Gedung kantor milik Shikamaru memang beda. Cita rasanya memang unik seperti orangnya. Tidak salah jika ia punya visi masa depan yang jauh melampaui orang seumurannya. Kesan pertama yang Hinata temu sebelum masuk kedalam hanya satu. Wow.

Berbentuk donat dengan seluruh panel kacanya yang adalah tenaga surya. Dulu ia tidak pernah menyangka, kalau kantor inilah yang membuat Hyuuga Constructor kalang kabut karena permintaan yang di luar nalar. Neji, bahkan turun langsung untuk menangani proyek yang dulu katanya milik sahabatnya.

Dan taraaa.. kini ia mengetahui siapa orang nyeleneh yang memesan gedung futuristik dengan tiga lantai ini. Shikamaru Nara, tunangan sekaligus kekasih hatinya. Menyebut nama Shika, sontak membuat pipi gembilnya memerah. Ahhh… kangennya gadis itu pada pemuda cuek yang sangat cool itu. Hinata tidak sabar memasuki gedung itu dan bertemu dengan tuan koala.

.

Pertama kali ia berada di depan pintu kaca otomatis yang tertangkap retinanya, adalah loby yang minimalis dan terkesan ringkas. Semua furniture yang ada di dalamnya hanya bangku kayu yang dikombinasi dengan stenlis. Terkesan hangat namun tidak meninggalkan imej 'masa depan' yang coba Shikamaru tawarkan. Terlihat simpel tapi memukau. Sederhana tapi terlihat elegan dan mahal. Khas Shikamaru sekali.

Di sana ia mendapati meja resepsionis yang segera menyapanya dengan senyum. Seorang wanita dengan jepit origami yang cantik. Matanya keunguan, dan memiliki rambut pendek sebahu. Kelihatan sekali kalau wanita ini terkesan smart and humble. Shikamaru tidak akan memilih orang sembarangan, itu yang dikatakan oleh kakaknya, Neji.

"Anda pasti Hyuuga Hinata-san.."

Hinata merona, mengangguk saja. "Bagaimana Anda tahu?" suara Hinata yang lembut mengalun merdu.

Si resepsionis tertawa kecil. "Umm.. kelak kau akan tahu.." ujarnya sambil mengerling. "Perlu kuantarkan menuju ruangan Shikamaru-san?"

"Aa-, keberatan jika Anda hanya menunjukkan jalannya?" ujar Hinata malu-malu. Soalnya dia kan ingin membuat kejutan.

Wanita itu mengangguk. "Kau cukup naik ke lantai tiga. Ruangan dengan pintu berwarna almetys.."

Hinata tersenyum manis, "Terimakasih.. nona—"

"Kau bisa memanggilku Konan," ujar wanita itu sambil melambaikan tangan.

Nah, Hinata.. ayo kita bikin dia terkejut..

.

.

Get It Down

Story by: Pororo90

Disclaimers: MK only

Shika-Hina

T - semi M

Romance/Family

Warning: Typo, OOC, OC, Abal, Gaje, dan hal yang mungkin mengganggu kesenangan Anda.

.

.

Ting!

Pintu besi terbuka. Entah mengapa Hinata tiba-tiba menjadi gugup. Kakinya mendadak kaku. Ia memegang erat kain pembungkus bento yang dibuatkannya. Ia menelan ludah. Bagaimana ini?

Lantai tiga merupakan otak dari semua kegiatan ARTEMIS, ruangannya berbeda dari yang Hinata bayangkan. Tidak ada sekat, tidak ada ruangan pribadi. Yang ada hanya sebuah ruangan luas dengan sekat kaca yang tembus pandang. Semua orang berkutat dengan computer dan memakai headset yang dilengkapi dengan mikrofon. Dan yang membuat Hinata ternganga adalah bagaimana mereka berkomunikaasi secara intens dengan menggunakan kode.

Mereka seperti memiliki dunia sendiri. Dan Hinata tak pernah menyangka kalau kaca yang menjadi sekat itu merupakan layar panel transparan yang bisa digunakan sebagai layar sentuh. Diam-diam Hinata takjub, bagaimana sebuah ruangan biasa disulap menjadi sebuah kokpit pesawat ruang angkasa?

Dan sepertinya Hinata tersesat diantara masa depan.

Dan tak pernah tahu bagaimana jalan pulang, terlebih ketika indra penglihatannya menangkap ruangan berpintu kaca almetys berada di ujung lorong, tepat menghadap ke barat.

Dengan senyum mengembang, ia berjalan. Menuju ke arah masa depan di mana hatinya di taruh.

Atau benar-benar di jatuhkan..

..

Seperti yang sekarang terlihat. Si tuan Adorable sedang memeluk seorang wanita berambut pirang. Itu bukan Ino sahabat Shikamaru ataupun istri kakaknya, Neji. Perempuan dengan balzer hitam bermata azure itu bukan bagian dari keluarga Nara.

Melihat Shika yang memeluk wanita itu dengan erat, seolah menghempaskan harapan Hinata ke tanah. Tubuh Hinata sedikit limbung. Hingga seorang lelaki dengan sigap memeganginya.

"Apakah anda baik-baik saja?" tanya pria berambut coklat dengan tato segitiga merah di pipinya.

"Y-ya." Jawab Hinata tergagap.

"Apakah anda ada keperluan dengan salah satu code breaker di sini?" tanyanya ramah.

Hinata buru-buru menggeleng. "Ke-kelilihatan-nya aku ha-hanya ter-sesat." Senyum manisnya terlihat. Meski terkesan sedih.

Lelaki itu menatap Hinata dengan pandangan menyelidik, terlebih melihat sebuah bungkusan bentou yang terikat rapi dan bukan ukuran kecil.

"Kalau begitu, mari saya tunjukkan jalan keluarnya." Ujar lelaki itu sambil tersenyum riang.

Hinata mengangguk, "A-arigatou.." lalu mengikuti pemuda jangkung yang memiliki mata hazel itu.

Sebelum pergi, Hinata sempat melihat perempuan itu mencium leher Shikamaru.

Dan Hinata tahu, kalau hatinya baru saja patah.

*GET IT DOWN*

.

Ketika sampai di depan lift, Hinata sempat membungkuk untuk mengucapkan terima kasih.

"Panggil aku Kiba, Inuzuka Kiba.."

"Te-terima kasih, Kiba-san.."

"Ngomong-ngomong, kelihatannya bento-mu enak. Aku bisa mencium ada chicken karage.." ujar lelaki itu malu-malu.

Seakan disadarkan Hinata terperangah. Betul, ia ke sini untuk mengajak si Mr. Adorable makan siang bersama. Tapi ia justru sudah kenyang dengan adegan mesra Shikamaru. Meski ia berusaha untuk tetap tenang, akan tetapi ia benar-benar ingin tahu, siapa wanita itu?

"A-ano. A-apakah Shi-kamaru-san sedang ada tamu?" di saat genting ia justru tidak tergagap.

Olala..

Kiba baru saja menyadari masalah besar yang akan menerjang bos-nya. Ia baru ingat suara ini. Suara yang belakangan sering di putar di ruangan Shikamaru. Kiba menelan ludah ketika melihat cincin yang berhiaskan batu opal cantik yang melingkar di jari manis sebalah kanan.

Q351. Kiba ingat betul seri pembuatannya. Cincin dengan GPRS dan alat penyadap ukuran mikro. Masih prototype dan Shikamaru menjadikan tuanangannya sendiri sebagai pemakai pertama. Ughh.. dalam hati kiba mengerang.

"Mmm.. itu adalah brand icon kami. Sabaku no Temari."

Dan Hinata merasa dadanya sesak dan udara di sekitarnya terasa menghilang. Ia mengambil nafas dalam dan menghembuskannya pelan, hanya untuk membuatnya merasa lebih baik.

"Apa Anda baik-baik saja, nona?"

Hinata tersenyum dipaksakan, "Y-Ya."

"Adakah hal lain yang bisa saya bantu?" Kiba benar-benar merasa tidak enak.

Hinata menggeleng. "Te-terimakasih, oh iya.. Da-daripada terbuang, mau-maukah Anda mencicipi ini?" Hinata menyodorkan bento yang sejak tadi dipegangnya.

Kiba menahan diri untuk tidak menitikan air liur. Sial, kenapa bosnya mendapatkan gadis sebaik ini? Pintar masak, manis dan dari keluarga yang baik pula. Kau beruntung Shikamaru!

Kiba menerima bungkusan itu. "Terimakasih."

"Ka-kalau begitu, jaa.." Hinata melambaikan tangan begitu lift tertutup. Meninggalkan Kiba yang menatapnya kasihan.

*GET IT DOWN*

.

.

Shikamaru ke luar untuk mengantarkan Temari sampai lift. Sebelum akhirnya bertemu dengan Kiba di lorong ruangan.

"Kau lapar, Tuan Koala?" Kiba memamerkan bento di hadapan Shikamaru.

"Hmm.. Kau dibuatkan Hana bekal?"

"Tidak. Ada perempuan lain yang menghadiahkan ini padaku."

Shika tersenyum, "Kau beruntung."

Kiba terkekeh, "Bukan aku yang beruntung, tapi kau."

Shika mengulas senyum simpul, "Tsk, Ya aku beruntung kau mau membaginya denganku." decaknya kemudian.

Kiba tersenyum geli. Nanti, ia janji, setelah Shikamaru selesai makan. Ia akan menyampaikan berita dukanya. Dunia memang tidak sedatar aliran air kan? Bahkan air pun bisa bergelombang.

.

Shika makan bersama dengan Kiba di salah satu konter yang tersedia di sudut ruangan. Biasanya ruangan itu memang tempat berkumpulnya anak buah Shikamaru untuk sekedar ngopi atau mengemil kudapan kecil setelah menjalankan rapat.

"Enak?" tanya Kiba.

"Luar biasa. Bagaimana kau menemukan koki yang memasak seperti ini?" Shika bergumam di sela acara makannya.

Kiba tersenyum di kulum. Benar-benar disaster.

Shika menyumpit sukiyaki yang belum dicicipinya. Ukurannya agak kecil dan dipotong dadu.

Ingatannya mulai familiar sukiyaki di potong dadu, jangan-jangan..

Dan begitu masuk ke mulutnya ia hapal betul siapa koki yang bisa menyajikan masakan dengan sempurna itu. Siapa lagi kalau bukan tunangan mungilnya yang lugu, kikuk, pemalu, cengeng dan agak bodoh itu. Sepertinya kosa kata terakhir akan segera dihilangkan Shikamaru. Hinata tidak bodoh, hanya ia kurang peka dan kurang tega dengan kedaaan. Sangat murah hati.

"Tsk, merepotkan. Kapan ia datang?"

Kiba tersenyum, "Tepat saat kau berpelukan dengan Temari."

"Dia melihat semuanya?"

Kiba menggeleng, "Hanya sampai Temari mencium lehermu."

"Ckck.. Benar-benar merepotkan."

Kiba mengangguk setuju. "Keluarlah dan temui dia. Jelaskan apa yang terlihat bukan seperti yang ia bayangkan."

"Aku tidak tidak bisa mentah-mentah mendengar petuah dari orang yang selama 27 tahun jomblo sepertimu."

"Dan kau seperti pria tua 27 tahun yang berengsek."

Shika tertawa miris. "Baiklah. Kemarikan tempatnya. Sepertinya aku harus menggunakan benda ini jika ingin punya alasan untuk bertemu dengannya."

"Cih, ego lelaki." Cibir Kiba.

*GET IT DOWN*

.

.

Sasuke tahu, ada sesuatu di balik kedatangan Hinata ke kantornya. Tidak biasanya gadis itu datang sendiri tanpa diundang. Biar bagaimanapun akhirnya mereka berpisah, dan Hinata lebih memilih pria Nara itu sebagai tunangannya. Akan tetapi komunikasi mereka tidak terputus begitu saja. Hinata adalah cinta pertamanya dan juga pacar pertamanya. Dan konon yang pertama selalu menduduki kenangan yang tidak mudah terhapuskan. Sasuke sadar betul posisi strategisnya. Terlebih jika itu menyangkut perasaan Hinata.

Bolehkah ia bersikap licik. Tentu saja. Pria Uchiha tidak pernah mau dikalahkan. Bahkan jika itu hanya seputar angka. Apalagi jika itu menyangkut wanita. Ia akan berusaha terlihat sebagai pendengar yang baik, sebelum akhirnya melancarkan serangan. Jika itu memang diperlukan.

"Jadi kau melihatnya berpelukan?"

Hinata mengangguk sambil menyeka air mata yang meluncur turun.

Sasuke memeluk Hinata. "Kau tidak harus bertahan untuknya.."

Hinata menggeleng di sela dada Sasuke, "Tidak. Aku bahkan semakin menyukainya. Kau tahu.. aku justru ingin tahu, kenapa ia tidak memilihku."

"Hinata. Ini tidak seperti kau—"

Hinata menangis lagi, "Kau tidak tahu Sasuke. Ini berbeda. Aku tidak marah ketika memergokimu bersama wanita yang bahkan dengan telanjang. Aku tidak tahu mengapa aku begitu marah dan bingung hanya karena melihat dia berpelukan dengan wanita lain."

"Jangan katakan kalau kau—"

"Aku cemburu." Jawab Hinata di sela isakannya.

"Hal yang bahkan tidak pernah kau perlihatkan padaku, dan kau memberikan rasa cemburumu padanya?" dan Sasuke justru marah terhadap rasa cemburu Hinata yang dialamatkan pada seorang mekanik komputer?

Dunia memang sudah jungkir balik. Seorang Uchiha seperti dirinya harus mengakui kelah strategi dengan seorang pria antah berantah yang berlagak keren dengan tidak mempan dengan gertakannya. Benar-benar tidak bisa dibiarkan.

"Batalkan saja pertunanganmu. Lalu menikahlah denganku. Kurasa Paman Hiashi tidak akan menghalangi."

"A-aku.." Hinata menatap ujung sepatu flat yang dipakainya, "Tidak bisa, Sasuke-kun."

"Jangan tolak aku Hinata, kumohon.."

Mata Hinata membulat, seumur hidupnya Sasuke belum pernah memohon padanya. Apakah, ini pertanda, Sasuke telah berubah?

Perlukah ia kembali pada Sasuke sebelum terlambat?

Hinata bingung.

*GET IT DOWN*

.

Hati Shikamaru panas. Terlebih ketika ia dengan segera mengaktifkan layar komputernya untuk mengetahui di mana Hinata berada. Terus terang, sejak makan siang tadi ia sudah ketar-ketir terhadap sang gadis pujaan hati.

Bukan apa-apa. Jika pertunangan ini gagal, akan ada banyak orang yang mengantri untuk membunuhnya. Sebut saja mami Yoshino yang sudah kepalang cinta mati pada calon menantu dan bersedia melubangi kepala Shikamaru dengan linggis. Atau Neji yang dengan suka rela menjadi malaikat pencabut nyawanya yang online dua puluh empat jam. Dan jangan lupakan istri Neji, yang dulunya bermarga Yamanaka. Yang berisik, ahli introgasi, dan tentu saja bisa menyebarkan gosip apapun tentang dirinya dan Hinata kurang dari satu kedipan mata. Ugh, cybercrime, bagaimana kejamnya dunia maya terhadap image seseorang. Kecepatannya bahkan melebihi ganasnya tornado yang pernah dilihat Shikamaru.

Sinyal berwarna ungu berkedip di sebuah lokasi yang membuat Shikamaru mencengkeram mousenya dengan kencang. Bukan sembarang gedung. Uchiha Sky Tower bukanlah tempat di mana Shikamaru ingin Hinata berada. Bukan di tempat orang berengsek yang nyaris merebut Hinata sekali lagi. Membayangkan Hinata di dalam sana dalam radius waspada serigala berbulu ayam seperti Sasuke membuatnya ngeri. Dan firasatnya atau yang lebih tepat disebut intuisinya tidak meleset barang sesentipun. Apalagi ketika ia memasang headsetnya dan mendengarkan suara Hinata.

..

"Batalkan saja pertunanganmu. Lalu menikahlah denganku. Kurasa Paman Hiashi tidak akan menghalangi."

Shikamaru melemparkan begitu saja mouse nircable yang dipegangnya. Sialnya Sasuke benar-benar ahli memanfaatkan situasi. Hatinya meradang.

"A-aku.." Suara Hinata yang terdengar terisak dan ragu-ragu membuat Shika berhenti bernafas,

"Tidak bisa, Sasuke-kun." Lanjut gadis itu lirih, tapi Shika tahu bagaimana watak Hinata. Kebaikan hati Hinata akan membuatnya kehilangan Hinata kalau tidak langsung bertindak.

"Jangan tolak aku Hinata, kumohon.."

Apakah ini kejutan? Bahkan Uchiha saja mau memohon untuk tunangannya. Jadi apa yang harus dilakukan oleh Shikamaru jika situasinya berubah tidak menguntungkan begini?

Tangan Shikamaru justru menyapu seluruh berkas yang disusun rapi dalam folder yang berada di samping komputernya menyebabkan bunyi gaduh yang membuat seisi ruangan tertuju padanya.

..

"Kau memang memalukan. Bukannya segera bertindak tapi malah menghancurkan ruangan kerjamu sendiri."

"Keluar saja kalau kau cuma menjadi komentator, Sai."

Sai justru terkekeh. "Sana pergi ke Uchiha Sky Tower." usirnya.

"Dan mempermalukan diriku sendiri? Tsk, mimpi saja!"

Sai meletakkan map kuning tepat di hadapan Shikamaru. Alis si Koala bertaut, "Apa ini?"

"Tiket ke surga untukmu."

..

.

Sai benar-benar penyelamat. Bagaimana mungkin ia bisa sesembrono itu mengacuhkan kemampuannya sendiri sebagai programmer nomor satu di Jepang? Kalau ia punya teknologi kenapa ia harus takut pada pria yanga hobinya merayu para wanita itu.

Shika menarik nafas saat diintipnya lagi sinyal ungu yang masih berada di UST (Uchiha Sky Tower), bahkan sinyal itu makin menguat seiring perjalan Shikamaru ke lantai teratas yang merupakan singgasana si casanova.

Memasuki ruangan Uchiha dengan beberapa protokoler sekertaris seputar apakah sudah memiliki janji dan kepentingan yang macam bagaimana yang membawa CEO ARTEMIS datang menghadap kepada atasannya.

Bagai gayung bersambut, Sasuke justru mempersilakan begitu saja sang rival datang menemui dirinya. Agak merasa heran dengan watak tak biasa pada si rambut raven, Shika berhati-hati.

.

Hati shikamaru seakan dicubit ketika sepasang mata hitamnya menangkap pemandangan yang menyakitkan hati. Hinata tertidur di sofa merah dalam ruangan Uchiha Sasuke, di selimuti oleh jas warna hitam yang Shikamaru tahu milik lelaki yang berstatus manatan pacar Hinata.

Mengerti arah pandangan Shikamaru, Sasuke menyeringai.

"Tadinya aku memang meminta sekertarisku untuk membatalkan apapun jadwalku. Tapi begitu tahu kau yang datang, aku khusus menerima kedatanganmu."

"Dia—" tenggorokan Shika tercekat melihat Hinata yang masih terlihat lelap dalam tidurnya.

"Dia datang. Dan kupikir tak ada yang lebih spesial darinya, aku bisa meluangkan berapapun waktuku asal dia bersamaku."

Shikamaru tahu dia sedang disindir. Tapi ia tak ingin terpancing. Cukup Tuhan dan main staff –nya saja yang tahu, betapa memalukannya Shikamaru beberapa jam yang lalu.

Shika menarik napas dan tersenyum seolah tidak terpengaruh. "Aku ke sini untuk menerima penawaran salah satu anak perusahaan Uchiha tentang kerja sama pembuatan game animasi."

Uchiha Sasuke duduk serius di kursinya. Ia seolah menjadi oeang yang berbeda ketika membicarakan soal pekerjaan. Tidak salah jika ia dijukuki kaisar di dunia bisnis.

"Kupikir Artemis bukan perusahaan yang menerima hal remeh semacam itu."

Shikamaru tersenyum, merasa keramahan Uchiha ini konyol, "Dan kami tidak pernah membedakan pekerjaan apapun itu."

"Kau programer berbakat, dan tidak cocok menangani proyek ini."

"Aku tahu, yang kau butuhkan adalah grafis terbaik. Dan kami juga memilikinya."

Sasuke tersenyum miring, "Bahasa pemrograman dan seni itu berbeda."

"Kau boleh mencaci jika kami terbukti gagal mencuri perhatian di teaser-nya."

Sasuke melirik Hinata yang terlihat bergerak gelisah. "Ini bukan hanya soal kau dan aku. Aku butuh persetujuan. Dan aku tidak akan gegabah mengambil keputusan meskipun kau yang nomor satu di kelasmu."

Shika tersenyum, "Kau butuh disigner grafis terbaik, kami punya hal itu. Sai Himura adalah pilihan terbaik yang bisa Artemis tawarkan."

Sasuke diam-diam memuji rivalnya. Shikamaru adalah orang paling perhitungan dan hati-hati yang pernah ditemuinya. Tentu saja ia tahu siapa Sai Himura. Dia adalah disigner grafis tersohor yang bahkan sudah diakui dunia.

Sasuke mengangguk, "Akan kami pertimbangkan."

"Kalau begitu tidak ada yang bisa membuatku lebih lama di sini."

Sasuke tersenyum miring.

"Tapi sebelumnya aku harus meminta maaf. Tampaknya aku harus membawa tuananganku pulang."

"Kau—"

"Aku tidak bisa membiarkan ia mengganggu pekerjaan Anda, Sasuke-san." Potong Shikamaru.

Lelaki Nara itu menghampiri sofa di mana Hinata tertidur. Lalu mengusap surai indigo yang terasa lembut di jarinya.

Hinata mulai membuka matanya dan terkesiap mendapati Shikamaru berjongkok sambil mengusap rambutnya. Dihinggapi perasaan gugup dan juga takut yang tiba-tiba datang apalagi posisi Hinata yang tertidur di ruangan Sasuke membuat Hinata serta-merta tidak ingin Shikamaru salah paham.

"Ayo kita pulang." Ajak Shikamaru sambil tersenyum.

Hinata tersenyum kikuk dan segera bangkit dari tidurnya. Sebelum pergi, kedua sejoli itu berpamitan pada Sasuke Uchiha yang geram dengan ulah Shikamaru yang menganggap dirinya seolah-olah tidak pernah ada.

"Tch! Lihat saja, Nara. Apa kau masih tersenyum jika Hinata jadi milikku?" Janji Sasuke dalam hatinya.

*GET IT DOWN*

.

.

Ini bukan kediaman Hyuuga. Juga bukan kediaman Nara. Ini adalah sebuah apartemen yang terletak di lantai enam yang beruansa modern minimalis dengan ruangan kombinasi warna putih dan juga biru langit.

Seluruh ruangannya serba canggih dan sederhana. Lantai yang tertutupi karpet bulu berwarna krem, dengan sofa merah yang terlihat empuk. Dan sebuah tv flat berukuran jumbo. Hinata melihat lebih dalam, dan tersenyum mendapati dapur yang terlihat minimalis kontempoter yang memadukan nansa stenlis yang futuristik dan keramik. Kelihatan sekali Shikamaru memang memiliki selera yang unik. Seolah pusat dunianya ada di dapur.

"Mandilah.. aku tak mau kau sakit karena kehujanan." Ucap Shikamaru sambil menyerahkan handuk bersih dan bajunya.

Hinata mengamati kaos kebesaran berwarna putih dengan sebuah gambar rusa bertanduk yang tampak lucu.

Seolah tahu pikiran Hinata buru-buru Shikamaru menjelaskan, "Hanya itu pakaian terkecil yang kupunya. Apa kau mau ku ambilkan yang lain?"

Hinata tersenyum, lalu menggeleng pelan. Lalu dengan gerakan yang anggun menghilang di balik pintu toilet.

Diam-diam Shikamaru mengembangkan senyum senang. Seolah Tuhan memberkatinya. Dan bagaimana mungkin ada kebetulan yang menyenangkan semacam ini?

..

(Flash back)

Mereka baru saja akan meninggalkan UST ketika tiba-tiba hujan disertai angin kencang menerjang Tokyo. Shika dan Hinata bahkan terjebak macet selepas dari kawasan Distrik Kabuki-cho. Dan berakhir dengan mobil Shikamaru yang tiba-tiba mogok di tengah cuaca buruk.

Dan hanya kebetulanlah yang membuat Shika sadar kalau apartemen barunya sungguh dekat dengan lokasi mobilnya yang mogok. Dia dan Hinata segera berlari menyusuri jalan dan akhirnya tiba dengan selamat di apatemen 623. Meski dengan keadaan basah kuyup. Setidaknya mereka aman di sini tanpa takut akan badai yang mungkin memburuk.

(Flashback off)

..

Hinata keluar dari makar mandi dengan baju rusa yang tampak seperti rok mini. Shika mengakui kalau Hinata selalu memiliki cara tersendiri untuk memikat atensinya. Bagaimana ia tampak begitu seduktif hanya dengan menggunakan kaos. Bahkan jika dibandingkan dengan wanita berlingeri sexy yang biasanya menjadi wallpaper komputer Kiba, Hinata sepuluh kali lipat menggoda. Hanya dengan sebuah kaos dan juga rambut yang basah. Dan Shikamaru mati-matian menahan gejolak di dadanya yang mendadak menginginkan sentuhan.

Menarik napas yang mendadak berat. Shika tahu, ada baiknya untuk mengambil sekaleng minuman dingin.

Suara Ayumi Hamazaki mengalun lembut dari overcoat basah yang tadi dikenakan Hinata. Membuat gerakan meminum Shikamaru tiba-tiba terhenti. Bukan apa-apa. Akan tetapi akan lebih baik jika ia bisa mengantarkan Hinata pulang sebelum jam sembilan. Akan tetapi di tengah cuaca yang seperti ini, amat mustahil ia bisa melakukannya.

Hinata mengambil benda pipih dan membaca nama yang tertera. Agak gugup ia menerima panggilan itu.

.

Ya Tuhan, kenapa Engkau memahat begitu sempurna Hinata hingga aku ingin menerkamnya? Dan kenapa aku yang terbiasa cuek harus selalu meminta perhatiannya. Ini aneh Hyuuga!

.

"Hallo Hinata kau di mana?" aku hafal betul suara ini. Uchiha Sasuke memang tidak main-main dengan Hinata.

Dengan suara yang tadinya di-loudspeaker menjadi mode biasa aku dapat menduga kalau Hinata sedang menjaga perasaanku.

Tapi terlambat. Aku begitu emosi mendengar suara Sasuke hingga tidak menyadari tanganku yang memegang kaleng terlalu kuat dan menyebabkan isinya tumpah ruah ke lantai.

"Ano—" Hinata melirikku sebentar, lalu menggigit bibirnya tanda ia bingung.

.

Ya Tuhan…

Kenapa ia begitu seduktif begini? Aku sudah ratusan atau jutaan kali nonton film bokep, tapi dari semuanya kenapa ekspresi Hinata menggigit bibir membuatku kepanasan begini?

.

"Maaf Sa-Sasuke-kun.."

"…"

"Ya a-aku sudah sam-sampai ru-rumah.."

"…"

"Kau tak perlu meng-menghawatirkan aku."

"…"

"Jaa.."

Dan Hinata berhenti. Mematikan teleponnya. Tepat saat tanganku telah melingkari perutnya yang datar. Memeluknya dari belakang seperti ini sungguh menyenangkan.

"Shikamaru-san.." dia bergumam.

"Kau memanggil dia 'kun' dan aku 'san'?" nada bicaraku terdengar seperti orang yang cemburu.

"Kalau Shika ingin di panggil 'kun'. Seharusnya tidak memeluk wanita sembarangan.."

Dia lancar sekali bicaranya. Membuatku tak bisa menahan senyumku. "Kau cemburu?"

"Ti-tidak!" sangkalnya. "Aku hanya ingin tahu. Kenapa ia begitu istimewa?"

"Kau terlalu ingin tahu." Aku membalik tubuhnya hingga kami bertatapan. "Tapi aku suka." Ujarku sambil mengecup dahinya lembut.

Hinata memejamkan mata. Respon yang memang kuharapkan.

"Dia mantan pacarku."

Hinata menundukkan kepala. Ia terlihat terluka, tapi kemudian ia menengadahkan kepala. Melihat ke wajahku dan tersenyum, seolah baik-baik saja tapi aku tahu kenyataannya tidak demikian. Ia sedih. Dan aku membacanya dengan jelas.

"Tadinya ia adalah brand ambassador ARTEMIS. Tapi tadi ia mengundurkan diri karena ya.. kau tahu lah. Kita memiliki hubungan yang tak bisa ia terima."

"K-kau pu-tus dengannya ka-karena aku?"

"Tidak." Aku menghela napas. "Kami putus setengah tahun sebelum betemu denganmu. Ia…" aku tak berniat melanjutkannya. Akhir-akhir ini aku berubah jadi cerewet di samping si Hyuuga jelita ini.

"Kumohon. Lan-lanjutkanlah.."

"Kupergoki tidur dengan Uchiha Sasuke."

Dan Hinata tidak tahu bagaiman menghibur Shikamaru selain memeluknya erat. Tapi efek yang berbeda dirasakan pria Nara itu.

Bagian tubuh bawah Nara Shikamaru mengeras dengan cepat. Menimbulkan rasa ngilu yang menyakitkan. Dan bagaimana ia lupa cara bernapas saat dada kenyal Hinata menempel erat pada dadanya. Dan lekukan leher Hinata terasa menggoda.

Seperti vampir yang kehausan, Shikamaru tak dapat menahan dirinya untuk tidak memagut leher jenjang yang terasa memabukkan itu. Membuat Hinata mengerang, dan mengeluarkan desahan tertahan. Shika justru lebih berani, melancarkan tanda kekuasaan yang mebuat Hinata terlena.

Kali ini Shika mencium bibir ranum yang selalu menggodanya. Dan kini ia mengetahui bagaimana rasa menjadi Adam. Mencium, memagut, melumat, menginvasi seluruh celah mulut Hinata. Meninggalkan saliva yang masih betautan yang dihiasi oleh nafas yang tersengal.

Ia ingin jadi pendosa. Mengabaikan segala norma dan akal sehat.

"Kapan kau bersedia menikah denganku?"

Hinata tertawa. Tawa yang manis yang membuat Shikamaru tak tahan untuk segera memabwa gadis itu ke ranjang dan menjadikan miliknya sepenuhnya.

"A-apakah Shikamaru-kun baru saja melamarku?"

"Ya!" jawab Shikamaru tak sabar. "Kumohon jangan tolak aku."

Hinata tertawa renyah lagi, membuat Shikamaru emosi. Ia ingat bahwa beberapa jam yang lalu, Sasuke Uchiha juga melamar Hinata.

"Jika Shikamaru-kun ingin, kamu boleh menetapkan tanggal pernikahan."

Shika menatap Hinata. Apakah itu bearti..

"Ya. Tentu saja akan ada Hinata Nara."

Shikamaru tertawa, dan ia begitu bahagia hari ini. Jadi bolehkan kalau ia mencicipi sedikit dari kesuksesannya membawa Hinata ke keluarga Nara.

Nara Shikamaru menempelkan keningnya ke kening sang pujaan hati. Mendekat secara perlahan, berbagi nafas bersama. Ketika bibirnya menyentuh bibir Hinata, ia secara perlahan menciumnya dengan gerakan lembut namun menuntut. Membuat Hinata terpedaya, hingga tak menyadari tangan Shikamaru telah menelusup ke dalam kaos yang dikenakannya.

Memijat pelan ujung puting Hinata yang sensitif. Dan membuat nafas Hinata tersengal. Shikamaru semakin memperdalam ciumannya ketika tangan yang bebas bergerak merambat dari ujung paha Hinata menuju ke bagian paling tersembunyi. Dengan jari telunjuknya memijat pelan bagian yang sangat sensitif hingga mengakibatkan Hinata menggelinjang.

Shikamaru masih memagut sang pujaan hati, tak membiarkan Hinata lolos sedetikpun. Dan ketika telunjuknya berhasil masuk. Dan sensasi yang membuat Shikamaru takjub. Bahwa milik Hinata amatlah sempit bahkan untuk di lalui sebuah jarinya.

Namun begitu hinata yang terlihat ingin meledak membuat Shikamaru buru-buru melepaskan ciuman, dan beralih untuk menjilat ujung payudara Hinata yang mengeras. Menimbulkan pekikan kecil dan desahan yang memenuhi ruangan itu.

"Shi-shika.." Hinata menggumamkan nama Shikamaru dengan nafas tersengal.

Yang diartikan sebagai desahan erotis di kuping pria Nara itu.

Shika tidak hanya menjilat, namun mengulum payudara kenyal milik Hinata. Tangan kanannya tidak memanggur. Justru memilin payudara yang alpa dari kulumannya. Membuat Hinata tak bisa menahan lagi sesuatu yang ingin keluar dari dirinya.

Seseuatu yang aneh, dan belum pernah ditemuinya. Menggelitik perutnya, embuatnya menegang. Dan sensasi itu tiba-tiba meledak hingga menyebabkan ia menjerit.

"Aaagggghhh.."

Basah.

Dan hinata yang kelelahan hilang kesadaran.

-TBC-

.

a/n:

hahahaha, pasti saya meletakkan tanda yang salah kan.

Maaf ya atas keterlambatan update-nya. Sebenarnya saya sempat lupa kalau fict ini masih belum selesai. Dan untuk adegan rateM yang tiba-tiba belum selesai aku mengucapkan permintaan maaf. Aku nggak rela Hinata kehilangan keperawanannya sebelum menikah. Karena you know lah. Hinata adalah chara paling lugu yang kusukai. ^^V

Chapter kali ini bertema 'terlalu ingin tahu', hehe biasanya kalau kita suka sama seseorang kita bakal menjadi sangat sensitif membicarakannya. Kadang mendadak kita jadi kepo. Begitulah inti dari cerita ini.

Terimakasih untuk teman-teman yang masih merindukan GID.

Mari kita berbalas review ^^

Irnapriatna : oke deh cantik, udah ku tag belum ya.. *mikir.

Uchiha feltson: saingannya berat sih. Apalagi chap depan makin seru. Tetap ikuti fict abal ini ya..

Mayu masamune: hehe yang ini nggak terlalu lucu malah agak kecut #PLAK! Teruskeseleksandal.

Naomi Hana: salam kenal juga Hana-chan (^^)/ makasih udah dipuji. Saya jadi malu. Hehehe, iya ini di lanjut. Semoga kamu terhibur.. *ojigi.

Sasazaki mami: hehe, iya sasu kebagian jadi antagonis. *di-amaterasu sama Sasuke. Yang kemarin kependekan ya? Semoga yang ini pas ^^

Ajunk: ganbatte kudasaiiii~ iya, crack pair banget. Semoga masih ada yang suka.

Livylaval: hai AL, iya gapapa yang penting aku udah menunaikan janjiku untuk membuat fict ini. Yang ini malah ada uhuk ratem uhuk. Maaf ya jika kurang berkenan.. -_-!

Aira Uchiha: maaf ngaret ya T^T.. semoga kamu masih berkenan membacanya.

Yukori kazaqi: hallo my bro semoga kamu bangkit dari hiatus.

Kirei – neko : semoga kamu nggak kecewa ama chap ini yah. Terimakasih sudah disemangatin ^^/

Hachi Breeze: apakah di chap ini kamu juga doki-doki? Yang pasti jangan kaget ada ehem-an-nya ya XD

Keiko-buu89: setahuku cincin penyadap emang ada. Sayangnya enggak diproduksi secara masal. Akan tetapi untuk pesana mungkinn ada. Ini dah di lanjut. Moga kamu sukaaaaa…

Mbik si Kambing: terimakasih kamu mengingatkan aku setiap saat tentang fict ini. Bahkan rela menanyakannya setiap perbincangan kita di whatsapp white pigeon. Kalo nggak gitu aku gak bakalan tahu apakah masih ada yang merindukan fict yang abal ini.

Minji blackjack: yang ni udah romantic belum sih? Yuk lanjut…

Aam tempe: kali ini saya malah gak pake kalimat merepotkan itu sama sekali. T^T

Umie Solihati: ya ampun sista, kamu kemana aja? Ini udah muncul Temari. Maaf tapinya, Temari nyempil dikit.

Eigar Alinafiah: iya, yang kemaren kependekan. Maaf yah..

Farla 23: iya crack pair ini gak banyak yang suka. Kerena itu aku justru suka mengeksplorasinya. #plak! Sokpolos.

*untuk teman-teman yang mungkin belum review tapi sudah baca saya ucapkan terimakasih. Dan mungkin belum saya sebutkan saya sekali lagi minta maaf atas keterlambatan update ini.

Jadi,

Bersediakah anda mereview lagi cerita abal ini?

Bila berniat RnR ya..

Salam hangat.

Poochan ^^V