikamaru akan mengantarkan Hinata ke kantor cabang Hyuuga Construction, tiba-tiba handphone Hinata berdering. Untuk kenyamanan, Shika sengaja melaju dengan kecepatan rendah untuk 'ikut mendengarkan' percakapan yang entah mengapa sengaja di rahasiakan oleh Hinata. Sebagai tunangan yang baik, Shika memang terlalu penasaran untuk sekedar mengabaikan panggilan itu. Masalahnya hanya satu, Hinata menggumamkan nama Sasuke-kun. Jelas, ini bukan sesuatu yang mudah diabaikan.
.
Jadi meski sedikit dongkol toh akhirnya di sinilah ia sekarang. Duduk berhadapan dengan Sasuke Uchiha sang prodigy. Mengantar Hinata ke restoran untuk bertemu Sasuke. Apakah itu masuk di akal? Oke, untuk orang biasa mungkin Sasuke akan dimaki-maki. Tapi ini Shikamaru loh, yang gak suka hal-hal merepotkan macam itu.
.
.
"A-ano, pe-permisi, aku mau ke to-toilet se-bentar.." ujar Hinata lembut.
"Hn," sahut Sasuke.
Shikamaru hanya memandangnya sekilas sambil mengutak-utik hapenya. Keliatan sekali ia tidak begitu peduli.
Melihat hal itu Sasuke mendengus, kelihatannya kali ini ia bisa memastikan Hinata akan kembali padanya. Perlahan senyum angkuhnya mengembang.
.
.
Shikamaru dapat melihat itu dari ekor matanya. Dan ia juga tersenyum lemah. "Oh iya, kau 'masih penasaran' kan dengan Hinata?"
Alis Sasuke bertaut, "Kau tahu?"
Shikamaru terkekeh, "Ya, Hinata masih perawan dan kau belum menyentuhnya.."
Sasuke tersenyum hangat, sangat kontras dengan sifatnya yang dingin, "Dia bukan ingin kumainkan.."
"Hmm, rupanya gossip bahwa Hinata asalah strawberry on the shortcake-mu itu benar ya,"
Sasuke tersenyum angkuh, " The best for the last.."
"Sayangnya rencanamu gagal,"
Dan muka Sasuke berubah lebih dingin dari pendingin ruangan itu.
.
.
"Ma-maaf.." Hinata kemudian duduk di kursi samping Shikamaru Nara.
"Nah, karena kau sudah datang, sudah waktunya aku pergi.." ujar Shika sambil bangkit dar kursinya.
.
"Inikah yang kau pilih Hinata?" ujar Sasuke dingin. Suaranya agak tinggi. Sangat kentara sekali ia bicara agar Shikamaru sengaja mendengar.
Hinata diam, Shika cuek dan memilih untuk melanjutkan perjalanan.
.
"Kau memilih orang yang hanya mengandalkan Neji untuk mendekatimu? Tch! Benar-benar keterlaluan. Bahkan ia tidak punya apa-apa untuk dibanggakan.."
Kali ini langkah Shika terhenti, dia berbalik namun tidak kembali duduk. Ia lebih memilih mendengarkan ocehan si 'sombong' Uchiha ini.
.
"Kau bahkan memilih orang yang tidak peduli padamu. Di mana kau menemukan orang yang tidak gentle seperti ini Hinata? Ia bahkan tidak membukakan pintu mobil agar kau bisa keluar dengan nyaman. Seorang lelaki yang bahkan tidak menyeretkan kursi untukmu ketika kau hendak duduk. ia juga tidak menawarkan diri mengantarmu ke toilet agar kau merasa dihargai. Ia bahkan meninggalkanmu dengan mantanmu, dan sama sekali tidak peduli bagaimana perasaanmu! Apa baiknya dia?!" tuding Sasuke tajam.
.
Shika masih tegak berdiri beberapa kaki dari meja Hinata dan Sasuke. Ia tentu mendengar semuanya. Dan kali ini ia harus membela dirinya sendiri. Lalu ia melangkah dengan tenang ke dekat meja dua orang yang hari ini membuat moodnya kacau. Ia tak ingin duduk, tapi berteriak-teriak seperti Uchiha ini tentu sangat merepotkan.
"Nah, sebetulnya aku juga ingin dengar dari Hinata, mengapa ia memilih untuk menjadi pacarku?" ujarnya dengan tenang.
.
Hinata diam, tangannya yang mungil meremas ujung rok flanel berwarna merah bata itu. Shika tahu Hinata sedang bingung memilih kata.
Sementara Sasuke menautkan alis. Sungguh! Ia melakukan blunder hari ini. Tadinya ia ingin melihat Shikamaru marah atau memukulnya, sehingga ia akan melihat Hinata membelanya karena tidak suka kekerasan. Sayangnya apa yang sudah direncanakan otaknya berantakan semua. Nara Shikamaru ini benar-benar tak terduga.
.
Karena Hinata masih diam, maka Shika melanjutkan.
"Memang benar aku hanya teman Neji. Dan hanya itu yang bisa kubanggakan. Jika dibandingkan asset milikmu, jelas aku kalah telak. Mungkin kekayaanku hanya nol koma nol satu persen dari jumlah kekayaan yang kau miliki.." Shika mengambil nafas sebentar untuk melanjutkan.
"Namun begitu, aku cukup punya keberanian untuk melangkah dengan kakiku sendiri dengan tidak memilih menjadi penerus perusahaan orang tuaku. Lagipula Hinata sudah dewasa. Dia tidak perlu ku temani ke toilet. Soal membukakan pintu mobil atau menyeretkan kursi, kita sama-sama sudah dewasa untuk tidak meributkan soal manner—"
.
Sasuke dan Hinata ditelan keheningan yang absurd.
.
"Haaahhh.. kenapa aku berubah jadi cerewet begini?" ujar Shika tiba-tiba menjadi malas. Entah menguap kemana Shikamaru yang baru saja memukau kedua orang yang 'terhormat' itu.
.
Sebelum berajnak pergi, Shika melanjutkan aksinya "Kadang sebuah tamparan bukan berarti benci. Sama halnya.. Sebuah ciuman bukan berarti tak pernah berhianat."
.
Lalu pria yang rambutnya suka dikuncir ke atas itu melanjutkan perjalanannya kembali.
Membuat Sasuke kelabakan karena 'musuhnya' pergi begitu saja sebelum sempat membiarkannya untuk melawan.
"Hei, apa kau akan meninggalkan Hinata di sini?" Cemo'oh Sasuke.
Sambil terus berjalan Shika menimpali, "Jika ia ingin kujemput, dia tahu nomor teleponku. Lagipula kantorku dekat. Jaa..." ujarnya sambil melambaikan tangan tanpa membalikkan badan.
.
Mata amethyst Hinata dan onix Sasuke hanya bisa mengamati punggung Shika yang menjauh.
Lalu keduanya tersenyum penuh arti.
.
"Ternyata 'dia' keren.." ujar Sasuke sambil membalik-balik buku menu. Lalu ia terkekeh sebentar. Merasa heran kenapa ia bisa terintimidasi oleh perkataan Shikamaru.
.
Seorang Sasuke terintimidasi oleh Shikamaru?! Oh, ayolahhhh… Dia seorang Uchiha! Dan sampai dunia kiamat pun dia tidak bisa mengakui hal itu. Tapi mengapa seolah otaknya baru saja dicuci oleh ucapan Shikamaru.
.
"D-dia mem-buat di-diriku berpikir aku per-perlu bersamanya.." kali ini ucapan lembut Hinata membuatnya mendongak dan menatap gadis itu lekat-lekat.
Hinata tampak tersenyum lembut, matanya memancarkan perasaan hangat.
.
.
"Hei, bukankah kau bilang masih mencintaiku?"
Hinata tersenyum kecil, "Du-dulu aku men-cintaimu. Sekarang aku be-belum bisa me-melu-pakanmu.." katanya lirih, "Itu adalah hal yang berbeda.."
Sasuke mendengus, "Inilah yang kutakutkan. Dia terlalu rasional untuk kupancing emosinya. Psywar ini bahkan sama sekali tidak berpengaruh apa-apa."
"Shikamaru-san, ter-lihat tidak pu-punya ke-lemahan kan?!"
"Hn. Sangat sulit merebutmu dari orang yang punya ketahanan absolut macam dia.."
.
Mata Hinata menerawang, seolah ia membayangkan sosok Shikamaru.
"Dia se-se-perti paku, Sasuke-kun. Se-se-makin kuat kau me-mukul-nya, justru ia se-makin menancap le-bih dalam.."
{Get It Down}
.
.
Sementara itu di tempat lain—
Meski waktu sudah menunukkan angka tujuh malam, dan kejadian Hinata sudah berlangsung sejak tadi. Shika masih terlihat mendung. Ia masih menggunakan headset yang terpasang dengan aman di kupingnya. Kenapa ia bisa terpengaruh begini? Padahal Hinata sudah diantarkan pulang semenjak lima jam lalu.
"Paku, katanya.." gumam Shika lagi.
Terdengar decakan di seberang mejanya, "Ckckck.. berhentilah memutar hasil sadapan tunanganmu sendiri. Tch! Memalukan. Tidak kusangka kau secemburu itu." Sai memang tajam sekali lidahnya.
Shika terkekeh, "Aku tidak mungkin meninggalkan domba bersama dengan serigala.."
"Pantas saja kau tenang sekali menghadapi Uchiha itu." Kali ini Kiba ikutan nimbrung.
"Kalau dia menggunakan masa lalu sebagai alasan, maka aku menggunakan masa depan sebagai alasan. Kurasa itu cukup adil.."
"Musuhmu itu milyarder, kau tahu?!" cerocos Kiba lagi.
"Tapi aku punya teknologi." Ujar Shikamaru sambil menutup matanya dan memasang mode 'hibernasi' yang kelihatannya memakan waktu lama.
"Ckck, hanya kau yang memasang alat penyadap dan GPS di cincin tunanganmu. Sial! Kau ini canggih sekali sih!" ujar Sai gemas sendiri.
.
Yang ada hanya terdengar dengkuran halus.
.
"Tidurlah Koala. Dasar pemalas!" cibir Kiba sambil membereskan mejanya untuk bersiap pulang. Ia bukan koala yang betah hidup di kantor.
_TBC_
A/n:
Apa-apaan ini? Yak di chapter ini memang seting waktunya berubah. Di sini Hinata udah tunangan dengan Shikamaru. Trus pernah dengar strawberry on the sortcake? Itu adalah istilah. Kadang tanpa sadar kalau pesan kue itu, kita selalu menyimpan strawberrynya untuk dimakan belakangan. Karena kita selalu menganggap kalau strawberry-nya yang paling enak. Nah itulah yang dialami Sasuke. Jadi dia suka main ama cewek lain. Supaya yang trakhir buat Hinata. Sayangnya udah keduluan Shika. Siapa sih yang mau ama cowok yang gonta-ganti cewek mlulu? Siapa juga yang mau ama cowok yang doyan selingkuh? Maaf OOC banget. Tapi sekali-kali boleh dong XD namanya juga fanfic.
Singkat cerita, Hinata bodoh karena belum paham perasaanya sama Shika.
Yang kemarin Shikanya 'dungu' karena udah jatuh cinta ke Hinata.
Akhir kata,
Bersediakah anda mereview cerita abal ini?
Salam hangat.
PORORO90 ^_^
