Naruto Fanfic © Masashi Kishimoto
Pelangi Impian chapter 4
By Orange Girls
Warning : AU, OOC, gaje, abal-abal, typo(s), informal style, short story
Pair : MinaKushi/ItaKushi, MinaSaku/ItaSaku
Don't like Don't Read. Simple!
Happy reading minna~ ^.^
"Ugh," rintih Kushina sambil memegangi kepalanya. "Dimana aku?"
"Kamu di UKS," jawab seorang wanita dengan memakai baju serba putih terlihat sedang menulis sesuatu di meja, membelakangi Kushina.
"Ugh," Kushina mencoba untuk bangkit dari posisi tidurnya.
"Jangan banyak bergerak dulu, kepalamu masih belum menerima." Kushina mengenali suara itu. 'Itu suara milik Tsunade-sama'
"Apa yang terjadi dengan ku Tsunade-sama?" tanya Kushina sembari berusaha duduk dan memegangi kepalanya. Tsunade kini menghadap Kushina dan memandangnya.
"Kau tak ingat?" Tsunade menatap Kushina dalam.
"Ada apa? Kenapa kau melihat ku seperti itu? Jangan melihatku seperti itu, nanti kau jatuh cinta pada ku, bisa repot aku Tsunade-sama." Kushina heran melihat senseinya di ekskul PMR-Tsunade-melihatnya dengan tatapan aneh.
Sudah 1 bulan ini Kushina bergabung dengan ekskul itu untuk mengisi waktu luangnya dan dalam waktu yang relatif singkat itu dia mampu dekat dengan Tsunade-sama, pembimbing di ekskul itu sekaligus guru Biologi di SMA Konoha. Jarang ada orang yang begitu dekat dengan Tsunade-sama.
Flash Back On
Hari pertama MOS di SMA Konoha, Kushina yang biasa tidur-tiduran di bawah pohon saat di sekolahnya dulu dan mengulangi kebiasaannya di SMA barunya itu merasa terganggu dengan suara jatuh sesuatu yang berat. 'Apa itu?' Kushina bangkit dari posisi menyender pohon dan berlari ketika menyadari ada seseorang yang jatuh.
"Hei, Hei, kenapa kamu?" Kushina menggoyang-goyangkan wajah dan menepuk-nepuk pipi pemuda itu. 'Itachi,'Kushina membaca tulisan di baju Itachi. 'Dari pakaiannya, sepertinya ia salah satu murid disini.' gumam Kushina. "Hei, sadarlah." 'Aduh, aku harus memeriksanya, tapi, ugh, kenapa dia harus cowok sih. Tapi menolong orang harus tidak pandang bulu.' Kushina meyakinkan diri dan melanjutkan dengan mendekatkan telinga ke dada Itachi, Deg. Deg. Deg. Kushina tidak konsentrasi. 'Haish, ada apa dengan ku? Kalau tidak segera ditolong akan fatal.' Kushina menutup mata dan berkonsentrasi. 'Normal,' lalu Kushina memegang tangan kanan Itachi dan mencari pembuluh nadi, 'Ada, tapi lemah. Kemungkinan dia kecapaian.' Kushina lalu merangkul Itachi dan membawanya ke bawah pohon tempatnya tadi.
"Huah, berat juga cowok ini." Kushina mengelap keringatnya sembari memandang pemuda itu. 'Hm, tampan juga pemuda ini.' Kushina tersenyum memandang pemuda itu. "Kami-sama, aku harus memanggil bantuan." Kushina lalu melihat sekeliling. Pada saat itu Kushina melihat siswa-siswi sedang berkumpul ramai di suatu ruangan, Kushina ingin melihat ruangan apa itu, agar lebih jelas ia memicingkan mata, 'UKS!' merasa tertolong Kushina bergegas berlari ke sana.
Meskipun di UKS sedang ramai tapi Kushina tidak peduli. Dia langsung memegang tangan orang yang terlihat paling dewasa di tempat itu dan langsung menariknya. "Sensei Tsunade, aku mohon bantuan. Cepat ikut aku."
Meskipun tidak mengenalnya, namun Tsunade tahu anak ini tidak main-main, terlihat dari ekspresi wajahnya. "Ambil dragbar dan peralatan P3K lalu ikuti aku!" perintah Tsunade pada kohai-nya. "Hai'," jawab kohai nya serentak dan dengan cekatan mengambil barang-barang perintah Tsunade.
Jarak UKS dengan tempat Itachi tak sadarkan diri hanya dibatasi dengan hamparan luas rumput lapangan sepak bola. Dengan ini, tidak memakan waktu lama untuk sampai ke sana. Sampainya di lokasi, Tsunade langsung melakukan pemeriksaan pertama seperti yang dilakukan Kushina tadi.
"Pertama kali aku menemukannya, nafasnya masih normal, tapi nadinya lemah. Mungkin dia kecapaian atau dia terkena Typus." Terang Kushina pada Tsunade tanpa disuruh.
'Anak ini. Dia tahu apa yang harus dilakukan pertama kali dalam menolong orang dan analisa nya juga tepat. Itachi memang kelelahan dan sepertinya mengidap gejala Typus'
"Cepat bawa dia ke UKS! Keadaanya lemah. Dia juga sedikit demam. Langsung kompres sampai di UKS!" Perintah Tsunade pada dua Koha- nya yang sedari tadi mengekor di belakang Tsunade. "Hai'," jawab mereka serempak.
"Terimakasih bantuannya. Tindakanmu tepat. Kalau penanganan terlambat mungkin keadaan Itachi akan semakin memburuk. Jika ada waktu, sepulang sekolah datanglah ke UKS, ada yang ingin aku bicarakan denganmu. Aku harus pergi dulu, dia sangat lemah."
"Hai'. Maaf merepotkan sensei," jawab Kushina. Tsunade lalu berlari dengan jubah yang berkibar diterpa angin.
'Keren,' gumam Kushina. 'Aku ingin menjadi seperti dia'
Di UKS sepulang sekolah.
"Permisi."
"Silahkan masuk," jawab seseorang dengan jubah putih yang membelakangi pintu masuk. Kushina lalu melepas sepatunya dan mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan itu. Ada beberapa gambar Organ tubuh manusia, tes mata, dan pemandangan tergantung dalam ruangan serba putih itu. Alat pengukur berat badan terletak di sebelah meja yang mirip meja resepsionis, karena ada buku besar yang berisi daftar pengunjung disana. Ada kursi yang disediakan untuk pengunjung dan petugas di meja resepsionis itu. Juga terlihat almari yang sepertinya berisi barang-barang atau mungkin alat-alat kesehatan. Tidak begitu jelas, karena Kushina memang belum mengenal alat-alat itu. Juga terlihat 4 tempat tidur yang digunakan untuk menampung pasien. 4 tempat tidur itu bersekat sebuah papan yang di cat putih, sekilas seperti tembok, disanalah tergantung alat pengukur tinggi badan. 'Ruangan ini cukup luas dan dengan peralatan yang selengkap ini, pasti UKS ini adalah salah satu unit terpenting dalam sekolah ini,dan orang ini, pasti dia bukan orang sembarangan.' lamun Kushina dalam pikirannya.
"Duduklah." Perintah Tsunade-sama yang sudah duduk terlebih dulu di depan meja yang mirip meja resepsionis tadi. Kushina pun menurut. "Siapa nama mu?"
"Kushina, Uzumaki Kushina. Mm, bagaimana keadaan pemuda tadi sensei?"
"Dia sudah baik-baik saja. Tadi setelah keadaanya membaik dia minta pulang. Bukankah harusnya kamu mengenalnya? Dia kan panitia dalam acara MOS tahun ini." Kushina malu mendengarnya.
"Maaf sensei, aku kurang memperhatikan." Muka Kushina memerah seketika.
"Sudahlah itu tidak penting. Yang mau aku tanyakan adalah, maukah kau bergabung dengan ekskul PMR saat pemilihan ekskul nanti? Meskipun ini mendadak tapi aku pikir kau sangat berbakat dalam hal ini. Terbukti dari kejadian tadi, kau sigap dan analisa mu tadi untuk pemula aku rasa sangat baik. Apa kau pernah bergabung dalam organisasi atau ekskul seperti ini di sekolahmu dulu?"
"Tidak sensei, aku belum pernah mengikuti hal-hal yang seperti itu sebelumnya. Tapi aku suka dengan hal-hal seperti ini. Aku sering memperhatikan teman ku yang tergabung dalam ekskul PMR dan sedikit mempelajarinya dari sana."
"Sayang sekali dulu kau tidak bergabung dengan PMR, akan lebih mudah jika kau bergabung, tapi kau bisa memulainya disini. Aku rasa tidak masalah dengan sikap mu tadi."
Seketika terlintas bayangan Tsunade dengan jubah putih berkibar saat melewati lapangan tadi. "Baiklah sensei. Aku akan bergabung." Kushina menjawab dengan tegas. Mereka berdua pun bersalaman.
"Kushina-chan, apakah kita pernah bertemu sebelumnya?" Tsunade merasa seperti pernah bertemu Kushina saat bersalaman tadi.
"Apa iya sensei? Kalau sensei berkata begitu karena aku tahu nama sensei, itu karena aku melihat nama sensei tertera di jubah putih sensei."
"Bukan itu. Ah, mungkin aku salah, lupakan saja."
"Kalau begitu, aku permisi sensei."
Tsunade masih melihat Kushina, mengikuti setiap gerakan Kushina, masih ada yang mengganjal dengan Kushina. "Sensei, Terimakasih telah membantu semuanya," ucap Kushina saat mau meninggalkan UKS dan tersenyum.
Deg!
Anak ini…
"Senpai, Arigatou. Terimakasih telah membantu semuanya. Hontou ni Arigatou," ucap seorang anak kecil yang menangis sesenggukan karena teman-temannya telah melewati masa kritis.
Kejadian itu berawal ketika sekelompok anak kecil bermain di pinggir sungai dan tiba-tiba anak itu datang. Anak itu datang dengan senang karena diperbolehkan bermain oleh orang tuanya, tapi, Bruk! Dia terjatuh dan merusak istana serta tempat bermain anak-anak itu. Sekelompok anak itu lalu mendorong anak yang baru datang itu lalu mengolok-olok nya. Karena tidak tahan, akhirnya anak itu mendorong mereka yang mengejeknya dan Byur! Anak-anak itu tercebur ke sungai. Anak itu langsung berlari meninggalkan tempat itu. Sebenarnya ia berlari ke rumah dan memanggil Ibunya untuk minta tolong. Ibunya langsung mengirim mereka ke rumah sakit.
Saat itu Tsunade sedang berdebat dengan Ibunya tentang penjurusan. Tsunade ingin mengambil IPS, tapi Ibunya menyuruh mengambil IPA karena Tsunade lah yang akan melanjutkan mengelola rumah sakit -tiba Ibunya ada panggilan mendadak tentang 3 anak yang sedang kritis karena tercebur ke sungai, Tsunade akhirnya menunggu Ibunya sampai selesai. Selesai dari pekerjaannya, Ibunya mendapat ucapan terimakasih dari anak kecil yang menangis dari tadi. Mendengar perkataan seorang anak yang tulus minta maaf pada Ibunya, Tsunade pun akhirnya menuruti kata-kata Ibunya. Ia yang awalnya tidak begitu berniat mengelola rumah sakit Ibunya, kini Ia berjanji akan mengelolanya dengan baik agar rumah sakit itu dapat terus menolong orang dan dirinya juga dapat selalu menolong orang dimanapun ia berada. Tsunade adalah orang berjiwa sosial, ia tidak bisa memungkirnya, akhirnya, meskipun ada "Dr." dalam namanya, namun ia tetap mengabdikan diri menjadi guru dan sorenya masih bisa ke rumah sakit.
"Jadi kau… anak yang waktu itu. Anak yang tangguh. Aku salut padamu yang masih mau menolong orang yang telah menyakitimu." Senyum Tsunade melayang mengantarkan Kushina menghilang dari pandangannya. Sejak saat itu, Kushina dan Tsunade terlihat sangat akrab. Meskipun ketika Tsunade menceritakan hal itu, Kushina sama sekali tidak ingat, yang ia tahu masa kecilnya adalah di Tokyo setelah diajak ayahnya pindah ke sana. Bagi Tsunade, tak apa Kushina tak ingat, tapi Tsunade tahu anak di rumah sakit itu dan Kushina adalah orang yang sama.
Flash Back Off
"Jangan bercanda terus. Sekarang apa yang kau lakukan? Ceritakan padaku kenapa kau bisa sampai seperti ini."
"Jangan terlalu serius sensei. Sudahlah sensei, aku tidak apa-apa. Ini hanya pusing biasa."
"Kau bukan orang yang pingsan hanya karena pusing biasa. Kalau mau cari alasan yang logis!"
"Aduh, sakit." Tiba-tiba Kushina memegang kepalanya.
"Kau tidak apa-apa Kushina?" Tsunade segera memegangi pundak Kushina.
"Ya, aku hanya tidak kuat mendengar bentakan mu barusan."
"Ch, masih jga bercanda. Kalau kau tidak mau cerita, biar aku yang cerita. Kemarin di rumah sakit Konoha ada seorang gadis yang mengalami kecelakaan dan kepalanya membentur tiang listrik, lalu…"
"Baiklah, berbohong pada mu pun tidak ada gunanya. Kemarin aku menolong anak kecil yang hampir tertabrak motor. Tapi kata senpai Shizune-san aku sedah boleh keluar kok karena-"
"Baka! Bukankah kau ingat kepalamu itu juga pernah membentur sehingga kau lupa dengan…"
"Sudah, jangan diungkit-ungkit lagi sensei. Kali ini aku akan mematuhi mu."
"Hah, baiklah keras kepala. Kau harus disini sampai pelajaran selesai."
"Ha~i," jawab Kushina malas. "Sebelum sensei pergi mengajar, aku mau tanya bagaimana aku bisa disini!"
"Hm…"
Flash Back On
Jam olah raga kali ini, kelas Kushina, X-D bersama dengan kelas XI-A2, kelas Itachi dan tentu kelas Minato juga. Dengan hanya 1 guru olah raga, Guy sensei, maka pembelajaran olah raga pun diikuti 2 kelas sekaligus.
"Lari mengelilingi lapangan 3x putaran untuk putra, dan 2x putaran untuk putri." Guy sensei memberi instruksi dengan berkacak pinggang dan senyum mengembangnya.
"Tapi ini panas sekali sensei-Guy." Teriak Ino dari belakang barisan.
"Kau benar Ino-chan. Karena hari ini panas maka putra lari 5x dan putri lari 4x. Semangat masa muda! Hahaha." Guy sensei melayangkan senyum 1000 Watt nya pada Ino.
"Haaa!" teriak semua murid serempak. Dan setelah itu semua serempak melirik Ino.
"He. He. Gomenasai minna." Ino langsung lari tunggang langgang lebih dulu, takut dengan muka seram teman-temannya.
"Ino!" semua pun akhirnya mengejar Ino. Dan berkat Ino, semua berhasil menyelesaikan perintah Guy sensei dalam waktu singkat.
"Bagus! Sekarang berbaris. Bapak akan adakan pertandingan bola voli. Tim nya bapak yang tentukan." Guy melihat daftar tim yang telah dibuatnya tadi selagi mengamati murid-muridnya pemanasan. "Tim pertama Dari kelas XI A2 Minato, Kiba, Temari dan dari kelas X-D Kushina, Hinata, dan Chouji. Melawan tim kedua dari kelas XI A2 Itachi, Tenten, Gaara dan dari kelas X-D Sakura, Kankurou, dan Ino. Permainan terdiri dari 2 set. Siap di posisi masing-masing. Tapi dimana Minato?"
"Anu sensei, dia masih di toilet. Mungkin sebentar lagi kemari," jawab Kiba dengan lantang mendengar Itachi adalah lawannya. 'Akan ku balas kau hari ini Itachi. Hahaha.'
"Baiklah, yang lain silahkan menuju lapangan." Teriak Guy sensei lantang.
'Aku, aku satu tim dengan Itachi senpai. Aku tidak boleh kalah. Harus ku tunjukkan seluruh kemampuan ku.' Batin Sakura senang. Pipi Sakura kini hampir menyerupai udang yang matang.
"Hei Sakura, jangan melamun saja. Ayo segera ke lapangan, pangeranmu sudah menunggu." Goda ino sembari berlari menuju tempat pertandingan.
"Si-siapa yang kau bicarakan itu Ino-chan." Sakura pun berlari mengejar Ino.
Deg. Deg. Deg.
'Aduh, kenapa aku ini? pokoknya aku harus menunjukkan seluruh kemampuan ku. Aku tidak boleh terlihat bodoh dihadapan Itachi senpai.' Batin Sakura on fire.
'Itachi senpai lawan ku, berarti dia di depan ku, melihat ku. Wah, bagaimana ini?' jantung Kushina berdetak lebih cepat, sekilas Kushina melihat Sakura, wajahnya bersemu-semu merah saat memandang Itachi yang berada di depannya. 'Souka, Sakuran-chan. Aku juga akan berjuang sepertimu. Aku tidak akan kalah.'
"Kalian Siaaap!" teriak Kiba "Ayo kita kalahkan si kacamata sok keren itu!" Kiba menuding dengan bangga ke arah Itachi.
"Dengan semangatmu yang seperti itu kau jadi lebih mirip Guy sensei, Kiba!" ujar Minato yang tiba-tiba datang dari belakang.
"Ka-kau." Kushina tergagap melihat Minato.
"Hai Kushina-chan. Bagaimana kesehatanmu?" sapa Minato pada Kushina sambil tersenyum.
'Bukankah itu pemuda yang kemarin menunjukkan jalan ke rumah sakit? Apa dia teman Kushina? Tapi, Kushina kelihatannya juga kaget dengan kehadirannya. Lalu?' banyak pertanyaan yang menggelayut dalam benak Sakura.
"Da-daijobou-ttebane." Jawab Kushina tergagap, ia tak menyangka akan melihat bintangnya di siang hari seperti ini.
"Hoi, sudah datang terlambat masih tebar pesona kau dengan wanita. Cepat ke posisi mu, kali ini kita akan mengalahkan si kacamata dan si rambut jambu itu. Gila! Masa pertandingan lawan kelas X waktu penerimaan siswa baru kemarin kelas XI kalah. Kali ini mari kita buktikan." Kiba terlihat sangat semangat kali ini.
"Jangan banyak membual Kiba." Itachi siap men-serven bola.
Priiiiitt! Peluit tanda di mulainya pertandingan nyaring terdengar.
Duk!
Bola voli dengan lincahnya berpindah tangan, dari grub satu ke grub lainnya. Poin yang di dapat ke dua tim saling susul-menyusul. Di akhir babak pertama tim Kiba lah yang lebih dulu mencapai nilai 25 dan dinyatakan sebagai pemenang.
"Hha. Seharusnya kau membuang kacamata mu itu sebelum melawan ku. Haha!" Kiba merasa di atas angin sekarang.
"Priitt." Babak kedua pun dimulai.
Persaingan yang ketat masih terlihat disini. Sepertinya semua terbawa emosi. Tapi semua masih berusaha bermain dengan sehat, meskipun sesekali Kiba terlihat menguji kesabaran tim Itachi dengan bualan-bualannya yang tak perlu. Tak ada yang melarangnya, malah Kiba terlihat menikmatinya. Tapi Kiba harus menelan bualan-bualannya tadi, ketika tim Itachi sedikit demi sedikit menyusul perolehan poin tim nya, kini perolehan 24-24.
"Deuce" teriak Guy sensei dari kursi juri.
Bola berikutnya didapat oleh tim Itachi karena Minato menserven terlalu keras sehingga out, dan tim Itachi lah yang mendapat poin. Bola terakhir. "Duk! Masuk! Set 2, over. Tim Itachi menang oleh smash yang cermat dari Sakura." Guy sensei memberi pengumuman yang membuat Kiba tercekat.
"Ehem." Terdengar Itachi yang batuk dibuat-buat untuk menyadarkan Kiba dari lamunannya. Senyum tipis terpampang disana, senyum puas karena telah bisa membungkam mulut besar Kiba. "Kerja bagus Sakura." Itachi menepuk pundak Sakura dengan tersenyum.
"Ha-Hai' senpai." Sakura menjawab dengan malu-malu. Kini dalam hatinya sedang berpesta pora merayakannya. Belum pernah dia sedekat ini dengan Itachi senpai.
"Kau mau pamer? Kau belum menang Itachi." Kiba geram melihat tingkah laku Itachi yang terlihat sombong, padahal dengan bualannya dari tadi, ini tidak ada apa-apanya.
"Dasar Itachi! Masih saja menggoda Kiba." Minato mengarahkan pandangannya ke Itachi lalu menggelengkan kepala. Itachi yang tahu apa maksud dari Minato pun tersenyum, seakan bilang, 'Tidak apa-apa. Aku tidak akan memukul kepala anjing, hanya menjitak kepalanya agar tahu diri.' {Poor you Kiba diibaratkan anjing, actually, memang mirip. :D}
"Huh, huh." Kushina memegang kepalanya lagi. Kepalanya terasa sakit lagi karena tadi badannya bertubrukan dengan Chouji dan tersungkur sehingga kepalanya terbentur tiang tadi saat akan menampik bola.
"Daijobouka Kushina-chan?" tanya Hinata sambil memegangi punggung Kushina.
"Daijobou-ttebane." Kushina memaksakan diri menoleh ke Hinata dan tersenyum.
"Tapi Kushina-chan…"
"Time out Guy sensei." Teriak Minato yang mendengar percakapan Kushina dan Hinata.
"Hah? Apa kata mu Minato? Aku masih bersemangat." Protes Kiba.
"Kita bisa memikirkan strategi Kiba, bukankah kau ingin menang?" jawab Minato cerdas.
"Time out sensei!" tiba-tiba Kiba dengan lantang mengulangi kata-kata Minato.
"Baiklah, time out 5 menit" Guy sensei memberi instruksi.
Di bawah pohon tempat tim Kiba berkumpul
"Baiklah, aku sudah memikirkan strateginya. Aku dan Temari berada di depan sebagai blocker, karena kami yang lebih tinggi disini. Minato dibelakang, sebagai libero, menjangkau bola yang melambung, dan mempertahankan bola. Kushina, nanti kau di tengah, sebagai smasher, berusahalah memukul bola sebanyak mungkin, kembalikan semua bola mereka, smash lah kalau memungkinkan. Hinata dan Chouji di kanan dan kiri, sebagai set upper, jangan sampai lengah Couji." Terang Kiba serius.
"Um, apakah Kushina baik-baik saja di tengah?"
"Tidak apa-apa Hinata-chan." Kushina tersenyum pada Hinata, dia tidak mau membuat semangat Kiba senpai padam karena dirinya yang sakit.
'Kushina, apa benar kau tidak apa-apa?' batin Minato.
Priiiitt! Babak ketiga pun dimulai. Ini adalah babak yang penting bagi Kiba, seluruh harga dirinya di depan si kacamata, Itachi, dipertaruhkan di sini.
Kushina masih berusaha kuat bertahan, tapi sang raja siang seakan tak bersahabat hari ini.
"Ambil Ino." Teriak tenten. Ino pun mengambil bola yang sedang melambung dan mengarahkannya ke tengah.
"Kushina!" semua orang berteriak ketika tahu bola itu mengarah ke Kushina yang sedang tidak fit.
Kushina melihat setiap pergerakan bola itu. Kini posisi bola itu sudah berada di atas. Tidak terlihat karena tertutup oleh silaunya matahari. Dan…
Duk! bola mengenai kepala Kushina. Bola voli melayang kembali ke daerah lawan.
"Maafkan aku senpai Kiba." Ucap Kushina lirih, lalu di detik berikutnya dia sudah berada di dekapan Minato yang sedari tadi memperhatikan gerak-gerik Kushina.
"Aku akan membawanya ke UKS sensei." Minato segera menggendong Kushina.
'Jadi Minato senpai menyukai Kushina-chan? Kali ini aku tidak punya kesempatan. Biarlah. Mungkin perasaan ku padanya hanya penasaran saja.' Batin Sakura yang sedari tadi mengamati Minato.
'Kushina-chan, kenapa tidak mendengarkan omongan ku. Kalau terjadi apa-apa dengan mu bagaimana? Kau selalu berkata tidak apa-apa, tapi badan mu tidak kuat.' Hinata hampir menangis melihat keadaan sahabatnya ini.
"Ya, cepat Minato." Teriak Guy sensei dari kursi juri yang sedang berusaha turun.
Teriakan Guy sensei membangunkan Hinata dan Sakura dari lamunannya. Hinata dan Sakura mengikuti Minato dan teman-teman yang lainnya yang membawa Kushina ke UKS.
'A-apa yang dikatakan gadis itu? Dia berjuang demi agar aku tidak kecewa? Baka!' omel Kiba dalam hati. Kini dentuman bola yang beradu dengan tanah terdengar sangat keras di telinga Kiba. Kiba speechless, dia tidak bisa mengatakan apapun lagi.
"Bukan salah mu Kiba-san." Tiba-tiba Itachi sudah berada di belakangnya dan memegang pundak Kiba seperti tahu apa yang ada dipikirannya. "Mungkin Kushina belum sarapan tadi pagi. Ayo kita belikan sesuatu."
"Itachi-san…" Mata Kiba mulai berair,tiba-tiba dari punggung Itachi keluar sayap putih, Itachi yang dihadapannya kini berubah jadi malaikat.
"Apa gara-gara ini kau sudah mau menangis?"
Duak! Kepala Kiba terkena bola yang entah datangnya dari mana. "Ternyata masih saja Mr. cuek." Sayap Itachi kini telah terbelah menjadi dua. Kiba memasang wajah jeleknya lagi. {Sebenarnya tidak usah dipasang wajah jelek, sudah jelek kok. :p}
Flash Back Off
"Setelah itu, semua ku suruh kembali ke kelas karena pelajaran selanjutnya telah dimulai." Jelas Tsunade sambil membereskan sesuatu.
"Sou ka. Aku samar-samar ingat." Tiba-tiba wajah Kushina memerah.
"Kenapa wajahmu memerah seperti itu? Apa kau ingat saat di gendong Minato?" Tsunade kini malah menggoda Kushina.
"Sensei!"
"Ara-ara, jangan galak-galak pada ku. Sekarang kau minum obat ini, dan istirahat sampai aku kembali. Ketika aku kembali dan kau masih berkeliaran, awas, tak ada ampun untukmu." Tsunade kini memasang wajah paling menyeramkan sedunia di tambah kepalan tangannya.
"Ha-hai'," jawab Kushina ngeri.
"Ittakimasu. Ingat pesan ku Kushina-chan"
"Hai' sensei." Jawab Kushina pasrah.
'UKS ini sunyi sekali, hm, aku harus menjadikannya tidak se-sepi ini.' sepertinya Kushina punya rencana besar kali ini. hati-hati dengan kohai-mu yang satu ini Tsunade sama.
Kushina dengan hati-hati membuka jendela dan melompat turun. Sesekali ia menoleh ke kanan dan ke kiri untuk memastikan apakah ada yang melihatnya atau tidak. Bisa terancam nyawanya kalau ada yang melihatnya dan melaporkannya pada Tsunade-sama. Membayangkannya saja sudah membuat bulu kuduk berdiri.
Hup!
Kushina berhasil melompat pagar sekolah tanpa diketahui oleh seorang pun. Letak pagar belakang sekolah berada di samping pohon tempat Kushina biasa tidur, jadi ia sudah mengetahui seluk-beluk keadaan pagar belakang sekolahnya itu. Ia bisa memanjat pohon, lalu melompat turun. Di seberang sana, ada tempat sampah permanen milik sekolahnya. Ia bisa menjadikannya pajatan saat turun. Tempat yang perfect bagi seorang Kushina yang bandel sekali. Untungnya Kami-sama sedang melindunginya hari ini. Kushina segera berlari menuju rumahnya. Tapi sepertinya ia bukan mau pulang, tapi…
"Ohayo Neko-chan. Maaf ya sudah meninggalkanmu selama ini." Kushina ternyata pergi menemui sahabatnya yang lain. "Baiklah, sebagai permintaan maaf ku, akan ku bawa kau ke suatu tempat." Kushina dengan sigap menggendong Neko-chan, tapi kucing itu berontak dan turun lagi.
"Ada apa Neko-chan? Kau tak mau ikut dengan ku?" Kushina merasa aneh dengan Neko. 'Apa dia marah?'
Neko-chan kemudian berjalan menuju semak-semak dengan sesekali menoleh ke Kushina. Kushina yang mengerti langsung mengikuti Neko.
"Ya ampun, kenapa aku bisa lupa dengan anak-anak mu." Kushina kemudian berlari keluar sebentar dan mencari sesuatu yang bisa dijadikan wadah. "Nah, plastik hitam ini sempurna!" pekik Kushina senang.
"Ikou Neko-chan dan Neko junior." Kushina segera membawa mereka kembali ke sekolah.
"Hup! Ye. Aku berhasil lagi." Kushina mendarat dengan lancar.
"Apa nya yang berhasil Kushina-chan." Wajah seram Kotetsu yang memergoki Kushina langsung menghadang.
"Hiyaaaa! Kotetsu sensei bikin kaget saja. I-ini, aku disuruh membeli ikan o-oleh Tsunade sama-ttebane."
"Ikan apa yang bergerak-gerak seperti itu?" Kotetsu tetap curiga pada Kushina. Ia tidak bisa percaya untuk apa Tsunade menyuruhnya membeli ikan?
"I-i." Kushina tidak bisa melanjutkan kata-katanya. 'Aduh, ikan apa yang bergerak-gerak terus?' tiba-tiba kushina melihat bendera ikan yang mengibar-ngibar. 'Tentu saja! Kenapa tidak terpikir oleh ku.'
"Ikan Lele dong. Sensei Kotetsu belum pernah masak ya. Ikan Lele, meskipun telah di bunuh, tapi masih tetap bisa bergerak-gerak." Jelas Kushina.
"So-souka. Tentu saja aku tahu. Apa kau kira aku bodoh?" 'Untung saja hanya kepergok guru yang baka' Kushina menari dalam hatinya.
"Kalau begitu aku permisi dulu sensei, keburu amis nih." Kushina yang merasa menang segera kabur sebelum Kotetsu menyadari apa yang terjadi.
"Lele?" Kotetsu masih sedikit bingung dengan penjelasan Kushina. Tapi karena tidak mau dianggap bodoh, ia membiarkan saja Kushina lewat.
Kushina selamat. Kini ia hanya harus memikirkan bagaimana caranya menyimpan Kucing ini dengan rapih. "Hm, di sini sebentar ya Neko-chan dan Neko junior." Kushina mempersiapkan kotak kardus bekas air mineral yang ia dapat di kantin dan satu lagi ember bekas cat dari penjaga sekolah untuk menampung hasil ekskresi kucing-kucingnya.
"Dengan ini selesai. Aku bisa tidur." Kushina pun berbaring lagi "Oy Neko-chan, apa kau tahu bagaimana jatuh cinta? Pasti kau tahu. Kau kan sudah pernah punya anak. Tapi, apa kau tahu bagaimana cara membedakan Jatuh cinta dan hanya kagum? Hm, aku rasa kedua hal itu hampir sama"
Neko tidak menjawab karena sudah terlelap dengan Neko junior. "Baiklah, akan ku pikir sendiri."
'Minato-san, ah, perasaan apa ini? ini hampir sama ketika aku mendengar nama ku disebut Itachi-senpai, tapi beda, ini sedikit, sedikit lebih menyenangkan. Seperti ada suntikan endorphin ketika aku memikirkannya. Minato-san.' Kushina berbaring dengan senyum-senyum sendiri. 'Eh, tapi kenapa aku memikirknnya? Dia bukan siapa-siapa ku. Tapi kenapa dia selalu membantuku? Apa dia… Sadar Kushina. Mana mungkin seorang Namikaze menyukai gadis sepertimu.' Kini Kushina memukuli dirinya sendiri.
"Tapi bukankah tidak apa-apa memikirkan orang yang telah banyak menolongku. Pokoknya aku harus membalas budi nya."
'Arigatou Minato-san' Kushina akhirnya tertidur dengan memikirkan senyum Minato yang khas itu.
*.*TBC*.*
Yeah, update kilat chapter 4 ini sengaja untuk menebus keterlambatan chapter 3 kemarin dan melengkapi permintaan Aika Light Youichi, FlashRedPolka, Angelina. , dan chan(Aisyatul faizah)
Gomenasai minna-san. #menunduk
Jangan terlalu malas untuk meninggalkan jejak disini ya, ejekan dan cacian di tunggu untuk menyempurnakan fic ini. =)
Arigatou buat reader yang udah mau meluangkan waktunya untuk membaca dan me-review fic ini.
Semoga para silent reader juga berkenan membacanya.
Arigatou minna-san. ^^
Chapter-chapter selanjutnya mungkin sedikit-sedikit akan terbongkar rahasia-rahasia percintaan anak SMA Konoha ini. Sekian! Maaf jika ceritanya tidak berkenan atau sesuai dengan imajinasi reader sekalian, karena cerita ini memang hanya sesuai alur ku sendiri. Bofth.
