Title : Wiol Ono, Aiedail
Genre : Boys love-Yaoi, Romance, Fantasy
Cast : Baekhyun, Chanyeol, Kris, Luhan and EXO members
Rating : T
Summary : Kris yang memiliki alasan sendiri untuk menjadikan Baekhyun kekasihnya. Berawal mengunjungi kamar mendiang ibunya, Baekhyun mengalami petualangan seru yang membuatnya hampir gila. "Luhan jauh lebih cantik" "Hey, panahku seharusnya membunuh serigala jelek itu!" "amnesia!" "dasar hidung terong," "mana ada wanita berkaki naga, idiot!" "kalian cocok, sama-sama pengkhianat."
.
.
.
"Untuk apa aku percaya pada mantan kekasih?" pernyataan itu membuat kedua kaki Chanyeol lemas seketika.
"Kenapa tidak dari dulu kamu memberitahuku, Yeol?" tanya Baekhyun, tanpa menunggu jawaban Chanyeol ia bergegas pergi dari sana.
"Karena aku baru menyadari betapa brengseknya Kris dan kakakmu." Baekhyun tidak mendengarnya karena ia sudah keluar dari cafe secepat kilat.
Chapter 2,
Here We Go!
"Bodoh, kenapa bisa aku menceritakan semuanya pada si idiot itu?" gumam Baekhyun sambil memukul-mukul pelan kepalanya. Lelah karena menggerutu terus, akhirnya ia menendang-nendang apapun yang ada di jalan. Benar-benar tidak ada kerjaan.
"cih, tidak mungkin Kris menyukai orang lain. Kris kan mempunyai banyak teman, siapa tau ia sibuk dengan teman-temannya." Gumamnya untuk kesekian kalinya. Mencoba untuk meyakinkan diri sendiri. Namun nasib buruk Baekhyun belum berakhir sepertinya.
Siuuut~
BUK!
"argh! A-aw! Ouch what the fuck is this?!" serunya membabi buta di pinggir jalan. Rasanya sungguh ngilu sampai sampai wajahnya memerah sempurna. Benda sialan apa yang telah ia injak hingga dia terjatuh dalam posisi telungkup dengan pantat gemuknya yang mencuat ke atas? Coba saja kalian bayangkan posisi itu. Betapa sialnya hidup Byun Baekhyun.
"duh dasar bocah ingusan, merepotkan saja. Apa kamu terluka?" ucap pemuda yang tadinya sedang menaiki sepedanya terpaksa turun dan memeriksa keadaan Baekhyun. Ia bantu mengubah posisi Baekhyun dengan posisi terduduk di atas aspal.
"Bocah? Kau memanggilku Bocah, anak mesum?! Aku sudah kuliah semester 4 tahu!" bentaknya sambil menepis kasar tangan pemuda itu yang hendak memegang sikut ngilu nya.
"Uwow, calm down. Aku kan gak tahu. Maaf kalau begitu, hyung. Hey aku tidak mesum, aku hanya ingin melihat sikutmu, sepertinya terluka." ucap pemuda yang kini sedang berjongkok di sebelah Baekhyun. Memperhatikan Baekhyun dari ujung rambut hingga kakinya. Sepertinya ia masih tidak percaya jika Baekhyun sudah kuliah semester 4.
"salahkan saja muka mesummu terlihat sangat jelas, hidung-terong-sok-tahu!" mendengar bentakan Baekhyun kedua kalinya membuat yang dipanggil hidung-terong-sok-tahu hanya meringis ngeri.
"Mana benda sialan yang membuatku jatuh? Akan kuremukan hingga menjadi kumpulan partikel." Racaunya, mata sipitnya menjadi semakin sipit karena mencari cari benda misterius itu. Hell! Seharusnya benda itu cukup besar untuk membuat Baekhyun terjatuh. Nyatanya benda itu sulit dicari.
"Hyung, aku tidak yakin kalau hyung bisa meremukkannya." Gumam pemuda itu sambil melirik ke aspal tepatnya di belakang Baekhyun. Dengan penuh rasa jengkel Baekhyun menoleh ke belakang.
"W-what? pin konyol ini yang membuatku jatuh seperti terseret angin?" dirampasnya pin berwarna coklat kayu itu. Karena penasaran pemuda di sebelahnya pun mengintip dibalik bahu Baekhyun.
"Aku benar kan, hyung tidak bisa meremukkannya." Mendengar itu membuat Baekhyun mendelik kesal. Tentu saja ia tidak bisa, bahkan hanya mematahkannya saja sulit apalagi meremukkannya. Dasar bocah hidung terong.
"terserah apa katamu bocah hidung terong." Sambil berdiri Baekhyun melempar pin itu sampai hilang di dalam semak-semak.
"aku punya nama. Namaku Zitao." Tao benar-benar harus bersabar di depan laki-laki pendek nan cerewet itu. Tidak terbayangkan jika Baekhyun menjadi temannya, yang ada akan membuatnya menjadi tampak bertambah tua 5 tahun.
Tao mengangkat bahunya acuh saat Baekhyun mulai meninggalkannya sendirian tanpa mengucapkan kata 'terima kasih' atau 'sampai jumpa'. Ia tak ambil pusing, dengan santai ia kembali menaiki sepadanya lalu bersiap untuk pulang ke rumah.
"Ah namaku Baekhyun." Sedikit terkejut, ternyata Baekhyun itu masih tahu malu juga. sambil tersenyum tipis Tao menggayuh sepedanya.
.
.
Sangat lega saat tiba di rumahnya. Dengan langkah seperti anak penguin –selain sikutnya terluka sepertinya ia terkilir- Baekhyun memasuki rumahnya tanpa sepatah katapun saking lelah dan sialnya hari ini. Dilepas sepatunya lalu diganti dengan sandal rumah.
"Oh Hyung? Kenapa pulang telat? aku sudah menyiapkan makan untuk hyung. Maaf kalau sudah dingin makanannya." Oh sungguh melihat adiknya yang masih SMP begitu peduli padanya seketika hati Baekhyun mencelos. Ia sangat bersyukur memiliki adik cerdas, rajin, dan baik seperti Kyungsoo. Tidak seperti kakaknya, yang setiap hari hanya tidur-makan-kuliah-pergi ke club dan seterusnya.
"Terima kasih, Kyung. Ohya apa Kris tadi ke rumah?" ia baru menyadari saat ini sudah jam 6 sore. Lebih 1 jam dari yang Kris janjikan. Melihat tatapan penuh harap kakaknya, Kyungsoo pun merasa sedikit sedih.
"Iya, tapi saat Kris hyung tau jika hyung belum sampai di rumah dia langsung pamit untuk pulang." Apa susahnya untuk menunggu? Itulah pikir Baekhyun. Dengan rakus ia menyuapkan sesendok nasi penuh juga lauk pauknya. Ingin sekali ia melampiaskan rasa marahnya, tapi tidak mungkin ia melampiaskan pada Kyungsoo, bukan? Adiknya itu terlalu berharga. Dan tidak mungkin pada ayahnya juga, bisa bisa Baekhyun diusir dari rumahnya dan hidup menjadi gelandangan. Dan jika itu terjadi pasti kakaknya akan tertawa terbahak bahak dengan mulut lebarnya seperti kudanil. Uh, membayangkannya saja membuat Baekhyun ingin menebas mulut kakaknya.
Kakaknya. Oh tentu saja dengan senang hati ia akan melampiaskan amarahnya pada Luhan. "Kyung, Luhan hyung ada di kamarnya kan?" tanyanya dengan mulut penuh dengan tumis cumi pedas.
"Luhan hyung pergi tidak lama setelah Kris pamit pulang. Sepertinya ia pergi ke club." Musnah sudah harapan Baekhyun. Hidupnya sungguh sial.
.
.
Ini sudah 2 hari Kris tidak menemui maupun menghubungi Baekhyun. Di lapangan basket ia tidak melihat Kris yang merupakan kapten basket. Untuk menghilangkan rasa penasaran, Baekhyun berjalan menuju tepi lapangan yang penuh dengan anak anak tim basket.
"maaf menganggu. Aku tidak melihat Kris bersama kalian, jadi... apakah dia tidak latihan hari ini?"
"ah, hari ini dia izin untuk menemui adiknya." Ucap laki-laki yang sedang mengeringkan rambutnya yang basah oleh keringat. Sedangkan laki-laki yang di sebelahnya tampak bingung, lalu ia mendekati temannya itu. "bukankah ia pergi bersama...pacarnya?" bisiknya.
"mungkin maksudmu pacarnya yang kedua." Bisik temannya yang lain. Sayangnya Baekhyun tidak dapat mendengar bisikan-bisikan perkumpulan pria tiang itu.
"hhm, terima kasih. Aku... maaf jika menganggu. Sampai jumpa." Merasa dicueki akhirnya Baekhyun mundur dan segera pergi dari tempat itu. Sebelum berbalik Baekhyun sempat melihat tatapan sendu Chanyeol yang sedang duduk cukup jauh darinya. Baekhyun tersenyum tipis pada Chanyeol sebelum pergi menjauhi lapangan basket.
Chanyeol memang sedikit terlihat konyol bahkan idiot, tapi melihat tatapan tadi seakan-akan ia ingin memberitahunya sesuatu. Baekhyun tidak ingin menemui nya karena agak sedikit risih jika harus berbicara pada mantan kekasihnya itu semenjak kejadian di cafe.
.
.
"aish kenapa tidak diangkat ? sebenarnya dia kemana?" Baekhyun melempar handphonenya dengan kasar ke dalam tas punggungnya.
"aku bisa gila-"
Melihat mobil merah yang terparkir di depan rumahnya membuat Baekhyun menghentikan langkahnya mendadak juga perkataanya berhenti secara spontan. Pasalnya itu mobil Kris. Dengan secepat kilat Baekhyun berlari ke dalam rumahnya. Sebelum membuka pintu rumahnya, samar-samar Baekhyun mendengar suara Luhan juga Kris. Niatnya membuka pintu terhenti seketika.
"Yah Kris, jika Baekhyun tahu bagaimana?" pertanyaan kakaknya membuat Baekhyun bingung. Tahu apa?
"Dia terlalu lugu, Luhan. Dia tidak mungkin menyadarinya. Kita harus menggunakan kesempatan ini sebelum bocah itu datang" Ingin sekali Baekhyun terbang lalu menghilang seketika.
"Benar, mungkin bocah itu terlalu mencintaimu hingga tidak menyadari hubungan kita."
Ini tidak benar. Luhan mungkin adalah kakaknya yang menyebalkan, atau semacamnya tetapi Baekhyun tidak percaya dan tidak akan pernah percaya jika kakaknya melakukan hal itu pada adiknya sendiri.
"Ck, dan Chanyeol akhir-akhir ini terus membuatku kesal. Hampir setiap minggu ia memohon padaku untuk memutuskan mu. Tentu saja aku tidak mau." Dan pernyataan kedua kakaknya membuat jantung Baekhyun serasa terhenti seketika. Dari mana Luhan mengenal Chanyeol? Bahkan Luhan tidak satu universitas dengan mereka.
"Bocah idiot itu masih mencintai adikmu, tahu. Hampir setiap minggu juga dia datang ke rumah ku hanya untuk mengancamku jika aku menyakiti Baekhyun." katanya, diakhiri dengan suara kecupan. Dapat Baekhyun tebak jika Kris mencium kakaknya. Ugh!
"Luhan jauh lebih cantik." Ucap Kris dengan santai.
Cukup. Baekhyun benar-benar ingin menonjok wajah kedua setan itu. Persetan jika mereka adalah kakaknya dan juga kekasihnya. Dan Baekhyun tidak tahan harus disebut dengan bocah lugu, dan mendengar mantan kekasihnya disebut bocah idiot, dia benar-benar tidak terima. Apa sih yang menarik dalam diri Luhan si kerbau bau pemalas? Bukan berarti berwajah cantik ia memiliki sifat yang baik juga. Ia tidak bermaksud menjelekkan kakaknya hanya saja itu memang kenyataan. Sekarang ia benar-benar ingin mencolok mata indah kakaknya. Ya, hanya kakaknya, ia tidak menyalahkan Kris, mungkin saja kakaknya yang suka menggoda kekasihnya itu.
BRAK
.
.
"Baek?" panggil Kris saat melihat Baekhyun berdiri di ambang pintu yang sudah terbuka lebar. Kris segera mengendalikan mimik wajahnya yang awalnya sedikit tersentak menjadi agak tenang. Hal ini pasti akan terjadi, tapi kenapa secepat ini? pikirinya.
"Hai, Baekhyun. Baru pulang?" heol! Pertanyaan macam apa itu? Baekhyun benar-benar ingin menebas hidung kakaknya yang tidak seberapa itu lalu menendang pantat kakaknya hingga menjadi datar. Dengan langkah kaku Baekhyun mendekati mereka berdua yang sedang duduk santai di sofa.
"Enak yah pacaran di rumah. Uh oh maaf jika aku menganggu." Dilihat penampilan Luhan hari ini jauh dari kata kumal. Dia terlihat segar dan wangi sehabis mandi, bahkan Baekhyun tak pernah tahu jika Luhan punya kaos bermerk mahal.
"Jadi kamu merelakan Kris untukku, Baek? Oh sungguh adik yang manis." Baekhyun hanya tersenyum semanis mungkin. Lalu ia menoleh pada Kris yang melihatnya dengan wajah datarnya. Tidak tahu sama sekali jika Kris sebrengsek ini.
"Ambil saja sesukamu. jika perlu enyah saja kalian dari hadapanku. Untuk apa aku memelihara pria-tiang-brengsek seperti dia." Ucapanya, diakhiri dengan tatapan tajam Baekhyun. Dengan langkah lebar ia menaiki tangga lalu memasuki kamarnya.
.
.
.
Baekhyun menutup telinganya dengan bantal. Mencoba mengabaikan suara ricuh ayah juga adiknya yang terus terusan memanggilnya untuk keluar kamar. Sudah semalaman Baekhyun membaringkan dirinya di atas kasur. Bahkan ia masih memakai pakaian kemarin.
"Baekhyun! Apa kamu sakit? Hey jawab ayah! Jangan membuat panik kami." Seru ayahnya sambil menggedor-gedor pintu kamar Baekhyun. Kali ini Baekhyun menutup telinganya dengan headset dan mulai memejamkan matanya. Sayup sayup ia mendengar teriakan adiknya namun tidak ia gubris.
Tidur pun tidak membuatnya menjadi lebih baik. Setelah melepas headsetnya Baekhyun mencoba untuk duduk dan mendengar apa ayah dan adiknya masih berteriak-teriak, nyatanya mereka sudah menyerah untuk membawa Baekhyun keluar kamar.
Satu tarikan nafas panjang. Baekhyun bangkit dari kasurnya. Mengabaikan rasa lelah dan frustasinya, kemudian pergi keluar kamar untuk melihat keadaan diluar. Pintu pun ia buka dengan sepelan mungkin tidak ingin ada yang tahu jika ia keluar kamar. Ia tengok kiri dan kanannya. Aman. Lalu ia pergi ke dapur untuk mengambil minuman. Seharian tidak keluar kamar tentu saja membuat tenggorokannya kering.
Ayahnya pasti sudah pergi kerja, Kyungsoo sudah berangkat sekolah, dan -oh dia benar-benar tidak ingin menyebutkannya- kakaknya yang keparat pasti pergi kuliah. Jadi, ia sendirian di rumah, setidaknya Kyungsoo menyisakan sarapan untuknya. Baekhyun sangat bersyukur akan hal itu.
Setelah makan dan minum beres, Baekhyun berniat untuk kembali ke kamar kemudian mandi dan pergi kuliah.
Krieet
Refleks Baekhyun menoleh ke sebuah kamar yang ada di lantai dua tepat di sebelah kamarnya. Tunggu itu kan kamar mendiang ibunya? Tentu saja bukan kamar tidur, tapi kamar yang dikhususkan untuk tempat penyimpanan barang barang ibunya dulu.
Siapa yang membuka kamar itu? Apakah hantu? Atau roh ibunya? Penasaran bercampur takut Baekhyun pun memberanikan diri untuk memasuki kamar itu. Keadaan kamar itu bersih, karena setiap hari mereka merawatnya dengan baik. Barang barang ibunya seperti lemari pakaian, meja rias, buku, photo, bahkan cermin besar ada di sana dalam keadaan terawat. Sudah lama sekali Baekhyun tidak memasuki kamar itu. Langkahnya terhenti saat melihat benda berbentuk centaurus dengan warna coklat kayu berada di bawah cermin besar.
"Pin? Itu kan pin yang membuatku terjatuh tempo hari. Y-yah tidak mungkin pin itu terbang sendiri ke sini. Ugh! kenapa aku jadi merinding?" mungkin bisa saja Baekhyun berlari keluar lalu bersembunyi dibalik selimut bebeknya. Tapi Baekhyun malah berjalan mendekat lalu memungut pin centaurus itu. Kemudian ia memandangi bayangannya sendiri di cermin besar milik mendiang ibunya.
"aku... tampan. Hell, tentu saja aku tampan. Jauh lebih tampan dari sibrengsek-Luhan-" perkataanya terhenti saat melihat ada yang tidak beres dengan bayangannya sendiri. Kini wajah Baekhyun berubah sedikit demi sedikit. Mata sipitnya terolesi eyeliner tipis, rambutnya yang semula berwarna coklat tua menjadi hitam sedikit berantakan, ada bekas luka di sudut mata kirinya.
Baekhyun pun menjatuhkan pin itu saat melihat wajahnya berubah di depan cermin besar. "A-apa yang terjadi? Kenapa aku jadi seperti preman begitu?" Baekhyun terus maju langkah demi langkah. hampir saja Baekhyun menyentuh permukaan cermin itu, ketika ada sesuatu yang menariknya dengan sangat kuat. "Y-Ya sekarang apa lagi, AAAAA!" kamar itu pun menjadi sepi seketika, karena Baekhyun secara misterius tersedot ke dalam cermis besar itu.
.
.
.
.
Baekhyun sampai di tepi hutan sambil tersenggal-senggal, lalu berusaha memulihkan laju pernapasannya seperti semula. Beberapa hari ini Baekhyun nyaris tidak tidur sama sekali, apalagi mandi. Dimakannya apa pun yang bisa ia makan—daun-dauan, buah-buahan yang bahkan ia tidak tahu jika itu mungkin saja beracun.
Pakaiannya robek-robek, kotor, dan bau. Dia masih bertahan hidup selama ini dari kejaran dua ekor serigala bersayap. Anehnya Baekhyun dapat melawan dua serigala bersayap itu. Mungkin berkat tendangan juga tinjuan manjur Baekhyun. Gigi mereka yang tajam dapat menggigit dan mengoyak kapan pun. Baekhyun tidak sanggup kabur lebih lama lagi. Bagaimanapun Baekhyun butuh tidur dan makanan yang layak.
Baekhyun tidak tahu apa yang terjadi pada dirinya. Tahu tahu ia sudah terbangun di pinggir sungai lalu tidak lama kemudian ia menjumpai dua ekor serigala bersayap lapar yang berusaha menyantapnya bulat-bulat.
Baekhyun tidak ingat sama sekali, kenapa ia bisa tertidur di tepi sungai sambil menggenggam pin centaurus. Ia hanya mengingat namanya saja. ia tidak ingat dari mana asalnya? Apa yang membuat ia sampai di sana? Dan kenapa hidupnya sungguh sial?
"Oho! Jalan buntu, hah? Nasibmu sungguh menyedihkan, anak muda." Ucap serigala itu melalui pikiran Baekhyun karena serigala itu tidak bisa berbicara secara langsung namun dapat mengerti apa yang diucapkan manusia, termasuk Baekhyun.
"Hey, pak serigala, dagingku pahit, alot, dan basi. Makan saja binatang yang ada di hutan!" bentak Baekhyun sambil mengacungkan ranting pohon ke depan. Tidak mungkin ia meluncurkan dirinya ke dalam jurang, tentu saja Baekhyun masih ingin hidup.
"Nak, walau kamu terlihat seperti bocah gelandangan, harum daging dan darahmu sungguh menggoda kami berdua. benarkan, saudaraku?" sial, ia tidak mau jika hidupnya sampai disini. Hilang ingatan membuatkan tersiksa. Baekhyun mengerang. Dia ingin berbaring saja di sana dan pingsan, tapi ia harus terus bergerak.
Di sebelah kanan Baekhyun terdapat jalan setapak entah menuju mana. Mungkin itu adalah jalan terbaik ketimbang harus melucur ke jurang. Di tendang nya salah satu serigala itu hingga terpental menubruk saudaranya.
Baekhyun lari ke jalan setapak sekuat tenaga. Jantung Baekhyun berdebar-debar kencang. Pergelangan kakinya ngilu. Terdengar suara seseorang berteriak. Ia menoleh ke atas pohon, terlihat pemuda yang membawa busur memasang anak panah. Baekhyun memekik, "Hey, tunggu!"
Namun, anak laki-laki itu tidak sedang membidik Baekhyun. Panah terlempar ke atas kepala Baekhyun. Seekor serigala meraung-raung kesakitan. Pemuda kedua menyiagakan tombaknya, melambaikan tangannya cepat supaya Baekhyun bergegas lari memasuki sebuah terowongan yang berjarak 10 meter darinya.
"Kena kau!" pekik pemuda yang tadinya sedang memegang sebuah tombak. Baekhyun menoleh saat tombak tersebut menancap pada kepala serigala. Baekhyun akhirnya tiba di depan sebuah terowongan tua. "Terima kasih," katanya kepada kedua pemuda itu. Baekhyun harus mendongakkan kepalanya saat ingin melihat wajah keduanya.
Setelah sedikit mendongakkan kepalanya Baekhyun hanya melihat topeng besi yang terpasang dimasing masing wajah pemuda itu. "Kami akan membuka topeng ini, jika kita sudah sampai di markas." seakan tau jika Baekhyun ingin melihat wajah mereka. Baekhyun tersenyum tipis. "Tembakan bagus."
"Hey, panahku seharusnya membunuh serigala jelek itu!" si pemanah memprotes saat serigala yang terpanah berlari mendekati mereka bertiga. "Ayo, kita harus segera bergegas, serigala itu tidak bisa memasuki terowongan ini." Seru pemuda berambut pirang. Disetujui si pemuda pemanah.
"ngomong-ngomong, siapa namamu?"
"Byun Baekhyun."
"Baek... Hyun?"
.
.
.
To Be Continue
Chapter 2 selesai, disini Baekhyun memulai petualangannya. hoho terima kasih banyak buat yang me-review, favourite, dan follow!
silakan mereview khususnya bagi yang belum mereview yah!
aku sengaja nge-update secepat mungkin, takut ide-ide aku tiba-tiba ilang.
maafkan jika di fanfic ini Luhan dinistain sama aku. gak tau kenapa, cocok aja. haha
tenang aja bagi yang pengen liat member-member lain dan couple-couple lain, karena seiring bertambahnya chapter pasti pada bermunculan kok.
sampai jumpa di next chapter okay
