KUROKO NO BASKET © FUJIMAKI TADATOSHI
TSUBASA © AOIYUKI
GENRE : FRIENDSHIP, DRAMA, ROMANCE, FANTASI
RATE : T
PAIRING : -
WARNING : FULL OF OOC, OCs, AU, GENDERBEND, A COMMON THEME, MISSMACH GENRE, CONFUSING, FLAT, AND BORING STORY
WELL, HAPPY READING ALL
.
.
.
Tsubasa
Chapter 1 : new roommate
.
.
"Jadi Akashi-kun, apa tujuan rapat darurat kali ini", pemuda dengan rambut biru secerah langit musim panas bertanya dengan wajah datar. Tak peduli lawan bicaranya adalah salah satu makhluk yang paling ditakuti di ruangan itu, wajahnya tetap tak menunjukan satupun emosi.
"Sepertinya aku harus memperingatkanmu sekali lagi Tetsuya, jangan menyela selagi aku bicara. Untuk kali ini kau kumaafkan, tapi tak ada lain kali.", pemuda beriris mata merah dan emas itu menatap tajam iris biru muda dari pemuda lainnya. Tatapan tajam itu dibalas dengan tatapan datar dari pemuda biru muda tadi.
Orang-orang di sekitar mereka sudah panik.
Kise sudah komat-kamit tidak jelas, kata-kata yang tertangkap telinga hanyalah Kurokocchi, Kurokocchi, Kurokocchi. Hal itu membuat kesabaran Kasamatsu hilang dan terjadilah penganiayaan dengan korban berinisial K.R. dan pelakunya K.Y., metode yang dipakai adalah tendangan bertubi-tubi pada punggung dan pinggang cowok berambut kuning malang itu. Penyiksaan berakhir ketika korban sudah tak sadarkan diri, meski begitu nama Kurokocchi tetap terucap dari bibir Kise Ryota.
Di tempat lain Aomine sudah duduk gelisah sejak tadi. Matanya memandang tak tentu arah, keringat dingin keluar dari sekujur badannya. Dengan ketegangan yang ada di ruangan itu menambah gerakan gelisah Aomine. Setelah akhirnya tidak kuat menahan ketegangan yang ada, dia kabur keluar kapel. Menuju toilet terdekat dan tak kembali untuk beberapa saat.
Di sudut ruangan yang penuh dengan barang aneh, Midorima sedang mengetuk-ngetukan jari-jari tangan kanannya satu persatu. Ekspresi di wajahnya tak dapat digambarkan dengan kata-kata. Seolah masalah berat terjadi dalam hidupnya. Sesekali matanya melirik ke kiri, tempat di mana Takao sedang memanicure tangan kiri Midorima. "Kalau ada satu yang patah maka itu salahmu dan aku tak akan memaafkannya.", dan "Pelan-pelan", adalah kata-kata yang dikeluarkan Midorima sejak tadi, matanya tak lepas dari kikir dan wajah tersenyum Takao. Midorima tak bisa mempercayai Takao sepenuhnya untuk masalah tangan kirinya.
Di tempat lain Murasakibara terlihat panik. Benar, dia panik. Sulit dipercaya, tapi percayalah. Matanya sudah melirik-lirik pada Himuro, dan bibirnya sudah digigiti sendiri sejak tadi. Air mata terlihat mengintip dari kedua matanya. Seperti dapat membaca apa yang ada dipikiran Murasakibara, Himuro berkata, "Dame, Atsusi. Kalau kau makan lebih banyak lagi maka badanmu akan gemuk, dan itu bukan karena kau Giant ya. Semua snackmu aku sita". Mendengar penjelasan Himuro, air mata itu tak dapat dibendung lagi. Malam ini Murasakibara Atsusi menangis dalam diam.
Kembali pada dua pemuda dengan model rambut sama, hanya berbeda warna tadi. Keduanya masih saling tatap dengan pandangan khasnya masing-masing. Akashi dengan tatapan tajamnya dan Kuroko dengan tatapan tanpa ekspresinya. Tampak tak ada yang mau mengalah. Meski sebenarnya mereka tak mau mengalah untuk apa itu juga membingungkan.
Setelah kebisuan yang lama terjadi, akhirnya Kuroko membuka mulutnya terlebih dahulu. "Maaf Akashi-kun, aku tak akan mengulanginya lagi. Jadi, masalahnya apa Akashi-kun?"
Akashi dapat membaca keengganan dalam kalimat permintaan maaf tadi. Meski begitu senyum, atau lebih pantas disebut seringai, muncul di wajahnya. Sepertinya Akashi berhasil membaca kecemasan yang bercampur dengan keingin tahuan yang kuat dalam pikiran Kuroko.
"Baiklah akan kukatakan. Semuanya."
Mendengar kata 'semuanya', seluruh anggota Kiseki no Sedai beserta Partnernya berkumpul di hadapan Akashi. Bahkan Aomine yang ada di luar kapel sebelumnya segera kembali masuk.
"Minna, untuk pertama kalinya dalam sejarah SMA Teiko seorang H akan datang"
Tanpa dikomando semua orang ribut. Catat. SEMUA.
"AIDS? Kenapa itu jadi masalah", tentu saja komentar bodoh ini berasal dari Aomine Daiki.
"Dai-chan baka. Bukan AIDS tapi H. Hunter", koreksi Momoi jengkel. Partner sekaligus teman sejak kecil merangkap kekasihnya ini budeg kali yah? Bagaimana H (baca menggunakan bahasa inggris) bisa berubah jadi AIDS? Sabarlah Momoi.
"Eh, Hunter. Huwa, bagaimana ini Kurokocchi?!", makhluk kuning satu ini tentu saja tak mau kalah. Tak mau kalah berisik.
"Berisik Kise!", tanpa ampun tendangan maut Kasamatsu bersarang di kepala Kise. Anak itu pingsan seketika.
"Ne~ ne~, Muro-chin berikan snacknya sekarang~", Murasakibara sedang mempraktekan metode baru yang terlintas dipikirkannya untuk mendapatkan snack malamnya kembali. Pupy eyes ditambah posisi berjongkok di hadapan Himuro serta tangan yang mengepal ke depan. Persis guguk besar.
"Tidak. Berdietlah malam ini Atsusi.", seperti yang diharapkan dari Himuro. Murasakibara bersabarlah.
"Takao apa yang kau lakukan pada bola kristalku nodayo?", disisi lain, sepertinya pasangan Midorima—Takao ini tak tertarik dengan informasi dari Akashi. Mereka bagai berada dalam dunia sendiri. Bukan, bukan. Bukan dunia penuh bunga, tapi dunia penuh kehancuran, anggap saja neraka.
"Gomen, gomen, tanganku tergelincir. Eh, Shin-chan? Kau mau apa? Huwa, maafkan aku...", terlambat. Cahaya putih keluar dari telapak tangan kiri Midorima, menuju Takao. Seketika Takao tumbang.
"Jadi hanya itu Akashi-kun?", tanya Kuroko datar. Sebagai satu-satunya penyimak perkataan Akashi, Kuroko merasa kecewa. Dan merasa sia-sia menyelinap keluar asrama.
"Tentu saja tidak.", melihat Partnernya memasang wajah datar dengan berbagai umpatan berkecamuk di pikirannya Akashi segera menambahkan, "H ini akan tinggal di kamar yang sama dengan Tetsuya."
Kembali keadaan menjadi ricuh.
"Eh?! Aku tak terima Kurokocchi akan tidur di kamar yang sama dengan om-om Hunter yang mesum ssu.", sebagai pengidap Kuroko complex akut nomor satu, Kise bangun dari pingsannya. Hanya untuk protes.
"Baka. Darimana kau tahu Hunternya itu om-om?", lagi-lagi, Kasamatsu menjitak kepala bersurai pirang di pangkuannya itu.
"Beneran tuh. Wah, beruntung sekali H itu. Apa aku bisa tukar kamar dengannya ya?", pikiran mesum Aomine sudah bergerilya hingga ranah piiiiiiiiiiiiiip.
"Huwa, tidak boleh. Aominecchi hanya akan memperburuk pilihan. Lebih baik aku saja yang sekamar dengan Kurokocchi ssu.", tangan Kise kalang kabut mengibas-ngibas imajinasi nista seorang Aomine.
"Mou, kalian berdua bodoh. Kalaupun ada yang bisa sekamar dengan Tetsu-kun sudah pasti itu aku.", gadis bersurai pink ikut masuk dalam konfrontasi perebutan-teman-sekamar-Kuroko-Tetsuya dengan semangat.
"Momoi-san benar. Kalian semua tidak mungkin bisa sekamar dengan Kuroko-kun. Kalaupun ada yang bisa itu pasti salah satu dari kami.", Himoro yang sejak tadi sibuk mengamankan snack yang entah bagaimana berhasil dicuri Murasakibara, ikut angkat bicara.
"Muro-chin kau memang pintar.", puji Murasakibara.
"Atsusi, tetap tak ada snack untukmu.", jawab Himuro kalem.
Murasakibara terdiam mendengar pernyataan Muro-chinnya. Air mata kembali mengintip di ujung matanya, namun kali ini dia berhasil menahannya.
"Ma, ma, lebih baik kalian semua tenang dulu. Akashi pasti punya alasan kenapa Hunter itu akan sekamar dengan Kuroko kan?", tanya Takao dalam posisi berbaring. Ucapkan TERIMA KASIH pada Midorima. Mantra pengunci membuat badan gadis satu ini tak dapat digerakan seinchi pun.
"O-oi, Takao, posemu itu sexy juga.", serigala yang satu ini ternyata sudah terseduktif oleh pose menggoda Takao.
Yeah, seperti kubilang tadi, ucapkan terima kasih pada Midorima Shintaro. Bisa-bisanya dia menggunakan mantra pengunci tepat saat kaki kanan Takao sedikit menekuk ke atas menyebabkan roknya sedikit tersingkap. Jangan lupa kedua tangan yang terjulur ke atas. Sungguh wow. Bisakah kalian bayangkan itu? Tidak? Uh, pokoknya bayangkan Takao sedang berbaring dengan pose menggoda.
"Dai-chan apa yang kau lihat."
Momoi yang sedang dalam pelukan Aomine menendang ke belakang, tepat mengenai sasaran. Ditambah serangan dari jari telunjuk serta jari tengah tangan kanannya berhasil menusuk kedua mata Aomine.
"Ittai! Satsuki!", serta merta pelukannya pada Momoi terlepas. Kedua tangannya sibuk mengelus mata dan daerah pentingnya. Dia sudah tak kuat berdiri dan merosot hingga akhirnya berlutut.
"Rasakan itu.", Momoi merengut, berpindah ke samping Kuroko dan memeluk tangan kanannya manja. "Tetsu-kun, Dai-chan jahat."
"Tenanglah Momoi-san, mungkin Aomine-kun sedang khilaf.", jawab Kuroko tanpa melepaskan pandangannya dari Akashi.
Akashi menyeringai melihat tatapan Kuroko. Memanfaatkan kekuatan Akahi untuk berkomunikasi melalui pikirannya sungguh Kuroko sekali. Alih-alih kalimat untuk menenangkan Momoi yang didengar, ini lebih seperti Kuroko mengatakan pada Akashi apa yang ada di pikirannya.
"Tidak Tetsuya.", jawab Akashi masih setia dengan seringai miliknya.
"Aku pegang ucapanmu Akashi-kun.", balas Kuroko masih dengan wajah datar namun penuh keseriusan.
"Kau selalu bisa melakukannya.", kali ini senyum tulus yang terukir di wajah Akashi.
Keduanya saling bertatapan dalam diam. Tatapan menyelidik dari Kuroko dan tatapan teduh dari Akashi. Masing-masing mencoba mendapatkan apa yang menjadi tujuan, menemukan kebenaran dan tertanamnya kepercayaan.
"Ehem, maaf mengganggu kebersamaan kalian tapi apa rapat darurat sudah selesai? Karena aku harus mengurus serigala mesum ini nanodayo.", Midorima tak terlihat merasa bersalah saat mengatakan maaf. Justru dia terlihat sok sekali dengan tangan kiri menaikan kacamata dan tangan kanan mencengkram kerah baju Aomine.
"Ya, kalian bisa pergi sekarang.", Akashi dapat membaca arti tersirat dari perkataan Midorima. Hei, dia kan bisa membaca pikiran.
"Kalau begitu aku pergi dulu.", kata Midorima masih dengan sikap dingin yang digunakannya sejak tadi.
"Are, Mido-chin mau membawa Mine-chin ke mana?", Murasakibara tanpa snack akan berubah menjadi makhluk penuh rasa ingin tahu. Singkatnya dia kepo.
"Aku akan membawanya ke ruang isolasi nanodayo. Aku ingin mencukur habis bulu serigala dekil ini.", ucap Midorima acuh sambil menyeret Aomine yang masih pingsan akibat mantranya.
"Ah, pasti Midorimacchi mau membalaskan dendam Takaocchi karena sudah dilecehkan. Iya kan ssu?", Kise mulai sok tahu dengan berpose ala detektif. Telunjuknya mengarah pada Midorima dan sebelah matanya mengedip jail.
"Itu tak mungkin nanodayo.", balas Midorima dengan tatapan membunuh. Untung kedua tangannya penuh—yang kanan menarik Aomine yang kiri menaikan kacamata—kalau tidak, pasti Kise sudah bernasib sama dengan Aomine.
"E~h, jadi Shin-chan mau melakukan itu demi aku. Waaaai, arigatou Shin-chan!", kata Takao dengan penuh keceriaan. Tak lupa senyum lebar khasnya.
"Baka, siapa yang melakukan ini untukmu.", suaranya terdengar kasar dan datar tetapi kenyataannya Midorima samar-samar memalingkan wajahnya yang memerah. Hal itu tak lepas hari penglihatan Takao. Apalagi dengan hawk eyesnya, Takao tahu semua.
"Are, Shin-chan malu-malu nih. Kawaii tsundere.", goda Takao sambil menusuk-nusuk pipi kiri Midorima.
"Tsundere ja nai nodayo. Dan berhenti menusuk-nusuk pipiku Takao."
Tangan Takao yang menusuk-nusuk pipi Midorima ditangkapnya. Membuat yang ditangkap tersenyum manis ke arah Midorima. Detik berikutnya senyum itu berubah menjadi cengiran jail. Tak berapa lama kemudian sebuah kecupan mendarat di pipi kiri Midorima, sontak wajah pria tsundere itu memerah sempurna. Bila bisa, asap sudah mengepul saking panasnya.
.
.
.
[SMA Seirin, asrama wanita kamar 407]
Sebentar lagi. Sebentar lagi maka semua berakhir. Suara tangis ini. Aku tak akan mendengarnya lagi.
"Kejamnya. Hiks. Hiks. Orang itu kejam sekali. Hiks. Hiks."
Seorang siswi dengan rambut terikat asal dan kacamata abu-abu terpasang di wajahnya duduk melamun. Atau itu yang terlihat. Nyatanya, siswi itu sedang memfokuskan pikirannya pada hal lain selain suara tangis yang terus didengarnya selama ini.
"Dia tidak menyadari aku ada di sisinya. Hiks. Hiks."
Ya, siswi itu adalah aku. Sebagai Hunter kami memiliki kelebihan dalam bentuk pengendalian elemen yang berguna untuk menumpas ayakashi dan yokai atau terkadang DC. Tapi pada dasarnya Hunter tak bisa mengetahui keberadaan mereka bila mereka tak mengacau. Tapi aku berbeda. Mereka ada di mana-mana, mereka berteriak—atau setidaknya menangis setiap saat. Dan aku bisa melihat dan mendengar itu semua. Melelahkan, apalagi tempat di mana Hunter berkumpul merupakan tempat mereka berkumpul juga. Tak ada yang menyadarinya. Aku sudah lelah.
"Dan cewek itu. Hiks. Hiks. Penghianat sepertinya tak pantas hidup. Hiks. Hiks. Kejamnya."
Karena itulah aku akan pindah besok. Kudengar 5 DC dengan kekuatan yang cukup besar ada di SMA Teiko. Berkebalikan dengan Hunter, mereka menjauhi DC. Karena DC bisa melihat dan tak segan-segan memusnahkan mereka meski tak melakukan kesalahan. Biasanya Hunter membenci DC, tapi aku iri pada mereka. Mereka bisa tidur nyenyak tanpa diganggu. Sedangkan aku? Ini sudah pukul 03:00 dan belum sekalipun kupejamkan mataku. Aku ingin hari esok segera tiba. Aku ingin segera lepas dari mereka. Juga dia.
"Ternyata benar. Hiks. Hiks. Kau tak bisa mempercayai siapapun. Hiks. Hiks. Di dunia ini kau hidup seorang diri kan? Khukhukhu. Dan akan selalu seorang diri. Se-la-ma-nya. Khukhukhu. Hahahahahahaha."
-End of Chapter One-
Note: Sesuai janji, ini chapter satunya. Jadi bagaimana? Bagimana? Membosankankah? Kurang bagus kah? Boleh minta pendapat, saran, atau kritik ya reader? Kalau memang jelek, bilang aja jelek, mbosenin juga bilang aja. Tapi tolong dijelaskan bagian mana-mananya ya, biar bisa memperbaiki diri. Jadi lebih enak dibacanya. Ya itu kalau ada yang baca juga sih. Tapi ini juga tidak memaksa kok. It's yours free will. Oke untuk yang sudah review, terima kasih banyak... nggak nyangka ada yang review juga
Ghost186: Beneran keren? Hehehe makasih ya, padahal ngerasa nggak PeDe ngeposh, awalnya cuma coba-coba bikin yang genre fantasy, buat reviewnya juga makasih ya. Ini lanjutannya. Silakan dibaca.
Silvia-Ki chan: Maaf buat saat ini tidak ada lowongan OC. Soalnya OCnya ya reader itu hehehe. Makasih sudah review ya.
Terakhir... Minna, Happy Reading ya
