Summary: Kondisi tidak mungkin kau salahkan terus menerus. Dan—Hey, ayolah. Sebuah histori persahabatan takkan seru apabila tak ada konflik kan?
Disclaimer: Kuroko no Basuke – Fujimaka Tadatoshi
Warnings: Semi-AU/OOC maybe?
Gadis bersurai pink layaknya bunga Sakura itu terbangun sesaat setelah mendengar suara pintu kamarnya yang diketuk pelan. Ia membuka matanya perlahan, berusaha untuk bangun namun badannya serasa lemas sekali—tidak bertenaga. Momoi hanya mengadahkan kepalanya ke atas untuk melihatjam besar di kamarnya dan mendapati bahwa sekarang sudah pukul empat sore.
Ia mengambil nafas sejenak—menyadari bahwa dirinya sudah tidur dengan waktu yang cukup lama. Gadis itu ingin berdiri—namun ditahannya lagi lantaran karena alasan entah malas atau apalah—dia sendiri juga tidak mengerti.
"Momoi.. chan…?"
Gadis itu sontak membuka matanya lebar saat mendengar ketukan pintu yang diiringi oleh panggilan itu. Ia hampir lupa bahwa ada yang mengetuk pintunya dari luar. Momoi segera bangun meskipun badannya terasa berat—namun dipaksakannya. Ia lalu membuka pintu dan menemukan saudaranya kini tengah menatapnya.
"Eh.. maaf aku ketiduran.. Suzuki-onee-chan …" Sahut Momoi sambil tersenyum memaksa.
Saudaranya yang mempunyai iris sama seperti Momoi memandangnya sebentar—mengetahui ada yang aneh dengan gadis itu—namun dilihat dari kondisi anak itu, ia yakin Momoi takkan mau menceritakannya sekarang.
Ia menghela nafas, "Kau belum makan siang, Momoi-chan."
"Um.. aku tidak lapar kok, onee-chan..."
"Jangan begitu." Ia berkata tegas, "Dari tadi pagi kau belum makan, tahu? Kau sibuk belajar masak denganku untuk membuat camilan untuk dua temanmu itu kan?"
Momoi tersenyum tipis, "Yang penting aku sudah makan kan? meskipun hanya camilan..."
Suzuki memukul pelan kepala gadis itu.
"Kau. Harus. Makan."
"Mou~! Iya, iya! Aku makan!" Momoi memegangi kepalanya—lalu berjalan selangkah membelakangi Suzuki, "Tapi aku mau ke kamar mandi dulu ya…"
"Ah, i—"
Belum sempat Suzuki menyelesaikan perkataannya, Momoi sudah melesat pergi ke kamar mandi.
Ia mengerutkan kedua alisnya.
'Ada apa sih dengan gadis itu?'
clairvoyance
chapter 2: resillient prayers
.
.
"… That day the seasons froze, the days piled up like snow
I still remember it you know...?"
[—Reboot, Hatsune Miku/Luka Megurine/Samune Zimi —]
.
.
.
Ia menatap langit malam—dan matanya tidak menemukan banyak bintang—hanya beberapa saja. Biasanya banyak bertebaran—namun kali ini tidak.
Momoi menggigit bibir, bingung dengan apa yang harus ia lakukan untuk meminta maaf pada kedua sahabatnya. Ia tahu, dialah yang menjadi penyebab ataupun awal utama dari pertengkaran ini. Ia sendiri heran kenapa ia bisa lepas kendali seperti itu.
Dirinya mengalihkan pandangan ke arah ponselnya yang tergeletak di atas kasurnya. Gadis itu menatapnya lama—bingung untuk yang kedua kalinya. Pokoknya harus segera meminta maaf karena rasanya tidak enak bertengkar lama-lama. Ia lalu memutuskan untuk menelpon Aomine dan segera meminta maaf. Setelah itu baru ia menelfon Akashi.
Dengan perlahan, ia mengambil ponselnya dan tanpa pikir panjang—mencari nomor rumah Aomine. Ia tidak menelfon ke ponsel Aomine karena ia masih ingat bahwa ponsel lelaki itu masih rusak. Ia terdiam sebentar—tangannya serasa bergetar ketika ingin menekan tombol Call di ponselnya. Namun karena tidak bisa menahan perasaannya terlalu lama—akhirnya ia menekan tombol itu dan menempatkan ponselnya tepat di samping telinganya.
Ia menutup matanya—menggigit bibirnya pelan dan merasa takut ketika telfon itu diangkat—ia bingung ia harus berharap Aomine mengangkat telfonnya atau tidak. Ia takut—tapi di sisi lain ia tidak mau terus seperti ini.
Suara penunggu itu benar-benar menyesakkan hatinya—rasanya ia ingin segera mematahkan ponselnya dan berteriak keras dan—
"Halo..?"
—Ah.. Momoi bersyukur dalam hatinya karena yang mengangkat adalah adiknya Aomine.
"Ah.. i-ini.. Kurumi-chan ya…?"
Yang menjawab telfonnya kini bernada riang, "Momoi-onee-chaaan~! Kupikir siapa, ternyata Momoi-onee-chan!"
"Hehehe, iya.. ini aku."
Kurumi lalu memulai pembicaraan, "Ada apa Onee-chan?"
"Uh.. apa Dai-chan ada di rumah?" Tanyanya gugup.
"Si Ahomine itu sedang tidak ada dirumah.. tadi sudah balik sih, tapi ia pergi lagi entah kemana.. Memangnya kenapa? Onee-chan mau berkencan sama nii-san…?"
Momoi tertawa hambar, "Hahah, tidak kok.. ya sudah kalau dia tidak ada.. nanti aku telfon lagi ya…"
"Eh tapi Onee—"
TUUT.
Momoi segera menutup telfonnya. Ia tahu hal itu tidak sopan tapi—ia harus melakukannya untuk saat ini. Tapi pasti nanti ia akan minta maaf pada adik sahabatnya itu.
Kini matanya kembali beralih ke ponselnya—mencari nomor Akashi.
Ah, Akashi.
Sejujurnya, ia jarang sekali menelpon Akashi—karena ia tidak tahu apa yang harus dibicarakan. Ia mungkin pernah menelpon, tapi hanya untuk hal-hal penting saja.
Tapi hal ini juga termasuk penting kan?
Dengan menghela nafas berat, ia segera menekan tombol Call dan menempatkan kembali posisi ponselnya di dekat telinganya. Entah kenapa kali ini jantungnya lebih berdebar keras—mungkin karena ia sedikit takut dengan Akashi.
"Akashi-kun.. jawab.. please..."
Masih nada tunggu yang melantun di telinganya.
"Akashi-kun…"
"—Halo?"
Jantung Momoi seakan berhenti berdetak ketika mendengar suara bariton tersebut yang membuatnya hampir saja melompat dari posisinya sekarang.
"A-Akashi-kun...?" Nadanya serasa gugup—bahkan ia harus menelan ludah untuk menahan tangisnya.
Yang dipanggil tidak menjawab—bahkan benar-benar tidak ada suara apapun yang membalas perkataan Momoi. Gadis itu mencengkram erat sweater yang dipakainya sembari memanggilnya lagi.
"A-Akashi-kun? Kau ada disitu...?"
"Hm."
"A-Ah..." Momoi serasa canggung dalam berbicara dengan lelaki itu—padahal biasanya tidak seperti ini. Ia memaksakan kalimatnya keluar dari tenggorokannya karena serasa ada yang menghalaunya untuk ditumpahkan.
Momoi menggigit bibirnya untuk yang ketiga kalinya, "A-Akashi-kun.. a-aku tidak menganggumu kan...?"
"Tidak."
Momoi sedikit tersenyum dalam hatinya—Akashi memang bukan orang yang banyak berbicara. Khas dirinya sekali.
"A-Aku hanya.. hanya mau.. minta maaf... " Suaranya terdengar sedikit serak, "Soal tadi siang.. ma-maafkan aku.. aku.. aku sebenarnya hanya—"
Momoi berhenti sebentar sambil mengutuk dirinya sendiri kenapa ia tak bisa menahan tangisnya. Pipinya serasa memanas ketika ia berkata seperti itu.
"—Aku hanya.. tidak sengaja mengatakannya.. " Ia mengambil nafas sebentar, "Aku benar-benar tidak bermaksud untuk mengatakan hal seperti itu… apalagi untuk membuat kita bertengkar seperti ini.. untuk semuanya.. aku.. minta.. maaf..kh.. hiks"
Suaranya tersendat-sendat—dan ia membayangkan bagaimana Akashi membalas perkataannya.
"Satsuki."
Ia tersentak dan segera membalasnya meskipun ia tahu bahwa Akashi mendengarnya menangis, "Y-Ya Akashi-kun…?"
"Jangan menangis."
Ia hampir saja ingin berteriak ketika ingin membalasnya. Bagaimana ia tidak bisa menangis ketika ingin menumpahkan segala perasaannya?!
"M-Maafkan aku.. hiks.. a-aku.. memang.. cengeng ya..? kh.. hiks..." Ia semakin menangis keras.
"Satsuki.. jangan menangis."
"Maafkan.. a.. hiks.. aku.. aku.. t-tidak bisa.. hiks…"
"Jangan menangis." Terdengar jeda sebentar, "Karena kalau kau menangis—"
Momoi menunggu kelanjutan perkataan Akashi.
"—Aku jadi harus memaafkanmu."
Mata Momoi membulat.
"A-Akashi-kun.. hiks.. A-Akashi-kun.." Ia memanggilnya berkali-kali, "M-Ma-maafkan a-aku.. kh.. hiks.. aa.."
"Berhenti menangis, Satsuki." Akashi menyela, "Perintahku absolut. Berhenti. Menangis. Sekarang."
"T-Tapi A-Akashi.. ku..n.. kh.."
"Ssh. Cukup." Terdengar sedikit nada lembut dari bibir menit itu juga Momoi dan Akashi mendengar ada yang memanggil lelaki itu—sepertinya Ayah Akashi.
"Nanti kutelfon lagi. Jaa."
TUUT.
Momoi yang masih sesunggukkan kini melepas pegangannya dengan ponselnya. Dalam hatinya ia merasa bingung harus merasa sedih atau bahagia—ia tidak tahu bahwa Akashi memaafkannya atau tidak—Ah, Akashi memang sulit dimengerti.
Ia lalu menaruh ponselnya di atas meja belajarnya—melemparnya begitu saja. Dihempaskan tubuhnya ke kasurnya—membiarkan rambutnya teracak di atas bantal. Ia menghela nafas berat—lalu meraih bantal untuk dipeluknya.
Ia memikirkan—mencerna kembali perkataan Akashi.
'Satsuki, jangan menangis.'
'Karena kalau kau menangis—'
'—aku jadi harus memaafkanmu.'
Momoi menggigit bibirnya—entah yang keberapa kalinya.
Itu berarti Akashi memang marah padanya kan?
Tapi yang sekarang ia tidak ketahui—bahwa apakah Akashi sudah memaafkannya atau tidak.
Ia semakin mencengkram bantal yang kini ia peluk—menangis sejadi-jadinya.
.
.
.
Momoi terbangun dengan mata sembab untuk kedua kalinya.
Dirinya membuang nafas berat dan tubuhnya serasa malas untuk bangun karena mengingat bahwa ia masih punya masalah dengan sahabatnya.
Dijatuhkan kakinya dari tempat tidur ke lantai dingin di bawahnya. Dengan malas ia lalu menuju kamar mandi dan mencuci mukanya seakan bisa untuk menghapus berbagai masalah yang berlalu lalang di kepalanya.
.
.
Ketika pukul sembilan tepat, matanya mengerjap sebentar dan baru ingat semalam Akashi berjanji untuk menelfonnya—lantas ia meraih ponselnya dan mengeceknya.
Hatinya mencelos.
Tidak ada pemberitahuan apapun.
Apa Akashi belum bangun?
Tapi rasanya tidak mungkin…
Atau mungkin ponselnya mati, lupa atau—
Dia memang tak berniat menelponnya?
Momoi menggelengkan kepalanya sambil menopang dagunya di atas punggung tangannya dan berusaha berpikir lagi bagaimana caranya agar mereka bisa bersama lagi. Mula-mula, ia harus menelusuri terlebih dahulu tentang akar permasalahannya.
Ia mencoba me-reka ulang kejadian kemarin…
Awalnya karena Momoi meributkan tentang impiannya sendiri—ah, ia sempat lupa tentang ibunya. Tapi ia kesampingkan dulu permasalahan itu, dan mulai berusaha lagi…
Aomine Daiki yang ingin menjadi dokter, namun diremehkan oleh Momoi dan Akashi…
Akashi yang takdirnya hanya bisa mengikuti keinginan ayahnya… lalu dirinya yang diejek Aomine karena tak tahu apa rasanya berusaha…
Singkatnya—ia dan Akashi mungkin punya kemiripan. Sama-sama mempunyai masalah dengan orangtua.
Jadi satu-satunya jalan adalah—saling membantu agar mereka punya keberanian untuk mengatakan keinginan mereka yang sesungguhnya kepada orangtua mereka—dengan berbicara baik-baik.
Lalu Aomine—ah, ia bisa meminta petunjuk ayahnya dan memberitahu apa saja yang harus ia kuasai.
Hey, gampang kan?
Masalahnya adalah—apa mereka semudah itu untuk diajak bekerja sama? Mereka kan laki-laki…
Jadi bagaimana—?
"—Oh iya!" Momoi memekik pelan ketika sebuah ide terlintas di otaknya. Dia tak berbasa-basi maupun merenung ulang tentang idenya kali ini. Matanya beralih ke ponsel yang sempat dicuekinya dan mencari kontak seseorang—dua orang…?
"Moshi-moshi…"
.
.
.
"Sumpah, apa ada yang salah dengan kepalamu Kise?"
Suara sarkastik dan keheranan itu muncul dari mulut seorang Aomine Daiki yang merasa bingung melihat Kise yang mengajaknya untuk pergi ke sebuah café dekat sekolah mereka. Sungguh—pada awalnya Aomine berniat main ero-game sepuasnya dirumah hari ini. Tapi saat baru saja ia memegang stik Xbox-nya, ponsel sialan itu berdering dan dengan santai serta ngebut, Kise mencerocos tanpa henti bahwa ia ingin mengajak Aomine untuk makan siang di café, alasannya sih karena ada pertemuan anggota Kiseki no Sedai.
Dan hal itu justru membuatnya tambah menggeram—disana pasti ada si setan merah sok perfect itu. Hah, siapa lagi? Akashi Seijuuro—orang pertama yang Aomine paling ingin hindari beberapa minggu ini. Semenjak kejadian kemarin, ia tak mau berhubungan dengan laki-laki itu dan Momoi. Entah sampai kapan.
Yang jelas, ia masih kesal.
Ditambah lagi—Kise yang daritadi hanya mencuekinya.
"Kise, kau masih normal kan—?"
Pertanyaan itu sempat membuat Kise berhenti melangkah dan menoleh ke belakang. Dahinya terlihat mengerut, "Tentu saja-ssu. Aneh sekali pertanyaanmu, Aomine-cchi."
"Oh… baguslah. Kukira kau sudah mulai menyukai sesama jenis karena mengajakku keluar secara tiba-tiba."
Kise mencibir, "Kau membuatnya terkesan seperti aku mengajakmu kencan."
"Sumpah, mau kugetok kepalamu itu Kise?"
"Oh ayolah. Aku ini masih pria yang sangat normal. Aku masih suka perempuan, fan girls-ku banyak yang menunggu diluar sana-ssu." Jawabnya enteng.
Aomine mengangkat sudut bibirnya mengejek, "Kau lebih terdengar seperti 'Aku masih main perempuan'."
"Mou, Aomine-cchi! Bisa hentikan topik yang itu-ssu?!"
"Oke, oke." Aomine baru saja mau mengganti topik namun terhenti saat melihat ia dan Kise sudah sampai di tempat yang ingin mereka kunjungi.
.
.
.
"Untuk apa aku harus kesana, Shintarou?"
"Kita semua harus membicarakan sesuatu." Sebelum Akashi Seijuuro membuka mulutnya untuk bertanya lagi, Midorima yang tengah berdiri di depan rumah sahabatnya itu segera melanjutkan, "Pertandingan kita—yah, semua anggota Kiseki no Sedai."
Kedua alis milik sang Emperor itu naik saling menyatu, diikuti dengan sebuah dengusan pelan dari bibirnya, "Bukankah aku yang seharusnya menentukannya? Lagipula tidak ada pertandingan untuk beberapa minggu ini."
Midorima mengangkat kacamatanya hingga bisa berada di posisi yang nyaman, "Sebenarnya dua hari yang lalu ada yang menantang kita… saat kau tidak ada."
Matanya mendelik tajam, "Jadi kalian mengadakan rapat tanpa persetujuanku?"
"Tidak.. kami tidak sedang rapat saat itu. Kami sedang—makan takoyaki bersama…" Sungguh alasan klise dari mulutmu itu Midorima! Kau ini pintar hey, cari alasan lain dong!
Alasan itu malah semakin membuat Akashi curiga, "Setahuku kau jarang makan takoyaki."
Ia menelan ludah, "Uhm, yeah… Oha-Asa bilang bahwa dua hari kemarin Lucky Item-ku itu takoyaki…"
Oke, Akashi mengaku kalah. Ia tak pernah menonton acara macam ramalan seperti itu sehingga ia tidak tahu Lucky Item seorang Midorima itu apa. Lagipula ia tidak tertarik.
"Baiklah, tapi aku tak mau lama-lama disana."
—karena ada Daiki. Sahutnya menambahkan dalam hati.
.
.
.
"Kau."
Satu kata terucap bersamaan saat sosok bersurai merah dan biru gelap bertemu secara tak sengaja di meja yang sudah diduduki oleh Kise dan Midorima. Keduanya lalu berdiri dan berjalan bersamaan.
"Uh, maaf. Kami mau ke toilet sebentar."
Dan Akashi berani bertaruh—ia akan melipatgandakan latihan kedua bocah itu karena membuat situasi sialan seperti ini bersama Daiki. Ia tahu dari awal dengan sikap Midorima yang sedikit aneh mengajaknya ke sebuah pertemuan tak jelas di sebuah café dan tiba-tiba saja mereka berdua meninggalkannya dengan lelaki berkulit tan ini.
"Cih!" Aomine tak mau mengajak obrol Akashi dan segera duduk di sofa yang terlihat empuk dan lagipula hanya meja itu satu-satunya yang tersisa. Yang lainnya sudah dipenuhi oleh para pelanggan lainnya—sepertinya café ini jadi laku dan ramai belakangan ini.
Akashi tidak berbicara dan duduk di sofa depan. Dia juga ogah berbicara dengan mantan sahabatnya ini. Semenjak kejadian kemarin, tentunya.
"Selamat datang di Café de Aletta!" Keduanya tidak menoleh ke arah suara dan langsung mengambil menu yang diberikan oleh maid yang baru saja datang—dan tangan mereka tidak lembut saat mengambilnya. Bersikap apatis dan segera membaca menu disana.
Tapi ternyata bukan tulisan menu disana—
Itu…
Mata keduanya terbelalak lebar dan badan mereka terangkat sedikit.
Mereka membaca tulisan yang tak asing bagi mereka itu…
Untuk Dai-chan dan Akashi-kun,
Hey kalian, ini aku Momoi Satsuki—gadis yang mungkin kalian masih anggap sahabat, jika sudi.
Hey—aku tahu ini berlebihan. Aku tahu, oke? Terserah kalian mau marah atau merobek kertas ini tapi tolong dibaca dulu.
Pertama-tama—aku minta maaf. Aku minta maaf yang sebesar-besarnya karena sudah menyebabkan pertengkaran kemarin. Diriku benar-benar hilang kendali, dan kalian takkan menyadarinya. Aku terlalu dipengaruhi oleh emosiku dan menumpahkannya pada sahabatku ini, tapi sumpah—aku tidak bermaksud begitu. Lucunya aku lupa kalau aku memang sedang dalam masa period.
Kembali lagi ke masalah kita. Oh, benar-benar deh. Aku juga masih bertanya-tanya mengapa aku bisa seperti itu. Aku minta maaf, duh aku ini banyak sekali pengulangan kata ya? Maaf, aku tidak pandai menulis. Tuh kan aku minta maaf lagi.
Jadi, aku kenali masalah kalian berdua. Ternyata masalah kita mirip loh. Kita sama-sama bermasalah dalam mengejar impian kita sendiri. Aku punya masalah dengan ibuku—karena ada perbedaan pendapat bahwa aku ingin menjadi seorang designer tapi ibuku hanya ingin aku meneruskan pekerjaan ayahku. Lalu Dai-chan yang ingin menjadi dokter tapi takut dalam menghadapi ujiannya ke depan. Dan Sei-kun yang tidak tahu ingin menjadi apa—karena Sei-kun pintar dalam segala bidang, meskipun sebenarnya kau sudah pintar dari dulu (haha)
Kalau kalian tidak keberatan—bagaimana kalau kita berunding lagi dan berbaikan? Atau terbalik ya? Yah apapun itu, aku tidak mau persahabatan kita ini jadi putus. Sungguh, aku tidak bohong. Aku tidak suka lihat raut muka Dai-chan yang marah, lalu gunting Sei-kun yang berterbangan kemana-mana. Aku sedih melihat hal itu.
Jujur—aku ingin kalian memaafkan aku.
Aku memang salah.
Jadi tolong—maafkan aku…
With love,
Momoi Satsuki
Keduanya terdiam untuk beberapa saat setelah membaca pernyataan maaf Momoi. Dan mereka berpikir—gadis itu sampai meminta bantuan Kise dan Midorima untuk menyatukan mereka berdua?
"Kumohon…" Terdengar suara isakan pelan dari seseorang yang tak jauh dari mereka, "Aku… benar-benar tak mau kita marahan terus…"
Kedua insan itu terkesiap pelan kemudian setelah melihat sosok maid yang tadi memberikan menu pada mereka masih berada di sana dan terlebih lagi—itu Momoi. Momoi Satsuki.
Dan gadis itu sedang menangis sambil mencengkram bajunya sendiri.
Aomine menggigit bibir—tidak tahu kalau perbuatannya sampai membuat sahabat cewenya itu menangis cukup keras karena hal yang ia anggap sepele—dan wajah gadis itu terlihat sangat jelek sekarang.
Akashi tidak tahu ada perasaan aneh yang merasuki dirinya seusai melihat Momoi seperti itu. Mungkin iba, atau apalah hal sialan itu. Tapi dari dalam hatinya mengatakan bahwa ia tak suka melihat wajah Momoi yang seperti itu—
Singkatnya, mereka berdua ingin gadisnya tersenyum lebar seperti biasanya.
"Satsuki."
Keduanya saling mengadu deathglare karena ingin berbicara duluan.
"Aku duluan."
"Tidak, aku duluan Daiki."
"Hah? Kau tuli? Tadi aku sebut S duluan sebelum kau!"
Akashi mendecakkan lidah, "Jangan meremehkan telingaku, Daiki."
"Apa maksudmu hah?"
"Seharusnya itu yang aku tanyakan padamu, siapa kau pikir yang kau panggil tuli?"
"Salahmu sendiri karena tidak mau mengaku!" Balas Aomine tak mau kalah.
Lelaki bersurai merah itu mulai memandangnya tajam, "Kau yang tidak mau mengaku."
"Kau!"
"Kau!"
"E-Etto…" Nada suara mau-nangis-lagi-nya Momoi membuat mereka berhenti saling menyalahkan.
Akashi menghela nafas.
"Oke." Ia menutup matanya, "Aku memaafkanmu, Satsuki—tapi aku juga minta maaf pada kalian semua. Aku tahu seharusnya aku tak mengejekmu, Daiki." Matanya beralih ke sosok laki-laki di depannya.
Aomine menghadiahkan pandangan masih kesal dan kemudian mendengus, "Bersujudlah dihadapanku, kapten."
"Kau nggak malu dengan sikap sok-mu itu hah?"
"Sepertinya pernyataan itu harusnya ditujukan padamu."
Seharusnya pernyataan itu ditujukan pada kalian berdua, batin Momoi dalam hati sambil menahan nafas.
Hening kembali.
Suara berat kemudian memecah keheningan itu.
"Maafkan aku… juga…?" Kali ini terdengar dari bibir Aomine selagi menggaruk kepalanya, "Aku juga salah sudah mengejekmu… dan berteriak padamu, Satsuki…"
"Kau kumaafkan Daiki. Tapi latihan basketmu kulipatgandakan jadi 30 kali."
"Hey! Apa maksud—"
"Sudah, sudah! Kalian ini!" Momoi lalu mengarahkan tangannya untuk menepuk pundak mereka berdua dan membawa kepala mereka bertiga untuk saling berdekatan. Gadis itu menghela nafas dan berusaha tersenyum.
"Ini artinya…" Suaranya sedikit ada kegugupan, "Kita sahabatan lagi kan…?"
"Aku tidak—"
"Aku belum—"
"Tidak ada penolakan!" Momoi berkacak pinggang sejenak sebelum senyumnya kembali melebar.
Ia lalu mengepalkan tangannya kuat-kuat dan membuatnya maju ke tengah meja—seolah meninju sesuatu yang invisible disana.
Ah, itu tanda persahabatan mereka pertama kali.
Awalnya mereka ragu—namun dengan muka apatis mereka tos bersama Momoi.
Momoi tergelak pelan, "Dasar anak laki-laki…"
.
.
.
Seusai obrolan yang cukup canggung tersebut, mereka bertiga lalu pergi menuju rumah Momoi karena gadis itu bilang bahwa ia ingin segera menyelesaikan semuanya.
Jadi disanalah mereka—di meja tempat mereka selalu berkumpul, seperti waktu-waktu yang lalu. Tapi kali ini berbeda—suasanya terlihat sepi. Hanya ada dua pensil dan dua kertas kosong di atas mejanya.
Momoi berdeham.
"Jadi disini… aku ingin kalian menulis 100 impian yang ingin kalian capai—ah, tidak, 25 saja deh!" Momoi lalu memberikan pensil ke keduanya sambil tersenyum riang, "Tidak perlu cepat-cepat, pikirkan saja baik-baik!"
Awalnya Akashi dan Aomine saling berpandangan—bingung kenapa Momoi merencanakan ini semua. Tapi mereka tahu, gadis bersurai bunga Sakura itu melakukannya agar mereka punya motivasi untuk mencapai apa saja impian mereka. Mungkin Momoi masih merasa bersalah karena kejadian waktu itu—dan Aomine yang biasanya akan menjawab Satsuki dengan berbagai alasannya untuk tidur, sekarang malah menulis duluan daripada Akashi.
Sebelum menulis, Akashi menatap Momoi sambil bertanya.
"Memangnya kau sudah menuliskannya, Satsuki?"
"Hum, iya!" Gadis itu lalu memperlihatkan dua lembar kertas pada Akashi, namun hanya belakangnya saja sehingga tidak terlihat, "Aku sih baru menulis 38, habis aku bingung, hehehe.."
"Hmm.." Akashi bergumam pelan sambil mengalihkan sorot matanya ke arah kertas kosong di depan wajahnya. Ia menutup matanya sebentar—sekilas berpikir dan kemudian mengambil pensil yang diberikan Momoi untuk menulis seperti yang dikatakan Momoi.
Gadis bermanik fuschia itu hanya tersenyum polos dan duduk tenang di depan mereka, merasakan hatinya melega begitu saja. Awalnya, ia kira semua rencananya gagal—dimulai dari beberapa misscal darinya yang tak dijawab ataupun dijawab dengan asal, lalu meminta bantuan Midorima dan Kise untuk bekerja sama dengannya. Hal itu sempat membuatnya patah semangat—sampai-sampai ia tidak punya niat untuk belajar.
Namun, karena ia tahu, bahwa jika ia berhenti berusaha ataupun mengeluh begitu saja, maka tidak ada yang berubah. Lagipula, jikapun ia lulus dan menggapai mimpinya, rasanya berat sekali jika tidak tidak ada dua sahabatnya di dekatnya. Momoi benci sendiri—karena hal itu membuat dirinya merasa ditiadakan.
Tapi lihatlah, setelah ia berusaha, ada hasilnya meskipun sekarang mereka masih sedikit canggung untuk bicara. Bisa dilihat dari sikap Aomine yang sedikit berubah—lelaki itu tidak banyak bicara dan kebiasaan menguapnya menjadi lebih sedikit. Padahal biasanya ia paling berisik diantara mereka bertiga—paling malas jika disuruh sesuatu, tapi kali ini tidak.
Sementara Akashi—entahlah. Momoi paling tidak bisa mengerti lelaki itu. Sosoknya yang elegan, pendiam dan tatapan khasnya—tidak ada yang berubah. Momoi jadi tidak mengetahui apa isi hati lelaki itu. Namun, sepertinya Momoi mulai bisa mengerti sekarang.
Keduanya mulai bergumam, berargumen kecil, dan akhirnya terjadi perdebatan besar. Padahal baru beberapa menit mereka menuliskannya.
"Daiki. Hapus impianmu yang 'itu'. Sekarang." Nada suara Akashi menjadi dingin dan tajam—membuat Momoi penasaran apa yang sedang diperdebatkan oleh keduanya.
"Haah? Yang mana sih?" Aomine memberikan tatapan malas ke arah Akashi, mirip dengan nada bicaranya.
Akashi menggeram, "Yang nomor 14 itu."
Aomine menurunkan bola matanya dan membaca tulisannya pada nomor yang disebutkan Akashi. Ia sontak membulatkan matanya dan menatap horror Akashi.
"Apa maksudmu suruh aku menghapusnya?! Kau tidak mungkin..." Aomine semakin terbelalak ketika melihat tulisan tangan Akashi nomor 11.
"Ya. Aku sama denganmu." Akashi melotot, "Tapi aku pasti yang akan mendapatkannya."
"Haah?! Jangan bercanda! Aku yang menulisnya duluan!"
"Apa maksudmu? Aku menuliskannya 2 menit 40 detik lebih dulu daripada kau!"
"Lah mana aku tahu kalau kita punya impian yang sama!"
"Kau pasti menyontek dariku kan?!"
"Buat apa aku menyontek impian orang lain?!"
"Aku tidak mau tahu. Hapus. Sekarang. Juga!"
"Kau saja yang hapus!"
Mereka berdebat dengan suara yang lebih keras—namun bukan perdebatan menakutkan seperti waktu itu. Hal ini malah mengundang tawa Momoi dan rasa penasarannya.
"AOMINE DAIKI. HAPUS SEKARANG!"
"KENAPA HARUS AKU?!"
"KARENA IMPIAN ITU HARUSNYA JADI MILIKKU!"
"APAAN SIH?! CARI SAJA YANG LAIN!"
"KAU—"
"ASDFGJKL#$$%#!"
" ##$$%$ &&*!"
"KALIAN ITU MERIBUTKAN APA SIH?!"
Keduanya tersentak dan terlonjak kaget saat Momoi segera mengambil kertas mereka—dan mereka hanya mengatupkan mulutnya diam.
Momoi lalu mencari kedua nomor yang diributkan—yang mereka bilang sama. Mata gadis itu mencari dengan teliti—dan dapat! Ia membacanya dan—
—dan…
"Eh..."
Wajahnya tiba-tiba bersemu merah setelah melihat kedua tulisan tangan mereka—impian mereka di atas kertas putih tersebut—
Jadi apa sih yang ditulis mereka berdua…?
Mari kita lihat…
Aomine Daiki
#14 : Menikahi Satsuki dan punya banyak anak.
Seijuuro Akashi
#11 : Ingin menikahi Satsuki dan membahagiakannya.
—Sontak, ketiganya mengalihkan pandangan dengan wajah setara dengan kepiting rebus.
.
.
.
[ Bersambung ]
a/n : Nyahaaaah! Sumpah ini kecepetan banget gak sih? Terus Akashi-nya OOC gimana gitu asjdhkljhk, kayaknya emang kelebihan saya bikin Akashi OOC #gedubrak#
Oh iya, Fic ini masih berlanjut kok, masalah mereka kan belum selesai sama ortu mereka heheh XD… mungkin Chapter tiga bakalan Last Chapter—heheh, saya rada bingung nih mikir endingnya… Sebenarnya banyak sih yang Vote AkaMomo, tapi liat aja diakhir chaps ya… soalnya saya lebih suka mereka itu lebih ke friendship, meskipun ada beberapa yang ngarah ke romance b^o^b
Thanks for :
#Wintersia, VilettaOnyxLV, memoryru, flowers lavender, Aoi Yukari, Lawliet Vert, sugirusetsuna, ikanatcha96, Schnee-Neige, scarletjacket, serta readers yang udah bersedia fav/foll cerita ini! Semuanya bikin saya semangat buat bikin chapter ini! *HUGS*
Dan saya mau minta maaaaf sebesar2nya, kalo ada yang nge-pm saya, beneran deh PM saya lagi error… semoga secepatnya bisa diperbaiki :v
Terakhir… review? :3
Salam hangat,
E-cchi aka Euphoria
