KUROKO NO BASKET © FUJIMAKI TADATOSHI

TSUBASA © AOIYUKI

GENRE : FRIENDSHIP, DRAMA, ROMANCE, FANTASI

RATE : T

PAIRING : -

WARNING : FULL OF OOC, OCs, AU, GENDERBEND, A COMMON THEME, MISSMACH GENRE, CONFUSING, FLAT, AND BORING STORY

WELL, HAPPY READING ALL

.

.

.

Tsubasa

Chapter 2 : first meeting

.

"Ha-i ko-re. Kunci kamar 411. Selamat datang di asrama Lunar, tempat berkumpulnya dewi penentu nasib umat manusia.", gadis dengan surai hitam panjang yang bergerak mengikuti gerakan kepalanya yang ekspresif menyodorkan segembok kunci. Setidaknya ada 4 kunci pada satu gantungan kunci yang diberikan. Dua diantaranya sama persis, mungkin kunci cadangan.

"Hm… kau tak tertawa. Apa leluconku begitu garing?", tanya gadis itu lagi. Kali ini dia memasang pose berpikir. Kepalanya ditelengkan ke kiri dan kanan bergantian. Tangan kanannya setia bertengger di dagunya, sedang tangan kirinya bersedekap menopang siku tangan lainnya. "Atau kau itu tipe serius?"

Aku tak punya niat untuk menanggapi orang semacam ini.

"Sepertinya opsi kedua lebih masuk akal. Yah, yang mau kukatakan sebenarnya itu system asrama di sini memisahkan laki-laki dan perempuan sehingga perlu diperhatikan.", gadis itu memberi jeda cukup panjang lalu berkata lagi, "Jangan sampai melanggar peraturan. Hukumannya berat loh. Aku jamin kau tak ingin mengetahui apa itu."

Ini mungkin hanya imajinasiku belaka, tetapi aku berani sumpah sejenak tadi gadis itu menyeringai seram. Tapi tak apalah, tak ada hubungannya denganku juga. Aku hanya ingin kehidupan sekolah tenang. Hidup yang tenang. Jadi tak ada perubahan berarti dari pandanganku. Tetap datar, dan tak fokus. Sejujurnya memfokuskan pandangan pada gadis di depanku ini sedikit banyak membuatku merinding. Seakan ada rahasia besar yang akan terkuak kalau kupandangi dia terus.

"Selain serius, sepertinya kau juga tipe yang kurang ekspresif ya? Ma ika, atashi wa Ryouse Taki. Ketua asrama Lunar. Yoroshiku."

"Ryugamine [name]. Yoroshiku."

Kesan pertamaku pada Ryouse Taki adalah berisik.

[Asrama Lunar Kamar 411]

"Jan-jan, kamar milikmu seorang. Ah, salah. Kamar milik kalian berdua seorang.", kedua tangan gadis bersurai kelam itu sudah bergerak ekspresif, mempromosikan kamar yang notabene memang kamar milikku sekarang.

"Arigatou.", kataku datar.

"Mou, kau itu memang. Nggak boleh begitu terus loh, cobalah tersenyum nanti pasti dapat banyak teman.", Ryou-san berkacak pinggang dan menggoyang-goyangkan telunjuknya. Bergaya-gaya guru yang menasehati muridnya untuk tidak berbuat nakal.

"Tidak masalah. Lagipula aku tak punya rencana untuk membuat teman di sekolah ini."

Mendengarnya Ryou-san hanya bisa sweatdrop. Yah, bagi orang dari dunia sepertinya mana mungkin mengerti. Berbagai bisikan dan rumor selalu menghantuiku. Para yurai itu tak pernah bisa diam, membuatku meragukan orang yang kuanggap temanku sendiri. Membuatku...

Ctak. Ctak. Suara jentikan jari membuyarkan lamunanku.

"Yosh, sampai kapan kau mau melamun heh? Jangan berpikiran negatif sepeti itu. Apalagi teman sekamarmu itu gadis yang sangat teramat super duper imut loh.", mata Ryou-san sudah bertabur bintang. Melihatnya serasa pergi berlabuh di lautan kayalan tentang gadis yang katanya teramat super duper manis itu. Daijobu ka?

"Ah, pokoknya jangan buat masalah dengannya ya? Gadis itu seharusnya saling menyemangati, menopang, menghargai, menyayangi satu sama lain. Oke?", kedipan jail dilancarkan di akhir kalimat. Anak ini benar nggak apa-apa kan?

"Terima kasih untuk kerja kerasnya.", kataku sambil membungkuk. Berharap dengan berkata seperti itu maka gadis di hadapanku ini akan berhenti berbicara dan segera pergi meninggalkanku dan kamar baruku.

Untunglah gadis itu melakukan reaksi yang sama dengan reaksi yang akan dilakukan oleh gadis lainnya. Dia tersenyum lebar, mengangguk dan melambai pergi. Akhirnya.

Tanpa membuang waktu lebih lama lagi, kumasuki kamar yang akan menjadi rumah baru bagiku. Kuharap tempat ini adalah tempat yang tepat.

Namun kenyataan memang tidak selamanya menjawab impian kita. Derit pintu seperti dalam film horor menyambut kedatanganku. Bukan hanya itu, bahkan kegelapan tanpa ujung memenuhi segala penjuru kamar ini. Dan ada apa dengan udara kelewat dingin yang kurasakan begitu memasuki kamar baruku—rumah baruku? Kalau sampai ada sesuatu yang muncul dari kegelapan, beneran deh, nggak lucu banget.

Sayang, kenyataan sepertinya sangat suka untuk menentang harapanku.

Dari balik bayang-bayang—aku tak tahu ini termasuk untung atau sial, faktanya mataku sudah terbiasa dengan kegelapan kamar—sesosok bayangan bergerak mendekat. Seketika itu juga refleks badanku mundur menjauh. Namun malang tak dapat ditolak. Akibat rasa terkejut yang terlalu besar, membuat sentakan tubuhku ke arah belakang pun terlalu besar. Hasilnya, benturan tak terhindarkan antara pintu mahoni dan bagian belakang kepalaku. Perlu kutambahkan. Dengan sangat keras.

Itte. Sial. Sial sekali. Tidak ada yang lebih buruk dari ini kah?

Naif. Pikiranku naif sekali.

Sementara aku meringkuk mengusap belakang kepalaku dalam posisi duduk bersandar pada pintu, sosok tadi sudah berhasil mencapai tempatku berada. A-i-u-e-eh?!

Aku terjebak. Terjepit diantara pintu dan jarak yang makin menghilang dengan sosok tadi. Aku tak pernah meminta sebelumnya jadi, Kami-sama tasukete! Di saat seperti ini otak manusia memang kadang tak dapat bekerja secara normal. Aku bahkan melupakan statusku sebagai hunter yang mengemban tugas untuk menumpas yurai—hantu. Yang kulakukan hanya menutup rapat kedua mataku dan memanjatkan doa-doa meminta pertolongan. Sayang, sosok itu tetap mendekat. No more please.

Aku sudah menahan nafasku saat kurasakan sebuah tangan terjulur ke depan. Apa dia akan mencekikku? Apa aku akan mati? Apa ini akhirnya?

Klik.

Suara saklar yang ditekan membuatku membuka mata. Pandanganku kabur oleh cahaya yang terlalu kuat. Apa Kami-sama membutuhkan saklar untuk memberi efek dramatis saat cahaya putih menyambut jiwaku? He, aku sungguhan sudah mati belum sih?

"Ano, daijobu ka?"

Mungkin aku memang sudah mati. Karena sesosok malaikat datang untuk menjemputku.

"Ne, kau itu teman sekamarku yang baru kan?"

Eh?

Tunggu. Kalau diperhatikan lagi, ini, masih di dalam kamar asrama kan? Jadi, aku belum mati? Dan malaikat di hadapanku ini, teman sekamarku?

Sepertinya efek samping dari serangan mendadak di kesempatan pertama memasuki kamar baruku cukup besar. Selama satu menit aku hanya bisa menatap tanpa berkata apa-apa. Habis, aku curiga gadis di depanku ini memang jelmaan malaikat sungguhan. Rambut panjang berwarna biru muda yang digerai dan dipermanis dengan bando putih. Mata bulat berkilau sewarna dengan rambutnya. Kulit putih pucat seperti porselen. Bibir tipis berwarna pink. Jari lentik yang sedang menyelipkan helaian rambutnya ke belakang telinga. Mini dress putih berlengan pendek dengan pita biru muda di bagian dadanya mempertegas kesan manis dan murni. Ini pertama kalinya aku melihat gadis seperti ini.

"Ano…"

Eh? Oh, sadarlah. Seperti apapun gadis yang menjadi teman sekamarku itu tak ada gunanya. Aku tidak mau merasakan sakit lagi.

"Hajimemashite, boku wa Ryugamine [name]. Yoroshiku.", ucapku datar. Berharap gadis di hadapanku mengerti arti tersirat untuk meninggalkanku sendirian. Tidak mencampuri ataupun mencoba mengakrabkan diri dalam hubungan yang disebut teman.

"Hajimemashite, Kuroko Tsurumi desu. Yoroshiku onegaijimasu.", katanya tak kalah datar. Hm? Mungkin bukan hanya aku yang menginginkan privasi dalam dunia bernama kamar asrama ini.

.

.

.

"Ryouse Taki ka? Senang sekali akhirnya bisa bertemu dengan ketua asrama yang sangat misterius itu. Iya kan?"

Di sudut gelap lorong asrama lunar dua orang gadis bersurai gelap terlihat sedang berhadapan. Gadis dengan senyum jail yang sejak tadi menghiasi wajahnya yang memang pada dasarnya terlihat jail itu mengedipkan sebelah matanya pada gadis yang satu lagi. Di sisi lain. Gadis bersurai kelam panjang yang saat ini menjadi objek kedipan jail gadis di depannya itu sedang bersedekap dengan wajah kecut.

"Aku tak tahu apa yang dipikirkan oleh Akashicchi dengan mengirimkanku kemari ssu. Bukankah lebih mudah mempengaruhi kepala sekolah untuk menempatkan gadis membosankan itu ke kamar lain. Toh di asrama ini masih banyak kamar kosong ssu.", oceh Ryose dengan wajah cemberut yang sepertinya tak akan membaik dalam waktu cepat.

Selama gadis itu berceloteh, kilau cahaya samar-samar membungkus tubuhnya dari atas ke bawah. Seiring dengan memudarnya kilau cahaya, penampilan gadis itu berubah. Surai gelapnya terlihat seperti luntur dan digantikan surai pirang cerah dan tampak memendek hingga bawah telinga dengan potongan laki-laki. Meski samar, tinggi gadis itu bertambah sekitar 20 cm. Wajah yang sedikit bulat dengan iris dark purple berubah dengan wajah yang tak kalah cantik tetapi beriris madu. Dan dress mini biru mudanya tergantikan dengan kaos hitam yang dilapisi dengan jaket putih dan jins berwarna gelap.

"Dan jangan memanggilku dengan nama itu ssu. Namanya aneh sekali. Siapa yang membuatnya sih?", protesnya dengan suara berat khas seorang lelaki meski suara itu terdengar melengking sebal.

"Bukankah yang membuatnya Yuuki-chan?", gadis dengan senyum jail tadi bertanya dengan nada dan raut wajah bingung. Mencerminkan kepolosan palsu yang coba ditutupinya.

"Eh, Yuukicchi? Pantas saja ssu.", pemuda cerewet tadi mendadak salah tingkah saat nama Partnernya disebut.

"Dan menurutku Akashi-kun pasti punya pertimbangan tersendiri kenapa gadis itu dibiarkan sekamar dengan Partnernya. Lalu untuk kasusmu… bukankah Kise-kun juga akan melakukan hal yang sama bila Yuuki-chan tinggal sekamar dengan seorang Hunter."

"Tidak juga. Kalau aku, pasti sudah menanganinya sendiri.", rajuk si kuning ngambek.

"Sudah kuduga, Kise-kun memang bodoh."

"Apa yang kau katakan Takacchi? Ulangi lagi ssu."

"Iya, nandemonai."

.

.

.

Zraaasss.

Darah menyembur dari luka tebas sebuah deathsytch. Makhluk besar berbulu putih korban tebasan deathsytch tadi jatuh tersungkur. Bulu putihnya sudah ternoda warna merah yang mendominasi warna tubuhnya saat ini.

Gadis berseragam sailor putih di hadapan serigala raksasa yang sudah tumbang tadi tak luput dari noda darah yang sudah memenuhi setengah tubuh dan wajahnya. Deathsytch hitam tergenggam di tangan kanannya, cairan merah kental masih menetes membentuk genangan darah di sekitar kaki gadis itu.

Di belakangnya seorang lelaki sedang menghantamkan tinju ke arah serigala raksasa hitam. Diperlakukan seperti itu tentunya membuat sang serigala mengambil tindakan pertahanan. Gelombang ultrasonic memancar dari mulut serigala yang terbuka lebar. Gelombang yang memekakan telinga itu berhasil meruntuhkan kepalan yang terbentuk dari batu, menyisakan kepalan tangan dengan cincin besi di keempat jarinya. Tanpa menyia-nyiakan kesempatan, serigala tadi menerjang ke arah penyerangnya dalam sekali lompatan.

Pemuda bersurai coklat tadi sudah bersiap memasang kuda-kuda dan tengah membisikan rentetan mantra, saat sesuatu yang cepat menyerempet pipi kanannya. Detik berikutnya, tubuh tanpa nyawa dari serigala itu menimpa pemuda tadi. Cairan merah yang sama mengalir dari luka terselubung di bagian kepala sang serigala.

Seorang pemuda bersurai hitam melompat turun dari bayang-bayang dedaunan pada dahan pohon. Sebuah busur tergenggam dalam tangan berlapis sarung tangan kulit hitam. Cahaya senja menimpa sebelah kacamatanya memperlihatkan samar iris hitam dari mata kirinya.

Tak jauh dari tempat mereka berdiri, pemuda lainnya sedang menarik pedang besar dari kepala serigala putih yang tersungkur di bawah kakinya. Iris merah pemuda itu memandang tajam makhluk tak bernyawa yang baru saja dibasminya.

"Kagami-kun!", dari kejauhan gadis berlumuran darah tadi berteriak, "Lakukan!"

Kagami melirik sekilas ketua timnya. Lalu menjawab, "Aa!", dengan lantang. Dia mengucapkan, "Wake Up, Dark Flame.", sangat pelan—lebih mirip bisikan, dan seketika itu juga pedang besar dalam tangannya terselimuti api hitam. Diangkatnya pedang tadi lalu diayunkan cepat, menebas wadah kosong berwujud serigala raksasa yang bergelimpangan di sekeliling empat remaja tadi. Dalam sekejap mata, tubuh-tubuh itu sudah terbakar, terkurung dalam panasnya api kegelapan.

Kagami sedang terfokus pada hasil kerja pedang miliknya. Wajahnya terlihat datar bagaikan tak ada emosi dalam pemuda tersebut. Yang akhirnya berubah ketakutan saat segundukan api hitam bergerak, terangkat, dan akhirnya sesosok tubuh tegap keluar dari api itu. Untung sekali teriakan histeris tak sempat meluncur keluar dari mulutnya. Karena sosok itu. Ya, sosok itu adalah salah seorang yang tak boleh melihat kelemahannya. Jangan sampai terlihat lebih bodoh dari orang itu.

"Kagami, kau kejam sekali membakarku serta bersama serigala itu.", keluh sosok yang akhirnya sampai di hadapannya dalam keadaan compang-camping dan sedikit—oke, sebenarnya lumayan gosong.

Kalau saja sosok tadi bukanlah dia, pasti Kagami sudah minta maaf sebesar-besarnya. Sayang, rasa sesal Kagami menguap begitu melihat wajah merajuk senpainya, "Kiyoshi-senpai lebih baik kau tetap di dalam sana… desu."

"Eeh? Tapi Hyuga, kau juga kejam sekali membuatku terkurung di bawah serigala tadi. Berat sekali tahu.", Kiyoshi merubah target kekesalannya pada penyebab dirinya tertindih sosok besar berbulu hitam.

"Itu salahmu sendiri daho. Jangan pernah bersikap bodoh ditengah pertempuran.", nyatanya Hyuga lebih kejam daripada Kagami.

Kesampingkan tiga pemuda yang sedang berisik di belakang sana. Gadis berambut coklat dengan jepit rambut hitam tengah mengamati kobaran api yang melalap habis tumpasan mereka. Tak ada yang tahu, namun siswi Seirin itu sebenarnya sedang menatap serigala yang lebih besar dari yang dibasminya kali ini. Dari kejauhan gadis itu tahu, cepat atau lambat pertempuran yang lebih besar menantinya. Sementara di ujung lain padang rumput gersang, sosok berbulu hitam tadi berbalik dan menjauh perlahan lalu menghilang dalam kabut tebal.

-End of Chapter Two-


Tsubasa


OMAKE

Aku sedang menata pakaian ke dalam lemari saat pertanyaan itu mengusik rasa ingin tahuku.

"Oh ya, Kuroko-san.", setelah melihat gadis yang kuajak bicara menoleh dan menaruh perhatian pada ucapanku, aku melanjutkannya, "Kenapa tadi kamar dalam keadaan gelap?"

Gadis bersurai langit cerah itu terlihat berpikir sejenak, "Tadi aku tertidur hingga lupa menyalakan lampu.", jawabnya dengan wajah tanpa ekspresi.

"Oh begitu, lalu kenapa udaranya terasa dingin sekali?", tanyaku lagi sambil merapikan tempat tidur atas—tempat tidurku, Kuroko-san sudah lebih dulu menempati tempat tidur bawah.

"Karena tadi siang udaranya panas sekali. Jadi kuset ACnya pada 16 derajat Celcius."

Aku menghentikan aktifitasku dan melongokan kepalaku ke arah meja belajar—dimana Kuroko-san berada. Gadis itu masih menekuni novel bersampul hitam dan tetap berekspresi datar. Kurasa gadis itu layak menyandang julukan gadis es.

.

.

.

"Akashi-kun, tak kusangka kau itu tipe yang seperti itu."

Akashi menaikan sebelah alisnya. Buku tebal bersampul coklat teralihkan dari perhatiannya.

Pikiran seorang Takao Kazunari sungguh beragam, namun Akashi berhasil menemukan satu yang mendekati penjelasan kalimat kurang penjelas tadi.

"Memang selama ini kau pikir aku tipe seperti apa?"

"Iya-iya, bukan itu maksudku. Sebenarnya aku cukup terkejut Kise-kun tak menyadari kehadiranmu. Dia dan anak baru itu. Di luar sana. Dengan hanya dibatasi pintu tipis itu? Sangat bukan Akashi. Iya kan?", Takao menopang dagu dengan kedua tangannya. Memandang polos pada ketua yang ada di seberang meja.

Pandangan mata berbeda warna saling bertemu. Takao sedikit mengerjap saat pandangan tajam penuh selidik dan intimidasi terarah sepenuhnya pada iris hitam yang mulai gentar. Peluh sedikit menetes takala pandangan itu tak kunjung berpindah dari matanya. Lalu sebuah senyum menjawab semua keresahan sang raven.

"Well, aku sedikit penasaran dengan H yang berani datang kemari.", melihat Gadis di hadapannya mengerutkan kening bingung dia menambahkan, "Dan aku hanya mengubah jam makan malamku sedikit lebih cepat. Tak ada yang dirugikan disini."

Mendengar kata 'tak ada yang dirugikan' mengingatkanya pada keluhan rubah pirang tadi. Dan itu membuatnya sedikit terkikik. Seperti apa yang diharapkan dari seorang Akashi.

.

.

"Eh? Kenapa wajahmu pucat begitu Momo-chin?", Murasakibara baru saja datang dengan seplastik cemilan yang direncanakan akan dihabiskan sebelum Muro-chin datang.

"Oh, Mukkun. Lebih baik kau tidak masuk ke dalam sekarang.", ucap Momoi lesu.

"Memangnya kenapa?", dengan begitu polosnya, Mukkun mengabaikan perkataan Momo-chin. Dengan sebelah tangan yang bebas didorongnya pintu kapel hingga terbuka setengah.

Murasakibara tak dapat mendengar penjelasan Momoi lagi. Telinganya sudah terpenuhi dengan...

"Itu karena, aku seperti melihat neraka dengan dua iblis di dalam."

Tawa horor dari gadis yang seharusnya Partner Midorima dan aura horor dari wajah penuh seringai sang ketua.


Note: Ini dia chapter 2nya, plus omake. Sebenernya omakenya rada, hm mungkin bener-bener gaje. Untuk isi chapter 2nya sendiri masih, ya, mungkin bisa dibilang gaje juga. Di akhir-akhir ada sedikit actionnya sih, semoga ga failed. Lalu, hei, makasih untuk yang sudah review ya. Ada yang masih baca fic ini kan.

yuuki hanami 5 : Hm, berhasil membuat bingung ya, hehe. Rencananya gender Kuroko ini memang dibuat bingung sih. Tapi kalau butuh penjelasan, di prolog dan chapter satu kemarin memang gender dia M, dan untuk chapter ini Kuroko digenderbend jadi gendernya F. Di chapter depan-depannya nanti ada penjelasan kenapa begitu kok. Dan untuk yang di genderbend di fic ini ada Takao, Himuro, Kasamatsu, dan khusus Kuroko kadang-kadang. Partner Kuroko? Ya Akashi itu. Oh dan ini lanjutannya. Makasih reviewnya.

Minna, Happy Reading. Untuk chapter depan mungkin akan update dua atau tiga minggu lagi, gantian sama fic yang lain yang belum selesai soalnya. Gomen ne. Still, Happy Reading. And review maybe? Hehehe