Sinar matahari menyentuh lembut permukaan wajah Hinata, membuat gadis bersurai indigo itu terjaga. Mengerjapkan mata pelan, dan mulai mengedarkan pandangan. Kamar yang nyaman dengan desain simpel. Tidak ada boneka dan juga pernak-pernik hiasan. Kamar yang dominan dengan warna dasar putih dan langit-langit bercat biru muda. Ada tv flat di dinding, dan lukisan cina berupa naga hitam. Dan ia baru sadar kalau itu bukan kamarnya..
Get It Down
Story by: Pororo90
Disclaimers: MK only
Shika-Hina
Romance/Family
Warning: Typo, OOC, OC, Abal, Gaje, dan hal yang mungkin mengganggu kesenangan Anda.
Chapter 4 : TROUBLEsome
.
happy reading, minna~
.
.
Hinata buru-buru terduduk dan cukup terkejut karena sebuah handuk kecil jatuh dari dahinya. Diam-diam Hinata merona. Kamar ini milik calon suaminya. Dan yang tadi malam itu bukanlah mimpi.
.
Kreekk-
Suara pintu terbuka.
Hinata memusatkan perhatiannya ke arah pintu, tampak wanita yang amat ia kenali berjalan dengan senyum mengembang.
"Hi-na-ta Chan kau berhutang satu cerita padaku." Kerlingnya manja.
.
Ugh! Ratu gossip sudah datang Bisakah Hinata menghindar?!
.
"Ano—"
"Kalau kau menanyakan Shikamaru, dia baru saja pergi." Suara lain di pintu sukses membuatnya terkejut. Pasalnya, sang kakak, Hyuuga Neji bersandar di pintu sambil melipat tangannya di dada. Wajahnya terlihat tidak senang. Dan itu bukan pertanda yang baik.
"Nii-san," panggil Hinata, sambil menampilkan raut wajah bingung yang dianggap Neji sebagai ekspresi imut.
"Dan jika kau bertemu dengannya lagi, ku sarankan untuk menasehatinya agar lebih bisa menahan diri."
BLUSH!
.
Hinata merona.
Apakah kakaknya tahu?
Ini juga berarti gawat. Sangat troublesome, jika boleh meminjam istilah Shikamaru.
.
"Nii-san, ti-tidak me-melukai Shika-kun kan?!" Hinata menatap kakaknya dengan perasaan was-was.
"Hanya sebuah tonjokan kecil Dan sebuah bantingan Dia takkan mati karena hal itu."
.
"Hiks.. hiks.."
Dan Neji shock melihat adiknya justru menangis.
"Hei-hei ada apa denganmu, eh-?"
"Te-teganya nii-san ber-berbuat de-mikian. Shika sudah menolongku.."
Neji menghembuskan napas, "Karena itu aku tidak menghabisinya. Hanya memberi sedikit pelajaran agar tidak kurang ajar kepadamu."
.
"Baka! Nii-san no baka!" Hinata justru marah. "Shikamaru a-dalah ca-lon a-dik iparmu. Tega se-kali kau me-lakukan hal itu. A-aku ti-dak akan me-maafkan nii-san jika ia sam-pai ter-luka."
"Ckk, lihat Siapa yang membela si malas itu." Neji menggerutu. "Sudah cinta mati, eh?" sindir lelaki berambut panjang itu pada adiknya.
Bibir Hinata mengerucut, "Katamu aku harus melupakan Sasuke-kun?!"
Neji menghembuskan napas keras. "Kalau kau sudah jatuh ke tangan Shikamaru, sudah tidak akan tertolong lagi. Kau akan terikat oleh bayangannya, dan selamanya tidak bisa berpaling. Girl, you've get it down*." Gumam Neji sambil beranjak dari kamar Shikamaru dan membiarkan Ino mengintrogasi adik iparnya tercinta.
.
Hey lets time to girls talks. Or gossip disaster talks..
.
Beberapa detik setelah suaminya pergi, Ino segera menutup pintu. Lalu dengan segera berhambur ke ranjang Hinata.
"Bagaimana-bagaimana?"Cerocosnya kepo.
"Na-nani?" Hinata bingung melihat agresifitas Ino.
"Ckck." Ino berdecak, "Kau ini. Bagaimana kau bisa mendapatkan ini, he?" tangan Ino menepuk lehernya sendiri.
.
Seakan tersadar Hinata segera bangkit dari tempat tidurnya. Berjalan tergesa menuju cermin besar di samping pintu, dan ia baru saja menyadari bahwa Shikamaru tidak cukup cerdas menyembunyikan tanda kepemilikannya.
"Uggghhh" Hinata mengerang Kini ia tahu berangnya Neji ketika melihat tanda merah berupa kecupan sayang dari Shikamaru tadi malam.
"Bagaimana bisa kau—" Ino menggantung kalimatnya untuk memilih kata yang tepat, "Kau tahu, Shika bukan orang yang mudah tertarik pada perempuan kecuali. Yah, kau benar-benar spesial." Ino tidak memperhatikan raut wajah Hinata yang merona dengan drastis.
"Seleranya cukup tinggi Dia harus pintar, berwawasan dan juga.." Ino membuat gerakan berlenggok di udara dengan sebelah tangannya.
Wajah Hinata berubah keruh. Dengan bibir mengerucut ia berguman, "Ja-jadi Ino-chan i-ingin bilang ka-kalau a-aku ti-tidak cu-cukup me-miliki kri-teria da-dari Shikamaru-kun?"
Ino buru-buru mengibaskan tangannya di depan wajah begitu melihat kabut bening di mata adik iparnya. "Bukan! Bukan begitu maksudku." Kilah Ino, "Waktu Neji merekomendasikan dia, kau terlihat tidak tertarik. Dan setelah bertunangan dengannya pun, kau juga terlihat biasa saja. Bagaimana mungkin kau begitu saja ingin menyerahkan segalanya padanya. Maksudku kau bahkan tidak tahu gossip yang bersedar dan kau begitu saja menolak Uchiha itu?!"
"To-tolong Ino-chan ja-jangan membuatku bingung."
"Kau tidak pernah mendengar kalau Shikamaru hanya punya seorang pacar sejak dulu?"
.
Ahh rupanya Hinata belum tahu apapun tentang calon suaminya. Dan itu menohok hatinya.
.
"Ahhh— Ini buruk" Ucap Ino lagi, "Sabaku no Temari sudah tiba tiga hari yang lalu, dan kau tak tahu apa-apa tentang wanita yang bisa merontokkan hati calon suamimu?!"
Hinata menggeleng,
"Dengarkan aku." Ino memposisikan duduknya senyaman mungkin. "Aku, Shika, dan juga Neji kami berteman sejak dulu. Dari SMA si Koala sudah jatuh cinta pada putri seorang anggota parlemen di Nagano. Dia wanita yag sangat mandiri. Dia tangguh, ia bahkan menjadi inspirasi Shikamaru untuk meraih mimpinya sendiri. Sepuluh tahun bukan waktu yang singkat untuk menjalin hubungan Hinata. Sebelum akhirnya mereka berpisah karena ya, sebuah kesalahan yang mungkin bisa menimpa siapa saja. Gadis itu mabuk dan ditemukan tidur dengan seseorang. Dulu bahkan Shikamaru pernah bilang kalau dia akan menghancurkan kehidupan 'pria' itu. Sama ketika ia merasa hancur melihat kekasihnya tidur dengan pria 'yang tidak kutahu siapa itu'. Karena merasa bersalah, Temari-san memilih pulang ke Nagano."
Hinata merasa udara di sekitarnya menghilang. Apakah selama ini Shikamaru hanya mempermainkannya? Dan ia hanya seorang pelarian?
.
Hinata menarik napasnya pelan. Berusaha mengendalikan diri.
"Berita pertunangan dirimu menyebar agak lambat dari dugaanku. Semuanya tentu saja karena rapinya Shikamaru menutupi hubungan kalian. Tapi sungguh tak kusangka kalau kalian punya hubungan se-hangat ini." Ino mengibaskan tangannya. "Aku tidak tahu bagaimana bisa Shika mengesampingkan Temari, tapi kalau kau sungguh dipilih Shikamaru, bisa dipastikan dia akan menjagamu dengan jiwa dan raga."
Tapi Hinata entah mengapa tidak merasa bahagia. Ia justru tenggelam pada kemungkinan-kemungkinan.
Apakah Shikamaru benar-benar mencintainya?
Apakah Shikamaru benar-benar ingin menikahinya?
.
Memikirkan hal itu justru membuat kepala Hinata pusing. Pandangannya mengabur. Dan membuat Ino spontan menjerit-jerit hingga Neji terpaksa pontang-panting menelepon ambulan.
*GET IT DOWN*
.
Sikamaru baru saja menandatangani proyek dengan Uchiha Entertainment. Maklum saja, Uchiha benar-benar ambisius dengan membuat film animasi dan game online sekalian. Diam-diam Shikamaru tersenyum dalam hati. Ternyata si Uchiha itu hanya seorang anak kecil yang sedang ngambek karena mainannya direbut. Bahkan si Uchiha raven itu memilih mewakilkan persoalan ini pada salah satu tangan kanannya. Lelaki berambut perak yang dikenal dengan Hatake Kakashi.
Boleh di bilang Shikamaru berada di atas angin. Selain mengantongi nilai kerjasama yang nilai nominalnya bisa membuat gembung rekeningnya, ia juga baru saja men-deal ayah mertuanya yang ada di Amsterdam. Walau tidak sopan meminang Hinata dan berbicara tentang tanggal pernikahan melalui video call, akan tetapi ia perlu bertindak cepat untuk mengatasi keagresifan Uchiha dan kemarahan Neji. Bahkan si Koala berjanji akan segera menemui Hiashi di Belanda jika pekerjaannya bisa ditinggal.
.
Atau malah terjerat berkepanjangan..
Saat matanya menangkap poin ke tujuh puluh enam dari perjanjian itu, Shikamaru justru langsung memijat kepalanya.
"Tsk, mendokusai." Decaknya.
.
Pasal 76: Pihak kedua harus mematuhi segala peraturan perusahaan Uchiha Enterprise yang mana merupakan induk dari Uchiha Entertainment. Dan berusaha mematuhi hierarki kepemimpinan. Dengan demikian, pihak kedua diwajibkan bekerja sama dengan Manager Perencanaan dari Uchiha Enterprise, atas nama nona Sabaku no Temari sebagai brand icon dari produk anime yang siap disebarluaskan.
.
Hei, dunia bukan sebuah bujur sangkar kan?
Kenapa dunianya hanya terbatas itu-dan-itu saja sih?! Kali ini ia harus mengakui kepekaan si Uchiha raven itu. Dengan memakai kecemburuan Hinata, ia akan merebut Hinata kembali.
"Tsk, mendokusai Troublesome, Uchiha's the troublemaker" Umpatnya lagi.
.
Berjalan menuju lift, tiba-tiba pimpinan ARTEMIS itu merasa telepon genggamnya bergetar. Ia segera menyentuh bulatan hijau yang terpampang pada smartphone-nya. Lebih memilih berhenti sejenak untuk menerima panggilan dari sahabatnya.
"Hallo."
"Hinata demam tinggi. Dia ada di rumah sakit sekarang." Suara Ino menyeruak dan hampir menjebol gendang telinganya.
"Hm, kirimkan alamatnya padaku. Aku akan ke sana sekarang."
.
Dihinggapi rasa khawatir, ia bahkan melupakan beberapa agendanya. Baginya prioritasnya hanya satu, calon nyonya Nara.
…
..
.
Ketika Shikamaru datang, Hinata masih tidur. Ino dan Neji permisi pulang untuk mempersiapkan keperluan Hinata selama di rumah sakit. Meninggalkan Koala yang walau terlihat bertampang datar namun jauuuhhh di sudut hatinya terserang panik.
Hinata masih berbaring di sana. Agak pucat, dan selang infus menghiasi pergelangan tangannya. Gadis itu tampak rapuh. Tanpa pertahanan, dan bahkan di sela tidurnya pun Shikamaru pun melihat buliran air mata meluncur turun.
"Hiks" gadis itu terisak.
Mestinya Shika tidak perlu memusingkan gumaman Hinata karena mengigau. Hal itu biasa terjadi karena demam tinggi. Apalagi, Hinata memang sering terkena typus. Dan shika memang khawatir hal buruk terjadi pada gadisnya.
Tapi gumaman berikutnya justru membuat hatinya tercubit.
.
"Akah kau mencintaiku?"
"Apa kau masih mencintai Temari?"
.
Shikamaru tahu, dari mana datangnya penyakit Hinata.
Stress.
Dan gadis itu terlalu rapuh untuk dibiarkan sendirian.
.
"Ssshhh" Shikamaru menghapus air mata. Hinata Lalu mencium dahinya lembut. "Aku ada di sini sayang, aku ada untukmu."
Jika normalnya ia akan bersikan cuek dan tidak butuh, kini ia leluasa melampiaskan rasa sayangnya. Toh di ruangan ini hanya ada Hinata dan dirinya.
.
Bukannya tertidur, Hinata justru membuka kelopak matanya.
"Kau bangun?"
Hinata menatap muka Shikamaru yang kusut. Menghembuskan nafas berat, Hinata tersenyum pahit. "U-uh, go-gomenne su-sudah merepot-kan-mu"
Shika justru mengelus surai indigo kekasihnya, "Jangan berpikir aneh-aneh. Kau adalah yang terpenting sekarang."
"A-ano—" Hinata gamang, antara bertanya atau tidak. Tapi memendamnya terlalu lama justru akan berbahaya. Selagi pernikahan belum terlaksana, jika mereka berpisah mungkin akan lebih baik..
Atau sangat menyakitkan,
"Kalau kau ingin bertanya soal Temari. Aku akan bilang ia hanya masa lalu. Dan kau adalah masa depan dan masa sekarangku. Apakah itu cukup?!"
Shika berkata dingin, tapi Hinata tahu, lelaki itu juga sedang gusar.
Hinata justru meneteskan air mata, "Bila ternyata aku seegois yang kau pikirkan?"
Hinata bahkan tidak tergagap lagi di sela isakannya,
Shika terkesiap, apakah Hinata akan meminta putus kepadanya? "Aku juga akan lebih egois, Hinata. Ayo kita menikah. Kalau perlu minggu ini juga!"
"Shikamaru-kun.." panggil Hinata heran.
Padahal Hinata hanya ingin meminta Shikamaru menjauhi Temari, tapi kenapa Shikamaru justru menawarkan pernikahan?!
.
Keheningan ini justru membuat rona merah Hinata merambat.
Tapi tangan Shikamaru justru terulur, mengusap pelan pipi Hinata. Membuat rasa nyaman menelisip tiba-tiba. Membuat semuanya terasa indah. Bahwa setiap butiran udara yang terdiri atas milyaran molekul-molekul yang bahkan tidak bisa diuraikan mata, menjadi debu kosmik atau bahkan serbuk heroin cinta. Dan bila terhirup dipastikan debu cinta itu akan mengakibatkan ketagihan.
Setiap helaian nafas menjadi saksi, ketika Shika berjongkok, menyejajarkan tubuhnya menjadi berhadapan wajah dengan Hinata. Wajah bertemu wajah. Dan ketika jarak menjadi tidak penting lagi. Seperti ilmu fisika. Jika gravitasi menguasai maka momentum, dan juga relativitas jarak adalah rumus yang tak berguna. Disingkirkan jauh-jauh dari kepala.
Dan hanya sebuah ciuman.
Mampu membuat hang otak komputer Shikamaru.
Persetan dengan tempat umum. Siapa yang peduli.
Bermula dengan kecupan ringan, lalu berubah intens. Menjilat, menggigit. Kadang juga saling mengabsen celah mulut.
.
Membiarkan Uchiha Sasuke di depan pintu sambil meremas kuat-kuat buket bunga yang dipesannya secara khusus.
Dulu, ia tak pernah bisa berciuman seintens itu dengan Hinata. Ia akan menjaga kuat-kuat Hinatanya. Dan menyalurkan hasratnya pada yang lain. Ia menganggap Hinata seperti kristal rapuh, terlalu berharga, terlalu rentan. Tanpa sadar ia justru menempatkan dirinya menjadi sosok asing. Bukan seperti pacar. Tapi seorang kurator seni yang menjaga mati-matian pahatan Tuhan. Lalu menyesal ketika barang yang ia jaga dimiliki oleh orang lain.
"Seminggu katanya?" geram Sasuke "Kan kubuat kau membatalkannya sendiri, Shikamaru!" desisnya marah. Melempar buket ke pojokan dan segera menghilang.
..
.
"Lekaslah sembuh" ucap Shika setelah melepaskan pagutan. Ibu jarinya menyapu lembut permukaan bibir Hinata. Membuat perasaan berdesir yang aneh karena menginginkan lebih.
Hinata tersenyum manis.
"Jujur saja aku baru saja menandatangi kontrak dengan anak perusahaan Uchiha. Dan tidak menyangka akan bekerja sama dengan Temari. Namun, jika engkau keberatan. Aku bisa membatalkan kerja sama itu."
Hinata tersenyum, lalu menggeleng pelan. "Ti-tidak perlu se-seperti itu. A-aku percaya. A-aku percaya pada Shika-kun.."
Shika tersenyum sedikit, "Tsk, merepotkan. Kenapa sih, pakaian pasien ini begitu seduktif? Aku jadi ingin menculikmu."
"E-eh?!"
Shika terkekeh, "Jam enam nanti, aku aka nada rapat lagi dengan perwakilan Uchiha. Kau tak keberatan menungguku kembali?"
Hinata justru ikut tersenyum, "A-aku akan menunggu.."
Shika mendekatkan bibirnya dengan bibir Hinata lalu mengecup pelan bibir merekah yang siap menjadi sasarannya akhir-akhir ini. Sebuah ciuman penyemangat.
*GET IT DOWN*
…
..
.
'Bos, target sudah tiba.'
'Hn, buat ia sibuk. Sabotase saja semuanya. Buat dia tak bisa menemui siapapun.'
'Siap!'
…
Sasuke memutar kursi kerjanya menghadap langit Tokyo. Ada ribuan bintang di bawah kakinya. Bintang harapan manusia bernama lampu. Tidak terlalu indah.
"Hinata," gumamnya.
*GET IT DOWN*
.
Shika agak aneh mengamati orang di Uchiha Sky Tower. Kenapa semua lift tidak dipakai. Mengabaikan kecurigaannya, Shika justru memasuki salah satu lift direksi. Kemudian menekan tombol dua puluh empat.
Sebutlah intuisinya terbukti. Tiba-tiba saja lampu lift berkedip. Lalu lift berhenti berjalan.
Sialan!
Kenapa saat mepet begini, ada kerusakan, eh?!
Terlalu janggal.
Untuk sekelas perusahaan Uchiha, lift bisa rusak.
..
Membenci pekerjaan bobol-membobol. Shikamaru membuka tas kulit yang ditentengnya. Mengeluarkan sebuah alat kecil berbentuk bulat, computer jinjing, dan kabel usb. Alat kecil itu ditempelkan pada salah satu tombol di lift. Benda bulat itu kemudian dihubungkan oleh kabel USB yang dibawa oleh pimpinan ARTEMIS itu. Lalu diaktifkan dari komputer Shikamaru.
Mau mempermainkan programmer nomor satu di jepang, eh-?
Shika mengintip jarum dari jam yang dipakainya. Tinggal dua puluh menit lagi sebelum rapat di mulai.
Ia justru menyeringai.
"Lets countdown it."
.
Meski bosan dengan kode mengkode enkripsi. Tapi Shika beruntung dianugrahi otak yang cemerlang. Tidak butuh waktu lama memulihkan system lift. Ia justru ingin sedikit memberi pelajaran dengan memberikan kutu busuk untuk penyabotase.
Hahaha..
Mungkin si jelek itu akan segera menerimanya.
.
Ting!
.
Pintu terbuka.
Shikamaru bersiul sambil membereskan peralatannya. Dan melenggang penuh kemenangan keluar dari lift. Sebelumnya ia mendial rekan-rekannya. Ia ingin Sai mempelajari kembali isi klausal kontrak. Demi Hinata ia akan mencari celah dirinya bisa terbebas dari Temari.
Dan segera menemui ayah mertua.
Tapi sebelum itu, ayo kita hadapi Uchiha dulu..
-to be continued-
.
omake:
"Sial. Kenapa kena bug begini?!"
Orang itu memencet-mencet tombol laptopnya. Tapi semua sia-sia. "Keparat, si Nanas itu!" umpatnya.
Terang saja. IP-nya terblokir. Ada semacam virus computer yang berkeliaran terus-menerus. Seperti sebuah kutu yang bersliweran di layar computer. Membikin sakit kepala saja.
.
a/n:
*Girl, you've get it down. Artinya, sayang, kamu sudah dilumpuhkan. Mengacu pada bahasa get it down! (Lumpuhkan! kalimat perintah. Terutama dalam permainan adu strategi semacam modern combat).
Holla, hahaha.. Lama yah nunggu saya?! Yeyeyeyeye… (^^)/
Maaf deh saya enggak bisa menepati janji saya. Soalnya saya bilang kalau fict ini berhenti di chap 4, tapi sayangnya terlalu panjang kalau jadi 1 fict Jadi saya pecah jadi 2.
*Fragmen pertama Chap 4; Troublesome.
*Fragmen kedua Chap 4; Get it down.
Jadi next chap itu yang sejatinya jadi akhir.
Hohoho…
Curcol dikit ya. Kuping gue sakit gegara ada semacam 'jerawat' di dalamnya. Dunno kenapa jerawat sialan itu bisa tumbuh di daun telinga. Damn! Belum genap sehari gue sembuh dari sakit mata yang ngeganggu, hingga due udah kaya keturunan Uchiha yang punya sharingan. Pokoknya ada aja yang ngehambat bikin fanfik. Ya udahlah yang penting bisa menyapa reader semua ^^V
Baiklah~
Ayo kita berbalas review (^_^)
Isna chan: sebelumnya salam kenal, saya biasa dipanggil Poo (kaya nyebut panda di Kungfu Panda) buat angel/bitch, nanti akan di lanjut kok. Tapi sabar ya semoga kamu juga menyukai Shika-Hina yang ini. Hahahaha, saya gak maksa sih, cuma merekomendasikan. Hehehe makasih udah menyempetkan diri membaca semua fanfikku. Aku sungguh terharu loh, ternyata masih ada reader yang menantiku ^^.
Uchihapachira: hehehei anak dibawah umur gak boleh ngintip, ntar pingin loh. Hahaha abang Koala harus sabar menanti. Soalnya bang Neji bakal jadi algojo onlen buat ngebantai si nanas, kalo berani menodai Hinata sebelum meried. Saya enggak tahu, kenapa sih saya sering buangeeetttt typo. Sampai-sampai nulis sms atau nge chat- ama teman saya di grup Whatsapp White pigeon, masih juga typo. Makanya saya dijuluki Ty-poochan (T^T) *mewek.
Anita. Indah. 777: iya-ya Habis gimana lagi, dia kan enggak siap sama serangan mendadak Shikamaru. Trus saya bingung gimana bikin Hinata tetap suci, sementara abang Shikamaru udah mengelabui saya. Hanya adegan pingsanlah cara saya menyelamatkan Hime. #Plak! Sok malaikat (^^)V
Lyvylaval: maaf beribu maaf ya bro. Saya sungguh tak menyangka kalau dikau berbeda dari yang saya bayangkan. Baiklah Al, saya mau menginformasikan kalau Kabuki-cho benar-benar ada dan bukan fiktif. Saya sampai search gugel demi memepertahankan argument saya ini #plak! Sokintelek Hehehehe, yang jelas Kabuki-cho terletak di pusat Tokyo. Tepatnya di distrik Shinjuku (ibukotanya Tokyo) dan Kabukichou itu terkenal dengan kehidupan malamnya. Semacam kota dengan pusat hiburan malam terbesar dan terlengkap di Tokyo. Bahkan di situ dijuluki daerah se*. Daerah itu dibanjiri ama night club, lovehotel, motel, trus restoran terkenal kaya maid restoran, dll, soalnya ni tempat strategis banget. Bayangin aja lok apartementnya Shika deket-deket situ. Pasti harganya mahal #plak!
The Wanderer: auuu, reviewnya panjang bukkk. Saya sukaaa banget! Makasih atas partisipasinya dalam menyumbang review. Jujur saja, waktu mempublish fict dengan pair Shika-Hina kayak gini, aku tahu mungkin gak banyak peminat, seperti pair lain. Ini terlalu crack. Tapi inilah fanfict, kita belajar mengalahkan rasa takut gak direview, juga kemustahilan lain. Dunia fanfik itu ajaib. Hehehe Kamu suka Shikamaru di chap 2 ya? Hahaha, saya juga #ditimpuk. Dia saya gambarkan keren di situ. Soal, strawbery on the shortcake? Emm, saya terinspirasi ama dorama lawas dengan judul yang sama, yang main Hideaki Takey'zawa dan Kyoko Fukada. Chap 3 rada kecut ya? Baiklah, soal saran kamu, saya sungguh berterimakasih Semoga kamu berekanan mereview lagi. Chap ini semoga cukup pas di hati kamu PS: aku udah ngurangin typo, tapi sori masih aja ada yang nyempil (T^T).
Hinata Hikari: hei, Yik. Sumpah ya! Kagak ngaku lu, siapa coba yang nularin ratem ke gue?! Gue masih pyuuurrr, tiap hari baca fict lu yang retem mulu. Jadilah daku tertular :V ngakakakaka. Ni juga fict Shika-Hina pertamaku. Sori banget gak se'membahana' fict dengan pair lain. Habisnya jenuh lok terus nulis satu pair. Kayak enggak berkembang. Chapter 4 ini moga-moga gak bikin kamu neror aku lagi, hahahah (^_*)V pisss_
Uchiha Feltson: hahaha, iya Kasihan kan si Nara kalo gak sama Hinata. Terus abang Sasu boleh-lah di jual buat kamu. Tapi kamu mau ya yang second, solanya Sasu yang baru udah enggak nyetok lagi *plak! Lukirabajunon!ditimpucked! ini dah di lanjut, moga kamu suka.
Hinako Katsura: iya, ganbatte juga buat kamu Iya sih, biasanya pair Hinata ya abang Sasu, tapi kali ini boleh dong bikin yang lain dari yang lain *smirk Moga-moga kamu suka (lagi) Hehehe..
Eigar Alinafiah: hehehe, kadang emosi bikin seseorang tuh gak sadar apa yang dilakuin. Tapi emang, sifat dasar cowok tuh gak mau berbagi. Di chap kemarin kan udah di jelasin lok dia ada dendam pribadi sama Sasuke (Yang Temari pernah bobo ama Sasuke) at list dia gak pengen Hinata juga ninggalin dia untuk Sasuke. Soal nyium leher yah Emang gak dijelasin. Tapi ya, Shika sih gak mau nolak rejeki. Xixiixi #plak! Yukkk lanjuttt~
Guest: ini sudah di lanjut, semoga kamu makin suka. (^^)
Kirei-neko: hehehe, aku senang kamu hadir lagi untuk mereview crack pair ini. Bener banget, Hinata tuh lovable buat siapapun. Hehehe, iya, aku masih menyelamatkan Hinata kok. Yosshhh, aku akan berusaha ^_^ *eh kucing cantik jangan lupa review lagi ya. Dan semoga chapter ini gak mengecewakan.
Renita Nee-chan: oke, kaichou Tapi maaf, karena Shika-Hina belum meried jadi nggak bisa liat adegan uhuk-uhuk. Lagian kaichou sih yang ngajarin aku *digeplak! Eniwei,jangan lupa ya, reviewnya. Trus aku ga berani ngasi link ke Kikun lagi. Ntar kita ditanyain macem-macem lagi. Hahahaha..
Mbik Si Kambing: hahaha, bukannya itu iler ama ingus ya?! Kita kan masi anak ingusan. Kenapa ada mimis di hidungmu. #plak! Ya namanya juga fanfik, gatau deh chap ini memuaskan ato gak. Solanya otakku lagi korslet.
Loooony luna: makasih, lain kali review lagi ya.. aku seneng bisa dapet dukungan dari kamu.
.
*Orange corner*
-sepenggal masa depan—
.
Shikamaru berjalan berjingkat. Bahkan rela jadi mahluk homo sapiens yang enggak kenal sandal yang sudah ditata rapi oleh istri tercintanya di dekat pintu masuk. Mau apa si kepala Nanas itu mengendap-endap begitu?
Hinata sedang ada di konter. Pakai baju tidur sutra yang pas banget membungkus lekuk tubuhnya. Meski itu cuma piyama dan bukan lingeri favorit Shikamaru tapi, tetap saja nyonya Nara selalu bisa memberikan medan magnet pada code breaker numero uno. Dengan rambut terurai yang bahkan si Nara bisa mencium wangi morning breeze dari kejauhan. Oh Hinata, Shikamaru bahkan lupa membeli alat kontrasepsi di apotek. Mengabaikan betapa merepotkannya memiliki satu atau dua anak lagi selain si kembar Hiroki dan Mayumi, yang menurun kepadanya (pintar tapi merepotkan) tentu saja hari-harinya tak kan seindah dulu. Atau, lebih baik mengirim mereka kepada Nyonya tua Nara yang cerewet? Tidak! Kedua anaknya pasti bisa kembali dengan cepat.
Ide yang bagus adalah menitipkan mereka ke sumer camp di Kanada bersama Neji Hahaha, pasti Hinata akan menjadi miliknya seorang. Terdengar sadis? Memang!
Nah, ayo beraksi..
Tangan Nara sudah melingkari perut datar istrinya. Meski sudah pernah melahirkan, Hinata masih saja ramping seperti pertama Shikamaru menyentuhnya. Lalu mengendus pelan rambut Hinata yang masih separo basah.
"A-anata bi-bisakah, kau hen-tikan Kau mem-buatku ge-geli" ujar Hinata agak risih.
"Kau menolakku?"
Hinata buru-buru berbalik, takut suaminya marah atau kecewa. Tapi yang ada adalah Nara yang mengambil kesempatan untuk menyerang lehernya. Kuso! Hinata kecolongan.
"Agghh" tuh, Hinata saja tidak pernah tahan dengan spontanitas suaminya.
Saat lidah hangat Shikamaru menjilat leher jenjangnya, Hinata tahu. She get it down. Ya, wanita itu telah di lumpuhkan.
Menyesap kuat setelah mencium leher si istri, Nara meninggalkan tanda merah yang besok pasti ditanyakan oleh Mayumi. Eh, siapa yang peduli.
Bibir Shikamaru lalu berpindah ke bibir merekah milik istrinya. Selalu saja mencium Hinata seperti sebuah oase di sebuah gurun. Berapa kali meneguknya, tidak akan pernah bisa puas, justru makin terasa haus. Haus akan bibir yang menggodanya. Ya, salahkan hobi barunya. Cemburu kepada Hinata yang sering sekali mendapat telepon bapak-bapak muda yang senangnya meminta resep atau sekedar minta nasehat untuk menyenangkan istrinya.
Shika tahu betul kalau itu semuanya adalah alibi. Salahkan Hinata yang masih sexy dan makin hari justru makin sexy. Terlebih ketika istrinya jadi bintang You Tube gara-gara postingan Mayumi. Judulnya Best Mother Ever. Anaknya mengirim Hinata yang sedang berlulaby menidurkan Hiroki. Atau memasak kue dan makan malam untuk mereka. Sayangnya Tuan Adorable tidak pernah terlihat di postingan. Sehingga jumlah penggemar Hinata bertambah. Dan setiap laki-laki yang melihatnya di jalan akan langsung berimajinasi yang bisa menerbangkan mereka ke awang-awang. Tsk! Terdengar udik sekali bayangan itu.
Mengingatnya justru membuat Shika makin panas, sekaligus makin bergairah. Kadang ia ingin memposting adegan ranjangnya dengan Hinata. Biar semua pada kapok. Atau justru makin ganas menyerang Hinata. Ugh, tapi otak sehatnya masih berfungsi. Kenapa ia ketularan posesif begini?!
Memagut Hinata buas, dan menjelajah relung-relung mulut Hinata. Hingga bibir mereka berpisah beberapa detik untuk sekedar bernafas dan kembali menyerangnya lagi.
Tangannya sudah masuk ke dalam baju piyama Hinata. Meremas pelan payudara sebelah kanan. Membuat Hinata melenguh pelan di sela ciumannya. Ia diam-diam bersyukur, diantara ingatannya tentang kalkulus, logaritma, dan sederet kode-kode enkripsi yang membuat pusing kepala, ia masih mengingat dengan baik. Di mana titik-titik sensitif Hinata. Lalu memainkan ujung puting Hinata yang rupanya telah mengeras. Bosan bermain di bawah lindungan kain, Shika ingin segera membuaka 'harta karunnya'.
Tangan Shikamaru merayap pelan untuk merengkuh tubuh Hinata dalam dekapannya, lalu dengan pelan mempreteli kancing piyama sang istri. Bibirnya mengecup-ngecup mata, hidung, dagu, membuat Hinata terbuiai dan tak menyadari hanya tinggal satu kancing terbawah yang belum terlepas. Namun begitu otaknya bekerja kembali, buru-buru jemari lentiknya menghentikan Shikamaru dari gerakan membuka kancing.
Shika mamutar bola matanya kesal, "Ada apa?"
Sambil mengatur nafas yang naik turun yang justru terlihat sexy oleh Shikamaru, Hinata mulai bicara, "Ja-jang-an di sini." ucapnya terbata.
"Kenapa? Kita butuh improvisasi. Kurasa dapur bukan ide yang buruk."
Hinata menunjuk ke atas,
"Tsk, sial!" umpat Shikamaru. Kadang ia lupa kalau ada CCTV yang menyorot langsung kegiatan mereka.
Hei siapa suruh memasang CCTV di sudut-sudut rumah untuk mengawasi istrimu sendiri Senjata makan tuan, eh—
…
Gomenne, ternyata rate-nya masi T
Soalnya banyak anak kecil yang liat fict abal ini (^_^)
Jadi lok mau lemonan, besok aja lok fictnya udah misah dari GID Hehehe
Salam hangat (^_^)V
*POOCHAN*
