Title : Wiol Ono, Aiedail
Genre : Boys love-Yaoi, Romance, Fantasy
Cast : Baekhyun, Chanyeol, Kris, Luhan and EXO members
Rating : T
Summary :
Kris yang memiliki alasan sendiri untuk menjadikan Baekhyun kekasihnya. Berawal mengunjungi kamar mendiang ibunya, Baekhyun mengalami petualangan seru yang membuatnya hampir gila. "Luhan jauh lebih cantik" "Hey, panahku seharusnya membunuh serigala jelek itu!" "amnesia!" "dasar hidung terong," "mana ada wanita berkaki naga, idiot!" "kalian cocok, sama-sama pengkhianat."
.
.
"Hey, panahku seharusnya membunuh serigala jelek itu!" si pemanah memprotes saat serigala yang terpanah berlari mendekati mereka bertiga. "Ayo, kita harus segera bergegas, serigala itu tidak bisa memasuki terowongan ini." Seru pemuda berambut pirang. Disetujui si pemuda pemanah.
"ngomong-ngomong, siapa namamu?"
"Byun Baekhyun."
"Baek... Hyun?"
.
.
.
.
Chapter 3 – Here we go!
.
.
.
"B-B-Ba-"
"Hey bodoh, perhatikan jalanmu jika tidak ingin dicabik makhluk itu!" Cerca pemuda berambut pirang itu dengan wajah kesal. Suaranya yang berat dan dingin tidak dapat tersembunyikan dibalik topeng besinya.
Baekhyun menoleh ke belakang. Pemuda berkaos hijau menatapnya dengan pandangan berbinar-binar seolah-olah dia baru menemukan berlian yang sudah hilang jutaan tahun. Mereka terus berlari, menghindari bebatuan besar, tumpukan kayu berlumut dan reruntuhan batu kapur. Pergelangan kakinya yang ngilu kini bertambah parah akibat nekat menendang serigala itu sebelumnya.
"Perlu aku gendong?" tanya pemuda berbaju berwarna emm, mungkin putih sebelumnya? Tapi sekarang warnanya seperti sudah tercelup cat lumpur kental.
"Tidak, tidak, tidak, jika kita berhenti 5 detik saja serigala itu bisa menggigit pantatku." Well, bukannya pemuda pemanah itu ingin melihat Baekhyun tersiksa, tapi serigala itu mengejar mereka dengan amat cepat, panah yang menancap di punggungnya seakan-akan tidak mengganggunya.
"Kau benar-benar tega? Bisa-bisa kakinya patah di tengah perjalanan." Hiperbolis sekali pemuda pirang itu. Dalam hati Baekhyun mengumpat. Napasnya mulai terputus-putus, rambutnya sudah lepek seperti terkena minyak jelantah, matanya merah karena tidak tidur beberapa hari.
"Kurasa kita bisa berhen- aish kenapa serigala jelek itu bisa memasuki terowongan ini, sih?" tidak sampai sedetik mereka berhenti, serigala itu sudah memasuki terowongan dengan mudahnya. Asap mengepul disekitar tubuhnya, tapi tidak membakar bulunya sedikitpun.
" Sepertinya kita baru menyadari kalau serigala itu adalah seekor alpha. Sebaiknya, kau bawa Baekhyun ke markas, biar ku tangani si alpha kurus ini." Pemuda pembawa tombak awalnya ragu membiarkan temannya melawan seekor serigala alpha, tapi disisi lain ia harus menyelamatkan pemuda pendek ini ke markas untuk segera menerima penyembuhan, melihat keadaannya yang sangat mengenaskan.
"Baiklah, hati-hati, Yeol. Tapi kami tetap berada tidak jauh darimu. Kita harus pulang ke markas bersama." Meski sedikit heran, pemuda yang dipanggil Yeol itu hanya menganggukan kepala dan mulai memanah si alpha secara acak dengan beberapa anak panah.
Serigala bersayap itu cukup gesit menghindari panah-panah tembaga miliknya. Merasa frustasi karena tidak satupun panah menyentuh tubuh serigala itu, akhirnya ia berlari mendekat dan meninju moncong si alpha. Lalu ia tarik ekornya yang berbulu lebat dengan satu tarikan keras dan dilemparnya si alpha itu hingga membentur dinding terowongan.
"Mati kau, alpha payah! Bahkan kau tidak pantas disebut alpha." Ejeknya sambil tersenyum penuh kemenangan.
Merasa terhina serigala itu mulai bangkit dan menerjang Chanyeol hingga posisi mereka saling menindih. "Kau berani menghinaku, dasar anak bebal!" desis serigala itu dalam pikiran Chanyeol. Chanyeol yang terlambat bereaksi hanya melongo kaget. Ia berusaha menggapai anak panah yang terletak dibalik bahunya, namun si alpha menggigit lengannya.
Baekhyun dan pemuda disampingnya menatap ngeri saat mendengar jeritan Chanyeol. "Sial, aku hanya membawa satu tombak." sesalnya. Entah keberanian darimana Baekhyun melangkah maju. "Aku akan menolongnya."
"Kau bahkan tidak punya-"
Perutnya seakan melilit ketika ada sesuatu yang hendak dimuntahkannya. Sebagai insting Baekhyun memejamkan kedua matanya lalu mengulurkan tangan kanannya ke depan, dan memperlihatkan telapak tangannya yang kotor oleh tanah. Seketika tidak terjadi sesuatu, namun lambat laun keluarlah setitik cahaya putih yang memanjang menuju mata si serigala. Merasa pusing serigala itu melepaskan gigitannya dan mundur sempoyongan akibat tidak bisa melihat apa-apa. Semakin Baekhyun melangkah maju, semakin serigala itu mundur dan melolong kesakitan. dengan gerakan cepat Baekhyun mengepalkan telapak tangannya, dan ketika itu pula mata serigala itu meledak dan menghancurkan kepalanya.
"Wow."
"Bagaimana bisa? Siapa yang melakukannya?" Chanyeol hanya menatap serigala itu dengan ekspresi ingin muntah. Lalu menatap lengan kanannya dengan cemas. "Yeah, tidak terlalu parah."
"Jadi siapa yang melakukannya? Aku harus berterima kasih pada siapa?" seru Chanyeol sambil berlari-lari kecil menuju kedua orang yang tidak jauh darinya. Matanya kini beralih pada pemuda pendek yang berdiri sambil membungkuk dan memegang kepalanya.
"Kamu harus berterima kasih padaku." Pinta Baekhyun dengan napas yang tercekat. Chanyeol menatap Baekhyun tidak yakin. Mana mungkin pemuda kurus nan kotor ini mempunyai kekuatan mengerikan seperti tadi. Jika itu sahabatnya ia bisa percaya. Risih ditatap secara intens olehnya, Baekhyun meringis malu.
"Berterima kasihnya nanti saja. Kita harus segera pulang ke markas."
.
.
.
.
"Kita sudah sampai di markas." Ucap pemuda berambut pirang. Jika saja kakinya tidak sedang terluka mungkin Baekhyun langsung berlari kesana kemari seperti anak penguin yang kesenangan melihat tempat yang unik di tengah hutan.
Markas itu seperti perkemahan, namun bukan perkemahan pada umumnya. Tenda disini sangat besar hampir sebesar rumah-rumah, juga terlihat sangat kokoh. Setiap tenda mungkin bisa menampung hingga 15 orang sekaligus. Dan setiap tenda pula memiliki warna dan ciri khas yang berbeda. Posisi tenda-tenda itu dibuat setengah lingkaran dengan api unggun yang sedang padam di tengahnya.
Berbagai variasi rumput memenuhi markas tersebut. Mulai dari yang daunnya berbentuk jarum hingga berbentuk trisula. Warnanya pun tidak hanya hijau, bahkan ada yang berwarna emas. Baekhyun benar-benar belum pernah melihat pemandangan tersebut. Jika dilihat ke sebelah kanan terdapat patung centaurus gagah berukuran kira-kira tiga meter yang diapit dengan 2 patung satir yang berukuran kira-kira satu setengah meter. Masing-masing patung mengenakan baju tempur dilengkapi helm besi berbulu ayam warna warni dan memegang pedang berujung lancip.
Anak-anak remaja berkeliaran sambil berbincang-bincang dengan temannya yang lain. Sebagian besar mereka memakai kaos polos warna warni, tetapi dengan celana longgar yang seragam yaitu berwarna hitam. Mereka ada yang membawa pedang, panah, tombak, botol air yang diikat ke pinggang, tongkat kayu seukuran tongkat baseball dan lain lain. Mereka sedikit tertarik saat melihat pemuda berbaju kotor, robek-robek juga bau. Jangan lupakan wajah Baekhyun yang berdebu, tersayat ranting, dan tertempel sobekan daun basah. Baekhyun mencoba untuk tersenyum manis namun gagal karena mereka justru melanjutkan acaranya masing-masing yang sempat tertunda.
"Ahh, leganya." Ucap pemuda berkaos hijau.
"Ayo, kita harus menemui Lay sekarang." Timpal pemuda berambur pirang.
Baekhyun melirik kedua pemuda disamping kiri dan kanannya. Ternyata mereka sudah melepas topeng besi itu. Si pemuda berkaos putih dan berambut pirang itu sedikit mirip bule mungkin dia blasteran. Dan satu kata untuk wajahnya adalah tampan. Di samping kirinya, si pemuda pemanah memiliki rambut hitam ikal dengan mata belo yang berbinar-binar seperti anak balita. Tapi semakin diperhatikan wajah itu mirip seseorang yang pernah ia lihat sebelumnya. Bukan, bukan ketika bertemu di hutan, namun jauh sebelum itu. Belum sempat ia bertanya, pemuda bule itu menuntunnya dengan hati-hati entah menuju mana, mungkin menuju si Lay itu.
"Oh Kris, disana kau rupanya?" Baekhyun mengerutkan dahinya. Pemuda berkaos jingga mendekati mereka bertiga dan tersenyum amat manis sambil menatap ke samping kanannya. Kris? Jadi pemuda bule ini namanya Kris? Pedang besar dan sepertinya berat terpasang dipinggangnya. Wajahnya sedikit diangkat dengan gaya yang angkuh juga anggun. Lengan kaosnya yang dilipat hingga atas bahu memperlihatkan lengannya yang putih juga sedikit berotot.
"Ah, Baekhyun, ini Luhan. Dia adalah ketua di markas ini. Dan Lu, dia adalah Baekhyun. Aku dan Chanyeol bertemu dengannya di hutan." Luhan mulai mengamati Baekhyun dengan teliti, seperti mengamati seekor anak kucing yang sengsara dan merana yang memohon untuk diberi makan.
Well, wajah Luhan tampan sekaligus cantik. Rambutnya berwarna coklat keemasan dengan bulu matanya yang lentik. Baekhyun merasakan firasat janggal, pemuda itu adalah orang yang semestinya dia kenal.
"Hai, Baek-Hyun? mustahil... Kau mirip sekali dengan seseorang." Menyebutkan namanya dengan penuh penekanan justru membuatnya sedikit bergidik ngeri meskipun wajahnya dihiasi senyuman manis nan imutnya.
"H-hai, Luhan. Jadi, apa maksudmu aku mirip sekali seseorang? Apa aku punya..emm, semacam kembaran?" Jawabnya sambil tersenyum kikuk, mencoba untuk tidak takut namun gagal.
"Tidak, bukan kembaran, tapi entahlah aku akan membahasnya nanti." Nada suaranya kini terdengar sangat tegas. Luhan diam-diam sedikit melirik ke samping kiri Baekhyun dengan tidak suka dan memalingkan pandangannya pada Kris sambil tersenyum manis –lagi-.
"Jika tidak ingin membahas dia jangan memulainya terlebih dahulu!" Chanyeol entah kenapa yang awalnya terlihat kelewat ramah kini jadi marah-marah pada ketua markas. Seakan-akan perkataan Luhan menyinggung hatinya.
"Sudahlah, membentak ketua markas tidak ada untungnya kan?" Kris mencoba untuk melerainya, tapi itu memperburuk suasana. Chanyeol mendelik pemuda pirang itu sambil mendecih. "Maaf aku sudah membentak pacar mu." Luhan tidak perlu segan-segan membentak balik pemuda berkaos hijau itu. Malah dia memperlakukannya seperti roh transparan yang tidak pantas untuk dilirik pun.
"A-ah, baiklah jika tidak mau dibahas." Baekhyun setidaknya mencoba untuk mencairkan suasana yang semakin lama semakin seram saja. Apa Luhan dan pemuda berkaos hijau itu musuh bebuyutan? Mereka terlihat tidak akur sekali.
"hahaha, jangan gerogi begitu. Aku bukan orang jahat, yah meski aku ketua dan mengharuskan bersikap tegas juga galak, tapi aku cukup baik dan ramah." Pernyataan itu membuatnya lega, tidak seburuk perkiraanya ternyata.
"Kau terluka, sebaiknya kita harus menemui Lay. Ah, dia adalah ahli penyembuh di markas ini jika kau penasaran. Kris, kau harus menyuruh si-bodoh itu untuk membersihkan Megantum secepatnya." Perintah Luhan pada pacarnya. Sedikit cemburu memang mendengar Kris sudah punya pacar.
"Parkchan, kau mendengar itu kan?" tanya Kris. Aku melirik kesamping kiri disana pemuda yang dipanggil Parkchan hanya mengangguk dengan setengah hati. Well, sebenci itu kah Luhan? Mungkin, ia bisa bertanya nanti apa yang terjadi pada mereka berdua sebenarnya. Ia bahkan tidak tertawa saat mendengar nama pemuda berkaos hijau yang dipanggil Parkchan, nama menggemaskan seperti itu pasti selalu membuat Baekhyun tertawa. Yeah, nama yang tidak asing menurutnya. Baekhyun kira dia ingat sesuatu. Kini ingatan itu telah lenyap.
"Ohya, sepertinya malam ini ada perekrutan anggota baru. Persiapkan diri kalian pada acara api unggun nanti." Seru Luhan.
"Anggota baru?" tanya Baekhyun.
"Ya? Kau ditemukan..ah maksudku bertemu dengan Kris dan Chanyeol di hutan dan itu artinya kau adalah anggota baru di markas ini." Jawab Luhan dengan sabar.
"Tapi bagaimana bisa? Aku bahkan tidak tau asal usulku." Timpal Baekhyun.
"Kau tidak tau asal usulmu? Apa kau pergi ke hutan sendirian?" Baekhyun hanya mengangguk seadanya. Luhan mulai bingung, dan dalam hati ia merasa ada yang tidak beres.
"Bukankah orang yang memasuki hutan ini memiliki tujuan, yaitu datang ke markas ini untuk menjadi pahlawan. Dan tentu saja dia diantar setidaknya oleh salah satu keluarganya. Bukan begitu, Lu? Pantas saja aku dan Chanyeol hanya melihatnya sendirian dikejar-kejar serigala bersayap." tanya Kris yang akhirnya ia menyadari sesuatu yang mustahil.
"Mungkin dia datang kesini dengan cara yang agak... berbeda. Tidak sembarang orang dapat datang ke wilayah ini. Sebaiknya kita meminta keputusan pada Chen apakah ia layak tinggal disini atau tidak." Baekhyun pun hanya mengikuti mereka bertiga yang berjalan entah menuju mana. Situasi saat ini cukup membuatnya gelisah. Bagaimana jika ia tidak layak tinggal disini? Mungkinkah dia akan diusir? Atau lebih kejamnya dia akan dicambuk hingga tewas?
Dan pahlawan. Baekhyun baru tahu jika semua orang yang ada disini adalah sekelompok pahlawan. Dan artinya mereka mempunyai semacam kekuatan seperti yang Baekhyun lihatkan di terowongan tadi. Yah, Baekhyun harap dia bisa menjadi salah satunya. Dan Baekhyun bisa tinggal disini dengan leluasa tanpa dikejar-kejar serigala bersayap dan tanpa makan dedaunan mentah.
.
.
Pemuda di altar bebatuan mengangkat tangan. Petir kemerahan berkilat di angkasa, mengguncangkan bangunan tua di dekatnya. Kemudia dia menurunkan tangan, dan gemuruh pun berhenti. Awan-awan berubah warna dari abu-abu menjadi putih dan terbuyarkan.
Atraksi yang cukup mengesankan, apalagi penampilan pemuda itu kurang meyakinkan. Dia tidak tinggi, kurus, berambut cokelat gelap, memakai celana hitam longgar tentu saja, kaos abu luntur yang longgar, dan jubah melorot. Dia kelihatan seperti orang-orangan sawah yang memakai seprai.
"Apa yang dia lakukan?" gumam Baekhyun.
Pemuda berjubah menoleh. Dia tersenyum miring dan menampakan ekspresi agak sinting di matanya. Di satu tangannya memegang pisang dapur tajam dan di tangan satunya lagi, ada sesuatu yang menyerupai hewan mati. Alhasil, penampilannya semakin jauh dari kata waras.
"Baekhyun, ini Chen." Kata Luhan.
"Oow, bukannya kau sudah mati, atau dia bereinkarnasi?"
"Maaf? Sudah mati apa maksudmu?" pertanyaan Baekhyun tidak dijawab sama sekali. Memangnya dia mayat yang bangkit dari kubur apa.
"Bodohnya aku, tidak mungkin ia bereinkarnasi langsung sebesar ini. Ah lupakan saja! aku hanya bercanda." gerutu pemuda ceking itu, sambil sekali-kali melirik Baekhyun dengan was-was.
"Apa kamu membunuh hewan kecil berbulu?" aneh memang Baekhyun menyebut kata 'kamu' tidak seperti mereka yang menyebut kata 'kau', agak baku menurutnya. Ia pikir, dulu ia sudah terbiasa menyebut orang-orang dengan kata 'kamu'.
Chen memandang benda di tangannya yang sudah tak berdaya. Benda itu ternyata boneka panda mungil yang punggungnya mengeluarkan kapuk. Baekhyun memandang boneka dan Chen secara bergantian. Benar-benar tidak waras.
"Dia mungkin hanya mirip, Chen. Namanya Baekhyun. Dan kau Chanyeol, bukankah sudah kukatakan untuk segera membersihkan Megantum?" Ucap Luhan dengan tenang. Chanyeol memelototinya dan siap untuk meninju wajah cantik Luhan. "Nanti saja aku sedang malas." Okay, mungkin dulu ada hubungan yang tidak enak antara Luhan dan Chanyeol.
"Bukankah nama Baekhyun itu nama korea dari Bai Xian?" pertanyaan Chen cukup mengundang keterkejutan diantara mereka bertiga.
"Mungkin itu hanya kebetulan. Tapi aku bukan Bai Xian atau siapa lah itu. Aku bahkan ada di hutan beberapa hari setelah aku sadar dari tidurku dengan keadaan hilang ingatan. Walau aku hanya mengetahui namaku, aku cukup yakin jika aku bukan Bai Xian."
"Aku kurang yakin memang, tapi mungkin ramalan yang akan menjawabnya nanti." Ucap Chen sambil mengeluarkan gumpalan kapuk dari punggung boneka panda.
"Kamu peramal?" Chen hanya tersenyum miring alih alih menjawab.
"Chen, apakah ia layak tinggal disini sebagai pahlawan? Melihat dia datang kesini dengan cara yang tidak biasa." Mereka berempat melihat Chen mengambil boneka panda yang kelewat imut, lalu ia robek punggungnya menggunakan pisan dapur. Mata jahilnya tertutup dan mulut tipisnya berkomat-kamit. Tak lama ia membuka matanya lalu tersenyum sinis dan itu membuat Baekhyun takut.
"Kau memiliki kekuatan yang bagus. Dan kau bisa tinggal di sini." Katanya dengan datar.
"Terima kasih." Bukan Baekhyun yang mengucapkannya, tapi Chanyeol. Dia kelihatannya sangat puas dengan keputusan Chen. Chanyeol menatap Baekhyun lalu tersenyum.
"Kalian kedatangan teman rupanya." Mereka berempat menoleh.
Datanglah si pemuda yang memiliki warna kulit kecokelatan, matanya berwarna gelap dan rambutnya hitam berantakan. Dia mengenakan cincin tengkorak perak, sabut berupa rantai, dan kaos hitam bergambar tengkorak. Di pinggangnya tersandang pedang hitam pekat.
Pemuda itu terguncang, bahkan sedikit panik. "Ini Baekhyun." Kata Luhan. "Dia orang baik. Baekhyun, ini sepupuku, Son of Death." Pemuda itu mengulurkan tangan.
"Senang bertemu denganmu," katanya.
"Aku, Zitao."
.
.
.
To Be Continue
Maaf lama updatenya, ketika siap nge-post eh tiba-tiba modem abis paket. Sial banget.
Makasih banyak yang udah review, aku sangat menghargai kalian semua readers!
Nah, di review ada yang nanya nih, yang mungkin para readers juga gak tau :
· Bingung itu judulnya pake bahasa apa yah?
Judulnya aku ambil dari bahasa kuno, lebih tepatnya dari novel Eragon yang keempat. Wiol Ono : Demi Kau dan Aiedail : Bintang Pagi.
Yang masih bingung sama ceritanya,
· ini petualangan alam mimpi atau real?
Itu... para readers yang sebaiknya menebak-nebak. Entar juga kalian bakal tau kalau itu real atau sekedar mimpi. Di Chapter ini mungkin udah ada yang bisa nebak atau sudah tau mungkin?
Dan , para Silent Readers aku mengharapkan review anda semua. Aku gak maksa harus me-review dalam bentuk pujian, komentar, atau apa pun. Cukup untuk meninggalkan jejak kalau kalian sudah membaca itu sudah aku hargai.
Bagi ada yang mau memberi masukan, silakan dan dengan senang hati aku terima.
