Gadis kecil berambut putih itu ketakutan. Dikala dia memegang sendok dan membuat sendok tersebut beku. Dia panik dalam hati. Tentu saja dia tidak bisa mengatakan kalau dia panik secara gamblang di hadapan adiknya yang sedang makan bersamanya saat ini. Yang dia harapkan saat ini, pemuda berambut perak itu akan datang lagi dan membimbingnya.

.

.

Disclaimer

Rise Of The Guardians © Dreamworks

Frozen © Disney

.

.

"Elsa?" panggil seorang gadis kecil berambut coklat di depan kamar kakaknya.

"Pergilah Anna, aku sedang tidak ingin di ganggu." Ucap Elsa dari dalam kamarnya.

"Elsa, ayo kita bermain salju dan membuat manusia salju! Ayolah Elsa.." Anna masih mengganggu dan memperjuangkan keinginannya.

"Anna.. Aku sedang tidak enak badan." Elsa berbohong. Anna lalu menyerah.

Dalam hati Anna, apa yang sebenarnya terjadi pada Elsa? Kenapa dia tadi makan dengan panik? Kenapa dia langsung menuju ke kamar dan tak bermain lagi bersamanya? Padahal sebelumnya, Elsa tidak pernah menolak untuk bermain bersama Anna.

Gadis berambut coklat itupun berjalan di lorong yang sunyi. Memperhatikan lukisan-lukisan yang terpajang di dinding-dinding tinggi itu. Hanya ada suara nafasnya yang berat dan langkah kakinya saja yang terdengar. Tiba-tiba ada langkah kaki orang lain, Anna melihat ke belakang dan dilihatnya Sang Ratu, Ibunya sendiri.

"Mama!" teriak Anna dan langsung menghampiri Sang Ratu. Ratu lalu menggendongnya sejenak dan menurunkannya, lalu menepuk kepala anak itu.

"Hai, apakah kamu sudah makan siang, Anna?" tanya Ratu. Anna mengangguk.

"Mama, ada yang aneh dengan Elsa." Ucap Anna. Sang Ratu hanya mengangkat satu alisnya.

"Aneh bagaimana?" tanya Sang Ratu. Elsa lalu menceritakan bagaimana perilaku Elsa setelah makan siang.

"Mungkin dia sakit, ayo kita ke kamarnya." Ucap Sang Ratu.

"Tapi dia tidak akan membukanya." Ucap Anna.

"Aku punya kunci kamarnya, Anna. Ayo!" Ajak Ratu. Anna lalu mengangguk dan berjalan bersama Sang Ratu.

.

"Kuncinya tidak bisa dimasukkan." Bisik sang Ratu kepada anak bungsunya.

"Mungkin Elsa masih menggantungkan kuncinya.." ucap Anna.

"Ini aneh.." Sang Ratu bergumam. Tiba-tiba datang seorang pelayan.

"Ehm, pelayan. Tolong bukakan pintu ini. Ini kuncinya." Ucap Ratu. Pelayan tersebut lalu mengangguk dan mencoba membuka pintu kamar Elsa namun hasilnya nihil. Akhirnya Ratu memanggil Elsa dari luar.

"Elsa.." panggil Ratu.

"Ha.. Ehm, yaa?" jawab Elsa dari dalam kamar.

"Buka pintunya. Sekarang." Ucap Ratu.

"A-aku tidak bisa.." ucap Elsa ketakutan.

"Kenapa?" tanya Ratu.

"A-aku tidak bisa.. Tolong jangan paksa aku.." ucap Elsa. Sang Ratu lalu melihat ke arah Anna dan menggeleng. Yah, mungkin sekarang tidak bisa.

"Maafkan aku Anna, kita coba lagi besok." Ucap sang Ratu. Anna menganggukkan kepalanya dan berjalan menuju kamarnya sendiri.

.

.

Sementara itu, di kamar Elsa.

Ruangan yang agak besar ini sudah tidak terlihat seperti kamar. Semuanya membeku, Elsa bahkan tidak mengunci pintunya dan pintu itu terkunci rapat sendiri—sangat rapat. Elsa sedikit lapar, dia ingin makan coklat.

"Ah, aku ingin makan coklat." Gumam Elsa. Tapi dia tidak bisa, dia tidak tahu bagaimana mencairkan es tersebut.

"Jack, aku harap kau ada di sini." Gumam Elsa lagi. Kali ini dia melihat ke jendela, dimana terlihat salju turun dengan lebat. Dimana dia ingin sekali menghabiskan waktu di luar rumah.

"Jack, kapan kau akan menemuiku lagi?" tanya Elsa lagi, entah pada siapa. Yah, walau sepertinya pertanyaan itu tertuju pada Jack, tapi apakah Jack mendengarnya?

"E-elsa.." panggil sebuah suara, arahnya dari jendela.

Elsa mendongakkan kepalanya, dan dia melihat pemuda itu. Pemuda bersurai perak yang memberinya kekuatan terkutuk ini.

"J-Jack.." panggil Elsa terputus, dia lalu buru-buru membuka jendela dan membiarkan Jack masuk.

"M-maafkan aku, karna aku meninggalkanmu tadi." Ucap Jack. Elsa tersenyum tulus.

"Tidak apa-apa, yang penting sekarang kau disini." Ucap Elsa. Jack mau tidak mau ikut tersenyum.

"Nah, sekarang bagaimana caranya untuk mengendalikan es-es ini? Aku ingin keluar dan makan coklat tanpa membekukan apapun." Ucap Elsa. Jack lalu memegang telapak tangan Elsa, dan menuntaskan semua hal yang diperluakn Elsa. Setelah itu, Jack pamit pergi.

"Dadah!" ucap Elsa sambil melambaikan tangannya pada Jack. Begitu juga Jack, melambaikan tangannya pada Elsa.

"Jadi begitu, aku hanya perlu merasakan cinta untuk mencairkan esnya. Baiklah, aku akan mencoba." Elsa mencoba memikirkan Mamanya, Papanya, dan Anna. Seketika ruangannya berubah menjadi seperti sedia kala. Elsa lalu berlari keluar kamar dan menuju ke ruang makan untuk memakan coklat. Kali ini, dia tidak akan takut kehilangan kontrol atas kekuatannya karna dia tahu bagaimana kuncinya.

Selama ada kasih sayang, selama itu juga Elsa masih bisa mengontrol kekuatannya.

.

.

Bertahun-tahun sudah berlalu, sekarang Elsa sudah berumur 18 tahun dan Anna berumur 17 tahun. Mereka masih bermain bersama, makan bersama, menonton acara bersama. Dan semuanya masih bersama.

Dan hari ini, ada sebuah festival coklat dimana semua yang dijajakan adalah coklat. Tentu kedua gadis penggemar coklat ini harus mengikutinya.

"Pasti akan ada banyak makanan dan benda yang terbuat dari coklat!" ujar Anna dengan bersemangat.

"Tentu saja, namanya juga festival coklat!" ucap Elsa yang juga tak kalah bersemangat.

"Akan ada permen coklat, coklat batang, strawberry coklat, dan masih banyak lagi! Aku akan mencoba semua makanan itu!" ucap Anna.

"Dan kau akan berubah menjadi gendut, Anna. Hahaha.." ledek Elsa. Anna hanya menggembungkan pipinya.

"Hey lihat Elsa, kita sudah sampai." Ucap Anna tiba-tiba ketika mereka sudah sampai di gerbang festival tersebut.

"Waaah.. Aku mencium banyak sekali bau coklat.." ucap Elsa. Masih dengan terkagum-kagum, mereka berjalan memandangi sekeliling, tapi tidak memandang ke samping.

Seseorang dengan kereta kuda—ehem, kereta rusa maksudnya—menabrak Anna. Sungguh tidak terduga, Elsa panik bukan kepalang.

"Anna, Anna... Bangunlah.." ucap Elsa sambil berusaha membangunkan Anna. Anna belum sadarkan diri, sepertinya benturannya terjadi sangat keras.

"Bagaimana ini? Aku.. Aku.." Elsa bingung, dia bimbang apakah harus melakukan apa yang dilakukan oleh Jack waktu itu atau tidak. Anna belum juga mau bangun.

"Tenanglah, Putri. Ayo kita bawa dia masuk ke kastil." Ucap pemuda yang membawa kereta rusa yang menabrak Anna tadi.

"A—ah, baiklah.." ucap Elsa. Anna lalu di gendong oleh lelaki tadi.

"Dimana kamarnya?" tanya pemuda itu. Elsa lalu menunjukkan jalan menuju kamar Anna, dan kemudian dia merasa de javu.

Pemuda itu membaringkan Anna di tempat tidurnya. Setelah itu pergi keluar kamar Anna.

"Ah, maafkan aku tuan putri. Aku sungguh tidak sengaja. Ah, namaku Kristof. Jika aku bersalah dan harus dihukum, aku akan menerimanya." Ucap Pemuda itu, kemudian pergi. Elsa menganggukkan kepalanya dan menatap adiknya lagi.

'Haruskah aku melakukan itu?' batin Elsa berkecamuk. Dia tidak ingin membuat Anna dalam bahaya, namun dia juga ingin Anna cepat pulih.

Akhirnya setelah perang batin yang sangat mencekam, Elsa memutuskan untuk menggunakan kekuatannya untuk membuat Anna pulih.

Elsa mencoba membuat sebuah bunga salju dengan tangannya, setelah jadi Elsa lalu menempelkannya pada kepala Anna.

Anna lalu terlihat tersenyum, lalu tidur dengan nyenyak. Elsa tersenyum, lalu meninggalkan Anna di dalam kamarnya.

'Jack, Aku berhasil.' Batin Elsa, lalu dia melihat wajah Jack Frost yang sedang tersenyum ke arahnya.

"Tuan Putri, Tuan Putri!" teriak seorang pelayan, memanggil Elsa.

"Ssstt.. Ada apa?" Elsa memelankan suaranya.

"Itu, maafkan saya. Tetapi, ini berita yang sangat penting." Ucap pelayan itu sembari memelankan suaranya.

"Apa? Katakan dengan jelas." Ucap Anna.

"Ratu dan Raja telah meninggalkan kita semua. Mereka karam di kapal yang membawa Raja dan Ratu untuk pergi ke pertemuan Seluruh Kerajaan di benua ini. Maafkan aku." Ucap pelayan tersebut.

Elsa shock dengan apa yang dia dengar. Sekarang, Mama dan Papanya telah tiada, lalu kasih sayang dari siapa lagi yang bisa dia dapatkan? Dia terlalu takut kasih sayang dari Anna belum cukup untuk menekan kekuatannya.

Dan Akhirnya, Elsa kolaps. Dia pingsan dan tidak sadarkan diri. Pelayan tadi panik dan memanggil teman-temannya untuk membantu membawa Elsa ke dalam kamarnya sendiri.

.

.

TBC~~

Huamp maaf late update ;-; Karna saya kemaren tiba-tiba masuk zona nyaman alias WB, huh sebel.

Ini aja pas mau ngetik ogah-ogahan dulu.. Maaf yaa yang nungguin kelanjutannya. Ohiya yang review aku balas di PM yaa ^^

Dan,, jangan lupa untuk review again :D