Naruto Fanfic © Masashi Kishimoto
Pelangi Impian chapter 5
By Orange girls
Warning : AU, OOC, Gaje, Abal-abal, Typo(s), informal short story
Pair : MinaKushi/ItaKushi, MinaSaku/ItaSaku
Happy Reading minna~ ^.^
"Klik!"
Suara khas yang keluar ketika Nana membuka handphone kesayangannya menyeruak memenuhi ruangan sepi serba putih sekitar 5x5m itu. Satu menit, dua menit, nothings happen. Tak ada yang terjadi. Hanya pandangan mata Nana yang tak bisa lepas dari layar handphone-nya itu. Selalu, hal ini selalu terjadi meskipun disaat saat sepenting apapun, pasti kesadaran Nana akan terhenti sejenak. Layar handphone-nya sudah seperti pintu gerbang ke dunia lain yang siap membawa Nana memasuki dunia 2 tahun lalu ketika ia baru pulang tiba di desa ini. Ya, hari pertama, pertemuan pertama, perasaan aneh pertama. Entah mengapa hal yang serba kebetulan itu dapat menghipnotis kesadarannya. Indahnya Orchestra alam saat itu serta efek sang bayu yang seakan ingin mengangkatnya menuju sosok itu. Sosok yang berhasil mencuri separuh kesadaran Nana.
'Kamu…' Nana mulai mengusap layar handphone-nya. 'Siapa kamu hei. Kenapa aku serasa sudah mengenalmu padahal sosokmu saja tidak jelas.'
"Meooww…"
"Nande Neko-chan?" Nana menjawab dengan malas tanpa melihat ke kucingnya.
"Meoooww…" kali ini Neko-chan meloncat ke perut Nana.
Nana yang kaget langsung meletakkan handphone-nya dan mengatur posisi duduk "Ara-ara. Baiklah Neko-cha~n. sekarang apa maumu?"
"Meoow.." neko chan turun dari pangkuan. "Meoww.." melihat ke Nana. Lalu kucing itu terus berjalan dengan sesekali melihat ke Nana.
"Jadi kau ingin aku mengikutimu? Baiklah." Nana pun beranjak turun dari tempat tidurnya.
'Dasar kucing aneh. Palingan juga melihat cicak dan ingin aku menangkapnya.'
"Meoow.."
"Iya iya.. Aku mengikuti mu.. Sebenarnya apa yang mau kau perlihatkan? Cicak lagi? Ah males ah."
Neko terus berjalan menuju pintu UKS. Setibanya disana dia duduk disamping pintu itu.
"Meooww.."
"Apa maksudmu kucing gendut?" Nana akhrinya menggendong kucing itu karena gemas dengan tingkah lakunya.
"Meoooww.." Kucing itu meraung raung turun dan menuju pintu. Sesekali dia melihat ke Nana. Begitu terus selama beberapa menit. Nana bingung.
"Sebenarnya apa yang mau kau lakukan ha?" Nana mulai berkacak pinggang melihat kelalakuan kucing itu.
Karena kesal majikannya yang katanya pintar itu tidak mengerti apa yang diinginkannya akhirnya dia menggaruk garuk pintu UKS.
"Eh eh eh Neko. Dilarang merusak fasilitas sekolah. Ah kau ini." Nana menggendong Neko. Memarahinya dengan menarik-narik kumisnya gemas. "Kalau kau mau keluar, ya tinggal bilang saja."
'Bagaimana aku bisa langsung bilang? Kau saja tak peka. Bakayarou.'
Nana membuka pintu dan melihat bola baseball. Neko yang senang melihat bola, langsung turun dari gendongan Nana dan bermain dengan bola baseball itu.
"Are? Jadi karena bola ini dia merengek keluar? Dasar. Sini kembalikan bolanya. Itu bukan bola milikmu." Nana merebut bola yang dimainkan Neko.
"Meow meow meow."
"Tidak boleh, ini bukan punya mu." Nana mengangkat bola itu tinggi agar Neko cerdas itu tidak bisa mengambilnya.
Tiba-tiba…
"A~ah. Untung kau menemukan bola ku."
'Suara ini…' pemilik mata biru yang sangat indah. Sesaat waktu terasa berhenti. Gerakan si mata biru seakan berada di film action, slow motion. Aa~h, Nana terhanyut.
"Oi Nana-chan. O genki desuka?"
"Ee~h…" Nana mengenali nya.
"Kau pikir aku penyakitan? Aku tidak sakit! Namikaze baka!" pertanyaan Minato bukan membuat Nana tersipu tapi malah membuat Nana merasa tersinggung. Itulah yang menyebabkan kesadarannya kembali.
"Hahaha"
"Eh, kenapa kau tertawa konoyarou? Ada yang salah dengan ku?"
Minato hanya tersenyum. "Nope. Hanya ingin mengambil…bola yang kau pegang." Dengan sedikit meninggikan badannya, ia sudah bisa mengambil bola itu.
"Namikaze baka! Dikatain malah senang. Dasar aneh! Setidaknya jawab pertanyaan ku."
Minato tak menjawab dan malah mengangkat bola yang diambil tadi dan melangkah pergi melewati Kushina.
"Teserah kau lah alien aneh! Ayo Neko." Kushina pun membalikkan badan menuju UKS.
'Aku senang karena jika kau sudah bisa mengejekku itu berarti kau sudah sembuh. Makhluk aneh!' Minato menggumam dalam hati dan tersenyum.
"Eh minato Baka! Kau berhutang satu jawaban padaku. Bersiaplah karena suatu hari akan aku minta pertanggung jawaban mu itu!" Kushina yang masih tidak terima setelah masuk UKS pun nekat kembali dan berteriak hanya untuk memberitahu Minato tentang itu.
Minato yang terlihat punggungnya melambaikan tangan kanannya yang memegang bola.
"Dasar alien baka!" Kushina mengulangi umpatannya lalu menutup pintu UKS sekeras mungkin untuk mendramatisir kejadian itu. Tapi entah mengapa dia senang.
"Kushina kushina. Masih saja tidak berubah. Dasar anak aneh." Minato tersenyum sembari melihat bola yang dipegangnya.
.*.*.*.
Mereka yang bersenang-senang melupakan sesuatu. Back to scene.
Neko point of view
Ketika Kushina mengambil bola Neko-chan. Ketika Kushina terpesona dengan mata indah Minato. Neko masih saja nekat mencoba mengambil bola itu. Dia melonjak lonjak ingin meraih bola yang dipegang Kushina.
'Sedikit lagi…'
Ups. Bola nya diambil si rambut kuning. Ggrrrrr.
"Meooww." Neko mencoba meminta bolanya pada Minato.
'Si rambut Kuning inikan baik juga pada ku. Kalau aku rayu sedikit mungkin…'
"Meooww." Tapi tidak diperhatikan. Dia merasa berada didunia yang berbeda dengan dua orang ini.
"Meow Meow Meow Meow." Neko masih berusaha merayu. Mulai menggelayut di kaki Minato.
'Sebenarnya apa yang kalian bicarakan? Kenapa kalian tak memperhatikan ku?' Neko mulai putus asa.
Dan ketika Kuhsina menggendongnya lalu si rambut Kuning pergi Neko menangis. 'Bolakuuuuuu~~~~'
Sesampainya di dalam Neko langsung menuju salah satu pojok ruangan itu.
'Kochiji-sama sudah tidak saying lagi pada ku…'
"O genki desuka Neko-chan?"
Neko tidak menjawab.
"Kamu kenapa neko-chan?" Kushina mencoba mengelus kucingnya itu.
"Meow!" Neko mencakar tangan Kushina dan kabur.
"Wah wah, kenapa kucing itu. Tadi perasaan baik baik aja. Kenapa bisa berubah gitu. Hah, terserahlah. Nanti kalau lapar juga kembali lagi. Ya sudah, aku kembali ke kelas saja."
'Kushina sudah tidak menyayangiku lagi. Dia lebih memilih cocok rambut jamban itu daripada aku. Baiklah sudah kuputuskan. Cowok rambut jamban itu adalah musuh ku!'
Kini mata Neko berubah menjadi merah. Akankah sharingannya aktif setelah kejadian itu?
.*.*.*.
"Sumimasem sensei," ucap Kushina sambil mengetuk pintu.
"Oh, Uzumaki. Sudah sembuh?" Sensei Orochimaru menjawab tanpa mengalihkan pandangannya pada bukunya.
'Ggrrr. Siapa yang bilang aku sakit? Aku tidak sakit. Hanya gara-gara terkena bola tadi. Aku hanya shock. Jangan sampai imej ku jadi anak penyakitan.'
"Kenapa tidak menjawab? Apa kau masih sakit?" Barulah kali ini Sensei Orochimaru mengarahkan pandangannya ke Kushina.
"Are. Nandemonai. Mana mungkin. Aku tidak sakit sensei. Aku tadi itu hanya shock karena bola itu tiba-tiba manyambar muka ku lalu…" Belum selesai Kushina mengulangi ceritanya sudah dipotong sama Sensei Orochimaru.
"Hai' hai'. Sekarang kamu duduk saja." Sensei Orochimaru menghadapkan wajahnya ke buku kimia-nya.
"Dasar Sensei. Aku kan belum selesai bicara," Gerutu Kushina sembari melangkah ke tempat duduknya.
"Kalau menunggu kamu selesai bicara yang ada nanti jam pelajaran habis Na-na-chan." Sakura yang berada di kursi depan Kushina menanggapi gerutuan Kushina.
"Apa…" Kushina tidak jadi melanjutkan kata-kata nya karena tangannya dicolek hinata yang duduk disebelahnya.
"Sssttt. Sudah Nana-chan, apa kau tidak lihat Orochimaru Sensei melihat kesini dari tadi?" Ucap Hinata dengan sedikit berbisik.
"Hai' Hai' Hime-cha~n." Nana duduk dengan pasrah.
"Nana-chan!"
"Hahaha. Siapa yang mau tomat matang sekarang?"
"Terserah lah!" Hinata memalingkan wajahnya.
Kini wajah Hinata memerah karena dipanggil Hime. Hime adalah panggilan sayangnya dengan seseorang yang amat dikenal Nana. Dengan mengetahui rahasianya itu akhirnya Nana punya bahan untuk menggoda sahabatnya yang cabi itu.
.*.*.*.
Sepulang sekolah di depan ruang PMR
"Siaaaapp Grak!"
Hap!
Suara hentakan kaki serentak yang mengikuti aba-aba.
"Salah satu syarat menjadi anggota PMR resmi adalah mengikuti diklat menjadi PMR Wira*. Untuk itulah kalian saya kumpulkan disini."
Nana penasaran dengan orang yang seperti punya sembelit bertahun-tahun itu berkoar daritadi. Setahunya pembimbing PMR adalah Tsunade Sensei. Akhirnya dia memutuskan untuk bertanya dengan orang yang disebelahnya. "Sstt sstt. Itu siapasih?"
"Kamu tadi 'ga dengerin ya?"
"Aku kan baru datang, tadi ada urusan sebentar."
"Oh, itu Jiraiya Sensei. Dia pembimbing di PMR ini."
"Loh, bukannya pembimbing extra ini adalah Tsunade sensei?"
"Oh, itu, karena terlalu sibuk di Rumah Sakit miliknya, Tsunade-sama mengalihkan kepengurusan PMR aktif pada Jiraiya sensei."
'Jadi wanita itu membohongi ku? Awas saja nanti kalau bertemu!' Kushina geram. Tapi, tapi ia sudah terlanjur masuk, tidak mungkin dia keluar lagi.
'Jangan pernah setengah-setengah dalam menjalani hidup. Apapun pilihan yang kau ambil, jalani itu dengan sepenuh hati. Ibarat kamu masuk kolam renang, sudah terlanjur basah, sama-sama basah. Apakah kamu hanya akan bermain air saja dalam kolam yang besar itu. Atau kamu akan ikut berenang. Menikmati kolam yang besar itu. Kuasai keadaan. Nak, sekarang, sama-sama basah kau pilih mana? Hanya bermain air atau kau akan berenang?'
Kushina terbayang kata-kata ayahnya sewaktu ia kecil yang selalu dijadikan pegangan ketika hatinya sedang ragu. Sekarang ia memantapkan hatinya untuk mengikuti PMR. Dia bisa saja hanya menjadi anggota yang, yah, hanya muncul saat ada acara, atau benar-benar serius mengikuti kegiatan di PMR.
"Tanggung jawab tidak akan salah memilih tuannya." Kini Kushina tersenyum puas. Ia telah menetapkan hati.
"Kau bicara apa?" ucap seseorang disampingnya tadi.
"Nandemonai."
"Haish kau ini. Kalau tidak ada apa-apa diam. Jangan banyak bicara. Tugas kita banyak yang dibacakan. Bantu aku mengingatnya."
"Are? Siap bos!"
Scene selanjutnya hanya tentang Kushina yang bertemu teman-teman yang baru yang beragam. Dari sesi perkenalan yang diadakan senior, Kushina tahu bahwa orang disampingnya tadi bernama Temari. Anak yang rambutnya selalu di kuncir 2 seperti bakpao.
'Mungkin orang tua Temari adalah etnis Cina, masuk akal sih karena Temari mempunyai kulit putih. Tapi sepertinya tidak, bahasa jepangnya fasih sekali. Atau mungkin orang tua Tenten adalah orang jepang yang sangat terobsesi dengan orang Cina. Atau… Aaarrgghh. Kenapa aku jadi memikirkan hal yang seperti ini. Tanya saja orangnya langsung.'
"Hei hei Temari," panggil Kushina pada teman disampingnya dengan mencoleknya menggunakan ujung jari.
Setetes air terbentuk diatas kepala Temari seperti di dalam Manga. 'Apa yang dilakukan anak ini? Dipikir aku Bakpao?'
"Hoi hoi…" Kushina mengulangi perbuatannya.
"Sebenarnya apa yang kau lakukan konoyarou?" Temari mulai geram.
"Are? Aku kaget lo… Aku cuma ingin tahu apakah kau itu orang cina, keturunan cina, atau orang tua mu jepang asli tapi sangat terobsesi dengan orang cina jadi kau didandani seperti itu?"
'Anak ini… Menyebalkan Sekali!'
"Memang kenapa ha? Aku orang Jepang asli, tapi Orang Tua ibuku orang Cina, dan Ibuku sangat menyayanginya, ibuku juga menyayangiku. Makanya dia menyamakan dandanan ku dengannya. Kenapa? Memang ada yang salah?"
"Hoo… Hebaaattt…"
"Are! Kenapa aku jadi membicarakan hal ini padamu? Gggrrrr"
"Hahaha. Kau ternyata orang yang menarik juga Temari."
"Dibilang menarik olehmu lebih baik tidak mendengar apapun. Huh." Temari memalingkan wajahnya. Karena kesamaan sifat, hanya beberapa saat yang lalu mereka berkenalan langsung cocok. 'Seperti sudah berteman lama.'
Ngggg~~
Suasana hening. 'Kenapa dia diam saja? Bisaanya dia akan menjawab dengan lebih…' Temari menghadapkan kepalanya sedikit demi sedikit ke Kushina, takut kalau kalau Kushina menyadari dia meliriknya.
Ternyata Temari mendapati Kushina melihat kesisi gerombolan lain yang juga membuat keributan selain dirinya. "Hoi, apa yang kau lihat? Jangan jangan kau…" Temari tersenyum menyeringai.
Duk! Kushina menggetok kepala temari dengan pensil.
"Jangan bodoh. Kalau kau tahu. Aku dan dia itu seperti anjing dan kucing. Mau aku buktikan?" Kushina menyeringai ke Temari. "Lihat saja dari sini dude."
"Hei Namikaze. Apa yang kau lakukan disini? Jangan jangan kau mengikuti ku ya?" Kushina tidak bisa menahan untuk tidak bertengkar dengan si mata laut itu.
"Ah, anak aneh. Mungkin kau yang mengikuti ku. Aku sudah ikut PMR dari Junior High School, karena itu aku ikut lagi sekarang. Kenapa? Ada masalah?"
"Tentu. Kau merusak pemandanganku." Kushina menaikkan dagunya.
"Apa benar begitu?" Minato memandang lurus ke Kushina.
Rrrtttt
Orang sekitarnya memandang mereka berdua seperti sepasang kucing yang mau berkelahi.
"Kushina. Kushina. Sudahlah, sensei Jiraiya sudah datang." Temari memanggil dengan sedikit berteriak dari tempat duduknya.
Huh!
Kushina memalingkan wajahnya dengan cepat dan menuju tempat duduknya.
"Dasar bocah itu, selalu saja membuat ku jengkel."
"Memang dia melakukan apa padamu?" tanya Temari polos.
"Itu dia.. dia…eh, bukannya dia satu tingkat diatas kita, kenapa dia baru ikut PMR sekarang? Wah, parah sekali anak itu, jangan jangan dia…"
"Sudah diamlah, Jiraiya sensei mau bicara."
"Hn~" Kushina menjawab dengan segan.
"Baiklah semuanya, diklat PMR akan dilaksanakan Sabtu-Minggu Minggu ini. Ini surat ijin kalian. Tolong sampaikan kepada orang tua kalian. Barang-barang apa saja yang harus dibawa dan tidak boleh dibawa semua ada disini. Setelah ini bapak akan membagi kalian menjadi beberapa kelompok."
(Jiraiya Membagikan surat)
"Jadi kau bisa membaca sifat orang dari tulisannya? Baca aku Minato-kun." Seseorang yang duduk disebelahnya berkata pada Minato sambil menyodorkan bukun tulisnya.
"Hmm, ini sih… lumayan sulit. Ada beberapa syarat sebenarnya yang harus di penuhi jika kau ingin dibaca sifatnya."
"Jadi bagaimana?" tanya Inoe sok khawatir.
"Hei kalian berdua? Iya kalian duo rambut blonde, jangan berisik! Minato, harusnya kau mengajari yang lain bersikap baik, bukan sebaliknya!"
"Hyahahaha." Kushina berusaha sekuat tenaga menahan tawanya, tapi apa daya masih saja terdengar. Kushina menjulurkan lidahnya kepada Minato yang duduk tak jauh darinya.
'Dasar anak itu. Sepertinya bahagia sekali. Awas saja kau ya.'
.*.*.*.
Yatta~~ akhirnya selesai juga chapter 5. T.T #menangis bahagia.
Maaf ya readers aku updatenya lama~~ banget. Aku sendiri miris kasihan pada fic ku yang hamper berlumut ini. Gomen yak arena lepi-chan ku kemaren rusak jadi baru bias nulis fic sekarang. Ketika lepi ku sudah sembuh aku langsung kebut lo fic ku ini. #bersyukurbingit
Apasih aku bercuit sana sini. #abaikan
Arigatou buat reader yang udah mau merelakan waktu buat me-review fic abal abal ini. Arigatou juga buat reader yang masih mau mengikuti fic yang mulai berkarat ini. #menunduk
Jangan terlalu malas untuk meninggalkan jejak di fic ini ya. Semoga para silent reader berkenan mulai me-review fic ku ini. =)
Arigatou ne minna-san.. ^.^
