Beneath Your Beautiful

Chapter 7

Lee Jong Suk

Kim Woo Bin

JongWoo - JongBin - WooJong - SukBin

Maaf Typo bertebaran

Dulu kalau Jongsuk lapar, pasti Woobin dengan senang hati akan memasak untuknya. Begitu pula dengan sekarang, Woobin sedang memasak untuk Jongsuk. Makanan kesukaan Jongsuk.

WOOBIN's POV

"Jongsuk, makanlah, ini makanan kesukaanmu," ucapku membawa pan yang berisi makanan korea tradisional kesukaan Jongsuk.

"Kesukaanku? Benarkah? Bagaimana kau tau?" tanya Jongsuk.

Oh ya.. Aku harus kembali menerima kenyataan. Semalam saat Jongsuk sudah diperbolehkan pulang, aku mendapat kabar menyakitkan. Kata dokter Jongsuk terkena gejala lupa ingatan jangka panjang. Karena kecelakaan sial itu, aku benar-benar menyesal, seandainya aku bisa menjaga dan melindungi Jongsuk saat itu.

Aku kembali menatap Jongsuk, berusaha mencari jawaban yang pas untuk menjawab Jongsuk.

"Kita teman dari kecil, dan aku kekasihmu," jawabku sambil memasang senyum.

"Kekasih?"

"Iya benar, kekasih,"

"Sesama pria?"

Pertanyaan dirinya membuatku sedikit miris. "Iya, hmm.. Kita saling mencintai, lalu sudah kenal dari lama, kemudian kita berpacaran, sudah 6 bulan."

"Ouu.." Balas Jongsuk singkat lalu menyantap makanannya.

Aku terus menatap Jongsuk, menunggu reponnya pada masakanku.

"Hnmm.. Ini enak!" seru Jongsuk.

'Yeahhhh!' perasaan senang melanda hatiku. Entah kenapa, padahal aku juga sudah sering membuatkan makanan yang sama untuk Jongsuk, tapi kali ini terasa berbeda.

"Kau tau, kau ini seorang aktor," ucapku lalu menyalakan tv, bertepatan saat itu sedang ada wawancaraku dengannya.

"Kenapa kita bisa ada disitu?" tanya Jongsuk terkejut memperhatikan tv di samping.

"Yah, kita berdua ini aktor," jawabku, bangga rasanya.

"Benarkah? Aku bisa berakting?"

"Bukan hanya berakting, tp kau juga model."

"Benarkah?" tanya Jongsuk yang masih bingung.

"Iya, kau ini seorang bintang, semua orang menyukaimu, terutama aku," ucapku yang seakan tepat pada titik sasaran.

Muka Jongsuk tiba-tiba memerah, aku bisa melihatnya dibalik poni Jongsuk yg jatuh kebawah karena ia menunduk.

Drett drettt..
Hp ku bergetar

1 New Message

From: Kang Manager

Jongsuk akan melakukan pers conference sekarang, aku tidak tau harus bagaimana, bisa tolong kau bantu dia? Hanya kau yang bisa melakukannya. Terima kasih Woobin, kami berhutang padamu.

Aku berpikir sejenak, bagaimana aku harus menyampaikan ini padanya. Dia baru saja keluar dari rumah sakit, tapi banyak hal yang harus ia hadapi. Ini terlalu dini untuk dia bertemu pers. Bahkan dia saja lupa bahwa dia seorang actor. Aku masih mengarahkan manik mata ku pada ponsel ku.

"Waeyo?" tanya Jongsuk menginstrupsi.

"Ahh.. Akan ada pers con untukmu. Kau baru saja keluar dari rumah sakit. Lebih baik aku batalkan saja," ucapku lalu langsung menekan tombol 'reply'.

"Tidak, jangan" kembali Jongsuk menginstrupsi. "Aku bisa kok, aku sudah merasa jauh lebih baik, tugas mu membantuku oke?" ucapnya lagi.

"Baiklah," ucapku tersenyum, tapi dalam hatiku, aku sedikit khawatir.

"Dengar Jongsuk, nanti saat di press kau tidak usah berkata apapun, tinggal aku dan Choji saja, kami yang akan menjelaskan semuanya, mengerti?" ucap manager Kang.

"Hengg.." Jawab Jongsuk singkat. Aku tau dia masih menyesuaikan diri dengan ini, ia sedikit terlihat bingung.

Kami sekarang sudah di tempat conference. Di balik panggung dimana kami menyiapkan semuanya sebelum kami masuk. Aku akan ikut press con karena Jongsuk belum terbiasa dengan ini, dan hanya aku satu-satunya orang yang terus bersamanya semenjak ia sadar setelah empat hari koma di tambah tiga hari tak sadarkan diri ditambah lagi sebulan masa pemulihan.

"Jongsuk, kau baik-baik saja?" tanyaku mendatanginya setelah manager Kang pergi.

"Tidak tau, jantungku terasa berdetak lebih kencang dari biasanya." jawabnya sambil memegang dadanya erat.

Aku lalu memegang tangan Jongsuk, memindahkan dari dadanya ke dadaku, "kau bisa meraskan detakan jantungku?"

"Ehh.. Untuk apa? Malu dilihat orang-orang."

"Lupa ingatan masih bisa saja malu yaa.."

"Nilai kesopanan, dan batas-batas pacaran saat di depan publik tentu saja aku ingat, itu hal umum, tidak diingat tapi lihat memang orang-orang kini sedang memperhatikan kita," ucap Jongsuk yang kini sedang salah tingkah dan mukanya memerah karena dilihat orang-orang di ruangan persiapan inu.

"Tenang, orang-orang sudah tau dan memaklumi hubungan kita. Malah sepertinya mereka senang karena aku dan kau bisa bermesraan lagi." ucapku bermaksud menggodanya. Tapi memang dasar Jongsuk, mukanya memerah dan lalu menarik tangannya, malahan sekarang aku sedang menggosok-gosok kepalaku karena baru saja dipukul Jongsuk.

"Jahatt kauu,," ucapku sambil meringis.

"Maaf Woobiniee.. Tolong tetap disisiku, aku takut."

Mendengar itu aku seperti kena "electric shock" ini benar-benar Jongsuk. Jongsuk yang kukenal sudah kembali. Seperti biasa, dia memang tidak suka adegan mesra aku dan dia dilihat banyak orang tak dikenal begini. Tapi jelas dia sayang padaku, ia selalu memintaku untuk selalu disisinya. Seperti hari-hari dulu, disaat aku dan dia bekerja bersama, meraih mimpi bersama. Ini adalah Kim Jongsuk, ia sudah kembali, dan ia akan tetap jadi milikku!

"Tentuuu, kau milikku!" balasku menggosok-gosok rambutnya lembut. "Dengar, aku akan ada disamping panggung nanti, aku akan terus memperhatikanmu. Bila ada sesuatu terjadi, kau tau dimana harus mencariku, oke?"

"Hengg.." Angguk Jongsuk.

"Anak pintar," kembali keulus rambut hitamnya... Rinduu.. "ayo kita mulai."

Kang Manajer dan Choji berjalan duluan di depan disusul Jongsuk dan lalu aku ditambah satu orang lagi dari agency. Ini pertama kalinya aku akan berdiri disamping panggung, biasanya aku diatas atau di belakang panggung. Detak jantungku berdetak kencang, takut sesuatu hal buruk terjadi. Jarak kami tidak terlalu jauh, tapi tetap saja ini membuatku khawatir.

Begitu Jongsuk masuk, semua lampu dan flash kamera wartawan seakan menyerbu dan menyerang Jongsuk. Aku membayangkan bagaimana rasanya menjadi Jongsuk. Aku begitu khawatir sampai-sampai mulutku kering. Aku lalu membalikkan badanku mengambil minumku di meja yang kini berada dihadapanku. Aku langsung membalikkan tubuhku lagi bersamaan ketika ada suara benturan keras dengan panggung dan jatuhnya kursi. Suara terkejut wartawan riuh memenuhi ruangan. Para crew yang ada di bawah panggung berlomba-lomba naik keatas panggung. Manager Kang tampak panik, begitu juga semua orang. Kejadian ini begitu cepat, aku yang baru saja membalikkan badan berusaha mencari apa yang terjadi. Sampai pada akhirnya ketika aku melihat manager Kang dan beberapa crew mengangkat tubuh seseorang, dan akupun langsung berlari naik keatas panggung.

"Jongsukk! Cepat panggil ambulans !" seruku.

Semua pada saat itu berkerumunan naik ke atas panggung. Para wartawan yang rakus dan egois berlomba-lomba berusaha mendapatkan gambar Jongsuk yang terkapar tak sadarkan diri. Crew yang ada di bawah semua panik dan menghalalkan segala cara untuk mengangkat Jongsuk keluar dari sana. Sampai pada akhirnya ambulans dan polisi datang membantu.

Pers Conference itu diawali dengan riuh, dan diakhiri dengan porak poranda wartawan kelaparan. Setalah lebih dari sebulan Jongsuk baru keluar dari rumah sakit, pers begitu haus, dan itu membuatku kesal.

Kini aku berada di ambulans, mendekap tangan Jongsuk dan menunduk. "Aku sudah tau, seharusnya aku membatalkan ini." Aku tak kuas menahan air mataku yang mengalir.

"Tidak, ini bukan salahmu, kau sudah bekerja baik, selalu menemaninya. Salahku yang terlalu ingin cepat mengadakan ini." ucap manager Kang yang berusaha menenangkan aku.

Aku memang dari awal membenci orang-orang yang ada di agency Jongsuk. Semua begitu tamak dan egois, mereka semua kejam. Namun apa daya, tidak mungkin aku bisa menghajar mereka, semua yang mereka pikirkan adalah 'keuntungan'.

Kembali aku harus menunggu, memperhatikan Jongsuk tak sadarkan diri di rumah sakit. Entah apa arti dan maksud dari jalan cerita ini, author terus membuatku bingung dengan alur cerita ini. Kenapa kau tidak bisa membuat jalan cerita yang menyenangkan untukku dan Jongsuk? Kenapaaa? Aku begitu emosi dan marah, semua ini terasa tidak adil. Aku lelah bermain seperti ini. Aku ingin kebahagian, aku ingin terus bersama Jongsuk. Aku ingin lari saja dari dunia ini bersama Jongsuk.

"Woobin.. Jangan marah-marah, aku tak apa kok, hanya pusing," tiba-tiba Jongsuk terbangun karena tangisan amarahku yang meledak-ledak.

"Kau takapa? Maafkan aku, aku tidak bisa menjagaku," ucapku dalam isak tangis.

"Tidak.. Aku baik-baik saja kok, aku senang malah dengan seperti ini, aku bisa berduaan denganmu."

"Benarkah?" ucapku.

"Iyaa.. Jangan cengeng begitu," ucapnya sambil mengusap air mataku. "Aku mulai ingat sedikit-sedikit, waktu di pers, kepalaku terasa sakit, tapi sekarang aku mulai ingat sedikit-sedikit," ucapnya yang sangat membuat hatiku lega.

"Benarkah?" ucapku lagi.

"Aku ingin keluar dari sini, dan menikmati hari ini kusus denganmu."

"Benarkah?" tanyaku yang masih berusaha menahan dan mengusap air mata cengengku ini.

"Jangan ngomongnya benakah terus dong -_- " ucap Jongsuk yang kini terlihat memasang muka datar.

"Serius, kau ingin pergi?"

"Iya"

"Baiklah, ikut aku.."

Setelah berhasil kabur diam-diam aku aku dan Jongsuk akhirnya bisa pergi hanya berdua.

"Kita dimana?"

"Ini adalah tempat dimana kau dan aku resmi menjadi sebagai teman."

"Coffe ini.. Sepertinya aku sering kesini,"

"Iya, kau ingat sesuatu?"

"Sedikit." ucap Jongsuk yang masih celingak celinguk memperhatikan setiap sudut ruangan coffe ini.

"Saat itu aku bertemu denganmu saat masih menjadi trainee, saat itu aku sedang latihan photo shoot, sampai kau datang dan menjadi partnerku. Akhirnya kita foto untuk les kelulusan. Sampai pada akhirnya kau dan aku diterima dan kita pergi kesini sesudahnya dan berkenalan sercara resmi. Semuanya berawal dari sini."

"Wahh.. Ini terlihat sudaha agak tua."

"Iya, tapi ini coffee tetap yang terbaik."

"Lalu apa minuman kesukaanku?"

"Cookies coffee bland."

"Cookies?"

"Permisi, ini pesanannya Cookies coffee bland, dan hazelnut capucino."

"Iya, terima kasih."

"Hazelnut? Boleh kucoba?" tanya Jongsuk.

"Tentuu.."

Slurrp.. "Wah, ini juga enak," ucapnya.

"Iya ini minuman favorit kita berdua, kita sama-sama menyukainya. Tapi kau lebih suka cookies." ucapku sambil memperhatikan Jongsuk yang masih menyedot dan menikmati minumannya itu.

"Kau benar-benar tau segalanya tentangku." ucapnya terkesan.

"Tentu, aku kan your namja, aku milikmu, kau milikku." ucapku yang berhasil membuat Jongsuk mengeluarkan ketawa lucu.

Layaknya seperti hari-hari dulu, aku dan Jongsuk sangat menikmati momen bersama kami di kafe penyimpan memory kami. Aku bisa merasakan rasa hangat, dan aku juga tau kalau dengan hal seperti ini pasti Jongsuk akan cepat kembali ingatannya.

"Ohh yaa.. Ada satu hal penting yang menyimpan memory kita disini."

"Apa?"

"Tunggu, harusnya ada di meja ini kalau si Mr. Kim tidak mengubah tempat duduknya." ucapku lalu mengambil posisi untuk jongkok.

"Apa yang kau lakukan?"

"Lihatlah kebawah meja!" ucapku setelah mengkonfirmasi kalau memory kami masih ada disini.

Jongsukpun ikut merunduk, mengikuti sesuai apa yang aku lakukan. "Lihatlah" ucapku sambil menujuk ke arah bagian bawah meja kayu yang kami pakai ini.

"Itu, huruf J dan W ? Jongsuk dan Woobin?"

"Iya, hmm.. Ceritanya saat itu kita baru saja menjadi sepasang kekasih. Aku dan kau waktu itu bertengkar karena aku meninggalkanmu di kantor MBC sendirian, lalu hari berikutnya aku menjemputmu kesini. Kau masih marah pada saat itu, hingga aku menuliskan semua W dan J disertai bentuk hati di setiap bawah meja kafe ini. Kau lihat saja dibawah setiap meja kafe ini mungkin masih ada sampai sekarang."

"Benarkah?" tanya Jongsuk terkejut. "Bagaimana bisa? Apakau kau tidak dimarahai pemiliknya?"

"Tentu saja aku dimarahi, tapi akhirnya aku diijinkan, dengan syarat aku bekerja untuknya satu minggu untuk mencuci piring."

"Benarkah? Lalu aku bagaimana?"

"Ya mana bisa kau lama-lama marah padaku, kau memaafkanku, dan malah kita tiap malamnya menyempatkan waktu disini untuk mencuci piring."

"Tunggu, aku mulai ingat sesuatu, kepalaku sakit." ucap Jongsuk tiba-tiba yang membuatku khawatir.

"Santailah, kau tidak perlu memaksakan dirimu," ucapku yang lalu mendekatkan tubuhku padanya.

"Aku ingat, saat pertama kali aku dan kau kesini, kita masih sangat muda," ucapnya sambil sedikit meringis menatapku.

"Benar, masih sangat muda, tapi aku sudah jatuh cinta," ucapku padanya yang kembali membuatnya memerah.

Hari itu kami lanjutkan dengan berjalan-jalan dan kembali mengingat masa lalu kami. Kami pergi ke tempat pelatihan model lama kami. Kami pergi ke agency pertama kami. Sampai pada lokasi di suatu sekolah tempat aku dan Jongsuk akhirnya bertemu lagi setelah ditinggalnya pergi. School 2013 benar-benar menjadi kenangan kami bersama. Disitulah kembali rasa cintaku dan dia tumbuh dan berkembang. Disitulah dimana resminya hubungan kami.

Terbenamnya matahari menjadi penunjuk berakhirnya jalan-jalan kami. Aku dan Jongsuk sudah begitu lelah. Namun aku sangat senang pada akhirnya bisa berdua dan dapat kembali melihat senyum cerahnya.

Aku dan Jongsukpun masuk ke apartemen kami. Jongsuk tampak begitu lelah, kepalanya sering terasa sakit tadi saat kami berjalan berdua.

Aku lalu membiarkan Jongsuk masuk kamar, aku membiarkannya berganti baju dan sesegera mungkin tidur. Setelah ia bersembunyi di balik selimut, aku mencium dahinya dan megucapkan selamat tidur. Senyum terpapar dibibirnya sambil membentuk ucapan-ucapan "terima kasih untuk hari ini."

Melihat senyumnya saja aku sudah bahagia, ditambah bumbu-bumbu manis penyedap yang membuatku makin tak kuasa menampung rasa senang.

Seperti biasa, malam-malam begini aku sangat senang berendam air panas. Aku lalu melepaskan bajuku dan semuanya lalu segera bertelanjang masuk ke bath up. Air panas yang sudah kusiapkan terasa mengelupas kulit-kulit pengatku. Nyaman sekali rasanya, hari ini adalah hari terbaik. Aku kembali nyengir dan tersenyum geli mengingat tingkah laku aku dan Jongsuk tadi. Rasanya seperti dejavu, dan aku senang bisa merasakan hal itu lagi.

Aku menenggelamkan wajahku ke dalam air hangat itu. Lalu membersihkan sedikit tubuhku dengan sabun dan shampoo lalu segera beranjak dari bath up. Aku mengambil handukku, handuk berwarna biru navy dengan tulisan "Jongsuk" disana, handuk couple kami.

Aku lalu segera mengusap mengeringkan rambutku serta seluruh tubuhku. Saat aku baru saja mengusap wajahku, aku mendengar suaara jeritan Jongsuk tepat di pintu kamar mandi.

"Huaaa! Kenapa kau tidak menutup pintunya!" seru Jongsuk yang kini ada dihadapanku sambil menutup matanya.

Aku yang bingung dengan kelakuannyapun membalas pertanyaannya. "Biasanya memang tidak ditutup, karena disinikan yang tinggal hanya kita berdua."

"Tapi tetap saja harus ditutup! Kau mau tubuh telanjangmu dilihat orang?" serunya yang kini dapat kulihat wajahnya memerah.

"Tidak masalah, kan hanya ada kau, kau kan sudah sering melihat tubuhku telanjang," ucapku polos yang saat itu benar-benar aku lupa kalau Jongsuk sedang hilang ingatan. Sampai baru aku sadar setelah kata-kata Jongsuk ini, "Tidak-tidak, aku tidak pernah."

"Ahh.. Benar, kau lupa ingatan. Yasudah, kalau begitu kau lihat saja sekarang. Tidak ada yang harus ditutupi, aku pacarmu. Aku juga sudah sering lihat punyamu kok."

"Tidak-tidak" ucap Jongsuk yang semakin memerah dan salah tingkah. "Aku tidak tau harus berbuat apa, aku kebelet pipis, maaf.." ucapnya lalu langsung masuk dan menutup pintu kamar mandi.

Hari ini benar-benar menyenangkan..
Pikirku sambil tertawa geli.


Makasihh semua readers yang sudah kasih komenn.. semuanya membuat Author bersemangat.. sorry Author ngilang hampir sebulan, soalnya lagi ujian, hehe.. sekarang baru update lagi nihh.. enjoyy..

-TBC-
Thanks for reading
Leave Your Comment