Naruto Fanfic © Masashi Kishimoto
Pelangi Impian
By Orange Girls
Hembusan sang bayu menembus sepinya malam, bercengkrama dengan hijaunya daun, menyapa pohon dan rerumputan, mengajaknya menari bersama dalam alunan musik yang hanya mereka yang tahu. Dinaungi dengan ribuan permata yang terhampar pada lembaran hitam nan luas, yang mengatapi padang hijau setinggi mata kaki, membuat iri siapa saja yang melihatnya dan ingin merengkuh indahnya malam itu. Kedatangan sang bayu yang tiba-tiba, yang menentramkan hati setiap insan, selalu membuatnya terlarut lebih jauh ke dalam khayalnya.
"Wush!"
Dalam hitungan detik rambut merah yang awalnya tergerai itu kini menari-nari bersama sang bayu. Balutan perban di kepalanya sengaja ia lepas agar rambutnya bisa bernafas, ikut menikmati malam ini. Pemiliknya seakan sangat menikmatinya, ia pun kemudian berdiri, menutup matanya, dan merentangkan kedua tangannya, tangan kiri masih memegang perban yang belakangan ini menjadi mahkotanya, merasakan hembusan sang bayu yang seolah bisa menusuk sampai ke sumsum tulang. "Inilah keindahan alam. Damai sekali," seru Gadis yang mempunyai warna rambut seperti cabai merah sambil membuka mata perlahan dan menghadap ke lautan bintang diatasnya. Ia pun kembali menutup matanya. Mencoba merasakan dan mendengarkan apa yang sedang alam bisikkan padanya.
Dua helai kain biru yang menutup tubuhnya, yang didapat karena menolong tetangganya kemarin, tidak mengurangi apapun, bahkan gadis itu seakan semakin menyatu dengan alam disekitarnya. Bagai satu kesatuan dalam lukian Yang Maha Kuasa. So beautiful, so match, and so peacefull.
Tapi keadaan ini terusik oleh derap langkah seseorang, derap langkah yang berasal dari belakang gadis berambut merah itu. 'Dari arah rumah sakit. Ah, sepertinya suster itu telah menemukan ku,' ucap Kushina sembari membuka sebelah matanya dengan malas, lalu menutupnya kembali. Tiba-tiba tubuhnya terasa dibalik dengan paksa oleh seseorang. Ntah siapa itu, tidak begitu jelas. Dan…
"Plak"
Sebuah tamparan sukses mendarat dengan mulus dipipi kirinya. Kushina kaget bukan kepalang. Kedamaian yang ada tadi tiba-tiba sirna tak berbekas, kini kedamaian itu telah terbang bersama perban yang berada di tangan kirinya yang terlepas karena kaget akan tamparan yang tiba-tiba mendarat di pipinya, kini peluru amarah siap meluncur, hanya menunggu perintah sang komandan untuk lepas landas.
"Hei! Apa yang kamu laku-," nada tinggi yang sudah siap meluncur dari mulut mungil gadis ini terpaksa terhenti ketika ia melihat bulir-bulir air turun dari mata gadis yang mempunyai iris sehijau klorofil, yang menamparnya tadi. Ia bingung, tak tahu apa yang sedang terjadi. Gadis yang didepannya kini hanya terdiam, menahan tangis, menunduk, dan kedua tangannya masih memegang lengan Kushina.
"Kenapa Sakura-c-chan," iris kelam itu mengecil tiba-tiba, ia masih tak percaya pada kejadian ini. Ia shock.
"Kenapa katamu ha?" jawab Sakura lemah.
Bruk!
Sakura menjatuhkan diri ke tanah, ia lemas, tangannya yang sedari tadi mencengkeram lengan Kushina kini terkulai lemas tak berdaya. Rupanya ia tadi berlari dari rumah menuju rumah sakit Konoha.
'Apa ini, Sakura. Tapi kenapa? Apa dia marah karena aku tidak menghadiri pertandingannya? Tapi tidak perlu seperti ini. Ini keterlaluan.' Batin Kushina berontak tak terima.
"A-apa aku punya salah padamu?" seketika nada Kushina melembut. Ia memang keras kepala, cuek, galak, tapi orang sekeras batu pun tidak akan tega melihat sahabatnya menangis seperti itu di depannya.
"Oke aku minta maaf tidak datang ke pertandingan mu, tapi tolong berhentilah menangis." Kesadaran Kushina kini telah kembali sepenuhnya sepertinya. Ia kini ganti memegang lengan Sakura dengan lembut.
"Baka. Baka. Bakaaaa! Apa kau masih tidak mengerti ha? " Sakura menghempaskan tangan Kushina, dia menangis sekencang-kencangnya lalu terduduk di depan Kushina sambil menutup mukanya dengan tangannya.
"Sa-Sakura chan…" Kushina tidak mengerti apa yang sedang terjadi. Tiba-tiba sahabat barunya itu datang dan menamparnya lalu menangis sejadi-jadinya di depan nya.
"Kau, hiks. Kenapa kau, hiks, tidak memberitahuku, hiks, kalau kau kecelakaan ha? Apa kau tahu aku sangat mengkhawatirkan mu hingga saat aku mendengarnya tanpa pikir panjang aku langsung berlari kemari. Dan, dan kau…" sakura berteriak sekencang-kencangnya.
Tes!
Setetes air mata jatuh tanpa disadari Kushina. Kushina tidak menyangka semua ini karena dirinya, 'A-apa ini? Sakura-chan melakukan ini karena khawatir pada ku. Aku kira selama ini dia tak terlalu memperhatikanku. Sakura-chan…'
"Wussh…" angin datang memecah keheningan yang terjadi antara keduanya. Hanya isak tangis yang terdengar. Kedatangan sang bayu telah menyadarkan Kushina. Kini ia menyeka air matanya, menunduk, dan tersenyum. 'Arigatou Sakura-chan'
"Sudahlah, ayo masuk dulu." Tanpa pikir panjang Kushina meraih tangan Sakura dan merangkulnya untuk dibawa ke kamarnya di rumah sakit.
Sakura menghempaskan tangan Kushina dari tubuhnya.
"Hei, ayo masuk dulu Sakura-chan. Nanti aku jelaskan di dalam," ucap Kushina sambil menundukkan diri dan tersenyum pada Sakura. Tapi itu tidak berhasil.
"Sudahlah, aku tidak butuh penjelasan mu. Atau mungkin selama ini kau tidak menganggapku teman…"
Plak!
Seketika suara Sakura Terhenti secara paksa oleh tamparan di pipi kirinya. Dalam sekejap, iris hijau itu mengecil karena mata nya membelalak dan mendongakkan kepalanya menghadap wajah Kushina yang tertunduk ke bawah, ia masih menatap orang di depannya itu, tak percaya Kushina berlaku seperti itu. 'Tapi yang harusnya marah disini adalah aku, kenapa dia menamparku juga?'
"Jangan pernah bilang kata-kata itu lagi Sakura-chan. Apapun alasannya. Mungkin, kita sering bersaing, tapi kau-kau adalah sahabat bagi ku, jadi," ujar Kushina sambil mengangkat wajahnya, dan terlihat bulir-bulir air tampak di wajahnya "Jadi, jangan pernah mengatakan itu lagi!" kali ini wajah Kushina benar-benar marah. Bahkan ia mengeluarkan suara terkerasnya yang selama ini pernah Sakura dengar.
"Ku-Kushina…" mata Sakura semakin membelalak. Ia sadar apa yang dilakukannya telah membuat orang yang di depannya benar-benar marah, sekarang apa yang harus dilakukannya? Sakura menunduk, ia mulai menyadari betapa sayangnya orang ini padanya, ia menangis sesenggukan dengan menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
"Gomen…"
"Apa kau mau disini semalaman dengan keadaan seperti ini?" nada Kushina melembut, ia mengusap air matanya lalu menatap sahabatnya yang sedang menangis sesenggukan di bawahnya. "Lagi pula, kaki mu pasti sakit habis pertandingan tadi lalu kau berlari kesini." Kushina menurunkan nada bicara sembari memandang sahabatnya itu dengan senyum manisnya.
Deg!
"Ikou Sakura-chan. Disini sudah mulai dingin," ucap Kushina sembari mengulurkan tangannya pada Sakura. Sakura sudah tidak tahu apa yang akan dia lakukan, dia kini seperti rumput yang bergerak sesuai arah angin.
*.*.*
"Hiks hiks." Masih terdengar isak tangis dari gadis berambut pink itu, tapi sudah tidak seperti di taman belakang rumah sakit tadi. Kini ia sedang duduk di tempat tidur Kushina, sedangkan Kushina duduk di kursi di sebelah tempat tidur.
Kushina lalu beranjak mengambil sesuatu dan menyodorkannya pada Sakura. "Ini. Semoga kau sudah sedikit baikan." Sakura menerimanya dengan malas.
"Minumlah walau seteguk, biar badan mu rileks," ucap Kushina sambil tersenyum.
"Hn." Sakura pun menyeruput sedikit coklat panas itu.
"Habiskan saja. Itu dari Hinata-chan,katanya bisa menghilangkan stress. Tapi aku tidak tahu untuk apa dia membawanya kemari, bahkan aku merasa tenang disini se-"
"Jadi, apa penjelasanmu?" tanya Sakura dengan nada ketus dan langsung mengeluarkan deathglare nya ke Kushina. "Jika penjelasan mu masuk akal, mungkin aku akan mempertimbangkannya"
"Hei hei tenang dulu. Turunkan nada suaramu. Bukankah biasanya aku yang menaikkan nada bicara? Baiklah akan kujelaskan alasan aku hanya memberitahu Hinata. Tapi habiskan dulu coklat itu, nanti kalau kau tak puas dengan jawabanku kau tak sadar mengguyurku dengan coklat panas itu." Sakura pun tersenyum dalam hatinya. Tapi ia tidak mau sahabatnya ini tahu dia tersenyum, bisa turun wibawanya yang sedang marah. 'Dasar anak badung' Ia menuruti perintah Kushina, bukankah ia memang ingin mendengar alasannya.
"Hah," Kushina menyandarkan diri pada kursinya dan menghela nafas panjang sebelum memulai ceritanya.
'Semoga ia bisa menerima alasan ku'
"Apa yang kau pikir akan kau lakukan jika saat itu aku langsung memberi tahumu?" Kushina memulai pembicaraan.
"Tentu aku akan segera datang kema-"
"Nah, justru itu. Aku tahu itu lomba volley itu penting! Dan kamu adalah salah satu pemain terbaik di angkatan kita. Bukankah kita menang? Aku tahu kita pasti menang jika kamu ada disana, bukan disini. Dan lagi pula, volley itu penting juga kan untuk kamu pribadi." Kali ini Kushina mengakhiri kalimatnya sambil menoleh menghadap wajah Sakura.
Deg! 'Apa dia tahu aku naksir Itachi-san?'
"Ya, bukankah kamu ingin menurunkan berat badan mu itu Sakura-chan?"
Speachless Sakura terbengong seketika.
"Hh-Hahahaha…" tiba-tiba tawa renyah keluar dari Sakura.
"Um, Sakura-chan, Daijobouka?" Kushina heran melihat perubahan drastis sikap sahabatnya yang satu ini.
"Pfft. Gomenne Kushina-chan," ucap Sakura sambil menyeka air matanya yang keluar karena ia terlalu banyak tertawa.
"Sebenarnya apa yang terjadi Sakura-chan? Aku tidak mengerti." Kushina terlalu bingung sampai-sampai dia menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Kushina-chan. Maafkan aku ya. Aku janji tidak akan gegabah lagi. Aku akan mendengarkan jawaban mu dulu." mata Sakura menatap kosong pada coklat panas yang ada digenggamannya. "Ternyata kamu peduli ya pada ku. Hontou ni arigatou Kushina-chan," Sakura menatap lekat mata yang suram itu, lalu menangis lagi karena menyesali perbuatannya tadi.
Hup!
Tiba-tiba Sakura sudah mendarat dalam pelukan Kushina.
Duk!
"Auch. Apa yang kau lakukan Kushi-"
"Itu balasan karena kau menampar ku tadi. setidaknya kalau mau menampar kasih tahu dulu, biar aku tidak kaget seperti itu. Tapi, aku juga sangat berterimakasih karena kau telah melakukan semua ini karena kau peduli padaku. Arigaotu Sakura-chan." Untuk beberapa saat mereka terlarut dalam suasana yang mengharukan itu.
"Hahahaha…"
Akhirnya terdengar tawa dari kedua sahabat itu, tawa itu kini telah bersama sang bayu terbawa sampai ke taman belakang rumah sakit dan menyapa sebuah tas kecil berwarna merah yang tergeletak tak jauh dari tempat Sakura menampar Kushina tadi.
"Mmm, ternyata suara berisik tadi memang suara mu Kushina-chan. Apa kau lupa ini rumah sakit?" omel seorang suster yang tiba-tiba masuk untuk memeriksa Kushina.
"Hehe, gomenne Shizune-san. Aku selalu lupa dimana tempat ku berada," jawab Kushina sambil mengeluarkan sedikit lidahnya dan memandang kearah Shizune.
"Ara-ara." Suster itu menggelengkan kepala tak tahan melihat kelakuan pasien yang dianggapnya khusus ini. Khusus karena dia harus mengeluarkan tenaga ekstra untuk merawat gadis yang satu ini. "Nah, kau melepas perban mu lagi Kushina-chan? Berapa kali harus ku bilang kau sedang dalam perawatan?" alih-alih sangat gemesnya Shizune, ia langsung mencubit pipi Kushina.
"Shimat-"
"Harus berapa kali aku bilang ini rumah sakit." Alhasil tangan Shizune berhasil membekap mulut Kushina. "Ya, baiklah, untung daya penyembuhan dirimu cepat," ucap Shizune sambil melepas tangannya dari mulut Kushina dan memandang heran pada gadis yang ada di ranjang.
"Dia Sakura, sahabatku."
"Perkenalkan aku Sakura, Haruno Sakura. Yoroshiku Onegashimasu," Sakura membungkuk, "Em, maaf jika kami mengganggu pasien lain. Sekali lagi maaf." Sakura masih membungkukkan badan.
"Ya sudahlah, kamu tidak usah seperti itu. Lagi pula pasien disini sudah terbiasa dengannya." Lirikan tajam tak luput dialamatkan ke Kushina.
"Baiklah, mungkin ini sudah larut, aku mohon ijin." Sakura turun dari ranjang dan merapikan pakaiannya yang acak-acakan.
"Yah, pulang. Ya sudah, hati-hati dijalan ya." Ucap Kushina sambil memeluk sahabatnya itu.
"Jaa ne," ujar Sakura sambil melangkah keluar dan menutup pintu diikuti lambaian tangan Kushina.
"Baiklah, sekarang naiklah ke tempat tidurmu dan istirahatlah." Perintah Shizune.
"Wakatta" jawab Kushina singkat. Mata Kushina tak pernah lepas dari sosok berbaju serba putih yang menemaninya saat ini.
"Apa yang mau kau tanyakan?" ujar Shizune tanpa melihat Kushina dan sambil membereskan meja sisa makan malam Kushina.
"Sugoi, apa orang tuamu dulu dukun?" Shizune hanya tersenyum mendengarnya.
"Hei, Shizune-san. Bukankah aku besok sudah boleh ke sekolah?"
"Tidak." Jawab Shizune enteng sambil menutup gorden.
"Tapi kau bilang daya penyembuhanku cepat!" protes Kushina.
"Sebenarnya jika perban mu tidak kamu lepas-lepas teurs mungkin besok kau bisa kesekolah."
"Tapi Ibuku akan khawatir jika aku tidak ke sekolah dan pulang besok."
"Baiklah, kau hanya boleh pulang dan ke sekolah hanya jika kau memakai perban selama 3 hari."
"Hontou ni? Yatta," sorak Kushina dan langsung menutup matanya ketika Shizune memasang deathglare untuknya.
"Ok. Sekarang cepat keluar supaya aku bisa cepat tidaur," ujar Kushina sambil mendorong Shizune keluar.
"Hei hei, aku bisa keluar sendiri. 'Ah anak ini'. Ya sudahlah. Istirahat yang cukup, dan ingat pesanku tadi."
"Wakatta," jawab Kushina di depan pintu.
"Jaa."
"Jaa ne" wajah Kushina langsung berseri-seri mendengarnya. Ia yang penting bisa pulang dan bertemu teman-teman. 'Yippi' teriak Kushina dalam hati. 'Oh kami-sama, aku lupa pada Neko-chan dan anak-anaknya. Bagaimana ini? Baiklah, besok sepulang sekolah akan aku bawakan kue ikan sebagai tanda maaf ku. Lebih baik aku lekas tidur agar besok bisa cepat bertemu Ibu, teman-teman, dan neko-chan. Ah, siapa tahu juga bisa bertemu…' wajah Kushina memerah seketika memikirkan pemuda bermata laut yang telah menolongnya.
*.*.*
"Ohayo Neko-chan. Nih aku bawakan kue ikan kesukaanmu." Minato mengeluarkan kue ikan dari kantung, lalu jongkok, dan memberikannya pada kucing itu.
"Meaw"
"Bagaimana kabar mu? Sehatkan? Ah, sekarang aku jadi bicara dengan kucing dan menganggapnya orang. Sepertinya penyakit gadis itu mulai menyebar."
"Meaw"
"Sepertinya kau paham apa yang aku bicarakan Neko-chan, jangan bilang-bilang gadis itu ya," ucap Minato sembari mengusap-usap tubuh kucing itu. Neko tidak menghiraukan pemuda itu dan malah sibuk memakan kue ikan.
"Baiklah, aku pergi dulu. Jaa Neko-chan," ujar Minato sambil berdiri
"Meaaw." Seperginya Minato, neko chan membawa sisa kue ikan tadi ke anak-anaknya yang berada di balik semak-semak. Terlihat 3 ekor kucing yang serupa dengan Neko tapi dalam ukuran mini sedang asyik berebut makanan.
*.*.*
"Ohayo minna," ucap Kushina saat mau memasuki kelasnya.
Duak!
"Auuw. Apa apaan ini…" langkah Kushina terhenti di depan pintu kelas.
"Kau kan hari ini piket. Kenapa datang siang? Ayo cepat lakukan kewajibanmu." Sergap Ino. Sang ketua kelas yang dikenal paling cerewet sepanjang sejarah.
"Ha~i' nenek cerewet."
Sset!
"Sudah aku saja yang menggantikan Kushina hari ini." Tiba-tiba Sakura menyambar sapu yang ditodongkan Ino kepada Kushina.
"Ara ara. Memangnya kau mimpi apa semalam sampai mau menggantikan ku piket?" Kushina jengkel karena dianggap lemah lalu berkacak pinggang di depan Sakura. "Berikan itu pada ku"
"Sudah kamu duduk saja…" sapu yang dipegang Sakura pun sekarang sudah pindah ke tangan Kushina.
"Jangan meremehkan aku. Bwee."
"Baiklah terserah kamu. Padahal ini hal yang jarang loh," ucap Sakura sambil berlalu menuju tempat duduknya yang berada di bagian belakang. Sakura lalu mengeluarkan buku mata pelajaran pagi ini. Bukannya membaca buku itu, Sakura malah tenggelam dalam lamunannya. 'Minato Namikaze, who are you? You are mysterious boy. Who are you?' [Hei, kau sudah naksir Itachi, kenapa sekarang naksir Minato juga? Dasar rakus!]
'Arigatou Sakura-chan'
"Sudah cepat kerjakan. Jangan melamun." Ino pun melayangkan kemoceng ke kepala Kushina untuk membangunkan Kushina dari lamunannya.
Wing Wing
Tiba-tiba Kushina merasa pusing dan hampir terjatuh jika seseorang tidak memeganginya dari belakang. Kushina yang masih sedikit pusing sambil memegang kepalanya, berusaha membalikkan tubuhnya.
"Ariga…" mulut Kushina seakan mogok bicara ketika dia melihat sepasang mata biru menatapnya.
'Bukankah dia yang menolong ku kemarin? Kenapa dia ada disini? Apa dia murid pindahan?'
"Daijoubuka?" sapa orang itu pada Kushina yang sekaligus membangunkannya dari lamunannya.
"Ha-hai'. Daijoubuyo. Arigatou."
"Kushina, kau tidak apa-apa? Apa aku tadi memukulmu terlalu keras? Aku tadi hanya…" tanya Ino.
Hinata yang baru datang heran melihat Kushina yang sudah masuk sekolah.
"Kushina-chan, kamu baik-baik saja? Kok sudah seko…"
"Aku baik-baik saja Ino, Hinata. Bukan salahmu Ino. Aku hanya pusing, mungkin masuk angin. Maklum tadi malam habis bantu Ibu." Jawab Kushina dengan tersenyum pada Ino.
"Be-benar?" tanya Ino yang merasa bersalah.
"Bukankah aku yang paling tahu kondisi tubuh ku? Lagipula bukankah kau tahu aku ini kuat? Hahaha" Kushina tersenyum untuk menghilangkan kekhawatiran Ino.
"Sou ka. Tapi apa tidak sebaiknya kamu ke…"
"Hei, aku sudah bilang kan, aku tidak apa-apa."
Sementara itu…
"Bolehkah aku menitipkan ini padamu? Nanti tolong berikan ke Kushina-chan ya," ucap Minato sambil menyerahkan sebuah bingkisan berwarna biru pada Kankuro yang sedang sibuk dengan bonekanya.
"Hai', taruh saja disitu. Nanti aku berikan," jawab Kankuro sembari masih berkutat memperbaiki bonekanya yang dirusak kakaknya semalam.
"Arigatou."
"Doh itashimasta. Tapi kenapa tidak kau berikan langsung saja onii-." Ketika kankuro ingin mengetahui siapa yang memberikannya dengan mendongakkan kepalanya Minato sudah menghilang. "Eh, kemana perginya orang itu? Aneh!" Kankuro yang tidak mengerti cuek dan melanjutkan masuk ke dunianya sendiri.
'Kushina Uzumaki, gadis yang kuat dan banyak teman' melihat banyak orang yang mengkhawatirkannya dan sayang pada Kushina, pemuda bermata laut itu pun menghilang. 'Kau pasti akan baik-baik saja dengan memiliki teman sebanyak itu' pemuda itu tersenyum senang sambil berjalan meninggalkan kelas Kushina dan menuju kelasnya.
"Weits. Kapan kau pulang Minato-san." Kiba yang tiba-tiba datang dari belakang langsung merangkul Minato.
"Baru tadi pagi," ujar Minato sambil melepas rangkulan Kiba.
"Wah, dank au langsung masuk sekolah. Wow, pria hebat. Bukankah Tokyo dan Konoha itu lumayan jauh?" Kiba berpikir keras. "Kau naik apa memangnya?"
"Apa kau benar-benar mempercayai perkataan Minato, Kiba. Jika iya berarti kau harus mendaftar lagi di SD Konoha."
"O genki desuka Itachi-san. Kau masih tetap kritis ya." Tanpa berbalik pun Minato sudah tahu pasti itu Itachi. Dan ketika berbalik memang itu Itachi. Senyum Minato pun melayangkan senyum khas nya pada manusia yang selalu membawa buku kecil kemanapun dia pergi.
"Jika pun benar aku mempercayainya, bukankah tak seharusnya kau berkata seperti itu Itachi-sama." Wajah Kiba dipasang sejelek-jeleknya saat menghadap Itachi.
"Dan kau masih tetap suka mengerjai Kiba. Minato-san," ucap Itachi sambil membetulkan letak kacamatanya dan menghadap Minato.
"Hei hei, setidaknya dengarkan aku Itachi." Kiba jengkel.
"Apa kau sudah dapat surat cinta lagi Itachi-san?"
"Hal yang tidak penting jangan dibicarakan. Ayo masuk kelas." Itachi mendahului masuk kelas.
"Ikou." Minato mengekor dibelakang Itachi sambil tersenyum.
"Hei! Apa kalian tidak melihatku? Aku tadi bicara dengan kalian. Simatta! Aku dicuekin!" Kiba yang jengkel melakukan demo mogok masuk ke kelas.
"Jika kau tidak segera masuk, maka kau rasakan sendiri apa yang akan dilakukan Orochimaru sensei lakukan padamu." Itachi ambil bicara sambil membetulkan kacamatanya yang tidak melorot dan masih tetap memandang buku.
"Kenapa aku harus selalu mendengar kata-kata yang menyeramkan seperti itu dari mu Itachi-san. Apa kau tidak mengatakan yang lebih lembut." Kiba yang kalah akhirnya mengekor juga masuk ke kelas.
"Apa aku harus berlaku seperti wanita kelinci?" Kiba lalu membayangkan Itachi memakai pakaian kelinci.
'Tidaaaakk. Itachi mana mungkin senista itu'
Duak! Minato memukul Kiba dengan Buku yang pelajaran yang akan dibahas hari ini.
"Jangan berpikir yang aneh-aneh Kiba. Apa kau tidak lihat Itachi siap melemparmu dengan buku yang dipegangnya?" Minato ambil bagian.
"Tapi kau memukulku dengan buku yang lebih besar Minato-san." Keluh Kiba dengan memajukan mulutnya.
"Sekarang kau yang lebih mirip wanita kelinci Kiba." Itachi mengeluarkan suara masih dengan membaca buku kecilnya.
'Tidaaaaaaakk. Apa aku senista itu?' Kiba sudah berteriak-teriak dalam hatinya.
Minato dan Itachi salaing berpandangan dan, "Hahaha…" Itachi dan Minato tertawa kecil bersama melihat ekspresi aneh Kiba.
Teeeeet!
Bel tanda mulai pelajaran
"Ayo semua kita masuk," ajak Hinata sambil menggandeng tangan Kushina.
Kushina menoleh ke belakang, memastikan apakah pria itu ikut masuk di dalam kelas atau tidak.
'Ternyata ia memang bukan murid pindahan di kelas ini. Lalu kenapa dia ada disini dan memakai seragam sekolah ini? Kalau kakak kelas, kenapa aku tidak pernah bertemu dengannya selama ini? Ah, ya sudahlah. Aku yakin, bintang dan bulan akan bertemu disaat yang tepat.'
*.*.TBC*.*.
Silakhan tinggalkan jejak kawan** jika sudah membaca…^^
Huaah, akhirnya selesai juga…
Maaf chapter kali ini sedikit terlambat. Banyak yang meraung minta dikerjakan di duta (dunia nyata) saya. Gomennasai minna-san. #menunduk
Nah, aku mau berterimakasih pada para reviewer yang bersedia meniggalkan bekasnya dan tidak log in, jadi aku membalasnya disini.
Yang pertama Nadeshikou Sakura, terimakasih, masukan darimu sangat berguna. Saat itu saking semangatnya aku sampai lupa memberi "TBC" di akhir. :D gomenne…^^
Berikutnya U. Icha-chan, atas request mu chapter ini aku buat lebih panjang, jika kurang panjang harap lapor petugas. #plak
Oya, Madura ya? Aku juga punya teman disana. Memang tinggal di desa itu menyenangkan.^^
Lalu, Guest, maaf ya lama. Terimakasih review nya..^^
Selanjutnya Bolang FFN, yap, tapi maaf, aku belum bisa mengenalkan Minato pada Kushina. Tunggu aja, ok?^^
Dan yang terakhir, Ryu Hana, Ara ara… jangan bawa-bawa nama itu di sini. Kuso! #mukul pake bantal Apakah benar Itachi menyukai Kushina? Hahaha Lihat saja nanti.
Over all,
Arigatou minna-san, aku akan berjuang supaya chapter selanjutnya segera release. Ganbattetebayo…^^
Tinggalkan jejakmu disini kawan…^^
