Beneath Your Beautiful

Chapter 6

Lee Jong Suk

Kim Woo Bin

JongWoo - JongBin - WooJong - SukBin

Ini ceritanya si Woobin lagi nemenin Jongsuk yang masih belum sadat di rumah sakit. saat dia nemenin, ceritanya dia inget masa lalunya bersama Jongsuk, soo check it dott..

Ohh ya.. Satu lagii.. HAPPY BIRTHDAY LEE JONGSUK !

enjoy^^

Saat itu aku adalah orang baru. Sekitar 10 tahun yang lalu saat pertama kali aku ikut dalam trainee modelling. Aku berjalan setelah berganti pakaianku yang ke-25 kalinya. Tes photoshoot akhir tahun, menentukan nasibmu kedepannya. Bila kau berhasil memukau para pasang mata yang banyak maunya itu, maka kau akan langsung diambil kontrak.

Aku berjalan kembali menuju set putih di tengah sana. Semua orang sudah bersiap setelah menungguku.

"Heii! Lama sekali! Cepatlah!" si pelatih model itu terus aja berteriak. Dia seorang lelaki bawel, berbadan agak kurus, dan sama sekali tidak terlihat lekuk otot pada tubuhnya. Kulitnya putih, sangat putih, bahkan mengalahkan bintang iklan kosmetik di televisi. Dia sangat peduli dengan penampilannya. Bagaimana bentuk rambutnya, pakaian yang ia kenakan, kecocokan seluruh tubuhnya, make-up wajahnya, bahkan sampai ke hal detail seperti kebanyakan yang dilakukan perempuan. Dia sudah menjadi tranier cukup lama, sekitar 5 tahun. Bisa dibilang, ia yang berkuasa disini.

"Kali ini, kau akan melakukan photoshoot dengan seseorang," ucapnya.

"Seseorang?" tanyaku memincingkan mata, ini pertama kalinya aku melakukan photoshoot dengan partner.

"Dia adalah seniormu, satu tahun lebih dulu darimu, Chairun, panggil orangnya," ucapnya menyuruh Chairun sang asisten yang malang.

Saat itu aku masih sangat muda, dan untuk pertama kalinya bertemu dengan sosok teman sebaya. Aku terlalu fokus dengan dunia modellingku. Sangat sulit untukku bisa berpergian keluar bersama teman sekolah. Bisa dibilang saat itu aku adalah anak paling penyendiri yang pernah ada di kota Seoul. Aku masuk dunia model di umurku yang masih muda, mengikuti latihan dan pembelajaran yang ketat. Aku selalu dilatih sendiri, karena umurku yang masih muda tidak dapat dikategorikan dikelompok manapun.

Dari sebrangku muncul siluet hitam seorang pria dibalik gemilaunya sinar putih dari arah pintu. Dia terlihat lebih tinggi dariku.

"Anyeonghaseyo," sapanya.

Satu yang sangat menarik perhatianku. Disamping wajahnya yang tampan, bibirnya, bibirnya itu sangat mempesona. Warnanya merah, mungil, namun sangat berisi. Bentuk wajah dan setiap inchinya menambah ketamppanan dan daya tariknya. Dia terlihat sangat ramah, dan juga muda.

"Baiklah, kita langsung saja, kita akan foto lebih ceria, dan muda," ucap si bawel itu.

Aku baru sadar, aku sedang dalam pakaian piayama berwarna hijau. Entah apa itu, tapi ada set tempat tidur, bola, dan meja juga kursi.

"Ceritanya kalian akan bersiap untuk tidur dan bangun tidur, gunakan ekspresi wajah kalian, cepat! Cepat! Aku tak punya banyak waktu!" seru si bawel itu lagi sambil menepukkan kedua tangannya.

Anak lelaki tadi itu berjalan kearahku dengan langkah cepat. Ia berpakaian piyama biru muda dengan topi tidur lucu diatas kepalanya.
"Oke, kau yang baju hijau bisa duduk di atas tempat tidur, dan kau yang baju biru bisa duduk diatas bola besar itu," perintah si fotografer.

Akupun segera ke posisiku, begitu juga si anak lelaki itu. Akupun mengeluarkan ekspresi wajahku, dari yang ceria, sampai ekspresi mengantuk. Aku selalu menatap anak lelaki itu sebelum berganti pose. Kita memang baru pertama kali bertemu, namun aku merasa cocok dengannya. Tanpa komunikasi, dan perencanaan sebelumnya, photoshootku dengan lelaki itu berjalan sangat baik.

"Photoshoot selesai! Terima kasih!" ucap sang fotografer itu yang jauh lebih ramah dan sopan dibanding si bawel.

Akupun membungkukkan tubuhku mengucapkan terima kasih pada semua yang bertugas. Aku lalu berjalan ke ruang ganti. Didepan sudah ada wanita yang sering membantuku. Dia adalah asisten si bawel itu, Chairun.

"Hei, melelahkan ya hari ini," ucapnya.

"Iya, si bawel itu bertambah liar saja," balasku lalu memeriksa barang bawaanku.

"Iya, maklumi saja, ehh bagaimana dengan anak itu?"

"Anak mana?"

"Itu, yang tadi photoshoot denganmu,"

"Ohh.. Dia hebat, juga tampan, dan tinggi."

"Dia lebih tinggi darimu Woobin, dan dia seniormu, kalian ini calon top. Photoshoot ini akan menentukan kalian untuk dipromosikan lebih lanjut atau tidak."

"Iya, iyaa.. Aku mengerti, aku ganti baju dulu ya Chairun, temui aku nanti," ucapku sambil membawa pakaianku dan tasku.

"Tentu, aku harus menghadap ke si bawel dulu juga," ucapnya.

Kamipun berpisah dan aku langsung menuju ruang ganti. Ketika aku membuka pintu, didalam ada sesuatu yang mengejutkanku. Buru-buru aku langsung menutup pintunya. Aku tiba-tiba jadi salah tingkah, tadi..

Klekk..

Seseorang yang mengejutkanku itu keluar dari ruang ganti.

"Ehh.." aku kembali salah tingkah, "maa..maaf, tadi aku tidak tau kalau ada orang didalam, dan pintunya tidak dikunci, jadi akuu.."

"Tidak masalah, salahku tidak mengunci pintu, kau bisa pakai sekarang,"

"Baik, terima kasih," aku lalu menundukkan kepala, dan langsung masuk kedalam.

Aku memang sangat sulit sekali berkomunikasi dengan orang lain. Hanya pada keluargaku, dan Chairun saja aku sering berbincang, selebihnya tidak ada. Namun yang ini, tadi ada kecelakaan.

Aku menyadari wajahku memerah ketika aku melihat pantulan diriku dicermin. Tadi, anak lelaki itu sedang berganti pakian, ia sedang tidak berpakaian bahkan tanpa celana dalam. Tak sengaja aku melihat miliknya. Tiba-tiba melihat 'itu' orang yang tak dikenal, yang baru saja menjadi partner kerjamu, itu sangat.. anehkah?

Aku berusaha melupakan apa yang tadi aku lihat, dan kembali fokus dengan pekerjaanku sekarang. Saat aku selesai berganti, aku segera keluar dari ruang ganti. Anak lelaki itu sedang berbincang dengan Chairun. Tamaknya Chairun sangat bahagia, pasti dia senang dapat berbincang dengan lelaki setampan dia. Senyum mengembang diantara keduanya, membuatku sedikit iri. Kapan terakhir aku tersenyum bahagia seperti itu?

Aku lalu segera berjalan keluar dan segera menuju terminal bus. Menunggu bus jurusanku datang.

...

Keesokannya, diterminal yang sama seperti kemarin. Aku mengeluarkan ponsel dan headasetku. Memutar lagu ballad yang aku suka. Aku begitu menikmati alunan lagu itu sampai tiba-tiba aku merasakan ada tangan menyentuh punggungku.

Aku segera menoleh dan melepas headsetku, dan itu ternyata..

"Hei! Busnya sudah datang," ucap seorang lelaki yang ternyata adalah anak lelaki yang kemarin. Ia memaparkan senyumnya dan lalu berjalan memasuki bus. Akupun segera membangunkan diriku dari bengong setelah menatap anak lelaki itu. Akupun ikut berjalan menyusul masuk ke dalam bus.

Seorang nenek sudah duduk disamping anak itu. Aku terdorong oleh sesaknya orang dalam bus ini. Terpaksa aku menunggu sambil berdiri sampai tiba ditujuanku.

Setelah beberapa menit perjalanan, akhirnya bus itu sampai. Akupun segera keluar dari bus dan berjalan memasuki gedung kantor agency. Menaiki lift ke lantai 7 dan segera memasuki ruangan disebelah kanan.

"Akhirnya kau sampai juga, mana yang satu lagi?" si bawel itu ternyata hari ini tepat waktu, pasti ada sesuatu yang penting.

Tak lama si anak lelaki itupun sampai.

"Anyeonghaseyo," sapanya.

"Ya, duduklah," ucap si bawel. "Setelah berbagai pertimbangan, kalian terpilih untuk model yang menjalin kontrak. Majalah high cut kemarin tertarik dengan photoshoot kalian. Hari ini kalian akan langsung photoshoot untuk high cut."

High Cut? Debut? Akhirnya aku akan muncul di majalah yang sesungguhnya! Aku begitu senang, pada akhirnya aku berhasil diterima dan diakui. Aku menoleh ke arah kananku, anak lelaki itu juga terlihat sangat senang. Senyum bahagia dari bibir menggodanya itu terpapar diwajahnya. Maniss...

Setelah beberapa jam bersiap dan langsung melakukan photoshoot aku sangat kelelahan. Walaupun hanya berpose, tapi menunggu, menerima perintah, mengikuti instruksi, memberikan angel dan pose terbaik itu sangat melelahkan.

"Selesai!" ucap si fotografer itu.

Leganyaa.. aku lalu langsung berjalan ke tempat duduk di belakang. Aku segera menyenderkan tubuhku, dan mengebelakangkan kepalaku. Tak lama kemudian, aku dapat merasakan ada bayangan yang menghalangi sinar yang mengenai wajahku.

"Hei! Mau kopi?" ucap anak lelaki itu yang sudah berada di sampingku dengan dua gelas coffelate.

"Terimakasih," balasku setelah menerima segelas coffelatte itu darinya.

"Kau baru?" tanyanya.

"Tidak, aku sudah 3 tahun disini, hanya saja aku tak pernah ikut latihan bersama lainnya." ucapku.

"Loh, kenapa?"

"Tidak, aku hanya lebih suka sendiri," ucapku.

"Begitu, kau lahir tahun berapa?"

"89," jawabku singkat.

"Wah, kita sama," ucapnya.

"Sama? Kupikir kau lebih tua," ucapku terkejut.

"Tidak, aku juga 89, 14 September 1994," ucapnya.

"Ahh, kau bahkan lebih muda, aku 16 July, 98," ucapku.

"Aaaahh, kalau begitu kau hyungku," ucapnya.

"Tidak, kau sunbaeku," balasku.

"Sudah, jangan begitu, kita menggunakan bahasa informal saja bagaimana?"

"Tentu," jawabku singkat.

"Chairunn! Dimana kipas anginku? Aku sangat kepanasan, nyalakan ac nya!" seru si bawel itu begitu kencang.

"Aku sangat tidak menyukai orang itu," ucap anak lelaki ini berbisik padaku.

"Pasti, siapa juga yang suka padanya," balasku berbisik.

Kamipun berdua tertawa terbahak, menilmati kebersamaan kami. Kami saling bercanda tawa dan berbagi pengalaman lucu kami. Sebenarnya dia yang lebih banyak cerita, tentu karena kisah hidupnya jauh lebih menarik dari pada hidupku ini.

Kami begitu menikmati kebersamaan kami. Untuk pertama kalinya aku benar-benar merasa hangat. Aku bertemu dengan seseorang yang bisa kuanggap sebagai teman. Kami terus saja berbincang dan bersama sampai pada di hari yang sama, kami berakhir di temat nongkrong kafe.

"Eh, kita belum berkenalan secara resmi," ucapnya.

"Baiklah, aku akan lebih dulu," ucapku berinisiatif. "Namaku Kim Woobin, aku lahir di Seoul 16 July 89 liners. Aku ingin menjadi top model, dan aku senang bisa ada disini. Selesaii.." ucapku.

"Baiklahh, giliranku, namaku Lee Jongsuk, lagir di Yongin 14 September 89 liners. Cita-citaku menjadi orang yang bahagia dan membagikan kebahagianku pada banyak orang, panggil aku Jongsuk!" ucanya memperkenalkan dirinya. Senyum manis itu kembali terlihat mempesona mataku.

Jongsukk...
Lee Jongsukk..

Itulah hari-hari pertamaku bertemu dengan dirinya. Saat dimana pertama kali Kim Woobin bertemu dengan Lee Jongsuk. Seseorang yang benar-benar mengubah hidupku. Hidupku yang dari tadinya sangat kelam menjadi hidup yang sangat berarti bagiku. Aku jadi tau apa tujuan dan kemauanku dalam hidup ini. Jongsuk..

Nitt... Nitt..
Suara mesin detak jantung terus terdengar.
Aku begitu lelah, air mataku serasa sudah habis mengering. Masa laluku bersama Jongsuk terus terngiang dalam pikiranku. Semuanya kembali terpampang dalam pikiranku. Masa-masa yang begitu bahagia bersama Lee Jongsuk.

Pria yang ada dalam ingatanku itu sangat berbeda dengan sekarang. Pria yang selalu membuatku tersenyum, kini terlihat sangat memelihkan hatiku. Jongsuk sudah terbaring selama dua hari disini. Wajahnya dipenuhi balutan dengan kaki dan tangan juga banyak jahitan di berbagai belahan tubuhnya.

Melihatnya tak berdaya seperti ini membuatku perih. Aku tak tau apa yang harus kulakukan, hanya waktu, waktu yang bisa menjawab. Orang yang menjadi orang terpenting dalam hidupku, kini terbaring masih tak sadarkan diri. Akan jadi apa aku tanpanya? Aku tak tauu.. bila dia menhilang, akan kupastikan aku ikut dengannya menghilang dari dunia ini. Apalah arti hidup? Sesungguhnya untuk apa kita hidup? Aku tidak tau, pikiranku kacau.

Jongsuk.. cepatlah bangun...

...

5 tahun setelah akhirnya kami debut bersama, Jongsuk harus pindah agency. Promosi model Jongsuk lebih baik dariku. Aku begitu kesepian saat itu, kembali menjadi Woobin yang dulu. Persaingan dalam dunia model begitu kuat dan terasa. Banyak orang-orang yang picik dan juga licik, banyak juga yang bermuka dua, ada yang sangat mengganggu, dan banyak yang begitu angkuh. Dunia ini seperti mati rasanya, tak ada hal yang baik dari ini. Satu-satunya kenapa aku terus bertahan karena harapan agar aku bisa menyusul Jongsuk.

Aku masih sempat berkomunikasi dengan Jongsuk lewat jejaring sosial dan semacamnya, namun ia begitu dikekang disana, sampai aku benar-benar tidak bisa menghubungi dia.

Sampai 3 tahun kemudian, saat pertama kali kudengar Jongsuk masuk dalam dunia acting. Jongsuk mulainlebih dikenal setelah sitcomnya yang sudah terkenal di seri-seri sebelumnya. Ia terus menjadi semakin dikenal, dan terus mendapat tawaran job. Seperti kebanyakan fans, aku menjadi salah satu dari fans Jongsuk saat itu. Aku terus mencari dan berusaha agar dapat menarik perhatian Jongsuk dan agar aku bisa menghubunginya lagi.

Namun semua sia-sia, aku tidak tau apa yang harus kulakukan, sampai Chairun terus menyemangatiku. Akupun terus bekerja keras, melakukan apapun yang aku bisa agar dapat mengejar ketinggalanku dari Jongsuk. Sampai pada suatu kali, seorang direktur film sedang mencari pemain muda baru. Akupun didukung oleh Chairun, dan akhirnya masuk dalam kasting. Akupun mendapatkan role pertamaku disebuah drama seri. Walaupun hanya peran yang kecul, namun aku merasa pada akhirnya aku semakin dekat dengan Jongsuk. Sampai pada akhirnya, aku ikut casting di drama ke3 ku. Aku tak tau apa aku jodoh atau memang hanya kebetulan, tapi Jongsuk juga ada disana, dan pada saat itu aku bertemu dirinya lagi setelah lama, mungkin sekitar 5 tahun? School 2013 menjadi titik pertemuan kami kembali.

"Bagaimana hari-harimu setelah kutinggal pergi?"

"Buruk," jawabku. Aku lalu mengambil minumku di meja dan mulai menghisap sedotannya. Aku dan Jongsuk kini sedang duduk berdua di sebuah kafe setelah bertahun-tahun.

"Benarkah?" balas Jongsuk. Wajahnya terlihat berubah sedikit mendengar jawabanku yang datar. Seakan dia tau apa yang aku rasakan.

Benar, aku begitu rindu padanya. Rasanya tidak adil kalau aku harus terpisah dari Jongsuk bertahun-tahun tanpa ada komunikasi atau lainnya.

"Kau cepat sekali bertumbuh, bahkan kau lebih tinggi dariku sekarang," ucap Jongsuk padaku sambil memaparkan senyumnya lagi.

Ahh.. Benar juga, dulu aku melihat Jongsuk sebagai sosok yang begitu tinggi, sekarang aku malah melebihi tingginya. Sepertinya ini karena kerja kerasku selama ditinggal Jongsuk.

"Benar juga, ini karena kau."

"Karena aku?" tanya Jongsuk terkejut.

"Iya," jawabku singkat.

Senyum Jongsuk kembali memudar setelah mendengar ucapanku. Namun memang pada dasarnya ia adalah orang yang ceria, ia kembali memberikan wajah cerianya.

"Kau terlihat sangat tampan sekarang, sangat manly, bentuk wajahmu semakin matang. Aku hampir saja tidak mengenalimu."

"Yaaa.. semua orang berubahkan?" balasku pada Jongsuk. Waktu itu aku benar-benar kesal, walaupun ada kepuasaan aku bisa kembali bertemu dengan Jongsuk, tapi entah darimana datangnya, ada rasa kesal yang timbul. Aku masih tidak terima 5 tahun kepergiannya itu... terlalu berlebihan..

"Aku senang aku bisa bertemu denganmu lagi. Maaf kalau selama ini aku tidak pernah mengontakmu, tapi aku selalu ingat padamu." ucapnya. "Ohh ya, aku akan menunjukkanmu sesuatu, tetaplah bersamaku sampai tengah malam ini."

"Tengah malam? Kenapa selarut itu?" tanyaku bingung.

"Sudah, ikut saja." ucapnya lagi.

Setelah perbincangan itu, kamipun berjalan berdua menikmati waktu kami sampai pada akhirnya tengah malam.

15 July 2012 23:55 KST

"Apa yang kita lakukan disini?" tanyaku.

"Tenang saja, 5 menit lagi," ucapnya.

Kami sekarang berada di pinggir dekat sungai Han, entah apa yang akan kami lakukan disini, tapi aku menuruti Jongsuk.

Sampai pada akhirnya, pancuran air di jembatan sungai Han mulai bergerak, membentuk suatu diorama alunan yang dinamis disertai dengan warna warni gemilau cahaya.

Tusss... Duarrr.. Takk takk takk..

Ada kembang api!

Disana juga ada kembang api! Indahnya, ini perpaduan yang sempurna.

"Saengil chukka hamnida, saengil chuka hamnida, saranghaneun Kim Woo Bin... Saengil Chukka hamnidaa.." suara nyanyian Jongsuk terlantun sampai ke telingaku. Aku menoleh ke arah kanan ku dan disana Jongsuk dengan senyum mempesonanya memegang sebuah kotak ditangannya. Kotak berukuran kecil.

"Ne?" Aku begitu terkejut. Pasalnya aku sendiri lupa dengan tanggal ultahku. Aku tidak pernah merayakan ulang tahunku kecuali dengan Jongsuk. Setelah 5 tahun Jongsuk pergi akupun tak merayakannya, bahkan bisa dibilang aku lupa, menurutku itu tidak penting.

"Selamat ulang tahun! Sekarang tepat jam 12 malam, 16 July ! Ini hadiah untukmu," ucap Jongsuk sambil menyodorkan box itu.

Box berwarna biru kesukaanku, dia masih ingat. Begitu kubuka, isinya sangat mengejutkanku. Arloji! Jam tangan! Tunggu ini kan sangat mahal.

"Kau yakin memberian ini untukku?" tanyaku yang masih dalam keadaan shock.

"Tentu, sudah sejak awal aku menabung untuk membelikanmu ini, diumurmu yang ke 21,"

"Ini? Semua kau yang siapkan?" tanyaku lagi mengarah ke angkasa dimana kembang api tadi meletus.

"Iyaa.. uang tabunganku untukmu lebih, jadi aku tambahkan saja kembang api," ucapnya.

Tak kusangka, dia rela mengorbankan dan memberikan uangnya untuk digunakan seperti ini.. untukku. Aku.. Aku meleleh (?)

"Kau suka?" tanya Jongsuk.

"Suka, tapi kenapa?" tanyaku.

"Ya.. Kita sudah lama sekali tidak bertemu, dan selama kau ulangtahun aku belum pernah memberikan hadiah apapun, jadi ini sekaligus hadiah ultahmu dari yang dulu-dulu sampai sekarang, anggap saja begitu. Haha.." ucap Jongsuk sambil tertawa.

Aku kembali terpaku dengan jam tangan yang ada ditanganku ini. Aku ingat 5 tahun lalu aku pernah memandangi jam tangan ini ditoko mahal itu, aku begitu menginginkannya, namun pada saat itu rasanya tidak mungkin. Hanya Jongsuk yang tau semua tentang diriku, sampai pada hari ini, jam tangan dengan merk yang sama namun ini adalah keluaran model terbaru! Jauhh dan sangat lebih indah dibanding jam tangan 5 tahun lalu.

"Terima kasih, Jongsuk."

"sama-sama.." jawab Jongsuk sambil memaparkan senyum pesonanya itu.

...

Dua bulan berikutnya, aku berlari begitu cepat ke arah gedung di salah satu jalan Seoul. Sampai pada akhirnya aku sampai di apartemen Jongsuk. Teman-teman, crew dan semua orang terdekat sudah menunggu. Kami bersembunyi dan mematikan lampu. Aku begitu bersemangat hari itu, semua sudah aku siapkan. Akulah yang mengatur semuanya! Kue, hiasan ruangan, poster, kostum, karangan bunga, dan mengumpulkan semua orang terdekat Jongsuk.

Kami mengambil posisi dan berdiam diri, menunggu sampai orang yang dimaksud datang.

"Jongsuk sudah datang di gedung apartemen! Semua bersiap!" ucap salah satu teman kami lewat telefon.

"Ayoo! Semua bersiap, jangan ada yang bergerak, Jongsuk sedang menuju keatas! Matikan lampu! Semua keposisi!" seruku pada semua orang yang ikut hadir.

Tekk.. Tekk..

Suara langkah kaki terdengar.

Lalu suara kunci pintu juga terdengar.

Sampai, pada akhirnya pintu apartemen terbuka..

"Happy Birthday..." suara serempak kami berhenti ketika lampu yang seharusnya menyala tiba-tiba mati kembali.

"Hei! Nyalakan lagi lampunya!" seru salah satu dari kami.

"Tidak bisa, sepertinya sedang ada pemadaman listrik tengah malam!" ucap si Jinbo yang bertugas menyalakan lampu ruang tengah apartemen.

Suara kekecewaan terdengar dari seriap mulut kami. Acara surprise untuk merayakan hari ulang tahun Jongsukpun gagal.

Aku yang memegang kue ulang tahun lalu berjalan mendekati Jongsuk. Dapat terdengar Jongsuk sedang terkikik, menertawakan kami yang miris ini karena semua gagal.

"Maaf, kami gagal, tapi aku sudah menyiapkan kue, make a wish! Dan tiuplah," ucapku pada Jongsuk. Aku berusaha untuk tetap tersenyum, dibalik kekesalanku karena semuanya gagal.

Setelah itu, Jongsukpun memejamkan mata dan lalu meniup lilin 21 nya.

"Horeeeee!" Semua orang bersorak setelah Jongsuk meniup lilinnya. Tak lama kemudian listrik dan lampu apartemen menyala.

Benar-benar menjengkelkan, aku pun langsung memasang muka datar.

Kesal! Kesal! Kesal! Kenapa malah begini!? Semua karena orang pekerja listrik itu semua usaha ku untuk surprise Jongsuk jadi sia-sia (۳˚Д˚)۳

Namun usahaku tidak sepenuhnya gagal. Begitu lampu menyala, dapat terlihat wajah terkejut Jongsuk melihat hiasan kertas, balon serta poster meriah yang memenuhi apartemennya bersama teman-teman semua yang berkumpul untuknya.

"Kalian melakukan ini utukku?" tanya Jongsuk.

"Benar! Semua ini ide Woobin!" seru Chairun.

Aku yang disebut-sebutpun menjadi memerah malu menundukkan kepala.

"Terima kasih Woobin," ucap Jongsuk dan.. Chu~ kecupan hangat mendarat di pipiku.

"Uoooooo..." Serluruh penontonpun heboh.

Itulah pertama kali aku melakukan sesuatu untuk orang lain dengan susah payah. Aku masih ingat kejadian itu, benar-benar ingat. Tepat 2 tahun yang lalu. Di hari yang sama dengan sekarang.

Aku masih di samping tempat tidur Jongsuk, menunggu Jongsuk bangun.

Tininitt..Tininitt..Tininitt..

Bunyi alarm notification dalam ponselku.

14 September 2013 - 00.00 KST
Lee Jong Suk's Birthday.

Tepat harinya, ini ulang tahun Jongsuk.

Air mata semakin deras mengalir dipipiku. Ini persis seperti dua tahun lalu, namun dengan keadaan yang benar-benar berbeda.

Sama-sama di malam hari, namun kali ini jauh lebih kelam. Sama-sama dalam gelap, namun kali ini rasa takut akan kehilangan terus menghantui. Sama-sama hari ulangtahun Jongsuk, namun kali ini tak ada senyum, tidak ada kue, tidak ada kemeriahan, tak ada kebahagian yang terasa.

Aku terus menangis, menatap Jongsuk yang masih terbaring tak sadarkan diri. Tanganku menggenggam tangan Jongsuk erat.

Jongsuk bangunlah.. Kumohon Jongsukk..

Aku akan melakukan apapun, tapi tolonglah bangun..

Aku tidak akan membutuhkan apapun, aku tidak akan pernah mengeluh, asal kau bangun Jongsuk..

Jongsukk.. Cepat bangunn...

Air mataku menetes di tangan Jongsuk. Sampai aku merasakan tangannya bergerak.

"Jongsuk?"

Aku terkejut dengan apa yang baru saja terjadi. Aku menunggu lagi pada gerakan lain yang menandakan Jongsuk tersadar.

Sett..
Tangannya! Tangannya kembali bergerak.

"Susterrr! Dokterrr! Cepat kesini!" Aku berseru dan berteriak, sambil menekan tombol merah di dekat tempat tidur Jongsuk tanda memanggil suster dan perawat.

Mereka tidak kunjung datang, aku terus dalam panik, dan terus menekan tombol.

"Ada apa!?" tanya seorang pria dengan jas putih memasuki kamar.

"Dia sudah sadarr!," seruku.

Para tim dokter segera memeriksa Jongsuk. Entah apa yang mereka lakukan, aku terus memperharikan Jongsuk.

"Dia sudah membaik, semuanya baik-baik saja," ucap si dokter.

aku terus memegang tangan Jongsuk, ia terlihat masih lemas. Jongsuk masih bernafas perlahan, ada balutan putih dikepalanya, ia seperti kebingungan.

"Aku dimana?" tanya Jongsuk pelan.

"Kau dirumah sakit Jongsuk,," balasku juga pelan.

"Aa..aapa yang terjadi?" tanyanya.

"Kau kecelakaan mobil Jongsuk, keadaanmu koma, sampai kau baru sadar sekarang," ucapku.

Jongsuk lalu menolehkan kepalanya kearahku. Ia terdiam sejenak...

"Kauu.. Kau si..siapa?"

Denggg...


Gimana nih readers? Please tell me perasaan kalian gimana setelah membaca ini.

-TBC-
Thanks For Reading
Leave your comment!