Jika ada yang bilang film Cast Away itu keren dan inspiratif, maka Shikamaru akan memakinya dengan kata kasar berisi empat huruf yang berawalan huruf F. Okey, ini semua sudah tidak lucu lagi. Hal-hal berbau pantai, aroma laut, suara camar dan pasir putih yang lembut bukanlah adegan romantis yang ingin ia pilih. Koreksi besar terhadap imajinasinya beberapa hari lalu, bahwa menyelenggarakan pesta pantai di hari pernikahannya itu keren. Ia harus melingkari hal yang membuat ia jengkel setengah mati seperti sekarang.
Sendirian.
Di tengah pulau asing yang tidak ia tahu tempatnya.
Bahkan sesepuh dunia, Google, gagal beroprasi di sini. Ya, salahkan jaringan sinyal yang menunjukkan tanda X berwarna merah. Dan ia mengutuk segala hal yang berbau primitif.
Haruskah?
Ia terdampar di sini dan melewatkan acara pernikahannya sendiri.
Membayangkan saja sudah ngeri.
Get It Down
Story by: Pororo90
Disclaimers: MK only
Shika-Hina
Romance/Family
Warning: Typo, OOC, OC, Abal, Gaje, Crackpair
dan hal yang mungkin mengganggu kesenangan Anda.
Chapter 4 : Get It Down
Chapter Final.
DLDR!
Happy reading minna~..
.
.
H-8
(agenda percepatan pernikahan)
Delapan hari sebelum pernikahannya, Shika menguap. Meski matanya setengah terbuka dan setengah menempel, seperti lem kertas glu*ol yang sudah kehabisan daya rekatnya. Tapi jangan remehkan telinganya yang 100 persen stay tunning. Dia masih mendengarkan petuah dari si raja meloloskan diri Kakuzu-san yang merupakan pengacara perusahannya.
"Jadi, Nara-san.." Kakuzu berhenti, pelipisnya berkedut-kedut bahkan si lelaki berbaju biru itu hampir melemparkan Samehada, sebutan untuk pulpen kesayangannya yang merupakan sempilan dari gigi ikan laut.
"Bos?!" Kakuzu mengibaskan tangannya di depan wajah Mr. Adorable.
"Ya, saya dengar. Bahwa kemungkinan saya lolos dari pasal 76 itu amat kecil, jika saya bersikeras memegang jabatan sebagai Head Project Director pada proyek kali ini. Karena saya menandatanganinya sebagai pihak kedua, kecuali saya mengajukan diri untuk mundur dari proyek itu!"
Kakuzu tersenyum separuh, agak heran dengan orang yang dipanggilnya bos. Meski matanya sudah sepenuhnya tertutup, tapi orang ini justru menangkap semua hal penting yang ingin di sampaikan Kakuzu.
Tiba-tiba saja mata Shikamaru terbuka sepenuhnya, membuat Kakuzu terkaget hingga limbung ke belakang. "Ya, seharusnya saya lebih cepat menangkap penjelasan Anda, Kakuzu-san! Anda ingin bilang saya harusnya mengambil cuti, dan menyerahkan semuanya pada Sai dan Kiba, sementara. Untuk alasan paling manusiawi dan juga kedengaran krusial. Menikah!"
Ckck.. kenapa tak terpikirkan sama sekali?
Shikamaru langsung duduk tegak, tangannya langsung meraih benda pipih yang berada dalam saku jasnya. Sepertinya menelpon calon kakak ipar perempuannya bukanlah ide yang buruk, siapa lagi kalau bukan tukang rusuh si Ino Yamanaka, eh, sekarang kan menjadi Ino Hyuuga.
Tutt..
Nada tunggunya benar-benar nyiksa sekali.
Tutttt..
Kalau saja Shikamaru mempunyai alat khusus untuk menghubungi istri Neji itu.
Cklek!
Tersambung!
"Hallo?"
"Ino, ini aku. Aku butuh bantuanmu!"
..
Setelah Kakuzu undur diri, Shika tersenyum simpul. Tidak ada yang sulit untuk menantu Hyuuga berambut kuning. Bahkan si cerewet itu berjanji akan menyebarkan undangan itu besok pagi! Hahaha, betapa dunia berada dalam genggaman Shika sekarang.
Sambil bersiul, Shikamaru memesan tiket onlen. Ia harus menjemput Hiashi Hyuuga ke Amsterdam. Tentu saja dalam rangka mengambil hati si calon ayah mertua. Pertama-tama ia harus menyaksikan langsung bagaimana menggilanya Ino.
Even organizer paling mumpuni pun tidak ada yang menandingi agresivitas dan juga mobilitas Ino. Tidak salah jika Neji bisa mempercayakan urusan koneksi pada dara cantik itu.
Layar handphone Shikamaru berkedip, video call.
"Ya Ino?" Shika menjawab malas,
Ino menunjukkan beberapa contoh surat undangan dari layar laptop yang disorongkan ke hapenya.
"Ambil yang menurutmu sesuai dengan image Hyuuga."Jawaban Shika menggelitik rasa ingin tahu Ino.
"Kau tidak ingin memilihnya?"
"Kau tahu seleraku. Gabungkan dengan selera Hinata, beres kan. Dan untuk cincinnya, aku akan membelinya sendiri. Jangan bilang Hinata sebelum aku melamarnya nanti malam. Bergeraklah cepat dan juga rapi."
"Kau tahu semua tidak gratis kan?" terlihat Ino sedang mengibaskan poninya ke samping.
"Kalau kau berhasil menjadi ibu peri untukku, akan kuberikan tiga persen saham ARTEMIS kepadamu."
"Bagaimana jika lima persen?"
"Deal or no deal?" mata Shika menyipit.
"Dasar pelit. Aku akan menyiapkan seluruh jaringan onlenku. Kau hanya tinggal mengurus bagian kecilnya"
"Apakah membawa Hiashi Hyuuga dari Amsterdam ke Tokyo adalah bagian kecil?" mulut Shikamaru menjadi lebih nyiyir sekarang.
"Kau jadi cerewet." Suara Ino tergelak, tertawa sepuasnya yang membuat Shikamaru jengkel,
"Tsk, mendokusai!" Shika tersenyum simpul, "Aku tidak tahu kalau menikah itu sangat merepotkan!"
"Kau tegang kan?!" Ino mengerucutkan bibirnya, menggoda Nara junior itu ternyata mengasyikkan.
"Bukan hanya tegang. Bahkan perutku saja mulas." Jawab Shika sekenanya.
"Hahaha. Itu wajar. Sindrom pernikahan. Aku bahkan ingin melarikan diri." Mata Ino memerawang, teringat bagaimana pernikahan dengan Neji setahun yang lalu.
"Aku hanya ingin mempercepatnya supaya tidak pusing lagi."
"Ya.. ya.. ya tuan Koala. Dan bagaimana dengan agenda meloloskan diri dari jeratan Temari eh?" alis Ino naik turun. Menggodanya lagi.
"Aku menyiapkan skenario terbaiknya kok."
"Eh?"
"Tepat jam tujuh pagi. Ada siaran langsung di seluruh Jepang. Onlen."
"Yahh, asal kau tahu saja, security bakal menahanmu kalau kau melakukan sabotase."
"Apanya yang sabotase. Hanya sepuluh detik. Kok,"
…
..
H-7
Shikamaru tidak berbohong. Tepat jam tujuh pagi. Seluruh jepang dikejutkan oleh sebuah peretasan informasi. Tiba-tiba video preweding yang menampilkan Hyuuga Hinata dan juga Shikamaru beredar di billboard jalanan.
Saling bergandengan tangan, menerjang badai. Atau berpelukan dengan latar bunga sakura yang bermekaran di Kyoto.
Tertulis dengan tulisan yang bikin sakit asma dadakan.
'Infinity.. 7 days from now. Shikamaru Nara (ARTEMIS) and Hinata Hyuuga (HC) weding day.'
Hanya sepuluh detik, sebelum semua iklan itu menghilang seperti setan.
…
..
Uchiha Sasuke menatap laptopnya geram. Di panthouse nya yang tepat berada di ruangan tertinggi Uchiha Sky Tower, ia menggeram.
"Sialan!" umpatnya.
Matanya memandang nanar ke arah laptopnya yang tadi menanyangkan iklan Hinata dan Shikamaru. Jujur saja ia meradang.
Ada rasa iri yang datang menelusup deperti kabut. Membutakan matanya. Ia menarik napas pelan. Menenangkan amarahnya sendiri.
'Tok.. tok..'
Suara ketukan membuatnya menoleh. Seorang butler yang sudah berumur tampak menggenggam amplop hitam.
"Untuk anda Tuan." Lelaki itu menyerahkan amplop itu dengan hormat.
Sasuke meraihnya dengan tampang malas. Lalu membuka amplop hitam itu dengan enggan.
Hanya sebuah kertas silver, dengan tulisan sulur-sulur ungu yang indah. Hatanya menyipit, sangat sadar terhadap selera kau tahu siapa.
Ia tersenyum sinis, tebakannya akurat. Meremas kertas itu kuat-kuat. Seolah dengan hancurnya kertas undangan itu, ia juga telah menghancurkan semuanya. Padahal belum ada sepuluh detik undangan itu sampai ke tangannya. Tapi pria Uchiha itu sudah melemparkan gumpalan undangan Shikamaru Nara dan Hinata Hyuuga itu ke lantai.
Perasaan marah membakar dadanya.
"Arrrrgggghhh" sasuke melempar guci antic dinasti Ming ke tantai
PYARRRRR..
Hancur berantakan, seperti hatinya sekarang.
Pria raven itu meraih hp yang biasa dikantonginya. "Bereskan segera Nanas itu."
"…"
"Tidak. Aku tidak ingin dia mati."
"…"
"Hanya buat dia tidak bisa datang ke pestanya sendiri. Seorang musuh sejati tidak butuh musuhnya mati. Hanya saja, buat dia tak memiliki harapan.."
*GID*
…
..
Kerja Ino sangat bagus. Terlalu bagus malah. Undangan disebar hampir berbarengan dengan iklan masal-nya. Bahkan Ino dengan gesit menyebarkan gosipnya di seluruh jaringan internet. Bisa dipastikan tiara seorang pun yang meragukan acara pernikahannya ini. Teori paling mudah dari jeratan Temari hanya satu. Mengalihkan bisnisnya sementara ke tangan Sai. Sedang dia mengatur pernikahannya sendiri.
Brilian. Shikamaru tersenyum senang. Bahkan kini ia bisa mempersiapkan diri untuk menjemput sang ayah mertua.
Ia mengambil mantelnya. Lalu meraih tas ranselnya. Dia memang tidak merancanakan untuk berlama-lama di luar negri. Jadi ia hanya membawa dua potong baju. Dan laptop, power bank, beberapa kabel USB, dan juga telepon genggam terbaru.
Ia melirik foto Hinata yang terbingkai apik di meja samping tempat tidurnya. Meraihnya lalu mengecupnya. "Do'akan lancar ya." Gumamnya.
Shika menuju CRV-nya yang terparkir di basement, lalu menuju ke bandara dengan bersiul-siul. Teringat kembali bagaimana bahagianya dia tadi malam.
…
..
Membawa Hinata ke Kyoto bukan perkara mudah. Ada banyak kenangan di sana. Terlalu banyak malah. Hampir tengah malam ia tiba di kompleks kediaman Hyuuga.
"Mengingat sesuatu, eh?"
"Y-ya." Hinata tersenyum. Angin membelai rambutnya menimbulkan efek blowing yang membuat rambut gadis itu melambai-lambai. Hinata tampak menawan.
Shikamaru berdeham, mencoba menyembunyikan rona merah yang menjalari pipinya.
Bunga sakura berguguran, menimbulkan efek romantis yang sakral. Sesuai dengan harapan Shikamaru. Lelaki Nara itu berlutut. Menggenggam sebuah cincin bertahta berlian yang tampak manis.
Hinata merona, terkejut, sekaligus gembira, namun rasa penasaran kenapa Shika tidak memberinya cincin dengan kotaknya. "No ca-se?" gumam Hinata.
Shikamaru tersenyum. "Aku suka keterbukaan, bagiku, segala hal yang sederhana lebih indah. Tidak ada sesuatu yang melebihi keindahanmu. Kotak hanya membatasi. Inginku, kita tanpa batas, terbuka, saling percaya. Hinata.."
Hinata merasa jantungnya berdebar keras.
"Menikahlah denganku.."
Hinata tidak bisa menahan keharuan yang menyeruak dalam hatinya. Memenuhi seluruh udara dan membuatnya menitikan air mata bahagia.
Melihat Hinatanya menangis membuat Shikamaru terhenyak. Ia lalu bangkit untuk memeluk kekasihnya. "Maafkan aku, yang membuatmu menangis.."
Hinata menggeleng dalam dekapan si Tuan Koala. "I-ini ta-ngisan baha-gia." Ujarnya sambil menyeka air matanya sendiri.
Shikamaru mencium kening Hinata. Lalu melepaskan pelukan. Meraih jemari Hinata dengan kembut. Memilih jari manis sebelah kanannya lalu memasukkan cincin itu dengan hati-hati.
Hinata melihatnya dengan perasaan bahagia dan haru.
Cincin itu dihiasi berlian melingkar yang tertanam di dalam. Namun ada tiga berlian yang berbeda warna tepat di tengah. Hijau, merah dan ungu.
Hinata menatap Shikamaru meminta penjelasan. "Trinity, melambangkan masa lalu, masa sekarang, masa depanku, semuanya akan menjadi milikmu. Soal tiga warna itu. Hijau (emerald) melambangkan kelanggengan *evergreen, merah (scarlet), melambangkan cinta yang tidak pernah padam, ungu (almeytis) adalah harapan. Aku ingin kau memiliki segala hal yang terbaik di dunia ini dariku.."
Hinata tidak tahan untuk tidak memeluk belahan jiwanya.
"Terimakasih." Ujarnya tulus.
*GID*
…
..
H-6
Menggunakan maskapai asing dengan berangkat ke Amsterdam mejemput ayah mertua dan juga mempersiapkan pernikahannya memang sedikit membuat kepalanya pening. Apalagi ia harus transit di Jerman untuk menemui Asuma Sarutobi, profesornya yang kini menetap di Muenchen.
Melewati sebelas jam lebih tiga puluh menit membuat punggungnya nyeri. Jujur saja ia kurang menyukai perjalanan jauh. Meski begitu, ini demi kelangsungan masa depannya. Ia melangkah cepat ke arah pria yang membawa sebuah kertas karton bertuliskan namanya. Rupanya kabar tentang ia yang akan segera menjemput sang ayah mertua sudah tercium keluarga Hyuuga.
Mengendarai limousine berwarna hitam, setidaknya Shikamaru merasa agak risih. Mengingat keluarga Hyuuga yang terpandang ia sedikit segan. Seperti bertahun-tahun sebelumnya ketika ia masih jadi anak ingusan. Ia agak segan dengan kehidupan Neji. Yang serba berkecukupan dan terlihat nyaman.
Mobil berhenti di sebuah rumah besar, yang bisa diartikan sebagai mansion. Setelah berhenti untuk menunggu pintu gerbang di buka, mereka melanjutkan lagi perjalanan. Melewati gugusan pepohonan cemara dan kemudian berhenti tepat di pintu utama.
Seorang butler membukakan pintu limousin, mempersilahkan si Nara untuk keluar dari mobil. Shikamaru jujur saja merasa gugup. Ia diantar seseorang butler yang terlihat tua untuk memasuki kamar tamu. Karena jam di Belanda menunjukkan pukul tiga dini hari, pelayan itu mengatakan kalau sebaiknya ia beristirahat terlebih dahulu. Karena tidak mungkin menemui Hiashi-san di pagi buta begini.
Aku mengangguk mengerti. Ia menawariku sesuatu, mungkin segelas kopi. Tapi aku dengan sopan menolak. Aku hanya ingin tidur sekarang.
*GID*
..
H-5
Meski bangun agak terlambat, aku segera mempersiapkan diri untuk bangun. Setelah membersihkan diri aku bergabung dengan ayah Hinata di meja makan untuk sarapan bersama. Yang kubayangkan tentang keluarga Hinata luntur seketika. Hiashi-san orang yang berpandangan terbuka dan juga sangat baik hati. Kami punya pandangan yang sama soal membahagiakan Hinata. Ketulusan dan kesederhanaan.
Beliaupun mengerti posisiku yang mungkin sangat sibuk.
"Jadi apa kau akan pulang bersamaku nanti sore?" beliau bertanya di sela acara kami bermain catur.
"Hmm. Maafkan saya, saya harus mengambil sesuatu yang sedang diteliti ulang oleh seseorang."
"Sesuatu?"
"Ya. Kami sedang menguji sebuah penemuan baru."
"Kedengarannya menarik."
"Terimaksih." Aku menumbangkan kesatrianya.
"Kau pemuda yang teliti, aku suka." Ia menjatuhkan kesatriaku balik.
"Saya harus ke Jerman. Karena itu, mungkin saya akan datang kemudian." Aku menang. "Skak mat!"
Pria itu tertawa, "Senang akhirnya aku dikalahkan orang lain."
Aku tersenyum simpul.
"Kau bisa menginap di sini sebelum penerbanganmu ke Jerman." Pria itu menawarkan
"Tidak, Hyuuga-san. Saya akan naik kereta ekspress saja."
Ia menghargai keputusanku.
…
..
.
H-4
Kami sudah yakin bahwa alat itu bisa diuji coba untuk yang pertama kalinya. Bagiku tak ada yang bisa kumintai tolong untuk menyempurnakan alat itu selain guruku sendiri. Kami berbincang cukup lama, dan aku menginap satu hari untuk menghormatinya. Ia cukup senang mendengarkan kalau aku akan menikah. Dan menyarankan untuk segera pulang. Akan tetapi karena aku kehabisan tiket ke Jepang. Akhirnya aku menyewa sebuah helikopter komersil yang kebetulan milik salah satu petinggi di Jepang. Aku akan pulang besok.
Benar-benar hari yang sibuk.
…
..
.
H-3
Aku tidak tahu apa yang akan kuhadapi. Karena yang kutahu adalah, setelah meminum kopi yang diberikan salah satu orang dalam helikopter itu yang kurasakan hanya mengantuk.
…
..
.
Aku tidak tahu sejak kapan aku berada di sini. Berada di sebuah pulau asing yang mungkin tak berpenghuni. Aku melihat arloji anlog milikku. Aku tak memilikki banyak waktu lagi. Ini sudah H-1. Adan aku merasa takut.
Jika ada yang bilang film Cast Away itu keren dan inspiratif, maka Shikamaru akan memakinya dengan kata kasar berisi empat huruf yang berawalan huruf F. Okey, ini semua sudah tidak lucu lagi. Hal-hal berbau pantai, aroma laut, suara camar dan pasir putih yang lembut bukanlah adegan romantis yang ingin ia pilih. Koreksi besar terhadap imajinasinya beberapa hari lalu, bahwa menyelenggarakan pesta pantai di hari pernikahannya itu keren. Ia harus melingkari hal yang membuat ia jengkel setengah mati seperti sekarang.
Sendirian.
Di tengah pulau asing yang tidak ia tahu tempatnya.
Bahkan sesepuh dunia, Google, gagal beroprasi di sini. Ya, salahkan jaringan sinyal yang menunjukkan tanda X berwarna merah. Dan ia mengutuk segala hal yang berbau primitif.
Haruskah?
Ia terdampar di sini dan melewatkan acara pernikahannya sendiri.
Membayangkan saja sudah ngeri.
.
Shikamaru menatap tas ransel besarnya. Percuma saja semua kecanggihan itu jikalau tidak ada pendukungnya. Ponsel tak berguna apabila tak memiliki signyal. Meskipun kau memiliki pulsa yang dapat kau gunakan seumur hidupmu.
Jaringan adalah komponen penting dalam komunikasi.
Shikamaru mengerang.
...
Don..Don..
Shikamaru tersenyum lega. Dengan cekatan ia memasangkan bajunya ke kayu panjang yang ia temukan kemarin.
Melambai-lambaikan bajunya sendiri untuk menarik perhatian si nelayan. Untunglah ia tak sia-sia. Para nelayan itu membawanya naik ke kapal.
Beberapa saat kemudian, ia baru tahu kalau sedang terdampar di salah satu pulau kecil di Columbia. Butuh waktu beberapa hari bisa sampai bandara internasional. Akan tetapi akhirnya ia bisa mencapai sebuah kota dengan jaringan internet yang tak terlalu buruk.
Ia butuh bantuan segera!
Ia mengirimkan e mail dan SOS ke kantornya. Ia juga menghubungi Sai. Ia perlu sesuatu yang bisa menyulapnya kembali ke Jepang dengan segera!.
*GID*
..
.
Hinata telah menunggu di altar. Tampak gugup dan juga cantik. Senyumnya mengembang. Akan tetapi jantungnya berdegup kencang. Semoga Shikamaru akan segera datang. Semoga Tuan Koala itu tidak ketiduran dan melupakan agenda pernikahannya sendiri.
Di ujung bangku Sasuke menyeringai. Ia hanya butuh sedikit waktu untuk membuat kegaduhan yang lebih spektakuler daripada undangan virus Shikamaru.
Satu menit terlewati..
Dua, tiga, lima, sepuluh..
Pintu ruangan tidak terbuka. Dan Shikamaru tidak datang untuknya.
Mata Hinata memanas, untung saja kerudungnya membuat wajahnya yang kecewa tersamarkan.
Tiba-tiba pintu terbuka, beberapa rombongan anak buah Shikamaru dari ARTEMIS datang. Membawa peralatan yang aneh aneh dan asing. Terlihat Sai tersenyum lebar, dan Kiba yang mengerling padanya dan juga membentuk kode OKE dengan menautkan jari telunjuk dan juga ibu jarinya.
Belum lima menit mereka membagi tugas, lampu padam.
Seperti padamnya harapan Hinata.
Tapi lampu spotlight berwarna keunguan menyorot langsung ke altar,
"Anda bisa memulainya, pak.." Ujar Sai dengan senyum yang membuat matanya menyipit.
"Tapi pengantinnya?" sang pendeta mempertanyakannya in absentia-nya Shikamaru.
Sai terkekeh. Menaruh, sebuah lingkaran seperti hulahoop yang terbuat dari logam di atas layar putih yang kini ditekuk Sembilan puluh derajat.
Sai menekan salah satu sisinya. Membuat benda itu berpendar, menciptakan monokromatik simetris. Membentuk pixel-pixel cahaya yang menampilkan sesosok pria yang Hinata kenal.
Shikamaru Nara telah kembali!
Sai segera menancapkan salah satu kabel dari hulahoop itu ke arah speaker yang di siapkan Kiba. Sempurna!
Ia bahkan terkekeh, bagaimana mungkin, alat yang harusnya masih dalam tahap pengujian itu benar-benar menguji kehidupan Shikamaru. Shikamaru Nara, bergantung pada test drive kali ini!
Shika tampak berdehem,
"Maafkan aku karena datang terlambat. Aku berada di sebuah pulau asing yang bahkan tak mungkin kau mengerti.."
Ada kehengingan dan juga keharuan di sana,
"Aku terdampar tanpamu di sisiku. Aku selalu berharap ini akan menjadi hadiah kecil. Aku berjanji akan segera kembali kepadamu. Secepat yang aku bisa."
Hologram Shikamaru agak kurang konsisten, gerakan bibirnya lebih lambat dari suara audionya. Tapi untuk percobaan pertama kalinya, boleh dibilang, ini adalah lompatan besar sejarah umat manusia. Komunikasi hologram pertama di dunia!
"Bisa Anda mulai pak pendeta? Saya tak memiliki banyak waktu."
Hening,
"Ah—" si pendeta tergagap, terkesima terhadap kecanggihan yang membuat kinerja otaknya menurun. "Ya- ya. Mari kita mulai."
"Ehem," Si pendeta berdehem. "Apakah Anda, Nara Shikamaru, menerima Hinata sebagai istri yang sah, dan menerimanya dalam susah maupun senang, dalam sehat maupun sakit. Dan membahagiakannya seumur hidup Anda?"
Hinata menahan napasnya hanya karena gugp dan bahagia yang tiba-tiba menyerang dirinya.
"Ya saya bersedia." Jawaban lugas dan mantap dari Shikamaru membuat beban di hatinya berkurang.
"Apakah Anda Hyuuga Hinata, menerima Shikamaru Nara sebagai suami yang sah, dan menerimanya dalam susah maupun senang, dalam sehat maupun sakit. Dan membahagiakannya seumur hidup Anda?"
"Ya. Saya bersedia." Hinata menjawab dengan tanpa keraguan.
Prok.. prok.. prokk..
Suara tepuk tangan menggema dalam ruangan itu. Ada setitik air mata jatuh. Rasa haru dan kesedihan. Haru karena ia bisa menikahi tuan Koala. Sedih, sampai saat terakhirpun ia belum bisa bertemu dengan lelaki itu.
…
..
Seangkan di sudut lain, lelaki berambut hitam itu duduk dengan tegak. Meski wajahnya datar, namun pada akhirnyapun ia harus menyerah sekali lagi. Dipaksa menyerah lebih tepatnya. Ia bisa saja melenyapkan apapun. Tapi ternyata tidak dengan Nara yang itu.
"Kau menghapus Nara Shikamaru dengan tombol yang salah."
Sasuke Uchiha menoleh. Di sampingnya, wanita berambut pirang itu memandang altar dengan mata yang menerawang.
"Tch! Untuk wanita sekelas dirimu, tahu apa soal beginian."
Wanita bernama Temari itu terkekeh pelan, "Ctrl, Alt, Delete. Semuanya hanya membuat dia lebih kuat daripada sebelumnya. Bahkan jika kau menekan tombol melarikan diripun, ia hanya akan bertambah kuat."
"Esc (escape=melarikan diri)" Sasuke mau tak mau juga ikut terkekeh. "Dia lawan yang tangguh. Dia seolah menggaransi hidupnya sendiri di masa depan, meski tanpa asset sebesar aku."
"Hidupnya itu pertaruhan, Sasuke. Ketika kau tak bisa memanfaatkan peluangmu, maka kau akan kehilangan hidupmu. Aku pernah menjadi miliknya, dan ia menjadi milikku. Tapi, itu dulu. Ketika aku memainkan peluangku. Sama seperti dirimu, kau yang memiki peluang bersamanya."
"Hinata.." mulut Sasuke bergumam.
"Di dalam istilah computer tidak ada yang benar-benar menghilang kecuali komputernya hang. Bahkan untuk undo. Adalah penggunanya yang menentukan, apakah sistem yang bekerja akan menghapusnya atau tidak. Meski telah di recycle bin, jika kau menginginkannya, kau bisa membuka kembali hal yang terbuang itu."
"Kau begitu mirip dengan Shikamaru ya. Kau seolah ingin berpesan jika akulah yang bisa memutuskan Hinata terhapus atau tidak dalam kehidupanku."
Temari tertawa, "Kalau tidak bisa move on, selamanya kau hanya bisa menjadi perusak hubungan orang. Bug. Hama. Ataupun data yang memberatkan kinerja otakmu. Sebuah sistem yang overload data, akan mengakibatkan prosesor hang. Hal sekecil itu kau tentu tahu kan."
Sasuke tersenyum sendu. Menatap Hinata yang berada di altar sendirian. Namun begitu, kakinya tak bisa melangkah ke sana. Wanita itu telah resmi menjadi Hinata Nara. Berarti dia adalah bagian dari dunia yang lain. Lelaki bersurai raven itu menarik napas lelah. Lalu bangkit dari kursinya.
"Mau kemana?" Temari menatap mata teman one stand-nya beberapa tahun yang lalu.
Sasuke tersenyum tulus, "Owari da,"
"Apanya yang diakhiri, ha?"
"Kesempatanku. Peluangku. Aku hanya ingin mengucapkan selamat. Dan juga salam perpisahan untuk diriku sendiri."
Temari tersenyum, "Mau kutemani?"
Sasuke menyeringai. "Tidak."
"Baiklah.." Temari menyerah.
*GID*
..
.
Hinata menatap pintu itu dengan gusar. Sudah dua hari ARTEMIS melakukan pencarian di mana suaminya berada. Rasa takut, rasa cemas, dan khawatir. Ia belum pernah di posisi ini sebelumnya. Pengalamannya benar-benar payah. Ia tak pernah begini jika ia berada bersama Sasuke. Orang itu cenderung enggan melakukan hal yang menantang bahaya. Segalanya sudah aman jika berada di samping Sasuke. Sasuke selalu menyuruh orang lain jika ia enggan menanganinya sendiri.
Tapi semuanya berbeda. Semenjak ia bersama Shikamaru. Seolah naik roler coaster. Kadang berbelok tajam, kadang lurus, kadang menukik ke bawah. Ia pernah merasakan cemburu, pernah merasakan sakit hati, pernah merasa bangga karena dipilih oleh Shimarau. Segalanya terasa.. berwarna. Bukan hanya keindahan. Namun ia diajarkan bahwa terkadang dalam hidup, kita harus menghadapi semua masalah yang ada.
Hinata menatap lagi pintu apartemen Shikamaru. Berharap suaminya pulang dan gembira menatap ia di sini. Menarik napas lagi, ia tak kuasa menahan air mata yang meluncur turun.
"Hiks.." isakannya terdengar. Hinata menutup mulutnya dengan sebelah tangannya. Menahan segala rasa rindu. Ia rindu pada tuan Koala yang memagutnya mesra. Yang memeluknya. Yang berbicara apa adanya. Dan berhenti memperlakukan dirinya seperti putri raja yang harus dilindungi. Shikamaru, melindungi Hinata dengan mendukung segala hal yang diperbuatnya. Ia membuat Hinata merasa dihargai sebagai perempuan.
Tiitt..
Hinata merasa jantungnya berdebar.
Suara pengaman pintu membuat Hinata tersentak.
Apakah ini ilusi?
Pintu terbuka.
Mata Hinata melebar.
Orang itu datang. Dengan rambutnya yang kusut, matanya yang memiliki kantung hitam. Dan Shikamaru tampak lelah. Namun begitu wajahnya menyiratkan kelegaan. Menatap HInata dengan kerinduan yang sama.
"Aku pulang.."
Dan Hinata tak bisa menahan dirinya untuk menerjang Shikamaru.
…
..
.
Hinata memeluk tubuh yang dirindukannya. Masih dengan tubuh polos masing-masing yang tertutupi oleh selimut berwarna coklat tua.
"K-kau mem-buatku kha-watir."
Shikamaru terkekeh. "Maaf." Ujarnya sambil mencium puncak kepala istrinya yang imut.
"D-dan a-ku ti-dak su-ka kalau anata mu-lai pu-nya jambang dan k-kumis."
"Tsk. Kau tahu sendiri, aku baru saja pulang dan kau menggodaku. Mana sempat aku merapikan diri."
Blush!
Hinata langsung mencubit dada Shikamaru yang telanjang.
"Aduh!"
"A-aku ti-tidak meng-godamu." Hinata menyangkal.
Shikamaru mengelus pipi istrinya. "Aku tahu." Ucapnya lalu mendekatkan wajahnya dengan wajah istrinya tersanyang. "Aku menyesal karena pernikahan kita jadi seperti itu. tapi, aku janji, kan menghadiahkan sebuah pernikahan sungguhan yang bisa membuatmu bahagia. Hidung Shikamaru menempel dengan hidung Hinata. Mereka berbagi udara yang sama, dengan detak jatung yang berdenyut untuk masa depan mereka.
Ketika bibir mereka bersentuhan, Hinata tahu, bahwa ia telah dilumpuhkan. Otaknya mendadak tumpul ketika pagutan itu kian menuntut. Mengabsen setiap celah dan geligi mulutnya. Menginvasi, sekaligus mengenal.
Mereka berbagi keintiman yang indah. Ketika jemari Shikamaru menangkup gundukan kenyal dadanya. Memainkan ujung payudaranya. Membuat Hinata melenguh. Dan Shikamaru melancarkan veromonnya. Shikamaru menandai segala hal yang telah jadi miliknya. Kali ini Neji tidak berhak membantingnya ke lantai.
Di sela ciumannya ia sempat terkekeh. Membuat Hinata tersentak, membuat momen romantisnya terpecah.
"A-ada apa?" Hinata menatap suaminya khawatir.
Shikamaru menggeleng. Lalu merapatkan pelukannya pada wanita yang kini menyandang nyonya Nara. "Hanya berpikir. Dulu, aku begitu dungu karena jatuh cinta padamu yang begitu bodoh."
"Na-nani?" sura Hinata tercekat. Kaget tentu saja.
"Shhh, jangan berpikir macam-macam."
Hinata kini tersenyum di pelukan Shikamaru. "Aku begitu bodoh karena tidak meyadari bahwa akupun menyimpan perasaan yang sama denganmu.." nada suara Hinata mengalun merdu. Ia bahkan sudah tidak tergagap lagi.
Keduanya lalu tersenyum tulus.
"Aku bahkan seperti wanita yang selalu ingin tahu apa yang sedang kau lakukan di luar sana tanpa aku.." lanjut wanita beriris almetys itu malu-malu sambil menenggelamkan mukanya yang memerah di dada hangat milik Shikamaru.
Shikamaru menepuk kepala Hinata, lalu mencium puncak kepalanya.
"Owari da.."
"Hmm" Hinata menggumam.
"Segala ujian kita, semoga berakhir sampai di sini.." ujar Shikamaru lirih. "Aku mencintaimu."
"A-apa?"
Kening Shikamaru berkerut.
"Bisakah kau ulangi kalimatmu tadi?"
"Yang mana?"
"Yang barusan."
"Aku lupa." Shikamaru pura-pura memejamkan mata.
"Anata~" Hinata merajuk. Menggambar lingkaran-lingkaran kecil di dada Shikamaru yang membuat lelaki Nara itu tiba-tiba menjadi bergelora kembali.
"Tsk. Mendokusei."
"A-ap-mmpppphhhh" belum sempat nyonya Nara itu bertanya lagi. Si tuan Nara sudah melumat bibirnya yang ranum.
Membuat Hinata sekali lagi di lumpuhkan. Segala hasrat yang mereka tahan, mereka simpan kini meledak menjadi sebuah gelora yang mendamba untuk dipuaskan. Ketika mata bertemu mata dan segala detakan menjadi berirama.
Biarkan cinta ini menjadi sesuatu yang indah meski tidak membuat kalian menggigit bantal.
…
..
.
"Inilah abad 22, ketika kecanggihan teknologi mengalahkan segalanya. Bergabunglah bersama ARTTEMIS, kami mengabulkan semua impian Anda."
Sebuah iklan billboard dengan layar LCD besar menampilkan sebuah piring terbang yang menawarkan segala hal kecanggihan dunia. Ada seorang wanita ayu yang menjadi brand iconnya. Dulu, wanita itu adalah brand icon dari Hyuuga Costruction. Kini wanita berambut indigo itu bahkan memakai gaun berwarna silver glown. Dan make up nya pun ditata sedemikan rupa untuk menimbulkan kecantikan misterius yang futuristik.
Dan bagaimana semua orang di dunia ini tidak melirik iklan ini, jika kini ARTEMIS kini menjadi leader dalam pengembangan teknologi. Bahkan kini Shikamaru harus melenyeleksi perusahaan asing ataupun domestik yang menjadi investor hendak menjalin kerja sama. Membuat pria Nara itu kerap pulang malam.
"Tandaima.."
"Okaeri—" Hinata menyahut dari dalam.
Kini genap usia pernikahannya yang ke delapan. Anak kembarnya Hiroki dan Mayumi yang berumur tujuh tahun sedang duduk tenang di meja makan. Satu dengan tabletnya yang satu dengan buku logaritmanya.
"Tou-san.." Mayu meletakkan tabletnya lalu tersenyum sekilas. Ia merogoh sesuatu dari sakunya.
Shika mengendurkan dasinya, menatap curiga pada amplop putih dengan kop surat sekolah Mayumi. Namun pria Nara itu meyerah dengan kelelahannya dan duduk manis di meja makan. Namun begitu tangannya dengan cekatan merobek amplop itu dan segera membacanya. "Kau—" suara Shika tercekat.
Mayu cuma nyengir, "Hebat kan, meski absensiku nyaris nol. Nyatanya aku hampir mendapatkan nilai sempurna. Hanya aku satu-satunya anak berusia tujuh tahun yang sekarang kelas enam."
"Tapi onee-chan hanya orang yang tidak bisa melihat masa depan."
"Ihhh—" Mayu cemberut, "Hanya Hiroki yang mau bersusah payah. Kenapa kau tidak menggunakan waktumu untuk bermain saja dan terlihat normal, he? Apa kau tidak bosan ditatap seperti alien oleh teman-temanmu."
"Tsk, mereka hanya iri karena aku sudah masuk universitas di usiaku yang harusnya masuk kelas dua sekolah dasar. Onee-chan juga begitu kan. Kalo saja one-chan tidak bermalas-malasan, kita bisa menjadi kembar jenius."
"Tsk. Kalian ini merepotkan saja. Apakah kau juga ingin memberikan semacam surat panggilan kepadaku?" Shika bosan melihat anaknya yang suka pamer kepadanya.
"Tidak." Hiroki menjawab mantap, lalu menutup buku logaritmanya. "Aku akan meminta ibu untuk datang. Aku butuh seseorang yang tepat waktu."
"Tsk. Mendokusei, jadi kau bilang aku ini tidak tepat waktu begitu?" suara Shikamaru dingin.
"Seorang Hyuuga selalu bisa diandalkan."
"Kau—" Nara Shikamaru tercekat, "Kau itu Nara tahu!"
"Gen Hyuuga membuatku berpikir positif dan terarah." Gaya Hiroki nyaris sama dengan kakak iparnya Neji Hyuuga. Sialan, mungkin anaknya telah dicuci otak dengan Neji.
"Tsk, mendokusei. Terserahmulah.." jawab Shikamaru menyerah.
Hinata datang dengan membawa sepanci kari panas. Wanita Nara itu tersenyum. Lalu kembali lagi ke dapur dengan membawa tempura, karage, dan juga beberapa steak yang terlihat menggiurkan. Si anak lelaki berinisiatif membantu ibunya. Berbeda sengan anak perempuan yang lebih suka bermalasan seperti Shikamaru.
Namun begitu, diam-diam hacker nomor satu itu bersyukur, kedua anaknya meski merepotkan dan kadang aneh telah membuat umurnya yang tiga puluh sembilan tahun terlihat sempurna. Shikamaru saling bertatapan dengan Hinata. Wanita yang berumur lima tahun di bawahnya itu seolah mengerti yang dialami Shikamaru.
"Nah sebelum makan, ayo berdoa dulu.."
_OWARI_
…
..
.
*Lost fragment*
"Bagus Sai sekarang siapkan layar putih yang panjang. Waktu kita tak banyak. Kalau bisa flat, dan bisa ditekuk sembilan puluh derajat."
"Kau—" suara Sai tercekat.
"Menguji penemuan kita."
"Ini gila!" Suara Sai meninggi, lalu ia tampak tersadar bahwa kini ia tak sedang sendirian. Ia tengah berada di ruangan konferensi. "Tapi bagaimana jika ini tak bisa berhasil? Kau tahu, pernikahanmu akan jadi taruhannya, bakka!"
"Kita tidak punya banyak waktu!" tegas Shikamaru. "Aku tidak bisa kembali dalam dua hari. Aku berada di ujung dunia, di Columbia, jauh dari bandara internasional. Dan bahkan acara pernikahanku kurang dari dua belas jam. Pikir saja siapa yang paling gugup sekarang!"
"Yare-yare. Katakan padaku bagaimana kita bisa memulainya."
*END*
..
.
a/n:
holla~
akhirnya selesai juga keseluruhan cerita Get It Down ini. Kepada semua pihak yang membantu, baik membantu dengan do'a ataupun dukungan semangat. Saya ucapkan terimakasih.
Genap 1 tahun saya hidup di dunia ffn, saya berharap kalian bisa menikmati semua karya saya, seperti saya menikmati menulis cerita itu.
Maaf tidak bisa membalas review satu persatu. Rasanya sedih sekaligus bahagia begitu menyelesaikan chap ini. Saya merasa mereka cocok. Meski bukan pairing favorit saya sih.
Baiklah ayo kita sapa para review'er.
Terimakasih untuk:
Helga rara kadita, Lawliet Vert, TitaniaGirl, celty fuyumi, Jasmine DaisynoYuki, livylaval, Fuyu, uchiha feltson, Hinako Katsura, tomohisa, Renita Nee-Chan, Hinata Hikari, uchihapachira, kirei-neko, Me Yuki Hina, Minji-blackjack, anita. Indah. 777, Stupid Panda23, Aqua Titania, Eigar Alinafiah, isna chan.
Kepada kalian chap terakhir ini didedikasikan. ^^
Semua reader yang telah meninggalkan jejak dari chap satu sampai chap terakhir. Dan juga seluruh pembaca budiman yang belum sempat meninggalkan jejak.
Terimakasih.
Hanya itu yang bisa kusampaikan.
Salam sayang,
Poochan. ^^V
