Beneath Your Beautiful

Chapter 1

Lee Jong Suk

Kim Woo Bin

JongWoo - JongBin - WooJong - SukBin

Seperti hari-hari biasa, pagi ini Seoul terlihat sangat sibuk. Banyak para pejalan kaki yang memenuhi jalan. Kendaraan bermotorpun juga berbaris memenuhi padatnya kota seoul. Di barisan mobil itu, terlihat mobil hitam. Ukurannya besar, dapat dipastikan orang penting yang ada di dalamnya.

Seorang namja tinggi duduk bersender di kursi tengah mobil. Menenangkan diri, dan menghadapi kenyataan kalau dia sekarang sedang di tengah-tengah lautnya suara bising kendaraan bermotor disekelilingnya. Sebentar lagi jadwal menumpuk akan datang. Sekarang saja sudah kena macet begini, bagaimana akan selesai jadwal pekerjaan hari ini?

"Ya! Jongsuk!" suara wanita disebelahnya, berhasil memotong ketenangan, "lihatlah, kau berada di headline lagi," kata wanita itu lagi sambil menyentuhkan telunjuknya ke tablet samsung yang ada di pangkuannya.

Jongsukpun menoleh ke samping kananya, tak ada kata yang keluar darinya. Ia cepat-cepat mengambil tablet managernya itu, dan melihat ke bagian atas berita website tersebut. 'Is Lee Jongsuk and Kim Woobin dating?'

"Jinjaa.. Sebenarnya apa yang terjadi di antara kalian? Ceritalah padaku," ucap sang wanita itu sambil menatap langsung ke arah wajah Jongsuk.

Sang manager menunggu jawaban. Namun tak ada yang keluar dari bibir sexy tipis merah itu. Mata Jongsuk sedang sibuk menelaah isi berita tersebut. Sekarang ini dunia entertainment sedang dihebohkan dengan pasangan muda ini. Karena peran mereka di sebuah drama, yang menjadi kontroversi.

"Yaak! Aku berbicara padamu Jongsuk. Aku ini manager mu, hargailah aku ketika bicara," ucap si wanita itu. Setelah menunggu beberapa detik, wanita itupun tak tahan lagi dengan sikap namja disebelahnya ini, ia pun menarik nafas, dan bersiap mengeluarkan kata-katanya lagi.

"Aku tak tau apa yang terjadi di antara kalian, tapi bersikaplah profesional. Sekarang ini banyak orang yang membencimu karena hubunganmu dengan Woobin. Kalau kau begini terus, kau bisa terkena konflik, karirmu bisa jadi tidak baik!, ingat! Ingat kata-kataku, Woobin hanya rekan kerja, okey?" Ucap si manager tegas.

Jongsuk tak tau kenapa akhir-akhir ini berita itu sering bermunculan. Entah apa yang salah dengan dirinya. Namun ia tidak merasakan ada sesuatu yang salah. Ia hanya menjadi dirinya sendiri. Seorang namja yang suka ber-acting lalu menemukan pasangan main yang sangat baik. Ia merasa sangat cocok dengan Woobin. Ia merasa nyaman berada di dekat Woobin. Ia merasa senang bila sedang berada bersama dengan Woobin.

Sepanjang karirnya, dari trainee sampai sekarang. Ia tidak pernah memiliki orang yang benar-benar seorang teman. Biasanya teman-teman pemeran di suatu drama yang ia bintangin akan pergi begitu saja dengan kesibukan mereka yang baru setelah drama itu mencapai akhir cerita. Beberapa sih yang masih sering berhubungan, namun itu hanya sebatas mantan rekan kerja. Hidupnya membosankan, terus harus berpura-pura sesuai dengan tuntutan kerja. Menjadi orang lain, karakter yg berbeda, yang bukan dirinya. Ia butuh seseorang yang mengerti dirinya sepenuhnya. Membutuhkan orang yang bisa selalu ada untuknya. Dan kebutuhan itu terpenuhi, setelah ada nya Woobin. Jongsuk juga tidak mengerti sebenarnya ada apa yang salah, entah itu salah dirinya, atau ada sesuatu dalam diri Woobin. Tapi yang pasti, Jongsuk punya perhatian lebih pada Woobin. Perhatian yang tidak pernah ia berikan pada orang lain.

"f(x) akan melakukan comeback mereka! Bagaimana kau dengan Krystal? Dulu kalian main sitcom bareng, dan banyak fans yang menyukai kalian," usul sang manager.

"Aku tak mau, jangan yang aneh-aneh begitu," jawab Jongsuk, lalu menutup tablet dan mengembalikannya ke sang manager.

"Yakin? Kupikir kau tertarik dengannya," ucap sang manager bertanya-tanya.

"Itu dulu, sekarang sudah tidak," jawab Jongsuk, "lagi pula dia juga idol, akan sangat sulit berhubungan dengan idol yang berada di bawah agency besar itu." ucap Jongsuk agak menyindir.

"Hmm.. Yasudah, atau dengan Kim Jiwon?" ucap sang manager lagi, terus memberikan calon gadis yang menurutnya cocok.

"Sirro," jawab Jongsuk agak kesal, ia memalingkan pandangannya ke luar jendela.

"Bagaimana kalaauu..."

"Hentikan, aku tak mau dengar lagi, tolong." ucap Jongsuk tak tahan.

"Arraa..." Jawab sang manager, lalu kembali sibuk dengan gadgetnya itu.

'Woobin, dimana kau sekarang?' Benak Jongsuk terus menanyakan Woobin. Hanya Woobin yang bisa menjadi mood buster dirinya. Jadwal seperti ini selalu membuatnya pusing, apa lagi sang manager yang selalu ngomel dengan berita dirinya dan Woobin. Jongsuk benar-benar tidak mengerti. Bahkan CEO agency nya juga membicarakan tentang hal tersebut. Banyak sekali yang menentang hubungan mereka. Tapi Jongsuk tidak mau berpisah dengan Woobin.

Pikiran Jongsuk terus melayang, berputar putar yang hanya mengelilingi satu hal, Kim Woobin 'Ahh kenapa aku seperti ini? Mungkinkah benar? Apa ini yang namanya cinta?..'

1 Bulan kemudian.

Jungsuk POV

Aku berjalan kembali di lorong ini. Lorong yang sama seperti sebelumnya. Menuju apartemenku. Sudah satu minggu lebih sejak aku pindah kesini. Apaertemen yang lebih besar, dan nyaman. Pemandangan kota seoul terpampang di tiap kaca jendela apaertemen ini. 'Nitt Nitt Nitt' suara bunyi tombol-tombol angka yang kutekan berbunyi.

'satu-tiga-nol-enam-nol-dua' tombol-tombol angka itu kutekan secara berurut. Angka-angka yang bila dideretkan menjadi angka-angka sangat penting buatku. 'kelekk' pintu apartemenku langsung terbuka, belum sempat ku tekan tombol terakhir itu. Ada orang didalam, pasti! Kataku dalam hati.

Aku tergesa-gesa melihat siapa yang di dalam. Seharusnyakan tidak ada orang. Apa tadi pagi aku lupa menguncinya? Tidak mungkin.

Aku melepas sepatuku, tanganku menempel di dinding menahan keseimbangan tubuhku. Aku segera berjalan cepat, suara bisingan televisi terdengar sampai ke telingaku. Aku menoleh ke sebelah kanan tempat televisi itu berada, dan seseorang disana mengejutkanku dengan keberadannya, ia sedang duduk dibalik sofa, membelakangiku, hanya uraian rambut hitam saja yang terlihat.

"Woobin?"

"Oo.. Chagii, kau dari mana saja, aku kangen"

"Ne? Harusnya aku yang bertanya, kenapa kau ada disini? Bukannya kau masih di pulau Jeju ?"

"Beberapa scene di Jeju dibatalkan, jadi aku langsung segera pulang."

Wajahku yang tadi menegang segera berubah menjadi santai.

"Wae? Kau tidak senang?" Woobin bertanya kepadaku dengan wajah yang terlihat bingung.

"Ani," jawab ku santai. Aku segera berjalan ke lemari pendingin. Membukanya, dan mengambil botol dingin disana. Air segar itu menyapu bersih dahagaku.

"Lalu? Kenapa mukamu seperti itu?"

Aku menoleh ke arah Woobin. Disaat Woobin sudah berdiri, siap menghampiriku. Paras tubuhnya berhasil membuat botol ditanganku itu terjatuh. Tubuh bidang dan otot-ototnya itu terlihat jelas. Celana trouser abu-abu membalut kakinya. Sejak bulan lalu, Woobin semakin gencar melakukan aktivitas gym-nya. Paras tubuh tingginya itu benar-benar menggiurkan.

Aku cepat-cepat mengembalikan jiwa-jiwaku yang sempat meloncat berhamburan tadi. Mengambil botol yang jatuh, dan membersihkan air yang tertumpah pada baju kemeja dan celanaku.

"Chagii, waeyo? Kau kenapa?" Woobin berjalan kearahku. Cepat-cepat aku mengambil lap dan segera berjongkok mengelap tumpahan air itu. Aku tidak mau tertangkap basah disaat wajahku memerah dengan hanya melihat tubuhnya.

"Chagii.. Waee, katakan apa yang salah denganku?" Woobin kini sudah ada dibelakangku. Aku sadar akan kehadirannya, namun tentu kuhiraukan dirinya. Beberapa detik kemudian tidak ada suara. Hanya suara percakapan drama televisi yang mengisi keheningan udara.

Sstt..

Sesuatu menlingkar diperutku. Tangan-tangan itu menarikku keatas. "Yaakk Woobin, apa yang kau lakukan?!" Kini Woobin sedang mengangkatku. Tangan-tangannya yang kuat melingkar dan mengangkat seluruh tubuhku. Ia berjalan sambil membopongku disamping tubuhnya, menidurkanku di sofa dan memberi tatapan tajamnya.

"Waeyo? Katakan apa salahku?"

Aku tidak bisa menatap langsung wajah Woobin. Tatapan mata tajamnya benar-benar membuat tubuhku memanas. "Eumm.. Tidak tau," jawabku acuh.

Butir mataku dapat melihat, ada senyuman terpapar diwajahnya. Aku dapat merasakan jarak antar wajahnya dan wajahku sudah menjauh. Akupun menolehkan kembali wajahku ke arah depan.

Chu~
Dengan kecepatan kilat, bibir Woobin menyambar bibirku. Ciumannya agak kasar dan menggebu, membuat aku tak berdaya. Sesak nafas aku dibuatnya, sampai-sampai tanpa pikir panjang aku menendang dan mendorong tubuh telanjang dadanya itu.

"Aigoo" eluh Woobin. Ia memegang daerah kemaluannya. Sepertinya tendanganku salah sasaran.

"Yakk! Waee? Kau mau membuatku mandul?" seru Woobin.

Aku merasa agak bersalah. Memang keras tendanganku tadi, namun gengsiku membuat aku mengacuhkannya. "Salahmu" jawab ku singkat. Aku lalu berjalan menuju kamar, meninggalkannya sendiri.

Aku menutup kembali pintu kamarku. Aku segera berjalan menuju meja kaca didepan. Kukeluarkan seluruh isi kantongku, dan melepaskan arlojiku.

Lalu berjalan meuju kamar mandi, melepaskan seluruh pakaianku dan mengatur keran panas-dinginnya shower air.

Drassshhhhhh...

Suara derasnya air shower yang berjatuhan segera membanjiri seisi ruangan. Air hangat menyentuh dan menelusuri setiap tubuhku. Benar-benar menyegarkan.

Ptt.. Duk~

Chu~
Aku benar-benar kaget. Woobin, sejak kapan dia masuk ke kamar mandi? Sial aku lupa mengunci pintunya, kebiasaanku memang. Tanganku terkunci, tubuhku bertolak dengan dinding. Bibirnyaa...

Hangatt..

Aku rinduu..

Sudah hampir lima hari Woobin tidak disini, dan selama itu pula aku selalu sendirian. Kalau dipikir-pikir, kita belum benar-benar bersama berdua di apartemen ini. Baru sekitar 10 hari disini. Lima hari pertama berberes-beres, belum lagi jadwal padat, dan lima hari lainnya Woobin pergi. Saat bertemu kembali malah kejadian memalukan yang kualami. Entah kenapa, tiba-tiba aku menjadi bodoh. Aku sangat merindukan Woobin, tapi aku malu menyatakan. Ciuman ini, aku membutuhkannya.

End of Jongsuk POV

Ckkk~

"Kau membalas ciumanku?" Woobin melepaskan ciumannya.

Jongsuk kembali membuang mukanya, tak berani menatap mata Woobin yang begitu kuat.

Mendapat silent treatment dari Jongsuk, Woobin pun tak menyerah. Ia menyentuh dagu Jongsuk dan mengarahkannya ke depan. Bibir Woobin perlahan terbuka, matanya tidak lepas dari wajah Jongsuk. Suara pelan dan lembut agak serak becek memenuhi telinga Jongsuk.

"Saranghae~ Jongsuki"

Deg.. Senyum manis terpampang di wajah Woobin.

Ini bukan pertama kalinya Jongsuk mendengar kata itu dari mulut Woobin. Bukan pertama kali Woobin menatap Jongsuk sedekat ini dan sambil tersenyum. Namun kata-kata itu selalu berhasil membuat sekujur tubuh Jongsusk merinding hingga lemas.

Woobin dapat merasakan getaran kaki Jongsuk. Woobin menarik pinggang telanjang Jongsuk mendekati tubuhnya, yang juga sudah tak berpakaian. Woobin menahan posisi itu dan perlahan kembali melaha bibir merah muda Jongsuk.

Ciuman panas itu berlangsung lama. Kedua insan itu jelas menyukainya. Alunan suara air dari shower menjadi background suara adegan romantis mereka. Embun di kaca semakin menebal seiring dengan bertambah panasnya ciuman mereka.

...
Woobin mengambil handuk, dan mengacak-acak rambut Jongsuk menggunakannya. Jongsuk hanya berdiri diam, tersenyum melihat Woobin di depannya. "Sudahh keringg" seru Woobin. Jongsuk mencium pipi Woobin, dan lalu berjalan keluar kamar mandi.

Woobin pun mengeringkan tubuhnya, ia membalikan badannya dan menatap dirinya di depan kaca. Merasa sudah cukup Woobinun keluar dari kamar mandi. 'Klekk' suara pintu tertutup.

Woobin menghentikan langkahnya, senyum manis keluar dari bibirnya. Apa yang dipandangnya kini adalah sebuah tempat tidur berukuran king! Berselimutkan putih dan biru tua, warna kesukaanya. Di atas ranjang itu ada hal yang lebih disukainya lagi, bahkan hal yang paling ia cintai. Berbaring disana seperti kado, berbaring sesuatu disana, pita menghiasi bagian atasnya. Manis sekali.

"Welcome back," keluar suara dari sesuatu di atas ranjang itu.

"Jongsuk-aa, neomu sexy," gumam Woobin.

Kini terlentang Jongsuk, tanpa pakaian. Mengenakan dasi merah-biru di lehernya. Celana dalam G-String menghiasi pinggulnya. Bandannya bersender di atas tumpukan bantal. Kakinya lurus tersiilangkan. Tangan kiri menya menggapai bantal disampingnya. Tangan kananya memainkan beberapa helai rambutnya, sambil tersenyum memiringkan kepalanya. Beberapa helai bunga merah bertaburan di atas tempat tidurnya. Ohh yaa.. Juga ada pita merah disana mengikat di kepala Jongsuk.

"Kau suka?" Tanya Jongsuk memberikan senyum menggoda.

"Neomu joaa" sahut Woobin yang langsung melompat ke ranjang.

Sesegera mungkin Jongsuk menurunkan sedikit badannya. Membiarkan Woobin menindih tubuhnya. Ciuman kembali berlanjut, lidah mereka saling berpautan, saliva mereka menyatu membentuk benang-benang saliva. Mereka saling menggigit, menghisap, mencium ganas bibir yang ada di depan mereka itu. Lidah mereka menyatu, nafas mereka beradu. Semua terjadi begitu bergairah.

Jongsuk menghentikan senyumannya, ia segera membalikan tubuh Woobin, sehingga kini Woobin berada dibawahnya. Lidah Jongsuk menjulur, menelusuri lekuk tubuh Woobin. Sampai pada junior, sesuatu yang berharga. Jongsuk tidak sabar untuk melahapnya. Junior itupun langsung masuk kedalam mulut Jongsuk. Melakukan sesuai dengan teknik oral yang ia pelajari saat menonton film gayporn. Jongsuk berhasil membuat mata tajam Woobin menjadi sayu. Mata yang merem-melek itu, sungguh menandakan kenikmatan yang Woobin rasakan.

"Sshh.. Jongsuk ahhh.. Ehhmm.. Sshh.. Sejak kapann kauu.. Errgghh.. Maa..maahirr? Ahhh.."

"Sejak kau tidak ada," jawab Jongsuk singkat langsung melanjutkan oralnya lagi.

"De.. Dengann.. Ssh..sii.. Siapa?"

"Laptopku," jawab Jongsuk lagi.

Woobin tersenyum, pria ini sebenarnya sangat polos. Tidak mungkin kan dia selingkuh selama Woobin pergi. Jongsuk adalah sesuatu paling berharga yang pernah Woobin miliki, begitu juga sebaliknya.

"Sshh.. Ahh.. Jongsukk.. Jongsukkk! Jongsukkii"

Junior Woobin berdenyut, Jongsuk semakin gencar membenamkan wajahnya. Junior Woobin masuk sepenuhnya dimulut Jongsuk, sampai akhirnya cairan putih hangat itu keluar.

Woobin terengah-engah, sedangkan Jongsuk masih menikmati rasa cairan putih itu. Woobin segera menarik tubuh Jongsuk ke atas. Mencium bibirnya, dan membersihkan mulut Jongsuk dengan bibirnya.

"Bolehkan aku membuka kado hadiahku?" tanya Woobin.

Jongsuk menggangguk malu, membuat Woobin semakin tersenyum lebar. Woobin menuju dada Jongsuk. Memainkan kedua nipples Jongsuk. Menggigit, mencubit, menghisap, menekan. Semua dilakukan Woobin untuk membuat Jongsuk semakin terangsang.

Sesuatu di bawah sangat menganggu Woobin. Lebih tepatnya menarik perhatian Woobin. Woobin lalu menuju kebawah, dan sekarang ia sudah berhadapan dengan celana dalam merah ini. Kedua tangannya sudah siap, ketika Woobin melihat ke arah Jongsuk meminta ijin, Jongsuk mengangguk malu.

Terlihat benda itu sudah sangat keras sekali, bergoyang begitu terlepas dari sangkarnya. Terlihat bahagia sekali, pikir Woobin. Tangan Woobin mengocok junior Jongsuk. Semakin cepat dan semakin cepat. Memainkan lubang saluran junior itu, memainkan bola kembarnya, dan tentunya sang batang tubuh. Mulut Woobin sudah menganga, mengulum junior Jongsuk. Ini pertama kalinya untuk Jongsuk, hangat, basah, sensai ini benar-benar sangat sulit dijelaskan. Jongsuk menyukainya.

Tak perlu waktu lama bagi Woobin untuk membuat Jongsuk klimaks. Duarrr! Junior Jongsuk, menembakan cairan mesiunya.

Woobin melaha seluruhnya, memastikan tidak ada satu tetespun terlewat.

"Cepat sekali," ujar Woobin.

Jongsuk tidak memberikan balasan. Mukanya memerah!

Melihat itu Woobin kembali tersenyum, mencium dahi Jongsuk, kedua pipinya, dan bibirnya.

"Saranghaee.." ucap Woobin romantis.

"Nadoo, saranghae.." balas Jongsuk.

Malam itu akhirnya Jongsuk tidur tidak sendiri. Bahkan kekasihnya yang kini sedang memeluknya dibalik hangatnya selimut. Hujan rintik-rintik membuat suasana kota seoul semakin dingin. Hangatnya pelukan kekasih memang yang terbaik. Jongsukpun tertidur dalam senyumnya.

-TBC-

Author lagi demen bangetvsama couple ini. Belom nonton school 2013 atau I hear your voice sih, tp udah nonton High Kick 3.

Reborn of EXO Planet Legend: 12 Guardians masih on progress.. Soalnya adek author si BimBemBom belom selesai sama chap 20 nya, sorry banget yaa readers. Ini sebagai gantinya, author pengen post ini, hihi..

Love you readers,

Leave your comment.

Thanks for reading

-TBC-