~Star Averange~

.

Super Junior © SM Entertainment

.

Chapter 2 :

.

Rating : T

.

Cast :

Super Junior's members and the others support cast.

.

.

Genre :

Romance, Family, Hurt/Comfort.

.

Warning :

GS, Typo(s), OOC, etc.?

.

.

~Don't Like, Don't Read~

.

.

Mengapa saat sedang menghadapi semester saya malah menulis FF bukannya belajar?

Kenapa ide selalu datang disaat yang ga tepat?

Tapi chapter ini sudah selesai, jadi..

Happy Reading.

.

.

Chapter 2

Seorang namja dengan balutan piyama putih khas rumah sakit duduk bersandar di ranjang rawat, masker oksigen masih menemani setiap hembusan napasnya. Onyx hitamnya menatap kosong pada dinding putih rumah sakit yang memang tak ada apapun disana bahkan sekedar vas berisi bunga . Cahaya matahari yang masuk melalui cela jendela besar yang sudah diberi penghalang seperti gordeng tipis membuatnya tak bisa melihat secara jelas apa yang ada di luar sana,

Bahkan ruangan yang ditempatinya sekarang hanya tercium bau obat. Sendirian, cukup terbiasa sebenarnya karena memang seperti itulah dia menjalani hidupnya selama ini.

Onyx hitamnya beralih menatap ke sudut atas ruang inapnya, lihatlah disana jelas ada kamera cctv yang sudah dipastikan, diluar ruangan juga ada orang yang selalu siaga 24 jam mengawasi setiap hal yang dilakukannya meski nyatanya ia hanya diam seharian.

Ruangan bernuansa putih, tidak. Memang ruangan itu benar-benar serba putih, warna yang selama ini dia tau setelah hitam tentu saja andai mereka tau kalau putih tak masuk dalam lingkaran warna sebenarnya. Tak ada yang bisa dilihat selain segala sesuatu berwarna putih, kecuali alat-alat medis yang melekat di tubuhnya yang kadang memiliki beberapa warna berbeda.

Sofa disudut ruanganpun kosong tanpa ada seorangpun yang mendudukinya untuk sekedar mengajaknya mengobrol atau hanya menayakan keadaanya yang tak terlalu jauh lebih baik dari biasanya.

Bruagh..

Sebuah suara cukup keras mengalihkan pandangannya dari dinding putih yang sebenarnya tak diamatinya sejak tadi, sesuatu yang cukup besar mungkin sudah menghantam pintu ruang inapnya.

Dengan perlahan namja bersurai hitam kelam itu melepas masker oksigennya, ayolah dia tak akan mati hanya karena tak memakai alat memuakan itu setidaknya itu hanya membuatnya lebih mudah untuk menarik setiap oksigen yang akan masuk ke paru-parunya.

Namja itu turun dari ranjangnya, menarik tiang infusnya dan berjalan ke sumber suara yang tadi di dengarnya berasal.

Kriett…dengan perlahan dia membuka pintu putih di depannya, hal pertama yang dilihatnya adalah seorang anak kecil dengan pakaian sama sepertinya hanya saja dengan ukuran yang sesuai dengan bocah itu tengah berjongkok di samping kotak sampah sambil meniup-niup lututnya yang sedikit lecet. Kegiatan bocah itu terhenti saat dirinya merasa seseorang mengawasinya.

"huwaaaa..oppa tampan sekali." Kalimat pertama yang keluar dari mulut sang yeoja mungil ketika onyx kelabunya menemukan sosok yang masih berdiri di ambang pintu dan menatapnya dengan penasaran tingkat tinggi.

"apa yang kau lakukan disana?" suara baritone berat itu mengalun indah dari bibir pucat sang namja tampan,

"sst..oppa jangan bilang ke Dokter kalau Hyemi tadi jatuh ya?" ucap sang yeoja mungil sambil sesekali melirik ke kanan dan kiri takut aksinya yang melarikan diri dari ruangan pemeriksaan diketahui sang Dokter.

"kenapa?"

"hmm.. karena ini rahasia kita?"

"rahasia?"

"iya. Bagaimana Kalau oppa mau menjaga rahasia kita ini aku akan memberikan oppa permen yang banyak?" tawar Hyemi sambil merentangkan kedua tangannya seolah menggambarkan sebanyak apa permen yang mampu dia berikan pada hyung tampannya.

"permen?"

"iya permen. Ini aku punya satu."

Tangan pucat itu menerimanya dengan senang meski tak ada senyum yang terlukis diwajahnya tampannya, dia mengepal erat sesuatu yang kecil dalam balutan plastic yang dipelintir yang belum pernah dilihatnya sebelumnya.

"oppa kalau sudah diberi sesuatu oleh orang lain harus bilang terima kasih." Hyemi mengerucutkan bibirnya lucu ketika mendapati hyung tampannya hanya mengerjab bingung menatapnya.

"tuan muda kibum. Mengapa anda berada diluar?" seorang namja dalam balutan jas hitam menghampiri sang tuan muda dengan raut wajah khawatir. Kibum dengan perlahan menyembunyikan tangannya yang mengepal permen pemberian Hyemi dengan kuat di belakang punggung, menyembunyikan dari orang-orang yang mungkin akan merusak benda pertama yang diterimanya dari orang lain.

Dan sekali lagi, seperti biasanya dia dituntun masuk ke dalam ruangan berwarna putih yang menurutnya sangat membosankan.

.

.

Sungmin membolak-balik buku desain pribadi miliknya, sesekali mencocokan dengan beberapa tumpukan buku lain yang terhampar di meja kerjanya.

Sekarang Sungmin sedang berada di butik miliknya, pekerjaannya sebagai seorang desainer memang tengah berada di puncak berkat semua karya berkelas yang diciptakannya.

Tak sedikit artis dan pejabat Negara yang secara khusus memesan pakaian padanya, karenanya jadwalnya menjadi bertambah padat setiap harinya bahkan sering kali yeoja paruh baya yang masih terlihat sangat cantik itu menginap di kantor. Uh, dia khusus membangun kamar tidur untuknya dan beberapa pegawainya yang mungkin terpaksa ikut lembur.

Jari lentiknya terus mencoret-coret kertas di depannya, sesekali menghapus bagian yang menurutnya tidak penting.

"permisi nyonya, ini sudah jam 3 sore." ucap Ryewook yang merupakan asistennya, mengingatkan sang majikan akan rutinitas yang biasa dilakukannya pada jam segini.

"ya." jawab Sungmin singkat sebelum mulai mengambil smartphone miliknya dan menekan panggilan cepat nomor 1.

"pak Shin tolong sambungkan dengan Bummie."

Tak lama suara di seberang sana telah berganti, Sungmin mengaktifkan system 3G dan mulai bervideo call dengan putra tercintanya.

"apa kabarmu sayang?" Tanya Sungmin pada sosok dingin di seberang sana,

"aku baik."

"apa kau sudah meminum obatmu?"

"ya."

"apa harimu menyenangkan?"

"mungkin?"

Sungmin diam, selalu seperti ini tak pernah sekalipun Kibum bertanya sesuatu padanya, selalu saja Sungmin yang harus memulai percakapan dengan pertanyaan dan jawaban yang sama dalam beberapa tahun belakangan ini.

"mommy?"

Sungmin tersentak, untuk pertama kalinya Kibum memanggilnya terlebih dahulu. Hatinya terasa hangat, sebuah anugerah bisa mendengar suara putranya dengan sebuah nada yang sedikit berbeda.

"ya Bummie? Ada apa nak?"

Kibum terdiam sejenak, matanya menatap sosok sang mommy di layar smartphonenya dengan tatapan yang sulit diartikan.

"boleh Bummie meminta permen?" ucap Kibum pelan yang sukses membuat Sungmin terperanjat kaget dibuatnya, mata hitamnya menatap berang pada sosok sang putra yang kini mulai ketakutan.

"SIAPA YANG MEMBERIKANMU PERMEN?" teriak Sungmin marah dan saat itu juga Kibum menyesal memulai percakapan dengan sang mommy.

.

.

Tap..tapp.. tap..

Namja bersurai ikal itu melangkakan kakinya pelan, sesekali namja di balik semak itu mengedarkan pandangannya berkeliling.

Merasa cukup aman dia keluar dari tempat persembunyiannya.

PLETAKK.

Sayangnya dia tak menyadari sosok yang dari tadi mengawasinya, uh..sepertinya dia lupa melihat ke atas pohon tempat sang pelaku penggeplakan kepalanya berasal.

"bagus sekali kau baru pulang jam segini Kim Kyuhyun!" ucap Heechul sambil menjewer telinga putranya yang kini hanya bisa meringis kesakitan.

"appo eomma! Telinga Kyu bisa putus!"

"biar saja! Aku senang kalau telingamu putus! Kau tak jera juga berkelahi?"

"mereka yang menantangku eomma!"

"itu karena kau memeras mereka kan?"

"itu salah eomma yang tak bisa memberikanku psp baru."

"GYAAAAAAAAAAA..AMPUN !" teriakan Kyuhyun makin terdengar kala telinganya yang satunya dijewer oleh sang appa.

"jadi kau menyalahkan appa dan eomma atas kenakalanmu itu?"

Dan sepertinya sifat arogan Kyuhyun yang selalu menggunakan kekerasan merupakan warisan dari kedua orang tua yang membesarkannya.

Bukankah buah jatuh tak jauh dari pohonnya?

.

.

Balutan syal putih tebal menggulung di leher Kibum, memberikan perlindungan rasa hangat yang sedikit berebihan karena sebenarnya ini masih masuk dalam musim gugur.

Kakinya melangkah menuruni tangga secara perlahan, nyaris tanpa bunyi sama sekali.

Sudah sejak lama Kibum tak melangkahkan kakinya keluar dari kamar atau bahkan hanya keluar untuk berkeliling rumahnya sendiri. Hidupnya dihabiskan dalam kamarnya yang serba berwarna putih.

Langkah kakinya terhenti tepat setelah menuruni semua anak tangga.

Sepi..

Tak ada suara ataupun orang yang dijumpainya dalam rumah megah itu

Seperti biasanya hanya dia seorang diri disana, adapaun orang yang ditemuinya hanya mommy dan daddy serta pak Shin yang selalu mengantarkannya obat dan makanan setiap hari, sesekali dia bertemu Dokter Han yang secara rutin memeriksa keadaanya.

"Kyaaaaaaaa…jangan lari kau"

Sebuah suara teriakan yeoja berhasil menarik perhatian Kibum, matanya bergerak liar mencari sumber suara yang di dengarnya.

Matanya tepat terenti pada kaca jendela raksasa di sampingnya yang langsung menghadapkan pemandangan halaman samping rumah yang hijau rindang.

Disana dua orang yeoja dengan setelan pakaian yang sama tengah berlari kesana kemari, saling mengejar sambil tertawa-tawa tanpa tau sosok yang melihat mereka dari balik jendela besar.

Tes..

Kibum tak tau apa yang terjadi padanya, Kibum tak tau mengapa matanya merasa panas dan mengapa dia merasa ada bagian tubuhnya yang bocor dan mengeluarkan air.

"Tuan muda. Kenapa anda diluar kamar?" sebuah suara yang sudah sangat familiar di telinga Kibum terdengar, dia membalikkan badannya. Menatap wajah namja tua yang sudah selama belasan tahun setia menenaminya dan menjadi teman satu-satunya meski hanya mengantar makanan dan obat-obatannya dan memastikan Kibum menghabiskan semuanya.

"maafkan aku. Tolong jangan katakana pada mommy dan daddy." Kibum menunduk bagai anak kecil yang baru saja ketahuan melakukan sebuah kenakalan.

Namja tua itu tersenyum miris, belasan tahun merawat namja tampan di depannya itu membuatnya memiliki sebuah perasaan khusus terhadapnya, pak Shin sudah menganggap Kibum sebagai anaknya sendiri meski pada kenyataannya terlalu lancAng bagi seorang pelayang rendahan sepertinya mengatakan hal tersebut, jadi biarlah dia menyimpan semuanya dalam hatinya sendiri.

"baiklah. sopir sudah menunggu. saya akan mengantar tuan muda ke mobil."

Kibum duduk diam di kursinya, mobil yang dinaikinya dirasa tak mengalami pergerakan sejak tadi.

Entah apa yang terjadi Kibum tak bisa bertanya pada sang sopir yang duduk di depannya tapi dia tak bisa melihatnya karena terpasang sekat kaca berwana hanya bisa mendengar suaranya tanpa melihat wajah sang sopir atau apa yang dilihat sang sopir.

Kaca mobilnya tertutup rapat dengan gorden yang menghalangi dia menatap keluar atau bahkan membiarkan cahaya matahari menyapa kulit putihnya yang pucat.

"kapan kita sampai?" tanya Kibum akhirnya karena tak ada hal menarik yang bisa dilakukannya lagi,

"maaf tuan muda sepertinya ada kecelakaan di depan dan kita terjebak disini."

"ya. tidak apa-apa. Terima kasih."

Suara-suara itu terdengar di telinga Kibum. Ditengah kemacetan itu Kibum bisa mendengar suara-suara yang tak pernah di dengarnya sebelumnya.

Banyak suara orang membunyikan klakson, suara orang-orang yang berteriak dan mengucapkan kata-kata yang bahkan belum pernah Kibum dengar sebelumnya.

Ada beberapa suara orang tertawa dan berlari-lari seperti yang di dengarnya tadi pagi.

Sebuah lekungan muncul di wajah pucatnya, meski KIbum terbiasa dengan kesunyian, meski dia terbiasa berada sendirian di suatu tempat sunyi dalam waktu yang lama dan meski dia tak menyukai suara ribut yang menggangunya tapi entah kenapa saat ini Kibum merasa sangat bahagia bisa mendengar segala suara bising yang masuk ketelinganya saat itu.

Tokk..tokk..tokk..

Sebuah suara ketukan terdengar dari balik kaca mobilnya, nampaknya ada seseorang yang mengetuk-ngetuknya secara sengaja.

Kibum melirik ke depan, tentu saja sopirnya tak akan tau dengan apa yang tengah dilakukannya saat itu. Dan entah kekuatan dari mana yang mendorongnya, Kibum membuka pintu mobilnya.

Belum sempat Kibum melakukan tindakan atau mengucapkan satu kata tiba-tiba sebuah tangan terulur menariknya keluar dan mengajaknya berlari. Hal pertama kali yang dilakukan seumur hidupnya.

Seseorang menggengam tangannya erat dan mengajaknya berlari.

Mereka terus berlari, menikung dari jalan besar tempat mobil Kibum terjebak macet. Memasuki beberapa gang sempit yang ada disana sebelum menemukan sebuah taman kecil berukuran persegi dengan sebatang pohon berdiri kokoh di sudut taman itu.

"hoshh…hoshhh..hooshh." Kibum menarik nafasnya dalam-dalam, sesaat dia merasakan paru-parunya berhenti memompa udara dalama tubuhnya.

Lelah, ini pertama kalinya dia berjalan secepat dan sejauh itu.

Sementara sosok yang tadi menarik tangannya hanya menatap Kibum heran.

"dasar anak orang kaya. Baru berlari beberapa blok saja sudah pucat!"cemooh namja itu yang ak terlalu diperhatikan oleh Kibum yang masih sibuk mengatur nafasnya yang ngos-ngosan.

"wah Kyu kau benar-benar nekat!" seorang anak dengan topi merah menghampiri Kyuhyun ementara teman sang anak bertopi merah itu tak berkomentar apapun, hanya menatap penasara pada sosok putih pucat yang kini sibuk mengatur nafasnya.

"sepertinya dia sangat kaya. Uangnya pasti banyak!"

"diam kau Hae! Dia mangsaku!" ucap Kyuhyun memberikan deathglare terbaiknya yang cukup membuat Donghae dan teman satu timnya—Eunhyuk menelan ludah kecut.

"hei pucat! Berikan uangmu pada kami!"bentak Kyuhyun sambil menadahkan tangannya pada Kibum yang kini menatapnya heran.

"uang?"

"iya uang! Apa kau tuli?" geram Kyuhyun sambil mengibaskan beberapa uang kertas di depan Kibum

"aku tak punya uang?"

"APA? KAU INI PASTI ANAK ORANG KAYA BAGAIMANA BISA TAK PUNYA UANG?!"

Merasa kesal dengan jawaban Kibum maka dengan sekenaknya Kyuhyun mengeledah tubuh Kibum dan mencari benda berharga yang ada padanya. Senyum lebar bertengger di wajah Kyuhyun saat mendapati smartphone dari saku Kibum.

"waw. Itu pasti mahal." Gumam Eunhyuk melihat benda kotak yang sudah ada di tangan Kyuhyun

"smartphone itu ada gpsnya, mommy akan tau aku diculik dan dengan mudah melacak keberadaanku dan mengkap kalian semua!"

Mereka sedikit kecut mendengar ancaman Kibum, maka alih-alih melakukan kekerasan mereka malah mengembalikan smartphone Kibum dan memintanya untuk tutup mulut.

"sepatu nike pasti sangat mahal!"

"ini edisi limited edition, hanya ada sepuluh di dunia. Setiap sepatu punya nomor seri berbeda dan tak akan mudah menjualnya karena kalian tak memiliki surat kepemilikannya."

"kenapa sebuah sepatu bisa sangat rumit hanya untuk dijual?"

"kita cari anak lain saja."

"jangan Kyu. Berbahaya!"

"tak apa. Hanya ini cara kita untuk mendapatkan uang dak ikut perlombaan itu.!"

"kita tak usah ikut lomba kyu?"

"kau tak yakin aku akan menang?"

"bukan begitu Kyu. Kalau kau tertangkap lagi pasti kau akan digoreng oleh eomma dan appamu."

"hanya ini caranya kita bisa mendapatkan uang untuk operasimu Hyuk!"

Kibum hanya diam memperhatikan tiga orang namja yang dia yakin seumuran dengannya tengah berdebat satu sama lain, hal yang baru dilihatnya untuk pertama kali dan terasa begitu menyenagkan.

Ah, apa begini rasanya punya teman? Meski dalam kondisi yang sungguh tidak benar?

"CHO KYUHYUN KAU MENCULIK ANAK ORANG?!"

Glek..

Kyuhyun menelan ludah kecut, tak ubahnya dengan kedua temannya yang kini juga ikut menatap horror pada sumber suara teriakan dan tanpa babibu mereka langsung mengambil langkah seribu sebelum kemarahan Kim Heechul meledak dan dipastikan mereka tak akan bisa melihat matahari terbenam besok.

.

.

Heechul menatap sosok tampan di depannya yang sedari tadi hanya mengerjab bingung di depannya.

"siapa namamu?"

"aku? Kibum.. Park Kibum imnida." jawab Kibum sambil membungkukan sedikit badannya pada noona di depannya.

"ah begini.." sedikit ragu Heechul menggengam tangan Kibum ke depan wajahnya. "Kibum-shii bisa kau memaafkan anakku? Dia tadi hanya bercanda? Jangan laporkan ke pihak berwajib ya?"

Kibum tersenyum canggung sembari menarik tangannya yang digenggam Heechul, diperlalukan seperti itu membuatnya tak nyaman.

"ne noona tidak masalah, aku juga baik-baik saja."

"lalu bagaimana kau akan pulang? Apa kau tau alamatmu? Aku akan senang hati mengantarmu."

Kibum menggeleng lemah, sejujurnya dia memang tak tahu dimana alamat rumahnya berada karena yang ia tahu harinya dihabiskan di dalam kamar tidur atau kamar rumah sakit yang ia tak tau alamatnya dimana karena memang tak membutuhkan alamat.

"lalu bagaimana kau akan pulang?"

"mommy sudah memasang gps padaku jadi ia akan menjemputku nanti." ucap Kibum yang membuat Heechul sedikit terkejut. Hanya sedikit karena setelahnya ia mengajak Kibum menunggu jemputannya yang akan datang, mereka akan menghabiskan waktu menunggu di café yang tak jauh dari sana.

"jadi noona seorang perawat?"

"ya. aku perawat di Seoul hospital." ucap Heechul dengan bangga

"jinjja? Kenapa aku tak pernah melihatnya?" gumam Kibum yang masih bisa terdengar jelas di telinga Heechul.

"yak.. memangnya kau hapal semua wajah perawat di rumah sakit sebesar itu?" gerutu Heechul yang mau tak mau membuat Kibum menarik ujung bibirnya, bagaimana seorang yeoja yang sudah dewasa bersikap begitu kekanakan?

Kibum hanya diam dan membuat Heechul semakin salah tingkah, ya entah mengapa ia agak canggung dengan bocah di hadapannya yang sesekali menyeruput teh hangatnya.

"yak kau benar, aku baru beberapa bulan lalu menyelesaikan pendidikan perawatku dan aku baru dua minggu bekerja disana meski masih terbilang magang."

"noona tak perlu mengatakannya kalau keberatan." ucap Kibum begitu tenang, dingin dan menusuk tepat di jantung seorang Kim Heechul, ah—yeoja cantik itu ingin sekali melemparkan sandal jepitnya ke wajah namja tampan di hadapannya.

"hei.. bisakah kau tak memanggilku noona? Aku sudah tua, bahkan anakku mungkin seumuran denganmu."

"lalu aku harus memanggil seorang yeoja secantik dirimu dengan sebutan ahjumma begitu?" Kibum memamerkan senyum mautnya yang mau tak mau membuat wajah Heechul berbulshing ria.

Aish.. bocah ini, beberapa kali Heechul menggelengkan kepalanya mengusir bisikan-bisikan aneh yang tiba-tiba menghampiri kepalanya.

"sadar Kim Heechul, kau sudah punya suami dan ia hanya bocah ingusan." gumam Heechul sambil merutuki kebodohannya.

Kibum hanya tersenyum, menikmati tiap ekspresi dari seorang noona yang dilihatnya. Walau ini pertemuan pertama mereka tapi entah kenapa ia sudah merasa sangat nyaman dengan sosok yang berusia dua kali dari umurnya sendiri.

.

.

.

TBC..

Chapter 2 update..

Semoga ga mengecewakan ya?

Meski belum sesuai dengan target review tapi ya demi reader tercinta apa sih yang engga, ujian semester berjalan lancar kemarin dan semoga hari ini juga..

Penutup chapter ini sedikit berbeda dari rencana awal karena sama seperti Kibum, Author juga sedang merasa..ehmm…#malah curcol

REVIEW?